-0-
Cuping hidung Yixing melebar berusaha menangkap partikel-partikel uap yang membawa serta keharuman kopi yang barusan ia tuang ke dalam cangkir. Dinikmatinya sensasi menenangkan yang ditimbulkan aroma nikmat itu. Sensasi yang meremajakan pikirannya yang cukup semrawut karena menghadapi kasus-kasus yang dilimpahkan kepadanya.
Pria akhir dua puluhan itu meregangkan kedua kakinya ke atas meja dan punggungnya ia sandarkan dengan nyaman di sofa. Sesesap demi sesap, ia membiarkan cairan pahit bercampur manis itu melebur dan memanjakan lidahnya. Nikmatnya minuman berkafein itu membuainya dan Yixing pun merasa santai dan segar. Semua kepenatan nyaris sirna seiring berkurangnya isi cangkir itu.
-0-


Di ruangan lain, Yifan justru sedang merasakan pelipisnya berdenyut. Kedua mata tajamnya berusaha tetap fokus pada wajah muridnya yang berdiri di depannya.
“Sudah berapa kali kamu ditegur, tapi masih saja pakai rok sependek itu? Apa kamu mau nambah koleksi poin-poin pelanggaran?” cecarnya bagai berondongan senapan.
“Pak, please, deh. This is my style. Aku nggak betah pakai rok yang nggak fashionable,” tangkisnya santai.
“But that isn’t my style, young Lady! You called that fashionable? With your smooth ehem I mean your thighs exposed like that?” Yifan merutuki dirinya dalam hati karena matanya melirik paha siswinya itu.
“Kamu sudah melanggar tata tertib sekolah. Oh, my God. Krystal, should I call your parents?” omelnya.
Si gadis bernama Krystal itu hanya menghela nafas dan bersikap cuek terhadap ancaman gurunya itu.

Melihat reaksi acuh muridnya itu, kesabaran Yifan menguap seketika. Dengan tangan gemetar ia menorehkan coretan-coretan pada selembar kertas, melipatnya dan menyerahkannya kepada Krystal. “Kamu ke ruang BK sekarang, dan serahkan surat itu kepada Pak Yixing,” desisnya menahan amarah.

Gadis berambut panjang itu mengangkat bahunya sebelum melenggang melewati gurunya yang bawel itu menuju pintu.
Yixing meletakkan cangkir kosongnya di atas tatakan dan berdiri dari duduk nyamannya. Ketukan di pintu membuatnya tersentak kaget. “Y-ya masuk.”
“Permisi, Pak Yixing.” Krystal memasuki ruang kerja Yixing, “Umm… Ini ada titipan dari Pak Baw… Eh, Pak Yifan.” ia buru-buru mengoreksi. Yixing tersenyum dan menyuruh siswi itu mendekat. Rok Krystal yang menggantung jauh di atas lutut itu tidak luput dari penglihatan Yixing. Seketika ia tahu apa alasan Yifan mengirim gadis itu.
Surat dari Yifan pun ia baca. Lalu ia menyuruh Krystal duduk. Tanpa menanyai remaja itu tentang alasan dirinya dikirim , ia justru bertanya tentang hal lain. Dan pertanyaan itu membuat Krystal tercengang.

“Pak, seriously?”
“Yes, seriously, Krystal. Who is that boy?”
“Ah, Pak Yixing kok bilang kaya gitu, sih?”
Yixing berdiri dari duduknya, membuka kulkas kecil di sudut ruangan, mengambil sekaleng jus dan kembali lagi ke mejanya. “Nih, minum. Biar santai,” ucapnya ceria. “Aku tahu kamu, Krystal. Setiap siswa di sekolah ini, sudah aku amati. Termasuk kamu. Aku lihat bagaimana gaya berpakaianmu dari kelas 1. And now you even wear eyeshadow? Kamu jelas banget lagi ngecengin cowok. Kamu pengin dia lihat dan menyadari kehadiranmu. So, who is he?” analisa Yixing itu membuat Krystal merasa ditelanjangi. Teman-teman dekatnya pun tidak ada yang tahu tentang hal itu, dan tiba-tiba seorang guru pria bisa menebak dengan tepat. Krystal pun merasa percuma untuk terus menutupi rahasianya itu.
