A/N : Ini lanjutan dari FF sebelumnya, yaa. The Final part

=0=

“The greatest marriages are built on teamwork. A mutual respect, a healthy dose of admiration, and a never-ending portion of love and grace.”

=0=

Aku mondar-mandir di teras rumah, sesekali aku lirik jam tanganku. Hampir jam 9 malam dan Sunny belum pulang. Sudah kutelepon berkali-kali tapi nggak diangkat. Kebiasaan, deh, pasti handphone-nya di silent. Pada puncak kekhawatiranku, sebuah mobil berbelok ke pekarangan. Supir pribadiku turun dan bukain pintu untuk Sunny. Akhirnya istriku pulang juga. Rasa khawatirku itu lenyap seketika waktu kulihat istriku turun dari mobil dan menenteng beberapa kantong dari butik ternama. Belum sempat aku mengucap satu kata pun, Sunny sudah berkicau dengan ramainya.

“Joonnyun, lihat apa yang aku beli.” dia ambil satu bungkusan dan membukanya dengan semangat. “Piyama buat anak kita. Bagus, kan?”

“Ya, bagus. Berapa harganya?”

” Hmm, agak mahal, sih. 150.000,”

“Bukan agak lagi! Itu kemahalan buat baju seukuran tangan Kris!” pekikku gemas.

Sunny seolah nggak dengar jeritanku itu, dia justru ngeluarin isi kantong berikutnya. “Flat shoes keluaran terbaru, kece, ya?” langsung saja sepasang sepatu berwarna mencolok itu dipakainya, dan dia berputar-putar memamerkan sepatu barunya dengan tubuh bulatnya itu.

“Iya, kece kaya kamu, Sayang. Itu sepatu pasti nggak mahal-mahal banget, kan?”

Sunny tersenyum manis, “Ah, Joonmyun. Tenang saja, nggak mahal, kok. Padahal ini new release, lho.”

“Iya, tapi harganya berapa?” aku sudah siapin hati dan mental. Aku tanpa sadar, refleks nahan nafas.

“Sebentar aku lihat,” dia ngecek kotak sepatunya, “625.000,”

“APA? Memangnya nggak ada yang lebih manusiawi?” aku ngerasain tiap bulu di badanku mendadak berdiri semua. Ini lebih horor daripada film horor terhoror yang pernah aku tonton.

“Yang murah, sih, banyak. Tapi kamu tahu, kan, kalau aku sudah terbiasa beli yang branded. Dan ini brand sepatu favoritku.”

“Aku juga beli yang branded, tapi nggak semahal pilihanmu, Sunny.” aku capek tiap hari harus lihat betapa borosnya istriku. Tapi aku nggak tega larang dia berbuat apa yang bisa ringanin rasa bosannya. Apalagi kalau lihat dia berdendang sambil berputar-putar sesuai irama. Aura keibuannya memancar saat tangannya mengusap-usap perutnya. Bagaimana kedua matanya berbinar bahagia menanti lahirnya buah hati kami. Hal-hal itulah yang selalu menahanku untuk menegurnya.

“Joonmyun, kenapa diam saja di sana? Ayo, kita dansa.” tanpa ragu dia menarik tanganku dan menaruhnya di pinggangnya yang sudah nggak ramping lagi. Aku mulai bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti melodi yang dinyanyikan istriku. Kukecup dahi, hidung dan bibirnya. Dia tersenyum dan membisiki aku ucapan cinta. Oh, Tuhan… Haruskah aku tegur dia? Tapi nanti dia sedih. Sumpah, aku bingung harus gimana negurnya. Aku benar-benar sudah nggak tahan dengan hobi Sunnya. Sore tadi dia belanja tiga macam tas, dua pasang sepatu bayi dan parfum bayi yang mahal.

 

Sudah kebayang, kan, berapa yang sudah dihabiskan dia hari ini.

Ini benar-benar sudah cukup. Aku segera ambil ponselku dan telepon penasehat spiritualku. Kim Minseok.

Minseok nggak segera angkat teleponnya. Aku coba sekali lagi, dan akhirnya diangkat juga. Aku dengar suara celotehan manja sepupuku, Sulli, beradu argumen dengan Minseok. Yang aku dengar hanya, ‘Minnie, ini dikupas dulu atau diiris langsung?’ dan jawaban Minseok yang buru- buru menanggapinya. Apa yang lagi dikerjain dua orang itu, ya? Sulli belajar masak? Ah, mustahil.

