***

 

 

 

Pada hari minggu ini, Chanyeol menggunakan kesempatannya untuk menuntaskan semua tugas yang dilimpahkan dosennya. Ada sekitar tiga tugas dari tiga mata kuliah yang berbeda.
Cowok bongsor boros senyum itu sengaja bangun lebih pagi demi mendedikasikan waktunya untuk belajar.
Semua berjalan lancar.
Pukul 7, dia mandi. Kemudian dia menyiapkan dua tangkup roti isi daging asap dengan keju dan selada, ditambah segelas susu. Sambil mengunyah rotinya, Chanyeol menyeleksi apa saja yang akan dikerjakan dulu. Selesai sarapan setengah jam kemudian, dia langsung masuk kamarnya dan mulai tekun belajar.
Demi kelancaran kerjanya, cowok bersorot mata jenaka itu bahkan mematikan ponselnya agar terbebas dari gangguan Yifan, Luhan dan dua sahabat lainnya.


Ketukan di pintu merusak konsentrasinya. Sosok ramping ibunya menyusup masuk dan berdiri di samping meja.
“Chanyeol.”
“Ya, Bunda?”
“Tadi subuh, Bunda terima telepon dari om kamu. Umm… Katanya, Nenek masuk rumah sakit dan Bunda sama Ayah harus ke sana.” suaranya bergetar.
“Sakit nenek makin parah ya, Bunda?” tanyanya lirih. Tersirat kekhawatiran di dalamnya.
Anggukan lemah bundanya sudah menjelaskan semuanya. Chanyeol berdiri dan merengkuhnya dalam dekapanya.
“Nenek pasti bisa melewati masa-masa kritisnya, Bunda. Kita berdoa terus, ya,” bisiknya.
“Iya, Nak. Bunda juga nggak berhenti berdoa,” kepalanya mendongak dan menatap mata anak sulungnya. “Bunda titip Baekkie ya, Yeol. Nggak mungkin Bunda ajak dia ke rumah sakit. Tolong jagain barang dua sampai tiga hari, ya. Please,” bisikannya terdengar bagai sepoi angin.

Nyaris tersedak ludahnya, Chanyeol mengangguk gugup.

Semenjak Baekhyun lahir hingga berumur 4 tahun, nggak sekalipun dia ditinggal sendiri dengannya. Mana nggak ada pembantu pula. Tapi melihat guratan kekhawatiran di wajah bundanya, hatinya pun nggak tega menolak.
“Tenang, Bunda. Aku pasti bisa jagain Baekhyun. Serahkan semua pada Chanyeol.” dia busungkan dadanya bangga.
Senyum sendu nan lega menyambangi wajah bundanya

“Kamu memang kakak yang baik, Chanyeol. Terima kasih, Nak,” dikecupnya kening anaknya yang jangkung itu.

-*-

Satu tugas sudah beres, kurang dua tugas lagi. Tapi kesunyian rumah terusik oleh tangisan bocah cilik.
“Aduh, Baekhyun bangun,” dia panik.

Chanyeol mendatangi kamar adiknya dan melihat adiknya berdiri di atas kasur sambil menangis.
Diangkatnya dari kasur dan dibawa ke kamar mandi.
Chanyeol bernafas lega. Untung Baekhyun suka main air sehingga kegiatan mandi menjadi hal yang menyenangkan. Setelah mandi dan berganti pakaian, Baekhyun pun diberi sarapan.

Chanyeol duduk di ruang keluarga dengan ditemani Baekhyun yang sedang mewarnai gambar kartun favoritnya.
“Abang. Matanya Donald Bebek warnanya apa?”
“Huh? Ya hitam lah.”
“Tapi hitam nggak bagus. Aku mau warna biru. Biar sama kayak bajunya. Boleh nggak, Bang?”
Chanyeol menarik nafas, “Boleh. Suka-suka Baekhyun aja.”

Bocah itu kembali diam menekuri bukunya.

Beberapa menit berselang.
“Abang Channie, aku mau pipis,”

“Ya udah, ke kamar mandi, gih,” usirnya.
“Temenin Abang. Ayo, Bang,” bocah itu berdiri gelisah sambil memegangi selangkangannya.

