Seringkali hati dan benak ini lupa. Lupa akan makna eksistensi manusia di muka bumi ini. Kita sering menyibukkan jiwa, raga dan pikiran ini untuk segala urusan duniawi. Makan apa hari ini. Pergi pakai baju apa siang ini. Mau pakai sandal atau sepatu untuk jalan-jalan di mall. Enaknya naik mobil Mercedes atau Avanza, atau malah naik taksi aja. Mau ikutan arisan sosialita atau arisan kampung. Dan banyak lagi hal-hal duniawi yang tidak terlalu penting untuk dijadikan beban pikiran.

Sesekali lupakanlah segala hiruk pikuk pikiran yang hanya menyampah saja itu. Sejenak keluarlah dan pejamkan mata, lalu diamlah.
Apa saja yang kau dengar?
Kicau burung bersahutan?
Atau deru kendaraan yang lalu lalang di depanmu?
Atau gemerisik dedaunan yang saling bersenggolan?
Atau gumaman orang-orang yang hilir mudik di sekitarmu?
Kalau kau tidak mendengar semua itu, artinya anda tuli.

Sudahkah kau menyuskuri nikmat Allah yang satu itu?
Telinga yang bisa mendengar.

Telinga yang bisa menangkap tanda-tanda kekuasaan Allah yaitu suara. Dari suara yang menenangkan hingga suara yang menjengkelkan.
Dari suara hewan yang beraneka macam, hingga suara buang angin orang yang ada di sampingmu. Hehehe
Bayangkan bagaimana sepinya hidupmu andai telingamu tidak mendengar.
Tapi, kebanyakan manusia, termasuk saya pribadi, sering menyalahgunakan nikmat Allah yang luar biasa ini.
Telinga kita yang seharusnya kita pakai untuk mendengar kalimat-kalimat thoyyibah, malah dipakai untuk mendengarkan lagu-lagu yang syair-syairnya berisi omong kosong tentang cinta, hasrat dan angan-angan semu. Kita terbuai dalam sihirnya yang begitu memikat.
Seharusnya kita lebih sering mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qu’ran yang begitu indah dan memiliki efek yang luar biasa bagi jiwa dan pikiran. Hati jadi lebih tenang dan damai. Bahkan jin pun enggan mendekat dan mengganggu kita.
/tapi kalau yang mendekat itu Jin BTS sih, saya tidak keberatan XD// abaikan/
Lalu, apalagi tindakan ceroboh kita dalam menggunakan telinga?
Iya, betul sekali. Mendengarkan gosip, gunjingan, olok-olokan terhadap orang lain.
Itu semua namanya kufur nikmat, alias mengingkari nikmat Allah. Menyia-nyiakan pemberian Allah Yang Maha Pengasih.
Dan Allah membenci orang-orang yang tidka mensyukuri nikmat. Kalau kita menggunakan telinga untuk hal-hal yang tidak disukai Allah, kan sama saja dengan tidak mensyukuri nikmat.

Setelah mendengarkan suara-suara di sekitarmu, maka bukalah matamu dan tengadahkan kepalamu ke langit (kalau panas, ya jangan terlalu tinggi menengadahnya, hehe).
Apa yang kau lihat?
Birunya langit?
Bergumpal-gumpal awan?
Burung terbang kesana-kemari dengan lincah?
Sadarkah betapa menakjubkannya semua itu?
Semua yang selama ini tidak kau resapi keberadaannya.
Segalanya tampak begitu biasa dan wajar, karena kau tidak mengamati. Kau hanya melihatnya sambil lalu.
Pernahkah terbersit dalam benakmu betapa kecilnya kau?
Betapa “nano”nya kau jika dibandingkan dengan seluruh alam semesta yang Allah ciptakan ini?
Kita ini sangat kecil. Kalaupun ada ukuran yang lebih kecil dari “nano”, mungkin bisa kita gunakan untuk perbandingan.
Lalu kenapa manusia bisa bersikap sombong?
Padahal jika satu saja benda langit itu jatuh menimpa bumi, maka kacau balaulah dunia ini. Bagaiman jika langit yang roboh dan menjatuhi kita?
Itu akan terjadi jika waktunya tiba. Dan atas perintah Allah, pastinya.

