Min Yoon Gi duduk termangu di halte bus, pikirannya mengembara ke beberapa tempat yang diharapkan akan memberinya ide bagus. Tenggelam dalam lamunannya, ia sampai tak sadar bahwa bus yang akan mengangkutnya menuju kampus baru saja berlalu dari hadapannya. Bagai disengat arus listrik, pemuda bertubuh mungil itu berdiri dan berlari mengejar bus itu. Untung saja sang sopir sempat melihatnya dari kaca spion dan segera menghentikan busnya.
Meski tak lupa untuk membungkuk sopan dan mengucap maaf serta terima kasih, Yoon Gi masih sempat diomeli si sopir, gara-gara ulahnya tersebut maka sopir bus itu melanggar aturan untuk tidak mengangkut penumpang yang tidak menunggu di halte.
Berkali-kali Yoon Gi meminta maaf kepada beberapa penumpang yang melihatnya dengan kesal.


Terhenyak di kursi paling belakang, pemuda itu menatap ke luar jendela yang berembun. Pagi itu memang terasa lebih dingin daripada hari-hari sebelumnya. Yoon Gi kembali melanjutkan penjelajahannya di alam pikirnya.

Sudah beberapa hari ini, Min Yoon Gi dirisaukan oleh suatu problema. Sebenarnya hal itu bukan masalah yang terlalu penting, tetapi bagi Yoon Gi, hal tersebut justru membuatnya tertekan dan bimbang.
Adakalanya hasrat hatinya untuk berdiskusi dengan sahabat dekatnya, Namjoon, tapi selalu saja ia mengurungkan niatnya itu.
Namjoon pun merasa ada yang mengganggu pikiran temannya itu, hanya saja ia enggan bertanya. Ia sudah tahu seperti apa Yoon Gi itu. Pemuda pendiam yang jarang mengungkapkan isi pikirannya.
Satu-satunya hal yang pasti Yoon Gi lakukan untuk membebaskan beban di pikiran dan hatinya ialah dengan menorehkan kegundahannya ke dalam bait-bait puisi yang penuh emosi. Dan kebiasaan itu pun sudah Namjoon ketahui.

Bus berhenti tepat di depan kampus. Yoon Gi turun dan melangkah malas menuju gedung tempatnya menuntut ilmu musik. Seorang mahasiswa menyapanya ramah, yang dibalas dengan senyuman miring tanpa semangat.

“Hei!” seseorang menepuk punggungnya agak keras.
“Hmm,” sahut Yoon Gi lirih.
Si penepuk punggung itu menghela nafas, “Mau sampai kapan kamu ngegalau gitu, Bro?”
“Sampai aku setinggi Michael Jordan,” jawabnya sambil tersenyum jahil.
Temannya terbahak, “Which is impossible. Ayolah, Yoon Gi, menurut pandangan banyak orang, nggak ada masalah yang nggak bisa diselesaikan. Biar kamu nggak bingung sendiri dan kebanyakan ngelamun, mendingan kamu cerita sama aku, dan aku bakal bantu kamu nemuin solusinya. Gimana?”
“We’ll see. Sekarang kita ke kelas, sudah hampir terlambat, nih.”
Berdua berjalan cepat ke kelas yang sudah hampir dimulai.
*
Perjalanan pulang dari kuliah terasa lebih dekat bagi Yoon Gi. Kepalanya yang beberapa hari terakhir terasa begitu berat dan pening mendadak terasa sangat ringan. Ternyata saran Namjoon ada benarnya juga. Setelah membuka diri kepada sahabatnya itu, Yoon Gi segera diberi beberapa alternatif solusi bagi masalahnya.
Wajahnya berseri-seri penuh kepuasan. Langkahnya pun riang.

“Aku pulang,” serunya ketika sebelah kakinya melewati pintu rumahnya. “Mama?”
Tidak ada sahutan.
“Mamaku tersayang, dimanakah dirimu?” panggilnya lagi. Kali ini sambil memeriksa dapur. Tapi ibunya tidak terlihat di ruangan itu.
Ketika ia hendak membuka lemari es, matanya menangkap secarik kertas yang bertuliskan pesan dari ibunya. Rupanya ibunya sedang pergi mengunjungi temannya yang sakit.

Yoon Gi menghampiri meja makan yang sudah tertata rapi. Beberapa menu favoritnya terhidang menggugah selera. Dengan lahap ia memakan masakan ibundanya itu.

