Posts tagged ‘Brothership’

Me And My Kids

*

 
*^*

a/n: Hola! Aku tiba-tiba kembali lagi dengan FF baru. Yup, FF KRISLAY terbaru. Hohoho. Sebagian besar dari kisah ini terjadi di kehidupan nyata, alias kehidupanku sendiri hehehe. Seperti biasa, aku selalu ngangkat tema yang simpel jadi sebuah cerita yang mengademkan hati wkwkwkwkw. semoga nggak mengecewakan ya. Plis plis plis pada komen dan kasih kesan-kesannya ya.

*^*

Akhirnya sampai juga ke ‘home sweet home’ gue. Seharian ngejogrok di kantor ngadepin manajer bawel dan rekan kerja yang bau ketek benar-benar bikin gue nyaris pingsan saking stresnya.
Rumah… tempat gue pulang dan istirahat. Tempat dimana gue bisa bebas dari tekanan hiruk pikuk tempat kerja yang super sibuk.
Biasanya gue sampai rumah itu jam 6 sore, tapi berhubung hari ini akhir bulan, maka gue terpaksa pulang jam 8 malam, dan baru sampai rumah sekitar jam 9 kurang.

Sofa kesayangan gue sudah lambai-lambai jablai gitu waktu gue masuk ruang keluarga. Dan lambaian itu nggak gue abaikan. Tubuh keren gue langsung menyambut uluran cintanya. Dan gue pun ngegelosor di atas permukaannya yang empuk, lembut dan agak bau susu basi.

HAH, APA? SUSU BASI?

Read more…

Oh, Brother! (V. Minseok /END)

***

 

 

 

***

 

 

Minseok sedari pagi tampak begitu sibuk menyiapkan ini-itu bersama ibu dan kakaknya demi mempersiapkan pesta ulang tahunnya. Pesta kecil-kecilan saja, karena Minseok tidak begitu suka suasana terlalu ramai. Dia hanya mengundang keempat sahabatnya untuk ikut merayakan hari jadinya.

Seorang pria 28 tahun (yang sering keliru dikira usia 18 tahun) masuk dapur sambil mengangkat kotak minuman bersoda. Minseok yang sedang menata kue-kue di atas piring saji, menggumam terima kasih.
“Seok, apa lagi yang mau dibeli?” tanya kakaknya.
“Sudah pesan pizza, Kak? Empat loyang kurang nggak, ya?”
“Pesan lima loyang saja, Sungmin. Ibu takut kurang nanti. Kamu tahu sendiri gimana selera makan teman-teman adikmu ini,” ujarnya disela kekehan usilnya.
Minseok manyun dan Sungmin tergelak.
Pemuda yang berulang tahun itu menyetujui usul ibunya dan memesan lima loyang pizza ukuran large.

Read more…

Oh, Brother! (IV. Yixing)

***

 

 

***

Gundukan baju yang harus dilipat benar-benar menyibukkan Yixing pagi ini. Setiap dua hari sekali, dia akan mencuci pakaian kotor yang menggunung. Keempat adiknya tidak banyak membantu, terutama dua adik bungsunya, Kai dan Taemin. Dua bocah berusia 5 dan 6 tahun yang hiperaktif.

“Kak…” suara merdu itu mengalihkan perhatian Yixing.
“Ada apa, adikku cantik?” senyumnya tulus menenangkan.
“Berasnya habis,” suaranya mengambang, seakan enggan terdengar.
Yixing menghela nafas dan menatap adik perempuannya yang duduk di kelas 2 SMP itu. “Ambil uang di dompet Kakak dan beli beras 2 kg, ya. Apa lagi yang habis? Buat sarapan masih ada makanan nggak, Fei?”
Fei tampak mengingat-ingat kebutuhan dapur, lalu dia menggeleng. “Kurang beras aja, Kak. Lauk masih ada.”
Yixing pun menyuruhnya membeli beras. Tetapi gadis belia itu malah merenung menatap kakaknya yang sedang melipat baju seragam Kai.

