^*^*^

 

 

Assalamu alaikum…

 

Judul di atas muncul tiba-tiba semalam. Awalnya sempat mau aku jadiin tema ini sebagai tema FF, tapi, entah kenapa aku nggak mood nulis fanfic. Rasa-rasanya fanfic sekarang ini kurang menarik. Alhasil aku mau nulis tema ini sebagai suatu perenungan dan pemikiran yang in shaa Allah bisa berguna bagi banyak orang, terutama mereka yang masih muda dan unyu-unyu.

 

Sudah siapkah menikah? Itu sebenarnya tema tulisanku kali ini.

Terkadang orang menilai seorang gadis sudah pantas menikah ketika usianya sudah masuk 25 tahun ke atas, ada pula yang beranggapan bahwa seorang gadis yang sudah lulus SMA, sudah pantas menikah, tapi nggak sedikit pula orang yang setuju bahwa seorang gadis pantas menikah ketika sudah bekerja. Kalau cowok, biasanya yang jadi kriteria siap nikah itu kalau sudah kerja, punya rumah dan cukup umur. Masing-masing pendapat itu sah-sah saja kok, nggak ada larangan. Namun, yang seringkali dilupakan orang adalah, apakah mereka sudah siap? Bukan siap fisik ya, karena begitu seorang anak sudah akil-baligh maka dia sudah boleh menikah, bahkan jika usianya masih belia. Karena syarat menikah kan akil-baligh. Tapi karena anak yang masih belia itu jiwanya belum stabil, maka dianjurkan jangan menikahkan anak di usia terlalu muda.

 

Siap menikah dalam konteks ini juga bukan dari segi materi, jangan hanya bikin patokan, “ah, kan udah mapan, kerjaan udah bagus, gaji memadai, udah punya rumah, mobil…” dll, tapi yang jadi tolak ukur seseorang siap menikah atau tidak adalah kesiapan jiwa. Menikah itu bukan hanya tentang pesta megah dengan katering yang lezat, dekorasi yang wah, undangan banyak, dan sebagainya, dan menikah juga bukan hanya untuk menghalalkan hubungan intim, tetapi, menikah itu berarti menerima tanggung jawab yang luar biasa berat. Bagi seorang suami, dia dibebani tugas yang sangat sulit dan berat, yaitu sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[at-Tahrîm/66:6]

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Ahzâb/33:59]

 

“Perintahkanlah keluargamu agar melakukan sholat.” (Thaha:132)’

Dan beberapa Hadis yang ngebahas tentang kewajiban dan tugas suami, diantaranya;

 

Ibnu Abbas berkata:
“Berilah pengetahuan agama kepada mereka dan berilah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka.”

 

Dan Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda: ‘Tap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya la bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab atas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, la bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” (Muttallaq ‘alaih).

 

 

Nabi SAW bersabda yang bermaksud: ‘Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

 

 

 

 

 

Berat kan tugas seorang suami? Jadi suami itu bukan hanya sebagai pencari nafkah doang, yang kerja dari pagi sampai malam buat memberi makan istri dan anak-anaknya doang. Seorang suami juga berperan penting dalam mengajari pendidikan agama kepada keluarganya, mendidik istri agar taat kepada Allah, mendidik anak-anaknya agar mengenal dan mencintai Allah serta Rasul-Nya. Tapi faktanya, banyak suami maupun ayah yang lupa akan tugas penting itu. Lupa kalau itu merupakan amanah dari Allah. Kok gitu? Ya, mungkin saja ketika mereka masih kecil, mereka melihat ayah mereka seperti itu, mereka merasa bahwa dari kecil yang ngurusin mereka adalah ibu. Bangun tidur ketemunya ibu, mau makan ketemunya ibu, mau tidur pun ketemunya ibu. Lalu kapan ketemu ayahnya? Ketika mereka berbuat nakal, dan si ibu udah lelah, dan lapor ke suaminya tentang kebandelan anak-anaknya. Yup, jadi ayah beralih fungsi jadi algojo/eksekutor. Itu yang aku alami, dan aku yakin nggak sedikit yang seperti itu.

