*-*

*Iman Adalah Kehidupan

 

Seberapa besarkah keimanan kita?
Ketika kita dilanda kesusahan dan kita terpuruk hingga menyerah dan putus asa, saat itulah keimanan kita diragukan. Kok gitu?

Yups, memang begitu. Karena tipikal orang yang sengsara dalam segala konteksnya adalah mereka yang perbendaharaan keimanan dan keyakinannya telah ludes. Makanya mereka selamanya berada dalam kesedihan, kemurkaan dan kehinaan.

Resep mujarab buat membahagiakan jiwa, membersihkannya dan menyucikannya, membuatnya senang dan menghilangkan kegundahan di dalamnya hanyalah iman kepada Allah.

Buat orang yang membangkang kepada Allah, jika mereka nggak beriman sama sekali, jalan terbaik yang bisa mereka tempuh adalah bunuh diri biar jiwa mereka tenang dan terbebas dari segala tekanan.

Belum lama ini aku ketemu salah seorang saudaraku. Sekarang ini dia lagi down banget gara-gara dia kena tipu sehingga banyak uang yang hilang ditilep si penipu itu. Dan dia diuber-uber orang-orang yang uangnya ikutan hilang itu. Dia nggak punya kerjaan, jadi nggak punya uang buat bayar kerugian tersebut. Dia sampai ngemis ke semua keluarganya yang masih tersisa (yang kebetulan kaya-kaya), tapi mereka nggak mau bantu dia. Aku pribadi nggak bisa bantu apa-apa kecuali ngadem-ngademin dia bahwa Allah nggak lalai akan hambanya yang beriman. Aku terus nasehatin dia dan ingetin dia tentang betapa besar rahmat Allah, dan bahwa suatu saat dia bakal dikasih jalan terbaik sama Allah. Nah, dia itu saking downnya sampai berkali-kali mau bunuh diri. Aku sampai ngutip hadits-hadits tentang siksaan bagi pelaku bunuh diri biar dia mikir panjang dan nggak gegabah. Dan itu cukup berhasil. Tapi masalahnya dia depresi banget. Ya, gimana nggak depresi coba?
Dia diusir dari rumah suaminya dan sekarang jadi gelandangan yang tidur di masjid dan kadang saking laparnya dia sampai makan makanan sisa yang dibuang ke tong sampah. Dia perempuan, btw.
Miris banget sumpah. Aku pengin banget bantu, tapi aku sendiri nggak punya uang sebanyak itu. Dia itu sudah putus asa. Keimanannya sedang diuji Allah. Sejak lebaran ini aku nggak dengar kabar dari dia. Gimana nasibnya pun aku nggak tahu.
Iman dia sedang dalam level terendahnya, makanya dia nggak bisa melihat hikmah dari ujiannya itu. Dia lupa bahwa di dalam kesulitan pasti ada kemudahan.
Well, aku pribadi nggak yakin bakal sanggup kalau ada di posisi dia. Tapi kalau kita mau belajar dari orang-orang yang ngerasain ujian yang jauh lebih berat, insyaAllah kita bakal sanggup hadapi rintangan apapun. Karena ya itu, badai pasti berlalu.
Dengan meningkatkan iman dan taqwa, insyaAllah kita bisa lolos dalam tiap ujian yang Allah berikan.

 

Sudah saatnya kita semua (bahkan dunia) mengakui dan mengimani secara tulus (ikhlas) bahwa ‘tidak ada Ilah selain Allah’.
Sekuat dan selemah mana iman Anda, sehangat dan sedingin mana iman Anda, sebatas itulah kebahagiaan, kelapangan dan ketenangan yang Anda rasakan.”

Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. AN-Nahl: 97)

Kehidupan yang baik dalam ayat di atas maksudnya keteguhan jiwa mereka untuk memegang janji Rabb mereka, keteguhan hati untuk mencintai Dzat yang menciptakan mereka, kesucian nurani mereka dari unsur-unsur penyimpangan, sikap dingin dalam menghadapi segala kenyataan, sikap menerima pada saat diberlakukannya ketentuan dan keridhaan mereka terhadap hal-hal yang sudah dituliskan untuk mereka. Mereka ridha kepada Allah sebagai Rabb mereka, kepada Islam sebagai agama mereka dan kepada Muhammad sebagai nabi dan rasul mereka.