Menggeram gemas, Chanyeol berdiri dan menggiring adiknya ke kamar mandi.
“Sudah. Ayo pipis!”

Tapi Baekhyun malah menatapnya.
“Abang masuk juga.”
“Ngapain? Udah pipis sana. Abang tunggu di sini.”
“Ada kecoa, Bang. Takut,” rengeknya.
“Kecoanya udah disemprot tadi. Udah mati semua.”
“Kalau kecoanya datang lagi, gimana? Nanti aku digigit.”
“Kalau kecoanya berani gigit kamu, nanti Abang masukin kecoa itu ke dalam wc biar tenggelam. Sekarang kamu buruan pipis,” dia makin gusar.

Akhirnya, Baekhyun pun pipis, dengan ditemani Chanyeol. Ya, Chanyeol kalah.

Baru saja Chanyeol hendak mengerjakan soal ke tiga, Baekhyun bersuara lagi.
“Mau nonton Barney, Bang.”
“Nanti, ya, Baekkie. Abang masih sibuk.”

Bocah TK itu menendang pelan punggung Chanyeol. “Setelin Barney, Bang. Barney. Barney. Barney. Bar-” Chanyeol memelototinya. Tapi dia tetap beranjak ke ruang tv.

Si dinosaurus obesitas berwarna ungu itu sudah menyita seluruh perhatian Baekhyun. Dengan lincahnya bocah bermata sipit itu menari mengikuti irama ceria lagu yang dinyanyikan dinosaurus agak melambai itu. Kesempatan emas bagi Chanyeol untuk mengerjakan tugasnya.

Tinggal tiga soal lagi, tapi Baekhyun sudah keburu berulah.
“Lapar, Bang,” bibirnya manyun dan tangannya memegangi perutnya. Chanyeol lupa waktu. Dilihatnya jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul 1. Sudah lewat jam makan siang adiknya.

“Maafin Abang ya, Baek. Baekkie mau makan pake chicken nugget atau telur ceplok?”
Si mungil Baekhyun menimbang kedua tawaran itu.
“Nugget aja. Segini!” kedua tangannya terbuka menunjukkan kesepuluh jarinya.
“Lima aja cukup. Jangan rakus,” sahutnya galak. Dan adiknya manyun lagi.

Piring berisi nasi hangat dan chicken nugget sudah di hadapan Baekhyun. Tapi dia nggak memakannya.
“Katanya lapar, kok nggak dimakan?”
“Suapin.”
“Tobat deh gue. Baekhyun, denger ya. Kata guru Abang, kalau mau punya badan tinggi, kita harus makan sendiri. Kamu lihat badan Abang, kan? Tinggi, kan? Itu karena Abang makan sendiri, nggak disuapin,” jelasnya dengan air muka serius.
“Ah, aku nggak mau tinggi kayak Abang.”
“Kenapa?”
“Karena aku nggak suka jerapah. Aku lebih suka kucing. Jerapah itu serem. Lehernya panjang. Kayak Abang, tuh,” balasnya nggak kalah serius.
“Ntar kalau udah bogel kayak Minseok baru nyesel kamu. Huft.” imbuhnya gemas.

Lagi-lagi, Chanyeol terpaksa menyuapi Baekhyun. Ya, dia kalah telak.

Sepanjang siang hingga sore itu Baekhyun mengganggu kakaknya non-stop. Hingga nyaris membuat Chanyeol mengaum saking kesalnya.

“Ini baru sehari. Gimana besok dan lusa? Mampus deh gue,” keluhnya penuh duka saat membayangkan apa yang akan dijalaninya lagi.
“Padahal lo kalau tidur persis malaikat, polos, kalem, lucu. Kenapa pas bangun malah kayak anak jin ditetekin kunti? Ampun deh. Baekhyun, Baekhyun.” meskipun kesal dan lelah, Chanyeol tetap menyayangi adiknya. Dikecupnya pipi tembem adiknya sebelum dia keluar dari kamar bernuansa biru muda itu.

“Akhirnya, gue bisa lanjutin tugas dengan tenang. Thank’s to Baekhyun,” dia tersenyum kecut.

The end

 

Advertisements