tumblr_n4zw3mpgph1qfrcvxo1_1280

^v^v^
Author’s Note; Beberapa waktu yang lalu aku bilang kalau kemungkinan besar aku nggak akan bikin fanfic lagi. Tapi kali ini aku bukannya menelan ludah sendiri lho, kali ini aku bikin fanfic ini sebagai fanfic perpisahan buat dua biasku yang keluar dari EXO. Kris alias Wu Yifan dan Luhan. Padahal sempat berharap Lay juga keluar hehehehe #jahat. Semoga FF terakhir ini nggak mengecewakan. Berhubung ini fanfic terakhir yang bakal aku tulis, maka aku sengaja nulisnya dengan bahasa yang baik dan benar. Nggak slenge’an kayak biasanya. Enjoy and don’t forget to leave a comment. Consider it will be your last comment on my last fic. Thank you.

^v^v^

Hampir satu tahun lamanya aku terserang penyakit yang sangat mengganggu pekerjaanku. Writer’s block. Ya, itu adalah momok bagi setiap penulis di dunia ini. Sudah kucoba bermeditasi, relaksasi hingga merenung macam orang tolol, namun semua itu sia-sia. Tidak ada satupun gambaran akan cerita yang akan kutulis selanjutnya.
Menulis adalah semangat hidupku, ketika aku kehabisan bahan untuk menulis, saat itulah aku resah dan ragu dalam menjalani hari-hariku. Aku bisa menghidupkan beberapa tokoh dalam cerita hingga aku nyaris meyakini kalau mereka benar-benar ada di dunia ini. Orang-orang bilang kalau aku ini terobsesi dengan karakter rekaanku. Tapi itulah satu-satunya caraku untuk tetap berani menyongsong hari esok.

Namun, semua kekalutanku akhir-akhir ini mulai menipis dengan semakin seringnya pemuda itu hilir mudik di depan rumahku. Semenjak dua minggu lalu, setiap pukul lima pagi terdengar decit engsel pintu gerbang rumahnya ketika dibuka dan ditutup kembali. Lalu derap lirih sepatu olahraganya memantul di kesunyian pagi, membuatku menyibak tirai jendela untuk mengintip siapa orang itu. Dan sejam kemudian, ketika langit pagi sudah terang, dia akan berlari pelan menuju rumahnya dengan peluh yang sudah membasahi kaosnya.


Setiap hari dia melakukan rutinitas tersebut tanpa jemu. Seolah hendak menyongsong terbitnya matahari dan menyambutnya dengan penuh semangat dan keceriaan. Dan setiap pagi itu pun aku selalu menanti di depan jendela kamarku. Satu-satunya lubang menganga di dinding yang menghubungkanku dengan dunia luar.
Ya, bisa dibilang aku menghabiskansebagian besar waktuku di kamar. Kutata mejaku sedemikian rupa agar aku bisa duduk menghadap jendela, sehingga aku bisa menatap birunya langit dengan sapuan awan yang mempercantik pemandangan. Ditambah semilir angin yang membelai rambut dan wajahku, yang juga mengirimkan kicau burung –burung yang bersarang di pohon besar tepat di depan rumahku. Selama ini aku dengan lancar menuangkan berbagai macam imajinasi liarku dalam tulisan. Begitu mudah dan santai. Tetapi, sekarang aku seolah kehilangan sumber inspirasiku. Dan begitu pula dengan rasa percaya diriku yang terkikis sedikit demi sedikit karena aku belum bisa menghasilkan sebuah karya. Aku merasa telah gagal sebagai penulis. Sangat memalukan.

Meskipun ibuku meyakinkanku bahwa aku akan mendapat ide cerita jika aku mulai bergaul dengan banyak orang. Aku bukanlah anti-sosial, tetapi aku enggan menjawab berbagai pertanyaan yang biasanya bersifat sangat pribadi. Silakan sebut aku sesorang yang introvert, karena begitulah aku.

Tapi kehadiran pemuda penyongsong matahari terbit itu mulai membuka sedikit tirai dalam jiwaku. Aku tidak tahu apa yang membuatku sangat tertarik padanya. Apa karena binar matanya yang penuh semangat? Ataukah karena wajahnya yang berseri-seri setiap kali dia selesai berlari, seolah tiap pori kulitnya menyerap semua sinar matahari yang baru muncul itu dan memancarkannya kembali?
Sungguh, aku sama sekali tidak mengenal pemuda itu. Dan aku tidak punya kepentingan untuk berkenalan dengannya, makanya aku diam saja dan mengamati.