 

Kalian pasti tahu surat Al-Ikhlas, kan?
Judulnya aja Al-Ikhlas. Ikhlas.
Ikhlas mengakui bahwa Allah itu Maha Esa.
Ikhlas mengakui dan menerima bahwa Allah itu satu-satunya tempat meminta segala sesuatu. Baik pertolongan maupun ampunan. Dengan ikhlas dan teguh mengimani bahwa Allah tidak beranak, tidak pula diperanakkan.
Dan bahwa tidak ada makhluk manapun yang setara dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

Ikhlas bikin kita bisa kuat hadapi semua cobaan. Karena kita tahu bahwa semua itu berasal dari Yang Maha Kuasa. Bukan gara-gara manusia maupun makhluk lain. Semua ketentuan yang terjadi dalam hidup kita sejak kita lahir sampai mati sudah diatur Allah.

Kenapa nggak dari dulu aku baca buku ini, ya?
Kenapa aku buang-buang sekian puluh tahun hidupku demi hal-hal yang nggak bermanfaat, ya?
Oh, how stupid I am. #jedotinkepaladitembokcina #sekalianjalanjalansiapatahuketemuLuhan #abaikanplease

 

*Ambil Madunya Tapi Jangan Hancurkan Sarangnya

 

 

Di dunia yang sedang (hampir kutinggalin, sih) aku geluti, yaitu dunia KPOP, sering banget aku lihat percekcokan dua kubu yang bertentangan (dibikin sendiri, sih. Maklum, orang kurang kerjaan). Fandom A melawan fandom B. Nanti ada Fandom C yang ikutan nimbrung buat ngomporin Fandom B dan sama-sama nyerang Fandom A. begitu seterusnya sampai muncul juga pertikaian antara Shipper A melawan Shipper B. Lalu dua Shipper itu menyerang Shipper C yang dianggap terlalu absurd memasangkan ultimate seme mereka dengan uke lain. (tema yang hanya dipahami KPOPer)

 

Di berbagai page Antis, selalu aja banyak bertebaran komentar dan pembelaan para fans dari idola yang di-antis-in itu. Admin page ngasih statement yang bikin hati para fans bergejolak, lalu mereka pun memaki admin tersebut.
Apa manfaat dan keuntungannya coba?
Nihil. Dan justru bikin mereka kelihatan dumb as a donkey.
Kalau sudah tahu page itu bikin emosi, lantas kenapa dimasuki? Bukankah masih banyak FANpage yang bertebaran? Kenapa nggak berkutat di situ aja dengan orang-orang yang juga ngefans dengan idola tersebut?

Dalam topik ini dijelasin tentang bagaimana kita mengekstraksi hal-hal positif, dan meninggalkan yang negatifnya. Seperti lebah dan madu.
Kita butuh madu dari lebah, kan? Ya cukup kita ambil madunya aja, tanpa perlu ngerusak sarangnya. Ambil yang baiknya aja. Karena kalau kita sampai rusak sarangnya, maka para lebah marah dan mereka bakal nyerang kita, kan? Nah, lalu kalau lebah itu ngambek dan ogah ngehasilin madu lagi, gimana hayo? (yang ini absurd. Maaf. #plak)

 

Dalam bergaul pun kita juga kudu seperti itu.
Daripada ngumpul sama orang-orang yang kerjaannya ngomonin orang lain atau hobi ngomong kasar dan kotor, lebih baik kita memilah-milah siapa di antara mereka yang punya sisi positif, kita hargai itu dan jangan ikut-ikutan yang negatifnya.
Alangkah baiknya kalau kita bisa bertutur kata yang baik dan santun. Pasti kita bakal disenangi banyak orang. More friends, less enemies. Hehehe.
Orang yang bisa ngontrol sikapnya dan tutur katanya pasti bakal dihargai dan dihormati. Orang yang sabar ketika dirinya dimaki-maki maupun dianiaya secara lisan, biasanya mudah memafkan. Mereka cenderung nggak ambil pusing sama kehebohan orang lain terhadap dirinya.

