Posts tagged ‘fanfic’

Writer’s Block

Uuuu annyeong… #lambailambaiceria

Barusan aku nyoba mau nulis cerpen, tapi… baru tiga paragraf eh sudah nge-blank. Mungkin otakku sudah capek dipake buat mikirin ratusan tema, plot dan alur FF sejak 2011 sampai 2013 kemarin. Eh, FF KrisHan Sunshine Boy itu kapan ya aku nulisnya? Ya, itulah maksudnya, sampai FF terakhir itu.
Let’s see… aku sudah bikin entah berapa FF, orang FF FanXing yang sempet jadi favorit KLS Indonesia #plaaaksiapelupedeamet# aja kayaknya lebih dari 30 judul. Aku ingetnya tuh ada sekitar 35 judul. Hehehe 35 chapter kehidupan FanXing. Ya Allah, Ya Rabbi, berapa banyak dosaku yang sudah terkumpul? Astaghfirullah…

Read more…

Titik Balik

Dalam keheningan malam, mataku menatap nanar layar laptopku. Tetapi pikiranku berputar-putar bagai pusaran tiada berujung.
‘inikah tujuan hidupmu?’, ‘untuk inikah kau diciptakan?’, ‘mau bertahan sampai kapan? Seyakin itukah bahwa kau akan hidup hingga 100 tahun?’.
Pertanyaan demi pertanyaan berdengung dalam kepalaku. Semakin lama semakin sinis dan tajam. Jantungku berdegup membabi-buta, pelipisku berdenyut-denyut menyiksa. Siapakah yang melempariku dengan pertanyaan-pertanyaan itu? Jangan-jangan itu nuraniku yang belum ternodai? Kenapa dia tiba-tiba muncul?
Kugelengkan kepalaku untuk mengenyahkan agresi penuh tanda tanya itu. Jemariku masih terdiam di atas tombol keyboard, belum melanjutkan mengetik rentetan huruf dalam fiksi yang sedang kugarap. Hasrat dan gairah untuk menyelesaikan satu bab itu mendadak lenyap tak berbekas. Seolah tertiup angin kencang.
Apa yang terjadi? Apakah itu karena pertanyaan tadi? Setengah membanting, kututup laptopku dan aku pun melontarkan tubuhku ke tempat tidur.