^v^v^

Suara lantang ibuku memaksaku untuk segera turun dari ranjangku dan segera membersihkan diri untuk makan pagi bersama. Di meja makan, wanita paling aku cintai sudah duduk dan tersenyum menyambutku. Kusapa ibuku dan duduk di seberangnya. Seperti biasa, satu-satunya temanku datang dan meletakkan kedua kakinya di atas pangkuanku.
“Ma, Rocco belum makan, ya?”
“Sudah,” jawab ibuku sebelum menggigit rotinya. “dia kangen kamu. Nanti kamu ajak jalan-jalan, sih. Sekali-sekali lah,” lanjutnya dengan tatapan memohon. Aku memang sudah lama tidak mengajak Rocco berjalan-jalan keliling kompleks. Entahlah, aku enggan bertemu orang-orang. Lagi-lagi, karena aku malas menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

Kami habiskan pagi itu dengan mengobrol di meja makan tentang berbagai hal. Ibuku memang sangat gemar bersosialisasi, maka banyak orang yang heran melihat betapa aku sangat bertolak belakang dengan ibuku. Itulah mengapa ibuku bisa tahu segala macam kabar yang sedang jadi buah bibir. Dan aku yang menjadi pendengar setianya. Terkadang Rocco pun dipaksa mendengarkan cerita ibuku.

Kalau saja aku tidak mengingatkan ibu tentang makan siang apa hari ini, pasti ibu akan terus bercerita hingga lupa memasak. Sementara ibu sibuk di dapur, aku mengajak Rocco duduk di teras dan menikmati udara cerah hari ini. Kunikmati senandung burung-burung yang saling bersahutan, desau angin yang menggoyangkan ranting-ranting sehingga dedaunan berdesir manis menenangkan pikiranku. Dunia ini luar biasa indah jika saja tidak dipenuhi manusia-manusia yang serba ingin tahu urusan orang lain.

Ketika alam membuaiku dalam alunannya, tiba-tiba sebuah deheman menggugahku.
“Permisi. Hmm… ini ada titipan buat ibumu dari ibuku,” suara halus itu menyapa. Aku buka mataku dan menatap wajah pemuda itu. Segera kubetulkan posisi dudukku dan permisi ke dalam untuk memanggil ibuku.
“Wah, terima kasih banyak. Sebentar, tante pindahkan ke piring yang lain, ya,” kata ibuku ketika menerima pemberian ibu pemuda itu. “Silakan duduk dulu,” imbuhnya tanpa lupa tersenyum cerah.
Pemuda itu duduk di kursi samping pot besar. Kedua matanya berbinar meneliti pekarangan rumahku yang memang asri dan indah. Lalu dia menatapku sambil tersenyum.
“Baru kali ini masuk sampai ke sini. Setiap hari aku cuma lihat dari luar pagar. Ternyata memang indah, ya,” pujinya.
Aku hanya menggumam menyetujui.
“Oh, ya. Kata tetangga, kamu ini penulis terkenal, ya? Sudah berapa buku yang diterbitkan? Berhasil masuk bestseller kah?” pertanyaan bertubi-tubi itu seolah menghantamku tanpa ampun. Tapi herannya, aku sama sekali tidak merasa kesal. Dia bertanya spontan dan terlihat benar-benar tertarik dengan informasi-informasi tersebut.
“Aku belum termasuk penulis terkenal, kok. Dan aku baru berhasil menerbitkan delapan buku, dan tidak ada satupun yang menjadi bestseller,” jawabku sekali jalan.
Dia tampak terkagum-kagum. Entahlah, pemuda ini terlihat terlalu bersemangat akan segala sesuatu. Mungkin karena terlalu banyak menyerap sinar matahari. Ya, pasti karena itu.
Dan dia mulai meracau tentang koleksi buku-buku miliknya yang tertata rapi di sebuah rak. Bahkan dia menceritakan tentang beberapa buku favoritnya yang sudah dia baca berulang-ulang hingga kertas-kertasnya menjadi kumal. Kurasa pemuda ini akan sangat disukai ibuku. Mereka sama-sama suka bercerita.
Aku bertanya-tanya kemanakah gerangan ibuku pergi? Bukankah hanya memindahkan makanan dari piring itu ke piring lain? Kenapa lama sekali?

