***

 

 

***

Gundukan baju yang harus dilipat benar-benar menyibukkan Yixing pagi ini. Setiap dua hari sekali, dia akan mencuci pakaian kotor yang menggunung. Keempat adiknya tidak banyak membantu, terutama dua adik bungsunya, Kai dan Taemin. Dua bocah berusia 5 dan 6 tahun yang hiperaktif.

“Kak…” suara merdu itu mengalihkan perhatian Yixing.
“Ada apa, adikku cantik?” senyumnya tulus menenangkan.
“Berasnya habis,” suaranya mengambang, seakan enggan terdengar.
Yixing menghela nafas dan menatap adik perempuannya yang duduk di kelas 2 SMP itu. “Ambil uang di dompet Kakak dan beli beras 2 kg, ya. Apa lagi yang habis? Buat sarapan masih ada makanan nggak, Fei?”
Fei tampak mengingat-ingat kebutuhan dapur, lalu dia menggeleng. “Kurang beras aja, Kak. Lauk masih ada.”
Yixing pun menyuruhnya membeli beras. Tetapi gadis belia itu malah merenung menatap kakaknya yang sedang melipat baju seragam Kai.

“Kakak kapan mau nikah?” pertanyaan simpel tapi menggelitik.
Yixing menghentikan kegiatan melipatnya. “Fei , menikah itu bukan perkara mudah. Semua butuh proses. Dan Kakak masih terlalu muda untuk mengemban tanggung jawab itu.”
“Tapi itu teman Kakak, Kak Junmyeon nikah pas masih 19 tahun. Masa Kakak nggak bisa?” ujarnya.
“Junmyeon sama Kakak, kan beda. Dia anak orang kaya, jadi nggak bingung masalah biaya lamaran, upacara perkawinan dan lain-lain. Dan yang paling penting, ada calon istri,” Yixing menyengir lebar.

Fei tiba-tiba bertepuk tangan seolah mendapat ide brilian. “Kakak belum punya calon, kan?”
“Ya, belum punya. Kenapa? Kamu mau cariin?” ada nada canda dalam suaranya.
“Sudah ada. Dan aku yakin banget pasti deh cocok buat Kakak,” tuturnya mantap.

“Oh, ya? Siapa?” Yixing terlihat sangat menikmati antusiasme jiwa mak comblang adiknya itu.

Gadis manis itu menggeser duduknya, berhadapan dengan Yixing, matanya membulat dan berbinar penuh semangat.
“Dia itu guruku, Kak. Guru pelajaran seni. Orangnya cantik, rambutnya panjang, sabar, ramah, perhatian, nggak galak kayak Bu Jessica. Pokoknya dia itu guru favorit deh, Kak.”
“Namanya siapa? Kayaknya menarik, nih.”
“Bu Victoria,” tandasnya.
“Hmm… Dari namanya aja udah terkesan cantik, ya.”
“Memang cantik, Kak. Kakak ke sekolah, deh, nanti aku kenalin.”
Dan Yixing hanya mencubit gemas hidung Fei. “Beli beras dulu sana. Nanti kita bicarain Bu Victoria lagi, oke?”
Remaja bersemangat itu terkekeh dan beranjak ke luar untuk membeli beras.

Yixing menggeleng pelan, setidak lakunya dia sampai adiknya mau menjodohkan dia dengan gurunya? Miris sekali.
Dia terkekeh atas pikirannya sendiri.

-*-

Hari Minggu yang biasanya merupakan hari bersantai, ternyata tidak berlaku dalam hidup Yixing. Pada hari itu Yixing justru sibuk mengurusi rumah dan adik-adiknya. Jia si tomboy, lebih suka bermain bersama teman-temannya di luar. Kai si bungsu yang hobi bermain mobil-mobilan, dan Taemin si bocah kalem yang gemar menggigiti ujung kaosnya. Hanya Fei yang bisa diharapkan, meski tidak maksimal. Suara jeritan dan pekikan Kai dan Taemin yang entah memperebutkan apa, membuat Yixing waspada.

Benar saja, dua bocah itu menghambur ke arahnya dengan wajah bersimbah air mata.

“Kai nakal, Kak!” tuding Taemin.
“Taemin yang nakal. Mobilku dibuang ke tong sampah,” balasnya membela diri.
“Aku buang mobilmu karena kamu robek buku ceritaku,” Taemin mendorong Kai.
“Bukan aku yang robek! Kakak, Taemin jahat!” raungnya memekakkan.
“Pasti kamu. Kamu kan nggak punya buku bagus. Hooo Kai bodoh nggak bisa baca,” ledeknya dibalas dengan jambakan dari Kai.
“Taemin. Kai. Stop!” Yixing segera melerai. Setiap hari ada saja yang memicu pertengkaran dua bocah itu.
Belum selesai masalah Kai dan Taemin, Jia masuk sambil mengomel dan Fei memarahinya.

Kepala Yixing nyaris meledak karena serbuan empat suara bising itu.

“Jia. Fei. STOP!” dan hening seketika.
“Kai, Taemin, Fei, Jia. Please, berhenti bertengkar. Kakak nggak tahan lihat kalian jejeritan kayak manusia gua yang nggak punya aturan. Fei kenapa kamu marahin Jia?”
“Dia manjat pohon , Kak.”
Yixing memijat pelipisnya. “Jia, apa benar apa yang Fei bilang?”
Jia memilin jemarinya gugup. “Aku… Aku cuma mau ambil jambu, Kak,” belanya.
“Jia, kamu mau ambil jambu dari mana? Pohon siapa? Sudah minta ijin belum?” gadis kelas 6 SD itu menggeleng. “Kamu tahu apa namanya orang yang ngambil bukan haknya?” dia mengangguk. “Lalu kenapa masih mau kamu lakuin? Mencuri itu dosa, Jia. Dan… Demi Tuhan, kamu itu perempuan, Jia. Berlagak kayak perempuan dong, jangan kayak preman,” Yixing lelah lahir batin.
“Dan kamu sudah tahu kalau kamu salah, tapi masih aja ngelawan kakakmu. Kamu dihukum, Jia. Uang saku kamu Kakak potong, dan selama dua hari ini, kamu yang nyapu dan ngepel.”

“Ya, Kak. Jia minta maaf.” gadis tomboy itu mengambek dan masuk kamar.
“Fei, tolong bawa Kai ke kamarnya,” dia mendesah berat. “dan kamu, Taemin, kalau marah sama siapapun, kamu nggak boleh ngerusak barang. Paham?” tegasnya.
“Tapi…”
“Paham?”
“Paham, Kak.”
“Bagus. Kakak nggak mau dengar kamu atau Kai saling ngerusak barang. Kita beli barang pakai uang, Kakak kerja keras nyari uang, jadi kamu harus menghargai barang-barangmu maupun punya orang lain. Oke?”
“Oke, Kak.”

Pemuda 20 tahun itu pun bernafas lega.

“Ibu, Ayah, terima kasih kalian nggak ninggalin aku seorang diri. Biarpun aku pusing ngadepin adik-adikku, tapi aku bersyukur aku nggak sebatang kara.” ia tengadahkan kepalanya ke atas dan tersenyum.

 

 

 

The End

 

 

Advertisements