Hari ini kuberkencan dengan laptopku, seperti biasa jika di hari libur. Kucari cerita-cerita fiksi berbagai jenis, dari yang santai menggelitik hingga yang mesra menggairahkan. Semua kulahap sampai mataku pedih dibuatnya. Ketika aku membaca salah satu cerita yang mengisahkan tentang sepasang kekasih sesama jenis, kepalaku mendadak bising.
‘bangga sekali kau dan mereka bisa membuat cerita seperti itu. Seolah itu adalah tiket menuju surga’, ‘manfaat apa yang bisa kau petik dari hal-hal macam itu? Kebahagiaan? Ketenaran? Atau kau justru sedang mencetak tiket ke neraka?’.
Lagi dan lagi tanpa henti, dia bertanya. Kepalaku pening. Dia seolah mengancamku.
‘berapa lama waktu yang kau gunakan untuk membaca buku bersampul hijau dengan tulisan-tulisan itu? Apakah sebanding dengan bacaan murahan rendahan yang kau nikmati setiap hari dari laptopmu?’. Refleks mataku melihat sebuah buku bersampul hijau yang tergeletak di rak. Aku berdiri dan mengambilnya. Bukunya berdebu. Kuusap lembut permukaannya, dan air mataku jatuh.
Buku yang kucampakkan di sudut rak hingga diselimuti debu. Kuabaikan dia demi berkubang dalam jerat kemaksiatan yang terasa nikmat padahal sesungguhnya kenikmatan itu mencabik-cabik kewarasan, mencakar-cakar logika dan menodai kesucian jiwa. Terlalu lama aku terlena dalam buai kenistaan. Aku dengan tanpa sadar mengacuhkan pedoman hidupku dan lebih mengikuti arus kesesatan.
Tangisanku semakin menyesakkan tatkala jariku yang telah ternodai menyisir tiap huruf yang meliuk indah. Ada getaran rindu dalam dadaku.
‘Bismillahir Rahmanir Rahiim’ kubaca tiap ayat dengan canggung. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku membacanya. Semua karena godaan fiksi mesum dan amoral yang menggaetku.
Kutatap laptopku. Ada gelegak amarah menggembung dalam dadaku. Kudekati benda kesayanganku itu lalu dengan tangan gemetar kuhapus fiksi yang sedang kutulis. Masa bodoh dengan penyuka cerita-ceritaku itu. Mereka hanya memedulikan diri mereka sendiri, tanpa menyadari betapa berat dosa yang harus kupikul pada setiap kali mereka membacanya.
Kubuka folder yang lainnya, dan satu per satu kuhapus tanpa memeriksanya lagi. Sudah bertahun-tahun aku menjejali otak para remaja dengan amoralitas. Memang bukan aku pencetus trend itu, tetapi aku turut serta dalam pengembangannya. Ketololanku semakin bertambah ketika satu demi satu karyaku mendapat pujian. Bagai kesetanan, aku memutar otak demi merangkai suatu alur dengan plot yang unik. Setiap menit kudedikasikan otakku untuk mengarang cerita. Dan payahnya, aku jadi bangga karena hasil jerih payahku diapresiasi dan digandrungi banyak orang. Betapa bodoh dan naifnya diriku ini, yang masih bisa tertawa riang di saat poin dosaku makin bertambah. Setiap kali ada yang membaca fiksi-fiksi jahiliyah itu, dosaku pun makin bertumpuk. Aku mengira-ngira, apakah gundukan dosaku sudah melampaui puncak tertinggi di Himalaya?
Rasa sesal dan takut berdesak-desakan dalam diriku. Sudah hilang rasa sukaku terhadap fiksi-fiksi picisan itu.
Semakin berkurang koleksi fiksiku, semakin enteng perasaanku. Tapi aku masih harus membuang jejak-jejaknya dari dari dunia maya. Hapus sana, hapus sini demi mengurangi akumulasi dosa. Mataku mulai berair saking lelahnya menatap layar laptop, tapi aku belum akan berhenti sebelum membersihkan akun-akun sosial mediaku dari sisa-sisa kehinaanku.
Aku malu. Bukan pada manusia, tapi aku malu pada Sang Pencipta manusia. Allah memberiku kemampuan yang potensial, tetapi aku justru menyalahgunakan anugerah Yang Maha Pemurah. Aku dilimpahi kelebihan dibarengi dua pilihan. Akankah aku menggunakannya untuk kebaikan, ataukah untuk keburukan. Hanya karena iming-iming semu setan -baik dari kalangan jin maupun manusia- aku mengambil pilihan yang salah. Dan aku yakin, Allah tidak meridhoinya.
Namun, aku tahu bahwa Yang Maha Memberi Petunjuk menyayangiku. Kalau tidak, pastilah suara hatiku tidak akan mampu memengaruhiku. Kupejamkan mataku, menikmati berkurangnya beban dalam hati, dan lantunan syukur mengalun dari bibirku.
Sungguh besar kuasa-Mu Ya Allah, Engkau beri aku kesempatan untuk kembali ke jalan yang Engkau ridhoi. Ke jalan-Mu.
Setelah kuyakin tidak sanggup lagi menantang pancaran sinar menyilaukan dari laptop, aku pun beranjak menuju ranjangku. Baru saja nyaris terlelap, sayup-sayup suara azan berkumandang. Benarkah aku begadang hingga subuh?
Kupaksa diriku untuk bangun. Aku berwudu sekaligus mengenyahkan rasa kantuk. Kupakai mukena putih dengan renda manis di pinggirannya. Di luar kamar kulihat ayah dan ibuku hendak sholat berjamaah. “Ma, Pa… Aku ikut sholat, ya,” kataku lirih. Ibuku menatapku penuh haru dan syukur. “Ayo, kita sholat,” ujarnya lembut sambil mengusap punggungku. Kami sholat dengan khusyuk. Baru kali ini aku benar-benar sholat. Biasanya setiap kali sholat, pikiranku berkelana ke mana-mana. Dari merangkai alur, menentukan plot hingga judul yang tepat untuk fiksi yang sedang kubuat. Aku tidak sepenuhnya menghadap Yang Maha Esa. Aku sholat hanya sebagai penggugur kewajiban bukan sebagai media komunikasi yang indah dengan Allah. Lagi-lagi aku kelihatan bodohnya. Aku sibuk menyenangkan pembaca tapi tidak kepada Allah.

