A/N : Hai apa kabar. Aku kembali lagi dengan sekumpulan oneshot fics dengan main cast Kris dan Lay. Tiap part ada satu konflik dan penyelesaiannya. Semoga kalian suka. ^^

-O-

Tepat setelah bunyi bel tanda mulainya kegiatan belajar, kedua kaki jenjangnya menggiringnya ke sebuah kelas yang sudah dipenuhi sekitar 35 siswa, yang duduk di kursinya masing-masing. Dengan deheman seraknya, pria awal 30-an itu berhasil mencuri perhatian siswa-siswa itu.

Keheningan yang mendadak itu membuat pria itu tersenyum tipis.

“Selamat siang,” sapanya seraya meneliti seisi kelas.

“Selamat siang, Pak Yifan.”

Pria bernama Yifan itu mengangguk sekilas sebelum membuka bukunya dan menanyakan tugas yang sudah waktunya dikumpulkan. Joonmyun, si ketua kelas meletakkan tumpukan kertas folio di atas meja Yifan.

“Ini ada yang belum mengumpulkan tugas,” matanya menyapu wajah siswa-siswanya, “siapa yang belum mengumpulkan tugas?”

Seorang siswa laki-laki berdiri, menimbulkan decitan ketika kursinya bergeser ke belakang.
Yifan menatap tajam remaja itu dan mengatupkan bibirnya, tanda bahwa ia tidak suka.

“Ini yang ke lima kalinya kamu tidak mengerjakan tugasmu, Min Yoongi,”


Min Yoongi, seorang remaja bermata sipit dan tajam itu mengangkat bahunya acuh tanpa menghiraukan nada amarah dalam suara gurunya.

Yifan memanggil Yoongi untuk berdiri di depan teman-temannya.

“Minggu lalu kamu beralasan kalau bukumu hilang. Sekarang kamu mau memberi alasan apa lagi, heh?” ia menatap Yoongi galak.

Remaja itu mendengus dan memutar bola matanya, dan aksinya itu tertangkap mata awas Yifan.

“Did you just scoff and roll your eyes?” suaranya meninggi dan ia hampir terbawa emosi.
Sepertinya Yifan sudah kehabisan akal dalam menghadapi perilaku kurang sopan siswa didiknya itu. “Min Yoongi, saya terpaksa menambah poin pelanggaranmu dan kamu harus ke ruang BK sekarang juga!”

Yifan masih sempat berharap Yoongi mau meminta maaf atas kesalahannya, tetapi remaja itu justru berbalik dan melangkah ke luar kelas. Para siswa lainnya menyadari betapa merahnya wajah Yifan yang menahan luapan amarahnya.

Namun, ia bukanlah Yifan jika tidak mampu mengendalikan situasi. Maka ia pun melanjutkan tugasnya mengajarkan materi pelajaran yang baru.

Yoongi merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah permen karet. Sambil mengunyah permen karetnya, ia berjalan malas ke arah ruang BK yang terletak di ujung koridor.
“Ya, masuk,” seseorang menyahut dari dalam ketika Yoongi mengetuk pintu. Tanpa rasa takut, ia membuka pintu dan memasuki ruangan ber-AC itu. Ia sudah beberapa kali disuruh guru-gurunya untuk bertemu guru BK karena pelanggaran dan pembangkangan yang dilakukannya.
Yoongi disambut dengan senyuman yang menyejukkan. Kedua mata orang itu menyorot hangat dan bersahabat. Sekilas saja Yoongi membalas senyuman pria yang sedang duduk santai memangku sebuah buku tebal.

“Ah, Yoongi,” sapanya ceria. “let me guess… hmm, Pak Yifan?” Yoongi menyeringai bandel, dan pria di depannya itu terkekeh. Ia menyilakan Yoongi duduk di kursi super nyaman di seberangnya. Tanpa ragu Yoongi menduduki kursi tersebut.

“Kali ini kamu bikin ulah apa sampai Yifan ngirim kamu ke sini?” pria itu terdengar sangat santai dan tenang, tidak ada tanda-tanda kesal maupun marah. “Juice? Coffee?” ia bahkan menawari minum. Yoongi menolak dengan sopan.”So tell me what happened?”

Yoongi mulai menceritakan kejadiannya dan bagaimana Yifan memberinya poin lagi. Guru BK itu mengangguk pelan dan mendengarkan tanpa menyela.

“Kenapa tugasnya nggak dikerjain?”

“Males, Pak. Nggak mood juga, sih,” sahutnya singkat.

“Mereka berantem lagi, ya?” ia bertanya dengan hati-hati.

