Aku heran dengan temanku yang satu ini. Biasanya dia berisik, heboh, dan bawel, tapi beberapa hari ini dia mendadak jadi pendiam, dan cukup menyebalkan dengan sikap juteknya bak emak-emak kehabisan duit belanja mingguan. Aku sebagai teman yang penuh perhatian berusaha mencoba untuk berkomunikasi dari hati ke hati dengannya, tapi dia selalu sewot dan tidak segan-segan melempar aku dengan apapun yang ada di dekatnya. Untung saja bukan meja atau sofa yang dia timpuk ke mukaku, bisa hancur wajah tampanku ini.

Perubahan sikapnya ini menarik perhatian teman-temanku yang lainnya, dan mulailah bisikan-bisikan penuh tanda tanya mengikuti pendengaranku di manapun aku berada (ketika bersama teman-teman tentunya).

“Taehyung, kamu kan biasanya bisa mengorek isi hati kami semua, pasti kamu sudah tahu apa yang bikin Yoongi jadi judes begitu?” tanya Namjoon si monster yang mengaku mahir ngerap itu. Aku seperti biasa hanya nyengir polos bagai bocah tanpa dosa.
“Betul banget kata Namjoon, kamu itu paling pintar bikin kami curhat buka-bukaan apa adanya, pasti kamu bisa bikin Yoongi bicara,” Jimin ikut menimpali dengan suara cemprengnya. Dan aku melihat Hoseok, Seokjin dan Jungkook mengangguk antusias.

Sudah berapa kali aku jelaskan pada mereka bahwa Yoongi sedang mogok bicara, dia hanya diam dan mengurung diri di dalam kamar. Kami semua khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi padanya yang tidak kami ketahui?

Di tengah kebingungan dan kegalauan kami, Yoongi keluar dari kamar. Rupanya dia bangun dari tidur siangnya. Dengan mata yang bengkak dan wajah yang bentuknya tak terdeteksi itu, dia melirik ke arah kami sebelum melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.

Satu lagi kebiasaan barunya semenjak perilaku anehnya itu, dia suka berlama-lama di kamar mandi. Entah apa yang dilakukannya, apakah dia mandi, buang air atau hanya menghitung tetesan air dari keran?

Meskipun Yoongi bukan termasuk yang berisik dalam grup kami, tetapi dia tetap ambil andil dalam keberisikan di tengah-tengah kami. Mungkin aku dan Hoseok lah yang paling berisik dan banyak tingkah. Makanya ketika dia terdiam seperti itu, kami merasa aneh dan ada yang kurang dalam keseharian kami.
Yoongi keluar dari kamar mandi, masih dengan kedua mata memicing. Entahlah, itu karena sedang suntuk atau karena memang sipit. Intinya dia tampak me-nye-bal-kan.

“Ada apa lihat-lihat?” semburnya galak.
“Kamu kenapa, sih, Yoongi? Kalau memang kami punya salah, apa susahnya bilang ke kami semua? Daripada cemberut, semedi dalam kamar, dan hibernasi di kamar mandi. Aneh,” gerutuan Namjoon disambut dukungan penuh dari kami semua. Yoongi menghela nafas, melewati kami dan masuk ke kamar sambil membanting pintu hingga tertutup.

Misteri Yoongi masih berlanjut rupanya. Apa kami harus menyewa detektif? Atau ahli kejiwaan seperti usul Jungkook? Mungkin Manajer kami bisa membantu? Aahhh, dasar Yoongi.
*

Sore ini kami bersiap untuk menghadiri salah satu pesta yang diadakan manajemen. Semua sudah berjejer rapi di ruang tengah menanti mobil yang akan mengantar kami ke lokasi pesta. Yoongi masih saja berkutat dengan pakaiannya dan gaya rambutnya yang menurutku biasa saja. Untung saja dia bukan seorang gadis. Pasti akan memakan waktu lebih lama lagi.

Di dalam mobil, kami saling bercerita dan bercanda, hanya Yoongi yang diam membisu bagai orang menahan sakit perut. Kedua matanya menatap pepohonan yang berdiri angkuh di kanan dan kiri jalan. Kami tak bisa mengabaikan kebisuannya itu.

