*-*

Assalamu alaiukum, Saudaraku seiman.
Kali ini aku mau ngelanjutin bahasan tentang isi buku yang lagi aku baca. Satu per satu sudah aku ungkap di postingan sebelumnya, berhubung masih banyak yang harus dibahas, yuk kita mulai belajar lagi.

 

*Enyahkan Waktu Luang Itu Dengan Berbuat

 

Dalam topik ini, dibahas tentang orang-orang yang lebih suka nganggur tanpa ada niatan untuk berbuat sesuatu yang berguna, entah bagi dirinya atau bagi orang lain.
Orang macam itu termasuk dalam jajaran orang-orang yang cuma demen berkasak-kusuk ria dan menebar kesesatan. Maklum lah, kan, hatinya sudah kusut masai mirip muka Jongin bangun tidur.

Kenapa menganggur itu berbahaya? Well, bayangin aja, deh. Ketika orang nggak berbuat alias nganggur ongkang-ongkang kaki, saat itulah yang paling membahayakan hati.
Kok, gitu? Ya, iya lah. Pas lagi nganggur nggak ada yang dikerjain, maka saat itulah kita bakal mikirin yang aneh-aneh. Entah itu nginget hal-hal yang bikin sedih, galau atau malah bikin bete dan jengkel.
Ngelamun di siang bolong sambil natap poster Baekhyun yang lagi nyengir, dan langsung aja galau tingkat Yoko terbang nyusul Bibi Lung waktu ingat kalau Baekhyun sudah mesra-mesraan sama Taeyeon. Nyiahahaha. Atau mendadak ingat mantan pacar yang nyakitin, atau masa-masa menyedihkan jaman dibully pas masih sekolah, dan masih banyak kenangan masa lalu yang bisa bikin murung dan bete seketika.

Usul si penulis buku sebagai berikut,
Pesan saya untuk diri pribadi saya dan untuk Anda adalah bahwa kita harus melakukan sesuatu yang berguna, daripada harus terlarut dalam hal-hal yang membunuh diri sendiri seperti itu. Sebab menghadirkan kembali masa lalu merupakan bentuk bunuh diri secara perlahan dan tersamar dengan obat yang sangat mematikan.”

Ada yang tahu nggak tentang sistem penyiksaan di penjara-penjara Cina eh Tiongkok (nurut Pak SBY) dengan cara meletakkan para tahanan di bawah pipa yang netesin air setetes demi setetes setiap detiknya. Sambil nunggu tetesan demi tetesan itu tahanan dipastiin sudah jadi gila. Setdah, boring banget itu. Aku yang di rumah cuma duduk sambil baca FF aja suka bosan dan jenuh banget, lha apa lagi kalau disuruh diam nungguin tetesan air.

Baca ini, deh. Kata-katanya kece.
Kepasifan adalah sebuah kelalaian, kekosongan adalah pencuri yang mencuri dengan paksa, sedangkan nalar Anda akan menjadi mangsa yang dicakar-cakar oleh ‘perang yang samar-samar’ ini.”

Oleh karena itu, Saudaraku, bangkitlah, lakukan shalat, banyak membaca (buku/bacaan yang BERMANFAAT #aliasbukanfanficcintayaoiyangyadongdanmpreg), bertasbih, dzikir, mengkaji Al-Qur’an dan Al-Hadits, menulis (hal-hal yang bisa menambah wawasan), beberes rumah, masak, ngasuh adik, dan bisa juga dengan jadiin diri kita bermanfaat bagi orang lain. Yang penting DILARANG NGANGGUR dan ngasih kesempatan buat ngelamunin yang nggak penting.