‘Ya, halo?’

“Minseok. Aku butuh bantuanmu. Ini demi kelangsungan kesejahteraan rumah tanggaku.” Aku harus terkesan serius, karena Minseok cenderung santai orangnya.

‘Ya, kasih aku sepuluh menit, nanti aku telepon kamu.’ Dan begitulah dia menyudahinya. Padahal aku belum sempat jelasin apapun.

Sambil menunggu telepon dari Minseok, aku ngecek pengeluaran bulan ini. Dan benar, Sunny sudah habisin sekitar empat juta dalam sebulan. Memang termasuk kecil dibanding pemasukanku tiap bulannya, tapi aku nggak pengin kebiasaan buruknya itu merusak masa depan kami. Ya, kalau perusahaanku untung terus dan nggak mengalami masalah. Tapi kalau aku bangkrut, amit-amit, sih, kan bisa repot nantinya.

Aku dengar Sunny lagi ngobrol di telepon, entah dengan siapa, yang jelas dia lagi pamer benda-benda yang dibelinya tadi.

Ya, ampun, Minseok, sepuluh menitmu lama banget, sih?

Ah, ponselku berdering, syukurlah.

Aku langsung angkat teleponnya dan menyingkir dari dekat Sunny. Aku masuk ke ruang kerjaku, mengunci pintunya dan duduk di kursiku.

Pendingin ruangan berderu lembut sambil menyebar hawa sejuknya. Harum bunga segar yang ditaruh pembantu rumah kami, menyegarkan penciumanku.

Minseok dengerin ocehanku dengan sabar, tiap keluhanku dia tanggapi dengan ‘oh, gitu, ya.’ dan ‘hmm.’. setelah aku selesai berkeluh kesah, aku pun minta saran dari dia. Wajar, kan, kalau aku minta pendapat dari dia, karena dia yang tertua di antara kami semua.

Nyaris setengah jam dia dengerin tiap patah

kata yang aku ungkapin, dan tibalah saat Minseok ngasih nasehatnya.

Agak nggak percaya diri juga, sih, dengan ide Minseok, tapi nggak ada salahnya dicoba.

Aku ucapin banyak terima kasih kepada Minseok, dan tutup teleponku.

Sudah jadi kebiasaanku dan istriku buat nonton film drama romantis tiap malam minggu. Tepat seperti malam ini, aku dan Sunny sudah memilih satu film yang dia suka.

PS. I Love You. Yang diperankan aktor yang menurut Sunny ‘ya, Tuhaaaaan, dia ganteng bangeeeeet. Macho paraaaah. Aaaa! Gerard Butleeeer.’ Ya, begitulah hebohnya dia waktu nonton The Ugly Truth minggu lalu. Dan dia lagi bertekad nonton semua film yang diperankan si Gerard Butler ini.

Sialan film ini. Sedih banget. Aku sendiri netesin air mata, sementara Sunny nangis sesenggukan gara-gara si Gerard Butlernya diceritakan sudah meninggal di situ dan dia ninggalin 10 surat buat istrinya yang isinya diharapkan bisa bikin si cewek itu tegar menjalani hidup tanpa suaminya. Sedih banget pokoknya.

Setelah isakan Sunny berhenti, aku peluk dia, kecup keningnya dan usap-usap punggungnya. Dia merapatkan tubuhnya ke dalam pelukanku.

Aku benar-benar nikmatin momen-momen seperti ini. Mumpung kami masih berdua saja. Karena setelah kehadiran bayi kami, pasti fokus kami tercurah ke dia semua.

Berhubung belum terlalu malam, aku ajak Sunny duduk di balkon yang menghadap ke kolam renang besar di belakang rumah. Lampu-lampu mungil yang berkedip-kedip pada batang-batang pohon di kebun belakang, bikin suasana amat sangat romantis. Semilir angin malam menerpa wajah kami, dan mengelus lembut rambut pendek istriku. Padahal aku suka banget rambut panjang Sunny, tapi sejak mulai hamil, rambutnya mulai rontok, kata dokter kandungan itu akibat perubahan hormon. Akhirnya dipotong, deh, rambutnya.

