Posts tagged ‘Jongin’

Oh, Brother! (IV. Yixing)

***

 

 

***

Gundukan baju yang harus dilipat benar-benar menyibukkan Yixing pagi ini. Setiap dua hari sekali, dia akan mencuci pakaian kotor yang menggunung. Keempat adiknya tidak banyak membantu, terutama dua adik bungsunya, Kai dan Taemin. Dua bocah berusia 5 dan 6 tahun yang hiperaktif.

“Kak…” suara merdu itu mengalihkan perhatian Yixing.
“Ada apa, adikku cantik?” senyumnya tulus menenangkan.
“Berasnya habis,” suaranya mengambang, seakan enggan terdengar.
Yixing menghela nafas dan menatap adik perempuannya yang duduk di kelas 2 SMP itu. “Ambil uang di dompet Kakak dan beli beras 2 kg, ya. Apa lagi yang habis? Buat sarapan masih ada makanan nggak, Fei?”
Fei tampak mengingat-ingat kebutuhan dapur, lalu dia menggeleng. “Kurang beras aja, Kak. Lauk masih ada.”
Yixing pun menyuruhnya membeli beras. Tetapi gadis belia itu malah merenung menatap kakaknya yang sedang melipat baju seragam Kai.

Read more…

Advertisements

EXO In UdeLand Udelicious

-o-

 

Sudah lebih dari tiga tahun lamanya, anggota grup cukup keren EXO ngabisin waktu bersama. Termasuk waktu mandi. Karena nggak jarang mereka mandi bareng maka mereka sudah tahu bentuk tubuh semua member.

Termasuk Udel.

Siang ini setelah latihan buat perform di MCountDown, mereka mandi bareng di tempat latihan. Tanpa mereka sadari, ternyata udel-udel mereka berinteraksi satu sama lain.

Read more…

N E E D S

*

A/N: Sebuah fiction yang terinspirasi satu ungkapan konyol King Julien dalam Pinguins Of Madagascar. Dari satu kalimat itulah muncullah ide untuk fic ini. Kenapa castnya SeKaiLu? Karena aku belum pernah membuat fiksi dengan cast yang berpusat pada mereka.

Selain itu aku pribadi suka dengan interaksi Sekai maupun Kailu dan HanHun, maka aku pakai aja mereka sebagai cast utama Fanfic ini.

Semoga kalian terhibur.

Oh, ya, di sini bakal ada tiga POV.

*

Jongin

 

Gelas minumanku sudah kosong dan aku masih haus. Mataku mencari-cari sosok kurus pucat yang memuakkan itu. Tapi sosok itu tidak tampak seujung rambutpun. Aku lirik temanku yang duduk termangu sambil menatap lemari penyimpanan semua koleksi miniatur pemain sepak bola favoritku. Aku tahu dia iri dengan kemampuanku membeli benda-benda limited edition itu. Dia hanya mampu membeli poster murahan dan menempelnya di dinding rumahnya yang reyot itu. Kasihan.

“Luhan. Aku haus.” Aku melempar tatapan tegas yang segera dia pahami maksudnya.

“Bukannya kamu barusan minum, Jongin?” kedua matanya beralih dari lemari itu ke wajahku.

Aku mendengus dan mengangkat bahu. Luhan paham maksudku dan dia beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju pintu ruang santaiku.

Ujung jemariku mengetuk permukaan keras meja kayu antik warisan ayahku. Bunyi pintu ditutup membuat mataku terangkat dan bersitatap dengan seorang remaja berwajah tirus dan pucat. Kedua matanya menyorot kosong bagai zombie kurang makan.

“Aku haus. Tuangin minuman.”

“Baik, Master.” Bocah itu mengangguk sopan sebelum melangkah ke kulkas kecil di sudut ruangan. Tangannya meraih botol air mineral dan dia membawanya ke mejaku. Dia tuang air itu ke dalam gelasku dan aku menatapnya remeh.

Aku sesap sedikit isinya dan meludahkannya.

“Siapa bilang aku mau minum air, Tolol?” makiku sambil menyiramkan air itu ke muka remaja itu.

“M-maaf, Master. Aku nggak tahu.” Gumamnya tertahan.

Aku belum puas.

“Aku mau minum teh hangat. Buruan bikin!” sentakku seraya melempar gelas itu. Bunyi gelas pecah mengisi ruanganku dan serpihan kaca pun berhamburan di lantai.

“Baik, Master.” Bocah itu pun membuat teh untukku.

Di atas nampan, sebuah cangkir berisi teh dia letakkan di depanku.

Cairan hangat itu menyentuh bibirku. Aku berdiri dan menyemburkan teh dalam mulutku ke wajah bocah itu.

“Kamu bego, ya? Aku minta teh hangat! Ini terlalu dingin untuk dibilang hangat. Dasar bodoh!” dan cairan itu pun mengguyur wajah yang kubenci itu.

Tanpa banyak bicara, dia mulai membereskan kekacauan yang aku buat.

“Mau aku buatin teh yang baru, Master?” tawarnya lirih.

Get out!”

“T-tapi Master belum minum…”

I said get the fuck out! Aku sudah nggak pengin minum. Get out before I throw up on your disgusting face!” semburku galak dan menunjuk ke arah pintu.

  Read more…

Living A Mess

-*-

A/N : Hai… aku kembali dengan FF SUDO yang baru. Seperti biasa, ini FF Friendship. Nggak ada jalinan cinta YAOInya. Wkwkwkw. Dan ini hasil IMAJINASIku yang pintar mengambil hal-hal nyata dan meramunya dalam bumbu FIKSI yang NGGAK NYELENEH. Wkwkwkw. Imajinasi memang tanpa batas, tapi wajib diingat kalau penalaran juga tanpa batas. Dan penalaran itulah yang bisa melumpuhkan imajinasi tanpa nalar. Fufufufu. Oke, deh. Silakan dibaca. Kalau jelek, silakan banting perangkat komputer atau laptop atau hape anda. hehehehe. becandaaaaaaa.

