*
A/N: Hanya sekadar pelepas rindu pada bias-biasku.
*

Pada sore hari yang adem dan tenang, dua orang mantan anggota boyband jebolan SM itu duduk manis di depan sebuah meja bergaya vintage. Berdua menyeruput espresso mereka dengan santai. Mereka berbagi cerita tentang pekerjaan yang lagi mereka kerjakan. Laki-laki yang pakai topi lagi seru cerita tentang proses pembotakan kepalanya. Dan laki-laki satunya cuma ngakak sampai berlinangan air mata.
Si botak muji MV baru milik laki-laki berwajah tampan yang duduk di depannya itu, dia agak iri akan kemajuan pesat temannya itu.
Semilir angin sore makin menambah syahdu suasana pertemuan dua sahabat itu.

“Ngapain lo ngelirik jam melulu?” tanya s Si Botak penasaran.
“Gue janjian sama seseorang, Fan,” jawab si empunya jam itu.
“Cewek, ya?” selidiknya.
“Bukan. Udah deh, Yifan, jangan banyak tanya,” desis laki-laki itu.
Lelaki yang bernama Yifan itu mendengus kesal.


“Nah, itu dia,”
Yifan menoleh ke arah yang ditunjuk temannya, dan dia sama sekali nggak nyangka akan ketemu dengan orang itu lagi.

“Ehem… selamat sore, Mr. Wu,” sapa orang yang baru datang itu. “Kau tampak… unik,” lanjutnya sambil melirik kepala botak Yifan yang tidak lagi bertopi.
“Errr… sore, Yixing. Umm… terima kasih pujiannya,” balas Yifan kaku.
Yixing menoleh ke temannya yang satu lagi, “Luhaaaaan, sobat kental gueeee. Kangen banget sama loooo,” dan dia menerjang Luhan lalu memeluknya erat sekali.
“Yixing, selamat ya, akhirnya lo main film juga. Nggak nyangka ya, kita bakal main film semua,” cerocos Luhan dengan gembiranya setelah sekian lama nggak ketemu sahabatnya itu.
“Iya. Gue juga senang lihat video musikmu, Han. Itu jaket birunya kok samaan sama jaket yang gue pakai di video musik Call Me Baby, ya? Saking sayangnya sama gue lo sampai nyari jaket yang sama kayak yang gue pakai itu? Aaaaaaw gue terharuuuu,” sahutnya agak lenjeh.
“Ehem, ehem.”
“Eh, Mr. Wu. Maaf, saya terlalu bahagia bertemu dengan sahabat saya, Luhan, sehingga saya agak melupakan keberadaan anda,” balasnya amat sangat formal, “Oh, ya, selamat atas film baru anda, semoga ratingnya jauh lebih baik dibanding film pertama anda, ya,” imbuhnya.
“Terima kasih banyak, Mr. Zhang, semoga film anda juga sukses,” Yifan membalas dengan sama formalnya. Luhan yang melihat dua sahabatnya itu hanya terkekeh. Dia sudah maklum dengan kelakuan dua orang itu.

“Eh, guys, kalian sudah lihat foto-foto Tao yang beredar di internet?” tanya Luhan antusias.
“Tsk,” Yifan bersuara.
“Yang dia main film jadi banci itu?” bisik Yixing.
“Iya, yang itu. Gue ngakak lihatnya,” dan Luhan ngakak lagi.
“Lagian kenapa dia mau dikasih peran kayak gitu, ya? Pasti iri sama kita-kita yang dapat peran yang bagus. Hahaha,” balas Yixing yang memang agak gemas dengan temannya itu.
“Ya, seenggaknya imajinasi fans-fans dia yang dulunya suka ngedit-ngedit fotonya biar jadi cewek itu jadi kenyataan. Hehehe,”
“Alaaah, kita berdua juga sering tuh diedit-edit jadi cewek berambut panjang nan cantik. Eeeewww, males banget gue kalau lihat foto-foto editan itu,” Yixing menimpali.
“Luhan, lo bisa minggir dulu sebentar? Gue mau ngomong sama upil yang satu ini,” geram Yifan sambil matanya menatap tajam Yixing yang cuek.

Demi keselamatan hidupnya, Luhan pun terpaksa menyingkir dan duduk di meja yang lain.

Tinggallah Yifan dan Yixing di meja itu. Yixing memasang wajah kalem tanpa dosa, tapi Yifan malah bermuka garang.
“Ya, ada apa, Mr. Wu?” tanya Yixing tanpa lupa senyum dan pamer lesung pipinya.
“Oh, for God’s sake, Yixing, mau sampai kapan lo jutek sama gue?”
“Jutek? Siapa yang jutek, Mr. Wu? Anda tidak melihat wajah tersenyum saya?”
Dan Yifan pun menjambak rambutnya, tapi dia lupa kalau kepalanya nggak berambut lagi.