Aku jadi ingat waktu seorang fans fanatik magnae EXO-M. Dia nyerang aku dan ngatain aku ‘anjing’ segala. Berhubung aku sudah paham betul orang-orang berjiwa rapuh dan insecure macam dia itu bikin aku tenang dan malah ketawa cekikikan waktu ngeladenin dia.
Karena menurutku she/he doesn’t worth my attention. Alias nggak penting dalam kelangsungan hidupku. Hehehehe. Sumpah lucu banget. Such a great humor.
Akhirnya dia capek sendiri, deh. Dia meletup-letup, tapi aku tenang seperti air dalam bak mandi. LoL.

Tapi aku masih perlu dan harus belajar memaafkan dengan tulus. Aku ini tipikal pendendam sih, ya. jadi kalau ada yang nyakitin aku, biasanya aku susah maafinnya. Kalaupun aku maafin, tapi nanti sikapku ke orang itu berubah, jadi yang jaga jarak gitu. Mungkin itu sikap defensif aku biar nggak disakiti lagi, kali, ya? yeah, it could be.

Terkadang (sering banget mungkin) melupakan kebaikan orang hanya karena satu saja kesalahan.
Aku sebagai contohnya. Hanya karena aku diomongin di belakang (dijelek-jelekin), aku marah dan lupa sama semua kebaikan orang itu. Tapi aku nggak ungkapin secara terang-terangan lah. Makanya orang itu masih baik sama aku. Karena aku berusaha jaga sikap, sih. Jangan sampai aku dibenci orang. Makanya semua emosiku aku sembunyiin di balik topeng –I-am-totally-fine. Such a pitty, eh?

Mulai sekarang, aku harus bisa melupakan keburukan/kesalahan orang lain dan lebih fokus ke kebaikannya. Sip.

 

 

*”Ketahuilah Bahwa Dengan Mengingat Allah Hati Akan Tenang”

 

 

Kejujuran adalah kekasih Allah, keterusterangan adalah sabun pencuci hati, pengalaman itu adalah bukti dan atasan tidak akan pernah berbohong pada bawahannya. Tidak ada satu pekerjaan yang lebih melegakan hati dan lebih agung pahalanya daripada berdzikir kepada Allah.”

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Dzikir kepada Allah adalah surga yang terletak di bumi. Orang yang nggak pernah menginjakkan kakinya di surga itu selama hidupnya di dunia, nggak akan bisa masuk surga di akhirat nanti. (nauzubillah min dzalik)
Dzikir itu obat bagi jiwa yang ampuh ngilangin segala kelelahan dan goncangan jiwa. Begitu galau, langsung berdzikir. SubhanAllah, wal hamdulillah, wa Allahu akbar. Dan dzikir-dzikir lainnya.
Dzikir itu mengingat. Jadi kalau kita dzikir, itu artinya kita mengingat Allah.

Seberapa sering kita ingat Allah dalam sehari?
Waktu sholat aja? Itu pun kalau khusyu’.
Waktu ngaji?
Waktu nonton film, kita ingat Allah, nggak?
Waktu liat MV yang keren-keren kita sempat ingat Allah, nggak?
Nah, yang suka nonton konser, acara musik alay di tv, sinetron, drama, dan pas arisan atau shopping di mall, pada saat itu kita ingat Allah, nggak?

No we are not.
Kita ingat Allah waktu kita dalam keadaan sedih, bokek, patah hati, kelaparan, sakit, dan takut.
Astaghfirullah.

