Opini Pribadi Tentang The Cuckoo’s Calling

 

51gaan3lpol-_sy344_bo1204203200_
Baru aja aku selesai baca novel Robert Gailbraith a.k.a J.K Rowling yang berjudul The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk). Biasanya kalau baca novel yang rame tuh bisa cepat selesainya, nah aku kira novel The Cuckoo’s Calling ini bakal seseru Sherlock Holmes-nya Sir Arthur Conan Doyle atau karya-karya Agatha Christie. Tapi rupanya nggak seseru itu. Bukannya jelek lho ya. Bagus sih, hanya saja alurnya terlalu lambat jadi rada-rada menjemukan gitu. Makanya aku lamaaaa banget nggak selesai-selesai bacanya. Karakter Cormoran Strike-nya sih oke, terus si asistennya, Robin, juga asik. Plot twistnya juga not bad, karena aku nggak nyangka kalau ternyata penjahatnya adalah si Bristow sendiri, tak kira si Bestigui penjahatnya. Heheh.

Read more…

A Little Something For You

 
Min Yoon Gi duduk termangu di halte bus, pikirannya mengembara ke beberapa tempat yang diharapkan akan memberinya ide bagus. Tenggelam dalam lamunannya, ia sampai tak sadar bahwa bus yang akan mengangkutnya menuju kampus baru saja berlalu dari hadapannya. Bagai disengat arus listrik, pemuda bertubuh mungil itu berdiri dan berlari mengejar bus itu. Untung saja sang sopir sempat melihatnya dari kaca spion dan segera menghentikan busnya.
Meski tak lupa untuk membungkuk sopan dan mengucap maaf serta terima kasih, Yoon Gi masih sempat diomeli si sopir, gara-gara ulahnya tersebut maka sopir bus itu melanggar aturan untuk tidak mengangkut penumpang yang tidak menunggu di halte.
Berkali-kali Yoon Gi meminta maaf kepada beberapa penumpang yang melihatnya dengan kesal.

Read more…

Jogging Spirit

ca16f2569c2b8a5f15b88e7a11d125f8

 

Matahari baru saja mengintip dari cakrawala dan seorang pemuda sedang melakukan pemanasan untuk olahraga lari paginya yang rutin dia lakukan sejak sebulan lalu ini.
Wajahnya memancarkan semangat yang mampu menular kepada siapa saja yang melihatnya. Senyumnya sudah nyaris secerah cahaya mentari. Matanya berbinar bahagia.

 

“Sudah siap jogging, nih?” tanya temannya yang menatapnya dari kepala hingga kaki.
“Yoi, Bro. Lo mau ikutan?”
“Penginnya,sih ikutan. Tapi…” ucapannya menggantung di udara.
“Ah, bilang aja kalau lo malas. Tidur aja sana. Biar gue yang sehat sendirian.”

Read more…

Kekaguman

Seringkali hati dan benak ini lupa. Lupa akan makna eksistensi manusia di muka bumi ini. Kita sering menyibukkan jiwa, raga dan pikiran ini untuk segala urusan duniawi. Makan apa hari ini. Pergi pakai baju apa siang ini. Mau pakai sandal atau sepatu untuk jalan-jalan di mall. Enaknya naik mobil Mercedes atau Avanza, atau malah naik taksi aja. Mau ikutan arisan sosialita atau arisan kampung. Dan banyak lagi hal-hal duniawi yang tidak terlalu penting untuk dijadikan beban pikiran.

Sesekali lupakanlah segala hiruk pikuk pikiran yang hanya menyampah saja itu. Sejenak keluarlah dan pejamkan mata, lalu diamlah.
Apa saja yang kau dengar?
Kicau burung bersahutan?
Atau deru kendaraan yang lalu lalang di depanmu?
Atau gemerisik dedaunan yang saling bersenggolan?
Atau gumaman orang-orang yang hilir mudik di sekitarmu?
Kalau kau tidak mendengar semua itu, artinya anda tuli.

Sudahkah kau menyuskuri nikmat Allah yang satu itu?
Telinga yang bisa mendengar.

Read more…

Apa yang Aku Suka dari…

Akhir-akhir ini, aku sering bosan karena hampir semua orang dalam kontak hapeku sibuk dengan urusannya masing-masing, akhirnya aku jadi nggak ada teman ngobrol yang seru dong, ya. Untungnya aku punya stok novel dan drama yang bisa aku pakai buat membunuh kebosananku.
Seperti novel yang aku pinjam dari iparku, “INFERNO” by Dan Brown. Salah satu penulis novel yang jenius dan kece badai ulala dah. Hehehe. Sebelumnya aku sudah jatuh cinta sama dua novelnya yang berjudul “The Da Vinci Code” dan “Angles and Demons”, yang kedua-duanya difilmkan dan diperankan oleh Tom Hanks. Sayang banget filmnya nggak semenakjubkan novelnya. Udah klise banget sih, filmnya gagal menggambarkan greget novelnya.
Tapi, “Inferno” yang lagi aku baca ini memberikan kesan yang lebih mencekam dibanding empat novel Dan Brown yang sudah aku baca.

Read more…

R E U N I

*
A/N: Hanya sekadar pelepas rindu pada bias-biasku.
*

Pada sore hari yang adem dan tenang, dua orang mantan anggota boyband jebolan SM itu duduk manis di depan sebuah meja bergaya vintage. Berdua menyeruput espresso mereka dengan santai. Mereka berbagi cerita tentang pekerjaan yang lagi mereka kerjakan. Laki-laki yang pakai topi lagi seru cerita tentang proses pembotakan kepalanya. Dan laki-laki satunya cuma ngakak sampai berlinangan air mata.
Si botak muji MV baru milik laki-laki berwajah tampan yang duduk di depannya itu, dia agak iri akan kemajuan pesat temannya itu.
Semilir angin sore makin menambah syahdu suasana pertemuan dua sahabat itu.

“Ngapain lo ngelirik jam melulu?” tanya s Si Botak penasaran.
“Gue janjian sama seseorang, Fan,” jawab si empunya jam itu.
“Cewek, ya?” selidiknya.
“Bukan. Udah deh, Yifan, jangan banyak tanya,” desis laki-laki itu.
Lelaki yang bernama Yifan itu mendengus kesal.

Read more…

Oh, Ternyata…

Aku heran dengan temanku yang satu ini. Biasanya dia berisik, heboh, dan bawel, tapi beberapa hari ini dia mendadak jadi pendiam, dan cukup menyebalkan dengan sikap juteknya bak emak-emak kehabisan duit belanja mingguan. Aku sebagai teman yang penuh perhatian berusaha mencoba untuk berkomunikasi dari hati ke hati dengannya, tapi dia selalu sewot dan tidak segan-segan melempar aku dengan apapun yang ada di dekatnya. Untung saja bukan meja atau sofa yang dia timpuk ke mukaku, bisa hancur wajah tampanku ini.

Perubahan sikapnya ini menarik perhatian teman-temanku yang lainnya, dan mulailah bisikan-bisikan penuh tanda tanya mengikuti pendengaranku di manapun aku berada (ketika bersama teman-teman tentunya).

Read more…