“Ah, Pak Yixing kaya nggak tahu saja gimana akurnya mama dan papaku. Tiap hari saling bertukar kata-kata mesra,” dengusnya sarkastis. Yixing tersenyum tipis dan menatap Yoongi. “Pak, coba, deh dipikir. Gimana aku bisa konsentrasi belajar kalau mama dan papaku teriak-teriak kaya orang kerasukan seperti itu? Nggak pernah aku lihat mereka bicara tenang tanpa bertengkar. Ngomong dua menit, berikutnya sudah saling lempar umpatan dan saling memojokkan. Aku bisa gila, Pak.” semburat kemerahan mulai merayapi wajahnya.
“Kamu pasti kesal banget lihat pertengkaran orangtuamu, Yoongi,” ujarnya penuh perhatian.

“Sudah jelas banget, Pak. Dan itu alasannya aku pengin pergi dari rumah. Jadi aku nggak perlu dengar lagi teriakan-teriakan mereka,” ia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, “kalau mereka sudah nggak saling mencintai, kenapa nggak cerai saja?”

Yixing menggeleng. “Itu mungkin sudah mereka inginkan, Yoongi. Tapi mereka berusaha menghindari perceraian karena mereka masih sayang kamu,” jelasnya lembut.
Lagi-lagi Yoongi mendengus, “Pak Yixing yang terhormat, jika orangtuaku benar-benar sayang dan peduli sama aku, pasti mereka nggak akan bersikap seperti itu. Harusnya mereka ngasih contoh yang baik di depanku. Ah! Aku tahu alasan mereka nggak cerai. Mama takut nggak dapat bagian dari perusahaan papa.” Ada nada sinis dan benci dalam suaranya, Yixing makin merasa prihatin akan nasib muridnya itu.
Ia memutar otak demi mendapatkan jawaban yang pas untuk membuka pikiran Yoongi. Apapun yang akan diucapkannya dapat menentukan masa depan remaja di depannya itu.

“Apapun masalah yang melatarbelakangi perselisihan orangtuamu itu bukanlah urusanmu. Apa yang mereka alami saat ini pasti akibat dari sikap nggak dewasa mereka di masa lalu. Inilah masa depan yang mereka bentuk dari masa lalu. Orangtuamu memilih masa depan yang seperti ini. Dan mungkin beberapa tahun lagi mereka akan masih tetap seperti ini. Tapi kamu masih punya banyak kesempatan buat merancang masa depanmu. Umurmu baru tujuh belas tahun, kamu punya banyak cara buat hidup sukses dan bahagia di masa depan,” Yixing menekankan kata-kata yang diucapkannya. Memastikan semua yang tercetus dari mulutnya itu meresap dalam benak Yoongi. “kamu sebenarnya sudah korbanin masa depanmu, Yoongi. Ketika kamu nggak ngerjain dan ngumpulin tugas, saat itulah kamu sudah sia-siakan kesempatan buat sukses di masa depan. Dan kamu nggak menyadarinya, kan? Kamu pengin orangtuamu malu dan akhirnya kamu punya alibi kuat buat memojokkan mereka.”
Dahi Yoongi berkerut. Ia belum menangkap maksud ucapan Yixing. Pria berparas kalem itu tersenyum dan menjelaskan kembali ucapannya. “Kamu pengin berontak, tapi kamu nggak mungkin ngelawan orangtuamu. Makanya kamu mau tunjukin ke mereka kalau kemerosotan nilai akademismu itu disebabkan karena ketidak harmonisan orangtuamu. Ya, kan? Jadi kamu bisa bikin mereka malu dan akhirnya berhenti bersikap egois dan kekanakan.”

Kedua mata Yoongi membulat ketika Yixing berhasil menebak apa yangΒ  dalam pikirannya. Ia memang ingin membuat orangtuanya mengerti perasaannya. Ia ingin diperhatikan dan dicintai. Ingin didengarkan dan dinasehati. Yoongi makin kagum dengan ketajaman insting guru BKnya itu.

“Selama aku masih kecil, aku selalu belajar giat demi dapat nilai terbaik, dengan harapan bisa bikin mereka bangga. Tapi mereka nggak menyadari kalau aku butuh perhatian mereka karena mereka terlalu sibuk mentingin kepuasan mereka sendiri. Aku mulai capek dan putus asa. Sampai suatu saat nilai ulanganku jeblok. Dan aku pun kena marah, bahkan papa hukum aku dengan ngelarang aku ikut liburan bareng teman-temanku.” ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Aku ketakutan setelah itu. Aku mati-matian belajar biar nggak dapat nilai jelek lagi. Dan peringkat tiga besar pun berhasil aku rebut lagi. Tapi reaksi orangtuaku biasa saja. Mereka cuma bilang, ‘cukup bagus. Semester depan kamu harus peringkat pertama, ya.’. Ternyata mereka lebih heboh waktu aku dapat nilai jelek. Aku mikirnya jadi aneh. Lebih baik aku bikin ulah biar mereka marah, seenggaknya mereka jadi berinteraksi sama aku, walaupun bikin kesal, sih. Tapi daripada nggak dianggap?” ia menyudahinya dengan senyuman manis.

