-*-

Assalamu alaikum, teman-teman,

Aku mau sharing sesuatu, boleh?

Ini tentang sebuah buku best-seller di Timur Tengah pada tahun 2001-an. Kebetulan ayahku punya yang berbahasa arab dan yang terjemahan juga punya. Berhubung bahasa arabku sudah nggak secanggih dulu, maka daripada bingung lebih baik aku baca yang sudah disadur ke bahasa Indonesia.

Judul buku itu adalah La Tahzan yang artinya jangan bersedih. Dalam buku ini ada hal-hal yang terjadi dalam hidup kita yang biasanya bikin kita jadi sedih, galau, gelisah, khawatir dan ragu. Namun, kita disuruh untuk nggak merasakan semua perasaan itu dengan cara mengingat dan meyakinkan diri bahwa Allah selalu bersama kita, seperti Firman-Nya dalam surat At-Taubah ayat 40; “…ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, ‘Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad),…”
Gimana caranya biar kita nggak bersedih dan galau?
Yuk, silakan dibaca…

Aku sengaja pakai bahasa yang lebih santai, yang penting esensinya tetap terjaga.

 

 

*) Ya Allah!

 

 

Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rahman : 29)

Ketika kita terkena masalah, baik kecil maupun bear, yang terucap dari mulut kita adalah “Ya Allah!”. Ketika kita berdoa dan memohon apapun pada-Nya, kita pun menengadah dan lidah kita bergerak memanggil dan menyeru “Ya Allah!”.

Tapi kita lebih sering ingat Allah, berseru dan memohon pada-Nya hanya ketika sedang dilanda kesusahan.
Pas kita hepi, kenyang, banyak duit, shopping-shopping, nonton konser, dan hal-hal lainnya, kita cenderung lupa dan larut dalam euforia tersebut.


Padahal semua kebahagian dan kesenangan itu berasal dari Allah, kan?
Siapa yang ngasih rezeki sehingga kita bisa beli makanan enak? Bisa beli baju bagus? Bisa beli tiket konser sehingga bisa jejeritan memuja idola? Siapa coba? Mama? Papa? Bos?
Mereka hanya perantara. Karena sumbernya berasal dari Allah. Lantas kenapa kita malah lupa, ya? Astagfirullah.

Ingat selalu, teman-teman, hanya Allah pelindung kita, tempat kita bersandar dan bertawakal. Hanya Allah tempat kita meminta dan memohon. Hanya Allah sebaik-baik pelindung dan penolong.

 

 

*) Berpikir dan Bersyukurlah

 

 

Artinya, kita harus selalu ingat nikmat yang sudah Allah kasih ke kita.

Jika kamu menghitung nikmat Allah niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)

Mau tahu nikmat apa saja yang sering kita abaikan dan lupa kita syukuri?
Nikmat kesehatan di badan kita. Kita baru ngeh kalau kita sudah keburu sakit, kan? Pas lagi sehat wal afiat, kita lupa bersyukur, pas sakit langsung ngeluh.
Ada nikmat keamanan dalam negeri kita. Apa jadinya kita kalau hidup di Gaza? Afghanistan? Irak? Suriah? Alhamdulillah kita nggak hidup di daerah konflik seperti itu, yang tiap detiknya hidup mereka terancam.
Ada pula nikmat sandang dan pangan. Biarpun hanya nasi dan tempe goreng plus kecap, kita wajib syukuri. Masih banyak yang makan segenggam nasi pun nggak mampu, lho. Baju kita juga bagus-bagus walaupun bukan brand ternama yang harganya jutaan, tapi yang penting kita punya baju buat nutup aurat kita. Gimana kalau kita hidup di pedalaman hutan dan hanya pakai dedaunan buat penutup badan? Jadi tarzan dong ya. hehehe.
Begitu pula nikmat udara dan air serta sumber alam lainnya.
Kita sebenarnya memiliki dunia tapi nggak pernah ngerasa memilikinya. Kita nguasain kehidupan tapi nggak menyadarinya.

Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.” (QS. Luqman: 20)

Nggak usah jauh-jauh lihat nikmat yang dirasain orang lain, deh. Kita lihat tubuh kita.
Dua mata yang bisa melihat. Bukankah itu suatu nikmat? Kita bisa lihat ganteng dan cantiknya bias kita, bisa lihat keindahan alam ini dan bisa baca postingan-postingan di blog ini. Hehehehe.
Kira-kira kita sanggup nggak kalau tiba-tiba penglihatan kita diambil dan kita pun buta?
Maka syukurilah nikmat penglihatan itu dengan cara menjaga pandangan. Yang tadinya suka lihat yang yadong-yadong, coba dihentikan.

Dua telinga yang bisa mendengar. Kita bisa dengar suara-suara merdu bias kita (walaupun ada yang nggak merdu, tapi kan bias sih ya. hehe). Tapi alangkah baiknya jika telinga kita dipakai untuk mendengarkan lantunan firman-firman Allah yang luar biasa indahnya, ngalahin syair maupun lirik lagu manapun di dunia ini. Kita pakai kuping kita ini buat dengerin kata-kata yang baik. Karena apa yang kita dengar pun akan dipertanggung jawabkan nantinya.

Mulut beserta aksesorisnya. Kita bisa bicara, makan dan minum merupakan suatu kenikmatan tiada tara. Pernah sariawan, kan? Kira-kira buat makan enak, nggak? Terus kalau sakit gigi? Nggak nafsu makan, yang ada malah nafsu gampar orang yang berisik di dekat kita.
Tapi kita lupa bersyukur dan malah ngeluh, “Ih, kenapa gigi gue nggak seimut gigi Xiumin?”, “ Kapan sih bibir gue bisa kayak bibir Luhan?”, “Alhamdulillah, gigi dan bibir gue nggak kayak Yifan,” (Yang ini baru bersyukur kayaknya. LOL)
Maka syukuri nikmat ini dengan menjaga ucapan dan makanan serta minuman yang masuk ke dalam mulut kita. Perbanyak zikir dan ngaji serta ucapan-ucapan yang baik biar mulut kita nggak terus-terusan dipakai buat ngucapin hal-hal yang nggak sopan dan buruk.

Apa kita pengin menukar mata kita dengan emas sebesar gunung?
Ada nggak dari kita yang pengin menukar pendengaran dengan intan permata?
Apa mungkin kita mau beli istana-istana megah dengan lidah kita lalu kita jadi bisu?
Apa kita akan menukar kedua tangan kita dengan untaian mutiara lalu setelah itu kita buntung?

Nah, lihat kan, dengan semua itu sebenarnya kita berada dalam kenikmatan dan karunia yang nggak terhitung. Andai satu saja kenikmatan fisik itu dicabut, apa kita sanggup?

Tapi sayangnya, kita justru nggak ngerti dan nggak paham. Kita malah memilih hidup dengan resah, galau, suntuk, sedih dan merana. Padahal kita masih punya nasi pulen hangat, air segar dan bersih, bisa tidur dengan nyenyak di ranjang yang empuk, serta sehat lahir dan batin. Kita malah mikirin yang nggak ada, sementara yang ada malah nggak disyukuri.

Kita terguncang dan terpuruk karena satu masalah, misal kehilangan harta atau benda. Padahal kita masih memegang kunci kebahagiaan; kita masih punya banyak kebaikan, karunia, kenikmatan, dan lain-lain.
Think about it, and be thankful.

