*

 
*^*

a/n: Hola! Aku tiba-tiba kembali lagi dengan FF baru. Yup, FF KRISLAY terbaru. Hohoho. Sebagian besar dari kisah ini terjadi di kehidupan nyata, alias kehidupanku sendiri hehehe. Seperti biasa, aku selalu ngangkat tema yang simpel jadi sebuah cerita yang mengademkan hati wkwkwkwkw. semoga nggak mengecewakan ya. Plis plis plis pada komen dan kasih kesan-kesannya ya.

*^*

Akhirnya sampai juga ke ‘home sweet home’ gue. Seharian ngejogrok di kantor ngadepin manajer bawel dan rekan kerja yang bau ketek benar-benar bikin gue nyaris pingsan saking stresnya.
Rumah… tempat gue pulang dan istirahat. Tempat dimana gue bisa bebas dari tekanan hiruk pikuk tempat kerja yang super sibuk.
Biasanya gue sampai rumah itu jam 6 sore, tapi berhubung hari ini akhir bulan, maka gue terpaksa pulang jam 8 malam, dan baru sampai rumah sekitar jam 9 kurang.

Sofa kesayangan gue sudah lambai-lambai jablai gitu waktu gue masuk ruang keluarga. Dan lambaian itu nggak gue abaikan. Tubuh keren gue langsung menyambut uluran cintanya. Dan gue pun ngegelosor di atas permukaannya yang empuk, lembut dan agak bau susu basi.

HAH, APA? SUSU BASI?

Gue segera duduk dan mulai endus-endus sekujur tubuh sofa tercinta. BUSET! Pasti, deh, dia numpahin susu di sini. Alamat, deh, gue bakal keluar duit buat nyuci sofa ini.

Karena mual gara-gara bau basi itu, gue langsung saja ke kamar mandi dan sekalian bersihin tubuh gue yang aromanya campur-campur ini.

Dengan sehelai handuk melingkar di pinggang, gue keluyuran dulu ke dapur buat ambil face tonic dan serum buat menyegarkan dan menutrisi kulit wajah gue biar awet muda selalu. Ah, so refreshing.

“Papa?”
“Kyaaaaaa!” sialan. Gue kira tuyul.
“Teriaknya kayak mbak-mbak,” komentarnya dengan ekspresi datar.
“Ya, ampun, Yixing. Papa, kan, kaget tiba-tiba ada suara cempreng manggil-manggil di tengah kegalapan yang mencekam ini,” gue tepuk-tepuk dada gue. Dia cuma kedip-kedipin mata belonya. “Eh, kenapa kamu belum tidur?”
“Nggak bisa tidur, Pa,” jawabnya sambil lendotin kaki panjang gue.
“Kakakmu mana? Memangnya dia nggak ngelonin kamu?” gue angkat dan gendong dia, nggak lupa cium pipi tembemnya.
“Lulu tadi nemenin aku tidur, tapi malah dia yang tidur duluan,” ucapnya dengan nada lucu, bikin gue gemas dan cium pipinya lagi. “aku nggak bisa tidur, Pa. Aku mau tidur sama Papa aja, ya,” ah, suara imutnya memang ngegemesin. Nggak heran, sih, siapa dulu papanya (kibas poni).

“Ya, sudah, malam ini saja Papa bolehin kamu tidur ngesuk-ngesuk Papa. Tapi jangan ngompol,” ancam gue sambil pura-pura galak.
“Papa. Aku sudah nggak ngompol dari waktu di TK A,” protesnya sambil jewer kuping gue yang bolong-bolong bekas tindikan. Gue terkekeh dan turunin dia di ranjang king size gue. Dia duduk sambil peluk bantal dan dengan mata beningnya dia merhatiin gue yang lagi milih piyama.
“Yixing, ayo tidur! Besok kamu sekolah, lho.”
“aku mau ditemenin Papa,” dia ngotot. Dan gue cuma bisa menghela nafas.
Setelah selesai pakai piyama, gue pun matiin lampu dan biarin lampu tidur menyala. Lalu gue naik ke ranjang dan rebahan di sebelah anak bungsu gue yang baru berumur 6 tahun.