Aku ambil selimut tebal dan bungkus tubuh tambun istriku biar nggak kedinginan. Lalu aku duduk di depannya.

Waktunya sudah tiba.

“Sunny… tadi filmnya sedih banget, ya,”

“Iya, Joonmyun. Aku masih kepikiran sampai sekarang.” Dia menatap aku dengan mata berkaca-kaca.

 “Jangan sampai aku ada di posisi cewek itu. Aku nggak bisa ngebayangin hidup tanpa kamu, Joonmyun.”

Aku genggam tangannya dan menatap lurus ke matanya. “Aku hanya bisa janjiin apa yang bisa aku lakuin sekarang, Sunny. Karena itu, aku mau bicara serius sama kamu. Aku minta maaf sebelumnya kalau omonganku bikin kamu tersinggung. Tapi ini demi kebaikan kita. Aku, kamu dan anak kita nantinya.” Dahinya mengernyit. “Kamu mau bicara masalah apa, Joonmyun? Aku jadi was-was,”

Aku tarik nafas dalam sebelum jelasin pokok permasalahannya.

“Ini tentang kamu, Sayang.”

“Pasti kamu mau bilang aku gendut banget, kan?”

“Ini nggak ada hubungannya dengan fisik, Sunny.”

“Terus, tentang apa?” dia mengeratkan selimutnya dan menunggu jawabanku.

“Ini masalah hobimu. Hobi belanjamu yang sudah berlebihan, Sunny.”

Dia kelihatan agak kaget, tapi tetap diam.

“Aku nggak ngelarang kamu belanja, kok, hanya saja kamu kurang bisa nahan hasratmu buat beli barang-barang yang nggak kamu butuhin.”

“Joonmyun, harusnya kamu itu paham kalau aku belanja karena aku butuh.”

“Tapi kamu sama sekali nggak butuh semua benda yang kamu beli. Contohnya, kamu kemarin beli sepatu, padahal sepatu dan sandalmu sudah penuhin satu lemari. Kamu nggak butuh sepatu baru. Kamu juga masih saja beli pakaian, padahal sudah ada dua lemari yang penuh sama pakaian-pakaianmu. Dan lagi, kamu terlalu heboh beli baju-baju bayi, yang hanya bisa dipakai sampai usia dua bulanan. Semua itu sia-sia, Sunny.”

“Kalau kamu nggak suka, kenapa kamu diam selama ini? Sekarang aku yang kelihatan jahat. Padahal aku pikir kamu nggak masalah dengan kesukaan aku. Lagipula, uangmu, kan, banyak, Joonmyun. Wajar, dong, kalau aku berusaha menikmati.” Suaranya mulai melengking. Ini alasan kenapa aku selama ini diam saja, karena aku nggak mau bikin dia emosi.

Harus lebih hati-hati jelasinnya.

“Untuk saat ini, ya. Perusahaanku lagi sukses-suksesnya. Banyak penanam saham yang tertarik buat kerja sama dengan perusahaanku. Bisnisku memang berada pada  puncak-puncaknya. Tapi, kesuksesan, kekayaan dan keberuntungan itu nggak abadi, Sunny.”

“Maksudnya? Kamu nggak akan selamanya kaya?” sepertinya itu suatu fakta yang bikin Sunny khawatir. Maklumlah, dia memang hidup bergelimang harta. Papanya seorang pengusaha super sukses, punya banyak usaha baik dalam negeri maupun luar negeri. Memang sudah keturunan, sih. Makanya dia cuek saja waktu belanja produk-produk yang harganya mahal.

“Iya. Kita sama sekali nggak tahu apa yang bakal terjadi tahun depan, dua tahun lagi atau bahkan sepuluh tahun dari sekarang. Bisa saja bisnisku nggak berjalan lancar dan akhirnya aku bangkrut. Atau aku ditipu sehingga semua asetku hilang. Kita juga nggak bisa menjamin kesehatan kita. Mungkin saja aku kena penyakit parah yang butuh biaya besar buat berobat. Atau lebih parah lagi, umurku nggak panjang. Semua itu kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa saja menimpa kita, Sunny. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani hari ini. Saat ini. Detik ini. Kita cukup berencana, tapi Tuhan yang menentukan.”

