Posts tagged ‘akhlak’

La Tahzan: Jangan Bersedih (part 4)

 

*-*

*Iman Adalah Kehidupan

 

Seberapa besarkah keimanan kita?
Ketika kita dilanda kesusahan dan kita terpuruk hingga menyerah dan putus asa, saat itulah keimanan kita diragukan. Kok gitu?

Yups, memang begitu. Karena tipikal orang yang sengsara dalam segala konteksnya adalah mereka yang perbendaharaan keimanan dan keyakinannya telah ludes. Makanya mereka selamanya berada dalam kesedihan, kemurkaan dan kehinaan.

Resep mujarab buat membahagiakan jiwa, membersihkannya dan menyucikannya, membuatnya senang dan menghilangkan kegundahan di dalamnya hanyalah iman kepada Allah.

Buat orang yang membangkang kepada Allah, jika mereka nggak beriman sama sekali, jalan terbaik yang bisa mereka tempuh adalah bunuh diri biar jiwa mereka tenang dan terbebas dari segala tekanan.

Belum lama ini aku ketemu salah seorang saudaraku. Sekarang ini dia lagi down banget gara-gara dia kena tipu sehingga banyak uang yang hilang ditilep si penipu itu. Dan dia diuber-uber orang-orang yang uangnya ikutan hilang itu. Dia nggak punya kerjaan, jadi nggak punya uang buat bayar kerugian tersebut. Dia sampai ngemis ke semua keluarganya yang masih tersisa (yang kebetulan kaya-kaya), tapi mereka nggak mau bantu dia. Aku pribadi nggak bisa bantu apa-apa kecuali ngadem-ngademin dia bahwa Allah nggak lalai akan hambanya yang beriman. Aku terus nasehatin dia dan ingetin dia tentang betapa besar rahmat Allah, dan bahwa suatu saat dia bakal dikasih jalan terbaik sama Allah. Nah, dia itu saking downnya sampai berkali-kali mau bunuh diri. Aku sampai ngutip hadits-hadits tentang siksaan bagi pelaku bunuh diri biar dia mikir panjang dan nggak gegabah. Dan itu cukup berhasil. Tapi masalahnya dia depresi banget. Ya, gimana nggak depresi coba?
Dia diusir dari rumah suaminya dan sekarang jadi gelandangan yang tidur di masjid dan kadang saking laparnya dia sampai makan makanan sisa yang dibuang ke tong sampah. Dia perempuan, btw.
Miris banget sumpah. Aku pengin banget bantu, tapi aku sendiri nggak punya uang sebanyak itu. Dia itu sudah putus asa. Keimanannya sedang diuji Allah. Sejak lebaran ini aku nggak dengar kabar dari dia. Gimana nasibnya pun aku nggak tahu.
Iman dia sedang dalam level terendahnya, makanya dia nggak bisa melihat hikmah dari ujiannya itu. Dia lupa bahwa di dalam kesulitan pasti ada kemudahan.
Well, aku pribadi nggak yakin bakal sanggup kalau ada di posisi dia. Tapi kalau kita mau belajar dari orang-orang yang ngerasain ujian yang jauh lebih berat, insyaAllah kita bakal sanggup hadapi rintangan apapun. Karena ya itu, badai pasti berlalu.
Dengan meningkatkan iman dan taqwa, insyaAllah kita bisa lolos dalam tiap ujian yang Allah berikan.

 

Sudah saatnya kita semua (bahkan dunia) mengakui dan mengimani secara tulus (ikhlas) bahwa ‘tidak ada Ilah selain Allah’.
Sekuat dan selemah mana iman Anda, sehangat dan sedingin mana iman Anda, sebatas itulah kebahagiaan, kelapangan dan ketenangan yang Anda rasakan.”

Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. AN-Nahl: 97)

Read more…

Advertisements

La Tahzan: Jangan Bersedih (Part II)

 

-*-

 
Assalamu alaikum,
Ini adalah lanjutan dari yang sebelumnya. Semoga bermanfaat.

 

 

*) Biarkan Masa Depan Hingga Datang Dengan Sendirinya

 

 

Ini kalau dalam grammar bahasa inggris sudah termasuk Future Tense. Hehehe.
Kita seringkali bilang “aku akan begini, aku akan begitu, akan gini akan gitu banyak sekaliiii… semua semua semua…” eh, malah kebablasan.

Banyak banget usaha orang buat mengetahui apa yang bakal terjadi besok, bulan depan atau 20 tahun lagi. Saking keponya, nggak sedikit yang sampai nekat ke tukang ramal atau dukun.
Hellooooo…
Hari esok itu termasuk perkara gaib, dan hanya Allah yang tahu. Ngapain kita rempong mengira-ngira apa yang bakal terjadi nanti, dan malah lupa memaksimalkan hari ini. Memangnya siapa yang ngejamin besk kita masih hidup?
Kita sering berencana ini itu, besok mau ini, mau itu. Mau ke sini dan ke situ, dll, tapi begitu besok tiba, kita malah nggak ngejalanin hari seperti rencana awal kita. Sering, kan, kita berada dalam situasi kayak gitu?

Jadi kembali seperti pembahasan sebelumnya tentang ‘Hari Kita adalah Hari Ini’. Lupakan masa lalu, jangan pertanyakan esok hari, cukupjalani hari ini sebaik mungkin. Jangan percaya ramalan shio maupun zodiak atau ramalan garis tangan dan lain-lain, karena semua itu adalah akal-akalan setan yang menyesatkan kita dan menjerumuskan kita dalam kemusyrikan. Nauzubillah min dzalik.

Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya.” (QS. An-Nahl: 1)

Read more…

La Tahzan: Jangan Bersedih (Part I)

 

-*-

Assalamu alaikum, teman-teman,

Aku mau sharing sesuatu, boleh?

Ini tentang sebuah buku best-seller di Timur Tengah pada tahun 2001-an. Kebetulan ayahku punya yang berbahasa arab dan yang terjemahan juga punya. Berhubung bahasa arabku sudah nggak secanggih dulu, maka daripada bingung lebih baik aku baca yang sudah disadur ke bahasa Indonesia.

Judul buku itu adalah La Tahzan yang artinya jangan bersedih. Dalam buku ini ada hal-hal yang terjadi dalam hidup kita yang biasanya bikin kita jadi sedih, galau, gelisah, khawatir dan ragu. Namun, kita disuruh untuk nggak merasakan semua perasaan itu dengan cara mengingat dan meyakinkan diri bahwa Allah selalu bersama kita, seperti Firman-Nya dalam surat At-Taubah ayat 40; “…ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, ‘Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad),…”
Gimana caranya biar kita nggak bersedih dan galau?
Yuk, silakan dibaca…

Aku sengaja pakai bahasa yang lebih santai, yang penting esensinya tetap terjaga.

 

 

*) Ya Allah!

 

 

Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rahman : 29)

Ketika kita terkena masalah, baik kecil maupun bear, yang terucap dari mulut kita adalah “Ya Allah!”. Ketika kita berdoa dan memohon apapun pada-Nya, kita pun menengadah dan lidah kita bergerak memanggil dan menyeru “Ya Allah!”.

Tapi kita lebih sering ingat Allah, berseru dan memohon pada-Nya hanya ketika sedang dilanda kesusahan.
Pas kita hepi, kenyang, banyak duit, shopping-shopping, nonton konser, dan hal-hal lainnya, kita cenderung lupa dan larut dalam euforia tersebut.

Read more…