Kelopak mata gue makin berat, seolah dipakai gelayutan Yixing dan Luhan (anak sulung gue yang pecicilan kayak bola bekel), pelan-pelan tingkat kesadaran gue mulai menurun dan suara nafas lembut Yixing di sebelah gue terdengar makin jauh.
Gue nyaris masuk ngelewatin gerbang mimpi ketika suara cemprengnya itu ngagetin gue.
“Papa…”
“Bobo, dong, Xing,” gue memohon, sambil ngerengek pula. Tapi bocah berwajah tampan persis gue itu malah duduk dan manyun.
“Aku baru bisa tidur kalau Papa dongengin dulu,” katanya.
“Tapi Papa ngangtuk banget, Xing. Besok saja, ya, Nak,” lagi-lagi gue memohon sama bocah segede upil.
“But I can’t sleep, Papa,” matanya memohon.
Ugh, enough with that puppy face. “Fine, tapi nggak panjang, ya, ceritanya,” gue bikin kesepakatan sama anak gue.
Dia ngangguk setuju dan langsung tiduran lagi, siap-siap dengerin dongeng karangan gue.

“Judulnya apa, Pa? Tentang apa, Pa? ada berantem-berantemnya nggak, Pa?” yak, ini anak orang atau petasan renceng, ya? Gitu amat nanyanya.

“Papa mau cerita, tapi kamu janji nggak cerewet, oke?”
“Oke, Papa!” serunya dengan semangat.
“And the story begin. Somewhere in the outer space…”

“Judulnya apa, Pa?” potongnya suka-suka.
“Is it important?” dia ngangguk penuh keyakinan. “Well, judulnya… hmm… The Guardian Of The Galaxy?” jawab gue agak ragu.
“Kyaaaa. It’s an alien story. Yay!” ini anak sejak kapan jadi terobsesi sama alien stories, ya? Heran.
“Now, listen. Di angkasa luar yang begitu luas, terbentang berbagai gugusan bintang yang menyebar di mana-mana. Dari sekian juta bintang itu, terdapat sebuah gugusan bintang yang bernama Galaxy Exoperia…”
“Galak sih exo pria? Berarti isinya pria-pria galak, ya, Pa? Terus ada nggak yang exo perempuan, Pa?” komentar pertamanya sudah bikin kesal.
“Bukan galak sih, tapi galaksi. Dan itu Exoperia, bukan exo pria. Sudah, kamu dengerin Papa dulu, kalau sudah selesai baru komentar.”
Yixing menggumam dan gue pun ngelanjutin dongeng tentang penghuni galaksi.

“Galaxy Exoperia merupakan wilayah yang terdiri dari banyak bintang. Ada yang besar, ada juga yang kecil. Nah, di salah satu bintang tersebut ada penghuninya…”
“Serem, sih, Pa? bintangnya ada penghuninya,” selanya lagi, tapi kali ini dengan mata terbelalak.
“Serem dari mananya, Xing?”
“Itu bintangnya pasti sudah lama nggak ditinggali, sampai ada hantunya. Angker, ya, Pa?”
Gue tepok jidat. “Ya, ampun, Nak. Bukan penghuni macam hantu di rumah angker. Maksudnya itu bintangnya berpenduduk. Ada yang hidup dan tinggal di sana.”
“Papa kira aku bodoh, ya? biarpun aku baru kelas 1 SD, tapi aku nggak bisa dibohongin, Pa. mana mungkin bintang sekecil kutu bisa ada orangnya? Jangan bohong, deh, Pa. dosa, lho, Pa,” cegatnya tanpa ngasih gue kesempatan buat ngejelasin.

“Yixing,” gue tarik nafas dalam, buat nambah stok kesabaran gue, “bintang itu ukurannya ada yang besar banget, lebih besar dari kota ini juga banyak, kok. Tapi karena letaknya jauuuuuuh banget dari bumi makanya kelihatan imut kayak kaki semut.”

“Oh, bilang, dong, dari tadi. Terus siapa penduduknya? Alien hijau berlendir, ya?”
Gue tatap muka polos anak gue, dan gue jadi nggak yakin cerita gue bakal sampai endingnya, deh. Disela melulu, sih.
“Penduduk bintang yang bernama Exolight itu wujudnya sama seperti kita manusia bumi, tapi yang bikin mereka istimewa adalah…”
“Mereka berlendir. Betul, kan, Pa?” serobotnya. Lagi.
“Bukan, Xing. Bukan berlendir, tapi panuan!” kesabaran gue makin menipis. “Dengerin dulu, sih, Nak.” Gue pencet pelan hidungnya.
“Jadi yang bikin mereka beda dari manusia bumi adalah, mereka punya kelebihan. Ada yang bisa menghasilkan api dari tubuhnya, ada yang bisa mengalirkan air dari ujung-ujung jemarinya, ada juga yang bisa berpindah tempat dalam sekejap dan menggerakkan benda hanya dengan kekuatan pikiran.”

