***

 

 

 

***

 

 

Minseok sedari pagi tampak begitu sibuk menyiapkan ini-itu bersama ibu dan kakaknya demi mempersiapkan pesta ulang tahunnya. Pesta kecil-kecilan saja, karena Minseok tidak begitu suka suasana terlalu ramai. Dia hanya mengundang keempat sahabatnya untuk ikut merayakan hari jadinya.

Seorang pria 28 tahun (yang sering keliru dikira usia 18 tahun) masuk dapur sambil mengangkat kotak minuman bersoda. Minseok yang sedang menata kue-kue di atas piring saji, menggumam terima kasih.
“Seok, apa lagi yang mau dibeli?” tanya kakaknya.
“Sudah pesan pizza, Kak? Empat loyang kurang nggak, ya?”
“Pesan lima loyang saja, Sungmin. Ibu takut kurang nanti. Kamu tahu sendiri gimana selera makan teman-teman adikmu ini,” ujarnya disela kekehan usilnya.
Minseok manyun dan Sungmin tergelak.
Pemuda yang berulang tahun itu menyetujui usul ibunya dan memesan lima loyang pizza ukuran large.

“Minnie! Gaun gue bagus nggak?” seorang gadis berambut lurus muncul sambil berpose centil.
“Ini pesta kecil-kecilan, , bukan acara kawinan, Sohee,” desah Minseok.
“Hellooo~ hari ini adalah hari di mana gue jadi sorotan dan pusat perhatian, jadi wajar dong, kalau gue dandan total,” gadis bermata sipit itu mengibaskan rambut indahnya.
“Terserah lo, aja. Gue sibuk. Sana, sana pake sanggul aja sekalian. Cewek itu memang ribet dan caper,” dengus pemuda berwajah bocah TK itu.
Sohee menjulurkan lidahnya kesal sebelum berbalik menuju kamarnya.

Minseok puas melihat nuansa ruang keluarga yang sudah dia dan kakaknya ubah menjadi ruangan pesta ulang tahunnya. Namun, gadis centil bersuara sedikit sengau itu mengeluhkan dekorasi yang kurang meriah. Minseok kesal dan menjitak kepalanya.
“Bantuin juga nggak, tapi banyak protes. Itu lipstik lo menor banget kayak tante-tante sebelah,” balasnya judes.
“Mami, Minseok ngatain aku kayak tante-tante,” rengeknya manja. Minseok menghela nafas dan memilih mengabaikan Sohee.
Sungmin si sulung menggeleng lelah melihat kelakuan dua orang itu.
“Kenapa Tuhan nguji aku dengan adik kembar yang ribut melulu kerjaannya? Dosa apa aku?”
“Kakak kira aku nggak bete apa? Mendingan aku punya adik macam Baekhyun yang pletak-pletik kayak belatung atau tengil kayak Sehun atau bahkan bandel kayak Kai daripada ngadepin cewek centil macam Sohee,” keluhnya meratapi nasib.
Sungmin terkekeh dan menepuk bahu adiknya.
Untung Sohee nggak dengar, batin si sulung.

Pukul 4 lebih, Minseok kedatangan tamu pertama, Yixing. Pemuda kalem dan penyabar itu membawa dua kotak kado untuk kakak beradik kembar itu.
“Happy birthday, Seokie. Dan mana Sohee?” mata teduhnya mencari gadis itu.
“Ngapain nyari cewek centil, narsis, ganjen nan alay itu?” desisnya.
Yixing hanya tergelak dan menepuk lengan sahabatnya itu. Minseok mengerang kesal saat mendengar suara genit kembarannya.
“Happy birthday, Sohee. Semoga kamu makin cantik dan sehat selalu,” ucap Yixing yang sengaja melirik Minseok yang memutar bola matanya.
“Aaw, XingXing terima kasih banyak, ya. Noh, Minseok didoain biar tinggi.”

Yixing tersenyum dan melirik sahabatnya.

Luhan dan Yifan datang berikutnya, bebarengan dengan dua gadis cantik. Mereka mengucapkan selamat kepada dua orang yang bertambah usia itu.
Mata dua pemuda yang baru datang itu tidak lepas dari dua gadis teman Sohee tersebut. Yixing dan Minseok berpandang-pandangan dan menghela nafas.
“Yak, duo Cassanova mengincar mangsa.”

Tidak lama berselang, Chanyeol juga datang. Dan Kehadirannya itu mencuri perhatian teman-teman Sohee yang sedari tadi memperhatikan Yifan.
“Wah, gila. Teman-teman kembaran lo ganteng-ganteng. Itu yang baru datang siapa, ya?” bisik gadis berambut hitam yang memiliki senyum manis.
“Chanyeol. Lagian ngapain lo ngelirik mereka, Luna? Cowok lo mau dikemanain?” tegur Sohee. Yang ditegur hanya meringis salah tingkah.

