Akhir-akhir ini, aku sering bosan karena hampir semua orang dalam kontak hapeku sibuk dengan urusannya masing-masing, akhirnya aku jadi nggak ada teman ngobrol yang seru dong, ya. Untungnya aku punya stok novel dan drama yang bisa aku pakai buat membunuh kebosananku.
Seperti novel yang aku pinjam dari iparku, “INFERNO” by Dan Brown. Salah satu penulis novel yang jenius dan kece badai ulala dah. Hehehe. Sebelumnya aku sudah jatuh cinta sama dua novelnya yang berjudul “The Da Vinci Code” dan “Angles and Demons”, yang kedua-duanya difilmkan dan diperankan oleh Tom Hanks. Sayang banget filmnya nggak semenakjubkan novelnya. Udah klise banget sih, filmnya gagal menggambarkan greget novelnya.
Tapi, “Inferno” yang lagi aku baca ini memberikan kesan yang lebih mencekam dibanding empat novel Dan Brown yang sudah aku baca.


Bagi yang sudah baca novel “Inferno” ini mungkin bisa ngerti maksudku.
Gimana nggak mencekam coba? Di cerita novel ini, ada seorang ilmuwan gila yang resah dengan kerusakan di dunia ini akibat overpopulasi penduduk. Dan dia punya ide yang brilian buat mencegah punahnya manusia yang disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri.

Walaupun aku yakin sepenuh hati bahwa punahnya manusia dan alam semesta ini memang akan terjadi ketika Malaikat Israfil meniup Sangkakala untuk menandakan terjadinya Kiamat, tapi tetap aja bikin ngeri dan cemas. Well, aku mikirin masa depan anak cucuku nantinya. Sekarang aja dunia udah makin nggak wajar. Orang tamak di mana-mana, orang birahi di mana-mana sampai tega mencabuli anak-anak, orang pendendam di mana-mana yang kalau ada salah sedikit aja main langsung bunuh aja, belum lagi sumber daya alam yang mulai habis, wah kalau aku sebut satu persatu mah bisa kepanjangan postingan ini.
jadi prihatin sama nasib cucu-cucuku nanti. Aku sebagai manusia yang nggak mampu apa-apa ini hanya bisa memohon kepada Allah agar keluargaku diberi perlindungan di mana pun dan kapan pun. In Syaa Allah. Amin.

Oke, kembali ke isi novel “Inferno” lagi, dalam novel itu ada dua tokoh sentral yaitu Prof. Robert Langdon dan dr. Sienna Brooks. Mereka berdua mati-matian berusaha buat memecahkan kode yang mereka temuin dalam lukisan La Mappa dell’Inferno-nya Sandro Botticelli (seorang tokoh besar Renaisans Italia). The Map of Hell atau Peta Neraka.
Lukisan itu terinspirasi dari karya Dante Alighieri yang berjudul “Divine Comedy”.
Inferno itu merupakan sebuah konsep abstrak tentang neraka yang mengerikan. Yang oleh Botticelli digambarkan dengan sangat mendetail. Dalam lukisan itu, Botticelli menggambarkan neraka itu berbentuk corong penderitaan di bawah-tanah yang berupa api, belerang, limbah, monster dan iblis yang nunggu di bagian intinya.

Coba si Dante itu baca dan paham Al-Qur’an, pasti penjelasan tentang nerakanya nggak seperti itu. Hehehe.
Dalam versi Dante, ada sembilan tingkatan neraka yang berbeda. Semuanya sesuai dengan beratnya dosa yang dilakukan.
Di tingkat teratas, orang-orang cabul atau penjahat hawa nafsu diombang-ambingkan oleh angin badai abadi. Di bawah mereka, orang-orang rakus dipaksa berbaring telungkup di dalam lumpur busuk limbah dengan mulut dipenuhi tinja mereka sendiri. Pokoknya semakin ke bawah semakin parah dan buruk siksaannya.