“Wow, pasti keren, ya, Pa? Terus, terus?”
“Di antara penduduk itu, ada seorang yang punya kelebihan berupa terbang dan juga menyemburkan api dari mulutnya, yang bernama Fan.”
“Fan? Kipas?”
“Bukan kipas, Xing.”
“Fan siapa, dong?”
“Fan saja.”
“Masa gitu namanya? Yang keren dong, Pa. Fan Damme atau Fan Helsing, gitu.”
“Itu Van Damme dan Van Helsing. Itu lain lagi, Xing. Sudah, kamu dengerin saja sampai selesai,” serius, gue geregetan. Yixing cuma manggut-manggut sok ngerti.

“Fan itu anak seorang prajurit kerajaan. Jadi sejak masih kecil, dia sudah dilatih ayahnya untuk menjadi seorang prajurit perkasa yang bisa melindungi kerajaan dari musuh. Fan dan beberapa orang temannya membentuk satu kelompok yang mereka namai ‘The Guardian Of The Galaxy’”
Gue lirik anak gue, dahinya berkerut.
“Namanya kepanjangan, Pa.”
“Terus kamu sukanya gimana?”
“Kenapa nggak EXO aja?”
“Ah, itu mudah ditebak. Sudah, pokoknya itu namanya,” gue suruh dia diam. “Kelompok itu kalau digabung, dan kekuatan mereka dijadikan satu, maka mereka menjadi sangat tangguh dan tidak terkalahkan.”
Yixing kelihatan tertarik sama cerita gue.

“Suatu hari, Exolight menerima ancaman dari bintang lain yang berasal dari galaksi yang berbeda. Sebuah galaksi yang dikuasai kekuatan gelap dan jahat. Bintang tersebut bernama Galaxy Bangtan,” suara gue sengaja diserem-seremin, tapi…
“Hah? Galaxy Bantet?”
“Bangtan, Xing. Bang-Tan.” Anak gue ini budeg atau tulalit, sih?
“Oh, lalu?”
Gue kumpulin sisa-sisa kesabaran gue dan tarik nafas dalam. “Lalu, Fan dan teman-temannya itu mulai merencenakan strategi untuk melawan serangan pasukan dari Galaxy Bangtan yang dipimpin oleh seorang yang sangat kejam dan jahat, Rap Monster.”
“Jadi Exolight itu orang-orangnya kayak manusia, kalau Bangtan isinya monster, ya, Pa?”
“Iya, Xing,” gue usap pelan pipinya.

Gue lirik jam digital di samping ranjang, dan angka-angkanya nunjukin jam 10:07.

“Yixing, sudah jam sepuluh lebih, tidur, yuk,” ajak gue.
“Tapi, kan, Fan belum ngelawan monster, Pa. aku penasaran, Pa. Fan menang, nggak?”
“Papa lanjut besok malam, ya, Xing.”

Kedua alisnya nyureng dan mulutnya cemberut. “Papa pelit!” tiba-tiba dia tendang selimut, dan lompat dari ranjang lalu lari ke luar kamar.
“Yixing!” dan suara gue menguap tanpa balasan.

Gue mengerang kesal dan ngejar anak bungsu gue yang cerewet itu.
Ternyata dia masuk kamarnya dan sudah gulung tubuh mungilnya dalam selimut bergambar kartun favoritnya. Di sebelahnya, masih terlelap nyenyak kakaknya. Luhan, anak pertama gue yang umurnya 10 tahun.
“Papa janji, besok Papa lanjutin cerita galaxy fanfan, ya, Xing. Anak Papa yang paling pintar,” bisik gue ditelinganya dan kecup dahinya lembut.
“Promise?” matanya terbuka dan natap gue harap-harap cemas.
“I promise, Xing,” gue ngeyakinin dia. Lalu dia duduk dan peluk gue.

Gue tutup pintu kamar dan berjalan ke kamar gue.