Apa yang dirasakan Yoongi bukanlah hal yang langka, dan Yixing tahu betul permasalahan seperti itu. Bahkan ia pernah menolong teman sekolahnya dulu ketika mengalami apa yang sedang Yoongi alami.

“Yoongi, apapun yang kamu lakukan, lakukanlah demi dirimu. Kamu lebih berhak bikin dirimu bangga, karena itu adalah usaha kamu sendiri. Kamu boleh, kok, membanggakan orangtuamu, tapi bukan berarti kamu harus jadi penjilat. Kamu belajar, dapat nilai bagus, dapat pujian dari guru dan teman, siapa yang ngerasainnya? Kamu, kan? Siapa yang bangga? Kamu. Ketika kamu berusaha demi dirimu, maka ketika kamu berhasil, kamu bakal ngerasa bangga dan hampir nggak mentingin pujian orang lain. Tapi ketika kamu berusaha hanya demi mengharap pujian, maka ketika nggak ada yang ngasih pujian, kamu pasti kecewa dan akhirnya berhenti berusaha.”

Yoongi mulai mengerti arah pembicaraan Yixing, dan ia menyadari kesalahannya. Saking inginnya diperhatikan, Yoongi melewati masa kanak-kanaknya dengan belajar demi pujian. Dan ketika mulai remaja, ia kecewa dan enggan belajar karena ketika dapat nilai bagus dirinya tidak mendapatkan apa yang diharapkannya.

“Jadi maksudnya… aku harus berjuang demi diriku? Nggak usah mengharapkan pujian?”
Seuntai senyuman hangat menghiasi bibir Yixing, “Ya. Mulai saat ini, kamu yang mengontrol masa depanmu. Kamu mau berusaha sukses demi hidupmu atau hanya hidup demi mengharap pujian? You decide. Aku sudah menggapai cita-citaku, dan aku punya masa depan bersama istri dan calon anakku. Gimana? Hmm?” alisnya naik dan matanya berbinar, menanti jawaban Yoongi.
Yoongi menggigit bibir bawahnya dan berpikir. Semua yang diungkapkan gurunya itu sangat masuk akal. Selama ini ia mencoba menarik perhatian orang dengan prestasinya, tetapi sekarang ia justru berhasil mendapat perhatian atas sikap-sikap buruknya seperti malas, membangkang dan kurang ajar terhadap guru-gurunya. Tapi apa manfaatnya bagi dirinya? Nihil.

Semakin jauh Yoongi memaknai ucapan-ucapan Yixing, semakin ia sadari kekeliruannya. Ia harus berdiri di atas kakinya sendiri, berjuang demi masa depan yang baik dan merasa bangga atas semua pencapaiannya.

“Yoongi, ada satu hal yang pengin aku sampaikan,” Yixing memberi jeda sehingga Yoongi memerhatikan, “hormati orang lain jika kamu ingin dihormati. Itu saja pesan dari aku. Sekarang kamu boleh kembali ke kelas.”

“Terima kasih, Pak,” ucapnya seraya membungkuk hormat, “eh! Tapi, Pak. Hukumannya apa?”

Yixing tertawa dan bertepuk tangan, “Bravo! Ini nih, yang namanya orang yang bertanggung jawab. Hebat.”
Yoongi tersipu dan menggaruk belakang kepalanya.

“Sebagai konsekuensi kelalaianmu, maka kamu harus kerjain semua tugas dari guru-gurumu. Dan harap kamu serahin ke sini Senin lusa, oke?”

“Siap, Pak!” serunya semangat. Dan ia pun meninggalkan ruang guru BK yang sabar itu.

Yixing tersenyum puas ketika melihat percikan harapan di kedua mata muridnya itu, dan ia yakin, Min Yoongi akan merubah sikap negatifnya dan menjadi siswa yang punya masa depan cerah. Tetapi meskipun begitu, remaja itu juga butuh dukungan dan pengakuan dari orangtuanya, dan Yixing memikirkan cara untuk mengajak orangtua Yoongi berbincang mengenai masalah anak mereka.
To be Continued

 

 

Advertisements