Posts tagged ‘HunHan’

Need Some Help

Hai, readers.
Hampir tiga bulan lamanya aku nggak posting apapun di sini, ya. Hmm, padahal dua tahun lalu bisa tiap hari posting FF atau sekadar celotehan-celotehan yang sering bikin banyak orang tersedak-sedak menahan emosi yang meluap-luap hehehe.
Harap dimaklumin, ya, teman-teman, karena aku memang sudah nggak fokus lagi di dunia K-Pop. Sudah enggan nyari bias lagi. Mentok di Luhan ceritanya. #apadeh

Well, untuk kali ini kok aku ngeposting lagi, itu karena aku mau minta tolong sama readers di manapun kalian berada.
Bukan minta tolong ambilkan udel luhan, kok, tenang aja. Aku masih tahu kapasitasku sebagai seorang fans kok heheheh.
Tapi aku mau minta tolong untuk sesuatu yang punya pengaruh besar dalam kehidupanku setelah mati nanti.

Kalian pastinya sering dengar yang namanya Amal Jariyah, kan? Itu lho, amalan baik yang kita kerjakan di dunia dan pahalanya ngalir terus bahkan setelah kita meninggal. Yang termasuk amal jariyah itu ilmu yang bermanfaat, alias kalau kita ngasih ilmu yang bermanfaat terutama ilmu agama, dan ilmu itu dipakai dan diteruskan kepada orang-orang lain, maka pahala kita ngalir terus. Begitu pula dengan do’a anak yang sholeh dan sholeha kepada orangtuanya.

Nah, amal jariyah ini punya lawan, yaitu DOSA JARIYAH.
Dosa jariyah ialah perbuatan maksiat yang mengajak orang lain menirunya dan dilakukan terus menerus oleh banyak orang. Misalnya kita ini pelopor pakaian mini, terus banyak orang yang niru rancangan kita, lalu kita mati, maka setiap ada orang yang memakai rok mini atau baju dengan ketek melambai, maka kita dapat dosanya. Begitu seterusnya hingga kiamat.

Read more…

Advertisements

Oh, Brother! (V. Minseok /END)

***

 

 

 

***

 

 

Minseok sedari pagi tampak begitu sibuk menyiapkan ini-itu bersama ibu dan kakaknya demi mempersiapkan pesta ulang tahunnya. Pesta kecil-kecilan saja, karena Minseok tidak begitu suka suasana terlalu ramai. Dia hanya mengundang keempat sahabatnya untuk ikut merayakan hari jadinya.

Seorang pria 28 tahun (yang sering keliru dikira usia 18 tahun) masuk dapur sambil mengangkat kotak minuman bersoda. Minseok yang sedang menata kue-kue di atas piring saji, menggumam terima kasih.
“Seok, apa lagi yang mau dibeli?” tanya kakaknya.
“Sudah pesan pizza, Kak? Empat loyang kurang nggak, ya?”
“Pesan lima loyang saja, Sungmin. Ibu takut kurang nanti. Kamu tahu sendiri gimana selera makan teman-teman adikmu ini,” ujarnya disela kekehan usilnya.
Minseok manyun dan Sungmin tergelak.
Pemuda yang berulang tahun itu menyetujui usul ibunya dan memesan lima loyang pizza ukuran large.

Read more…

Oh, Brother! (II. Luhan)

***

 

 

 

 

 

“Luhan! Aku pinjam laptopmu, ya.” seseorang mengetuk pintu kamar mandi. Luhan membuka pintu dan melongok dari celahnya.
“Nggak boleh! Aku lagi ngerjain tugas kuliah,” tegasnya.
“Please, Luhan. Cuma sebentar aja. Aku mau main game doang, kok.”
“Sehun. Kalau aku bilang nggak boleh, ya berarti nggak boleh!”
“Kenapa?”
“Karena itu laptopku. Sudah sana main tab aja. Awas kalau kamu pakai laptopku!” dan ancaman itu disudahi dengan bunyi ‘ceklik‘ pintu dikunci.

Read more…

Oh, Brother! (I. Yifan and Tao)

***

 

a/n ; Hai. aku kembali lagi dengan FF baru. jujur aja setelah sekian lama aku nggak nulis, aku jadi ngerasa kayak murid baru belajar nulis lagi. canggung dan kagok banget. jadi kalau FF ini terasa kurang bagus, kurang ngefeel atau kurang kece kayak FF2 ku sebelumnya, aku minta maaf sebelumnya hehehehe. please kasih good review ya. sudah lama aku nggak dapat komenan bagus hanya karena aku sudah nggak nulis FF YAOI lagi. T_T *mewek.

met baca ya. FF ini terinspirasi dari pengalaman hidupku sebagai sulung dari 5 bersaudara. ^^b

 

***

4ed42260e81b70876ba7c838ae6137bd

Sebuah cermin mendesah lega waktu wajah cowok tampan itu berbalik membelakanginya. ‘akhirnya cowok narsis itu pergi. Fiuh,’ batin cermin itu kira-kira. Cowok jangkung itu pun buru-buru menuruni tangga ke lantai bawah.

