***

 

 

 

 

 

“Luhan! Aku pinjam laptopmu, ya.” seseorang mengetuk pintu kamar mandi. Luhan membuka pintu dan melongok dari celahnya.
“Nggak boleh! Aku lagi ngerjain tugas kuliah,” tegasnya.
“Please, Luhan. Cuma sebentar aja. Aku mau main game doang, kok.”
“Sehun. Kalau aku bilang nggak boleh, ya berarti nggak boleh!”
“Kenapa?”
“Karena itu laptopku. Sudah sana main tab aja. Awas kalau kamu pakai laptopku!” dan ancaman itu disudahi dengan bunyi ‘ceklik‘ pintu dikunci.

Tetesan air dari rambutnya jatuh dan meresap ke dalam serat handuk yang tersampir di bahu. Luhan berdiri di depan lemari, memilih baju apa yang akan dipakainya siang ini.
Iya, si pemuda kurus itu baru mandi ketika matahari sudah menjulang tinggi.
Setelah lebih dari lima menit, dia memutuskan untuk memakai kaos biru polos dan celana pendek selutut yang nyaman.

Dengan semangat dan kesegaran baru, Luhan pun siap melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya yang sempat tertunda. Dia hampiri meja belajarnya, tarik kursinya dan duduk menatap

layar laptopnya. Lalu…

“SEHUN KURANG AJAR! DASAR BISUL BUSUK! KAMPRET LO! TUGAS GUE! ADUH MAMA SAYANGEEE! AWAS LO, HUN! AAAAAH!”
Luhan berderap kencang keluar kamar dan mencari keberadaan adiknya yang super tengil itu, dan dia hanya menemukan ibunya sedang menonton acara gosip di tv.
“Mama, Sehun mana?” wajahnya memerah karena emosi.
“Tadi dijemput Kyungsoo. Kamu tadi ngapain teriak macam orang mau lahiran gitu?” si ibu mengernyit kesal.
“Mama, itu si bisul busuk udah hilangin tugasku. Padahal itu udah setengah jalan, Ma. Aku udah bilang jangan sentuh laptopku, tapi… Mamaaaa tugasku, Maaa,” rintihnya penuh luka dan kecewa.

Si ibu hanya tersenyum. “Coba kamu cek lagi, mungkin keselip ke folder lain. Kayak waktu itu, sih. Kamu udah jumpalitan kayak barongsai makan beling, eh, ternyata masuk ke folder lain.”
“Itu beda cerita, Mama sayang. Ini tugas belum aku save. Tadi gara-gara kebelet, jadi aku buru-buru ke namar mandi, sekalian mandi, deh. Pokoknya aku harus cari itu bisul. Argh, why is he such a pain in the ass?” rambutnya menjadi korban frustrasinya.
“Ngapain mau nyari adikmu?” tanya ibunya.
“Mau aku kulitin.” dan dengan ucapannya itu, Luhan mengeluarkan motornya demi memburu Sehun.

Si ibu yang sudah kenyang dengan konflik-konflik semacam itu pun hanya mendesah lelah, dan matanya kembali menatap deretan berita tentang artis-artis kesukaannya.

-*-

Dengan wajah mengerut karena cemberut, Sehun duduk bersila di lantai ditemani setumpuk kertas dan buku. Bocah 10 tahun itu dipaksa untuk membacakan isi kertas-kertas tersebut agar diketik Luhan di laptop.

“Masih banyak, Luhan?” nafasnya terdengar berat.
Luhan tersenyum licik, “Banget, Sehun sayang.”
“Aku capek, Luhan,” rengeknya.
“Aku tahu, Sehun.”

Sehun pun pasrah. Memang ini semua akibat sikap bandelnya.

Tiga jam lebih sedikit, Luhan menyudahi pengetikan tugasnya. Dia melihat wajah lelah adiknya yang nyaris tertidur itu.

“Kamu boleh tidur sekarang, Sehun.” dia berlutut di depan Sehun. “Tapi kamu harus ingat, lain kali jangan ngelawan aku, paham?” lanjutnya sambil mengusap rambut halus Sehun.
“Iya, Luhan. Sori, tadi aku lancang. Aku janji nggak akan otak atik laptopmu lagi.”
Luhan tersenyum dan menepuk pelan pipi Sehun. “Good night, Sehun.”
“Good night, Luhan.”
Berhubung besok ada jam kuliah pagi, maka Luhan segera merebahkan tubuhnya di ranjang dan bersiap tidur.

 

THE END

 

 

a/n: maaf banget ini malah jadinya drabble. hehehehehe. tapi masih ada terusannya kok. πŸ™‚

Advertisements