“Gue harus minta maaf dengan cara apa, sih biar sikap lo ke gue normal lagi? Apa gue harus sungkeman dulu sama lo? Please, Yixing, kita ini sahabat, saling memaafkan dong,” mohonnya

“Sahabat saling memaafkan, ya? Kalau memang lo paham itu, seharusnya lo maafin Tao juga, dong?”
Dan Yifan terdiam. Bagai digampar. Dia cengok dan bengong.
“Kenapa diam? Hmm? Lo berharap banget gue maafin lo dan bersikap sewajarnya, tapi ketika Tao minta maaf ke lo, apa yang lo lakuin? Lo maafin dia? Nggak, kan? Jadi orang itu nggak usah egois. Masih mendingan Tao daripada lo. Lo pergi tanpa aba-aba di saat kita lagi jungkir balik mau konser. Dengan susah payah kami latihan formasi baru secara dadakan kayak gitu. Masih belum nyadar juga, ya?”
Yifan hanya menunduk menatap kedua tangannya yang saling menggenggam. Dia nggak berani menatap mata Yixing yang berapi-api itu.

“Yixing, sudahlah. Nggak usah diperpanjang lagi. Dari dulu kita berdua kan tahu banget gimana begonya Yifan, jangan lo bikin pusing diri lo sendiri. Sekarang kita lagi reunian, lebih baik kita bersenang-senang,” Luhan datang dan merangkul pundak Yixing yang gemetar menahan amarah.

“Iya, gue memang bego. Dan gue heran, kenapa lo masih mau temenan sama gue, Han.”
“Karena, bagi gue, lo, dan Yixing adalah sahabat gue. Ah, andai Minseok ada di sini… gue kangen banget sama dia,”
“Jadi… gue harus hubungin Tao terus minta maaf sama dia?” Yifan tiba-tiba bicara.
“Ya. Gue punya nomornya. Kalau sempat, lo samperin dia. Dia memang sedikit nyebelin, tapi kita nggak boleh ngelupain masa lalu kita sama dia. Mau bagaimanapun, dia itu bagian dari China line, dan kita harus terus akur. Paham?!” tegas Luhan, yang didukung oleh Yixing.
Yifan mengangguk, dan tersenyum, “Oke, Yixing. Sekarang tinggal diantara kita berdua. Gue minta maaf karena sudah bikin lo kesulitan waktu gue pergi ninggalin kalian semua. Gue akuin, gue memang egois. Tapi, di luar keegoisan gue itu, gue sebenarnya sayang sama lo dan yang lainnya. Kalian nggak bisa dipisahin dari sejarah kehidupan gue sampai kapanpun. Karena kita berduabelas berawal dari satu. Sejarah kita sudah tercatat, dan nggak bisa kita ubah.”
“Hhhhh… gue langsung mules begitu Yifan berfilsafat,” gumam Yixing.
“Sial anda! Tadi marah-marahin gue, sekarang ngledekin gue, mau lo apa sih, Xing?” sembur Yifan kesal.
“Gue maunya, lo numbuhin rambut lo itu, sumpah muka lo jelek banget, Fan. Demi apa. Itu kalau anak gue lihat lo, pasti dia bakal histeris dan jadi trauma terus lama-lama berubah jadi phobia. Hahahaha,” Yixing puas bisa meledek Yifan, dan Luhan makin keras ngakaknya.
“Sialan lo berdua. Dari dulu kok nggak berubah, selalu nistain gue. Gue mau pulang!”
“Hahahaha, jangan pulang, dong, kita masih kangen sama lo, Fan,” Luhan menarik lengan Yifan dan menahannya.
“Iya, gue masih kangen sama lo, Fan. Jadi jangan pulang dulu, ya. Gue belum puas ngebully lo,” Yixing mengedipkan sebelah matanya dan tergelak.

Dan Yifan pasrah. Tapi dalam hatinya dia bahagia karena bisa bertemu dengan Yixing kembali dalam suasana yang lebih santai, meskipun awalnya dia diomelin habis-habisan.

Terkadang kita ingin keluar dari satu situasi atau satu lingkungan yang kurang mendukung, namun, sejauh apapun kita berlari dan menghindar, masa lalu itu akan selalu ada, dan menjadi sejarah yang membuat kita menjadi seperti sekarang ini. Gunakanlah masa lalu sebagai barometer kesuksesan dan kebaikan kita di masa kini. Cobalah untuk berdamai dengan masa lalu, dan sambut hari esok dengan hati yang bersih. Jangan lupakan semua kebaikan kawan maupun sahabatmu hanya karena satu kesalahan. Maafkanlah mereka yang telah berbuat salah. Karena kita pun pasti pernah berbuat atau berucap salah kepada orang lain.

The End
A/N: Tuh, kan, ffnya aneh jadinya. Karena sudah lama banget nggak nulis ff jadinya begini deh. Aku kangen banget sama interaksi fanxinghan. Dan aku mendadak dapat ide ini. Ya sudah aku tulis aja seadanya. Padahal sih sudah nggak mau bikin FF, tapi gegara liat foto-foto yifan botak, kok jadi pengin ngebully hahahaha.

Advertisements