*o*

 

Assalamu alaikum,

 

Berapa kalikah kamu berpikir untuk mati daripada menghadapi kenyataan pahit dalam hidup ini?
Yakin kamu sudah siap mati?

 

Aku tiba-tiba angkat topik ini karena aku muak sama orang-orang yang punya masalah yang nggak seberapa parah tapi sudah berharap pengin mati aja.

 

Nggak dimengerti orangtua… pengin mati aja.
Diputusin pacar… lebih baik mati aja.
Lelah lihat orangtua berantem tiap menit… berharap segera mati aja.
Nilai tes jelek… pengin mati aja.

 

Ada yang tahu nggak gimana rasanya ketika nyawa dicabut?


Kalau bisa bicara sama orang yang sudah mati, maka kamu nggak akan pengin mati selamanya. Karena rasa sakit yang muncul ketika ruh dalam tiap sel di tubuh kita itu ditarik paksa dan dikeluarkan dari tubuh ini, sama sekali nggak ada tandingannya. Sakitnya itu bagaikan disabet dengan pedang yang tajam hingga ribuan sabetan. Bagai bulu domba yang basah melilit kayu berpaku dan ditarik dengan kuat sehingga kulit terlepas dari daging. Bagai cambukan dari cemeti yang begitu sakit.
Itu baru proses pencabutan nyawa, lho. Orang yang nggak merasakan sakitnya nyawa dicabut adalah anak bayi/anak yang belum berdosa, serta orang yang teramat sholeh/sholeha. Nah, apa kamu itu anak bayi atau orang yang mukmin sekaligus sholeh? Jika ya, maka silakan berdoa biar cepat mati.

 

Pada saat Allah swt memerintahkan malaikat Izrail untuk mencabut nyawa nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw berkata ” Tolong cabut nyawa saya dengan lembut.”. Lalu dimulai lah proses tersebut di tarik dari Kaki menuju kepala saat sampai dada nabi Muhammad Saw menggigil!!. Lalu datanglah malaikat Jibril dan berkata ” Mengapa engkau memperlakukannya seperti itu ?” ( kalo ga salah yah ). Izrail a.s menjawab ” Sesungguhnya baru pertama kali ini saya mencabut nyawa selembut ini.”. Jibril a.s berkata ” kalau begitu tunjukan bagaimana engkau menjabut nyawa seorang manusia.”. Izrail a.s berkata ” Aku mencabut nyawa manusia layaknya Pedang bergerigi Duri yang langsung di Tusukan ke kambing dan Kuputar lalu ku paksa cabut.””  Aku ambil tulisan ini dari salah satu artikel di blog. 

 

Selain tersiksa ketika nyawa dicabut, ada juga yang namanya siksa kubur. Yaitu ketika tanah liang lahat menghimpit tubuh hingga membuat tulang rusuk saling bertautan. Dan kesalahan sepele semacam kurang bersih cebok dan menyiram air kencing pun bisa membuat kita mendapat siksa kubur.
Belum lagi nanti ada ular besar yang akan menggigit kita jika kita melalaikan sholat. Lalai sholat subuh, maka ular besar itu akan menggigit kita hingga tiba waktu dhuhur. Jika kita melalaikan sholat dhuhur, maka ular itu akan menggigit hingga waktu sholat ashar, eh ternyata sholat asharnya juga dilupain, maka ular akan menggigit hingga maghrib, begitu seterusnya.
Nah, itu baru sedikit siksa kuburnya. Masih ada banyak macam siksa lainnya.

 

Aku benar-benar kesal dan jengkel sama orang-orang yang menggunakan kata mati sebagai jalan keluar dari semua permasalahan.
Bukankah Allah tidak akan memberikan ujian yang melampaui batas kemampuan manusia?

Berarti apapun ujiannya, jika kita berserah diri dan sabar, insyaAllah kita sanggup menjalani semuanya.
Baru juga bokap cerewet doyan ngritik dan marah-marah, eh udah pengin mati aja. Itu nggak ada seujung kuku dibanding ujian dan cobaan yang diterima Nabi Muhammad. Belum lahir aja sudah ditinggal ayahnya. Baru umur 6 tahun sudah ditinggal mati ibunya. Lalu diasuh kakeknya. Eh kakeknya meninggal juga, lalu diasuh pamannya. Kemudian ketika Beliau diangkat sebagai nabi dan rosul, berapa banyak cobaan dan ujian yang harus Beliau hadapi. Diteror kaum kafir tiada henti, sampai hijrah ke kota lain. Terus lihat cobaan yang harus dijalani nabi Isa Alaihi Salam. Beliau mendapat banyak pertentangan dari bani Israel, bahkan difitnah pula. Dan nabi-nabi lainnya dengan segala macam cobaan berat. Nabi Ayyub yang dibikin bangkrut sebangkrut-bangkrutnya orang bangkrut oleh Iblis, bahkan diuji dengan penyakit yang nggak sembuh-sembuh, tapi Beliau sabar dan terus berdoa kepada Allah. Juga orang-orang yang tiap hari menghadapi perang dan konflik, yang sewaktu-waktu ketiban bom atau rudal. Kenapa kita yang masih adem ayem kok nggak bisa tahan?
Masalah yang kita hadapi selama ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan cobaan para nabi dan rosul yang diberi tanggung jawab luar biasa oleh Allah. Lantas, kenapa kita malah bersikap lemah dan berharap mati?
Bekal apa yang kamu punya sehingga dengan pedenya bilang “Aku mau mati aja ah!”
Tolol!
Bego!

