Posts tagged ‘Angst’

Beautiful Sounds

A/N : Lama banget baru bisa nulis lagi. Cerita ini sudah lama bersarang dalam benakku. Dan aku rasa kayaknya aku harus nulis ini daripada jadi beban di kepalaku. Semoga kalian suka. Again… NO YAOI CONTENT.

 

Seperti biasa, selama nyaris enam bulan ini, aku ke mana-mana bersama Luhan. Ya, tetangga pindahan dari Cina itu terpaksa harus keluyuran ke manapun bersamaku. Awalnya aku malas, tapi karena desakan dari ibuku –yang sudah berteman baik dengan ibu Luhan- aku tidak bisa menolak perintahnya untuk menemani Luhan, si anti sosial.

Aku menyikut lengannya dan dia menoleh padaku dengan tatapan kesal. Dia melepas headphone yang nyaris 24 jam menyekap telinganya.

“Apa?” semburnya galak.

“Kamu dilihatin dosen.” Bisikku kesal. Seketika Luhan menoleh ke arah dosen pengajar yang menatapnya tajam. Dengan enggan dia menggumam maaf dan memasukkan headphone ke dalam ranselnya.

Kami kembali tenggelam dalam celotehan dosen yang membosankan.

  Read more…

Love Without End

 

BOPB0lsCYAALDdD

 

 

 

^-^

A/N : As often, this story is inspired by a true story. Dibubuhi sedikit konflik dengan cast yang unyuh unyuh sangat, maka daku berharap jalan cerita dan makna dalam cerita ini bisa tersampaikan ke para pembaca.

^_^

No love is greater than that a father for his son.” –Dan Brown, Angels and Demons.

^_^

Ransel sudah tersampir di bahunya ketika tiga temannya berseru dari luar kelas, ia mendongak dan mendapati mereka melambaikan tangan mereka mengajaknya keluar.

“Luhan! Ikut kita nonton, yuk. Mumpung mau ditraktir Joonmyun, nih!” pekik seseorang yang bertubuh paling jangkung dengan kedua mata berbinar jahil.

Orang yang dipanggil Joonmyun itu protes dan memukul bahu temannya itu. Luhan yang melihat perilaku kekanakan kawannya itu terkekeh.

Sorry, guys. Aku nggak bisa ikut. Masih ada yang harus aku kerjain di rumah. Maybe next time, deh, yaaaaa?” balasnya dengan suara cukup keras.

“Ah, payah kamu, Luhan. Beneran nggak mau ikut, nih? Filmnya seru banget, lho!” celetuk pemuda bermata sipit, yang disetujui dua teman lainnya dengan anggukan antusias.

Luhan menggeleng pelan dan mengibaskan tangannya, “Kalian pergi aja. Aku benar-benar nggak bisa ninggalin urusan yang di rumah. I’m terribley sorry, Baekhyun.”

Setelah beberapa gerutuan penuh kecewa, tiga kawannya itu pun pergi meninggalkan Luhan di kelas.

Pemuda berparas bagai anak sekolah menengah itu menghela nafas berat. Sesungguhnya dirinya sangat ingin menghabiskan waktu bersama tiga sahabatnya itu lebih lama. Tetapi tanggung jawab yang ia pikul menghalanginya.

Read more…

Need A Little Love (Three-Ending)

oOo

A/N : Akhirnya update juga, meski bukan KRAY tapi ini termasuk FF yang sulit buat aku ramu alurnya dan masukin feel ansgtnya. semoga ngena di hati, dan bisa jadi inspirasi.

Awas buat yang coba-coba plagiat atau repost ff-ffku dengan mengakui milik pribadi. Kalau mau share bilang aja. Jangan ngaku-ngaku milik sendiri. Seriusan, awas kalau sampai ada yang ketahuan curang.

oOo

Karena itu adalah hari minggu, maka tak seorangpun masuk ke kamar Sehun untuk membangunkannya. Mereka mengira bahwa Sehun masih tidur dan juga mungkin masih marah dengan kejadian semalam yang membuatnya enggan menemui keluarganya.

Masing-masing menjalankan kesibukannya sendiri. Ayah dan ibunya pergi entah ke mana, Jongin menghabiskan waktunya di gym dan berenang, Kris berlatih dengan tim basket kampusnya. Hanya dua orang pembantu rumah tangga dan seorang tukang kebun yang ada di rumah Sehun.

Dan mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang keberadaan Sehun. Dan tak ada yang berniat mencari tahu. Semua orang seolah tak peduli akan keberadaan atau ketidakberadaan Sehun.

Read more…

Need A Little Love (Two)

 

oOo

Pintu kantor guru diketuk pelan, sepertinya sang pengetuk itu ragu-ragu. Ketukannya mengambang dan kurang mantap. Sambil bertanya-tanya siapa orang di balik pintu itu, aku mempersilakannya masuk. Pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam ruang kantor guru yang cukup lengang. Hanya ada aku dan tiga orang guru yang sibuk sendiri-sendiri.

“Selamat… siang, Pak.” Sapanya sopan dengan tubuh membungkuk hormat.

“Siang, Sehun. Silakan duduk,” aku menawarinya duduk di kursi kosong di depan mejaku.

Remaja pucat itu terlihat agak kikuk, mungkin karena insiden kemarin siang.

Read more…

Need A Little Love

 

 

oOo

 

Materi yang akan aku ajarkan hari ini sudah kusiapkan sejak semalam. Berbekal buku tebal sosiologi, aku pun berangkat ke sekolah. Pagi ini cuacanya cukup cerah, meski baru pukul 6.30, tetapi hangatnya pancaran sinar matahari mengelus tubuhku.

 

Ku tersenyum tiap kali berpapasan dengan orang-orang yang kukenal. Ada penjual roti keliling langgananku, seorang ibu paruh baya yang menjajakan nasi kotak, remaja bertopi cokelat yang sedang bersepeda untuk mengantar koran, beberapa siswa sekolah dasar berjalan bersama-sama menuju sekolah mereka. sungguh pagi yang biasa, tetapi aku menikmatinya.

Read more…

Count On Me (Final)

Cast : Suho (Kim Joon Myun)

           Kai (Kim Jong In)

          Lee Taemin

          Lee Donghae

          And other

 

Genre : Drama. Angst.

 

 

 

^v^v^

Annyeong, ini part terakhir dari Fic Count On Me. Semoga endingnya memuaskan.

Plot dan alur adalah murni milikku. Begitu pula dengan cast di dalamnya. Mereka milikku. Jadi apapun bisa terjadi terhadap mereka.

I wish I own them in this real life. TT__TT

^v^v^

Prev..

Aku menunggu cukup lama sebelum akhirnya kedua mata hitam Jongin menatap lurus ke mataku. “Peluk.” Dan akhirnya ia mau mengungkapkan keinginannya sambil menatap langsung dalam mataku.

Serta merta aku merengkuhnya dalam sebuah pelukan erat.

“Jongin pintar.” Pujiku setelah melepas pelukanku. Kutatap kembali mata Jongin. Dan… ya, ia kembali lagi ke dalam dunianya. Tapi sedikit demi sedikit ia pasti bisa lebih baik.

Yang dibutuhkan Jongin adalah konsistensi dan kesabaran. Dan aku pasti bisa menjalankan dua hal itu.

 

^v^v^

Hampir tiga minggu telah berlalu, dan setiap hari Jongin menjalani terapi. Setiap hari sabtu, senin dan rabu, Jongin akan melakukan sesi terapi musik dengan bimbingan Jong Dae. Bangganya hatiku saat mendapat laporan dari terapis baik hati itu bahwa Jongin sudah bisa memainkan sebuah lagu sederhana, lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak. Twinkle twinkle Little Star.