Kutunggu komenannya yaaaa.

-*-

Sebuah kunci bernomor berada dalam genggaman Joonmyun.

“Itu kunci kamarmu. Dan kamu akan berbagi kamar dengan mahasiswa lain. Selamat datang di asrama kami dan semoga kamu betah.” Joonmyun mengangguk dan membalas senyum ramah wanita beparas keibuan itu.

“Terima kasih, Bu. Permisi.” Joonmyun membungkuk sekilas lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar yang akan dia tempati selama masa kuliah.

Sepanjang jalan yang dilaluinya, Joonmyun berpapasan dengan beberapa mahasiswa baru seperti dirinya yang tampak sibuk mencari kamar-kamar mereka. Pintu kamar bernomor 2212 dibuka, dan Joonmyun berharap tidak ada orang lain di dalam. Dirinya belum siap berbasa-basi dengan siapapun. Hembusan nafas lega mahasiswa baru itu menyatakan bahwa harapannya terwujud. Kamar itu sepi. Joonmyun melangkah ragu memasuki ruangan itu. Kedua matanya meneliti kondisi kamar. Dua buah ranjang berukuran single, dua lemari pakaian, dua meja belajar kecil, penghangat ruangan dan kipas angin di langit-langit kamar.

Satu sisi ruangan itu sudah terisi berbagai macam benda. Tumpukan buku, kertas, kotak sepatu, tas dan botol-botol serta kaleng kosong yang ditata rapi dalam kardus. Joonmyun menghampiri sisi yang satunya lagi yang masih kosong. Dia meletakkan kopernya di atas ranjang dan mulai memindahkan isinya ke dalam lemari yang tersedia. Ruangan itu cukup nyaman dengan ventilasi udara yang mengizinkan sinar matahari menyusup dan menyinari serta menghangatkan kamar.

Read more…

The HISTORY Of WOLF

-o-

Prologue

Kurang lebih setahun yang lalu, sekelompok makhluk asing dikirim ke bumi karena dihukum oleh kerajaan yang berkuasa di planet mereka. Kedua belas alien berwujud menyerupai manusia bumi itu terpaksa menjalani hidup di dunia manusia. Mereka harus bisa menyembunyikan kekuatan supernatural mereka. Karena kalau sampai manusia tahu tentang mereka, maka habislah riwayat mereka. Entah mereka menjadi bahan penelitian di institusi-institusi ilmu pengetahuan atau bahkan dijadikan objek sirkus. Oleh karena itu, kedua belas makhluk luar angkasa itu menyamar dan baru bisa menggunakan kekuatan mereka jika mereka sedang berada di luar jangkauan manusia.

-o-

“Woy! Luhan, tendang bola itu ke gue!” teriak cowok berkulit sawo kematengan nyaris busuk itu.

‘Gue arahin ke lo, ya, Kai. Awas kalo lo teleport sebelum bolanya nyampe!’ balas Luhan pakai telepati ke otak Kai.

‘Sebelah kiri, Luhan! Biar Suho nggak bisa nangkep!’ Kai ngomong ke Luhan dalam hati. Dan Luhan langsung ngangguk. Bola itu menggelinding di tendang Luhan ke arah yang diperkirain Suho. Tapi dengan kekuatan telekinetiknya, Luhan ubah haluan bola itu dan dengan cekatan Kai ngilang dari tempatnya, dan muncul di tempat bola itu menggelinding, lalu dengan satu tendangan, bola itu ngelewatin Kris, si kiper dan… gol.

Read more…

When Chanyeol Stops Smiling

 

A/N : Ini juga ikutan lomba, dan menang juara 3. Sudah aku muat di asianfanfiction.

^^

chanyeol13

Since the day he was born, Chanyeol was less crying and more smiling. That’s why the people around him loved him. He always spread happiness and joy with his precious and priceless smile. His white teeth was perfection. His wide smile could warm a cold heart. His smile could brighten up everyone’s day.

But his younger brother was different. He hated Chanyeol’s smile. Why? Because he couldn’t smile like Chanyeol. Whenever he tried to smile, he ended up with a boring smirk on his face.

Jongin. The boy with less smile and more frown.

Read more…

Need A Little Love (Three-Ending)

oOo

A/N : Akhirnya update juga, meski bukan KRAY tapi ini termasuk FF yang sulit buat aku ramu alurnya dan masukin feel ansgtnya. semoga ngena di hati, dan bisa jadi inspirasi.

Awas buat yang coba-coba plagiat atau repost ff-ffku dengan mengakui milik pribadi. Kalau mau share bilang aja. Jangan ngaku-ngaku milik sendiri. Seriusan, awas kalau sampai ada yang ketahuan curang.

oOo

Karena itu adalah hari minggu, maka tak seorangpun masuk ke kamar Sehun untuk membangunkannya. Mereka mengira bahwa Sehun masih tidur dan juga mungkin masih marah dengan kejadian semalam yang membuatnya enggan menemui keluarganya.

Masing-masing menjalankan kesibukannya sendiri. Ayah dan ibunya pergi entah ke mana, Jongin menghabiskan waktunya di gym dan berenang, Kris berlatih dengan tim basket kampusnya. Hanya dua orang pembantu rumah tangga dan seorang tukang kebun yang ada di rumah Sehun.

Dan mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang keberadaan Sehun. Dan tak ada yang berniat mencari tahu. Semua orang seolah tak peduli akan keberadaan atau ketidakberadaan Sehun.

Read more…