Ayo, mulai detik ini selalu sibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat biar kita terhindar dari nganggur yang hanya bikin kita ngelamun tanpa arti. Buat para pelajar, lebih baik pakai waktu kalian buat belajar dan meningkatkan potensi diri, baik akademis maupun spiritual. Jangan bangga kalau dapat NEM tinggi tapi pengetahuan dan pengamalan agamanya jongkok. Nggak seimbang itu namanya. Ilmu pengetahuan dan agama itu harus seiring sejalan, nggak boleh berat sebelah.
Buat yang sudah kerja, alangkah baiknya kalau memaksimalkan jam kerja dengan seprofesional mungkin dan yang pasti harus lillahi ta’ala, biar enjoy kerjanya. Hehehe. (padahal aku kerja full time sebagai ibu rumah tangga aja ngeluhnya nggak berkesudahan. #tabokdirisendiripakaigigiLuhan)

 

 

*Jangan Ikut-Ikutan

 

 

Ini penting banget buat para remaja yang mencari jati diri, dan juga buat orang-orang yang pengin diakuin orang lain.
Yup, it’s about trying to be somebody else. Alias meniru orang lain.
Jangan pernah memakai kepribadian orang lain dan jangan melebur dalam diri orang lain. Karena hal itu merupakan azab yang nggak akan pernah lekang.

Saking ngefansnya sama idolanya, sesorang bisa kehilangan jati dirinya. Pertama yang ditiru fans adalah fashion style idolanya. Lalu pelan-pelan merembet ke kebiasaan atau perilaku idolanya. Lama-lama jadi niru gesture dan gerak-gerik idolanya sampai akhirnya dia lupa siapa dirinya yang sebenarnya.
Biasanya yang terjebak dalam fenomena itu adalah pra-remaja dan remaja. Saking terjebaknya, nggak jarang para korban tersebut maksain diri biar semirip mungkin sama idolanya, bahkan ngotot banget kalau dirinya bersuara semerdu suara idolanya, atau bisa ngedance seluwes idolanya. Itu bikin ngakak sekaligus miris sebenarnya.
Jangan kaget kalau akhirnya kita sering lihat orang-orang tersebut bertindak dengan dibuat-buat, overacting, me-make over dirinya sampai jadinya malah mirip ondel-ondel kecebur empang alias norak-norak bergembira, dan akhirnya bikin dirinya nggak dikenali lagi. Seremnya lagi ya kalau sampai nekat operasi plastik biar bentuk bibirnya kayak D.O, takutnya ntar dia pakai ban serep terus ditempelin ke mulut. Hehehehe. (digigitKyungsoo).

Kita seharusnya mencintai diri kita apa adanya, karena Allah nyiptain manusia, sejak Adam hingga manusia terakhir yang diciptakan-Nya itu sama sekali nggak ada yang sama persis. Masing-masing dari kita adalah the one and only. Kalau mirip-mirip sih banyak, tapi yang sama persis, itu nggak ada. Bahkan kembar identik sekalipun. Biarpun muka sama persis, pasti ada hal-hal yang bikin mereka beda. Entah dari tahi lalat, bentuk cuping hidung, bentuk kuping, deretan gigi, dan yang pasti karakter dan kepribadian mereka sangat berbeda.

Keunikan kita adalah anugerah yang bikin kita dikenali. Kita ini bukan robot yang diprogram dengan sistem yang sama. Kita ini berbeda satu sama lain, dan itulah yang menunjukkan siapa diri kita.
Karenanya, jangan maksain diri buat niru, ngejiplak dan larut dalam kepribadian orang lain. Berjalanlah dengan semua kemampuan dirimu sendiri. Orang mau suka ya syukur, nggak suka ya peduli amat. Yang penting kita nggak berbuat maksiat, nggak nyakitin perasaan orang (jangan kayak aku yang sudah nyakitin perasaan Taoris Shipper dan para penikmat FF mpreg #pletak).

 

 

*Qadha’ dan Qadar

 

 

Tiada suatu bencana yang menimpa bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan dia telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadid: 22)

 

“Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.’” (QS. At-Taubah: 51)

 

Itulah yang dinamakan takdir. Semua sudah ditentukan oleh Allah, bahkan sebelum kita dilahirkan di dunia. Sekuat apapun kita berusaha ngerubah nasib, takdir nggak akan berubah.
Mungkin kita bisa ngerubah nasib kita dari yang miskin jadi kaya, tapi kita nggak bisa ngerubah waktu kematian kita.
Ujian.
Ujian hidup yang Allah beri ke tiap-tiap manusia Itu beda-beda. Kadang kita suka iri sama orang lain, tapi ternyata orang tersebut malah sudah muak sama hidupnya.