Kata Jong Dae, sikap Jongin juga sudah agak berubah. Ia mulai mau menjawab beberapa pertanyaan sederhana dengan jawaban yang sederhana pula. Jika ia suka sesuatu, maka ia akan mengulang kata itu. misal, ia suka makan es krim, maka ia akan mengulang kata es krim. Jauh lebih baik daripada sebelumnya, dimana saat itu ia tak mengucapkan apa-apa. Dulu, jika tak suka maka ia akan mengamuk dan mengeluarkan tantrum yang akan berlanjut dengan melempar barang ke segala arah. Namun, setelah menjalani terapi, kalau ia tak suka, maka ia akan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, hingga membuatku khawatir lehernya bisa patah saking kuatnya ia menggeleng. Lebih baik barang yang hancur daripada lehernya yang putus. Hehehe.

Karena terlihat ada perkembangan pada diri Jongin, maka Jong Dae semakin intensif membantu adikku. Dan lagi, Jong Dae tak meminta bayaran dariku. Mana bisa aku tak memberinya imbalan atas usaha kerasnya membantu adikku?

‘Uangku sudah terlalu banyak. Aku cuma ingin membantu banyak orang.’ itulah jawaban yang aku terima darinya. Memang ia memperoleh kekayaannya bukan karena menjadi terapis, tapi karena ia mempunyai usaha yang menguntungkan. Pekerjaannya sebagai terapis ia lakukan untuk mewujudkan cita-citanya semasa remaja, bukan untuk mengeruk keuntungan.

‘Mana aku tega minta bayaran dari orang yang sedang kesusahan? Mereka datang ke sini buat minta bantuan karena mereka membutuhkan, ya, kan?’ lagi-lagi jawabannya membuatku makin kagum padanya.

Lain halnya dengan terapi tari yang dibimbing oleh sahabat Donghae yang konyol tapi keren, Hyukjae,  yang dijalani Jongin tiap hari Selasa, Kamis dan Jumat. Aku sengaja membuatnya sangat sibuk. Awalnya Jongin mengamuk dan mogok untuk bekerjasama. Tapi aku sudah bertekad harus bisa tegas dan berhenti memanjakannya. Usianya sudah hampir 18 tahun, sebentar lagi akan memasuki usia dewasa, sudah seharusnya ia bisa mengurusi dirinya sendiri. Selain itu aku berharap Jongin bisa berguna bagi orang lain. Aku membaca bahwa banyak penderita autis yang bisa bekerja dan sangat berdedikasi pada pekerjaannya. Dan aku ingin Jongin seperti orang-orang itu.

Dengan kolaborasi sikap tegasku dan sikap mendukung dari Taemin, maka Jongin akhirnya mau mengikuti tiap sesi terapinya, tapi… dengan syarat Taemin menemaninya. Oleh karena itu aku mengatur agar sesi terapi Jongin dilakukan di sore hari agar tak mengganggu kegiatan sekolah Taemin. Cowok itu sedang belajar mati-matian demi menghadapi ujian akhir.

Hyukjae dan Taemin memuji perkembangan Jongin. Memang tak berkembang dengan pesat, tapi di tiap minggunya selalu ada secuil perkembangan, dan itu sudah cukup membuatku optimis akan kesembuhan Jongin.

Beberapa hari yang lalu ada satu kejadian lucu yang diceritakan Taemin padaku. Saat itu adik perempuan Hyukjae yang sekelas dengan Taemin datang membawa makanan dari rumahnya. Ketika gadis manis itu menyapa Jongin, ia menatapnya tanpa berkedip. Dan yang membuat Taemin geli, Jongin mengikuti gadis itu kesana kemari. Tatapannya kosong, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat bagai tersenyum. Begitulah yang dikatakan Taemin. Gadis itu pasti merasa risih karena diikuti Jongin.

Aku tertawa membayangkan betapa kesalnya cewek itu karena dikuntit kesana kemari oleh seorang cowok penderita autis. Tapi menurutku itu sesuatu yang baik bukan? Jongin mulai tertarik pada lawan jenis. Sesuatu yang normal bagi seorang remaja yang sudah mengalami mimp basah. Yup, penderita autis juga mengalami yang namanya mimpi basah. Selain itu, aku baru tahu bahwa penderita autisme kebanyakan adalah anak laki-laki.

Selama ini kami memang jarang berhubungan dengan yang namanya wanita. Aku sendiri sudah lupa kapan terakhir berkencan dengan seorang gadis. Rasanya bagai berabad-abad yang lalu saat kurasakan bibirku mengecup bibir seorang gadis. Aku sempat merasakan first kiss-ku saat acara prom night sebelum kelulusanku. Aku terkenang kembali peristiwa itu.

Ah, untuk apa aku mengingatnya lagi? Aku harus fokus bekerja.

Aku sudahi lamunan tak pentingku dan mulai menyiapkan kedai Tuan Park sebelum orang-orang bermunculan untuk mengisi perut kosong mereka dengan burger lezat di tempat ini.

^v^v^

Hari-hari berikutnya dijalani Jongin dengan ceria. Ia lebih banyak tersenyum dan mengucapkan kata-kata. Aku, Jong Dae serta Hyukjae merasa senang karena Jongin sudah bisa mengungkapkan keinginannya, meski ia belum mampu mengatakan apa yang dirasakannya. Ia belum bisa mengutarakan perasaan sedih, senang, marah dalam kata-kata. Ia akan menangis jika sedih, tertawa jika senang dan berteriak jika marah. Namun, aku tak akan berputus asa. Semua akan kukorbankan demi kemajuan Jongin.

Pagi ini aku mengajak Jongin ke tempat kerjaku seperti biasa. Aku dan Tuan Park sepakat untuk mengajarkan Jongin berinteraksi dengan orang-orang dengan cara berdiri di dekat pintu masuk,  membungkuk hormat dan tersenyum ramah pada tiap orang yang melewati pintu itu.

Kata Tuan Park, cara itu cukup efektif dalam membiasakan keponakannya untuk berhubungan dengan orang lain. Maka ia mengusulkan cara itu untuk melatih Jongin.

Mulanya Jongin agak susah disuruh berdiri diam, karena ia cenderung aktif. Ia tak betah berada di satu tempat untuk waktu yang lama. Namun setelah seminggu lebih, Jongin sudah bisa tersenyum dan membungkuk hormat kepada pelanggan yang masuk maupun keluar.

Tinggal mengajarinya mengucapkan selamat datang dan terima kasih.

Wah, pekerjaan rumahku banyak dan berat.

Joonmyun, semangat!!!!

Oke, ini konyol. Aku menyemangati diriku sendiri. Tapi tak apalah, toh, aku memang  membutuhkan rasa optimisme yang tinggi. Kalau tidak, mana sanggup aku bertahan hingga sekarang, ya, kan?

^v^v^

Di ruang studio tari milik Hyukjae, Taemin serta Jongin sudah bersimbah keringat. Di bulan ke-tiga terapi tari Jongin, cowok itu mengalami banyak kemajuan. Ia sudah mampu menghafal gerakan-gerakan dance yang diajarkan Hyukjae. Mereka memulainya dengan gerakan-gerakan sederhana, lalu lama-lama gerakan dance-nya makin rumit, dan Jongin termasuk cukup cepat menghafalnya. Cowok berkulit kecoklatan itu terlihat sangat menikmati kegiatan barunya itu.

Sore itu, setelah latihan usai, Jongin duduk bersandarkan cermin besar di ruangan itu. Ia selonjorkan kakinya yang pegal. Taemin duduk di samping kanannya, mengipasinya dengan selembar karton yang ia comot entah dari mana.

“Jongin, kamu tahu nggak, kalau kamu hebat banget. Kamu itu berbakat? Dalam waktu dua bulan kamu sudah bisa kuasain gerakan dance MAMA punya EXO. Kata Hyukjae, setelah ini dia bakal ngajarin kitadance Lucifer-nya SHINee. Hmm… kamu siap?” tanya Taemin sambil menatap Jongin tepat di matanya. Joonmyun menyuruhnya berkomunikasi dengan Jongin sesering mungkin, dan melakukan kontak mata setiap saat.