“Dia… Baekhyun, Pak,” bisiknya lirih.
“Baekhyun? That Byun Baekhyun? Are you sure?”
“Yes,” jawabnya.
“Sorry to say, Dear. Tapi Baekkie itu bukan tipe orang yang suka terikat. Dia itu penuh kebebasan. Paling benci dikekang dan dibatas-batasi. Dan dia itu lebih suka punya banyak teman daripada terikat sama satu cewek,” jelasnya lugas.
“Apa itu hasil pengamatan juga?”
“Nggak juga. Aku kenal banget siapa Baekki. Aku sudah kenal dia bahkan sejak dia masih suka ngompol. Dia tetanggaku dari dulu, Krtystal.”

Ada jeda yang agak canggung muncul diantara mereka sebelum Krystal bersuara lagi, “Tapi, Pak. Kira-kira dia bakal tertarik nggak sama aku?”
Pria bermata ramah itu tersenyum simpul, “Baekhyun suka kesederhanaan. Dia nggak suka orang yang dandan berlebihan. Apa kamu ngerasa dandananmu fine-fine saja sekarang? Apa dengan gaya dandanmu yang seperti ini berhasil bikin Baekhyun ngelirik kamu?”
Lagi-lagi keheningan menyela. Krystal baru menyadari kebenaran yang diungkap guru BK itu. Selama ini Baekhyun sama sekali tidak meliriknya. Mungkin pemuda itu memang lebih suka gadis yang apa adanya dan sederhana.
Gadis manis dengan aura judes itu tenggelam dalam lamunannya, Yixing tidak berusaha menyela lamunan siswinya itu. Ia tampak menikmati keheningan itu, maka dipejamkannya matanya.
“Pak? Tidur, ya?” bisiknya.
Yixing mengerjapkan matanya dan menatap gadis di depannya. “Ah, you’re back,” sahutnya jenaka, yang dibalas dengan dengusan pelan. “So?” Helaan nafas Krystal seolah menjawab pertanyaan Yixing.
“Krystal, kamu itu cerdas dan realistis. Dan aku yakin kalau kecerdasanmu itu bisa ngasih tahu kamu apa yang sebenernya kamu inginkan. Apa kamu kira dengan melanggar aturan sekolah, kamu bakal kelihatan menarik, seksi, atau keren sehingga cowok-cowok jadi jatuh cinta sama kamu?” ia melirik rok Krystal, “Sebagai pria normal, terus terang pahamu itu menggoda. Tapi seorang laki-laki hanya akan mencintai dan menghargai wanita yang bisa menghormati dirinya… dan tubuhnya,” lanjutnya.
Ucapan terakhir itu mengguncang rasa percaya diri Krystal. Secara tidak langsung, Yixing mengatakan kalau dia sudah merendahkan dirinya sendiri. Rasa malu dan risih seolah meringkusnya dan membenamkannya dalam lumpur kehinaan. Siulan-siulan yang menggodanya, sapaan-sapaan genit yang merayunya, bahkan tatapan-tatapan lapar yang mengikuti gerak-geriknya akhir-akhir ini. Tidak terpikirkan olehnya bahwa ternyata para cowok itu menganggapnya cewek yang mengumbar tubuhnya dengan begitu murah. Padahal ia hanya memakai rok yang memperlihatkan sebagian pahanya. Ia juga teringat ucapan Taemin yang memuji temannya yang berpakain sopan dan sederhana, dan Krystal menganggap gadis itu kuno dan membosankan.
Yixing menanti jawaban gadis itu dengan sabar. Ia tahu bahwa apa yang telah ia ungkapkan itu tepat mengenai sasaran. Sebagai seorang pria yang lebih menikmati hal-hal secara visual, maka sangat wajar baginya jika melihat tubuh indah seorang wanita. Ia menikmati pemandangan itu, tapi hanya sebatas itu saja. Karena yang ia cintai dan nikahi adalah wanita yang bisa menjaga dan menghormati anggota tubuhnya.
Dan ia ingin Krystal dicintai dan dihargai, bukan dipakai sebagai objek kesenangan saja. Jika Krystal memang ingin dilihat Baekhyun, maka ia harus bisa menjadi dirinya sendiri dengan segala kesederhanaannya.