 

Misal, aku iri sama salah satu keluarga yang kaya raya. Tapi ternyata kekayaan mereka justru jadi ujian buat mereka, lho. Punya lima anak, tiga cowok dan dua cewek. Anak cowok yang sulung itu sakit jiwa, anak kedua yang juga cowok juga bermasalah dengan pikirannya, dan anak yang ketiga kerjaannya ngedrug dan main cewek. Anak yang cewek sempet nikah tapi ternyata ditipu dan akhirnya cerai. Anak cewek yang bungsu nikah dan terpaksa hidup sama mertua yang nyebelin. Si juragan meninggal dalam kondisi sakit parah sampai kurus kering dan duduk di kursi roda.
Itukah yang aku iriin?
Aku memang nggak kaya raya, tapi alhamdulillah nggak kekurangan. Tapi kenapa aku masih sempat iri, ya?
Ujian hidup yang aku hadapi lain lagi. Kadang orang lain ngira aku bahagia, tapi Allah yang tahu apa yang aku rasain (dan beberapa teman deket aku, sih.).

Kita sekolah, belajar tiap hari bahkan sampai les ini itu demi apa? Demi dapat nilai bagus pas ujian, kan?
Kalau habis ujian kita dapat nilai bagus, hadiahnya adalah lulus dengan bangga.
Begitu pula dengan ujian hidup. Kita di dunia berlomba-lomba beramal baik demi dapat pahala, lalu datanglah ujian, ketika kita bisa menghadapi ujian dengan baik, maka hasil akhirnya adalah peningkatan derajat ke level masuk surga.
Oleh karena itu, jangan pernah ngegalau, gundah gulana karena penyakit, kematian yang semakin dekat, kerugian harta, atau rumah yang terbakar atau kemalingan. Karena semua itu adalah ketentuan Allah.
Mengutip tulisan Sang Author;
Qadha’-Nya telah diberlakukan, ikhtiar telah dilakukan, hak memilih tetap menjadi hak mutlak Allah, pahala telah diraih dan dosa telah dihapuskan. Maka berbahagialah rang-orang yang tertimpa musibah karena mereka bisa bersabar dan ridha kepada Yang Maha Mengambil, Yang maha Pemberi, Mengekang dan Maha Lapang.

Jangan nyalahin orang lain terhadap bencana yang terjadi. Karena semua bencana dan musibah berasal dari Allah. Berani menghujat Allah? Nggak, kan? Jadi hati-hatilah dalam menyikapi musibah.

 

Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki akan Dia lakukan.” (Al-Hadits)

*Sesungguhnya Setelah Kesulitan Ada Kemudahan

 

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan* Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan* Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)* Dan hanya kepada Tuhanmu-lah engkau berharap.” (QS. As-Syarh: 5-8)

Ketika kita ditimpa musibah, entah yang berskala kecil ataupun yang berskala besar, satu-satunya tempat kita memohon dan berahap hanyalah kepada Allah semata. Karena musibah tersebut datangnya dari Dia, ya, kan?

Dan Allah nggak akan membebani hamba-Nya dengan cobaan yang nggak bisa dipikulnya. Wong itu jelas-jelas disebut di Al-Qur’an, kok.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. Al-Baqarah: 286)

Oleh karena itu jangan pernah putus asa dan terhimpit oleh keadaan. Satu keadaan nggak mungkin bertahan dalam waktu yang terlalu lama. Pasti bakal selesai dan berlalu. Ibarat Badai Pasti Berlalu gitu, hehehehehe.
Aku memang belum pernah (jangan sampai, ya Allah) berada dalam suatu kondisi yang sangat memberatkan dan bikin stres akut. Tapi aku sudah banyak ngeluh, kurang mensyukuri nikmat dan mengharapkan apa yang nggak aku punya.