“Siap.” Balas Jongin, tapi matanya menatap pintu yang ada di seberangnya.

Taemin menghela nafas, lalu ia menggeser duduknya ke depan Jongin dan kedua tangannya menangkup pipi Jongin. “Kalau ngomong liat mataku, Kim Jongin!” tegasnya gemas.

Manik hitam Jongin bergerak dan berhenti tepat di mata Taemin, kedua cowok seumuran itu saling tatap. “Siap.”

“Terima kasih, Jongin.” Ucap Taemin seraya tersenyum dan menepuk pelan pipi Jongin.

“Hai, Kak. Ini makanan dari Mama.” Gadis manis berambut pendek meletakkan rantang di atas meja kecil di sudut ruangan yang tertutup cermin itu.

“Thanks. Sekarang kamu pulang, shuuuuh,” usir Hyukjae dengan melambaikan tangannya, dan merengkuh rantang berisi makanan yang aromanya menggugah selera.

Sang adik hanya mendengus dan menjulurkan lidahnya ke arah kakaknya, lalu ia berjalan mendekati Taemin dan Jongin. Ia duduk di samping Taemin dan berdua tampak seru membicarakan kejadian di kelas mereka pagi tadi.

“Jongin. Kamu?”

“Hah?” adik Hyukjae melongo saat melihat tangan kanan Jongin terulur ke arahnya. Tak segera disambutnya uluran tangan cowok itu, melainkan gadis itu menatap Jongin dan tangannya bergantian.

“Jongin. Kamu?” ulangnya lagi. Matanya menatap lutut Taemin yang bersila di depannya. Bukan ke wajah gadis itu.

“Kim Jongin! Berapa kali aku bilang, kalau bicara sama orang harus liatin matanya! Kalau kamu nggak nurut, dia nggak mau kenalan sama kamu, lho,” ancam Taemin sambil melirik gadis di sampingnya itu.

“Jongin. Kamu?” terucap juga kata-kata itu dari mulut cowok dengan senyum manis itu, dan yang terpenting adalah ia menatap langsung kedalam mata gadis itu.

“Nah, gitu dong. Good job, Jongin,” puji Taemin. Lalu ia menyikut lengan gadis di sebelahnya agar membalas uluran tangan Jongin.

“Hai, Jongin. Aku Min.” jawab gadis itu ramah. Padahal ia sudah mengenal Jongin sejak lama.

“Min,” ulang Jongin. Dan ia tersenyum. Matanya berbinar. “Es krim?” tanya Jongin.

“Maksudnya, apa kamu suka es krim?” jelas Taemin.

“Oh, iya, aku suka banget es krim. Aku suka rasa vanilla. Kamu?” Min mencoba membuat percakapan dengan Jongin.

“Coklat.” Jawabnya singkat. “Cantik.” Celetuknya lagi. Kali ini pipinya bersemu merah.

“Dia bilang kalau kamu cantik. Yah! Jongin, dari mana kamu tahu kata cantik?” Taemin menepuk lengan Jongin.

“Wah, terima kasih, Jongin. Kamu juga tampan, kok.” Min membalas pujian Jongin.

Tapi Jongin menggeleng lalu menunjuk Taemin, “Cantik,”

Hyukjae, Min, Donghae yang baru memasuki ruangan bersama Joonmyun tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Taemin cemberut.

“Aku tampan! Bukan cantik! Jongin ngaco.” Sembur Taemin. Ia berpura-pura marah.

Dan hal yang membuat Joonmyun ingin menangis bahagia adalah karena Jongin tertawa. Suara tawanya aneh, agak pecah dan bergetar. Namun, bagi cowok dengan senyum bagai malaikat itu, tawa adiknya adalah suara terindah yang pernah didengarnya seumur hidupnya. Dan ia berharap bisa sering mendengar suara itu. Suara tawa Jongin.

^v^v^

Pagi harinya, aku mengantar Jongin menemui Jong Dae. Jongin berlatih memainkan gubahan komposer ternama, Ludwig Van Beethoven, Fur Elise .

Sekarang Jongin sudah bisa membaca not music. Dan yang membuatku makin salut dengan ketekunan Jong Dae membantu Jongin adalah ia juga melakukan sesi terapi wicara terhadap Jongin. Tak heran jika Jongin sudah makin cerewet sekarang. Bahkan ia sudah bisa membantahku jika aku menyuruhnya tidur lebih cepat.

Aku sendiri makin sibuk dengan pekerjaanku sehingga jarang berada di samping Jongin. Tapi tiap hari libur tiba, aku akan menghabiskan hariku bersamanya.

Terbersit dalam benakku untuk menyekolahkan Jongin. Meski usianya sudah terlalu tua untuk memulai sekolah lagi, tapi tak ada kata terlambat.

Yang jadi masalah adalah apakah ada sekolah reguler yang mau menerima anak berkebutuhan khusus seperti Jongin? Entahlah.

“Jongin~ah, yang nurut sama Jong Dae, ya?” pesanku padanya sambil mengacak rambutnya.

“Kakak cerewet!”

“Oh, jadi Jong Dae ngajarin kamu bilang gitu ke Kakak? Iya?”

“Berisik!”

“Hhhh… sekalinya bisa ngomong malah bikin kesel. Jongin, Jongin.” Gerutuku seraya mencubit pipi Jongin. Jong Dae terkekeh geli mendengar ucapan Jongin.

“Kakak kerja dulu, ya. Bye, Jongin. Jong Dae,” ucapku sebelum melangkah keluar rumah megah Jong Dae, dan pergi ke tempat kerjaku.

^v^v^

Tak terasa hampir satu tahun berlalu sejak dimulainya terapi musik pada Jongin. Remaja itu sudah bisa bercakap-cakap dengan orang-orang terdekatnya. Sudah mampu melakukan kontak mata. Dan ia sangat disiplin karena Joonmyun selalu bersikap tegas dan konsisten.

Taemin dan Donghae merasa senang karena mereka telah turut membantu Joonmyun dalam menelateni Jongin.

Jong Dae menyarankan Joonmyun menggunakan jasa guru privat untuk memberi Jongin kesempatan untuk belajar seperti anak-anak lain. Maka mulailah Jongin belajar membaca dan menulis. Berhitung bahkan menggambar. Terapi musik dan tari masih terus dilakukan, karena bagaimanapun juga, dua hal itu telah menjadi hobi remaja itu.

Setiap hari Jongin disibukkan dengan  berbagai kegiatan. Malam harinya ia akan tertidur kelelahan di meja makan bahkan sebelum menghabiskan suapan terakhirnya. Joonmyun merasa agak bersalah karena memforsir adiknya. Tapi Joonmyun ingin mengganti waktu-waktu belajar Jongin yang hilang sebelum semua terlambat.

Dan semua yang ia lakukan memang ada hasilnya. Jongin jauh lebih baik daripada sebelumnya.

^v^v^

Aku berjalan melewati dinding pembatas ruang tamu dan ruang keluarga, kulihat bingkai foto yang tertambat di dinding. Aku memeluk Jongin dari belakang. Matanya berbinar menatap ke arah kamera, bibirnya menyunggingkan senyum lebar, di samping kiriku ada Donghae, dan di sebelah Jongin berdirilah Taemin, cowok cantik itu menjulurkan lidahnya ke arah kamera. Tanganku meraba foto itu, aku tersenyum. Rasanya baru kemarin Hyukjae menjepretkan kameranya ke arah kami. Jongin terlihat sangat normal. Tak ada lagi tatapan kosong menerawang darinya. Tak ada lagi kebisuan. Tak ada lagi keheningan.