“Aku harus gimana, Pak? Aku bingung,” ada getaran dalam suaranya.
Senyum Yixing mengembang, “Krystal, sebenarnya semua itu tergantung sama kamu. Jadilah dirimu sendiri. Biar orang lain melihat kamu karena kecerdasan dan prestasimu daripada melihat pahamu. Aku yakin, cowok-cowok yang cerdas dan berprestasi yang bakal antri buat ngajak kamu belajar bareng,” candanya bersamaan dengan tawa renyahnya yang menggelitik telinga Krystal dan menggiringnya untuk ikut tertawa.
“Geeks,” semburnya di tengah tawa gelinya.
“Better geeks than jerks, Dear.” Krystal mengamini ucapan gurunya itu dan tersenyum lega.
Gadis itu berdiri dan hendak keluar ruangan, tapi Yixing menahannya.
“Mau ke mana, kamu?” ia berjalan ke arah pintu. “Kamu belum dapat hukuman.”
Krystal terhenyak. Ia pikir semua sudah selesai, ternyata…
“Bikin essay tentang dampak berpakaian terbuka terhadap angka kriminalitas dan pelecehan terhadap wanita. I want it on my desk two days from now,” tegasnya tanpa ada senyuman.
Krystal menerima tugas itu dengan lapang dada dan berjanji tidak akan melanggar aturan sekolah lagi, serta lebih menghormati tubuhnya.
Ruangan kembali sunyi dan Yixing merasa ia butuh secangkir kopi lagi. Ia butuh sensasi dari kopi itu untuh mengusir rasa kesalnya terhadap Yifan yang terlalu sering menyiksanya dengan permasalahan murid-muridnya.
-0-
Pelajaran terakhir telah selesai, dan Yifan serta guru lainnya bernafas lega. Sudah waktunya mereka pulang dan menghilangkan penat setelah mengajar sejak pagi.
Begitu pula dengan Yixing. Tas jinjingnya sudah siap ia tenteng ketika pintu kantornya terbuka dan sosok jangkung yang nyaris menyundul kusen pintu itu masuk sambil menyeringai. Raut wajah Yixing tampak datar dengan sedikit kilatan kesal di matanya.
“Aku mau pulang, Yifan.”
“Whoa, stay there, Dude. I just came in. Let’s sit and have a little talk,” seringai aneh menambah keanehan wajah Yifan. Serentetan gerutuan membanjir keluar dari mulut Yixing.
“Kamu marah?” tanya si Jangkung lugu.
Yixing mendengus kesal, tetapi ia duduk juga.
“Ada masalah apa, Xing? Talk to me,” mendadak suaranya menjadi penuh perhatian. Yixing menatapnya tajam.
“You are the problem, Fan,” desisnya gemas.
Si Jangkung meringis salah tingkah. “Apa kamu marah gara-gara aku ngirim murid-muridku?” tanyanya pelan, “Tapi itu memang tugasmu, Yixing,” lanjutnya.
“Lalu tugasmu apa, Yifan?”
Yifan terkekeh dan menggelengkan kepalanya, “Ya sudah pasti sebagai penyampai dan pengajar materi pelajaran lah,” jawabnya mantap.
Dengusan Yixing membuat Yifan mengernyit.
“Jadi menurutmu, seorang penyampai materi pelajaran itu nggak punya inisiatif buat lebih memahami anak didiknya?”
“Lho, apa harus begitu? Kan, itu tugas guru BK yang memang sudah paham karakter para murid. Aku cuma fokus sama pemahaman murid-muridku terhadap materi yang aku ajarin,” sahutnya penuh percaya diri. Sebaliknya, Yixing mengerang dan tampak seolah ingin meremas wajah pria jangkung itu.
“Oh, God. Why do I have a stupid friend like you, Yifan?” keluhnya tanpa basa-basi.
Mata Yifan melebar dan tampak tersinggung oleh ucapan Yixing. “Did you just call me… stupid? Really? What kind of friend are you, eh?”
“Sorry, you aren’t stupid. But idiot instead,” selanya tanpa ada ragu. Yifan makin mengomel dan protes, dan si Guru BK terlihat sangat menikmati gerutuan sahabatnya itu.
