-*-

 
Assalamu alaikum,
Ini adalah lanjutan dari yang sebelumnya. Semoga bermanfaat.

 

 

*) Biarkan Masa Depan Hingga Datang Dengan Sendirinya

 

 

Ini kalau dalam grammar bahasa inggris sudah termasuk Future Tense. Hehehe.
Kita seringkali bilang “aku akan begini, aku akan begitu, akan gini akan gitu banyak sekaliiii… semua semua semua…” eh, malah kebablasan.

Banyak banget usaha orang buat mengetahui apa yang bakal terjadi besok, bulan depan atau 20 tahun lagi. Saking keponya, nggak sedikit yang sampai nekat ke tukang ramal atau dukun.
Hellooooo…
Hari esok itu termasuk perkara gaib, dan hanya Allah yang tahu. Ngapain kita rempong mengira-ngira apa yang bakal terjadi nanti, dan malah lupa memaksimalkan hari ini. Memangnya siapa yang ngejamin besk kita masih hidup?
Kita sering berencana ini itu, besok mau ini, mau itu. Mau ke sini dan ke situ, dll, tapi begitu besok tiba, kita malah nggak ngejalanin hari seperti rencana awal kita. Sering, kan, kita berada dalam situasi kayak gitu?

Jadi kembali seperti pembahasan sebelumnya tentang ‘Hari Kita adalah Hari Ini’. Lupakan masa lalu, jangan pertanyakan esok hari, cukupjalani hari ini sebaik mungkin. Jangan percaya ramalan shio maupun zodiak atau ramalan garis tangan dan lain-lain, karena semua itu adalah akal-akalan setan yang menyesatkan kita dan menjerumuskan kita dalam kemusyrikan. Nauzubillah min dzalik.

Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya.” (QS. An-Nahl: 1)

 

*) Bagaimana Kita Menghadapi Kritikan Yang Pedas

 

 

 

Masalah kritikan pedas, aku jadi ngerasa nggak enak, karena dulu sering banget ngasih pendapat yang bikin orang sakit hati (masalah FF jenis tertentu dan shipper couple tertentu), semoga Allah ampuni aku dan orang-orang yang sakit hati itu mau maafin aku. Dan biar nggak makin banyak yang murka, maka semua postingan-postingan semcam itu aku delete saja.

Tapi yang dibahas di sini adalah tentang kritikan terhadap orang-orang yang unggul dalam ilmu, harta atau jabatan, misalnya.
Kritikan yang bernada mencemooh seringnya disebabkan rasa iri dan dengki. Misal, si A selalu dapat nilai tinggi dalam pelajaran, eh, si D malah ngatain si A nggak jujur lah, curang lah. Padahal si D hanya iri, kenapa dia yang belajar mati-matian, tapi masih saja kalah dari si A. ada juga yang dapat kenaikan jabatan dari bosnya, eh teman sekantornya bilangnya si pegawai itu penjilat lah, atau cari muka sama bosnya. Dan masih bejibun contoh lainnya. Entah kita pernah jadi korban kesirikan orang lain, atau kita adalah korban rasa sirik kita terhadap kesuksesan orang lain, coba kita renungkan lagi.
Semakin tinggi derajat dan posisi yang kita duduki, semakin pedas kritikan itu. Kita jangan terpancing, apalagi kalau kita ngamuk-ngamuk cuma gara-gara idola atau kesukaan kita dikritik. Plis deh, yang dikritik kan bukan kita, ngapain panas coba? Nggak banget, deh.
Yang pasti kita nggak mungkin bikin orang-orang itu bungkam, tapi kalau kita woles, cuek, dan anggap ocehan mereka itu nggak penting, mereka yang bakal dongkol dan akhirnya nyerah deh. Hehehe.

Katakanlah (kepada mereka): ‘Matilah kamu karena kemarahanmu itu’” (QS. Ali-Imran: 119)

Yang penting adalah apa yang kita lakukan itu nggak melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Toh, Allah Maha Tahu apa yang kita niatkan. Orang mau bilang apa ya terserah.

 

 

*) Jangan Menunggu Terima Kasih Dari Seseorang

 

 

 

Allah menciptakan hamba agar mereka mengingat-Nya, dan memberikan reseki kepada makhluk ciptaan-Nya agar makhluk itu bersyukur kepada-Nya. Tapi pada kenyataannya, justru banyak yang nyembah selain Dia, dan banyak yang bersyukur kepada selain Dia.

Pada dasarnya sifat ingkar, membangkang, ngeremehin dan kufur nikmat memang sudah jadi gejala umum pada manusia.

Makanya jangan heran kalau seringkali kebaikan kita nggak dianggap, dan campakkan budi baik yang sudah kita tunjukin. Nggak jarang kita malah dimusuhin dan dibenci. Dan semua itu adalah justru karena kita berbuat baik sama mereka.