Yang ada hanya tawa, canda, omelan, gerutuan, dan semua emosi yang menghiasi hari-hariku bersama Jongin.

Taemin sudah berkuliah dan mengambil jurusan  yang berhubungan dengan art and dance. Donghae pun telah diterima bekerja di perusahaan milik keluarga Kim Jong Dae. Dan aku?

Aku akhirnya bisa kuliah. Dan mengambil jurusan yang aku idam-idamkan semenjak mengetahui kondisi Jongin. Psikologi. Bisa jadi karena sifat penyabarku yang dominan maka akan cocok jika aku menjadi seorang psikolog. Ya,kan? Intinya aku bahagia.

Dan… bangga.

Kenapa? Karena aku berhasil menjadi orangtua bagi adikku. Aku berhasil mendidiknya, menghidupinya dan merawatnya dengan baik.

Aku patut bangga.

Kulirik jam di pergelangan tangan kiriku dan sudah waktunya bagiku mengunjunginya. Kukeluarkan mobil baruku… ehem… mobil bekas sebetulnya, tapi masih bagus. Lalu aku melewati jalan yang dulu setiap pagi dan sore selalu kulalui. Untuk menemani kesendirianku di dalam mobil, kunyalakan radio dan mulai mendengarkan alunan lagu-lagu lama yang sedang diputar…

Setelah sekian lama… aku mendengar lagu itu lagi, lagu yang memberiku semangat dan kesabaran serta keikhlasan. Lagu yang menyentuh relung hatiku.

…. You can count on me like 1 2 3, I’ll be there…

And I know, when I need it I can count on you like 4 3 2, and you’ll be there…

Ya, lagu itu…

Kuingat betapa aku beruntung bisa menemukan sosok-sosok yang begitu perhatian pada aku dan adikku. Donghae dan Taemin. Kapanpun aku butuh bantuan, mereka akan selalu ada.

Dan kapanpun Jongin butuh bantuan, aku akan selalu ada untuknya.

Yup, I can count on Donghae and Taemin. And Jongin can count on me.

Lagu itu pun telah digantikan lagu lain, si penyiar menyebutkan penyanyi dan judul lagunya, kalau tak salah, Miley CyrusTrue Friends. Wah, jadi ingat dua sepupu lucu itu, Donghae dan Taemin. Kangen mereka. Tak sabar rasanya ingin cepat-cepat libur dan bertemu mereka.

Kupelankan laju mobilku dan berhenti di depan studio dance milik Hyukjae. Tempat ini makin ramai saja. Remaja cowok dan cewek baru saja selesai latihan dan mereka berbondong-bondong keluar. Setiap kali ada yang melewatiku, tercium aroma keringat yang membuatku mengernyitkan hidungku. Setelah semua sudah keluar dari tempat itu, aku pun sedikit berlari menuju ruangan tempat Hyukjae biasa melatih murid-muridnya.

Jantungku berdegup makin cepat. Aku tak sabar untuk segera bertemu dengannya. Sudah sebulan aku tertahan di kota tempatku kuliah. Dan aku sangat, sangat rindu pada Jongin. Lenganku sudah ingin memeluknya. Bibirku sudah tak tahan untuk mengecup dahinya. Rinduku sudah tak terbendung lagi.

Aku hampir saja tersungkur karena tersandung kakiku sendiri, tanganku mencengkram pegangan pintu untuk menjaga keseimbanganku, lalu setelah aku berdiri tegak lagi, kubuka pintu dan melangkah masuk.

Nafasku memburu, jantungku makin kuat mememukul tulang rusukku. Dan mataku melihatnya, ia yang sedang mengusap wajah, leher dan lengannya dengan handuk putih.

Ia mengibaskan rambutnya yang basah oleh keringat dengan begitu seksi. Pasti para gadis akan pingsan jika melihatnya. Lalu kedua mata hitamnya melihatku. Dan detik berikutnya aku sudah berada dalam dekapannya. Bau keringatnya yang tajam menusuk hidungku, tubuh lengketnya menempel pada tubuhku, membuat bajuku terkena keringatnya. Tapi aku sangat merindukan semua itu. Aku memeluknya sangat erat hingga dadaku sesak.

Kujauhkan tubuhku sedikit, dan mengangkat tanganku. Kutangkup wajahnya dan menariknya mendekat, dan mengecup dahinya.

“Akhirnya kita ketemu lagi,” desahku lega seraya berjalan mengiringinya ke sebuah sofa kecil.

“Tsk, baru juga sebulan, Kak.” Dengusnya sambil duduk dan menyilangkan kakinya dengan penuh gaya.

“Jadi… kamu nggak kangen sama Kakak? Ya sudah, Kakak pergi lagi.” Ancamku seraya bangun dari dudukku.

“Weeeits, tunggu, Kak. Aku cuma becanda. Aku juga kangen banget sama, Kakak. Jadi, gimana kuliahnya?” tanyanya sambil menelengkan kepalanya. Ia tampak sangat imut jika sedang seperti ini.

“Lancar. Kakak malah sering dapat nilai tertinggi di kelas. Hebat, kan?” ujarku dengan dada membusung.

“Nggak nyangka, ternyata Kakakku pintar. Hehehe.” Balasnya usil, membuatku menjitak kepalanya.

“Jongin~ah, gimana kerjaanmu di sini? Kayaknya murid-muridmu makin banyak, deh,”

“Yups, terima kasih sama aura dan tubuh seksiku ini. Hahaha,”

“Sejak kapan kamu jadi narsis gini, Jongin?” tanyaku sambil memutar bola mataku.

“Sejak namaku jadi Kai. Sekarang semua orang di sini manggil aku Kai. Bukan Jongin.” Jawabnya serius.

“Memangnya apa masalahnya dengan nama Jongin?”

“Itu masa laluku, Kak. Cuma Kakak yang boleh panggil aku Jongin. Taemin sama Donghae juga boleh panggil aku pakai nama lamaku. Tapi yang lainnya nggak boleh. Aku mau mereka kenal aku sebagai Kai yang normal, bukan Jongin yang autis.” Suaranya jadi makin dewasa sekarang. Tak kusangka adikku yang polos sekarang sudah berusia 21 tahun.

3 tahun telah berlalu, dan Jongin sudah menjadi Kai. Pria muda dengan bakat dance yang luar biasa, membuatnya menjadi seorang koreografer yang populer. Ia bahkan mendapat tawaran menciptakan koreo untuk penyanyi-penyanyi maupun grup-grup ternama. Tak ada yang percaya jika sebelumnya Jongin menderita autis yang parah. Aku bersyukur Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menjadi normal. Walaupun tak seratus persen normal seperti orang-orang pada umunya, tapi setidaknya ia sangat berbeda dengan beberapa tahun silam.

“Aku tahu, Jongin. Tapi jangan kamu lupain masa lalumu, karena kita sebagai manusia akan selalu belajar dari masa lalu untuk jadi lebih baik di masa depan. Oke?” aku menasehatinya, karena bagiku ia masih perlu banyak belajar tentang hidup.

“Iya, Kak. Thanks.” Dan senyumnya membuatku melambung. Aku bahagia tak terkira. Ia tersenyum padaku dengan menatap langsung ke dalam mataku. Hal yang dulu tak pernah ia lakukan.

“Jongin~ah, makan, yuk. Kita beli burger di tempat Tuan Park.” Ajakku dan ia menyambutnya antusias.

“Tapi… aku harus tetap diet, Kak.” Wajahnya berubah sendu saat menyadari bahwa agar penyakitnya tak muncul lagi, ia harus menghindari produk makanan yang mengandung gluten.

“Tenang aja. Tuan Park juga sedia menu ramah orang autis. Ayo, Kai! Let’s go!” aku menarik lengannya hingga ia berdiri di atas kakinya, lalu ia lingkarkan lengannya di bahuku. Kami berjalan menuju mobilku yang terparkir di depan.