Ibuku menatapku heran, “Ada apa, Nak? Kamu tidak seperti biasanya,” bisiknya lembut.
Aku tersenyum lemah, “Aku sudah bosan jadi seperti biasa, Ma. Aku ingin menjadi luar biasa.” Aku menggenggam tangan ibuku dan menciumnya “bantu aku, ya, Ma,” lanjutku. Ibuku tersenyum dan mengangguk.

Pagi itu menjadi titik perubahan dalam hidupku. Bisa dibilang, aku berhijrah dari keburukan menuju kebaikan. Semoga Allah senantiasa membimbingku berjalan di jalan yang lurus. Amin.
Aku hanya berharap makin banyak yang sadar bahwa yang sedang mereka lakukan saat ini adalah salah. Sehingga mereka bisa berhijrah menuju kebenaran. Allah memberi kita kelebihan, dan Dia juga membekali kita dengan akal dan hati nurani untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Lalu jika kita tidak menggunakan kedua anugerah tersebut, lantas apa bedanya kita dengan hewan yang hanya mengandalkan nafsu dan insting?

Hari-hariku terasa lebih bermakna bagiku. Semakin seringkubaca al-Qur’an, semakin tentram hatiku. Alhamdulillah atas hidayah-Mu yang Engkau tunjukkan padaku ebelum Engkau mengambil ruh dari jasadku.
Kita tidak akan maju jika masih mrasa takut untuk meninggalkan keburukan. Itulah yang kurasakan. Aku mendengarkan kata hatiku yang mengajakku untuk berubah, dan aku berhasil mengenyahkan rasa takutku.
Alhamulillah…
THE END

A/N; haloooo. Baru bikin cerita lagi nih. Mungkin ini lebih tepat dibilang curhatan ya. tapi mungkin ini bisa jadi pencerahan buat yang masih berkubang di dalam kegelapan. Hheheh. Ciao~

Need Some Help

Hai, readers.
Hampir tiga bulan lamanya aku nggak posting apapun di sini, ya. Hmm, padahal dua tahun lalu bisa tiap hari posting FF atau sekadar celotehan-celotehan yang sering bikin banyak orang tersedak-sedak menahan emosi yang meluap-luap hehehe.
Harap dimaklumin, ya, teman-teman, karena aku memang sudah nggak fokus lagi di dunia K-Pop. Sudah enggan nyari bias lagi. Mentok di Luhan ceritanya. #apadeh

Well, untuk kali ini kok aku ngeposting lagi, itu karena aku mau minta tolong sama readers di manapun kalian berada.
Bukan minta tolong ambilkan udel luhan, kok, tenang aja. Aku masih tahu kapasitasku sebagai seorang fans kok heheheh.
Tapi aku mau minta tolong untuk sesuatu yang punya pengaruh besar dalam kehidupanku setelah mati nanti.

Kalian pastinya sering dengar yang namanya Amal Jariyah, kan? Itu lho, amalan baik yang kita kerjakan di dunia dan pahalanya ngalir terus bahkan setelah kita meninggal. Yang termasuk amal jariyah itu ilmu yang bermanfaat, alias kalau kita ngasih ilmu yang bermanfaat terutama ilmu agama, dan ilmu itu dipakai dan diteruskan kepada orang-orang lain, maka pahala kita ngalir terus. Begitu pula dengan do’a anak yang sholeh dan sholeha kepada orangtuanya.

Nah, amal jariyah ini punya lawan, yaitu DOSA JARIYAH.
Dosa jariyah ialah perbuatan maksiat yang mengajak orang lain menirunya dan dilakukan terus menerus oleh banyak orang. Misalnya kita ini pelopor pakaian mini, terus banyak orang yang niru rancangan kita, lalu kita mati, maka setiap ada orang yang memakai rok mini atau baju dengan ketek melambai, maka kita dapat dosanya. Begitu seterusnya hingga kiamat.

Read more…