Hingar bingar musik dan suara orang-orang bercakap-cakap membuat pesta makin meriah, apalagi ketika teman-teman Minseok bernyanyi untuk menyemarakkan pesta ulang tahun itu. Dan itu membuat kawan-kawan Sohee

makin heboh mengagumi mereka.

Langit yang makin gelap memaksa enam teman Sohee pulang. Sedangkan gerombolan Minseok masih betah duduk menguras habis makanan yang tersisa.

Setelah Sohee masuk ke dalam, Minseok mulai mengeluhkan sikap kekanakan adik kembarnya yang sama-sama berusia 21 tahun. Lalu keluhan dia ditimpali Chanyeol yang mengeluh lelah menjaga Baekhyun selama orangtuanya ke luar kota. Luhan tidak mau diam, dia mengomel panjang lebar tentang Sehun yang lancang dan suka membangkang. Yifan meski tidak separah sebelumnya, masih saja mengeluhkan kerewelan dan kemanjaan Tao. Makin lama, makin banyak protes mereka tentang sikap adik-adik keempat pemuda tersebut.
“Guys. Guys! Mau sampai kapan kalian ngeluh?” tegurannya sukses membungkam empat orang itu. “Kalian lupa kalau kalian dan adik kalian dilahirkan dari rahim yang sama? Berbagi darah yang sama?” lanjutnya serius.
“Xing…”
“Diam, Luhan! Ingat ya, nggak ada tuh yang namanya mantan adik atau mantan kakak. Jadi percuma kalian kalian ngeluh ini itu karena semua itu nggak akan ubah status kalian. You are destined to be brothers forever. Yifan, Chanyeol, Luhan, kalian adalah anak sulung. Bukankah seharusnya kalian jadi teladan buat adik kalian? Bukannya malah menolak kehadiran mereka.”
“Tapi, Xing…”
“Diam kamu, Yifan! Aku nggak mau munafik dan bilang aku happy all the time. Nggak, Guys. Jujur, aku juga stres tiap hari ngadepin empat orang adik yang ada aja kelakuan mereka. Belum lagi fakta aku harus urusin mereka seorang diri. Tapi aku nggak mau menyalahkan takdir. Tuhan maunya nasibku begini, jadi anak yatim piatu dengan empat orang adik. Berat, Guys. Berat banget. Tapi semua itu menguap waktu lihat Fei rajin belajar, Jia mau mandiin Kai, Taemin ketawa riang waktu aku bacain cerita, Kai yang demen ngelendotin kakiku waktu lagi ngepel, dan banyak hal dari mereka yang bikin aku tersenyum dan bersyukur. Tanpa mereka, mungkin aku nggak akan seperti sekarang. Aku bersyukur orangtuaku nitipin mereka ke aku.”

“Tapi gue, kan…”
“Ya, aku ngerti kamu mau bilang apa, Minseok. Kamu lihat Kak Sungmin sebagai teladanmu, kan? Dan bagi Sohee agak susah karena dia cewek. Tapi kamu nggak harus jadi teladan buat Sohee, kamu justru wajib jadi pelindung dan penjaganya. Kakak maupun adik cowok itu tugasnya buat lindungin saudara cewek. Mau sengebetein apapun kembaranmu itu, dia tetap butuh kamu,” Yixing menarik nafas sebelum melanjutkan. “Maaf kalau aku jadi bawel begini. Tapi aku muak dengar keluhan kalian tiap hari tentang adik kalian. Maaf kalau aku jadi ngerusak suasana.”

Luhan meremas bahu sahabat karibnya itu. “Lo memang yang paling dewasa di antara kita, Xing.”
“Ya, gue salut banget sama lo,” Yifan menimpali.
“Gue jadi malu. Padahal gue yang paling tua, tapi gue nggak sedewasa lo,” wajah Minseok meredup.
“Giman caranya biar bisa dewasa kayak lo, Xing?” tanya Chanyeol.
“Syaratnya cuma satu. Rela berkorban,” ucapnya di sela senyumannya.
“Maksudnya?” alis Yifan bertaut.
“Rela korbanin ego kalian. Aku cuma korbanin jiwa dan ragaku demi adik-adikku. Dari situ aku jadi lebih tanggung jawab, lebih sabar, lebih giat belajar dan bekerja. Bayangin aja kalau aku pertahanin egoku. Pasti adik-adikku terlantar. Aku bahkan nggak mikirin naksir-naksiran sama cewek manapun, padahal di kampus banyak yang sedap-sedap lho. Hehe. Semua karena pikiran aku hanya demi masa depan adik-adikku. Sampai Fei mau mak comblangin aku sama gurunya karena ngenes liat aku. Makanya aku bersyukur diberi tanggung jawab ini, aku jadi bisa dewasa,” tandasnya tanpa menanggalkan senyum di bibirnya.

