***

 

a/n ; Hai. aku kembali lagi dengan FF baru. jujur aja setelah sekian lama aku nggak nulis, aku jadi ngerasa kayak murid baru belajar nulis lagi. canggung dan kagok banget. jadi kalau FF ini terasa kurang bagus, kurang ngefeel atau kurang kece kayak FF2 ku sebelumnya, aku minta maaf sebelumnya hehehehe. please kasih good review ya. sudah lama aku nggak dapat komenan bagus hanya karena aku sudah nggak nulis FF YAOI lagi. T_T *mewek.

met baca ya. FF ini terinspirasi dari pengalaman hidupku sebagai sulung dari 5 bersaudara. ^^b

 

***

4ed42260e81b70876ba7c838ae6137bd

Sebuah cermin mendesah lega waktu wajah cowok tampan itu berbalik membelakanginya. ‘akhirnya cowok narsis itu pergi. Fiuh,’ batin cermin itu kira-kira. Cowok jangkung itu pun buru-buru menuruni tangga ke lantai bawah.

“Mami, Yifan cabut dulu, ya,” pamitnya dengan suara serak-serak paska pubernya.

Si Mami yang sibuk nguleni adonan pie menyahut, “Mau cabut gigi lagi, Fan? Bukannya baru sebulan lalu kamu cabut gerahammu yang bolong?” ia mendesah lelah, “Makanya rajin gosok gigi dan kurangi ngemut permen loli terus.”
Yifan menggeram pelan, “Bukan cabut gigi, Mami. Tapi Yifan mau cabut ke rumah Luhan.”
Terdengar kekehan salting dari pihak sang Mami, “Kirain kamu mau ke dokter gigi lagi. Umm… Fan, kamu ajak adikmu, ya.”
Cukup satu kalimat itu saja sudah bisa bikin mata setengah jereng Yifan melotot, diiringi pekikan melengking khas ala sinetron alay.

“APAAAA? Ogah banget aku main sambil ajak si kutil itu!” sungutnya jutek setengah merajuk. (Yifan hebat. Meski kesal, dia masih sempat bikin sweter. /woy, itu merajut/ oh, udah ganti berarti )
“Mami bakal sibuk siapin buat acara arisan nanti sore, dan si Mbak pulang kampung, Mami nggak sanggup kalau harus masak dan jagain adikmu sekaligus, Fan,” pintanya sambil mendorong pelan bahu anak umur 3 tahun agar mendekati si sosok titisan tiang jemuran itu.
Mata galak Yifan menatap tajam bocah imut yang lagi nenteng ransel kepala panda. “Titipin tetangga aja, sih. Noh, si Sunny demen banget sama si kutil ini,” jari telunjuknya menuding tepat hidung mungil adiknya.


Tangan Mami langsung memukul lengan Yifan, “Kutal kutil. Ini Tao, adikmu sendiri. Nggak sopan banget kamu.” Yifan mau mendebat, tapi keburu di-stop Mami. “Pilih. Pergi ke rumah Luhan tapi bawa Tao. Atau Tao nggak ikut, tapi kamu di rumah bantuin Mami. Your choice.” nada tegas dalam suara Mami bikin Yifan pengin nangis ngosrek di lantai. Ia paling benci disuruh nge-babysit adiknya. Tapi daripada disuruh mejeng di dapur, terpaksa deh si Tao diajak serta. “Semua keperluan Tao sudah komplit di tasnya. Ada susu, makan siang, snack, dan juga diaper. Kebetulan dia belum pup tadi, jadi Mami bawain buat jaga-jaga.” senyuman puas penuh kemenangan menghiasi wajah Mami. Berbanding terbalik dengan wajah merengut Yifan yang sudah mirip kresek. Belum selesai penderitaan batin Yifan ketika si Mami keluarin sepeda dorong dari garasi.

“Mami, mau ditaruh di mana muka menawanku ini kalau jalan sambil dorong odong-odong norak ini? This is NOT my style, Mami.” Rupanya protes Yifan nggak mempan dalam merubah keputusan Mami. Dengan sisa-sisa serpihan gengsinya yang berharga, Yifan pun mendorong sepeda itu. Topi hitamnya ia turunkan hingga nyaris menutupi wajahnya.
“Kakak! Pus!” pekik si kecil Tao saat ada kucing ngacak-ngacak tong sampah. Yifan mengguman nggak jelas.
“Kakak! Buyung!” jari mungil Tao menunjuk gerombolan burung gereja yang mematuk makanan di terotoar. Lagi-lagi Yifan mengguman. “Kakak! Guguk!” Tao girang waktu lihat ada Golden Retriever berlari mengejar bola.