Ah, aku memang wajib membenahi diri.
Jangan tiru aku ya teman-teman, hehehe.

 

*Buatlah Minuman Yang Manis dari Buah Lemon

 

 

Sering banget kita terpuruk dan down banget sampai nggak jarang yang sampai nekat bunuh diri karena nggak sanggup menanggung cobaan yang berat dan bertubi-tubi. Jangan sampai, ya, kita termasuk orang-orang bodoh seperti itu.
Dalam tiap cobaan dan kesulitan, pasti bisa kita ambil titik terangnya.
Seorang yang cerdik akan membuat kerugian itu menjadi keuntungan, sedangkan orang yang bodoh akan membuat satu musibah menjadi dua, berlipat ganda.” Itu kata penulis buku La Tahzan.

Contoh nyatanya sebagai berikut;

Rasulullah pernah terusir dari Mekah dan hijrah ke Madinah –yang kemudian kota itu menjadi salah satu kota yang diincar umat muslim di seluruh dunia.

Ahmad bin Hanbal pernah dipenjara, tapi ketika dalam penjara itu dia belajar dan akhirnya jadi imam sunnah.

Ibnu Taimiyyah juga dipenjara, tapi dari balik jeruji besi itu dia malah melahirkan banyak ilmu.

As-Sarakhsi dikurung di dasar sumur, tapi di tempat itu dia malah sukses ngarang buku sebanyak dua puluh jilid.

Banyak banget lah, contoh orang-orang yang terkena musibah tapi justru bisa memetik hikmah darinya dan menjadikannya sesuatu yang berharga.

Ada Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, bahkan Beethoven yang mendadak tuli pun masih bisa menggubah simfoni. Lantas, kenapa kita yang dapat cobaan nggak seberat orang-orang terkemuka tersebut malah down dan ngeluh terus bahkan sampai mikir pengin banget mati?

Ibarat seseorang ngasih kita segelas air lemon yang asem banget, lalu kita tersenyum dan nambahin beberapa sendok gula pasir (ditambah es batu makin enak) maka minuman itu bisa bikin kita segar. Seperti itulah kita harus menghadapi musibah. Kita cari sisi terangnya dan dimanfaatin dengan baik.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ada satu cerita dari penjara Perancis tentang dua orang tahanan. Yang satu optimis, sedangkan yang satunya lagi pesimis sebelum terjadi revolusi.
Dua-duanya sama-sama ngelongokin kepala dari jeruji penjara. Penyair yang optimis melihat bintang-bintang di langit dan tertawa, sedangkan yang pesimis melihat ke tanah yang berada di seberang penjara lalu menangis.
Lihat, kan, gimana bedanya orang yang melihat sisi terang dari suatu cobaan? Lihat sisi lain dari kesedihan, karena nggak semuanya menyedihkan. Pasti ada kebaikan, hasil yang baik, jalan keluar dan pahala.

 

*(Atau) Siapakan yang Memperkenankan (Doa) Orang yang Dalam Kesulitan Apabila Ia Berdoa

 

Kita mengadu ke siapa kalau lagi gelisah dan galau? Ketika kita dalam kesempitan dan kesusahan, kita memohon pertolongan sama siapa? Siapa yang jadi tempat bergantung semua makhluk, yang jadi tempat meminta baik dengan lisan maupun hati?
Siapa lagi kalau bukan Allah yang tiada Ilah selain Dia.

Sudah menjadi keharusan bagi kita buat berdoa kepada Allah dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan mudah maupun sulit dan kita juga bisa keluarin semua unek-unek kita ketika sedang tertekan dan butuh pendengar yang baik. Kita memang sudah seharusnya bersimpuh memohon pada-Nya sambil menangis dan merendahkan diri meminta ampunan-Nya. Sooner or later, permohonan kita pasti dikabulin, asalkan kita nggak putus asa dan terus berdoa serta berbaik sangka kepada Allah. Pasti suatu saat akan datang pertolongan dan rahmat-Nya.

