-0-

 

Fiuh, judulnya nggak kepanjangan, kan, ya? Kayanya aku pernah bikin judul yang lebih panjang, dan kebetulan isinya bikin banyak pihak meradang. Hehehe.

 

Mungkin agak aneh, ya, aku bikin postingan seperti ini di blog yang isinya tentang KPOP. Tapi sebenarnya, topik ini bisa jadi cukup menarik buat para reader blogku yang suka melanglang buana di tempat ini, karena kebanyakan reader blog ini masih bersekolah dan sudah pasti berhubungan dengan yang namanya guru. Dan salah satunya adalah GURU BK.

Aku mau cerita tentang guru BK (mulanya guru BP) ketika aku masih sekolah. Seingatku, guru BK di sekolahku dulu itu sudah berumur sekitar 56-57 tahun. Sudah tua, mukanya judesnya nauzubillah. Nggak ada yang suka sama dua guru BK itu. Saking nyebelinnya, para murid sampai ngasih julukan-julukan buat mereka. Kenapa kok sampai begitu?

Karena dua wanita berusia lanjut itu sangat galak, cerewet, rempong dan super nyebelin. Lagaknya persis sipir penjara gitu. Dan ada juga guru BK laki-laki yang umurnya juga nggak muda lagi yaitu sekitar 49 tahun. Guru itu juga galak. Padahal gerak-geriknya rada lenjeh gitu, tapi kalau lihat anak cowok yang rambutnya kepanjangan, langsung aja dipotong sembarangan, dan besoknya cowok itu sudah plontos. Ketika aku masih SMA, belum ada sistem POIN untuk pelanggaran siswa. Jadi kalau terlambat biasanya disuruh nyapu kantor, nyikat wc, nyapu kelas lain jadi biar malu gitu. Kalau misal pakai rok panjang (bagi yang berjilbab) dan belahan belakang roknya kepanjangan maka bakal disobek sekalian, jadi seringnya langsung ditindak, nggak pakai teguran terlebih dahulu.

Pernah suatu ketika, pas aku kelas dua SMA, ada razia mendadak, dan dari dua orang temanku ditemuin satu pak rokok dan sekeping vcd bokep. Mereka langsung dibawa ke ruang BK dan diskors beberapa hari. Dan aku ingat waktu itu aku deg-degan karena aku bawa setumpuk komik yang mau aku kembaliin sepulang sekolah. Akhirnya aku buru-buru simpan komik-komik itu dengan cara dijejer rapi di sela-sela lubang angin atas jendela, dan lipstik yang aku bawa, aku selipin ke dalam sepatu. Hehehe. Untung para guru yang merazia itu lebih kejam periksa anak-anak cowok.

 

Jadi bisa disimpulkan kalau guru BK yang aku hadapi disekolah adalah SIPIR, SATPAM, ALGOJO. Ya, itu yang terjadi.

 

Lalu aku mau bandingin guru BK jaman ketika belum ada sistem poin dengan guru BK jaman setelah ada sistem poin. Apakah efektif? Lalu bagaimana sikap guru BK sekarang terhadap para murid yang bermasalah maupun nggak bermasalah?

Karena sejak dahulu sampai sekarang guru BK adalah tempat singgah terakhir siswa yang bermasalah. Masalahnya apa aja? Berkelahi, merokok, mencuri, memalak, mencontek, menipu, melawan guru, dll. Biasanya mereka langsung dikirim ke ruang BK. Jadi anggapan yang sudah menjadi sugesti bagi para siswa maupun guru adalah, kalau kamu masuk ruang BK/dipanggil guru BK, itu artinya kamu bikin masalah.

 

Benarkah itu?

 

Maka aku coba tanya beberapa teman twitter, dan alhmadulillah ada yang mau sharing sedikit tentang pengalaman mereka dengan guru BK di sekolahnya.

 

Kerjaannya suka ngejudge murid tanpa mendengarkan penjelasan dulu. Jaman SMA poinku sebetulnya sudah di atas 50 poin. Harusnya diskors gara-gara sering telat. Pernah waktu itu aku didatengin guru BK, dia bilang baju aku dikecilin. Padahal waktu SMA kelas 2 itu aku lagi gemuk-gemuknya. Seragam itu seragam pramuka. Pas aku jahit emang udah ngepas badan tapi gak ngepress banget, cuma lengannya emang kependekan. Dia langsung geret aku di depan kelas “baju jangan dikecilin2 kayak gini, gak boleh.” Aku diem aja, siapa yang ngecilin.” Tweet salah satu temanku.