 

Lantas, apakah si calon suami yang mungkin masih muda ini siap menjalani tugas-tugas beratnya sebagai seorang suami, pemimpin, imam, pelindung, pendidik dan pencari nafkah bagi istri dan calon anak-anaknya nanti? Apakah jiwanya sudah siap menjalani segala hambatan dan konsekuensinya?

Itu yang seharusnya ditanyakan oleh orangtua sebelum menikahkan anak-anak mereka. Tugas orangtua berat banget. Sebagai orangtua, kami harus membekali anak-anak kami dengan baik. Ortu harus bisa menjelaskan kepada anak-anaknya tentang apa makna sebenarnya dari pernikahan. Kenapa Allah memerintahkan untuk menikah? Apa saja tugas seorang suami dan istri? Apa saja kendala yang mungkin ditemui setelah menikah? Dan banyak sekali pendidikan lainnya, yang bisa dipakai buat mempersiapkan anak-anak kita saat mulai menjalani kehidupan berumah tangga.

 

Aku mau cerita sedikit, pengalaman pribadi aku banget ini.

 

Aku menikah umur 17 tahun 10 bulan. Aku sudah lulus SMA, dan baru kuliah satu semester.

Aku saat itu belum benar-benar paham tujuan dan maksud menikah itu apa. Sekarang umurku 32 tahun, dengan dua puteri 13 dan 11 tahun.

 

Waktu itu aku mikir nikah itu enak, bisa bebas dari tekanan orangtua yang kolot, bisa jalan-jalan, dan lainnya. Well, bisa dibilang aku ini korban delusi novel-novel romantis, komik-komik sweet yang bikin klepek-kelepek, film-film penuh drama romantis yang bikin iri setengan mati, dan lagu-lagu yang bisa bikin dengkul lemes. Hehehe. Seriusan, aku pikir, menikah itu bisa bikin aku ngerasain romantisme level tinggi macam hal-hal yang aku sebut di atas.

 

Kala itu aku ngerasa seperti princess. Didandanin, pakai gaun cantik, dilihat banyak orang, difoto, well.. it won’t last forever. Haha

 

Minggu-minggu awal nikah masih fine-fine aja, maklum lah, belum ketemu realita. Hehehe.

Baru dua bulan kalau nggak salah, aku mulai jenuh, karena aku ditinggal di rumah doang, sedangkan suami kerja dan pulangnya bisa tengah malam. Maklum lah rumah di jaktim, kerjanya di cengkareng. Aku kesepian dan bosan parah.

Seperti itu setiap hari, mana tinggal serumah sama ipar pula, dan aku harus terima dengan komentar-komentar nggak ngenakin di belakangku.

Seriusan, aku sebel, marah, sedih, kecewa. Dan aku sampai ngerasa nyesel banget udah mau dinikahin. Padahal nggak ada yang maksa aku buat ngambil keputusan itu lho. Itu murni aku yang mau nikah. Alasannya hina banget. Serius hina banget.

Aku mau nikah karena aku pengin keluar dari rumah ortu. Karena saat itu aku ngerasa sama sekali nggak nyaman tinggal di rumah. Ayah super galak dan kolot, ibu yang kurang tegas dan cenderung memanjakan, tapi nggak mau ngertiin perasaan anak. Intinya kondisi dalam rumah seperti itu pasti sangat mengganggu mental anak remaja.

Ternyataaaa… keluar dari mulut singa, masuk mulut buaya. Hehehe.

 

Kenapa aku punya pemikiran dan perasaan seperti itu?

Karena aku sama sekali nggak paham hakikat menikah itu apa. Tujuan menikah itu apa.

Makanya aku salah kaprah.

Yang ada aku malah kaget, syok, dan beneran mental breakdown deh.

Saking parahnya, aku sampai kepikiran  buat minta cerai. Padahal nikah baru beberapa bulan. Dan nggak lama, aku keburu hamil. Akhirnya aku kuat-kuatin aja deh. Kan kasihan anakku kalau dia lahir tapi ortunya berpisah? Bisa jadi anak broken home kan?