Keempat temannya terharu dan bangga pada Yixing, serentak mereka berebut untuk memeluk Yixing.
ALL HAIL ZHANG YIXING! ALL HAIL ZHANG YIXING!” dan Chanyeol berseru tanpa malu didengar ibu Minseok.

Sebelum jarum jam menunjuk angka 9, empat pemuda rupawan itu pamit pulang. Rumah Minseok kembali sunyi.

Duduk di beranda menikmati sinar terang bulan, Minseok memikirkan ucapan Yixing. Tiba-tiba ada seseorang duduk di sampingnya.
“Seokie…”
“Hmm.”
“Gue tadi sempat nguping pembicaraan kalian, dan gue mewek pas dengar ucapan Yixing. Dia dewasa banget,” Sohee berkata.
“Memang. Dia paling dewasa di antara kami.”
“Dia masih jomblo, kan? Comblangin gue sama dia, dong? Dia itu tipe suami idaman setiap wanita,” tatapannya mendamba, membuat Minseok mencubit hidungnya.
“Jangan muluk-muluk mimpinya. Udah ah, gue mau ke kamar,” dia acak rambut Sohee.

Di kamarnya, mata Minseok nyalang menatap langit-langit. Tiap kata yang diucapkan Yixing terngiang terus. Dia mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan.

To: Sohee Centil

Gue kepikiran terus omongan Yixing tadi. Dan gue nyadar bahwa selama ini gue nggak benar2 jadi saudara yang bertanggung jawab. Gue gagal ngeliat hal2 positif dari kehadiran lo di dunia ini. Maafin gue Sohee. Gue sering ngeluh tentang lo, sering jengkel sama lo. Padahal dulu waktu kita kecil, kita nggak terpisahkan. Kemana2 pasti berdua. Apa aja pasti dibagi berdua. Kenapa kita jadi begini?

Padahal Tuhan udah jadiin kita tumbuh dalam rahim yang sama, berbagi ruang dan makanan. Kita berdua harusnya bersyukur karena lahir nggak sendiri. Gue lupa buat mensyukuri itu. Tuhan ciptain kita bareng, berarti kita harus rukun. Gue nggak tau kapan kita mulai sering berantem. Gue nggak inget kapan lo mulai ngeselin banget. Dan yang paling menyedihkan, gue lupa kapan terakhir gue bilang ‘i love you, twin’. Gue janji mulai skrg bakal lebih mensyukuri segala yang udah gue punya. Orangtua yang lengkap, kakak yang baik, dan kembaran cewek yang bisa jadi soulmate gue. Maafin semua kesalahan gue ya, twin. {}

Dan dia menekan send. Perasaannya terasa lega dan ringan.

Pintu yang tersentak terbuka membuat Minseok terduduk kaget. Dia segera berdiri ketika melihat Sohee yang berlinang air mata. Gadis itu menghambur memeluk Minseok erat-erat.
“Gue juga minta maaf, Twin. Gue juga nggak ingat kapan gue lihat sisi positif lo. Maafin keegoisan gue. Gue memang nyebelin, Seokie. Maafin gue.” Minseok mengecup kepala Sohee dan memeluknya kembali. Dari luar kamar dia melihat Sungmin tersenyum bahagia dan mengacungkan ibu jarinya.

Akhirnya Minseok menyadari betapa lengkapnya keluarganya. Dan dia harus banyak belajar dari Yixing.

***

 

Luhan membangunkan Sehun dan memeluknya erat-erat.

 

Chanyeol bahkan tidur menemani Baekhyun yang terlelap sambil memeluk boneka jerapah.
Yifan duduk di samping ranjang mungil Tao dan mengusap-usap rambut halusnya.
Dan Yixing tersenyum bangga melihat adik-adiknya yang tidur nyenyak. Dia bangga karena mampu membesarkan mereka sendiri.
***

From: Sohee Centil

good night, my twin brother. I ❀ you. {}

Minseok tersenyum manis dan membalas pesan dari saudara kembarnya.

To: Sohee Centil

i love you too, my twin sister. XOXO

THE END

a/n: Selesai juga akhirnya. Semoga nggak terlalu mengecewakan ya. mungkin alurnya atau diksinya atau plotnya kurang seru, sorry ya. hehehe.
buat yang sudi komen, aku ucapin makasih banyak. bagi yang nggak komen ya sudahlah, paling nggak ada yang baca FF abal ini. see ya
Advertisements