 

Guru Bk-ku di SMA ini gak guna. Malah mojokin murid yang salah, tukang gosip pula. Pokoknya mojokin bukan malah nasehatin, dan gosipin apa aja pokoknya. Mulutnya ember. Amit-amit punya guru kaya beliau.” Itu unek-unek lain dari tweet temanku.

 

Yang jelas dari SMP sih aku dikejar-kejar mulu sama guru BK, entah gara-gara sepatu lah, gara-gara kaus kaki lah… yang parah gara-gara rok sih… hohoho. Pas ketahuan pakai sepatu nggak item dipanggil-panggil tapi aku langsung kabur, besoknya itu guru nggak nindak, lupa kali kebanyakan murid, kayak gitu seterusnya pas SMP. Kalau SMA ada razia gitu terus yang pakai sepatu atau kaus kaki warna, nggak pakai dasi, nggak pakai sabuk, dsb, tuh disuruh jalan jongkok keliling lapangan… kalau telat disuruh cabutin rumput, bersihbersih dsb. Tapi aku juga nggak kapok2 tuh masih aja telat terus. Soal rambut juga pas aku warnain juga diancem doank mau dipotong terus tak itemin kan, tapi yah aku ulangin lagi hehe.. ini entah guru Bknya entah akunya yang kelewat ndablek hehehe… alah gak pernah muji… bahkan pas juara nyanyi pun tetap dijeblokin karena cuma juara 3 dan katanya itu gara-gara suaraku rada mlero.. aib ini T.T, “ ini curhat apa sharing yak, panjang amat hehehehehe itu hasil beberapa kali tweet.

 

Dulu kirain ruang BK tempat anak-anak bermasalah. Ternyata –setelah kelas 3- dibuka ruang konsultasi juga. Sempat takut guru BK galak. Biasanya ditanyain, disuruh cerita, tapi kurang tau juga, soalnya biasanya privasi mereka sih. Konsultasi kalau ada masalah. Soalnya aku bukan tipe anak yang suka ribet hehe beliaunya agak bawel, jadi banyak yang kurang sreg sih.” Jelas seorang dengan tweet-tweetnya.

 

Poin-poinnya gak ada guna sih. Temenku banyak ngelanggar dari telat sampai lain selama tiga tahun malah ga apa-apa -_-“ tweet seorang temanku.

 

Dari beberapa tweet teman-temanku itu bisa kita lihat lebih banyak kesan negatifnya terhadap guru BK, kan? Berarti peran guru BK sudah disalahartikan sama guru itu sendiri.

Aku nyari tahu tentang fungsi sesungguhnya seorang guru BK dan ternyata masih banyak yang belum bisa dipraktekan secara profesional oleh para guru BK itu.

 

Dalam satu kelas ada lebih dari 20 murid. Laki-laki dan perempuan. Tiap individu punya sifat, karakter, kebiasaan, dan kapasitas yang berbeda. Ada yang cepat tanggap, ada yang lambat. Dan tiap individu punya masalah yang sedang dihadapinya. Si A belum tentu punya masalah seperti si B. Tiap individu dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, dalam pola asuh dan didik yang bervariasi. Ada murid yang hidup dalam didikan yang keras dan serba disiplin, ada juga yang dibesarkan dalam keluarga yang bebas membiarkan anak-anaknya melakukan apapun yang mereka suka. Ada murid yang lelah menghadapi percekcokan ayah dan ibunya, murid yang malu karena kondisi keuangan keluarga yang kurang, murid yang minder karena tidak secerdas teman-temannya, dan lain-lain. Semua hal-hal itu bisa mempengaruhi perilaku anak di sekolah. Tugas guru BK adalah menggali penyebab murid-murid melakukan tindakan-tindakan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah.

 

Dan gimana caranya seorang guru BK bisa tauh tentang masalah-masalah intern murid-muridnya?

Caranya dengan menjadi teman bagi para murid. Apa sih definisi seorang teman?

Orang yang mau mendengarkan, menerima apa adanya, memberi dukungan untuk perbuatan positif, mengingatkan jika berbuat hal-hal negatif, bisa dipercaya dalam menyimpan rahasia, tidak menilai tanpa mendengarkan penjelasan, dan hal-hal yang kita cari dari seorang teman.

 

Bukankah lebih nyaman bagi murid buat ngobrolin masalah-masalahnya jika si guru BK bisa meyakinkan murid-muridnya untuk berteman dengannya?