Sepanjang perjalanan, Kai… maksudku Jongin, bercerita tentang seorang gadis yang sedang didekatinya. Dan bisa kutebak siapa gadis itu.

“Jadi selama ini kamu belum nyatain perasaanmu sama Min? ckckck. Payah kamu, Kai!” cibirku meremehkan keberaniannya.

“Aku nunggu dia putus dari pacarnya, Kim Joonmyun!” ia cemberut dan melirikku dengan kesal.

“Sekarang sudah putus?” tanyaku, dan ia mengangguk.

“Aku beneran suka dia, Kak. Tapi… apa dia mau sama cowok autis kayak aku?” dan kebiasaan buruknya muncul. Tangan kirinya perlahan terangkat dan berhenti di mulutnya, lalu ia mulai menggigiti kuku jari telunjuknya.

“Dasar. Urusan dia suka atau nggak itu belakangan. Yang penting kamu kasih tahu dia perasaanmu. Daripada kamu menyesal.” Jongin pun sepertinya meresapi ucapanku. Dia menggumam terima kasih sebelum turun dari mobil. Kami sudah sampai di kedai tempatku bekerja beberapa waktu lalu.

Dan kami habiskan siang itu sambil makan burger dan mengobrol dengan Tuan Park dan keponakannya yang pengidap autis, Park Chanyeol, yang sekarang sudah bersikap layaknya orang normal. Sama seperti Jongin. Meski cowok bernama Chanyeol itu agak hiperaktif.

Aku dan Jungsoo eh Tuan Park, merasa lega sekaligus bahagia melihat dua orang kesayangan kami sudah bisa bersikap layaknya orang normal tanpa ada kekurangan apapun. Dan usahaku tak akan berhenti sampai di sini. Karena aku akan selalu menjadi penjaga dan pelindung Jongin. Menjadi kakak tempatnya meluapkan segala emosinya, kesedihannya, kebahagiannya maupun kemarahannya. Aku akan terus menjadi orangtua satu-satunya bagi Jongin. Akan selalu berada di sisinya kapanpun ia butuh aku.

Ya, Kim Jongin, you can always count on me.

And I know that now,  I also can count on you.

 

Dan masih ada lagi, aku bertekad akan menjadi seorang terapis bagi para penderita autis lainnya. Karena aku tahu betapa sulitnya mengurusi dan menghadapi penderita autis.

Good luck, Joonmyun.

Ucapku dalam hati, seraya menatap Jongin atau yang sekarang lebih suka dipanggil dengan judul Kai, sedang tertawa bersama Chanyeol, keponakan Tuan Park.

Terima kasih kamu sudah hadir dalam hidupku, Kim Jongin.

I love you, my little brother…

 

 

 

THE END

 

 

^v^v^

Count On Me (Chapter Two)

Cast : *Main : Suho (Kim Joon Myun)

                          Kai (Kim Jong In)

                          Lee Taemin

                          Lee Donghae

                          With other SM artists

 

Genre : Drama. Angst.

 

 

 

** Soundtrack : Bruno Mars – Count on Me

^v^v^

^v^v^

Dari rumah berpagar biru tampak sebuah sepeda melesat keluar, diiringi sebuah teriakan dari dalam, “Lee Taemin, cuci piring duluuuuuu!!!!!”

Seorang cowok menghampiri ibu-ibu yang baru berteriak sekuat tenaga itu, “Biar Donghae aja yang nyuci, Tante,”

“Hhhh… kenapa si Taemin buru-buru gitu? Tiap siang sampai sore pergi terus. Ke mana aja, sih?” tanya ibu-ibu berambut ikal sebahu itu.

“Oh, Taetaem main ke rumah tetangga sebelah, Tante. Ada cowok seumuran dia. Tahu nggak, Tante? Yang tinggal di rumah itu cuma dua orang kakak beradik. Nggak punya orangtua. Benar-benar sebatang kara. Dan lebih kasihannya lagi, tuh, cowok yang seumuran Taetaem menderitaautisme.”cerita Donghae sambil membilas piring dan gelas yang sudah ia sabuni.

“Ya, ampun. Kasihan banget. Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin-kemarin, Hae? Kan, Tante bisa kirim masakan buat mereka. Hmm… kamu sekarang anterin masakan ke sana, deh. Tante siapin dulu, ya.” dan ibu itu menyiapkan rantang lalu mengisinya dengan masakan. Setelah Donghae selesai dengan tugas mencuci piringnya, ia pun menenteng rantang itu dan berjalan menuju rumah Joonmyun dan Jongin.

^v^v^

Aku terharu dengan sikap Taemin yang dengan telaten mengajak Jongin mengobrol. Meski Jongin hanya menatapnya dengan tatapan kosong sambil menggoyang-goyangkan badannya ke depan dan ke belakang secara berulang-ulang. Namun, Taemin tetap bercerita tentang kejadian-kejadian seru di sekolahnya.

Aku sedang menuang banana-milkshake ke dalam mug ketika Donghae masuk dan meletakkan rantang di atas meja.

“Ini dari Tante, katanya kalian harus banyak makan.” Ujar Donghae dengan senyuman lebar di bibirnya. Aku merasa tak enak karena telah merepotkan keluarga Taemin. Namun, Donghae akan selalu memukul belakang kepalaku kalau aku berkata seperti itu. Ia bilang bahwa aku konyol jika merasa seperti itu, karena sebagai tetangga dan teman yang baik, sudah seharusnya saling membantu.

Tak habis-habisnya aku bersyukur pada Tuhan karena mempertemukan aku dengan keluarga yang baik ini.

“Terima kasih banyak, Donghae. Aku bikinin banana-milkshake juga, ya?” tawarku pada cowok yang murah senyum itu. ia mengangguk antusias menanggapi tawaranku. Lalu aku membuat dua porsibanana-milkshake untuk kami berdua.

“Umm… Donghae,” ucapku setelah minumanku habis.

“Iya, Joonmyun?” ia menatapku.

“Aku besok mulai kerja shift malam, tapi aku nggak mungkin ajak Jongin ke tempat kerja. Aku kalau pagi, kan, kerja di tempat Tuan Park. Tapi penghasilannya belum cukup buat ngerawat Jongin. Jadi, aku ngelamar kerja sebagai kasir di toko swalayan. Aku bisa minta tolong kamu buat jagain Jongin nggak?” aku tak berani menatap wajah Donghae saat mengatakannya.

“Hei, ngapain lo liatin lantai? Lo malu minta tolong ama gue? Jangan konyol, ah! Ya jelas aja gue bisa bantu jagain Jongin. Toh, lo kerja mati-matian juga buat kebahagiaan Jongin.” Ujar Donghae yang dengan gemas menepuk punggunggungku berulang-ulang.

“Terima kasih, Donghae. Terima kasih banyak.” Aku tak tahu harus berkata apa lagi.

“Tsk, makasih, makasih melulu. Santai aja, Bro.” ia meremas bahuku pelan, “Jadi, lo mulai kerja jam berapa sampai jam berapa?”

“Mulai jam 9 malam sampai jam 12 malam. Tapi kalau hari minggu malah lebih lama lagi. Sampai jam 2 malam.” Jawabku sambil menghela nafas. Bisa kubayangkan waktu tidurku yang harus kukorbankan.

“Wah, begadang terus, dong. Hmm… jadi gue datang ke sini sebelum jam 9. Sip, deh.”

“Thanks, Hae.” Kataku lagi.

“Lo bilang makasih lagi, gue gigit, lho!” ancamnya dengan mata memicing. Aku tertawa dan mendorong bahunya pelan.

Sementara aku mengobrol dengan Donghae, Taemin tampak sedang melakukan gerakan-gerakan aneh di depan Jongin.

“Hae, itu si Taemin lagi ngapain, sih?” tunjukku ke arah Taemin.