Read more…

Oh, Brother! (III. Chanyeol)

***

 

 

 

Pada hari minggu ini, Chanyeol menggunakan kesempatannya untuk menuntaskan semua tugas yang dilimpahkan dosennya. Ada sekitar tiga tugas dari tiga mata kuliah yang berbeda.
Cowok bongsor boros senyum itu sengaja bangun lebih pagi demi mendedikasikan waktunya untuk belajar.
Semua berjalan lancar.
Pukul 7, dia mandi. Kemudian dia menyiapkan dua tangkup roti isi daging asap dengan keju dan selada, ditambah segelas susu. Sambil mengunyah rotinya, Chanyeol menyeleksi apa saja yang akan dikerjakan dulu. Selesai sarapan setengah jam kemudian, dia langsung masuk kamarnya dan mulai tekun belajar.
Demi kelancaran kerjanya, cowok bersorot mata jenaka itu bahkan mematikan ponselnya agar terbebas dari gangguan Yifan, Luhan dan dua sahabat lainnya.

Read more…

Oh, Brother! (II. Luhan)

***

 

 

 

 

 

“Luhan! Aku pinjam laptopmu, ya.” seseorang mengetuk pintu kamar mandi. Luhan membuka pintu dan melongok dari celahnya.
“Nggak boleh! Aku lagi ngerjain tugas kuliah,” tegasnya.
“Please, Luhan. Cuma sebentar aja. Aku mau main game doang, kok.”
“Sehun. Kalau aku bilang nggak boleh, ya berarti nggak boleh!”
“Kenapa?”
“Karena itu laptopku. Sudah sana main tab aja. Awas kalau kamu pakai laptopku!” dan ancaman itu disudahi dengan bunyi ‘ceklik‘ pintu dikunci.

Read more…

Oh, Brother! (I. Yifan and Tao)

***

 

a/n ; Hai. aku kembali lagi dengan FF baru. jujur aja setelah sekian lama aku nggak nulis, aku jadi ngerasa kayak murid baru belajar nulis lagi. canggung dan kagok banget. jadi kalau FF ini terasa kurang bagus, kurang ngefeel atau kurang kece kayak FF2 ku sebelumnya, aku minta maaf sebelumnya hehehehe. please kasih good review ya. sudah lama aku nggak dapat komenan bagus hanya karena aku sudah nggak nulis FF YAOI lagi. T_T *mewek.

met baca ya. FF ini terinspirasi dari pengalaman hidupku sebagai sulung dari 5 bersaudara. ^^b

 

***

4ed42260e81b70876ba7c838ae6137bd

Sebuah cermin mendesah lega waktu wajah cowok tampan itu berbalik membelakanginya. ‘akhirnya cowok narsis itu pergi. Fiuh,’ batin cermin itu kira-kira. Cowok jangkung itu pun buru-buru menuruni tangga ke lantai bawah.

“Mami, Yifan cabut dulu, ya,” pamitnya dengan suara serak-serak paska pubernya.

Si Mami yang sibuk nguleni adonan pie menyahut, “Mau cabut gigi lagi, Fan? Bukannya baru sebulan lalu kamu cabut gerahammu yang bolong?” ia mendesah lelah, “Makanya rajin gosok gigi dan kurangi ngemut permen loli terus.”
Yifan menggeram pelan, “Bukan cabut gigi, Mami. Tapi Yifan mau cabut ke rumah Luhan.”
Terdengar kekehan salting dari pihak sang Mami, “Kirain kamu mau ke dokter gigi lagi. Umm… Fan, kamu ajak adikmu, ya.”
Cukup satu kalimat itu saja sudah bisa bikin mata setengah jereng Yifan melotot, diiringi pekikan melengking khas ala sinetron alay.