“Yifan, aku tahu tugasku sebagai guru BK. Tapi bukan berarti tiap ada murid yang melanggar aturan terus dilimpahin ke aku. Memangnya seorang guru pelajaran itu nggak perlu mengenal dan memahami pemicu perilaku negatif para murid? Guru pelajaran, guru BK dan orangtua itu harus kerjasama buat perbaiki perilaku anak-anak. Harus kompak. Karena kalau nggak konsisten, si anak pasti bingung mau nurutin siapa, dan ujung-ujungnya dia malah makin bengal,” ia menyesap kopinya yang baru saja dituang oleh Yifan. “dan akhirnya terbentuklah jiwa-jiwa yang rapuh dan rusak.”
Pria berhidung mancung yang berdiri di samping jendela itu masih belum memahami maksud penjelasan Yixing. Ia masih bertanya-tanya apa korelasinya antara kekompakan dan pembentukan karakter atau perilaku. Dan lagi-lagi Yixing mengatai guru Sejarah itu bodoh dan idiot karena tidak mengerti penjelasan yang sederhana itu. Bahkan ia mengira bahwa otak Yifan terbuat dari fosil otak Megantropus Erectus yang sudah membatu, sehingga ia menjadi bebal.
Karena lelah dan kesal setelah berargumen dengan Yixing, maka Yifan memilih untuk duduk dan diam. Yixing tersenyum geli melihat gurat kekesalan terpahat jelas di wajah pria eksentrik itu.
“By the way, Xing,” ia angkat bicara. “just stop smiling, will you? It’s annoying,” sergahnya gemas. Ia pun melanjutkan setelah mendengar gumaman maaf dari guru BK itu.
“Tadi Yoongi dan Krystal kamu kasih hukuman apa?”
“Jadi kamu ke sini cuma buat tanya tentang hukuman dua muridmu itu? Guru macam apa sih, kamu?” sentaknya tidak percaya, “Bukannya penasaran sama penyebab mereka berbuat seperti itu, tapi malah pengin tahu hukuman buat mereka. Payah!”
Yifan mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia tidak siap dengan omelan Yixing yang memojokkannya itu. Ia mencoba melawan dengan berbagai macam alibi, tapi Yifan hanyalah seorang pria yang selalu kalah argumen jika berdebat dengan Yixing, si lulusan ilmu Psikologi itu. Semakin Yifan berusaha menangkis ucapan-ucapan Yixing, maka semakin gencar pula Yixing menguak lapis demi lapis kekurangan Yifan. Dan selalu saja berakhir dengan kemenangan mutlah di pihak Yixing. Dan Yifan hanya menunduk pasrah dan mengaku kalah, meski dengan berat hati.
“Oke, aku salah. Puas?” sentaknya kesal.
Alih-alih marah, Yixing justru tertawa bahagia karena berhasil men-skakmat Yifan. “Aku nggak akan puas sebelum lihat kamu jadi seorang guru yang kompeten, bijaksana dan perhatian terhadap murid-muridmu.”
“Then teach me how to be that type of teacher,” pinta Yifan.
Yixing melirik jam dinding dan ternyata hari sudah menjelang sore. Ia mengisyaratkan pada Yifan untuk melanjutkan pembicaraan mereka di luar sekolah. Setelah mengunci pintu kantornya, Yixing dan Yifan berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Dua guru yang berteman dekat itu pun sepakat untuk mampir ke kedai kopi.
Harumnya aroma kopi yang merebak di dalam kedai bernuansa klasik itu menyambut mereka. Seketika untaian benang kusut dalam kepala mereka pun terurai. Seorang pelayan cantik mendekati meja mereka dan menawarkan menu spesial hari itu. Yixing dan Yifan memesan menu yang ditawarkan itu. Mata Yifan tidak lepas dari wajah menarik pelayan itu sehingga membuat Yixing menegurnya.
Sambil menunggu pesanan diantarkan, dua guru itu pun berbincang lagi. Yixing menjelaskan tentang pemicu sikap bandel Yoongi. Pada awalnya, Yifan bersikeras bahwa Yoongi memang bandel dan pembangkang. Itu membuat Yixing makin kesal terhadap kekeras kepalaan temannya itu. “Kaya deja vu, ya,” sindiran Yixing membuat alis pria bermata tajam itu bertaut.