Atau siapakah yang memoerkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya.” (QS. An-Naml: 62)
Jawabannya sudah jelas lah. Allah yang nyelametin orang yang tenggelam, yang ngasih jalan keluar kepada orang yang dilanda kesulitan, yang menolong orang yang dizholimi, memberi petunjuk pada orang yang tersesat, nyembuhin orang yang sakit.
Aku pernah merinding waktu liat tayangan di salah satu acara di tv tentang korban-korban yang selamat dari bencana. Ada bayi yang masih hidup meski tertindih reruntuhan rumah akibat gempa, orang yang selamat dari kapal tenggelam dan terapung-apung di laut sampai akhirnya ditemuin, dan macam-macam deh. SubhanAllah.

Dan doa orang-orang yang teraniaya sering banget dikabulkan. Misal, doa orang yang disiksa karena perbuatan yang nggak pernah dilakukannya, orang miskin yang kelaparan, orang yang tersesat di hutan atau pegunungan, orang yang terlibat hutang tapi nggak punya uang, atau orangtua yang diperlakukan nggak baik oleh anak-anaknya. Makanya kita harus hati-hati jangan sampai nyakitin perasaan orangtua, karena kalau mereka marah dan ngutuk kita, pasti deh dikabulin. Ya, meski nggak jadi batu juga kayak malin kundang, sih. Hehehehe.

Bedoalah kamu kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Jangan bosan berdoa, ya. Buat yang lagi berada di tengah-tengah konflik orangtua, jangan berhenti meminta pada Allah agar mereka diberi hidayah dan kembali rukun. Buat yang orangtuanya cuek dan nggak ngurusin perasaan anak-anaknya juga perlu didoain biar berubah, tapi kita juga harus berbuat. Cari solusi dan berikhtiar, dan itu dibarengi doa yang nggak putus-putus, insyaAllah pasti dikasih jalan keluarnya. Amin.

 

*Rumah yang Ada Sudah Cukup

 

Banyak banget dari kita yang nggak betah di dalam rumah, kan?
Aku dulu pas masih sekolah itu paling nggak betah kalau di rumah, bawaannya pengin keluar dari rumah. Well, itu karena di dalam rumah aku nggak bebas. Serba nggak boleh gitu.
Tapi untungnya aku berteman sama teman-teman yang baik, bukan tipe yang nakal dan berandalan. Jadi kalaupun keluar dari rumah ya ntar masuk rumah lagi. Main ke rumah teman, beli jajanan dan nonton film india bareng. Hehehehe.

Dalam topik ini dijelasin tentang bagaimana kita menjauhkan diri dari kejahatan dan pelakunya, dari orang-orang yang nggak punya aktivitas apapun, dari orang-orang yang lalai, dari orang-orang yang sembrono. Dengan menjauhi tipe orang-orang seperti itu, kita bakal lebih tenang dan damai.
Bayangin aja kalau kita kumpul bareng orang-orang yang suka ngegosip dan ngomongin aib orang lain? Berapa banyak dosa kita nambahnya.
Kita disuruh pintar-pintar memilih perkumpulan. Jangan asal ngumpul aja. Karena perkumpulan yang buruk bakal bikin kita dicap buruk juga. Itu sebabnya kita disuruh berkumpul sama orang-orang sholeh yang pembicaraan mereka hanya berpusat pada peningkatan keimanan dan ketakwaan serta menambah wawasan dalam ilmu keagamaan dan juga berakhlak mulia. Kalau kita nggak nemu perkumpulan kayak gitu, lebih baik kita ndeprok di rumah aja. Untuk meminimalisir perbuatan dan ucapan maksiat gitu.