“Yoongi, please, kamu ada masalah apa? Kenapa akhir-akhir ini kamu aneh?” tanya Seokjin lembut sambil merangkul bahunya.
“Nothing,” jawaban singkat Yoongi tak menyurutkan niat Seokjin untuk terus bertanya.
“Kamu marah sama kami, ya?” tanyanya lagi.
“Nggak,”
“Terus?”
“Aku bilang aku nggak apa-apa, Jin,” tegasnya tanpa menatap Seokjin.

Suasana di dalam mobil pun menjadi suram. Hoseok yang biasanya melucu kali ini dia hanya diam menatap ujung sepatunya. Namjoon menerawang dan menggigit bibirnya yang sudah bengkak itu (bawaan lahir. Catat itu,). Jungkook dan Jimin memejamkan mata dan mendengarkan musik dari earphone mereka. Hanya aku dan Seokjin yang menatap Yoongi, berharap dia tiba-tiba tersenyum dan berkata bahwa dia sedang mengerjai kami.

“Kita sampai,” seru si sopir.
Kami turun dari mobil, merapikan baju kami dan berjalan menuju gedung tempat pesta diadakan.
Suasana di dalam sangat ramai. Banyak artis yang hadir, sebagian adalah kawan-kawan kami, dan sebagian lainnya adalah senior-senior kami yang sudah lebih dulu terkenal.

“Wow, ini pasti bakal jadi pesta yang seru,” Hoseok tampak bersemangat melihat banyak artis wanita yang berseliweran dengan pakaian yang ‘indah-indah’.
Sebaliknya, aku melihat wajah Yoongi bersemu kemerahan. Apa dia kepanasan? Atau jangan-jangan dia sedang tidak enak badan?

Wajah Yoongi makin merah. Aku perhatikan arah pandangan matanya. Hanya beberapa detik dia memandang ke salah satu titik di seberang ruangan lalu dia menundukkan pandangan. Aku telusuri arah yang dilihatnya tadi dan aku melihatnya. Seseorang yang sudah lama kami kenal.

Aku tersenyum dalam hati, sekarang aku tahu kenapa sikap Yonngi mendadak berubah.

*
Kami berkumpul di ruang tengah, menunggu munculnya Yoongi dari kandangnya. Maksudku, kamarnya.
Senyum jahil menghiasi wajah kami.

Yoongi akhirnya keluar dari kamar. Wajah mengantuknya masih setia menggelayuti wajahnya yang kalah tampan dariku.

“Kenapa kalian senyum-senyum?” sapaan selamat paginya yang kurang menyenangkan.
“Jadi begitu ya ceritanya?” tanyaku dengan menahan tawa.
“Cerita apa?” dahinya mengernyit.
“Oke, kamu cerita saja semuanya. Kemarin kamu bertemu dengannya kan?” Hoseok bertanya sambil menaik turunkan alisnya.
Wajah Yoongi memerah lagi. Lebih merah daripada semalam.
“Apaan sih kalian? Jangan sok tahu, ya,” elaknya.

Kami terus mencecar dan memaksanya hingga akhirnya dia menyerah. Pasrah.

“Aku… aku… aku naksir dia. Tapi aku malu. Tiap kali ingat wajahnya. Aku jadi malu. Perutku rasanya aneh, sampai aku nggak nafsu makan. Mau tidur pasti ingat dia. Dan akhirnya aku jadi susah tidur. Aku malu banget, Guys. Aku malu mau bilang sama kalian. Aku malu kalau ingat khayalanku tentang dia. Aku malu kalau ingat mimpiku tentang dia. Intinya aku malu!” jelasnya seperti air bah yang tak terbendung lagi. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Kasihan Yoongi. Dia ternyata stres menahan rasa malu selama ini.

Tapi menurutku menyukai seorang gadis bukanlah sesuatu yang memalukan. Tapi, begitulah Yoongi, dia nyaris tak bisa berkutik jika berhubungan dengan perempuan. Lucunya abangku yang satu ini.

Dan seketika dorm kami menjadi ribut dengan siulan dan ucapan selamat untuk Yoongi, si rapper yang sangar di panggung tetapi mati kutu jika berurusan dengan makhluk bernama wanita.
THE END
NB: Nggak tahan pengin bikin ff BTS. Yup, aku lagi sukaaaa ama BTS. Terutama Min Yoon Gi alias SUGA. Hahaha. Well, sudah lama aku nggak nulis fiksi, makanya harap dimaklumin ya kalau jadinya aneh begini.

Advertisements