Masih belum bisa gue pahami pikiran mantan istri gue yang lebih rela ninggalin dua anak kami yang luar biasa ini demi duda tajir yang sudah bau tanah. Padahal gue sudah berusaha buat bahagiain dia, tapi dia malah campakkan pernikahan kami dan telantarin anak-anak demi uang.
Well, there’s nothing else I can do about her choice. I tried my best, and now all I can and must do is raising and protecting my wonderful kids.

Sebelum kegelapan menculik gue, terbersit dalam benak gue tentang masa depan anak-anak gue. Luhan yang sporty, dan Yixing yang masih belum jelas apa bakatnya. Tapi gue bakal dukung apapun pilihan mereka nanti, selama mereka ada di jalur yang benar pastinya.

*^*

“Papa, wake up! We’ll be late for school, Papa.”
Sayup-sayup ada suara yang masuk ke kuping gue dan badan gue digoyang-goyang. Mata gue nolak buat melek, rasanya berat banget buat buka mata. Tapi suara itu terus masuk telinga gue tanpa berhenti. Gue terpaksa buka mata dan samar-samar gue lihat sosok bocah berdiri di samping ranjang.
“Papa! Bangun, dong. Sudah jam setengah tujuh lebih, nih. Nanti aku telat, Pa,” bocah itu bersungut-sungut. Tapi kenyataan jam sudah setengah tujuh itu bikin gue melek seketika dan duduk segera.
“Kenapa nggak bangunin Papa dari tadi, Luhan?”
“Papa yang susah dibangunin. Aku sudah bangunin dari setengah jam yang lalu. Buruan, Pa! Pakai bengong lagi.” Ampun deh, ini anak galak banget, sih?
“Yixing sudah bangun?”
“Sudah dari tadi. Sekarang dia lagi sarapan. Aku juga bikinin kopi buat Papa, makanya ayo bangun dan cepat gosok gigi sama cuci muka. Bau.” Dia tutup hidung. Hummph, belum nyium bau ketek teman kantor gue, sih, dia?

Gue turun dari ranjang nyaman gue dan mau nggak mau kudu move on darinya. Ah, my lovely bed… I’m gonna miss you.

Di meja makan duduklah dua jagoan gue yang lagi sarapan. Gue samperin si bungsu dan kecup keningnya.
“Morning,Xing.”
“Ih, Papa bau.”
Gue lirik galak Luhan yang ketawa cekikikan gara-gara celetukan jujur Yixing. Tanpa banyak ngomong lagi, gue ke kamar mandi, cuci muka dan gosok gigi. Semalam, kan, sudah mandi, jadi sekarang nggak usah mandi lagi, yang penting pakai deodoran yang banyak dan semportin parfum juga. No one will ever know.
“PAPA, HURRY UP!” jeritan khas Luhan sudah manggil.
“COMING,” sahut gue dari dalam kamar.
Dan buru-buru gue tenggak kopi gue yang sudah keburu dingin, sebelum nyusul anak-anak ke garasi.

Luhan sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan, Yixing duduk di belakang. Setelah pastiin semua sudah dibawa, termasuk bekal Yixing yang dibikinin Luhan, gue pun nyalain mesin mobil dan mulai melaju menantang ramainya jalan di pagi hari.

“Lulu, bu guru kamu galak, nggak? Bu guruku ada yang galak, deh. Aku nggak suka,” Yixing mulai beraksi.
“Pa, masa Yixing panggil aku Lulu, doang? Nggak sopan,” protesnya nggak terima.
“Yixing, panggil Luhan pakai ‘Kak’, dong. Dia lebih tua dari kamu,” gue berusaha menengahi.
“Kakak Luhan… Kak Luhan… Kak Lulu…” Yixing nyari panggilan yang paling enak rupanya.
“Kalu, Kalu, ada nggak bu guru kamu yang galak?”
“Heh, kok, Kalu, sih? Kak Luhan, Xing,” Luhan mulai angot galaknya, “Papa, bilangin, tuh.”

Nggak di rumah, nggak di mobil, selalu saja mereka ributin hal sepele. Sebelum Luhan makin parah galaknya dan Yixing nangis dan mogok nggak mau sekolah, dan akhirnya terpaksa gue ajak ke kantor, maka lebih baik gue alihin perhatian mereka dengan cerita tentang apa saja yang sekiranya menarik buat mereka.

Lima belas menit adalah waktu yang gue tempuh menuju sekolah anak-anak. Setelah peluk dan cium, mereka berlari masuk ke sekolah favorit itu. Dan gue pun berangkat ke kantor.