Dalam Islam, neraka itu ada tujuh tingkatan, dan yang menjadi siksaannya juga bervariasi sesuai dengan perbuatannya di dunia. Dan katanya, siksaan yang paling ringan adalah memakai sandal dari api, yang kalau dipakai bisa bikin otak mendidih seketika. Ngeri banget kan? Tapi kenapa kita masih aja hobi bikin dosa ini itu ya? Astaghfirullah.

Dalam versi Dante, di tingkatan paling bawah, ada iblis yang menyiksa para pendosa. Padahal mah, Allah sudah ciptain para malaikat yang khusus buat melaksanakan penyiksaan. Namanya Zabaniyah. Ada tuh di surat Al-‘Alaq.
Iblis sendiri udah pasti yang berada dalam kerak neraka, dan disiksa pula. Kan dia makhluk pertama yang membangkang terhadap Allah waktu diperintah buat sujud menghormati Adam.

Jadi neraka versi Dante nggak akurat, meskipun mengerikan juga bayangannya tentang azab neraka.
Well, yang dimasukkan ke dalam neraka itu adalah pendosa yang melakukan salah satu dari “The Seven Sins” atau Tujuh Dosa Besar. Kesombongan, keserakahan, hawa nafsu, kecemburuan, kerakusan, kemarahan dan kemalasan.

Dari lukisan itu, tokoh utama dalam novel itu dapat beberapa petunjuk yang mengantarnya pada misi si biologis ekstrim itu. Aku belum selesai bacanya sih, hehehe jadi belum tahu gimana endingnya.
Yang bikin ngeri ya masalah pembunuhan massal dengan suatu senjata biologis, yaitu menyebar wabah yang bisa membantai banyak orang sekaligus buat ngurangin overpopulasi.
Maksudnya itu ngorbanin sebagian kecil untuk kebaikan sebagian besar manusia. Kalau dipikir-pikir, manusia nggak perlu repot-repot bikin wabah dengan sengaja kayak gitu, toh Allah sudah ngatur semuanya. Kalau pada biasa nonton berita, kan pasti dengar tuh ada berbagai macam bencana alam yang menelan banyak korban jiwa, belum lagi yang kecelakaan pesawat lah, mobil lah, kapal tenggelam lah dan lain-lain. Terus yang dibantai oleh manusia sendiri melalui perang yang makin parah aja.
Setiap hari ada aja berita mengerikan tentang pembunuhan, perampokan, pencabulan, dan lain-lain. Sumpek aja gitu tiap hari kayak itu beritanya. Rasanya makin lama, manusianya kok makin nggak waras. Setan aja nggak gitu-gitu amat. Mereka ngasih ide doang, tapi manusianya yang kemaruk terus diparah-parahin idenya setan itu.
Hanya Allah yang bisa lindungin kita dari setan-setan tersebut.

Hmm… back to the novel. Yang aku suka dari novel karya Dan Brown diantaranya selain thrillernya yang kece banget, aku bisa dapat banyak banget informasi yang sebelumnya aku nggak tahu. Aku jadi tahu lokasi-lokasi bersejarah, karya-karya seni bersejarah, dan lain-lain.

Dan seharusnya Dan Brown dapat komisi karena udah promosiin beberapa lokasi di kota-kota tertentu di dunia. Kayak pas novel The Da Vinci Code yang ngebahas tentang lukisan Monalisa yang ada di musium Louvre di Perancis. Setelah novel dan filmnya booming, tempat itu jadi ramai pengunjung yang penasaran hehehe. Begitu juga dengan lokasi-lokasi tertentu di Italia seperti yang diceritain di novel Inferno. Tempat-tempat itu jadi ramai wisatawan. Hebat ya. Hehehe.

