Posts tagged ‘Kray’

R E U N I

*
A/N: Hanya sekadar pelepas rindu pada bias-biasku.
*

Pada sore hari yang adem dan tenang, dua orang mantan anggota boyband jebolan SM itu duduk manis di depan sebuah meja bergaya vintage. Berdua menyeruput espresso mereka dengan santai. Mereka berbagi cerita tentang pekerjaan yang lagi mereka kerjakan. Laki-laki yang pakai topi lagi seru cerita tentang proses pembotakan kepalanya. Dan laki-laki satunya cuma ngakak sampai berlinangan air mata.
Si botak muji MV baru milik laki-laki berwajah tampan yang duduk di depannya itu, dia agak iri akan kemajuan pesat temannya itu.
Semilir angin sore makin menambah syahdu suasana pertemuan dua sahabat itu.

“Ngapain lo ngelirik jam melulu?” tanya s Si Botak penasaran.
“Gue janjian sama seseorang, Fan,” jawab si empunya jam itu.
“Cewek, ya?” selidiknya.
“Bukan. Udah deh, Yifan, jangan banyak tanya,” desis laki-laki itu.
Lelaki yang bernama Yifan itu mendengus kesal.

Read more…

Advertisements

Need Some Help

Hai, readers.
Hampir tiga bulan lamanya aku nggak posting apapun di sini, ya. Hmm, padahal dua tahun lalu bisa tiap hari posting FF atau sekadar celotehan-celotehan yang sering bikin banyak orang tersedak-sedak menahan emosi yang meluap-luap hehehe.
Harap dimaklumin, ya, teman-teman, karena aku memang sudah nggak fokus lagi di dunia K-Pop. Sudah enggan nyari bias lagi. Mentok di Luhan ceritanya. #apadeh

Well, untuk kali ini kok aku ngeposting lagi, itu karena aku mau minta tolong sama readers di manapun kalian berada.
Bukan minta tolong ambilkan udel luhan, kok, tenang aja. Aku masih tahu kapasitasku sebagai seorang fans kok heheheh.
Tapi aku mau minta tolong untuk sesuatu yang punya pengaruh besar dalam kehidupanku setelah mati nanti.

Kalian pastinya sering dengar yang namanya Amal Jariyah, kan? Itu lho, amalan baik yang kita kerjakan di dunia dan pahalanya ngalir terus bahkan setelah kita meninggal. Yang termasuk amal jariyah itu ilmu yang bermanfaat, alias kalau kita ngasih ilmu yang bermanfaat terutama ilmu agama, dan ilmu itu dipakai dan diteruskan kepada orang-orang lain, maka pahala kita ngalir terus. Begitu pula dengan do’a anak yang sholeh dan sholeha kepada orangtuanya.

Nah, amal jariyah ini punya lawan, yaitu DOSA JARIYAH.
Dosa jariyah ialah perbuatan maksiat yang mengajak orang lain menirunya dan dilakukan terus menerus oleh banyak orang. Misalnya kita ini pelopor pakaian mini, terus banyak orang yang niru rancangan kita, lalu kita mati, maka setiap ada orang yang memakai rok mini atau baju dengan ketek melambai, maka kita dapat dosanya. Begitu seterusnya hingga kiamat.

Read more…

Me And My Kids

*

 
*^*

a/n: Hola! Aku tiba-tiba kembali lagi dengan FF baru. Yup, FF KRISLAY terbaru. Hohoho. Sebagian besar dari kisah ini terjadi di kehidupan nyata, alias kehidupanku sendiri hehehe. Seperti biasa, aku selalu ngangkat tema yang simpel jadi sebuah cerita yang mengademkan hati wkwkwkwkw. semoga nggak mengecewakan ya. Plis plis plis pada komen dan kasih kesan-kesannya ya.

*^*

Akhirnya sampai juga ke ‘home sweet home’ gue. Seharian ngejogrok di kantor ngadepin manajer bawel dan rekan kerja yang bau ketek benar-benar bikin gue nyaris pingsan saking stresnya.
Rumah… tempat gue pulang dan istirahat. Tempat dimana gue bisa bebas dari tekanan hiruk pikuk tempat kerja yang super sibuk.
Biasanya gue sampai rumah itu jam 6 sore, tapi berhubung hari ini akhir bulan, maka gue terpaksa pulang jam 8 malam, dan baru sampai rumah sekitar jam 9 kurang.

Sofa kesayangan gue sudah lambai-lambai jablai gitu waktu gue masuk ruang keluarga. Dan lambaian itu nggak gue abaikan. Tubuh keren gue langsung menyambut uluran cintanya. Dan gue pun ngegelosor di atas permukaannya yang empuk, lembut dan agak bau susu basi.

HAH, APA? SUSU BASI?

Read more…

Oh, Brother! (V. Minseok /END)

***

 

 

 

***

 

 

Minseok sedari pagi tampak begitu sibuk menyiapkan ini-itu bersama ibu dan kakaknya demi mempersiapkan pesta ulang tahunnya. Pesta kecil-kecilan saja, karena Minseok tidak begitu suka suasana terlalu ramai. Dia hanya mengundang keempat sahabatnya untuk ikut merayakan hari jadinya.

Seorang pria 28 tahun (yang sering keliru dikira usia 18 tahun) masuk dapur sambil mengangkat kotak minuman bersoda. Minseok yang sedang menata kue-kue di atas piring saji, menggumam terima kasih.
“Seok, apa lagi yang mau dibeli?” tanya kakaknya.
“Sudah pesan pizza, Kak? Empat loyang kurang nggak, ya?”
“Pesan lima loyang saja, Sungmin. Ibu takut kurang nanti. Kamu tahu sendiri gimana selera makan teman-teman adikmu ini,” ujarnya disela kekehan usilnya.
Minseok manyun dan Sungmin tergelak.
Pemuda yang berulang tahun itu menyetujui usul ibunya dan memesan lima loyang pizza ukuran large.