“Aku hari ini mau ke toko buku dan mencari buku-bukumu,” lagi-lagi dia mengungkapkan informasi yang tidak perlu kuketahui. Lagipula bukan urusanku dia mau ke toko buku atau ke toko obat. Aneh.

Ah, aku teringat sesuatu.
“Tunggu sebentar. Aku ada sesuatu untuk kamu,” aku pun segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamarku. Aku membuka laci meja dan mengambil dua buku dari dalamnya.
Di teras sudah ada ibuku yang sedang menyerahkan piring milik ibu pemuda itu.
“Ini dua buku hasil karyaku. Semoga kamu suka,” aku sodorkan dua buku tersebut ke pemuda itu.
Dia menatapku bingung.
“T-tapi aku tidak membawa uang. Memangnya berapa harga dua buku itu?”
Aku terkekeh pelan melihat kepolosannya, “Itu buat kamu. Masih ada sisa dua buku itu yang belum sempat aku bagi-bagikan. Gratis, kok.”
Dan seketika aku melihat pemuda itu menjelma menjadi bocah enam tahun yang mendapatkan hadiah ulang tahun kesukaannya. Dia nyaris melonjak gembira. Aku bertanya-tanya berapa umur pemuda ini?

Sambil berulang kali mengucapkan terima kasih, pemuda itu pun akhirnya menutup pagar rumahku.
Segera saja suasana kembali sunyi.

“Luhan memang selalu bersemangat, ya?” ibuku tersenyum menanggapi ucapannya sendiri.
“Luhan?” alisku terangkat.
“Kamu tidak tahu namanya?” kedua matanya terbelalak. Aku mengangkat bahu. “Ya, ampun, Yifan. Jadi kalian mengobrol dari tadi dan kamu sama sekali tidak berkenalan?” suaranya melengking. Antara terkejut dan gemas.
“Dia bicara terus. Mana mungkin aku memotong pembicaraan orang. Kan, tidak sopan, Ma,” ujarku membela diri.
“Kamu harus bergaul, Yifan. Masa cuma tanya nama saja kamu tidak bisa? Pokoknya kamu harus belajar bergaul. Titik!” dan dia pun kembali ke kerajaannya. Dapur.

Rocco tertidur di samping kakiku, rupanya dia lelah mendengar ocehan para manusia yang tidak ada habisnya. Andai aku bisa menjelma menjadi Rocco, pasti orang-orang akan berhenti bertanya macam-macam padaku. Ah, aku lelah.

^v^v^

Karena semalam begadang, aku pun terlambat bangun pagi. Matahari sudah begitu tinggi bertengger di langit ketika aku membuka mataku. Sial. Aku melawatkan lari pagi pemuda itu… Luhan. Segera kutepis rasa sesalku itu dan aku pun masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi.
Di ruang keluarga kulihat ibuku sedang membaca majalah langganannya. Kukecup pipinya dan menyapanya. Dia menatapku penuh rasa sayang dan beranjak untuk mengambilkan makan pagi untukku. Aku tahu, dalam benak ibuku dia ingin segera melihatku menikahi seorang gadis yang baik yang bisa mengurusku dengan penuh ketulusan. Tapi karena sikap tertutupku, maka tidak pernah sekalipun aku menjalin hubungan dengan wanita manapun. Berkenalan pun jarang. Aku sudah terlalu menikmati kesendirianku dengan ditemani tokoh-tokoh rekaanku.

Seusai menyantap sarapan buatan ibuku, aku memangku laptopku dan membaca ulang tulisan-tulisanku yang belum terselesaikan. Ada dua judul cerita yang kubuat satu tahun lalu, dan baru secuil saja yang berhasil kutulis. Mendadak saja semua ide itu menguap dan menghilang tanpa jejak. Kuamati dan kucoba meresapi judul-judul tersebut, namun tetap nihil. Akhirnya aku pun menghapus dua judul itu. Mungkin suatu hari aku akan menemukan ide untuk tulisanku berikutnya.

Suara ketukan di pintu membuat konsentrasiku terpecah. Ibu menatapku. Aku tahu maksudnya. Dia menyuruhku melihat siapa tamu itu.
Kuletakkan laptop di atas meja lalu aku menuju pintu depan dan membukanya.