Dan, mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya) kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka.” (QS. At-Taubah: 74)

 

Contoh paling umum adalah cerita tentang orangtua (ayah atau ibu) yang sudah memelihara anaknya. Dikasih makan, minum dan pakaian, disekolahin biar pintar, rela begadang demi bisa beliin, apa yang anaknya mau biar anaknya senang, dll.

Tapi yang terjadi ketika si anak sudah besar dan tambah kuat, si anak malah menjelma jadi ‘anjing yang galak’ kepada orangtuanya, menghina, melecehkan, cuek, congkak, ngebentak, ngelawan, dna banyak lagi sikap durhaka, baik dengan ucapan maupun tindakan.

Itu salah satu sikap nggak tahu terima kasih sama orangtua. Jujur saja, dulu aku juga ngelawan orangtua. Aku ngerasa mereka nggak ngertiin aku, semua serba dilarang, aku jadi bete dan jadi males sama mereka. Tapi sekarang setelah aku sendiri jadi ibu, aku tahu banget betapa besar pengorbanan jiwa dan raga seorang ibu dan seorang ayah.

 

Aku ngerasain nikmatnya (baca: sakitnya) kontraksi pas mau melahirkan. Luar biasa sakitnya. Belum lagi harus ngeden sekuat tenaga buat keluarin kepala bayi yang cukup besar itu. Setelah lahir, aku kudu begadang karena anakku rewel, kasih asi, jaga biar anakku nggak sering sakit dan lain-lain.
Makanya aku marah kalau anak-anakku ngelawan dan nggak nurut.
Dan apalagi sekarang aku lihat kondisi ayahku yang sakit parkinson, makin miris perasaanku. Segalak-galaknya dia, tapi dia nggak pernah telantarin kelima anaknya. Dia yang dulu ngedorong aku buat nulis cerita, tapi aku nggak nurut. Ternyata dia punya feel kalau aku ada bakat dalam bidang tulis menulis. Dia sangat peduli sama dunia pendidikan, dia bakal keluarin uang berapapun demi belajar, karena dia maniak banget baca buku, dan belajar. Mungkin itu yang nurun ke aku. Aku haus belajar.
Tapi dulu jaman aku masih remaja aku malah benci sama dia. Astagfirullah al adzim. Aku sudah durhaka.

Mamaku juga luar biasa sabarnya dan bawelnya. Ngurus lima anak sendirian tanpa bantuan siapapun. Dia rela lapar asal kami kenyang, dia rela nggak beli baju baru asal pas lebaran kami bisa pakai baju baru, dan banyak lagi.
Kita sebagai anak nggak mungkin bisa balas semua pengorbanan orangtua kita, Cuma satu yang bisa kita lakukan agar mereka masuk surga, yaitu do’a anak yang sholeh.
Kita memang jarang berterima kasih sama orangtua, tapi sebenarnya orangtua kita nggak mengharapkan ucapan terima kasih dari kita, karena mereka merawat kita dengan ikhlas dan penuh kasih sayang. Mereka memelihara kita lillahi ta’ala.

Nah, biar kita bisa berbuat kebaikan tanpa mengharap terima kasih dari orang lain, maka berbuatlah kebaikan dengan niatan lillah, sebab niat seperti itu akan membuat kita selalu ngerasa menang, dan dampak selanjutnya kita nggak akan ngerasa terusik oleh kebencian mereka.
Kita harus bersyukur kepada Allah karena kita bisa jadi orang yang berbuat baik, sementara mereka jadi orang yang jahat.

Be a good person and spread your kindness lillahi ta’ala. insyaAllah kita jadi hamba Allah yang ikhlas dan tawakal. Amin.

 

 

*) Berbuat Baik Kepada Orang lain Memberikan Kelegaan Di Dalam Dada

 

 

Pernah nggak kalian ngasih uang ke seorang yang kelihatannya butuh banget, lalu setelah lihat wajah penuh syukur orang itu, kalian ngerasa senang?

Itu salah satu efek berbuat baik kepada orang lain. Efek itu bakal lebih terasa lagi kalau kebaikan yang kita lakukan adalah di saat kita sedang kesusahan, hati kita akan merasa sejuk dan damai.
Berbuat baik itu bisa macam-macam bentuknya, memberi orang yang nggak punya, menolong orang yang didzalimi, bantu orang yang sengsara, memberi makan orang yang kelaparan, jenguk orang sakit, dan lain-lain, insyaAllah kita bakal ngerasa bahagia dan tentram.

Berbuat baik itu mudah. Tersenyum ramah kepada orang-orang yang miskin, secara moral adalah sedekah jariyah.

“…walaupun engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah yang berseri.” (Al Hadits)

Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 21)

 

-*-

 

 

a/n: ditunggu part III nya, ya. aku lagi baca bukunya. Sambil pelan-pelan aku tulis lagi kesan-kesanku dan inti pembahasannya. Semoga bisa menambah kebaikan bagi kalian, ya. see ya

 

wassalamu alaikum

Advertisements