“Heh! Kutu kupret ni bocah. Gue dikatain guguk,” geramnya kesal. Dan sepanjang jalan melewati satu blok menuju rumah Luhan, Tao terus mengoceh dengan suara mencicitnya.
Agak ragu Yifan memencet bel depan rumah temannya itu, ia malu kalau nanti diledekin Luhan dan yang lainnya. Tapi masa iya ia harus putar balik dan pulang? Akhirnya dipencet juga belnya. Nggak sampai satu menit pintu pun dibuka. Wajah kalem berseri-seri lah yang menyembul dari baliknya.

“KYAAA! YIFAAAAN! IMUT BANGEEEET?” pekiknya sambil menyerbu Yifan.
“Ya ampun, Xing. Gue memang imut dan ganteng, kok,” sahutnya percaya diri.
“Bukan kamu, kali. Tapi makhluk imut nan manis yang lagi duduk di sepeda ituuu!” dan tanpa pedulikan si bongsor, cowok berlabel ‘Xing’ itu sudah jongkok di depan Tao dan cubit-cubit gemas pipinya. “Kenapa kamu sembunyiin makhluk lucu ini dari aku, Fan? Tao, kan namanya? Terakhir aku lihat dia masih bayi, pas kita kelas XI, kalau nggak salah,” ocehnya heboh sendiri.

Sedetik berikutnya, Tao sudah berada dalam gendongannya. Yifan cuma bengong dan cengok di teras.
Di dalam ruang tamu rumah Luhan, Yifan melihat adiknya sudah dikelilingi empat cowok yang berisik ngajak Tao main. Dengan perasaan kesal, Yifan duduk di sofa. “Guys,” panggilnya nyari perhatian. “Yifan, kok adik lo unyu banget, sih? Nggak kayak lo,” puji seorang cowok berwajah mirip hamster kekenyangan. Dan ditanggapi dengan pujian sejenis dari rekan-rekannya. “Minseok, lo udah bosan nafas ya?” ancam Yifan dengan mata memicing. Tapi yang diancam malah cuek dan kembali fokus ke bocah menggemaskan itu.

“Tao anteng, ya, Fan. Nggak kayak si Baekhyun adik gue yang hiperaktif persis belatung dugem,” Chanyeol, si manusia gigi, berkata.
“Bener banget. Gue tobat ngadepin adik Chanyeol. Nggak bisa diam. Tangan gelatakan, pecicilan, berisik lagi. Adik lo anteng banget. Ngegemesin.” Luhan menepuk-nepuk punggung Tao yang sedang dipangku Yixing.

Yifan mendengus sinis, “Anteng kepala lo benjol, Yeol. Han. Dia kalau di rumah rewel banget. Terutama kalau mami gue lagi pergi. Ngeselin banget tauk. Si Kutil ini pintar banget memanipulasi orang. Di depan orang lain nih bocah kalem banget. Heran gue, kok bisa ya, bocah bayi punya politik kayak gitu.” Yifan kesal bukan main.  Tao sepertinya merasa kalau kakaknya kesal padanya, dan raut wajahnya tampak seperti hampir menangis. Yixing yang pertama menyadari perubahan ekspresi adik sahabatnya itu. Mahasiswa baru itu pun menggendong Tao dan mengajaknya ke kamar bermain Sehun, adik Luhan yang sudah kelas 5 SD.
“Mana mungkin anak umur 2 tahun punya pikiran licik kayak gitu, Fan. Sama adik sendiri, kok negative thinking, sih?” Luhan tertegun dengan pemikiran cowok itu.
Chanyeol dan Minseok juga ikut memojokkan Yifan.
“Heh, lo semua memang ngeselin banget, ya. Gue dikeroyok hanya karena gue bete sama adik gue? Kalian nggak tahu gimana perasaan gue,” ia memberi jeda untuk mengambil perhatian penuh teman-temannya. “17 tahun gue jadi idola papi, mami, oma dan opa, tiba-tiba, kaboom! Mami hamil.” ekspresinya persis orang ketabrak gerobak barang rongsok.