 

Dan lagi, guru BK harus paham betul dunia remaja, karena yang dia hadapi adalah remaja-remaja dengan rasa ingin tahu yang sangat besar, remaja-remaja yang memiliki kenekatan dan keberanian menentang segala macam aturan untuk membuktikan pada semua orang bahwa mereka bukan robot yang bisa dikendalikan oleh orangtua seperti ketika mereka masih balita. Nggak heran kan kenapa pelanggar aturan kebanyakan adalah anak usia remaja?

Coba cek lagi, hal-hal apa aja yang telah kalian langgar dan alasannya apa?

 

Ada yang setuju dengan sistem pemberian poin terhadap pelanggar tata tertib sekolah?

 

Aku pribadi sama sekali nggak setuju, karena aku nggak ngelihat ada suatu keefektifan sistem itu.

 

Kenapa?

Karena guru membiasakan murid melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang hingga batasan tertentu. Tapi, karena sudah terjadi berulang-ulang, maka hal itu jadi kebiasaan.

Contoh :

Kris datang ke sekolah kemarin terlambat sampai hampir 15 menit setelah bel masuk. Dia diganjar 5 poin oleh guru piket hari itu.

Kris cuma angkat bahu dan dengan santai masuk ke kelas.

Pagi ini dengan muka songongnya, Kris terlambat lagi, kali ini dia bahkan nyaris 20 menit terlambatnya. Otomatis dia dapat 5 poin lagi, kan?

Dan itu berlanjut setiap hari dengan keterlambatan yang bervariasi. Tapi intinya Kris terlambat terus tiap hari.

Dari situ aja sudah terlihat jelas bahwa pemberian poin sebagai teguran nggak mempan buat seorang Kris.

Setelah berkali-kali seperti itu, maka Kris mencapai check-point berjumlah 50 poin. Batas minimal untuk menindak si pelanggar aturan itu. Orangtua Kris pun dipanggil ke sekolah.

Setelah itu berakhir, kira-kira, Kris berangkat ke sekolah tepat waktu nggak?

Belum tentu.

Bagi Kris, “Selama gue nggak dikeluarin dari sekolah, gue mah cuek-cuek aja. Yang penting gue nggak mbolos udah syukur.”

 

Alhamdulillahnya sih nggak semua anak seperti Kris.

Sebagai guru yang baik dan memahami jiwa remaja pembangkang, apa susahnya ajak Kris ngobrol layaknya teman, dan coba gali alasan dia terlambat terus.

Kalau kita tanyanya mencecar dan galak, si anak bakal males jawab jujur, kan?

Dan terkadang ketika si anak berusaha jujur, eh si guru malah bilang “Ah, itu alasanmu aja biar nggak dihukum, kan? Nggak usah bohong, deh!” kurang lebih seringnya begitu.

Dari situ si anak ngerasa dia bohong pasti dimarahin, jujur pun dimarahin dan malah dituduh bohong, jadi bohong aja deh sekalian.

 

Misal untuk kasus anak perempuan. Banyak siswi yang rempong banget dandannya kalau mau ke sekolah, pakai aksesoris macam-macam, pake perhiasan, dan bajunya diketat-ketatin biar teteknya lebih kelihatan semok atau apalah tujuannya. Itu kan melanggar tata tertib berpenampilan di sekolah, maka si siswi itu jangan lantas dibentak-bentak dan diomelin. Tapi diajak ngobrol, ditanya pendapat dia tentang penampilan seperti itu, apa dampak postif dan negatifnya, dan semua keputusan biar si siswi yang menentukan, kasih para murid kepercayaan untuk mengambil keputusan. Kalau orang dewasa selalu yang maksain pendapat dan keputusan mereka, maka para anak jadi nggak pede dengan pemikiran mereka. Mereka justru jadi terombang-ambing ketika menghadapi suatu msalah karena sejak kecil mereka sama sekali nggak dikasih kesempatan untuk memikirkan solusi atas masalah-masalahnya.

Dari pendekatan seperti itu, para murid diajak berunding layaknya orang dewasa, mereka diberi kesempatan untuk bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri, karena itu merupakan bekal untuk mereka ketika mereka ngekos dan tinggal jauh dari orangtua ketika kuliah. Mereka kalau sudah biasa diajak berdiskusi tentang suatu problem yang menimpa mereka dan bagaimana mereka bisa memikirkan solusinya, maka seenggaknya itu bisa membantu mereka pas mereka bergaul di lingkungan baru dan menghadapi masalah yang lebih kompleks nantinya.

 

Kita intip kondisi dalam rumah dulu, ya?

Seberapa sering orangtua bertanya pada anaknya, “Nak, menurut kamu, gorden kamarmu bagusnya dikasih warna apa, ya?”

“Dek, menurut kamu, konsekuensi paling tepat untuk pelanggaranmu tadi pagi itu apa?”