 

Sok penting!
Kamu mati juga nggak bikin perubahan apapun kok, bagi orang di sekitarmu, maupun bagi dirimu sendiri.
Maaf frontal. Tapi aku beneran muak.

Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un. Jadi apapun masalah yang kita hadapi, kita serahkan kembali semuanya kepada Allah. Kita memohon petunjuk Allah. Nggak mungkin Allah cuek sama hambanya yang benar-benar bertawakkal dan beriman kepadaNya.

Aku juga punya masalah kok. Dari jaman masih kecil, aku sudah biasa diperlakukan dengan keras. Dibentak, dipukul, diomelin terus-terusan, tapi aku nggak pengin mati. Karena aku tahu, mati itu bukan akhir segalanya. Justru mati merupakan awal dari segalanya. Awal dari kehidupan abadi di akherat.
Kalau kita mati dengan akhir yang baik (Husnul Khotimah) ya kita hidup abadi di surga (amiiiiiiiiiiiiiin), kalau kita mati dengan akhir yang buruk (Suu’ul Khotimah), ya siap-siap aja hidup di neraka jahannam yang bahan bakarnya adalah batu dan manusia, ketika kulit gosong dan melepuh, maka akan diganti kulit yang baru, dan siksaan diulang kembali, begitu selamanya. Dan ingat, satu hari di akherat sama dengan 1000 tahun di bumi. Kalau seribu hari di akherat, hmm…. Hitung sendiri berapa tahun di bumi.

Sanggup nggak ngejalanin kehidupan di neraka?
Kalau sanggup, ya silakan mati sekarang.

Jadi kalau menanggapi suatu masalah itu pakai otak, jangan pakai napsu. Jangan main-main sama kematian. Karena mati itu menyakitkan, hidup setelah mati juga belum tentu bahagia. Nggak selamanya happy ending.

Biar nggak asal ngomong, nggak ada salahnya belajar agama yang benar, kaji Al-Qur’an, baca buku-buku tentang akherat, tentang kematian dan lain-lainnya, jadi nggak lancang ngomongnya. Ya kalau Allah kabulin harapanmu, dan bikin kamu mati besok, apa kamu siap?

Aku punya kenalan, dia itu ngeluhin sikap orangtuanya yang berantem terus tiap hari. Aku tahu kondisi seperti itu sama sekali nggak nyaman buat dilihat. Tiap hari si bapak teriak-teriak, ngeluhin ini itu yang nggak penting. Si ibu nggak sabaran dan terus aja nyolot di depan suaminya. Akhirnya perang terus tiap hari. Anak-anaknya curhat sama aku, dan sudah berkali-kali si anak bilang “Aku mati aja deh kalau kaya gini terus. Nggak kuat aku”
Yaelah, ortunya aja kuat kok berantem tiap hari, masa dengerin doang nggak kuat?
Baru juga teriak-teriak, belum ngebacok, belum mutilasi, belum ditenggelemin di empang. Banyak orangtua yang kejam dan jahat lho, yang nggak segan-segan bunuh anak-anak mereka. Diracun bareng-bareng, dibakar hidup-hidup, digebukin sampai koma, dan lain-lain.

Selalu ingat bahwa ada orang yang punya masalah jauh lebih parah dari kita.
Aku dulu pas remaja memang kesal banget sama orangtuaku. Mereka kolot, bawel dan keras. Aku ngeluh pengin kabur. Tapi ternyata aku masih beruntung, setidaknya orangtuaku nggak berantem terus, mamaku di rumah terus, masak dan ngurus anak-anaknya, meskipun bawelnyaaaa jangan ditanya, deh. Aku juga sering dipukul karena pulang main kemaghriban atau kelamaan main. Tapi ya segitu aja. Palingan sih hobinya ngomentarin acara-acara yang aku suka. Tapi itu wajar lah. Karena aku juga jadi bawel setelah punya anak, apalagi sekarang mereka hampir masuk usia puber, makin rempong deh aku.

Tapi dari pengalamanku dan teman-temanku, aku berusaha nggak terlalu nyebelin sebagai orangtua. Karena jadi orangtua nyebelein itu benar-benar nggak asik, bikin anak jadi enggan komunikasi sama orangtua.

Hidup ini begitu singkat, teman-teman, jadi manfaatin sebaik mungkin. Kita hidup di dunia ini hanya satu jam jika dihitung dengan waktu di akherat. Satu jam di akherat sama dengan 62,5 tahun di bumi. Aku sekarang 30 tahun, jadi umurku baru setengah jam. Setengah jam lagi mungkin aku bakal mati. Wallahu a’lam.
Semoga umurku bisa lebih panjang lagi sehingga aku bisa menimbun bekal untuk menyelamatkan aku dari jilatan api neraka. Amin ya Robbal alamin.

Sebelum kalian berpikir untuk mati, buru-buru istigfar. Ambil air wudhu, dan sholat lah. Lalu ngaji. insyaAllah hati jadi lebih tenang. Karena keinginan untuk mengakhiri hidup adalah salah satu bisikan syaithon yang terkutuk. Itulah kenapa makin banyak orang bunuh diri, karena itu bisikan setan, dia pengin ajak teman buat nemenin dia di neraka. Ada yang mau ikut dia?

Istighfar yang banyak ya.

Segini dulu deh. Semoga ulasan singkat ini bisa nyadarin orang-orang yang pengin mati.

 

Wassalamu alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.

Advertisements