Posts tagged ‘Kai’

Oh, Brother! (V. Minseok /END)

***

 

 

 

***

 

 

Minseok sedari pagi tampak begitu sibuk menyiapkan ini-itu bersama ibu dan kakaknya demi mempersiapkan pesta ulang tahunnya. Pesta kecil-kecilan saja, karena Minseok tidak begitu suka suasana terlalu ramai. Dia hanya mengundang keempat sahabatnya untuk ikut merayakan hari jadinya.

Seorang pria 28 tahun (yang sering keliru dikira usia 18 tahun) masuk dapur sambil mengangkat kotak minuman bersoda. Minseok yang sedang menata kue-kue di atas piring saji, menggumam terima kasih.
“Seok, apa lagi yang mau dibeli?” tanya kakaknya.
“Sudah pesan pizza, Kak? Empat loyang kurang nggak, ya?”
“Pesan lima loyang saja, Sungmin. Ibu takut kurang nanti. Kamu tahu sendiri gimana selera makan teman-teman adikmu ini,” ujarnya disela kekehan usilnya.
Minseok manyun dan Sungmin tergelak.
Pemuda yang berulang tahun itu menyetujui usul ibunya dan memesan lima loyang pizza ukuran large.

Read more…

Oh, Brother! (IV. Yixing)

***

 

 

***

Gundukan baju yang harus dilipat benar-benar menyibukkan Yixing pagi ini. Setiap dua hari sekali, dia akan mencuci pakaian kotor yang menggunung. Keempat adiknya tidak banyak membantu, terutama dua adik bungsunya, Kai dan Taemin. Dua bocah berusia 5 dan 6 tahun yang hiperaktif.

“Kak…” suara merdu itu mengalihkan perhatian Yixing.
“Ada apa, adikku cantik?” senyumnya tulus menenangkan.
“Berasnya habis,” suaranya mengambang, seakan enggan terdengar.
Yixing menghela nafas dan menatap adik perempuannya yang duduk di kelas 2 SMP itu. “Ambil uang di dompet Kakak dan beli beras 2 kg, ya. Apa lagi yang habis? Buat sarapan masih ada makanan nggak, Fei?”
Fei tampak mengingat-ingat kebutuhan dapur, lalu dia menggeleng. “Kurang beras aja, Kak. Lauk masih ada.”
Yixing pun menyuruhnya membeli beras. Tetapi gadis belia itu malah merenung menatap kakaknya yang sedang melipat baju seragam Kai.

Read more…

Oh, Brother! (I. Yifan and Tao)

 

 

***

4ed42260e81b70876ba7c838ae6137bd

Sebuah cermin mendesah lega waktu wajah cowok tampan itu berbalik membelakanginya. ‘akhirnya cowok narsis itu pergi. Fiuh,’ batin cermin itu kira-kira. Cowok jangkung itu pun buru-buru menuruni tangga ke lantai bawah.

“Mami, Yifan cabut dulu, ya,” pamitnya dengan suara serak-serak paska pubernya.

Si Mami yang sibuk nguleni adonan pie menyahut, “Mau cabut gigi lagi, Fan? Bukannya baru sebulan lalu kamu cabut gigi gerahammu yang bolong?” ia mendesah lelah, “Makanya rajin gosok gigi dan kurangi ngemut permen loli terus.”
Yifan menggeram pelan, “Bukan cabut gigi, Mami. Tapi Yifan mau cabut ke rumah Luhan.”
Terdengar kekehan salting dari pihak sang Mami, “Kirain kamu mau ke dokter gigi lagi. Umm… Fan, kamu ajak adikmu, ya.”
Cukup satu kalimat itu saja sudah bisa bikin mata setengah jereng Yifan melotot, diiringi pekikan melengking khas ala sinetron alay.

“APAAAA? Ogah banget aku main sambil ajak si kutil itu!” sungutnya jutek setengah merajuk. (Yifan hebat. Meski kesal, dia masih sempat bikin sweter. /woy, itu merajut/ oh, udah ganti berarti )
“Mami bakal sibuk siapin buat acara arisan nanti sore, dan si Mbak pulang kampung, Mami nggak sanggup kalau harus masak dan jagain adikmu sekaligus, Fan,” pintanya sambil mendorong pelan bahu anak umur 1 tahun agar mendekati si sosok titisan tiang jemuran itu.
Mata galak Yifan menatap tajam bocah imut yang lagi nenteng ransel kepala panda. “Titipin tetangga aja, sih. Noh, si Sunny demen banget sama si kutil ini,” jari telunjuknya menuding tepat hidung mungil adiknya.

Read more…

Living A Mess

-*-

A/N : Hai… aku kembali dengan FF SUDO yang baru. Seperti biasa, ini FF Friendship. Nggak ada jalinan cinta YAOInya. Wkwkwkw. Dan ini hasil IMAJINASIku yang pintar mengambil hal-hal nyata dan meramunya dalam bumbu FIKSI yang NGGAK NYELENEH. Wkwkwkw. Imajinasi memang tanpa batas, tapi wajib diingat kalau penalaran juga tanpa batas. Dan penalaran itulah yang bisa melumpuhkan imajinasi tanpa nalar. Fufufufu. Oke, deh. Silakan dibaca. Kalau jelek, silakan banting perangkat komputer atau laptop atau hape anda. hehehehe. becandaaaaaaa.

Kutunggu komenannya yaaaa.