“Amit-amit, jangan sampai, deh, kaya gitu.” Dia menggigil membayangkan hal-hal buruk itu.

“Makanya, alangkah baiknya daripada uang dihambur-hamburin buat beli yang nggak penting, lebih berguna kalau kita tabung buat masa depan anak kita. Buat sekolah, kuliah bahkan bisa buat bangun rumah untuk dia. Jadi rumah itu bisa jadi aset buat anak kita di masa mendatang. Lagipula, uang yang kamu pakai buat beli sepatu dan tas mahal itu padahal bisa dipakai untuk nyumbang ke panti asuhan atau untuk para penderita kanker  dan lain-lain. Bisa lebih bermanfaat bagi orang yang lebih membutuhkan.”

Tatapan Sunny melunak, sepertinya dia mulai paham isi pembicaraanku. Sebelum dia berubah pikiran, aku lanjut lagi, deh.

“Aku nggak akan ngelarang kamu buat bersenang-senang, kok. Tapi kamu harus janji untuk membatasi pengeluaranmu. Mulai awal bulan depan, aku bakal kasih kamu jatah bulanan. Kalau sebelum akhir bulan, uangmu sudah habis, berarti kamu nggak bakal aku kasih uang sampai awal bulan berikutnya. Ini demi kebaikan kamu juga, biar kamu nggak terlalu konsumtif. Gimana? Wanna work this out?” aku naik turunin alisku sambil manyun-manyunin bibir sok imut, Sunny ketawa geli.

It depends…”

“tergantung apa lagi? Kok, pake syarat-syarat?”

“Ya, tergantung berapa banyak jatah uangnya.”

“Sunny!” aku melotot pura-pura marah. Dia ngakak dan tepuk-tepuk tangan.

“Aku becanda, Joonmyun.” Dia pegang tanganku. “For our future,”

For our future,” aku lega akhirnya istriku bisa paham juga.

Malam mulai dingin dan aku nggak mau istriku sakit, maka aku ajak dia masuk ke dalam rumah yang jauh lebih hangat.

Kami sudah berbaring di ranjang kami, dan kepala Sunny bersandar di dadaku. Jarinya mainin kancing piyamaku. “Joonmyun, maafin aku, ya. Karena sudah kebiasaan dari kecil yang selalu dihujani dengan barang-barang mahal, akhirnya jadi terbawa sampai sekarang. Sumpah aku masih kepikiran semua ucapan kamu tadi. Aku jadi takut ngebayangin kehilangan semua ini, terutama kehilangan kamu. Kaya di film tadi. Mulai sekarang aku harus bisa berubah dan jadi lebih bertanggung jawab.” Dia lingkarin lengannya di pinggangku. “Aku bakal terus berdoa supaya kita selalu diberi kesehatan dan kesejahteraan, ya, Joonmyun. Jangan sampai anak kita hidup susah dan menderita.”

“Amin, Sayang. Amin.” Aku kecup bibirnya agak lama, berusaha sampaikan rasa cintaku padanya. “Sleep tight sweetheart, I’ll see you in the morning.”

“Hmm… good night, Darling. See you early in the morning.” Dan dia pun perlahan mulai terlelap. Konflik batin yang aku rasain selama ini akhirnya terselesaikan juga. Terima kasih, Minseok.

=0=

Badan gue capek banget, berasa digebukin warga perumahan tempat tinggal gue. Setelah mobil terparkir dengan rapi, gue pun masuk rumah. Home sweet home. Dalam benak gue sudah tergambar jelas, senyuman ceria istri gue dengan secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panasnya. Wah, nikmat banget.

“Gue pulang.” Suara berat gue yang mirip Josh Groban menggema di ruang tengah. Nggak ada sosok kekasih hidup gue, Amber. Ke mana, tuh, orang? Jam lima lebih kok nggak duduk manis di depan televisi nontonin acara talkshow favoritnya? Tumben.

“Amber! Where are you?” gue tangkupin tangan di depan mulut dan manggil lagi, “Your amazingly handsome husband is home.”

Kenapa nggak ada balasan, ya? Jangan-jangan dia lagi di kamar mandi.