 


Hawa dingin AC menerpa wajah gue ketika masuk ke dalam lobi gedung tempat gue mengais rejeki demi seonggok uang. Meja resepsionis ada di depan gue, dan seorang cewek cantik berdiri dan membungkuk sopan sambil nyapa gue.
“Selamat pagi, Pak Wu,” sapanya dengan senyum termanisnya yang mungkin bisa bikin gigi senut-senut.
“Pagi, Yoona. Apa kabarmu pagi ini?” dan balas gue nggak kalah ramahnya.
Dia tersipu dan tertunduk malu, “Baik, Pak. Terima kasih.”
Sudah cantik, ramah, pemalu pula. Idaman para pria pokoknya.

Sesi basa-basinya sudah selesai, dan gue menuju lift. Di dalam lift gue disambut sama cowok muda yang imut-imut mirip marmut dibungkus selimut.
“Selamat pagi, Pak Wu,” ucapnya sopan tanpa lupa membungkuk.
Gue tepuk pundaknya pelan dan tersenyum, “Selamat pagi, Minseok. Sehat?”
“Sehat, Pak. Terima kasih. Bapak Sehat juga, kan?” balasnya.
Gue jawab apa adanya, dan dia cuma tersenyum.

Setelah ucapin terima kasih kepada Minseok, gue masuk ke ruangan gue setelah ngelewatin beberapa pegawai yang sudah stand-by di depan komputer masing-masing.

Di meja sudah ada setumpuk berkas yang harus gue periksa. Sumpah itu pekerjaan yang paling ngebetein. Kudu teliti dan ngecek semua data perusahaan sebelum gue tandatangani dan kemudian diserahin ke bos gue.
Baru selesai ngecek dua map berkas, pintu ruangan gue diketuk.
“Masuk.”
“Pagi, Pak,” orang itu masuk sambil nenteng beberapa map.
Not him, please. Baru juga mau mulai kerja tapi bocah ini sudah ganggu gue. Dengan bau keteknya. Padahal masih pagi, lho.
“Ya, Jongin. Ada file-file lagi yang harus saya tandatangani?” kata gue tanpa nafas lewat hidung.
“Iya, Pak. Ini laporan transaksi dengan perusahaan dari Hongkong yang kemarin itu, Pak,” jawabnya sambil deketin gue dan taruh map itu ke meja. Lalu sudah. Dia berdiri saja di situ.
“Umm… Jongin, kamu bisa tunggu di luar. Nanti saya panggil kamu kalau sudah selesai saya tandatangani laporannya.”
“Saya tunggu di sini saja, Pak.”
“Tapi ini bakal lama, Jongin. Tunggu di luar saja, nanti saya suruh Eunji panggil kamu kalau saya sudah selesai, silakan,” usir gue secara halus. Akhirnya bawahan gue itu keluar juga. Dan begitu pintu menutup, langsung gue ambil pengharum ruangan dan semprot banyak-banyak.

Pintu terbuka lagi, dan gue hampir nyemprot Jongin. Ternyata bukan Jongin tapi pemilik perusahaan ini, alias bos gue.

“Pagi, Bos.”
“Yifan, nggak perlu manggil gue bos kali. Santai saja, nggak ada orang lain ini,” sahutnya santai sambil narik kursi dan duduk.
“Tapi, kan, lo bos gue, Myeon.” Gue tuang segelas jus dan gue sodorin ke Junmyeon, si eksekutif muda dari dinasti Kim.
Dia terkekeh setelah nyeruput minumannya, “Itu cuma jabatan, doang, Fan. Tapi status kita, kan, tetap sahabat sejati selamanya.”