Entah kalian mau percaya atau nggak. Aku baru bisa menerima kenyataan bahwa semua ini adalah pilihanku dan aku harus bisa menjalaninya itu baru beberapa tahun terakhir ini. Mungkin sekitar 4 tahunan lah. Padahal aku nikah sejak tahun 2002. Bayangin gimana lamanya proses menerima kenyataan itu berlangsung.

 

Tadi aku udah bahas tentang kewajiban seorang suami, maka sekarang aku kasih tahu tentang tugas seorang istri. Nggak usah aku sebut ayat-ayatnya ya, aku ringkas aja.

 

Selain menjaga kehormatan dan nama baik suami, seorang istri punya tugas untuk melayani suami. Entah pelayanan perut (maksudnya makan dan minum), bawah perut (nggak usah aku jelasin ya,, pasti readerku udah paham banget LOL), pakaian, kebersihan rumah dll, seorang istri punya tugas yang luar biasa susah, yaitu mendidik dan mengasuh anak.

Dari mulai hamil, ngelahirin sampai ngurusin segala sesuatunya. Biasanya seorang ibu lah yang ngajarin anaknya bicara, ngaji, baca doa, nyanyi, dan lainnya. Karena memang itu tugas ibu. Ibu merupakan sekolah pertama bagi anak. Jadi syarat utama menjadi ibu yang baik apa hayoo?

Ibu yang berwawasan, berilmu, cerdas, kritis dan telaten.

Itulah kenapa aku benci sama perempuan-perempuan yang ogah serius belajar pas di sekolah dengan alasan “ngapain repot-repot sekolah, toh ujung-ujungnya masuk dapur” itu picik banget tauk! Kok tega benar sama calon keturunannya. Nggak kasihan sama anaknya kalau nanti dia nyadar kalau ternyata ibunya bego? Malu-maluin deh.

 

Okay, I admit it. Aku memang nggak kuliah sampai selesai. tapi apa lantas aku berhenti belajar? Nggak.

Aku masih belajar bahasa inggris, aku juga belajar tentang psikologi, medis, dan pas hamil, aku belajar tentang parenting. Aku nggak mau asal niru metode pengasuhan anak era penjajahan. Jadi orangtua itu perlu belajar banyak, karena metode nenek moyang yang diturunkan sampai ke generasi ibu kita itu udah nggak jaman, nggak konek sama jaman digital ini.

Kalau jaman dulu ucapan seperti ini bisa mempan;

“Anak perawan jangan duduk di tengah pintu, ntar susah jodohnya”

Tapi apa ucapan absurd itu bisa diterima sama anak jaman sekarang?

Pasti mereka malah ngetawain, “ma, jodoh itu sudah Allah tentuin, kalau memang jodohku mau datang, biarpun aku gelantungan di pintu pun, pasti bakal datang. Jangan percaya takhayul, ma.” Hehehe

Kalau mau ngasih tahu anak di era akhir zaman ini, caranya kudu diganti, harus lebih logis.

Aku masih inget banget kejadian ini.

Waktu itu anak pertamaku baru beberapa hari umurnya, dia kalau bangun tidur pasti ngulet-ngulet. Kata sodaraku yang sudah nenek-nenek, “Kamu pasti meres bajunya terlalu kenceng ya? Itu anakmu nguletnya gitu amat”

Nyambungkah? Dari arah mana?

Kalau kita meres baju anak pakai tangan aja dia bisa ngulet gitu, nah apa kabar dengan aku yang nyuci baju anakku pakai mesin cuci? Bukankah anakku pasti udah nge-breakdance ya? LOL

Tapi karena yang bilang orang udah sepuh, ya aku iyain aja. Daripada dosa hehehe.

 

Kembali lagi ke tugas istri/ibu, kalau seorang ibu malas belajar dan ningkatin wawasannya, kira-kira anak-anaknya bisa dapat ilmu yang memadai nggak? Apalagi kalau anak-anak sudah mulai sekolah. Kira-kira si ibu bisa diandalkan nggak? Atau saking bego dan malasnya, si ibu mendingan keluarin duit buat daftarin anaknya ikut kursus dan les? Kenapa harus gitu? Apa salahnya ibu luangin waktu buat belajar?