“Oh, dia lagi nari. Pamer gerakan barunya. Padahal gue udah bilang ama dia kalau gerakannya itu malah mirip orang kesetrum daripada orang nari. Tapi dia tetap ngotot kalau gerakannya itu keren. Nah, lo sendiri, deh, yang menilai,” dengus Donghae meledek Taemin.

Aku terkekeh mendengar komentar Donghae pada sepupunya itu. Aku bangun dari dudukku dan menghenyakkan pantatku di samping adikku. “Jongin~ah, kamu liat tarian Taemin? Mirip orang kesetrum, ya? Hahahaha,” candaku seraya menyenggol lengan Jongin.

Taemin yang mendengarnya langsung cemberut, “Ini gerakan keren banget tau!” protesnya sebelum melakukan beberapa gerakan lainnya, yang menurutku lumayan keren.

“Jongin~ah, kamu pengin bisa nge-dance kayak Taemin?” tiba-tiba Donghae bertanya. Ia duduk di depan Jongin dan menatap langsung ke dalam matanya.

Jongin tetap diam. Donghae menyuruh Taemin memutar lagu favoritnya dan menari mengikuti dentuman musik. Taemin menurut dan melakukan apa yang disuruh.

Aku tak mengerti tujuan Donghae menyuruh sepupunya yang kurus itu menari. Aku makin bingung saat mendapati Donghae menatapa Jongin dengan intens. Apa sih yang dipikirkan cowok cadel ini?

“BINGO!!!!!” pekik Donghae penuh kemenangan, membuatku hampir terjungkal dari dudukku.

“Apaan, sih. Hae? Bikin kaget aja!” gerutuku sambil menepuk pelan dadaku yang berdebar.

“Hehehe, sorry. Lo nggak lihat reaksi Jongin barusan?” aku menggeleng, dan Donghae melanjutkan dengan bersemangat, “Barusan matanya berkedip-kedip dan sedetik dia ngikutin arah gerakan Taemin. Dan… kakinya bergerak ngikutin beat lagu tadi. Cuma beberapa detik, tapi dia bereaksi.”

“Maksudmu dia bereaksi terhadap musik?” tanyaku dengan dahi berkerut.

“Sepertinya, sih, iya.” Sahut Donghae sambil menggosok-gosok dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya.

Tapi saat kulihat Jongin, ia terlihat seperti biasa. Tenggelam dalam dunianya. Semoga saja apa yang dikatakan Donghae benar.

Taemin merasa bersemangat dan mulai melakukan gerakan-gerakan lain. Namun, Jongin tak menunjukkan reaksi lagi.

Tak lama setelah itu, Taemin dan Donghae berpamitan. Dan tinggallah aku dengan Jongin.

Aku ajak adikku ke kamarnya. Ia duduk di pinggir ranjangnya dan mulai menggoyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang. Perlahan tapi pasti jari telunjuk tangan kirinya terangkat dan berhenti di mulutnya. Lalu ia mulai menggigiti kukunya.

Itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Oleh karenanya aku selalu rajin memotong kukunya.

Aku duduk di depannya.

“Jongin~ah,” panggilku, tak mengharapkan sahutan darinya, tapi aku suka menyebut namanya. Aku menangkup pipinya dan menghadapkan wajahnya padaku agar aku bisa menyelami kedua matanya.

“Kita beruntung bisa ketemu Donghae dan Taemin. Hmm… kamu suka Taemin?” tanyaku masih tetap memegangi pipinya.

“Taemin.” Ucapnya dengan monoton. Tanpa ada emosi maupun intonasi. Persis robot.

“Kakak juga suka Taemin. Dia lucu, baik, ceria, apa adanya, dan dia pintar nge-dance. Jongin mau belajar dance kayak Taemin?” tanyaku lagi.

Butuh waktu kurang dari semenit bagi Jongin untuk menyahut, “Jongin dens.”

“Hahaha, oke. Besok Kakak suruh Taemin ajarin Jongin dance.” Aku tertawa lepas. Meski wajahnya tanpa ekspresi, tapi aku sempat melihat binar di matanya yang hitam kelam. Aku tak kuasa menahan diriku untuk tak memeluknya. Lalu aku membantunya merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya.

Sudah menjadi ritualku dan Jongin untuk menyanyikan sebuah lagu untuknya. Kali ini aku menyanyikan lagu lawas, namun masih enak di dengar. Lagu yang dipopulerkan oleh Michael Learns To Rock (MLTR), Sleeping Child. Dan lagu ini sudah sering kulantunkan untuk meninabobokan Jongin sejak beberapa tahun lalu. Aku berdehem untuk melancarkan tenggorokanku, dan sambil mengusap-usap rambut halusnya, aku bernyanyi…

“The milky way upon the heavens

Is twinkling just for you

And Mr. Moon he came by

To say goodnight to you

I’ll sing for you, I’ll sing for mother

We’re praying for the world

And for the people everywhere

Gonna show them all we care

 

Oh my sleeping child, the world so wild

But you’ve build your own paradise

That’s one reason why I’ll cover you

Sleeping child…

I’m gonna cover my sleeping child

Keep you away from the world so wild…”

 

“Aku akan selalu menjagamu, Jongin~ah…” bisikku di telinganya. Ia sudah terlelap. Wajahnya damai dan polos.

Aku bertekad akan menyembuhkannya. Aku harus menyembuhkannya!

^v^v^

Donghae dan Taemin sudah berdiri di ruang keluarga. Jongin sudah tidur di kamarnya, dan Joonmyun telah mengenakan seragam kasir. Ia memakai jaket tebalnya dan berpamitan pada dua sahabatnya itu. Donghae berjanji akan menjaga Jongin dengan baik, sehingga tak ada alasan bagi Joonmyun untuk khawatir.

Setelah Joonmyun meninggalkan rumah, Taemin duduk di depan tv, dan Donghae ke dapur untuk membuat minuman hangat untuk mereka berdua.

Untuk mengisi waktu mereka, Donghae dan Taemin berbincang tentang berbagai hal, lalu mereka membahas Jongin. Taemin mengeluarkan ponselnya dan ia mulai menjelajahi situs pencarian Google.

“Lo lagi ngapain, ToTaempole? Chatting ama cewek-cewek, ya?” tuduh Donghae sambil mendekati Taemin dan mengintip layar ponsel cowok berumur 18 tahun itu.

“ToTaempole apaan, sih? Sembarangan! Aku lagi nyari-nyari tentang autisme, nih. Aku mau tahu tentang hubungan musik dengan autisme.” Jawabnya dengan wajah serius. Taemin menemukan satu artikel tentang informasi yang dicarinya. Ia menggigit bibir bawahnya, alisnya bertaut. Ia serius membaca isi artikel itu.

“Eh, gue liat juga, dong!” Donghae merebut ponsel Taemin dan membaca artikel itu. Serta merta ia merengut dan mengembalikan ponsel ke Taemin. “Sial! Artikelnya pakai bahasa Inggris. Mana gue ngerti!”

“Makanya jangan main serobot aja. Sok tahu, sih!” gumam Taemin kesal.

Lalu Taemin menjelaskan isi artikel itu, ia menerjemahkannya agar Donghae paham.

“Di Amerika Serikat, terapi musik adalah penerapan seni musik secara ilmiah oleh seorang terapis yang menggunakan musik sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan terapis tertentu melalui perubahan perilaku. Dengan bantuan alat musik, pasien juga di dorong untuk berinteraksi, berimprovisasi, mendengarkan atau aktif bermain musik. Dari hasil penelitian Martin Gardiner, musik dapat membuat anak lebih pintar, membantu otak lebih fokus. Selain untuk kognitif, musik dapat meningkatkan kecerdasan emosional.” Taemin menarik nafas sebelum melanjutkan, ia menatap Donghae, memastikan cowok itu mendengarkan dan memahami tiap katanya, “musik dapat menyehatkan jiwa, menciptakan kegembiraan, dan lain sebagainya. Musik dapat digunakan untuk anak berkebutuhan khusus agar dapat menyalurkan emosinya secara positif.”

