Posts from the ‘krishan’ Category

R E U N I

*
A/N: Hanya sekadar pelepas rindu pada bias-biasku.
*

Pada sore hari yang adem dan tenang, dua orang mantan anggota boyband jebolan SM itu duduk manis di depan sebuah meja bergaya vintage. Berdua menyeruput espresso mereka dengan santai. Mereka berbagi cerita tentang pekerjaan yang lagi mereka kerjakan. Laki-laki yang pakai topi lagi seru cerita tentang proses pembotakan kepalanya. Dan laki-laki satunya cuma ngakak sampai berlinangan air mata.
Si botak muji MV baru milik laki-laki berwajah tampan yang duduk di depannya itu, dia agak iri akan kemajuan pesat temannya itu.
Semilir angin sore makin menambah syahdu suasana pertemuan dua sahabat itu.

“Ngapain lo ngelirik jam melulu?” tanya s Si Botak penasaran.
“Gue janjian sama seseorang, Fan,” jawab si empunya jam itu.
“Cewek, ya?” selidiknya.
“Bukan. Udah deh, Yifan, jangan banyak tanya,” desis laki-laki itu.
Lelaki yang bernama Yifan itu mendengus kesal.

Read more…

Sunshine Boy

tumblr_n4zw3mpgph1qfrcvxo1_1280

^v^v^
Author’s Note; Beberapa waktu yang lalu aku bilang kalau kemungkinan besar aku nggak akan bikin fanfic lagi. Tapi kali ini aku bukannya menelan ludah sendiri lho, kali ini aku bikin fanfic ini sebagai fanfic perpisahan buat dua biasku yang keluar dari EXO. Kris alias Wu Yifan dan Luhan. Padahal sempat berharap Lay juga keluar hehehehe #jahat. Semoga FF terakhir ini nggak mengecewakan. Berhubung ini fanfic terakhir yang bakal aku tulis, maka aku sengaja nulisnya dengan bahasa yang baik dan benar. Nggak slenge’an kayak biasanya. Enjoy and don’t forget to leave a comment. Consider it will be your last comment on my last fic. Thank you.

^v^v^

Hampir satu tahun lamanya aku terserang penyakit yang sangat mengganggu pekerjaanku. Writer’s block. Ya, itu adalah momok bagi setiap penulis di dunia ini. Sudah kucoba bermeditasi, relaksasi hingga merenung macam orang tolol, namun semua itu sia-sia. Tidak ada satupun gambaran akan cerita yang akan kutulis selanjutnya.
Menulis adalah semangat hidupku, ketika aku kehabisan bahan untuk menulis, saat itulah aku resah dan ragu dalam menjalani hari-hariku. Aku bisa menghidupkan beberapa tokoh dalam cerita hingga aku nyaris meyakini kalau mereka benar-benar ada di dunia ini. Orang-orang bilang kalau aku ini terobsesi dengan karakter rekaanku. Tapi itulah satu-satunya caraku untuk tetap berani menyongsong hari esok.

Namun, semua kekalutanku akhir-akhir ini mulai menipis dengan semakin seringnya pemuda itu hilir mudik di depan rumahku. Semenjak dua minggu lalu, setiap pukul lima pagi terdengar decit engsel pintu gerbang rumahnya ketika dibuka dan ditutup kembali. Lalu derap lirih sepatu olahraganya memantul di kesunyian pagi, membuatku menyibak tirai jendela untuk mengintip siapa orang itu. Dan sejam kemudian, ketika langit pagi sudah terang, dia akan berlari pelan menuju rumahnya dengan peluh yang sudah membasahi kaosnya.

Read more…