“Hai,” sapanya ceria. Dan keceriaan itu menular padaku.
“Hai juga,” sahutku sambil tersenyum.
Dia duduk di kursi yang kemarin dia duduki dan dengan penuh semangat dia bercerita.
“Kamu benar-benar jenius, Yifan. Novelmu itu keren sekali. Aku sampai hanyut dalam alur ceritanya, sampai-sampai kukira itu kisah nyata. Wah, kamu hebat.”
Aku tercenung. Benarkah dia baru saja memujiku? Benarkah?
Aku mengucap terima kasih.
Dia mulai membahas detail-detail cerita itu, dan dengan berapi-api dia menceritakan tentang kekagumannya terhadap tokoh utama novel tersebut. Dia sampai terbawa emosi yang tersampaikan di cerita fiktif itu. Dia larut dalam kekagumannya itu selama hampir lima belas menit atau lebih. Aku hanya mendengarkan dan menanggapi seperlunya.

“Oke, Yifan. Sekarang aku mau pulang, dan baca buku keduamu. Itu novel juga, kan?”
“Yang buku kedua itu kumpulan cerpen. Hmm… terima kasih sudah suka dengan novelku,” jawabku agak salah tingkah.
“Besok aku ke sini lagi buat kasih tanggapan tentang cerpen-cerpen itu. See you,” dan dia melambaikan tangannya seraya berlari kecil menuju rumahnya.

Masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi, aku pun masuk ke kamarku dan termenung di depan jendela. Pemuda yang aneh. Tapi anehnya itu dia membuatku tidak merasa risih ataupun jengah dengannya.
Benar-benar aneh.

^v^v^

Hari ini adalah hari ke tujuh Luhan datang ke rumahku untuk memberikan tanggapan dan kesan-kesannya terhadap cerpenku. Setiap satu hari dia menyelesaikan satu judul, lalu esoknya dia datang ke rumahku dan membahas semua kesannya terhadap cerita itu. Aku senang dengan apresiasinya tersebut, membuatku mulai percaya diri untuk mencoba menulis lagi.
Terkadang dia bahkan memberikan alternatif ending untuk beberapa cerpenku, dan menurutku dia punya daya imajinasi yang unik karena usulan-usulan dia itu tidak pasaran dan tipikal.
Ibuku makin menyukai sosok Luhan yang ceria dan optimis itu, sehingga dia merasa senang melihatku bergaul dengannya. Kata ibuku, mungkin Luhan bisa menularkan optimismenya ke aku.
Dan jujur saja, aku juga merasa nyaman berteman dengan Luhan, meskipun aku tetap berusaha menjaga jarak.
Semakin sering Luhan datang ke rumahku, maka waktuku berdiam diri di kamar mulai berkurang. Aku jadi lebih sering duduk di teras dan berdiskusi dengan Luhan tentang berbagai macam tema, terutama yang berhubungan dengan tulis menulis. Ternyata Luhan adalah mahasiswa lulusan sastra kontemporer, sehingga dia sangat memahami banyak hal yang terkait dengan literatur. Mungkin itu salah satu alasan aku merasa asik berbincang dengannya.

^v^v^

“YIFAN!” panggilan itu nyaris membuatku tersedak kopi yang sedang kusesap. Aku mengernyit kesal ke arah Luhan yang menyongsong melewati pagar rumahku.
“Kenapa kamu teriak-teriak, Luhan?” tegurku. Dia tersenyum salah tingkah dan menggumam maaf. Kemudian dia menarik salah satu kursi di teras dan duduk di depanku. Tangannya menepuk lututku dengan bersemangat.
“Gila! Kamu beneran gila, Yifan,”
What? Dia mengataiku gila? Dan kenapa dia seolah sangat senang mengatakan kalau aku gila? Wajahnya tersenyum bahagia seperti itu.
“Eits, tunggu dulu,” cegatnya sebelum aku melontarkan protesku. “aku tidak sedang memaki kamu, Yifan, tapi aku sedang memuji,” lanjutnya dengan senyuman usil yang terukir jelas di wajah awet mudanya itu.
“Yeah, right,” aku mencemooh. Dia terkekeh dan menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Cerpenmu yang ke sebelas benar-benar edan, Yifan. Dari mana kamu dapat ide itu? Plot dan alurnya benar-benar unik tapi tidak melenceng dari rasionalitas. Wow, you’re totally crazy.”
Ini orang mau memuji atau menghina, sih?
“Okay, now explain my craziness,” tantangku dengan mimik galak. Dia sama sekali tidak terganggu dengan mimik dan intonasi suaraku, dia malah terlihat bersemangat dan menggosokkan kedua tangannya dengan antusias.
“Jadi begini…” dan dimulailah curhatannya tentang setiap detail yang menarik jiwa sastra dalam dirinya.
Dan hari ini adalah hari ke sebelas Luhan duduk berhadapan denganku di teras dan mengoceh tentang isi cerpenku yang ke sebelas dari kumpulan cerpen yang kuberikan padanya waktu itu.
Pemuda ini sekarang sudah mempunyai rutinitas lain di samping berlari pagi menyongsong matahari. Aku sama sekali tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan dengan rutinitasnya itu.