“What do you mean, Xing?”
“Aku kaya lagi ngadepin kasus yang sepertinya pernah aku alamin bertahun-tahun yang lalu.”
“Ngomong yang jelas bisa, kan?”
Rasa penasaran menggelayuti hati Yifan, tapi ia juga merasa bahwa ada sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Masa lalunya. Masa lalu yang ingin ia kubur selamanya.
“It was you, Yifan. I saw you in Yoongi,” suara lembut Yixing menelusup masuk ke telinga Yifan dan mendobrak pintu memori yang tertutup rapat itu. Pintu yang tidak ingin Yifan buka seumur hidupnya. Namun, dengan satu kalimat itu saja, Yixing menguak kembali kenangan lama yang sempat hampir menghancurkan dirinya.
“Jangan samain masalahku dengan si Yoongi! Kami nggak sama.”
Yixing menatapnya lembut, “I see no difference, Yifan,” bisiknya.
Ia menceritakan kembali semua yang sudah disampaikan Yoongi, tetapi Yifan mengelak.
“Dia hidup sama orangtua kandungnya. Sedangkan aku harus tinggal sama pamanku. Dan terpaksa hidup bareng istrinya yang berhati batu itu. Harus bertahan di tengah-tengah sepupu-sepupuku yang licik dan hobi fitnah aku. Apa yang aku alamin itu jauh lebih menyiksa tau!” wajahnya mulai memerah. Sebagai sahabatnya selama bertahun-tahun ini Yixing paham betul apa saja yang terjadi pada diri Yifan.
“Bukannya lebih parah kalau orang-orang yang mengabaikan kamu adalah orangtua kandungmu sendiri, Yifan? Apa yang dilakuin Yoongi selama ini adalah usahanya buat mendapat perhatian. Itu sama persis seperti sikapmu waktu masa-masa SMA. Kamu dikenal sebagai preman sekolah. Tiap hari dihukum guru, dijauhin teman-teman, dimusuhin kakak kelas, dan sebagainya. Tapi di balik semua itu, aku justru lihat ada sesosok remaja penyayang yang nggak tegaan. Aku ingat waktu kamu tiap pulang sekolah selalu mampir ke sebuah gubuk tempat tinggal seorang nenek. Kamu pasti bawa makanan dan minuman buat nenek itu. Belum lagi ketika kamu jadi sukarelawan di sebuah panti asuhan waktu liburan semesteran. Dan sepertinya cuma aku yang sadar kalau kamu itu baik. Akhirnya aku mulai mendekatkan diri ke kamu. Aku coba cari segala hal positif yang ada di kamu, sekecil apapun itu pasti aku puji.” ia tersenyum dan meminum kopinya.
Seperti ada tangan-tangan gaib yang menarik Yifan dari kursinya dan membawanya ke masa lalu. Ia bisa melihat dirinya berjalan congkak di depan teman-temannya, seolah ia pemilik sekolah itu. Sikap petantang-petentengnya itu sering menjadi pemicu amarah kakak-kakak kelasnya. Tapi bagi Yifan perhatian semacam itu membuatnya diakui keberadaannya. Ia lelah dengan keacuhan yang dirasakannya setiap hari di rumah pamannya, maka ia mencari perhatian itu dengan cara yang salah.
Sungguh berat baginya untuk menelisik kembali masa-masa suram itu. Ia dipaksa menyelami kenangan-kenangan itu lagi. Setiap kata yang diucapkan istri pamannya ketika itu, masih ia ingat. Betapa menyakitkannya ucapan-ucapan itu. Yifan tidak mengerti sikap tantenya itu, yang sering menghina ibunya dengan kata-kata kasar dan menyakitkan, padahal ibunya sudah meninggal. Apa yang membuat tantenya begitu membenci ibunya, Yifan tidak pernah tahu.
Dalam pusaran kenangan buruk Yifan, muncullah sesosok remaja berwajah teduh dengan senyuman ramah. Yixing. Remaja sederhana yang bersusah payah mengorek semua hal-hal baik yang masih melekat pada dirinya. Hal-hal baik yang sempat terkubur di bawah semua sikap buruknya. Hanya Yixing yang dengan sabar menggali dan menemukan sisi baik dirinya yang nyaris mengendap dan tertimbun sisi buruk karakternya. Secercah harapan yang Yixing berikan padanya merupakan batu loncatan dalam membentuk masa depannya. Dan di sinilah ia berada. Menjadi seorang pria yang mandiri, gigih dan optimis.