Chanyeol ngelirik Minseok, yang ngelirik Luhan, yang cuma elus-elus dadanya yang tipis.

“Bukankah seharusnya lo bahagia dengan kabar suka cita itu?”
“Please, deh, Fan. Lo udah bangkotan, kok, ya masih jealous sama bayi?” Minseok menimpali. Memberi bumbu tambahan.
“Iya, Fan. Harusnya lo senang dengan kehadiran member baru dalam keluarga lo. Gue bisa bayangin gimana bosannya mami dan papi lo ngadepin anak tengil macam lo, Fan.” tanpa berbelas kasih, Chanyeol makin menghangatkan suasana.
Yifan langsung lempar si Juara gigi putih sekelurahan itu dengan bantal sofa.
“Nggak akan ada orang umur 17 tahun yang masih cemburu sama adik bayinya kecuali otak orang itu terbuat dari kerak fosil yang membatu,” sambung sebuah suara yang terdengar tenang namun menusuk.
Yifan menoleh dan matanya menangkap sorot kesal di mata Yixing. Tao mengekor di belakang pemuda manis itu. Ia tahu betul betapa Yixing sangat disukai anak-anak. Dan Yixing memang lebih berpengalaman dalam menangani anak kecil. Maklumlah, ia sulung dari lima bersaudara, kebetulang dua adiknya masih balita ketika Yixing berusia 15 tahun.
“Jadi sekarang kalian nge-judge gue sebagai kakak yang buruk? Iya?” mata Yifan berkilat-kilat.
Luhan mengatupkan bibir, Minseok mengedikkan bahu, dan Chanyeol berdehem. Desahan nafas meluncur dari sela bibir Yixing. Selalu dan selalu dirinya yang jadi penasehat si otak fosil Yifan.

“Wu Yifan yang terhormat, bukan maksud kami mengatakan Anda buruk, tetapi pemikiran Andalah yang busuk.” Yixing mengangkat tangan kanannya menyuruh Yifan tutup mulut sebelum protes. “Pikiranmu itu aneh, Fan. Kamu coba bayangin posisi kamu di Tao. Apa enaknya lahir di dunia dengan seorang kakak yang cuek dan nggak ngajak main? Pasti kesepian, kan? Lagian salah Tao apa, coba? Dia nggak tahu kalau dia bakal hadir di dunia ini dan apesnya dia punya kakak macam kamu. Ampun dah, ngenes banget, yak?” Yixing menunggu tanggapan Yifan sambil mengangkat Tao dan mendudukkannya di sofa.

“Mimik Cucu! Kakak, cucu.” tangan mungil Tao melambai ke arah Yifan yang lagi cemberut karena diceramahin Yixing. Diiringi tatapan kawan-kawannya, Yifan mengambil botol susu adiknya dari dalam ransel panda itu. Yixing menyuruh Yifan memangku adiknya.
Dengan enggan, Yifan memangku Tao dan memberinya botol susu. Tao sumringah dan langsung menyedot minuman favoritnya itu. Aroma shampo bayi menggelitik hidung Yifan. Tangan kiri Tao iseng memainkan dagu Yifan yang kasar karena jenggot yang baru tumbuh. Mata beningnya berkedip-kedip menatap sang kakak. Yifan tercekat. Baru kali ini ia betul-betul menatap kedua mata adiknya dari dekat. Sorot mata yang polos tanpa dosa itu menohoknya. Benar banget kata Yixing, Tao nggak tahu apa-apa. Tao pasrah saja dilahirkan di dunia ini.
Keheningan dalam ruangan itu diselingi suara Tao mereguk susu dari botol. Semua duduk diam menatap dua bersaudara dengan gap usia cukup jauh, 18 tahun.

Dahi Yifan mengernyit ketika telinganya menangkap suara Yixing yang menina-bobokan Tao. Merdu, sih, tapi kan nggak harus nyanyi siang-siang begini. Tapi usaha si cowok penyayang anak-anak itu berhasil bikin Tao tidur. Pelan-pelan Yifan angkat adik semata wayangnya dan direbahin di ranjang Sehun. Sambil berjinjit, Yifan keluar kamar dan membiarkan pintunya sedikit terbuka.

