rapmon
*

Segerombolan gadis berkumpul di seberang lapangan, sedang mengobrol dan sesekali cekikikan centil. Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengawasi dari kejauhan. Kedua mata itu nyaris tak berkedip menatap sesosok gadis berambut sebahu yang dihiasi jepit rambut mungil di salah satu sisinya. Ketika gadis itu tersenyum bersama kawan-kawannya, si penatap rahasia ini pun ikut tersenyum seolah dia diajak bercanda.
Sebuah tepukan kasar mengejutkannya, “Namjoon, Jangan kelamaan menatapnya, nanti dia kena sial lho,” ucap orang itu dengan cengiran usil menghiasi wajahnya.
“Kalau yang ditatap itu kamu, sudah pasti siapapun bakal sial,” Namjoon mendengus kesal.
“Mau sampai kapan kamu mengawasi semua gerak-geriknya?”
“Kim Taehyung, aku bukan kamu yang bisa dengan gampangnya nembak cewek. Aku…” ucapannya menggantung ragu.
“Kamu kurang pede ya?”
“Bukan. Tapi aku belum pantas untuknya,” gumam Namjoon lirih.


Taehyung menatap Namjoon dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan dengan ekspresi wajah memaklumi dia berujar, “Sepertinya, sampai kapanpun kamu nggak akan pantas untuknya, teman.”
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Namjoon sudah murka dan berusaha mencekik leher Taehyung, yang malah lari sambil terbahak.

*

Pintu kamar terbuka dan pekik tertahan menghampiri telinga Namjoon yang sedang berkutat dengan selembar kertas.
“Namjoon, kamu sedang apa? Kenapa gumpalan-gumpalan kertas ini ada di lantai?” wanita berparas keibuan itu mulai memunguti sampah kertas yang bertebaran, dan membuka salah satunya. “Ini tugas membuat puisi ya?”
“Bukan, Ma.” Jawabnya singkat, pikirannya sedang berpusat pada kegiatan menulisnya.
Ibunya menarik sebuah kursi mendekati anaknya, kemudian duduk menatap keseriusan Namjoon.
“Kalau itu bukan untuk tugas sekolah, lantas itu puisi untuk apa? Lomba? Setahu Mama, kamu berbakat dalam menulis puisi.”
“Bukan lomba, Ma. Dan ini sebenarnya bukan puisi, tapi lirik lagu.”
“Atau… jangan-jangan kamu berniat membuat lagu untuk seseorang ya?” nada menebak dalam suaranya membuat wajah Namjoon memerah.
“I-iya, Ma. Ada cewek yang aku suka. Tapi…”
“Tapi kamu belum berani bilang ke dia tentang perasaanmu?”
Namjoon menggeleng, “Aku sepertinya belum pantas untuk dia, Ma.”
“Kenapa? Apa karena dia terlalu cantik?”
“Mama! Tadi Taehyung, sekarang Mama. Kalian selalu meledek. Aku curiga, jangan-jangan Taehyung itu anak Mama, ya?” protes Namjoon yang ditanggapi dengan tawa renyah ibunya.
“Maaf, anakku. Mama hanya bercanda. Jadi kenapa kamu merasa belum pantas untuknya?”
Namjoon masih agak cemberut, tetapi dia tetap menjelaskan maksud kata-katanya.
“Aku belum bisa menjamin kebahagiaannya. Belum bisa melindunginya. Belum bisa mengayominya. Aku harus bisa jadi laki-laki sejati yang bisa membahagiakannya, bukan hanya dengan mencintainya saja, tetapi juga dengan menjaga kehormatannya, dan bertanggungjawab terhadapnya. Barulah saat itu aku berani ungkapkan perasaanku kepadanya. Karena aku sudah pantas untuknya.”
Mata ibunya berkaca-kaca mendengar ucapan anak sulungnya itu, “Kamu persis papamu, Namjoon. Dulu waktu kami masih sekolah, papamu selalu ada di sekitar Mama, tapi dia tidak pernah menyatakan cintanya. Mama sempat berharap dia akan mengajak Mama kencan. Tapi sampai lulus sekolah pun, dia sama sekali tidak berinisiatif mendekati Mama. Akhirnya Mama melupakan dia… hampir melupakan dia…” ada jeda yang singkat ketika ibunya berhenti bicara dan menatap penuh sayang anakknya, “sampai suatu ketika dia tiba-tiba muncul di rumah Mama, dan melamar. Mama kaget dan tidak menyangka dia akan muncul setelah hampir delapan tahun menghilang tanpa kabar. Ternyata selama ini dia selalu ada di sekitar Mama, tanpa sepengetahuan Mama pastinya. Setelah dia yakin bahwa belum ada pria yang melamar, maka dengan penuh percaya diri, dia maju. Dan setelah pernikahan, Mama tanya ke papamu, kenapa waktu sekolah dulu dia tidak mengungkapkan perasaannya, bukankah saat itu kami bisa berpacaran? Dan kamu tahu apa jawabannya?”
Namjoon menggeleng.
“Dia bilang, dia merasa belum pantas mendampingi Mama. Setelah lulus sekolah, dia bertekad menjadi laki-laki sukses yang bisa menjamin kebahagiaan istri dan anak-anaknya kelak. Karena ketika dia sudah sukses, maka dia sudah pantas untuk mendampingi Mama. Tidak pernah sekalipun papamu mengumbar rasa cintanya kepada siapapun. Pertama kalinya dia bilang ‘i love you’ adalah ketika kami sah sebagai suami istri. Papamu benar-benar laki-laki sejati, Namjoon. Dan Mama bahagia melihatmu punya sifat papamu.” Ujarnya lembut seraya menggenggam tangan anaknya.
“Maka itu aku hanya bisa memandangnya, Ma. Aku berharap dengan menuliskan sebuah lagu, aku bisa menyuarakan hatiku, tanpa harus menunjuk kepada siapa lagu itu dibuat. Boleh kan, Ma?”
“Boleh. Lagu dan puisi adalah bentuk ekspresi. Silakan kamu menuliskan semua perasaan dan pikiranmu. Lalu siapa yang akan menyanyikannya?”
“Aku dan bandku. Kami akan tampil di acara pentas seni dua bulan lagi.”
“Semoga sukses, anakku. Dan terima kasih karena kamu menjaga hati wanita. Serapuh-rapuhnya sesuatu di dunia ini, adalah hati wanita. Dan jangan lupa, ibumu ini juga wanita.”
“Iya, Ma. Karena itu aku berpikir ribuan kali sebelum mempermainkan perasaan wanita,” secercah senyum hangat menghiasi bibir Namjoon.

Setelah pembicaraan hangat dengan ibunya, Namjoon seperti mendapat suntikan energi baru, sehingga dalam waktu kurang dari setengah jam dia telah menyelesaikan lirik lagunya.
Sebuah lagu yang manis dan ringan, tapi penuh pesan indah bagi yang mendengarnya.
Namjoon hanya berharap, ketika nanti dirinya sudah pantas untuk mendapatkan cintanya, sang pujaan hati juga merasa pantas untuknya.
THE END

Advertisements