Jangan sampai kita belajar hanya ketika di sekolah/kuliah aja. Ilmu ini berkembang terus. Makin kenceng perubahannya.

“…, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” [QS.Al-Mujadalah: 11]

Kita dituntut untuk terus mencari ilmu sampai mati. Karena dengan ilmu, in shaa Allah kita bisa selamat.

Aku beberapa hari yang lalu hadir di seminat parenting yang diisi oleh psikolog Elly Risman. Temanya tentang tantangan mendidik anak di era digital.

Banyak banget ortu yang ngerasa bangga kalau anaknya meski masih bayi belum pinter bicara tapi sudah lihai mainan gadget. Itu-sangat-sangat-memprihatinkan!

Nggak heran sekarang lihat anak TK bahkan anak PAUD udah pada pakai kacamata minus atau silinder. Dari bayi udah diajarin mainan tab. Aduh, bu, pak, niat banget sih ngerusak anak???? Nggak nunggu agak gedean gitu ngerusaknya? Astaghfirullah.

 

Aku yakin kita semua sudah tahu gimana mirisnya generasi sekarang. Kecil-kecil yang pipisnya masih belum lurus, udah pacaran, diupload di sosmed, belum lagi yang sampai ngelakuin hubungan intim dan direkam pula lalu di sebarluaskan, dan sekarang lagi ngetrend LGBT dikalangan anak-anak ingusan yang ngelap ingusnya belum pinter.

Kasus-kasus pedophilia, sodomi, bersetubuh keroyokan bergilir, bersetubuh dengan binatang, dan lainnya. Dan setiap hari makin meningkat. Ke mana ayah dan ibu anak-anak ini?

Anak-anak ini korban lho, yaaa. Mereka masih dalam tahap mengenali jati diri, tapi mereka kehilangan panutan dan pembimbing. Justru sekarang yang membimbing anak-anak adalah tab, smartphone, games, film porno, dll.

 

Miris banget.

Bisa jadi alasan anak-anak tersebut gagal dididik sesuai perintah Allah, adalah karena kesiapan jiwa si ayah dan si ibu belum stabil. Si ayah dan si ibu masih terikat dan terbelenggu dengan masa lalu mereka. Didikan orangtua mereka kala itu yang mempengaruhi pola didik mereka sekarang.

Caranya gimana? Ya lepaskan masa lalu itu.

Sekarang kita harus bisa duduk selevel dengan anak-anak kita, selami perasaan mereka. Anak-anak itu butuh banget didengar pikiran dan perasaannya.

Aku pun lagi belajar berkomunikasi dengan anak dengan cara yg lebih baik.

Alhamdulillah, sejauh ini aku nggak ada masalah dalam ngobrol dengan anak-anakku. Mereka terbuka dan bisa cerita apa aja ke aku.

Bahkan cerita sesuatu yang agak tabu, yaitu tentang sex. Aku sih santai aja ngebahasnya, karena aku hanya ngejelasin sesuai dengan ilmu medis. Nothing to be ashamed of. Lebih baik anak kita dapat pengetahuan sex dari orangtua daripada dapat dari film porno yang hanya mengumbar nafsu hewani saja.

 

Buat pembaca tulisan ini, siapapun itu, kalau yang baca masih muda dan belum  nikah, ayo belajar lagi. Baca buku-buku agama, ngaji sambil baca terjemahnya, buat para wanita yang sudah menikah dan punya anak, ayo perbaiki pola asuh kita, jangan sampai anak kita jadi korban kebrutalan era internet ini. Kalau pun ada cowok yang mampir dan baca ini, ingat bahwa para cowok suatu saat bakal dapat kesempatan jadi suami dan ayah. Jadi siapkan mental dari sekarang.

 

 

Sekian dulu, kalau ada yang kurang, ya maafin aku. Kalau pengen ngobrol, ya silakan. insyaAllah aku balas. Semoga tulisanku ini ada manfaatnya bagi siapapun yang baca ini.

 

See you next time.

 

 

Advertisements