Setelah mencuci piring dan gelasnya, Yoon Gi memasuki kamar tidur ibunya. Kamar itu sangat rapi dan juga wangi, cukup berbeda dengan kamarnya yang berantakan dan sering bau keringatnya sendiri. Yoon Gi tersipu malu mengingat fakta itu.

Dari dalam tasnya ia mengeluarkan selembar amplop berwarna kuning muda yang ia letakkan di meja rias. Bibirnya tersenyum lembut dan kedua matanya terlihat begitu teduh.
*
Sesuatu yang basah mengusap pipinya membuat Yoon Gi tersentak dari tidur siangnya yang lelap. Ia terduduk dan membuka matanya lebar-lebar. Ia bersitatap dengan sepasang mata yang berkaca-kaca namun penuh cinta dan kasih sayang.
“Mama, ada apa? Kenapa Mama nangis?” Yoon Gi mendekati ibunya dan mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Ibunya menangkup wajah anaknya dan mencium dahi serta kedua pipinya.
“Terima kasih, anakku. Mama nggak menyangka bakal dapat sesuatu yang begitu tulus dan indah darimu, Yoon Gi. Kamu sungguh anak baik. Mama bersyukur Tuhan menitipkanmu kepada Mama. Terima kasih, Yoon Gi.” Ia memeluk putranya dengan penuh kelembutan.
Air mata bahagia menggenangi pelupuk mata Yoon Gi. Ternyata ibunya tidak pernah mengharapkan kado mahal atau mewah, ia hanya ingin Yoon Gi merasa bahagia dan tidak menyesal telah dilahirkan di dunia ini.
*

Sebuah surat yang mengungkapkan rasa terima kasih yang tulus atas semua pengorbanan yang telah seorang ibu lakukan untuk anaknya, dan curahan cinta dan kepedulian yang luar biasa dari ibu kepada anaknya, merupakan hadiah yang indah bagi seorang ibu.
Yoon Gi telah menyadari bahwa tidak ada seorang pun di dunia yang mencintainya melebihi cinta ibunya kepadanya.
Yoon Gi ingat bagaimana ibunya sering mengomelinya atau bahkan menjewer atau mencubitnya ketika ia nakal. Namun, sekarang ia sadar, bahwa ibunya melakukan itu karena mencintainya. Ibunya tidak ingin Yoon Gi celaka akibat kenakalan dan kebandelannya.
Ia tersenyum geli saat mengingat masa-masa itu.

Dan ia juga selalu ingat nasehat ibunya tentang memperlakukan wanita dengan penuh hormat.
‘Yoon Gi, jangan sekali-sekali kamu menyakiti hati perempuan. Sebelum kamu punya pikiran untuk melukai perasaan atau harga diri mereka, kamu ingat Mama atau anak perempuanmu nanti.’ Dan pesan itulah yang membuat Yoon Gi tak sembarangan mengumbar rasa sukanya ke para gadis.

Meskipun kado ulang tahun untuk ibunya begitu sederhana dan kecil, tapi maknanya sungguh dalam. Sepucuk surat yang mampu menggetarkan hati seorang ibu. Untaian kata yang dirangkai menjadi puisi yang sangat tulus dan apa adanya. Bait-bait penuh sanjungan yang menyejukkan hati.
Min Yoon Gi pun berhasil menciptakan karya terbaiknya, ungkapan cinta dan rasa terima kasih kepada ibunya. Sebuah puisi yang menjadi mahakarya.

Sebuah hadiah kecil untuk ibu.
The End
A/N: Pheeewww… akhirnya iseng-iseng nulis eh langsung jadi satu oneshot pendek ini. Lagi pengin bikin FF BTS nista tapi kok selera humorku lagi redup. Hehe. Ya semoga ff yang ini bisa menginspirasi anak-anak untuk mengingat pengorbanan ibu dan belajar untuk berbakti kepadanya. Karena jadi seorang ibu itu nggak mudah, tanggung jawabnya nggak Cuma di dunia doang, tapi nyampai ke akherat. Jadi jangan nyusahin ibu kalian ya. ^^ jadi anak yang sholeh sholeha biar nanti bisa mengantar ibu dan ayah kalian jadi penghuni surga. Karena kalau kalian jadi anak yang nakal, bandel, dan durhaka, takutnya nanti ortu kalian juga nanggung akibatnya. Kasian kan? So, hormati dan taati orangtua kalian yaaa. See you.

Advertisements