Jadi penulis itu harusnya begitu, selain alur dan plot ceritanya menarik, ada sisipan informasi buat nambah ilmu, serta bisa menguntungkan bagi orang lain. Hehehehe
Selain baca novel, aku juga lagi nonton drama korea. Yang sudah aku kelar nontonnya di antaranya Yong Pal dan Blood. Yong Pal sebenernya udah bagus lho, sayang eksekusi endingnya mlempem banget, mengecewakan. Sayang banget lho, dari awal udah seru banget, eh endingnya kayak gitu doang, jadi ilang gregetnya.
Terus yang Blood, sebenernya aku males sama tema vampir kayak gitu, tapi berhubung yang jadi main actornya kece, jadi aku betah-betahin aja deh. Hahaha. Ya cukup seru sih, hanya saja alurnya rada lamban dan sedikit membosankan, terutama aktingnya si Jandi itu. Si Go Hye Sun.

Aku lagi nunggu dua episode terakhir Seeing Ghost Detective-Cheo Yong. Nah, itu seruuuu banget. Walaupun isinya arwah gentayangan, which is impossible banget. Kalau sampai ada arwah gentayangan, berarti Malaikat nya lalai, dan Malaikat itu mustahil lalai dari tugasnya. Hehehe.
Mana si Cheo Yong-nya keren banget, manly abis dah, hehehe.
Aku juga lagi mau nonton I Remember You-nya Seo In Guk. Penasaran sama akting dinginnya Do Kyungsoo. Ya, moga aja nggak mengecewakan lah.

Dari dunia KPOP, aku lagi fokus ke BTS sih. EXO udah out of the list deh. Hahaha. Habis manis sepah dibuang ceritanya. Padahal aku udah ngikutin EXO sejak mereka mbrojol lho, tapi sekarang udah males ngikutin mereka.
Aku juga kenalan sama beberapa bb baru macam Ikon, Monsta-X, dan Seventeen. Tapi yaaaa ala kadarnya aja lah.

Kalau film hollywood, aku kemarinnya baru nonton filmnya Johny Depp yang jadi gangster itu. Kaget aja liat Johny Depp meranin karakter yang jauh dari karakter-karakter konyolnya seperti Willy Wonka, Mad Hatter, Jack Sparrow, dll. Di sini dia beneran cold blooded banget. Salut dah ama aktor yang satu ini.

Selain itu aku juga nonton Mission Impossible 5. Om Tom Cruise kayaknya awet muda yah, rajin suntik botox kali yaa. Haha nggak apa-apa dah, yang penting dia tetap ganteng dan tampan. Hehe. Menurutku sih, filmnya not bad. Tipikal Mission Impossible lah.
Terus aku juga nonton filmnya Adam Sandler, Pixel. Biasaaaa, lucu-lucu konyol gitu, khasnya Adam Sandler.

Lalu, aku nonton dua animasi juga. Pertama aku nonton Inside Out punya Pixar. Itu ceritanya baguuuuuuus. Menyentuh. Tentang keluarga, tentang teman. Aku suka pokoknya.
Setelah itu aku nonton Minions. Ngakak mulu dah. Hahaha. Cuma bedanya Minions sama Inside Out tuh feelnya kurang. Terlalu komedi aja sih. Tapi menghibur banget kok. Mana di endingnya si Bob bilang “Terima Kasih, Terima kasih” ama Ratunya. Hehehe. Ternyata si pencipta karakter Minions mau nunjukin eksistensi Indonesia sebagai tanah airnya. Kan yang bikin Minions itu orang Indonesia, tepatnya anaka NH. Dini. Seorang penulis. Aku pernah baca bukunya pas SMP. #gakadayangtanya.

Aku lagi penasaran sama Hotel Transylvania 2 niiih. Juga The Scorch Trials. Kangen Newt ama Minho. Huhuhuu.
Well, kayaknya cukup ya cuap-cuapku yang nggak jelas ini. Daripada blog nggak diisi. Walaupun kemungkinan besar nggak ada yang baca. Kalaupun ada yang baca juga aku nggak akan tahu, lha wong nggak ada komentar sih. Yo wis lah, karep-karepe.

Byeeeeee.

Advertisements