Yang aku herankan adalah betapa banyak hal yang aku ketahui tentang pemuda bernama Luhan ini. Bisa dibilang aku sangat sedikit bercerita tentang diriku sendiri, terutama tentang hal-hal pribadi. Dan anehnya lagi, dia sama sekali tidak menanyakan apapun tentang kehidupan pribadiku. Aku tahu jam berapa dia biasa tidur dan apa menu sarapan favoritnya tanpa perlu kutanyakan. Tetapi dia tidak pernah menanyakan hal tersebut padaku, seolah-olah dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang aku lakukan ketika sedang tidak duduk menjadi pendengar yang baik untuknya.

Luhan….
Orang aneh, tapi…
Hmm… tetap aneh.
Atau aku yang aneh?

Luhan menyudahi lamunanku saat dia berdiri dan menjabat tanganku sebelum akhirnya berlari kecil menuju rumahnya.
Aku bahkan tidak ingat apa saja yang dia bahas barusan. Sorry, Luhan. Aku terlalu sibuk memikirkan keanehanmu yang unik.
^v^v^v

Ada lima belas judul cerita di dalam bukuku itu. Dan setiap kali Luhan menyelesaikan satu judul, keesokan harinya dia pasti muncul di teras rumahku dan duduk selama sekitar setengah jam untuk membahas isi cerpen tersebut. Setiap hari selama empat belas hari terakhir ini. Hari ini adalah hari ke lima belas semenjak pertemuan membahas cerpen yang pertama. Namun, jarum jam sudah mengarah ke angka sembilan dan pemuda aneh itu belum juga muncul. Mungkin dia belum selesai membaca cerpen terakhirku di dalam buku kumpulan cerita pendek karanganku itu.
Kutunggu dirinya hingga matahari semakin naik dan dia belum muncul. Karena udara semakin gerah dan sumpek, aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam dan menikmati sejuknya pendingin udara di kamarku.
Kulirik laptopku yang tergolek manis tidak terjamah di sudut meja. Kusadari bahwa di atasnya terdapat lapisan tipis debu yang menyelimutinya. Selama itukah aku tidak menyentuh laptop itu?
Kuusap permukaannya dengan penuh kerinduan. Selama beberapa tahun ini dialah teman sejatiku yang selalu ada ketika aku membutuhkan pelampiasan luapan segala macam emosiku. Dialah yang dengan senang hati menerima tumpahan ide-ide liarku yang tidak terbendung. Dialah yang setia menyinari kegelapan malamku ketika aku larut dalam penulisan novel-novelku. Tidak ada satupun yang mampu menjauhkanku darinya. Semua itu sebelum kemunculan laki-laki ajaib yang terlalu banyak bicara itu.
Ya, Luhan. Hanya karena seonggok Luhan, aku jadi mengabaikan laptopku tercinta. Hanya karena kedatangan pemuda sinar matahari itu saja, aku mengabaikan laptopku.
Setelah kusingkirkan butir-butir debu yang mengotori laptopku, aku pun membuka dan menyalakannya. Kusapukan sentuhan sayangku ke atas tombol-tombolnya. Pasti mereka merindukanku. Kutatap layar desktop berwallpaper pemandangan pegunungan Alpen yang menawan itu dan kuelus layarnya.
Empat belas hari aku membiarkannya sendirian. Empat belas hari aku disibukkan oleh seorang Luhan. Tapi… aku tidak menyesalinya. Aku justru merasa lebih baik dan bersemangat.

Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan. Tanganku sudah menarik kursi dan aku mendudukinya. Kubuka Microsoft Word dan jemariku mulai berdansa di atas keyboard dengan lincahnya. Aku terus mengetik dan mengetik tanpa benar-benar menyadari apa yang kutulis.
Setelah merasa pegal pada pergelangan tanganku, aku pelan-pelan membaca tulisan baruku.
Tidak kusangka, aku bisa menulis lagi. Writer’s block sialan itu menghilang. Sekarang di dalam otakku sudah berdesakan ide yang minta segera dikeluarkan. Aku tercenung sejenak.
Aku baca ulang tulisanku barusan, dan kenapa aku seperti melihat Luhan tersenyum ceria sambil mengacungkan ibu jarinya?
Jangan-jangan dialah yang menjadi inspirasi bagi tulisanku ini?
Aku terhenyak saat menyadari bahwa yang kutulis adalah kisah tentang seorang pemuda yang putus asa yang berteman dengan pemuda lain yang optimis. Ya, aku menceritakan diriku yang berteman dengan Luhan.