Gue copot dasi yang membelit leher gue dan mulai nyari istri gue.

Pintu kamar mandi terbuka lebar. Di dapur juga sunyi senyap. Ke mana, sih?

Tiba-tiba ada suara berisik dari arah gudang. Gue buru-buru lari ke sana. Jangan-jangan ada maling dan si bajingan itu lagi jadiin Amber sebagai sanderanya.

“Amber!” seru gue waktu ngebuka pintu gudang.

BUSEEEEET! NGAPAIN ISTRI GUE MANJAT TANGGA?

“AMBER! WHAT THE HELL ARE YOU DOING? GET DOWN FROM THAT LADDER!”

Bukannya nurut dan turun dari tangga, dia malah natap gue dengan muka datar. “Lampu ini minta diganti.”

“Ya, udah, lo turun dari sana, ntar gue pasangin, deh, lampu baru.” Gue berusaha ngebujuk dia biar turun. Kayanya istri gue ini hobi banget bikin jantung gue kelojotan nggak jelas.

“Lo bilang kaya gitu dua minggu lalu. ‘lo tenang aja, Kris the handy man bisa pasang lampu baru’, preeeet! Sampai hari ini juga nggak lo pasang lampunya. Gue jadi kerepotan kalau mau ngambil sesuatu dari gudang.”

“Oh, gue pernah bilang gitu, ya? Ya, sudah, gue minta maaf. Sekarang lo turun dari tangga itu. Habis ini gue yang pasang, deh.”

Amber malah julurin lidahnya yang suka gue… mmm… gitu, deeeh. Ah, salah fokus!

“Gue sudah nggak percaya sama janji lo, Kris. Ngomong doang yang gede, tapi nggak ada bukti nyata. Capek, gue.”

Aduh, kenapa Amber terlalu keras kepala, sih?

“Gue nggak disambut sepulang kerja, nggak dibikinin minuman hangat pengusir lelah, nggak dipeluk atau dicium, tapi malah diomelin.”

“Salah lo sendiri, sih. Ayo, buruan naik dan pasang lampu baru.” Dia turun pelan-pelan dan mendarat dengan selamat.

“Amber, kasih gue waktu buat nafas, sih.” Dan gue pura-pura sesak nafas gitu. Gue pijat-pijat pelipis gue dan tarik nafas dalam dan keluarin pelan-pelan.

“Nggak usah sok lemah, deh. Buruan!” semburnya galak.

Beginilah kalau menikah sama sahabat sepanjang masa, jadi sudah kenal luar dalam. Dia memang bawel dari jaman SMP tapi semakin tua, makin parah bawelnya, ditambah sekarang lagi hamil. Kata dokternya, ibu-ibu hamil itu sensitif banget. Bisa cengeng, pemarah, galak, tersinggungan, dan lain-lain.

Daripada gue ditimpuk pakai panci, mendingan gue nurut saja lah.

“Oke, gue naik sekarang. Tapi lo pegangin tangganya.” Setelah dia bilang iya dengan tegas, gue pun mulai menapaki tangga lipat itu.

Satu persatu gue naikin anak tangga, gue nggak berani buru-buru takut nyungsep. Akhirnya sampai juga di puncak tangga. Hati-hati gue rentangin lengan gue dan nyopot lampu yang sudah mati. Amber sodorin aku lampu yang baru, dan pelan-pelan gue pasang.

“Amber, coba dinyalain lampunya.” Dia ngangguk dan mau ngelangkah ke arah saklar lampu di dekat pintu. “WOY! JANGAN LEPAS PEGANGANNYA, DONG!” gue gemetar di atas tangga.

“Kalau gue pegangin terus, gimana caranya gue nyalain lampu, Kris? Mikir pakai otak, dong, jangan pakai gusi!” semburnya galak.

“TAPI KALAU TANGGANYA GOYANG TERUS JATUH, GIMANA?”

“Ya, palingan muka lo nubruk lantai. Siapa tahu bisa lebih artistik gitu bentuknya.” Lagi-lagi dia ngejawab dengan cueknya.

“AMBEEEEER! DON’T LEAVE ME LIKE THIS!” seriusan gue ngeri ngebayangin muka gue nubruk lantai.