“Yifan, duduk. Kita mau ngobrol,” Luhan si tuan rumah menyuruh.
Yifan duduk bersila di lantai, di antara Chanyeol dan Minseok. Yixing dan Luhan duduk di seberangnya. Ia sudah siapkan hati untuk menerima ceramah sesi ke dua.
“Fan, kita semua punya adik. Jadi kita ngerti banget perasaanmu. Tapi bukan berarti kamu boleh bersikap seperti itu. Tao masih kecil, dia itu butuh teladan yang baik. Dan kamulah teladan bagi dia. Jangan kamu tanamin rasa benci di hatinya, Fan.” si bijak Yixing menasehati.
“Gue memang galak banget sama Sehun, tapi itu setelah dia gede dan suka ngelawan. Lo ingat nggak dulu gue sering ajak Sehun kalo kita jalan-jalan? Meskipun suka ngerepotin, tapi gue ngerasa dia udah jadi tanggung jawab gue sebagai kakak. Padahal waktu Sehun lahir, gue baru 10 tahun, lho. Masa lo yang seuzur ini masih nggak waras pikirannya?” tuturnya.
Yifan masih terbelenggu dalam diam.
“Asal lo tahu, Fan. Ketua kelas kita dulu, si Junmyeon aja baru punya anak dua bulan lalu, bukankah itu lebih berat lagi tanggung jawabnya?” serobot Minseok, mumpung yang diceramahi lagi membisu.
“Eh, seriusan Junmen udah jadi bapak? Wah, nikah aja nggak ngundang gue,” gerutu Chanyeol.

“Aku diundang, dong.” Yixing tersenyum bangga.

“Jelas aja lo diundang, kan lo sekretaris kelas, Xing. Dan lo juga dekat banget sama dia,” ada kekesalan memancar di suara Chanyeol, membuat Yixing salah tingkah.

“Back to topic, please, people!” Luhan berujar gemas.

“Ah, padahal seruan bahas Junmen, daripada nyeramahin gue,” Yifan setengah bergumam. Naasnya Luhan mendengar itu dan mengirimkan tatapan garangnya ke Yifan.

Hampir sepuluh menit penuh, Yifan pasrah diceramahi empat sahabatnya itu tentang bagaimana menjadi seorang kakak yang baik. Padahal dalam hati, Yifan tahu betapa mereka nggak sepenuhnya sudah menjadi kakak yang baik, mungkin Yixing yang paling ideal sebagai kakak yang baik. Tapi Yifan lelah dengan tuntutan menjadi teladan bagi adiknya. Sedangkan selama ini ia sudah terbiasa melakukan apapun sesuka gusinya.
“Guys, gue ngerti maksud baik kalian, tapi gue butuh waktu,”
Teman-temannya mengiyakan. Biar cepat selesai maksudnya.

Sementara Tao tidur, kelima pemuda itu pun mulai membahas ulang perihal Junmyeon dan kawin mudanya. Chanyeol lah yang paling heboh, karena hanya dirinya yang nggak diundang.

“Lo diundang, Yeol. Undangan lo digabung sama undangan gue. Waktu itu lo lagi ke rumah nenek lo. Dan gue lupa ngasih tahu ke lo. Maaf ya, Yeol,” jelas Minseok.

Chanyeol malu karena sudah berburuk sangka pada teman sekelasnya itu. Tapi setelah mereka membahas betapa cantiknya istri Junmyeon , pemuda tukang pamer gigi itu langsung semangat sekaligus iri dengan nasib Junmyeon. “Udah tajir, pinter dapat cewek cantik pula. Gue mau jadi Junmen.” Chanyeol berandai-andai.

“Serius lo pengin jadi Junmen? Rela jadi bogel seumur hidup?” canda Yifan, yang dibalas dengan makian protes dari Minseok yang tersindir.

Rupanya gelak tawa mereka membangunkan si kecil Tao. Rengekan bocah itu membuat si kakak mengerang.

Luhan menggendong Tao.

“Eeew, Tao pup.” ia mengernyit jelek sekali. “Nih, cebokin!” ia serahkan Tao pada Yifan.

“Nggak mau. Xing, lo kan, biasa nyebokin adik lo. Tolong, dong.” Tao ia sodorkan ke Yixing.

“Enak aja. Cebokin sendiri sana.”

Segala macam bujuk rayu dan rengekan Yifan ditolak mentah-mentah oleh empat pemuda itu.
Yifan terpaksa masuk kamar mandi dan berjuang membersihkan kotoran adiknya.
“Hoek. Lo makan bangkai badak, ya? Bau banget tauk.” Yifan berisik.