Berdzikir itu bisa bikin kegalauan, kesedihan, ketakutan dan semua perasaan negatif tersebut lenyap. Dengan berdzikir pula gunung tumpukan beban kehidupan dan permasalahan hidup akan runtuh.
Makanya jangan heran kalau lihat orang-orang yang selalu ingat Allah akan senantiasa ngerasa bahagia dan tenang. Sebab memang seharusnya begitu. Tapi herannya kenapa banyak orang yang malah lupa dan tenggelam dalam kehidupan dunia.

“Wahai orang yang mengeluh karena sakit, yang menangis karena sakit, yang bersedih dengan peristiwa yang terjadi, dan yang gundah karena musibah yang menimpa, serukanlah nama-Nya yang kudus.”

Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah).” (QS. Maryam: 65)

Semakin banyak kita ingat Allah, maka bakal semakin lapang pikiran kita, semakin tenang hati kita, semakin bahagia jiwa kita dan semakin lapang nurani kita. Sebab di dalam mengingat Allah terkandung makna-makna tawakal kepada-Nya, percaya sepenuhnya kepada-Nya, menggantungkan diri kepada-Nya, mengembalikan semua perkara kepada-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, dan menunggu pertolongan dari-Nya. Dia akan senantiasa dekat jika dipanggil, akan senantiasa mendengar jika diseru dan akan mengabulkan jika dimohon. Rendahkanlah diri kita dan memohon dengan tulus kepada-Nya. Bacalah nama-nama-Nya yang indah berulang-ulang sebagai wujud tauhid, pujian, doa, permohonan dan minta ampunan. insyaAllah dengan begitu hati kita bisa tentram dan damai serta sabar dalam menghadapi cobaan hidup.

 

 

*Bercerminlah Kepada Orang Yang Mendapat Cobaan

 

 

Pernahkah kita ngerasa jadi orang paling apes sedunia?
Jadi orang paling menderita sedunia?
Jadi orang paling teraniaya sedunia?

Well, sudahkah kita tengok ke kanan kiri kita?
Bukan cuma kita doang yang apes, menderita atau teraniaya.
Tetangga kita mungkin punya masalah lebih berat dari kita.

Kita masih bisa keluyuran ke mall, sedangkan ada teman kita yang nggak bisa kemana-mana karena harus jagain ibu atau ayahnya yang stroke.

Kita diomelin terus sama orangtua dan seketika ngerasa sebagai anak paling apes dan menderita sedunia, dan langsung protes sama Allah, kenapa kita dikasih orangtua bawel macam ini.
Padahal di luar sana banyak anak yatim yang sama sekali nggak kenal orangtuanya, dan mereka berharap bisa punya orangtua, meskipun bawel sekalipun.

Kita nangis berhari-hari karena diputusin pacar (yang belum tentu jadi suami, dan kalaupun jadi suami juga belum tentu bisa ngebahagiain -_-) seolah dunia kiamat, padahal di luar sana ada orang yang nangis-nangis karena keluarganya dibantai dengan sadis sama perampok (amit-amit ya Allah).

Kita ngegalau karena nggak kebagian tiket konser padahal sudah nabung sejak tahun lalu (harga tiket 2jutaan /misal/), lalu ngeluh sebagai orang paling nggak beruntung sedunia dan rasanya pengin mati aja karena nggak bisa ketemu sama bias. Sementara itu ada sekeluarga yang nyaris mati kelaparan karena nggak punya uang buat beli makanan.

Aku ngeluh, kamu ngeluh, adikku ngeluh, semua ngeluh tentang hal-hal yang terbilang sepele. Ngegalau, nangis, sampai mau bunuh diri segala. Tapi apa kita ingat gimana penderitaan saudara-saudara kita di jalur Gaza?
Kira-kira mereka masih sempet mikirin pacar yang mendadak mutusin? Atau mereka sempet kepikiran konser EXO? Atau ngeluhin orangtua bawel (kemungkinan sudah meninggal terkena rudal Israel)?
Siapa yang paling menderita sekarang? Kita atau mereka?
Makanya aku muak sampai nyaris muntah ginjal dan pankreas waktu banyak orang berduyun-duyun nangisin Wu Yifan yang keluar dari EXO, yang berkabung waktu dengar kabar Baekhyun jadian sama Taeyeon, yang sedih waktu beberapa member EXO cidera, dan galau-galauan laiannya yang NGGAK PENTING BANGET SUMPAH!
Get a life, people!