Tapi yang dipanggil malah dengan santainya ninggalin tangga dan nyalain lampu.

“Nah, lampunya sudah nyala. Sekarang lo bantuin gue turun.”

Amber nurut dan pegangin tangga lagi. Syukurlah, gue nggak nyungsep atau ngejeblak dari tangga.

Gudang pun jadi terang benderang, semua barang di dalamnya jadi kelihatan jelas.

Langit sudah gelap, dan gue belum mandi maupun minum kopi. Semua gara-gara lampu kampret itu. Dan sekarang Amber malah sibuk nyari-nyari barang di gudang.

Ah, seandainya Amber kaya Luna yang selalu ngeladenin Luhan dengan penuh perhatian, pasti gue bahagia.

Terpaksa gue bikin kopi sendiri, terus mandi dan ganti baju yang santai dan nyaman. Gue nyeruput kopi sambil nonton berita di televisi. Setelah hampir satu jam, Amber muncul dengan sebuah kardus.

“Amber, kenapa lo bawa-bawa kardus berat? Kalau lo keguguran, gimana?” gue omelin dia sambil buru-buru ambil barang berat itu dari tangannya.

“Gue capek minta tolong sama lo, Kris. Mendingan gue kerjain sendiri saja.” Celetukannya itu bikin gue tersinggung.

“Kapan lo minta tolong? Perasaan lo selalu kerjain semua sendiri, kok.”

“Itu karena tiap kali gue minta tolong lo, lo selalu ngegampangin. ‘ntar, gampang. Gue benerin deh gentengnya.’ Tapi mana buktinya? Sampai gue nekat naik ke atap, lo baru manggil tukang.”

Oke, gue kaya ditampar pakai papan reklame. Menohok banget.

“Ya, tapi, kan, bukan berarti gue nggak mau bantuin, Sayang,” gue manis-manisin suara gue, biar dia nggak tambah ngamuk.

“Kalau memang niat bantuin, seharusnya lo langsung bergerak. Nggak cuma bengong saja.” Dia ngedeketin gue dan tarik pergelangan tangan gue. “Duduk, deh. Gue mau ngobrol,”

Oh, dari tadi itu bukan ngobrol, ya?

Gue nurut. Pantat gue nyentuh permukaan sofa yang empuk, dan gue bersandar di punggung sofa.

Amber duduk di samping gue. Dari mukanya kelihatan banget kalau dia kelelahan. Kasihan istri gue.

“Kris, lo pasti tahu betapa gue sayang banget sama lo. Dan gue bahagia bisa nikah sama lo. Tapi, gue nggak mau munafik, sering banget gue ngerasa sebal sama lo.”

“Lo sebal kenapa?”

“Ya, Tuhan, masih belum nyadar juga, lo? Ampun, deh.” Dia geleng-geleng pasrah. “Gue sempat berharap lo berubah, Kris. Masalahnya, kebiasaan buruk lo itu sudah berlangsung sejak jaman kita masih cupu.” Jelasnya gemas.

Cupu? Amber, please, bagi seorang Kris, cupu adalah sebuah kemustahilan. Kris terlahir sebagai cowok keren sepanjang masa.

“Lo doang yang cupu, Say. Jadi masalahnya apa? Kebiasaan buruk gue apaan coba?”

“Kebiasaan buruk lo itu suka menunda-nunda pekerjaan. Lo selalu yang paling terakhir ngumpulin tugas, lo yang selalu datang telat ke sekolah, selalu lupa bayar hutang di kantin. Intinya, lo terlalu ngegampangin segala sesuatu. Itu yang bikin gue kesal sama lo.”

“Sebenarnya bukan niat gue buat menuda-nunda, Sayang. Tapi masalahnya saat itu gue lagi ngerjain hal yang lebih penting.”

Amber mendengus dengan judesnya. “Penting? Apaan? Palingan lo lagi ngubek-ngubek muka lo itu, kan?”

“Muka itu penting. Kita itu kalau bicara selalu bertatap muka. Nah, kalau lo bicara sama orang yang mukanya jerawatan segede jagung, dekil, kusam, dan lusuh? Pasti lo pengin buru-buru buang muka, kan?” gue ngebela diri.