Semua tampak begitu natural dan realistis. Kubumbui dengan sedikit konflik untuk membuat greget pembaca.
Aku benar-benar lupa waktu. Semua inderaku terfokus pada keyboard dan layar laptopku. Aku menulis tanpa henti sehingga ibuku mengetuk kamarku dan menyuruhku makan siang. Dan itu pun sudah sore. Aku terlalu hanyut dalam cerita yang sedang kugarap sehingga melewatkan makan siangku.

Karena perut yang keroncongan, aku pun dengan berat hati melepas laptopku. Aku makan dengan sangat cepat sampai ibuku memarahiku. Aku sudah tidak sabar ingin melanjutkan tulisanku.

“Yifan, tadi Luhan datang ke sini, tapi karena Mama kira kamu tidur, akhirnya dia pulang. Dia menitipkan ini buatmu,” ibu menyodorkan selembar kertas yang terlipat.
Buru-buru kubuka kertas itu dan isinya adalah pujian dan kesan-kesan Luhan terhadap cerpen yang ke lima belas. Serta ucapan terima kasih atas dua buah buku uang aku berikan itu.
Ada rasa sesal yang kurasakan karena aku tidak sempat bertemu dengannya tadi.
Besok pasti dia tidak akan muncul dan mengajakku mengobrol di teras. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa dibahas.

Aku kembali masuk ke kamarku dan menatap kosong layar laptopku. Tiba-tiba aku merasa lelah dan suntuk. Tanpa pikir panjang, aku segera merebahkan diri di ranjang dan tidur.

^v^v^

“Yifan, ada yang mencarimu,” ibu membangunkanku dari tidur nyenyakku. Sambil mengerang malas, aku bangun dari tempat tidurku lalu membuka pintu kamar. Di kamar mandi aku membersihkan muka dan menggosok gigi lalu keluar menemui orang yang mencariku.