“Yifan?” Yixing mulai bosan melihat sahabatnya melamun dengan tatapan kosong.
“Ya, Xing.”
“Kamu paham maksudku, kan?” lanjutnya.
Yifan mengangguk pelan, “Yoongi cari perhatian karena dia nggak dapetin itu dari orang-orang terdekatnya. Pantas saja dia kayak bangga kalau orangtuanya dipanggil ke sekolah,” gumamnya lirih.
“Ya, itu benar, Fan. Tapi yang aku maksud itu, apa kamu pernah menyadari hal-hal positif pada diri Yoongi.”
Yifan mencoba mengingat-ingat hal-hal di luar sikap bengal muridnya itu. Seketika ia mengingat sesuatu. Pernah suatu saat ketika ia sedang kebingungan karena ban mobilnya bocor dan ia sendirian di jalan yang sepi. Di tengah kebingungannya itu, sebuah motor berhenti di dekatnya dan ketika helm dibuka, wajah Yoongi menyembul di baliknya. Meskipun ia sering bersikap galak padanya, Yoongi tetap menawarkan bantuan. Dan dengan bantuan Yoongi, ia pun bisa pulang ke rumah. Yifan akhirnya mulai melihat banyak hal kecil dan sepele yang termasuk perbuatan positif. Yoongi yang mengajak teman-teman sekelasnya untuk menjenguk teman mereka yang sakit. Yoongi yang mengakurkan teman-temannya yang bertikai. Yoongi pernah mengambilkan pensil temannya yang jatuh. Yoongi mengajak teman sekelasnya untuk memberikan kado ulang tahun untuk wali kelas mereka. Yoongi yang membela temannya ketika hampir dikeroyok siswa sekolah lain. Dan semua hal yang tadinya tidak tampak di mata Yifan, satu per satu mencuat dan tampak jelas. Semakin ia menggali, semakin banyak hal positif yang dilakukan muridnya itu. Yixing tampak puas dengan sesi bicaranya dengan Yifan. Dan Yixing berharap sahabatnya itu bisa melihat hal-hal baik pada tiap orang.
“Jadi, gimana pandanganmu tentang Yoongi sekarang? Masih berpikir dia anak bengal, nakal, kurang ajar dan bermasa depan suram kayak mukamu kalau pas hari senin?” pancingnya jahil.
“Ternyata Yoongi punya lebih banyak sifat positif daripada negatifnya,” ujarnya mantap dengan wajah berseri.
Senyum penuh kelegaan terpampang di wajah Yixing. “Ternyata kamu nggak sebodoh yang aku kira, Yifan. Salute,” ia mengangkat cangkirnya dan mengadunya dengan cangkir Yifan.
“And thank you, Yifan.”
“Thank you for what?”
“For paying the bills.”
“Wh-what? You brought me here. You should pay.”
“Kamu pikir sesi konsultasi tadi itu gratis?”
“Kita kan sahabat, Xing. Masa aku harus bayar?”
Yixing mengangkat bahunya, menjinjing tasnya dan berbalik menuju pintu. Yifan membayar dan meninggalkan tip untuk pelayan, lalu ia menyusul Yixing. Mereka memasuki mobil masing-masing dan pulang ke rumah.
Yifan merenungkan semua yang tadi mereka bicarakan, dan ada semangat baru dalam dirinya yang siap menyongsong hari esok dengan pola pikir yang baru, kepekaan yang tinggi serta sebuah misi untuk menjadi guru yang dihargai dan disayang murid-muridnya. Yifan akan membiasakan diri untuk melihat kebaikan orang dan menghargainya. Ia bertekad menjadi seorang Wu Yifan yang lebih bijaksana dan tetap tampan.

 
THE END
A/N : Niatnya mau ada lima part, tapi sementara dua aja dulu. Mood lagi gak beres.  semoga gak mengecewakan yaaaa

 

 

Advertisements