Kita masih bisa bernafas itu sudah alhamdulillah. Jangan kotori jiwa dan pikiran dengan hal-hal yang nggak penting. Stop ngegalauin yang nggak ada manfaatnya sama sekali. Kalau setelah pacaran kok malah jadi banyak galaunya, YA PUTUS AJA! Case solved. Lagian pacaran itu haram.
Makanya aku mau minta Luhan ngelamar aku langsung, jadi nggak pake pacaran dulu.
#pleaseslapmehard #i’moutofcontrolagain

Seriusan deh, banyak banget orang yang menderita, yang mendapat ujian dan cobaan, dan yang menahan tekanan hidup.

Orang yang kehilangan anaknya. Anak yang kehilangan orangtuanya. Rumah yang kebakaran. Rumah yang kerampokan. Keluarga yang dibunuh masal. Orang-orang kelaparan. Orang-orang dengan penyakit kronis. Dan masih banyak lagi cobaan hidup yang mereka jalani, yang jauh lebih parah dari yang kita alami.

Kita nggak bisa menjamin bahwa si A bakal selamanya kaya raya. Dalam sekejap Allah bisa bikin dia jatuh sakit sehingga semua aset dan hartanya habis dipakai buat berobat, lalu pada akhirnya dia meninggal dalam keadaan miskin.
Jadi kita harus selalu lihat ke bawah kita, bahwa ada pihak-pihak yang lebih menderita dari kita. Karena kalau kita ngelihat ke atas terus, maka selamanya kita bakal negrasa kalau kita ini manusia paling menderita di dunia ini.

 

Ini beberapa kisah yang bisa jadi teladan bagi kita.

 

Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu contohnya, yakni ketika kafir mekah naruh kotoran onta di atas kepalanya, ketika kedua kakinya dicederai, ketika wajahnya dilukai, ketika diblokade lingkungannya hingga harus makan daun-daunan aja, ketika diusir dari mekah, ketika gerahamnya dipukul hingga pecah, ketika kehormatan istrinya yang mulia dicemarkan, ketika tujuh puluh sahabatnya terbunuh, dan ketika seorang puteranya dan sebagian besar puterinya meninggal pada saat perasaannya sedang senang-senangnya membelai mereka.bahkan untuk nahan lapar pun beliau harus mengikatkan batu di perutnya. Pernah dituduh pembohong, penyair, dukun bahkan gila –Allah melindunginya dari semua itu.
Seorang nabi pilihan Allah aja cobaannya sedemikian beratnya. Dan beliau sabar dan tegar hadapi semua itu. Nah, kita? Pffftttt. Baru kena seuprit ujian sudah heboh.
Sebelum nabi Muhammad, ada juga kisah cobaan hidup nabi lainnya.

Nabi Zakariya dibunuh kaumnya, Nabi Yahya dijagal, Musa diusir dan dikejar-kejar, dan Ibrahim dibakar hidup-hidup. Para khalifah pun dirundung bejibun cobaan. Ada yang dibunuh ketika sholat, para imam dicambuk, orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ditangkap dan dipenjara serta disiksa, dan masih banyak lagi.
Makanya kita harus baca tentang para nabi serta sahabat-sahabat Rosullullah dan juga para orang-orang alim. Jangan cuma taunya tentang artis-artis yang nggak bisa dijadiin panutan dalam hidup islami.

Apakah kamu kira bahwa kamu akan masuk surga,padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan).” (QS. Al-Baqarah: 214)

 

 

*

 

 

Sekian dulu, ya.

Sampai jumpa lagi lain waktu

Wassalamu alaikum

Kalau mau ngobrol sama aku, bisa di asianfanfics atau email  aku di   bee_majedah@yahoo.com. aku pasti balas (kalau ada quota. #pletak)

Advertisements