“Good morning, Yifan,” sapanya.
Aku tidak menjawabnya. Aku malah tercengang melihatnya berdiri di depan pintu rumahku dengan memakai kaos olahraganya.
“Ayo, kita lari pagi,” ajaknya bersemangat.
Aku hanya menatapnya. Persis seperti orang tolol yang bingung.
“Oh, ayolah, Yifan. Lihat kulitmu pucat seperti tembok rumah sakit. Kamu butuh sinar matahari.”
“Ta-tapi…”
Dia sama sekali tidak mengindahkan protesku dan malah mendorongku hingga ke jalan.
“TANTE, YIFANNYA AKU CULIK DULU, YAAA,” serunya gembira dari depan pintu gerbang. Dan aku melihat ibuku sangat bahagia melihat anaknya diculik pemuda aneh ini.
“Luhan, aku tidak bisa berlari,” tegasku.
“Ya, aku tahu. Tapi kamu tetap bisa bergerak, Yifan.”
Aku tahu maksudnya. Dan memang benar apa katanya, aku masih bisa bergerak.
Dia berlari-lari kecil mengiringiku. Dia menyuruhku menikmati keindahan di sekitar kami.
Matahari baru saja terbit, dan alam tampak begitu indah. Sejuknya udara pagi menyegarkan paru-paruku. Hembusan lembut angin melenyapkan sisa-sisa kantukku. Tidak heran kenapa Luhan sangat mencintai matahari terbit. Karena efeknya memang luar biasa.
Sekitar lima belas menit kami bergerak dalam diam. Aku yang penasaran setengah mati pun akhirnya melontarkan pertanyaan.
“Kamu tidak penasaran?”
Dia berjalan santai sambil merentangkan kedua lengannya dan menghirup udara dalam-dalam.
“Penasaran tentang apa?” tanyanya tanpa menoleh.
Aku terdiam sejenak. Memikirkan patut tidaknya aku mengangkat masalah ini.
“Hmm… tentang kondisiku ini,” ujarku sambil menatap lututku.
“Memangnya aku harus tahu? Kalau aku tahu, lantas itu bisa mengubah keadaan?” dia berhenti dan menoleh ke arahku.
Aku menggeleng pelan.
“Dengar, Yifan. Aku tidak peduli dengan apa yang membuatmu tergantung pada kursi roda itu, dan aku sama sekali tidak ingin tahu. Yang aku pedulikan adalah bahwa kamu punya bakat yang luar biasa.”
“Maksudmu?”
“Kamu seharusnya bersyukur bahwa Tuhan melumpuhkan kakimu. Bukan otakmu tempat kamu berpikir dan merangkai cerita. Bukan kedua tanganmu yang kamu pakai untuk mengetik dan menulis. Tuhan tidak membutakan kedua matamu yang kamu pakai untuk melihat keindahan alam di sekelilingmu, yang bisa menjadi sumber inspirasimu. Kamu seorang penulis, Yifan. Yang kamu butuhkan adalah otakmu, tanganmu, matamu, pendengaranmu, akal sehatmu. Kalau kamu pemain sepak bola atau atlit lari, maka kamu boleh bersedih dan minder, karena kedua kakimu adalah asetmu. Tapi kamu tidak membutuhkan kakimu untuk menulis, kan?”
Ini. Inilah yang membedakan Luhan dengan yang lainnya. Dia melihat dengan kacamata yang berbeda. Kacamata kebijaksanaan. Selama ini aku mengutuki nasib sialku. Sehingga aku mengesampingkan semua nikmat yang masih kumiliki. Hanya karena kecelakaan yang melumpuhkan kedua kakiku aku jadi minder, malu dan merasa tidka berguna. Tapi Luhan justru memulihkanku.
Selama ini setiap bertemu sesorang, pasti mereka akan menanyakan kenapa aku memakai kursi roda, apa yang menyebabkan kakiku tidak bisa digunakan lagi. Mereka menatapku dengan iba, prihatin, dan berusaha menjaga perasaanku. Tapi Luhan tidak seperti mereka. Sejak pertama dia bertemu aku di teras, dari matanya sama sekali tidak terlintas rasa iba maupun kasihan. Dia melihatku seolah aku berdiri tegak di atas kedua kakiku. Tidak sekalipun dia bertanya tentang ap yang terjadi pada kakiku.
“Aku pikir kamu sama seperti orang-orang yang lain. Mereka selalu tanya apa yang terjadi pada kedua kakiku. Dan karena itulah aku menutup diri dari dunia. Aku malas bersosialisasi. Tapi kamu berbeda, Luhan.”
Dia tersenyum sambil mengangkat bahunya, “Aku memang tidak pernah bertanya tentang hal-hal pribadi. Kalau kamu tidak cerita, ya sudah. Berarti kamu ingin menyimpan cerita itu untuk dirimu. Toh, jika kamu merasa perlu untuk bercerita, aku yakin kamu pasti akan bercerita,” sahutnya dengan senyuman lebar di bibirnya.
Aku terkekeh. Dia memang apa adanya. Banyak bicara. Tetapi dia bijaksana dan sangat tahu aturan bersosialisasi. Aku yakin dia pasti punya banyak teman.

Jika Luhan setiap pagi berlari menyongsong mataharinya, maka aku yang akan menyambut pancaran sinarnya dari Luhan. Dia mencerahkan harapanku. Membuatku yakin bahwa dengan tekad yang kuat, apapun pasti bisa diraih. Dia juga mengajariku untuk terus bersyukur dengan apa yang kita miliki. Dan aku bersyukur memiliki Luhan sebagai teman dan sahabatku.
Serta sumber inspirasiku, baik dalam cerita maupun dalam hidup.
^v^v^

“WU YIFAN!” teriakan Luhan membuatku terlonjak. Aku lempar surat kabar yang sedang kubaca ke atas meja dan menggiring kursi rodaku ke arah pintu.
“Ada apa, sih?”
Aku nyaris tersedak ketika kedua lengan Luhan memelukku erat. Dia mencengkram kepalaku dan menatapku kagum.
Apa-apaan orang ini?
“Selamat, Yifan. Novel barumu sold out di semua toko buku di kota ini,” bisiknya dengan suara bergetar.
“Apa?”
“NOVELMU SOLD OUT! LARIS MANIS! BUKUMU BERKESEMPATAN JADI BESTSELLER, YIFAN! DO YOU HEAR ME?”
“I HEAR YOU, YOU PUNK! KAMU TERIAK DI KUPINGKU!” dan aku ikut-ikutan menggila.
Ibuku muncul dengan tergopoh-gopoh, Rocco pun menggonggong dengan berisik.
Aku lihat Luhan memeluk ibuku dan memberikan selamat atas keberhasilan putranya yang sempat terpuruk beberapa waktu lalu.