Ya, dia memang sahabat gue sejak jaman SMP sampai SMA, tapi dia kuliah bisnis di Amerika, dan begitu pulang ke sini lagi, dia malah jadi pewaris utama kerajaan bisnis keluarga Kim yang terkenal kaya itu. Dan gue cuma bisa jadi asisten manajer di salah satu cabang perusahaannya.
“Fan, gimana kabar anak-anak lo?” tanyanya perhatian. Dia memang beberapa kali ke rumah dan ketemu sama Yixing dan Luhan.
“Mereka baik-baik saja, Myeon. Cuma, ya, itu… mereka sering berantem. Luhan nggak mau ngalah, dan Yixing mau menang sendiri plus cengeng,” di luar kemauan gue, curhatan menye-menye itu pun meluncur dari mulut gue. Junmyeon tersenyum.
“Lo pasti repot banget ngurus mereka sendiri, Fan. Kenapa nggak nikah lagi saja? Paling nggak, kan, ada yang ngurus anak-anak dan bisa ngelayanin kebutuhan lo.”
Gue menghela nafas. “Jujur, gue beberapa kali sempat kepikiran itu, tapi lagi-lagi gue jadi takut begitu ingat apa yang sudah mantan istri gue lakuin, Myeon. Gue nggak pengin anak-anak disakitin lagi. Lo pasti paham maksud gue, kan? Nggak semudah itu gue mutusin buat nikah lagi, karena sekarang bukan cuma tentang gue saja, tapi tentang kebahagiaan Yixing dan Luhan juga. Itu yang paling penting malah.”
Sahabat sekaligus bos gue itu ngangguk. “Semua memang butuh proses, Fan. Tapi nggak ada salahnya lo nyari perempuan yang bukan cuma bisa mencintai lo, tapi juga mencintai anak-anak lo,” imbuhnya.
Gue tahu banget maksud baik Junmyeon. Dia nggak tega lihat gue kewalahan berperan sebagai ayah sekaligus ibu, karena itu sulit dan berat banget. Tapi gue nggak sudi disakiti lagi, gue nggak akan rela kalau anak-anak gue jadi korban lagi. Not a chance.

“Mungkin suatu hari nanti gue bakal nikah lagi, setelah Luhan dan Yixing lebih besar dan mandiri. Sekarang mereka masih dalam masa-masa rawan terhadap perubahan besar, takutnya itu bisa ngaruh pada kejiwaan mereka, Myeon. Kan, kasihan,” jelas gue. Junmyeon tersenyum lagi dan setuju sama pemikiran gue.

Lalu entah gimana, pembahasan tentang gue jadi merembet ke masalah keluhan gue tentang bau ketek Jongin. Junmyeon ngakaknya sampai merah wajahnya. Ternyata dia juga nyadar tentang polusi udara itu. Tapi dia nggak bisa berbuat apa-apa.

“Lo nggak pengin, kan, pegawai-pegawai lo yang lainnya pada ngundurin diri karena nggak sanggup bertahan?”
Junmyeon ngakak lagi, bahkan sampai nepuk-nepuk pahanya. “Lha, terus gue kudu gimana, Fan? Nggak mungkin juga kali bilang ke dia kalau keringatnya bau kuli bangunan yang nggak mandi seminggu?”
“Ya, cari ide, dong. Ngapain lo kuliah jauh-jauh ke Amerika tapi nggak bisa nemuin solusi buat bau ketek Jongin?”
“Nggak nyambung, woy! Lo kasih ide juga, dong, kan lo yang paling sering ngeluh.”

Bukannya kenapa-kenapa, sih, si Jongin itu orangnya rajin banget, giat, dan paling tepat waktu kalau datang ke kantor, tapi semua efisiensi kerjanya jadi terganggu dengan aroma yang menguar dari tubuhnya itu. Jujur, gue kasihan sama dia, tapi nggak tahu gimana caranya ngasih tahu tentang masalahnya itu tanpa nyinggung perasaannya.

“Hmm… eh, Myeon. Lo, kan, banyak duit.”
“Ya, begitulah. Kenapa memangnya? Lo mau minjem?”
“Heh, sok tahu. Gue mau ngusulin, gimana kalau lo adain sayembara gitu.”
“Sayembara macam apa, fan?”
“Jadi lo bikin pengumuman, barangsiapa yang dalam seminggu ini paling konsisten wanginya, maka dia bisa memenangkan hadiah utama. Terserah hadiahnya apa. Jam tangan emas Rolex atau kunci mobil Rolls Royce, atau uang tunjangan hari tua,” gue dengan pedenya ngusulin hadiah-hadiah mahal itu.
“Nggak semahal itu juga kali hadiahnya.” Dengusnya kesal. “Dan kalau yang nggak wangi maka bonus akhir tahunnya dipotong 10%, kalau yang bau banget malah nggak dikasih bonus akhir tahun. Gimana?”
“Boleh, boleh. Dengan begitu, Jongin bakal tergerak hatinya buat berendam parfum.”

Gue dan Junmyeon pun ber-high five-ria. Sungguh, kalau orang lain lihat kami, pasti mereka nggak nyangka kalau kami sudah sekitar 37 tahunan.
Setelah sepakat dengan ide sayembara aneh itu, Junmyeon pun pamit keluar dari ruangan gue.
Dan berkas-berkas serta laporan yang tadi terabaikan, kembali mendapat perhatian penuh gue.