Donghae tampak takjub dengan informasi dari Taemin itu, “Wow, ternyata musik bisa jadi terapi. Keren. Gimana, ToTaempole? Bisa kita coba?”

“Boleh. Apa salahnya kalau dicoba? Nanti kamu bilang ama Joonmyun, jadi kita bertiga ngajarin Jongin bermusik. Aku mau ngajarin dia dance juga, ah. Musik dan tari selalu bersinambungan.” Tukas Taemin dengan penuh antusiasme.

“Hayuk hayuk hayuk! Siapa tahu ternyata Jongin berbakat,” Donghae bertepuk tangan heboh.

“Ya, sapa tahu dia berbakat, nggak kayak Lee Donghae. hehehe,” dan kepalanya segera jadi korban pukulan Donghae.

Jarum jam pendek mulai mendekati angkat 12. Sebentar lagi Joonmyun akan pulang. Taemin tertidur di lantai berbantalkan perut Donghae yang sedang tiduran. Dan cowok berusia 25 tahun itu menonton film yang sedang tayang di salah satu saluran tv. Bunyi ceklik pada pintu membuatnya duduk dan membangunkan Taemin. Joonmyun sudah pulang.

Donghae segera berdiri dan menyambut Joonmyun. Wajah pemuda itu tampak lelah dan mengantuk. Namun, senyuman tak pernah hilang dari bibirnya. Atau memang ia tampak seperti selalu tersenyum? Donghae tak tahu. Ia hanya merasa kasihan sekaligus bangga pada Joonmyun. Di saat ia seharusnya kuliah, ia malah bekerja, membanting tulang untuk menghidupi adiknya. Ia merasa malu pada Joonmyun. Karena ia sendiri hingga umur 25 tahun belum menyelesaikan skripsinya dan belum bekerja. Memalukan! Dengan melihat kegigihan Joonmyun, terbersitlah semangat dan optimisme dalam diri Donghae. Dan cowok itu bertekad akan segera menggapai cita-citanya.

“Hai, Joonmyun.” Sapanya.

“Hai, Donghae. Gimana Jongin? Apa dia bangun?” tanyanya seraya membuka jaketnya dan menyampirkannya di punggung kursi.

“Nggak bangun, kok. Tadi jam 11-an gue ngecek ke kamarnya. Dia masih tidur. Lo istirahat dulu, gih. Muka lo awut-awutan. Hehehe,” Joonmyun terkekeh lalu mengangguk.

Donghae dan Taemin berpamitan. Joonmyun mengantar mereka hingga ke pagar, “Donghae. Taemin! Makasih banyak sudah jagain Jongin. Aku berhutang banyak ama kalian, nih, hehe.”

“Nggak usah ngaco, ah. Kita balik dulu, ya. Met istirahat, Joonmyun,” kata Donghae seraya melambaikan tangannya. Lalu ia dan Taemin berlari-lari kecil ke rumah mereka.

^v^v^

Beberapa hari yang lalu Donghae dan Taemin memberitahuku tentang terapi musik terhadap penderita autis. Aku sempat membaca tentang itu, tapi aku tak berpikiran untuk mencobanya. Dua cowok itu memaksaku untuk mencobanya pada Jongin.

Tak ada salahnya mencoba, kan? kata Taemin meyakinkanku.

Akhirnya aku menyetujui usul mereka. Sementara aku dan Taemin menemui teman Tuan Park, yang juga memberikan terapi untuk keponakannya, Donghae menjaga Jongin di rumah. Jongin sudah merasa nyaman dengan kehadiran Taemin dan Donghae di rumah. Mereka memang sering menghabiskan waktu mereka di rumahku.

“Taemin, benar ini rumahnya?” kupandangi rumah dengan desain klasik yang unik. Taemin mengangguk dan menarik tanganku memasuki gerbang yang tinggi.

Seorang wanita beruban membukakan pintu dan tersenyum sangat ramah, ia menyilakan kami masuk. Mataku menyapu ruang tamu yang elegan dengan satu set sofa klasik berwarna merah marun dengan aksen keemasan. Sofa itu tampak sangat mewah. Mataku tak absen menelusuri beberapa lukisan indah yang pastinya berharga sangat mahal. Aku digiring memasuki ruang tengah yang jauh lebih besar. Perabotan indah dan elegan tersebar di beberapa sudut ruangan. Ada sebuah grand piano tepat di samping tangga melingkar yang anggun. Aku takjub dengan eksterior maupun interior rumah ini. Begitu mewah. Namun, terkesan hangat dan nyaman. Dan benar saja, seperti dugaanku, pasti pemilik rumah ini berjiwa hangat dan ramah.

Seorang pria sekitar akhir 20-an keluar dari sebuah ruangan. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Matanya membentuk garis lengkung. Mata yang tersenyum. Aku segera merasa nyaman. Taemin dan aku membungkuk sopan saat pria itu berdiri di depan kami.

“Selamat datang di rumahku. Aku Kim Jong Dae. Jungsoo, maaf… maksudku Tuan Park sudah menelpon dan bilang kalau kalian ingin bertemu denganku. Silakan duduk”

“Terima kasih, Tuan Jong Dae.” Sahut Joonmyun sopan.

“Shhh… nggak usah pakai Tuan segala. Jong Dae saja sudah cukup.” Katanya sambil tertawa pelan.

Aku dan Taemin duduk berhadapan dengan Tu… mmm… Jong Dae, maksudku.

Aku mulai menjelaskan maksud kedatanganku, dan pria muda itu menyimak dengan penuh perhatian. Ia mengangguk sesekali, menandakan bahwa ia masih mendengarkanku. Setelah lebih dari 5 menit aku bercerita tentang kondisi Jongin, Jong Dae tersenyum, dan ia setuju untuk mengajarkan Jongin bermain musik.

“Piano. Itu alat musik paling gampang untuk dipelajari. Jadi, adikmu bakal belajar memainkan piano dulu. Setelahnya dia bisa mencoba alat-alat musik lainnya.”

“Umm… tapi, gimana kalau selain belajar musik, Jongin juga belajar tari?” tanya Taemin yang sejak tadi hanya diam menyimak kami.

Alis Jong Dae naik,rupanya ia tertarik dengan usul Taemin, “Hmm… boleh, juga. Memangnya kamu tahu orang yang bisa ngajarin penderita autis menari?”

“Kalau ngajarin penderita autis, sih, nggak. Tapi dia mentorku sekaligus sahabat sepupuku. Dia punya studio tari. Nah, aku bisa minta tolong dia buat ngajarin Jongin secara privat,” jelasnya dengan mata berbinar.

“Boleh juga. Ya, semua kita serahkan pada Joonmyun. Gimana?” tanya Jong Dae seraya menatapku.

“Oke. Nggak ada salahnya dicoba. Kita selaraskan pelajaran musik dan tari. Mudah-mudahan efeknya bisa bagus.” Ujarku optimis.

^v^v^

Di sebuah ruangan luas dengan deretan cermin besar yang menempel di dinding, terlihat dua cowok sedang berbicara.

“Hyukjae, lo bantuin adik teman gue, ya? Please,” Donghae berdiri di depan seorang cowok kurus.

“Yang mana? Yang autis itu?” Donghae mengangguk, “Taemin sering cerita tentang anak itu.” lanjutnya.

“Kata terapis musiknya, dia bisa sembuh lebih cepat kalau terapi musiknya dikombinasi sama tarian. Dan daripada gue ngubek-ngubek sana sini buat nyari terapis, mending gue minta tolong ama lo, Hyuk.” Mohonnya.