Amber pijat-pijat pelipisnya, gue tahu banget gesture dia itu.

Dia sudah lelah berdebat sama gue.

Berarti sebentar lagi dia bakal masuk kamar, dan diam. Lalu gue bakal peluk dia dari belakang, kecup lekuk lehernya dan bisikin kalau gue cintaaaa banget sama dia.

Dan beres, deh.

Gue yang menang lagi.

“Kris, gue cinta banget sama lo. Tapi, sampai kapan gue bisa pertahanin rasa cinta gue?”

“Ya, sampai ajal memisahkan kita, lah. Kan, sesuai janji pernikahan kita waktu itu.”

Amber pijat-pijat tengkuknya. Tanda dia sudah benar-benar capek adu argumen sama gue.

“ITU KALAU LO BISA LEBIH BECUS JADI SUAMI, KRIS!”

Buset, dia malah ngamuk. Aduh, singa saja bisa kalah galak, nih.

“M-maksudnya? Jadi selama ini gue nggak becus jadi suami yang mengayomi, menyayangi, menafkahi lahir batin, dan…”

“Lo mengayomi, menyayangi dan nafkahin gue lahir batin, Kris. Tapi lo sering banget nggak berguna di saat gue benar-benar butuh. Di saat genteng bocor, lampu mati, keran rusak, saluran air mampet, bahkan rumput liar yang minta dipotong. Semua itu harusnya jadi kerjaan lo, tapi tiap kali gue minta tolong, lo selalu bilang lagi capek, mau istirahat dulu atau apalah. Gue capek kaya gini terus. Gue kebayang gimana nanti repotnya gue ngurusin bayi sambil mikirin genteng yang bocor atau manjat-manjat buat benerin lampu.”

Saat dia ungkapin semua unek-uneknya tentang kelalaian gue sebagai kepala rumah tangga yang gagah perkasa dan siaga selalu, gue akhirnya berpikir.

 Sudah lama banget kayanya gue nggak berpikir, mungkin ini saatnya gue harus benar-benar berpikir. Tapi, berpikir itu melelahkan. Kepala gue langsung berdenyut-denyut. Efek jarang dipakai kayanya. Well, gue nyadar kalau apa yang selama ini gue keluhin dari sikap pecicilan Amber adalah efek dari sikap malas gue. Tapi masa, sih, gue semalas itu?

“Tapi… gue, kan, pekerja keras, Amber. Gue dari pagi sampai sore kerja di kantor, ngurusin macam-macam klien dan masalah, masa dibilang malas? Dan bukannya lo dari dulu memang sudah terbiasa ngerjain apapun sendiri? Seingat gue, dari jaman lo masih cupu, lo jarang banget minta tolong sama orang lain. Gue ingat waktu lo manjat genteng rumah tetangga gue buat ngambil layangan putus itu, lo sama sekali nggak minta tolong gue atau Luhan. Ingat, nggak?” gue tepuk-tepuk lututnya. Mata sipitnya memicing galak. Gue langsung senyum tanpa dosa.

“Oh, kalau masalah lo kerja di kantor, gue acungin jempol, deh. Lo termasuk workaholic sejati, tapi ini masalahnya beda lagi. Gue memang jarang minta tolong orang selama gue masih sanggup dan mampu ngerjainnya. Tapi itu dulu, jaman gue masih single, sekarang gue sudah punya suami absurd macam lo jadi sudah sewajarnya gue minta tolong sama lo.” Dia ngoceh sambil kibas-kibasin tangannya yang lentik dan mungil, yang suka gue genggam dan mainin cincin kawin di jarinya. Tuh, kan, salah fokus lagi.

“Amber, please, tenang dulu. Gue nggak ngerti apa yang lagi lo omongin. Lo ngomongnya terlalu cepat. Kepala gue berasa penuh, dan Amber terus saja berkicau. Gue nyaris nggak paham satu kata pun dari ucapan-ucapannya. Emosinya meluap dan wajahnya memerah. Gue majuin badan untuk peluk dia, tapi dia malah tepis tangan gue dan dorong dada gue sebelum berdiri dan pergi ke kamar.

Gue bengong. Mencerna apa yang barusan terjadi.