 

 

Karena tugas gue sudah selesai, dan belum ada kerjaan lain, maka gue bisa pulang sebentar buat jemput anak-anak di sekolah.
Gedung sekolah yang megah itu benar-benar ngasih kesan prestisius, hanya orang berduit lebih saja yang bisa sekolah di situ. Tapi kenyataannya justru nggak begitu. Siapapun bisa jadi murid di sana. Karena sekolah ini lebih menitikberatkan pada pendidikan dan pengembangan bakat anak-anak, mau anak orang miskin maupun orang kaya, semua berhak dapat kesempatan. Dan, for your info, sekolah ini berada di bawah yayasan yang dibiayai perusahaan ayah Junmyeon, dan diterusin sama Junmyeon.

Gue tunggu di depan gerbang, nunggu murid-murid pada keluar. Dari sekian banyak murid sekolah dasar itu, gue bisa lihat dua jagoan gue yang naasnya lagi pada cemberut. Pasti mereka berantem lagi.

Luhan langsung buka pintu mobil, duduk dan tutup pintu dengan kerasnya. Di belakang, Yixing masuk dan duduk. Matanya berkaca-kaca.
“Ada ap…”
“Pa, Yixing malu-maluin banget. Dia nggak sopan sama temanku. Masa dia ludahin temanku, Pa. kurang ajar itu,” amuknya sambil melototin Yixing.
Yang dipelototin nggak terima dipojokin kayak gitu, dan dia pun nyolot ngebela diri.
“Temannya Kalu yang nakal, Pa. Masa bekalku diambil. Kan, aku masih lapar, Pa.”
“Cuma minta sepotong aja, kok. Lagian itu bekal, kan, aku yang bikin. Kamu pelitnya kebangetan, Xing.”
“Tapi dia, kan, bisa minta punya Kalu aja. Atau punya Sehun atau Tao. Jangan punyaku, dong!” balas Yixing sambil teriak.
“Tapi kamu nggak perlu ludahin dia, dong. Siapa, sih, yang ngajarin kamu? Pasti si kampungan Jongdae itu, kan? Pa, itu temannya Yixing bandel dan nggak sopan, sekarang Yixing jadi ikutan dia, tuh,” tuduhnya beringas.
“JONGDAE NGGAK NAKAL! CHANYEOL ITU YANG NAKAL! AKU BENCI KALU! AKU BENCI TEMAN-TEMAN KALU! HUAAAAAAAAA.” Dan badai tangis Yixing membahana.

“Luhan! Yixing! Tolong diam. Nanti kita bicarain ini di rumah, sekarang Papa mau nyetir, jadi jangan bikin Papa bingung,” tegas gue.
Yixing masih terisak, tapi sudah nggak sehisteris tadi. Dan Luhan makin cemberut.

 
Sesampainya di rumah, Luhan langsung masuk ke kamar dan gebrak pintu kuat-kuat. Andai gue nggak tahan diri, pasti sudah gue gampar itu anak. Tapi gue sudah janji nggak akan mukul anak-anak gue, senakal dan sebandel apapun mereka.

Akhirnya gue harus nanganin Yixing yang masih belum bisa move on dari kekesalannya terhadap kakaknya.

Karena kondisi anak-anak gue yang masih ngambek-ngambekan begini, maka nggak mungkin juga gue tinggalin mereka di rumah sendiri. Gue pun telepon kantor dan minta ijin buat kerja setengah hari saja.

 
Pizza delivery sudah sampai, dan buat mencairkan suasana yang nggak kondusif, lantaran si Luhan masih bete, dan Yixing yang keasikan ngerengek minta mobil-mobilan baru, gue pun puterin film animasi terbaru dari Pixar. Rio 2. Animasi tentang burung Blue Macau yang langka.

Sejalan dengan berlalunya adegan demi adegan dalam film itu, dan berkurangnya potongan pizza, tawa mereka mulai muncul. Gue lirik Luhan, dan dia sudah nggak manyun dan nyureng lagi. Yixing juga kelihatan asik dan lupa dengan insiden siang tadi.