Aku pun menyadari bahwa selama ini aku kurang bersyukur. Sudah laku di usia dini, dan dapat suami yang Alhamdulillah bertanggungjawab, meski nggak romantis. Tapi aku malah berharap suamiku itu orang lain. Padahal belum tentu Luhan, atau Donghae atau Yoochun atau Suga bisa jadi imam yang baik buatku #pletak
Suamiku bukan tipe yang kasar, pelit, dan kejam, tapi aku nggak bersyukur dan malah ngarepin yang nggak mungkin. Ya, aku begitu bodoh. insyaAllah dengan membaca buku La Tahzan itu aku bisa lebih waras dan nrimo, amin.

 

 

*) Yang Berlalu, Ada Di Belakang

 

 

Ini, nih, yang sering kita lakuin. Mengingat-ingat masa lalu.
Aku pengin ngulang masa-masa sekolahku. Aku pengin punya mesin waktu biar bisa ke masa lalu dan ubah masa kini. Tapi itu hanya berlaku kalau kita punya Doraemon. Hahahaha. Intinya, semua itu hanya ada dalam film.
Tiap detik yang terlewati, itu nggak akan bisa kita ulang lagi.

Makanya bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu itu harus dilipat dan nggak usah dilihat lagi. Disimpan dalam kegelapan pikiran dan jangan dicari lagi. Yang berlalu biarlah berlalu.

Masa lalu itu sudah nggak ada, jadi jangan sekali-sekali hidup dalam mimpi buruk masa lalu, karena apapun yang sudah terjadi di masa lalu, baik atau buruk, itu sudah selesai.

Istilah buat orang yang berusaha kembali ke masa lalu adalah seperti orang yang menumbuk tepung atau menggergaji serbuk kayu. Useless and stupid.
Orang yang waras pikirannya nggak akan pernah menoleh ke belakang. Hidup selalu bergerak ke depan.
Keep that ini mind, my lovely friends.

 

 

*) Hari Kita Adalah Hari Ini

 

 

 

Bahasan ini tentang wasting our precious time. Seperti yang tertuang dalam surat Al-Ashr ayat 1-3, “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”

Tanpa kita sadari, dalam 24 jam sehari kita lebih banyak lakuin hal-hal yang sia-sia, lho. Mau contoh?

Spazzingin idola. Ngafalin lagu-lagu. Nonton drama secara maraton. Ngerumpi. Bbm, chatting, twitteran, dll(dengan ngebahas yang nggak penting). Baca bacaan yang nggak nambah ilmu dan nggak memberi manfaat. Ngelamun, dan lain-lain.
Kita cuma lewatin hari tanpa memberi manfaat bagi diri kita (untuk akhirat) maupun bagi orang lain. Tiap menit yang berlalu nggak akan terulang, dan kita malah terlena dalam kegiatan-kegiatan yang useless banget.

Harus kita tanamkan dalam benak kita bahwa pada hari ini kita hidup, bukan kemarin yang sudah lewat atau pun hari esok yang belum tentu kita alami. Jadi hari kita ya hari ini.
Anggap saja umur kita cuma sehari. Seakan-akan kita lahir hari ini dan bakal mati hari ini juga.
Pagi lahir, malam mati, kurang lebih begitu.

Oleh karena itu kita seharusnya curahin segala upaya kita untuk manfaatin hari ini. Nggak usah ingat kemarin, dan nggak usah ngarepin besok.
Just today.
Hari ini kita sempurnain sholat kita, kita perbaiki bacaan Quran kita dan kita perdalam maknanya, dzikir sepenuh hati, berbuat baik pada orang lain, perhatiin jiwa dan raga, mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, membaca bacaan yang bermanfaat, mengikuti majlis ta’lim, bersedekah, dan banyak lagi perbuatan baik lainnya.

So, remember that OUR DAY IS TODAY.

 

 

-*-

 

 

a/n: Ini baru part pertama. Insyallah aku bisa lanjutin ke part-part berikutnya, dan mudah-mudahan ada yang baca. Mari kita jadikan diri kita pribadi yang taat dan penuh iman dan taqwa. Kita bersama-sama menjadi hamba Allah yang ikhlas dan tawakal. Amin.

Advertisements