Read more…

Oh, Brother! (I. Yifan and Tao)

***

 

a/n ; Hai. aku kembali lagi dengan FF baru. jujur aja setelah sekian lama aku nggak nulis, aku jadi ngerasa kayak murid baru belajar nulis lagi. canggung dan kagok banget. jadi kalau FF ini terasa kurang bagus, kurang ngefeel atau kurang kece kayak FF2 ku sebelumnya, aku minta maaf sebelumnya hehehehe. please kasih good review ya. sudah lama aku nggak dapat komenan bagus hanya karena aku sudah nggak nulis FF YAOI lagi. T_T *mewek.

met baca ya. FF ini terinspirasi dari pengalaman hidupku sebagai sulung dari 5 bersaudara. ^^b

 

***

4ed42260e81b70876ba7c838ae6137bd

Sebuah cermin mendesah lega waktu wajah cowok tampan itu berbalik membelakanginya. ‘akhirnya cowok narsis itu pergi. Fiuh,’ batin cermin itu kira-kira. Cowok jangkung itu pun buru-buru menuruni tangga ke lantai bawah.

“Mami, Yifan cabut dulu, ya,” pamitnya dengan suara serak-serak paska pubernya.

Si Mami yang sibuk nguleni adonan pie menyahut, “Mau cabut gigi lagi, Fan? Bukannya baru sebulan lalu kamu cabut gerahammu yang bolong?” ia mendesah lelah, “Makanya rajin gosok gigi dan kurangi ngemut permen loli terus.”
Yifan menggeram pelan, “Bukan cabut gigi, Mami. Tapi Yifan mau cabut ke rumah Luhan.”
Terdengar kekehan salting dari pihak sang Mami, “Kirain kamu mau ke dokter gigi lagi. Umm… Fan, kamu ajak adikmu, ya.”
Cukup satu kalimat itu saja sudah bisa bikin mata setengah jereng Yifan melotot, diiringi pekikan melengking khas ala sinetron alay.

“APAAAA? Ogah banget aku main sambil ajak si kutil itu!” sungutnya jutek setengah merajuk. (Yifan hebat. Meski kesal, dia masih sempat bikin sweter. /woy, itu merajut/ oh, udah ganti berarti )
“Mami bakal sibuk siapin buat acara arisan nanti sore, dan si Mbak pulang kampung, Mami nggak sanggup kalau harus masak dan jagain adikmu sekaligus, Fan,” pintanya sambil mendorong pelan bahu anak umur 3 tahun agar mendekati si sosok titisan tiang jemuran itu.
Mata galak Yifan menatap tajam bocah imut yang lagi nenteng ransel kepala panda. “Titipin tetangga aja, sih. Noh, si Sunny demen banget sama si kutil ini,” jari telunjuknya menuding tepat hidung mungil adiknya.

Read more…

Mr. Yixing And Mr. Yifan (two : Fragile As Crystal)

-0-
Cuping hidung Yixing melebar berusaha menangkap partikel-partikel uap yang membawa serta keharuman kopi yang barusan ia tuang ke dalam cangkir. Dinikmatinya sensasi menenangkan yang ditimbulkan aroma nikmat itu. Sensasi yang meremajakan pikirannya yang cukup semrawut karena menghadapi kasus-kasus yang dilimpahkan kepadanya.
Pria akhir dua puluhan itu meregangkan kedua kakinya ke atas meja dan punggungnya ia sandarkan dengan nyaman di sofa. Sesesap demi sesap, ia membiarkan cairan pahit bercampur manis itu melebur dan memanjakan lidahnya. Nikmatnya minuman berkafein itu membuainya dan Yixing pun merasa santai dan segar. Semua kepenatan nyaris sirna seiring berkurangnya isi cangkir itu.
-0-

Read more…

Mr. Yixing And Mr. Yifan (one: Sweet As Sugar)

A/N : Hai apa kabar. Aku kembali lagi dengan sekumpulan oneshot fics dengan main cast Kris dan Lay. Tiap part ada satu konflik dan penyelesaiannya. Semoga kalian suka. ^^

-O-

Tepat setelah bunyi bel tanda mulainya kegiatan belajar, kedua kaki jenjangnya menggiringnya ke sebuah kelas yang sudah dipenuhi sekitar 35 siswa, yang duduk di kursinya masing-masing. Dengan deheman seraknya, pria awal 30-an itu berhasil mencuri perhatian siswa-siswa itu.

Keheningan yang mendadak itu membuat pria itu tersenyum tipis.

“Selamat siang,” sapanya seraya meneliti seisi kelas.

“Selamat siang, Pak Yifan.”

Pria bernama Yifan itu mengangguk sekilas sebelum membuka bukunya dan menanyakan tugas yang sudah waktunya dikumpulkan. Joonmyun, si ketua kelas meletakkan tumpukan kertas folio di atas meja Yifan.

“Ini ada yang belum mengumpulkan tugas,” matanya menyapu wajah siswa-siswanya, “siapa yang belum mengumpulkan tugas?”

Seorang siswa laki-laki berdiri, menimbulkan decitan ketika kursinya bergeser ke belakang.
Yifan menatap tajam remaja itu dan mengatupkan bibirnya, tanda bahwa ia tidak suka.

“Ini yang ke lima kalinya kamu tidak mengerjakan tugasmu, Min Yoongi,”

Read more…