Film pun berakhir bahagia bagi Blu dan Jewel beserta keluarga besarnya di pedalaman Amazon. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari film itu. Dan gue terus-terusan ngasih tahu anak-anak tentang makna dari film tersebut. Termasuk yang paling penting adalah kekeluargaan.
Dalam film itu memang lebih fokus kepada hubungan keluarga. Dan itu yang bisa dipelajari anak-anak gue.
Luhan dan Yixing mulai menguap. Padahal baru jam setengah delapan malam, tapi dua anak gue sudah kriyep-kriyep matanya. Setelah gue ajak mereka ke kamar mandi buat gosok gigi, mereka pun masuk kamar dan siap-siap tidur. Tadi pas sudah selesai gosok gigi, secara sukarela, Luhan minta maaf ke Yixing dan mereka berpelukan. Ternyata anak-anak lebih cepat nangkep pesan lewat animasi atau gambar daripada cuma dengan ucapan. Apalagi kalau dengan omelan, pasti nggak akan didengar.
Yixing sudah tiduran dengan boneka beruang kesayangannya dalam pelukan, “Papa, katanya mau lanjutin dongeng tadi malam?”
Ugh, kenapa gue harus janji lanjutin ceritanya malam ini, ya? sekarang dia nggak akan berhenti nuntut kalau belum gue tepatin janji.
“Dongeng apaan?” celetuk Luhan.
“Dongeng tentang prajurit galaksi, Kalu,” jawab Yixing bangga.
“Galaksi? Masih jaman, ya, Pa, dongeng macam itu?” dengus Luhan sarkastis. Kurang asem ini bocah. Mentang-mentang dulu gue dongengin dia pas jaman dia masih seumuran Yixing, sekarang dia anggap itu kuno.

“Tapi Yixing suka, kok, Luhan,” gue nyoba pertahanin harga diri gue sebagai ayah.
“Tapi aku nggak suka. Aku mau tidur, ah, good night, Papa, Yixing. Please, jangan berisik,” tegasnya sok bossy.

Akhirnya, gue lanjutin dongeng tentang makhluk galaksi itu sambil bisik-bisik di telinga Yixing, yang sedikit-sedikit menggeliat kegelian.

 

Dengkuran lembut Luhan terdengar merdu di telinga gue, hembusan nafas tenang Yixing bikin hati gue tentram dan damai.
Biarpun mereka sering bikin kepala gue nyaris meledak, tapi begitu lihat mereka tidur, gue jadi iba. Dua anak laki-laki tanpa dosa yang harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ibu.

Karena rasa cinta gue buat mereka terlalu besar, maka gue belum siap untuk berbagi cinta dengan wanita lain. Gue sudah bahagia, kok. Cukup Luhan dan Yixing yang sempurnain hidup gue.

Gue kecup dahi Yixing dan Luhan sebelum gue matiin lampu dan keluar dari kamar itu.
Apa yang akan gue hadapi esok hari adalah kuasa Ilahi, gue pasrah. Tapi hari ini adalah saat dimana gue berusaha yang terbaik, apapun nanti hasilnya, yang penting gue sudah berusaha maksimal. Semoga dengan usaha gue ini, masa depan anak-anak gue lebih baik dari gue. Jangan sampai mereka salah langkah atau salah mengambil keputusan. Tetapi, jika sampai mereka nggak sengaja terperosok, maka gue adalah orang pertama yang akan bantu mereka berdiri tegak lagi.
Kenapa?

Karena mereka adalah permata hati gue, tujuan hidup gue dan… they’re my life.

 

THE END

 

a/n: hueeeeeeeng, my kray feels. Hehehehe. Semoga kray shipper nggak kecewa, ya. aku memang sudah nggak mau nulis yang yaoi lagi, dan biar bisa kurangin feel kray yaoinya, maka aku bikin yang tipe family begini. Karakter Luhan di sini mirip banget sama karakter anak sulungku. Dan karakter Yixing di FF ini juga mirip karakter anak bungsuku. Yang satu galak, yang satunya cerewet dan cengeng. Hehehehe. Dan karakter Yifan sudah pasti adalah karakter aku sebagai ibu yang galak, rada nggak sabaran, tapi ngurusin anak tanpa bantuan orang lain, hehehehe. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari cerita ini, ya. maaf kalau kurang seru atau bagus.

Bye~

Nb: aku nggak tahu kapan bakal nulis FF lagi. Sepertinya FF ini adalah yang terakhir, untuk waktu yang belum ditentukan. Hehehe.

 

 

 

 

Advertisements