“Mami, Yifan cabut dulu, ya,” pamitnya dengan suara serak-serak paska pubernya.

Si Mami yang sibuk nguleni adonan pie menyahut, “Mau cabut gigi lagi, Fan? Bukannya baru sebulan lalu kamu cabut gerahammu yang bolong?” ia mendesah lelah, “Makanya rajin gosok gigi dan kurangi ngemut permen loli terus.”
Yifan menggeram pelan, “Bukan cabut gigi, Mami. Tapi Yifan mau cabut ke rumah Luhan.”
Terdengar kekehan salting dari pihak sang Mami, “Kirain kamu mau ke dokter gigi lagi. Umm… Fan, kamu ajak adikmu, ya.”
Cukup satu kalimat itu saja sudah bisa bikin mata setengah jereng Yifan melotot, diiringi pekikan melengking khas ala sinetron alay.

“APAAAA? Ogah banget aku main sambil ajak si kutil itu!” sungutnya jutek setengah merajuk. (Yifan hebat. Meski kesal, dia masih sempat bikin sweter. /woy, itu merajut/ oh, udah ganti berarti )
“Mami bakal sibuk siapin buat acara arisan nanti sore, dan si Mbak pulang kampung, Mami nggak sanggup kalau harus masak dan jagain adikmu sekaligus, Fan,” pintanya sambil mendorong pelan bahu anak umur 3 tahun agar mendekati si sosok titisan tiang jemuran itu.
Mata galak Yifan menatap tajam bocah imut yang lagi nenteng ransel kepala panda. “Titipin tetangga aja, sih. Noh, si Sunny demen banget sama si kutil ini,” jari telunjuknya menuding tepat hidung mungil adiknya.

Read more…

N E E D S

*

A/N: Sebuah fiction yang terinspirasi satu ungkapan konyol King Julien dalam Pinguins Of Madagascar. Dari satu kalimat itulah muncullah ide untuk fic ini. Kenapa castnya SeKaiLu? Karena aku belum pernah membuat fiksi dengan cast yang berpusat pada mereka.

Selain itu aku pribadi suka dengan interaksi Sekai maupun Kailu dan HanHun, maka aku pakai aja mereka sebagai cast utama Fanfic ini.

Semoga kalian terhibur.

Oh, ya, di sini bakal ada tiga POV.

*

Jongin

 

Gelas minumanku sudah kosong dan aku masih haus. Mataku mencari-cari sosok kurus pucat yang memuakkan itu. Tapi sosok itu tidak tampak seujung rambutpun. Aku lirik temanku yang duduk termangu sambil menatap lemari penyimpanan semua koleksi miniatur pemain sepak bola favoritku. Aku tahu dia iri dengan kemampuanku membeli benda-benda limited edition itu. Dia hanya mampu membeli poster murahan dan menempelnya di dinding rumahnya yang reyot itu. Kasihan.

“Luhan. Aku haus.” Aku melempar tatapan tegas yang segera dia pahami maksudnya.

“Bukannya kamu barusan minum, Jongin?” kedua matanya beralih dari lemari itu ke wajahku.

Aku mendengus dan mengangkat bahu. Luhan paham maksudku dan dia beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju pintu ruang santaiku.

Ujung jemariku mengetuk permukaan keras meja kayu antik warisan ayahku. Bunyi pintu ditutup membuat mataku terangkat dan bersitatap dengan seorang remaja berwajah tirus dan pucat. Kedua matanya menyorot kosong bagai zombie kurang makan.

“Aku haus. Tuangin minuman.”

“Baik, Master.” Bocah itu mengangguk sopan sebelum melangkah ke kulkas kecil di sudut ruangan. Tangannya meraih botol air mineral dan dia membawanya ke mejaku. Dia tuang air itu ke dalam gelasku dan aku menatapnya remeh.

Aku sesap sedikit isinya dan meludahkannya.

“Siapa bilang aku mau minum air, Tolol?” makiku sambil menyiramkan air itu ke muka remaja itu.

“M-maaf, Master. Aku nggak tahu.” Gumamnya tertahan.

Aku belum puas.

“Aku mau minum teh hangat. Buruan bikin!” sentakku seraya melempar gelas itu. Bunyi gelas pecah mengisi ruanganku dan serpihan kaca pun berhamburan di lantai.

“Baik, Master.” Bocah itu pun membuat teh untukku.

Di atas nampan, sebuah cangkir berisi teh dia letakkan di depanku.