Hyukjae menimbang-nimbang, dan ia merasa tak ada ruginya untuk mengajari anak itu menari. “Oke, lo bawa bocah itu ke sini besok.”

“Serius, nih, Hyuk?” pekik Donghae. Hyukjae mengangguk. “Whoaaaaah, thanks, Bro! Lo benar-benar keren, tau nggak? Aaaah, gue nggak salah sobatan ama lo, Hyuk. Peluk. Peluk. Peluk!” Donghae mendekati Hyukjae dan memeluknya erat.

“LEE DONGHAE! PLEASE NGGAK USAH LEBAI, DEH!!!!” raung Hyukjae seraya mendorong tubuh sahabatnya itu jauh-jauh.

^v^v^

Agak ragu bagiku untuk melepas Jongin sendiri bersama Taemin dan Hyukjae, mentornya. Namun,  semua itu demi kesembuhan Jongin. Aku ingin ia tak terlalu menggantungkan hidupnya padaku. Ya, jika Tuhan memberiku umur panjang. Tapi bagaimana kalau tidak?

Karena itulah aku harus bisa melepas adikku. Agar ia mandiri.

Pagi ini Taemin dan Donghae mengajak Jongin dan aku ke studio dance milik sahabat Donghae, Hyukjae. Kesan pertama yang muncul saat kulihat cowok itu adalah… kocak dan konyol. Aku kira Taemin sedang mengerjaiku. Bagaimana bisa seorang cowok dengan seringai konyol itu bisa mengajarkan Jongin menari?

Tapi asumsi negatifku itu hilang seketika saat Hyukjae mulai melikukkan tubuhnya mengikuti iringan musik hip-hop. Tubuhnya begitu luwes, gerakan tangan dan kakinya rumit, tapi sangat keren. Mana bisa aku menari seperti itu? Aku akui bahwa Hyukjae itu K.E.R.E.N.

Aku dan Donghae melihat bagaimana Jongin bereaksi terhadap dentuman musik dari beberapa buah speaker besar di beberapa sudut ruang berbentuk persegi panjang itu.

“Lihat kaki Jongin!” Donghae menyenggol bahuku seraya mengedikkan dagunya ke arah Jongin.

“Eh, iya. Kakinya gerak-gerak ngikutin irama. Liat tangannya, Hae. Tepuk-tepuk pahanya sesuai ketukan musiknya. Ini pertanda baik, kan, Donghae?” tanyaku optimis.

“Pasti. Dan gue yakin, Hyukjae dan Taemin bisa bikin Jongin bisa berkomunikasi sama kita. Dan nggak tenggelam lagi dalam dunianya.”

Aku mengamini ucapan Donghae.

Setelah melakukan survei tadi, aku segera ke tempat kerjaku. Tuan Park sudah datang. Aku meminta maaf atas keterlambatanku, dan kuceritakan alasanku. Tuan Park tampak senang dengan ide mengajak Jongin melakukan terapi musik dan tari. Dan pria penyabar itu mendoakan agar Jongin bisa cepat sembuh.

Melayani pelanggan hingga sore hari membuatku lelah. Dan nanti malam aku masih harus bekerja di toko swalayan hingga tengah malam. Dan lagi-lagi, aku harus merepotkan Donghae dan Taemin untuk menjaga Jongin. Semoga usaha kami dalam menyembuhkan Jongin berhasil. Aku tak ingin merepotkan orang-orang di sekitarku terus-menerus.

Di rumah, Jongin sudah duduk manis di teras, ditemani Taemin yang sedang mengajaknya mengobrol. Cowok berwajah cantik itu bahkan menyalakan musik untuk memancing perhatian Jongin. Dan usahanya itu cukup berhasil. Jongin bisa menanggapi ocehan Taemin dengan mengulang beberapa kata yang diucapkan Taemin. Suatu perkembangan yang baik.

“Hai, Jongin. Hai, Taemin. Lagi ngobrolin apa, sih? Kayaknya seru.” Ujarku seraya merangkul Jongin dan duduk di sampingnya.

“Aku lagi cerita-cerita tentang dance.”

“Oh, iya. Tadi Jongin bandel, nggak?” tanyaku. Teringat bahwa tadi seharian aku meninggalkannya bersama orang-orang baru.

“Nggak bandel sama sekali. Tahu nggak, Joonmyun? Tadi Jongin diajarin beberapa gerakan. Awalnya nggak mau ngikutin. Tapi aku tuntun pelan-pelan baru deh dia mau gerak. Tapi ya itu, sorot matanya kosong.” Sahutnya lesu.

“Semua ada prosesnya, Taemin. Nggak bisa instan. Apalagi dengan kondisi seperti adikku yang ganteng ini. Pasti butuh waktu lebih lama. Yang penting kita konsisten dan sabar,” jelasku memberi Taemin secercah optimisme. Taemin mengangguk menyetujui pendapatku. Dan ia mulai bercerita lagi tentang betapa Hyukjae sangat sabar dalam mengajarkan Jongin gerakan-gerakan dasar tari. Memang butuh waktu lama untuk membuat Jongin memahami perintah-perintah yang diberikan padanya. Aku bersyukur jika Hyukjae telaten dan bersabar dalam menghadapi Jongin.

“Joonmyun, aku pulang dulu, ya. Jam 6 aku ada kursus bahasa Inggris. Mungkin nanti malam aku nggak bisa nemenin Jongin. Karena aku harus belajar buat ulangan besok. Sorry banget, Joonmyun.”

“Ah, nggak apa-apa. Aku malah ngerasa bersalah kalau kamu sampai nggak bisa belajar gara-gara jagain Jongin. Terima kasih banyak, Taemin. Good luck buat ulangan besok, ya,” sahutku seraya mengantarnya ke pintu gerbang.

“Good luck to you too, Joonmyun.” Dan cowok baik itu berlari ke rumahnya.

Aku merangkul Jongin dan mengajaknya masuk, dan aku segera menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Jongin.

Kumulai memotong sayuran dan menanak nasi. Asap mengepul di dapur menguarkan aroma sedap sup ayam kesukaan Jongin. Di saat aku sedang mencuci peralatan memasak, dua lengan melingkari pinggangku. Kurasakan hangat menjalari punggungku. Aku tahu betul lengan siapa itu. Jongin.

“Hmm, Jongin? Kamu kangen sama Kakak, ya?” aku melonggarkan pelukannya dan berbalik menghadapnya. Aku mengusap wajahnya dengan sayang dan menatapnya. Ia tak menatap mataku, ia menatap jendela kecil di belakangku.

“Jongin kangen sama Kakak, ya?” tanyaku lagi sambil memaksanya menatap mataku.

“Kangen..” ucapnya.

“Jongin mau peluk Kakak?” tanyaku lagi sambil memegangi wajahnya agar menatapku.

“Peluk..” ulangnya lagi.

“Kalau mau peluk Kakak, Jongin harus liat mata Kakak!” tegasku, masih menangkup wajahnya.

Aku menunggu cukup lama sebelum akhirnya kedua mata hitam Jongin menatap lurus ke mataku. “Peluk.” Dan akhirnya ia mau mengungkapkan keinginannya sambil menatap langsung dalam mataku.

Serta merta aku merengkuhnya dalam sebuah pelukan erat.

“Jongin pintar.” Pujiku setelah melepas pelukanku. Kutatap kembali mata Jongin. Dan… ya, ia kembali lagi ke dalam dunianya. Tapi sedikit demi sedikit ia pasti bisa lebih baik.

Yang dibutuhkan Jongin adalah konsistensi dan kesabaran. Dan aku pasti bisa menjalankan dua hal itu.

^v^v^

Bagaimana perkembangan Jongin setelah menjalankan terapi musik dan terapi secara intensif? Apakah membaik atau tak ada perubahan?

Nantikan di part selanjutnya…

 

TO BE CONTINUED