“Sial. Gue mau muntah. Hoek. Punya gue nggak sebau ini, padahal gue makan segalanya. Hoek. Amit-amit.”

Setelah pertempuran yang memakan waktu, pintu kamar mandi terbuka. Tao muncul tanpa baju, tapi wangi. Rupanya Yifan sekalian memandikannya. Lalu, sang pejuang pun keluar juga. Sontak keempat cowok di ruang keluarga ngakak gegulingan waktu lihat wujud Yifan. Mukanya merah, rambut acak-acakan, baju dan celana basah.

“Ini siapa mandiin siapa, Fan?” tawa Luhan dan Chanyeol membahana. Yixing terkekeh geli dan Minseok malah dengan sigap merekam Yifan.

“Heh, matiin tuh hape!” tunjuknya galak ke ponsel Minseok.

Yixing meletakkan Tao di atas sofa dan mengajari Yifan caranya memakaikan diaper.
Semua mengerubuti Tao.

Luhan dan Minseok cekakak cekikik sambil menunjuk Tao.

“Kenapa ketawa ketiwi?” sembur Yifan.

“Itunya Tao imut-imut,” jawab Luhan.

“Ah, sebelas dua belas sama punya lo, ya?”

“Heh! Sok tahu.” tinju Luhan mengenai pinggang Yifan.

Chanyeol dan Yifan ber-high five seraya melirik Luhan dan Minseok.

“Dasar rasis lo berdua. Mentang-mentang badan tinggi.”

“Guys, sudah nggak jaman banding-bandingin itu. Grow up please.” Yixing menengahi.

Tao sudah rapi dan merengek minta makan. Kali ini bocah itu hanya mau makan jika disuapi Yifan.
Suatu pemandangan yang indah menurut Luhan dan yang lain. Seorang Wu Yifan yang gengsinya seluas galaksi ternyata mau juga menyuapi adiknya.

Pukul lima sore Yifan dan kawan-kawanna mengajak Tao dan Sehun ke taman kompleks. Sehun terlihat dewasa saat ngemong adik teman kakaknya itu.

“Gue terharu lihat adik gue yang tengil itu telaten sama Tao. Ah, coba Tao itu cewek, gue kawinin dah mereka,” racaunya seenak udel.

“Lo jangan nambahin beban batin gue, Han. Lo adalah orang terakhir yang bakal gue ajak jadi besan.” Yifan menyeringai. Luhan memaki. Yixing melerai.

“Udah bangkotan tapi kelakuan amoral,” gerutu Yixing. “apa cuma gue yang paling dewasa di sini?”

Berlima duduk di tanah berumput itu, memandangi Sehun dan Tao yang berkejar-kejaran dan tertawa lepas.

“Dia lucu, kan?” bisik Minseok menunjuk Tao yang riang gembira.

“Hmm.”

Batinnya mengatakan, iya, tapi kemudian ia mengingat tangisan rewel Tao yang menjengkelkan.

 

Langit beranjak senja. Dan Yifan yakin pasti arisan di rumahnya sudah selesai. Maka ia mengajak Tao pulang dan berpamitan kepada teman-temannya.

Ia sempat melihat Luhan merangkul Sehun dan mengacak rambutnya. Yifan tersenyum.
Tao nggak akan selamanya kecil. Adiknya itu akan tumbuh dan menjadi dewasa. Nggak ada salahnya ia mulai mengenal adiknya itu dan menjadi teman bermainnya.

“Kakak! Buyung!” pekikan girang Tao menyadarkannya dan ia melihat ke langit. Sekumpulan burung yang terbang pulang ke sarang mereka. “Iya, itu burung. Banyak, ya?” sahutnya ceria.

Ada sensasi baru yang muncul di hati kecilnya. Rasa ingin melihat adiknya terus tersenyum dan tertawa.

“Benar kata Xing. Gue udah nggak pantas cemburu sama adik gue yang balita ini. Malu gue.” kekehannya mengiringi tepuk tangan Tao yang melihat dua ekor kucing saling mengejar.

 

The End

 

 

***

a/n: I hope you enjoyed this part. Semoga kejengkelan akan hengkangnya Yifan nggak menyurutkan minat kalian baca FF ini ya. Dia tetep biasku dan cast terfarvoritku bersama Luhan dan Yixing. 🙂

 

Advertisements