Cairan hangat itu menyentuh bibirku. Aku berdiri dan menyemburkan teh dalam mulutku ke wajah bocah itu.

“Kamu bego, ya? Aku minta teh hangat! Ini terlalu dingin untuk dibilang hangat. Dasar bodoh!” dan cairan itu pun mengguyur wajah yang kubenci itu.

Tanpa banyak bicara, dia mulai membereskan kekacauan yang aku buat.

“Mau aku buatin teh yang baru, Master?” tawarnya lirih.

Get out!”

“T-tapi Master belum minum…”

I said get the fuck out! Aku sudah nggak pengin minum. Get out before I throw up on your disgusting face!” semburku galak dan menunjuk ke arah pintu.

  Read more…

Not Like That, Luhan!

66ea1b6dgw1e1fkzvqtl0j

Ketika perayaan hari Kartini, para member EXO sudah menyiapkan beberapa pertunjukan yang mengusung tema tradisional nusantara. Termasuk di antara mereka, Luhan dan Sehun. Dua pria beda usia itu hendak melakukan suatu pertunjukan yang menuntut kekompakan dan keselarasan.

 

Sehun : Luhan! Kamu jangan malath! Kalau kita kalah gara-gara kamu, memangnya kamu mau nanggung? Ayolah, kita latihan lagi thampai bitha.

Luhan : Aku capek, Sehunnie. Semalam aku latihan sampai subuh. Masa sekarang latihan lagi?

Sehun : Thalahmu thendiri, Luhan. Thiapa thuruh kamu latihan tari Piring, padahal  tarian kita bukan yang itu! #gemas

Luhan : Ya meneketehe. Pokoknya aku capek. #manyun.

Sehun : Yang lain thudah bitha gerakan tariannya. Matha kamu doang yang belum, thih? Thini aku ajarin cara duduknya dulu. Begini caranya. Luhan! Liatin aku dong! #merengek bete.

Luhan : Kenapa harus duduk kayak mbak-mbak penjual jamu gitu? #protes.

Sehun : Kita ini mau nari tari Thaman dari Aceh. Duduknya haruth begini, Lunggothiiiie.

Luhan : Aku mau duduknya begini aja. Lebih manly.

Sehun : Luhaaaaaaaaaan. Bukan begituuuuu duduknyaaaaa…. Luhan nyebelin. Thehun thebel thama Luhan. Thana kamu ikutan grupnya Krith yang nari kecak.

Luhan : Kris yang jadi Leak-nya, kan?

Sehun : Krith jadi hanomannya. Kamu jadi Leak-nya aja thana! Dathar!

Dan Sehun mengajak teman-teman satu grupnya untuk melatih ulang gerakan dasar tari Saman yang akan mereka peragakan di depan juri.

 

 

THE END

 

 

 

 

 

Love Without End

 

BOPB0lsCYAALDdD

 

 

 

^-^

A/N : As often, this story is inspired by a true story. Dibubuhi sedikit konflik dengan cast yang unyuh unyuh sangat, maka daku berharap jalan cerita dan makna dalam cerita ini bisa tersampaikan ke para pembaca.

^_^

No love is greater than that a father for his son.” –Dan Brown, Angels and Demons.

^_^

Ransel sudah tersampir di bahunya ketika tiga temannya berseru dari luar kelas, ia mendongak dan mendapati mereka melambaikan tangan mereka mengajaknya keluar.

“Luhan! Ikut kita nonton, yuk. Mumpung mau ditraktir Joonmyun, nih!” pekik seseorang yang bertubuh paling jangkung dengan kedua mata berbinar jahil.

Orang yang dipanggil Joonmyun itu protes dan memukul bahu temannya itu. Luhan yang melihat perilaku kekanakan kawannya itu terkekeh.

Sorry, guys. Aku nggak bisa ikut. Masih ada yang harus aku kerjain di rumah. Maybe next time, deh, yaaaaa?” balasnya dengan suara cukup keras.

“Ah, payah kamu, Luhan. Beneran nggak mau ikut, nih? Filmnya seru banget, lho!” celetuk pemuda bermata sipit, yang disetujui dua teman lainnya dengan anggukan antusias.

Luhan menggeleng pelan dan mengibaskan tangannya, “Kalian pergi aja. Aku benar-benar nggak bisa ninggalin urusan yang di rumah. I’m terribley sorry, Baekhyun.”

Setelah beberapa gerutuan penuh kecewa, tiga kawannya itu pun pergi meninggalkan Luhan di kelas.

Pemuda berparas bagai anak sekolah menengah itu menghela nafas berat. Sesungguhnya dirinya sangat ingin menghabiskan waktu bersama tiga sahabatnya itu lebih lama. Tetapi tanggung jawab yang ia pikul menghalanginya.

Read more…