-*-

Sebuah kunci bernomor berada dalam genggaman Joonmyun.

“Itu kunci kamarmu. Dan kamu akan berbagi kamar dengan mahasiswa lain. Selamat datang di asrama kami dan semoga kamu betah.” Joonmyun mengangguk dan membalas senyum ramah wanita beparas keibuan itu.

“Terima kasih, Bu. Permisi.” Joonmyun membungkuk sekilas lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar yang akan dia tempati selama masa kuliah.

Sepanjang jalan yang dilaluinya, Joonmyun berpapasan dengan beberapa mahasiswa baru seperti dirinya yang tampak sibuk mencari kamar-kamar mereka. Pintu kamar bernomor 2212 dibuka, dan Joonmyun berharap tidak ada orang lain di dalam. Dirinya belum siap berbasa-basi dengan siapapun. Hembusan nafas lega mahasiswa baru itu menyatakan bahwa harapannya terwujud. Kamar itu sepi. Joonmyun melangkah ragu memasuki ruangan itu. Kedua matanya meneliti kondisi kamar. Dua buah ranjang berukuran single, dua lemari pakaian, dua meja belajar kecil, penghangat ruangan dan kipas angin di langit-langit kamar.

Satu sisi ruangan itu sudah terisi berbagai macam benda. Tumpukan buku, kertas, kotak sepatu, tas dan botol-botol serta kaleng kosong yang ditata rapi dalam kardus. Joonmyun menghampiri sisi yang satunya lagi yang masih kosong. Dia meletakkan kopernya di atas ranjang dan mulai memindahkan isinya ke dalam lemari yang tersedia. Ruangan itu cukup nyaman dengan ventilasi udara yang mengizinkan sinar matahari menyusup dan menyinari serta menghangatkan kamar.

Read more…

The HISTORY Of WOLF

-o-

Prologue

Kurang lebih setahun yang lalu, sekelompok makhluk asing dikirim ke bumi karena dihukum oleh kerajaan yang berkuasa di planet mereka. Kedua belas alien berwujud menyerupai manusia bumi itu terpaksa menjalani hidup di dunia manusia. Mereka harus bisa menyembunyikan kekuatan supernatural mereka. Karena kalau sampai manusia tahu tentang mereka, maka habislah riwayat mereka. Entah mereka menjadi bahan penelitian di institusi-institusi ilmu pengetahuan atau bahkan dijadikan objek sirkus. Oleh karena itu, kedua belas makhluk luar angkasa itu menyamar dan baru bisa menggunakan kekuatan mereka jika mereka sedang berada di luar jangkauan manusia.

-o-

“Woy! Luhan, tendang bola itu ke gue!” teriak cowok berkulit sawo kematengan nyaris busuk itu.

‘Gue arahin ke lo, ya, Kai. Awas kalo lo teleport sebelum bolanya nyampe!’ balas Luhan pakai telepati ke otak Kai.

‘Sebelah kiri, Luhan! Biar Suho nggak bisa nangkep!’ Kai ngomong ke Luhan dalam hati. Dan Luhan langsung ngangguk. Bola itu menggelinding di tendang Luhan ke arah yang diperkirain Suho. Tapi dengan kekuatan telekinetiknya, Luhan ubah haluan bola itu dan dengan cekatan Kai ngilang dari tempatnya, dan muncul di tempat bola itu menggelinding, lalu dengan satu tendangan, bola itu ngelewatin Kris, si kiper dan… gol.

Read more…

When Chanyeol Stops Smiling

 

A/N : Ini juga ikutan lomba, dan menang juara 3. Sudah aku muat di asianfanfiction.

^^

chanyeol13

Since the day he was born, Chanyeol was less crying and more smiling. That’s why the people around him loved him. He always spread happiness and joy with his precious and priceless smile. His white teeth was perfection. His wide smile could warm a cold heart. His smile could brighten up everyone’s day.

But his younger brother was different. He hated Chanyeol’s smile. Why? Because he couldn’t smile like Chanyeol. Whenever he tried to smile, he ended up with a boring smirk on his face.

Jongin. The boy with less smile and more frown.

Read more…

Need A Little Love (Three-Ending)

oOo

A/N : Akhirnya update juga, meski bukan KRAY tapi ini termasuk FF yang sulit buat aku ramu alurnya dan masukin feel ansgtnya. semoga ngena di hati, dan bisa jadi inspirasi.

Awas buat yang coba-coba plagiat atau repost ff-ffku dengan mengakui milik pribadi. Kalau mau share bilang aja. Jangan ngaku-ngaku milik sendiri. Seriusan, awas kalau sampai ada yang ketahuan curang.

oOo

Karena itu adalah hari minggu, maka tak seorangpun masuk ke kamar Sehun untuk membangunkannya. Mereka mengira bahwa Sehun masih tidur dan juga mungkin masih marah dengan kejadian semalam yang membuatnya enggan menemui keluarganya.

Masing-masing menjalankan kesibukannya sendiri. Ayah dan ibunya pergi entah ke mana, Jongin menghabiskan waktunya di gym dan berenang, Kris berlatih dengan tim basket kampusnya. Hanya dua orang pembantu rumah tangga dan seorang tukang kebun yang ada di rumah Sehun.

Dan mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang keberadaan Sehun. Dan tak ada yang berniat mencari tahu. Semua orang seolah tak peduli akan keberadaan atau ketidakberadaan Sehun.

Read more…