“Kalau menurut Mama, sop kambing lebih segar, tapi kalau menurut kamu, lebih segar yang apa?”

 

Ya, intinya orangtua melibatkan anak dalam menentukan sesuatu yang juga menyangkut kemaslahatan si anak. Jadi si anak ngerasa kalau pendapatnya itu dianggap dan dihargai. Kalau dari kecil sudah diberi kesempatan seperti itu, maka dia bakal lebih enjoy ngerjain kewajibannya dan dia bakal ikhlas dalam menjalankan tanggung jawabnya dan bisa lebih menerima hukuman jika dia ngelanggar apa yang sudah jadi tanggung jawabnya.

Orangtua dan guru BK harus bisa bekerja sama. Jangan cuma sepihak. Karena itu mustahil. Kalau pengin anak berubah jadi baik, maka harus sinkron antara rumah dan sekolah. Mana bisa di sekolah si anak dituntut disiplin ketika di rumah serba nggak teratur?

 

Sekali lagi ingat, kenakalan anak nggak terbentuk ketika dia lahir, tetapi didikan orangtua dan cara membesarkan mereka yang keliru dan salah kaprah sehingga membuat anak-anak itu nggak tumbuh sebagaimana mestinya.

 

Sedikit cerminan tentang bagaimana anak kecil yang polos meyakini dirinya bahwa dia nakal.

 

Luhan kecil usia satu tahun baru bisa jalan, dan dia jadi begitu hiperaktif. Manjat kursi, naik tangga, narik-narik taplak meja, numpahin minuman, lempar-lempar mainan, dan hal-hal yang lumrah dilakuin anak baru bisa jalan.

Tapi ketika Luhan mulai TK, dia jadi bandel, suka mukul teman, pecicilan nggak bisa tenang, lompat dari meja ke meja, lempar gurunya pakai mainan dan lain-lain.

Kok, bisa gitu, sih?

 

Karena ketika Luhan yang berumur satu tahun itu selalu dibilang, “Ya ampuuuuun, Luhaaaan, kamu nakal banget, sih? Masa air minumnya ditumpahin di lantai? Nakal, ih!”

“Ya Tuhan, Luhan! Jangan naik-naik tangga! Ini anak nakal banget sumpah. Kalau kamu jatuh nanti kamu berdarah!”

“Luhan! Jangan tarik-tarik taplak meja! Anak nakal! Bandel!” dan tangannya disentil.

 

Makin nambah umurnya, makin nambah tingkahnya yang bikin orang nggak sabar. Dan makin seringlah Luhan kecil dengar kata-kata nakal terucap dari orang-orang terdekatnya.

Ketika dia umur 3 tahun. Luhan punya kecenderungan gigit orang lain karena gemas. Itu kasus sering banget aku lihat di kalangan balita. Tiba-tiba mereka gigit pipi temannya, gigit tangan ibunya atau siapa aja. Dan seketika dia dicap nakal.

Tapi apakah dia benar-benar nakal?

Nggak. Dia hanya nggak paham caranya ekspresiin rasa excited-nya. Dia nggak tahu kalau digigit itu sakit. Dia senang, tapi nggak tahu cara lampiasinnya. Jadi dia bukan nakal, tapi dia nggak tahu kalau perbuatannya itu salah.

 

Maka ketika TK, Luhan belajar bahwa kalau dia berbuat nakal, maka dia akan mendapat perhatian.

 

Lalu, kenapa atlit tinju nggak dibilang nakal? Kan dia suka nonjokin orang?

Kenapa pemanjat tebing nggak dibilang nakal? Kan dia suka manjat-manjat?

Kenapa atlit Taekwondo nggak dibilang nakal? Kan dia suka nendang-nendang?

 

Jadi jangan asal menyematkan kata nakal pada anak. Karena itu menanamkan sugesti.

Suatu kepercayaan bahwa dia nakal.

 

Bisa kalian lihat korelasi antara pola didik anak dan kenakalan remaja di lingkungan sekolah.

Itulah makanya para orangtua harus bisa mengubah sugesti yang negatif itu dan menjadikannya sugesti positif.

Dan bekerjasama dengan guru BK yang lebih paham bagaimana perilaku murid ketika di sekolah.

 

Mungkin sekian dulu ulasanku tentang guru BK. Sebenarnya masih ada banyak yang bisa dibahas, tapi ini sudah cukup mewakili.

Selain itu, aku juga capek. #gakadayangnanya

 

Oke, deh. Sampai ketemu lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.

 

 

WE ARE ONE!!!

 

Advertisements