“APAAAA? Ogah banget aku main sambil ajak si kutil itu!” sungutnya jutek setengah merajuk. (Yifan hebat. Meski kesal, dia masih sempat bikin sweter. /woy, itu merajut/ oh, udah ganti berarti )
“Mami bakal sibuk siapin buat acara arisan nanti sore, dan si Mbak pulang kampung, Mami nggak sanggup kalau harus masak dan jagain adikmu sekaligus, Fan,” pintanya sambil mendorong pelan bahu anak umur 3 tahun agar mendekati si sosok titisan tiang jemuran itu.
Mata galak Yifan menatap tajam bocah imut yang lagi nenteng ransel kepala panda. “Titipin tetangga aja, sih. Noh, si Sunny demen banget sama si kutil ini,” jari telunjuknya menuding tepat hidung mungil adiknya.

Read more…

N E E D S

*

A/N: Sebuah fiction yang terinspirasi satu ungkapan konyol King Julien dalam Pinguins Of Madagascar. Dari satu kalimat itulah muncullah ide untuk fic ini. Kenapa castnya SeKaiLu? Karena aku belum pernah membuat fiksi dengan cast yang berpusat pada mereka.

Selain itu aku pribadi suka dengan interaksi Sekai maupun Kailu dan HanHun, maka aku pakai aja mereka sebagai cast utama Fanfic ini.

Semoga kalian terhibur.

Oh, ya, di sini bakal ada tiga POV.

*

Jongin

 

Gelas minumanku sudah kosong dan aku masih haus. Mataku mencari-cari sosok kurus pucat yang memuakkan itu. Tapi sosok itu tidak tampak seujung rambutpun. Aku lirik temanku yang duduk termangu sambil menatap lemari penyimpanan semua koleksi miniatur pemain sepak bola favoritku. Aku tahu dia iri dengan kemampuanku membeli benda-benda limited edition itu. Dia hanya mampu membeli poster murahan dan menempelnya di dinding rumahnya yang reyot itu. Kasihan.

“Luhan. Aku haus.” Aku melempar tatapan tegas yang segera dia pahami maksudnya.

“Bukannya kamu barusan minum, Jongin?” kedua matanya beralih dari lemari itu ke wajahku.

Aku mendengus dan mengangkat bahu. Luhan paham maksudku dan dia beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju pintu ruang santaiku.

Ujung jemariku mengetuk permukaan keras meja kayu antik warisan ayahku. Bunyi pintu ditutup membuat mataku terangkat dan bersitatap dengan seorang remaja berwajah tirus dan pucat. Kedua matanya menyorot kosong bagai zombie kurang makan.

“Aku haus. Tuangin minuman.”

“Baik, Master.” Bocah itu mengangguk sopan sebelum melangkah ke kulkas kecil di sudut ruangan. Tangannya meraih botol air mineral dan dia membawanya ke mejaku. Dia tuang air itu ke dalam gelasku dan aku menatapnya remeh.

Aku sesap sedikit isinya dan meludahkannya.

“Siapa bilang aku mau minum air, Tolol?” makiku sambil menyiramkan air itu ke muka remaja itu.

“M-maaf, Master. Aku nggak tahu.” Gumamnya tertahan.

Aku belum puas.

“Aku mau minum teh hangat. Buruan bikin!” sentakku seraya melempar gelas itu. Bunyi gelas pecah mengisi ruanganku dan serpihan kaca pun berhamburan di lantai.

“Baik, Master.” Bocah itu pun membuat teh untukku.

Di atas nampan, sebuah cangkir berisi teh dia letakkan di depanku.

Cairan hangat itu menyentuh bibirku. Aku berdiri dan menyemburkan teh dalam mulutku ke wajah bocah itu.

“Kamu bego, ya? Aku minta teh hangat! Ini terlalu dingin untuk dibilang hangat. Dasar bodoh!” dan cairan itu pun mengguyur wajah yang kubenci itu.

Tanpa banyak bicara, dia mulai membereskan kekacauan yang aku buat.

“Mau aku buatin teh yang baru, Master?” tawarnya lirih.

Get out!”

“T-tapi Master belum minum…”

I said get the fuck out! Aku sudah nggak pengin minum. Get out before I throw up on your disgusting face!” semburku galak dan menunjuk ke arah pintu.

  Read more…