Awalnya aku tidak percaya diri ketika menyerahkan naskah novelku ke penerbit yang biasa menerbitkan novel-novelku. Tapi ternyata mereka menyukainya dan segera menerbitkannya. Ada banyak pesan positif yang terkandung di dalamnya, begitu kata editornya.

Sejak hari itu Luhan setiap pagi mengajakku menyongsong matahari. Dan seiring waktu, aku menemukan kembali jati diriku yang sempat terkubur. Dan Wu Yifan pun muncul kembali dengan secercah harapan baru.

Aku tidak terlalu berharap bukuku akan menjadi bestseller, tapi aku hanya ingin banyak orang yang mau membacanya dan bisa memetik hikmah dari isinya.

Kubolak-balik novelku yang berjudul Sunshine Boy dan terseyum puas. Covernya sangat pas dengan judul dan isi ceritanya. Sangat pas dan mengena.
“Luhan, buku ini aku persembahkan spesial untukmu. Ini sebagai salah satu cara aku mengungkapkan rasa terima kasihku. Tanpa semangatmu, mungkin aku belum bisa menyelesaikannya sampai hari ini. Terima kasih Luhan,” dan sebelum buku itu berada di tangannya, dia memelukku lagi.
“You deserve it, Yifan,” bisiknya.
Luhan. Dialah si sunshine boy. Dialah yang menjadi matahari bagiku. Yang selalu muncul setiap pagi untuk memberikan harapan baru.

Banyak hal yang Luhan ajarkan padaku, bahwa berteman itu tidaklah memandang kekayaan, paras indah, kondisi fisik, ras, suku, bahkan agama. Semua sama, selama kita bisa saling menghargai dan menghormati segala macam perbedaan itu.
Luhan yang membuatku merasa sebagai orang normal dengan kaki yang sehat. Padahal aku masih berada di kursi roda. Tapi ketika bersama Luhan, kursi roda itu terasa bagai mobil sport paling mahal. Luhan membuatku memandang dunia ini dengan cara yang unik dan berbeda.
Dia memang unik.
Dan dia memang aneh.
Itulah Luhan.
My bestfriend.

THE END
A/N: Akhirnya… my last kpop fanfic. Dengan dua biasku Luhan dan Yifan yang sudah bukan member EXO lagi (Alhamdulillah). Aku nggak begitu yakin dengan kesan-kesan reader setiaku setelah baca ff ini. Aku sengaja pakai dialog formal begitu karena aku pikir nggak ada salahnya aku nulis dengan lebih serius untuk yang terakhir kalinya. Padahal tangan ini udah gatel pengen pake dialog Lo Gue antara FanLu. Hehehe bacot-bacotan nista gitu kan lucu. Heheheh
Semoga kalian nggak kecewa. Aku sudah mengerahkan segala upaya biar moodku stabil en nggak tiba-tiba menguap dan akhirnya aku nggak bisa selesein ff ini. Jadi aku mohon kesan-kesannya, for the last time, please. Jangan sampai aku nyesel udah capek-capek nulis ini. (kesannya ngemis, ya? Ah sebodo amat. Hak gue ini. Wkwkwk)
Buat semua penggemar yifan dan luhan, jangan sampai kejadian keluarnya mereka dari exo jadi pemicu bubarnya kalian sama teman-teman kalian yang juga ngefans exo. Karena itu udah beda urusan. Aku masih ngefans sama luhan. Dan masih cinta udelnya, hehehehe. Udeland masih ada dan akan selamanya ada selama para bias masih punya udel. XD
Udahan dulu ya. Terima kasih buat yang setia baca ff-ffku baik yang dulu mengandung banyak dosa dan maksiat (FF YAOI) sampai yang mengandung banyak hikmah dan pembelajaran. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.
Buat siapapun yang pengin bikin cerita yang terinspirasi dari ff-ffku, silakan aja, tapi harus ditulis bahwa itu terinspirasi dari ffnya mejiemagic atau coco pinky yang berjudul apa, biar kalian nggak dicap plagiat.
Sekali lagi terima kasih banyak buat dukungan kalian selama ini.
Goodbye

Advertisements