Pernahkah kau mengamati burung yang sedang terbang?
Siapa yang menahannya agar tetap melayang seperti itu?
Pasti mereka yang cerdas dan pintar akan menjelaskan dengan sangat ilmiah. Memang terbukti secara ilmiah bagaimana burung bisa terbang.
Tapi… kenapa pinguin dan burung onta tidak bisa terbang? Padahal mereka juga burung, kan?

Burung bisa tetap melayang di udara karena Allah lah yang menahan mereka. Tidak percaya?

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman.” QS. An-Nahl: 79

Sebenarnya, kalau saja kita mau meresapi sekeliling kita, pastilah kita akan menemukan banyak sekali tanda-tanda kekuasaan Allah.
Allah memberikan kita sepasang mata yang bisa melihat, meskipun banyak juga yang tidak bisa melihat.
Tapi, apa bedanya orang yang punya mata yang bisa melihat dengan orang yang matanya buta jika masih saja tidak bisa meresapi keagungan Allah di sekitarnya?

Terkadang kita dibutuhkan untuk melihat bukan hanya dengan mata di kepala kita, tapi juga dengan menggunakan mata hati. Meresapi segala anugerah yang sudah Allah beri untuk kita.
Lalu sejauh ini kita gunakan mata ini untuk melihat apa saja?
Pada akhirnya, kedua mata ini akan jadi saksi di hadapan Allah nanti.
Mungkin kita lebih jeli melihat kesalahan orang lain.
Bisa juga kedua mata ini teliti sekali ketika mencari keburukan orang lain.
Bukankah mata ini sering melihat hal-hal yang tidak baik? Seperti melihat aurat orang lain, menonton tayangan porno, dan lain sebagainya.
Bukankah Allah menciptakan kedua mata ini agar bisa melihat keagungan dan kesempurnaan-Nya?
Tapi, kenapa malah disalahgunakan?
Bukalah matamu untuk mempelajari kasih sayang Allah yang sudah diberikan padamu. Semua yang ada di sekitarmu merupakan tanda-tanda keberadaan Allah, Sang Pencipta. Tubuhmu. Udara yang melingkupimu. Air yang menyucikanmu. Tumbuhan yang meneduhkanmu. Tanah tempatmu berpijak. Silakan pikirkan kembali apa saja nikmat yang Allah limpahkan padamu, niscaya kau akan lebih beriman dan bersyukur.
Ada kalanya hati ini bergetar saat mamahami kelembutan Allah terhadap makhluk-makhluknya. Allah lah yang menurunkan hujan di tanah yang gersang. Menghidupkan kembali tetumbuhan di tanahnya yang tadinya kering kerontang. Tumbuhan itu lalu menjadi makanan bagi hewan-hewan yang hidup di tanah itu. Lalu hewan-hewan itu dijadikan makanan oleh manusia. Tumbuhan itu pun bisa digunakan untuk berbagai macam barang. Dari mulai makanan hingga meja, kursi dan lainnya, yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Udara yang kita hirup terus-terusan semenjak kita lahir di dunia hingga ruh meninggalkan raga ini, senantiasa tersedia. Bayangkan apa jadinya jika udara ini tiba-tiba habis?

Dan yang menghirup udara ini bukan hanya makhluk yang beriman dan menyembah Allah semata, melainkan semua makhluk hidup yang berada di muka bumi.
Mereka yang tidak beriman, yang menghina-hina Allah, yang mencaci maki Allah, yang menyekutukan Allah, pun semuanya bisa bernafas dengan udara yang Allah ciptakan.
Tetapi, jika Allah tiba-tiba mengambil hak istimewa itu dari mereka, apa yang bisa mereka lakukan?

Alhamdulillah atas segala nikmat-Mu Ya Allah. Engkau Maha Pengasih lgi Maha Penyayang. Engkau Maha Kaya. Maha Adil. Engkau Pemilik alam semesta ini.
Aku bersyukur atas kesempatan yang Engkau berikan padaku untuk menyadari kebesaran-Mu dan keagungan-Mu. Alhamdulillah.

Semoga untaian kata-kataku ini bisa memberi pencerahan bagi yang membacanya. Semoga Allah senantiasa memberi rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin ya Rabbal alamin.

Advertisements