Dengan anteng di rumah (di luar urusan belajar dan kerja, lho, ya) kita mendapati hati kita kembali ke kita, waktu dan umur kita juga terhindar dari kesia-siaan, lidah terhindar dari menggosip, hati juga jadi jauh dari keruwetan, telinga kita terjauh dari ucapan kotor, dan jiwa pun terhindar dari berburuk sangka. Sekali lagi, pintar-pintarlah mencari teman duduk yang baik. Good luck.

 

*Ganti Itu Dari Allah

 

Allah nggak akan ngambil sesuatu dari kita kecuali buat menggantinya dengan yang lebih baik, dengan syarat kita kudu sabar dan mengharap keridhaan-Nya.

Barangsiapa yang Aku ambil dua kekasihnya (matanya) kemudian dia sabar, maka Aku akan ganti kedua(mata)nya dengan surga.” (Al-Hadits)
Barangsiapa yang Aku ambil orang pilihannya di dunia kemudian dia mengharapkan ridha(Ku) Aku akan ganti dia dengan surga.” (Al-Hadits)
Barangsiapa uang kehilangan anaknya maka di alam keabadian nanti akan dibangun Baitul Hamd (Rumah Pujian) untuknya.

 

Makanya kita nggak boleh terlalu resah dengan semua musibah yang menimpa sebab Allah yang nentuin semua itu punya surga, pahala, pengganti dan ganjaran yang besar.

Kita telaah lagi deh betapa besarnya cobaan-cobaan orang-orang sholeh. Kita cek dulu dari para nabi dan rosul, deh.
Nabi Ayyub yang tadinya kaya raya dengan banyak anak itu dapat cobaan bertubi-tubi, dari yang mulai hartanya habis sampai anak-anaknya meninggal semua, ditambah penyakit yang dideritanya, dia bersabar dan terus beribadah dan berdoa, dan surga sudah jadi jaminannya.

Nabi Yunus yang ditelan ikan paus. Nabi Yusuf yang dibuang saudara-saudaranya dan sempat difitnah hingga dipenjara sekian lamanya.

Nabi Ibrahim yang dibakar hidup-hidup. Nabi Muhammad yang sedemikian banyaknya cobaannya. Tapi mereka semua bersabar hingga Allah menjanjikan surga-Nya.

Nah, kita?
Kita ini siapa? Kenapa kita kalau kena secuil musibah ngerasanya seolah kita adalah orang paling menderita? Padahal cobaan yang sedang kita hadapi cuma seujung upil nyamuk kalau dibandingin sama ujian yang dialami orang lain.

Selamat atasmu karena kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 24)

Wajib kita tanamkan dalam hati dan pikiran kita bahwa di balik musibah itu pasti ada ganti, balasan yang baik dan kebaikan.

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157)
Dan itu artinya, ucapan selamat terhadap orang-orang yang mendapat musibah dan kabar gembira bagi orang-orang yang mendapat bencana.

Orang yang dapat musibah atau bencana dan dia bersabar serta bertawakal, maka derajatnya akan ditingkatin dan sebagian dosa-dosanya terampuni. Dunia ini hanya persinggahan sementara. Jangan sampai kita terbelenggu di dalamnya dan lupa bahwa kita bakal kembali ke alam yang abadi, yaitu akhirat.

Apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik, lebih abadi, lebih utama, dan lebih mulia.

 

 

*

 

 

Semoga ulasan barusan bisa memberi pencerahan, ya. tema seperti ini bukan hanya bua tyang sudah uzur dan berumur. Tapi justru yang beginian lebih diperluin para remaja usia belia, karena berbuat baik dan beramal sholeh nggak harus nunggu tua. Makin cepat tahu itu lebih baik, jadi bisa lebih banyak ngumpulin pahala dan dapat ampunan serta bisa jadi contoh yang baik bagi orang-orang sekitar.

Terima kasih masih mau baca tulisan-tulisanku. Semoga Allah merahmati siapapun yang membaca ini dan bisa mengamalkannya. Amin.

Untuk bahasan selanjutnya, ditunggu aja ya.
Terima kasih lagi.

Wassalamu alaikum.

XOXO

Advertisements