Gue lirik jam di dinding, ternyata sudah jam sembilan lebih. Ah, gue ketinggalan acara kesukaan gue di televisi, deh. Tadi waktu Amber mau bicara, gue matiin televisinya biar bisa lebih konsentrasi. Karena gue paling nggak bisa tidur kalau istri gue lagi marah, maka gue pun beranjak ke kamar kami.

Aroma parfum lembut milik Amber menyeruak menggelitik hidung mancung gue. Ah, gue suka banget wanginya. Parfum yang sudah bertahun-tahun dia pakai. Wanginya sudah jadi udara yang gue hirup, saingan sama oksigen lah. Sejak pertama gue duduk sebelahan sama dia, itulah aroma parfum yang menghiasi hari-hari gue di SMA. Meski kami sudah berteman sejak SMP, tapi masa-masa SMA kami lebih seru dan sangat akrab.

Dan sekarang dia lagi ngambek. Tubuh mungilnya berbaring maring dengan selimut yang nutupin sekujur tubuhnya, hanya kepalanya yang menyembul. Gue naik ke atas ranjang dan rebahan dengan berbantalkan lengan.

Gue nengok ke samping gue, dan hanya punggung istri gue yang menatap balik ke arah gue. Dia marah dan nggak mau dekat-dekat gue. Dia selalu seperti itu kalau marah. Dari jaman dulu. Tiap ngambek atau kesal, dia pasti ngejauhin gue, nyuekin gue dan jutekin gue. Dan entah kenapa, gue nggak kapok-kapok bikin dia kesal. Karena tiap kali dia ngambek, gue pelan-pelan bakal rayu dia dan akhirnya dia luluh lagi.

Seperti sekarang. Gue mau rayu dia biar kesalnya hilang.

Gue geser badan gue dan peluk dia dari belakang.

“Sayang…”

Dia membisu.

“Maafin gue, ya…”

Gue rasain ada gerakan dari Amber. Dia singkap selimut dan duduk bersila di depan gue. Alisnya nyureng dan bibirnya manyun.

“Lo minta maaf untuk apa?”

“Karena bikin lo kesal.” Gue menjawab yakin.

“Kenapa gue bisa kesal?” tanyanya lagi.

“Hmm… karena gue ngga paham apa yang tadi lo omongin.” Mulutnya menganga nggak percaya. “Ya, kan?”

“Kris, jadi dari tadi lo sama sekali nggak paham kenapa gue marah dan kesal sama lo?”

Gue angkat bahu.

“That’s it! I’m so done with you. Good night Mr. Wu!” dan dia ambil bantalnya dan keluar dari kamar.

“Amber! Where are you going?” gue kejar dia ke kamar tamu. “Hey! Don’t you walk on me like that.”

“Why not? Gue lelah bicara sama lo, Kris. Kenapa lo masih nggak paham juga, sih?”

Dan dia tutup pintu kamar dan gue berdiri kaya orang bego di depan pintu.

Gue ke dapur dan ambil segelas air dingin. Gue lihat isi kulkas, ada puding dan kue. Pasti tadi dia bikin buat dessert, tapi kami malah berantem.

Bunyi tetesan air cukup bikin gue terganggu. Gue lihat air dari keran netes terus. Wah, gue baru ingat, kemarin Amber bilang kalau keran di dapur minta dibenerin. Dan gue lupa.

Saat itu juga gue langsung coba benerin keran itu. Setelah beberapa saat, keran pun sudah nggak netesin air lagi.

Karena rasa lapar, maka gue nyari sesuatu untuk disantap. Gue buka lemari piring dan hampir saja gue ketiban pintu lemari. Sial! Sekrupnya lepas. Dan Amber kasih tahu gue tentang engsel yang minta disekrup, ternyata lemari ini.

Gue ambil obeng dan sekrup, lalu gue kencengin engselnya. Pintu lemari sudah nggak mengancam wajah tampan gue lagi.

Sesendok demi sesendok kue masuk ke dalam mulut gue, sambil mengunyah, pikiran gue berkelana, menyusuri lika-liku kehidupan gue bersama cewek yang gue cintai. Gue baru nyadar kalau gue kurang bersyukur. Gue selalu menerima tapi jarang memberi. Amber itu cewek tegar dan kuat, dia juga berani dan nggak cengeng. Jarang banget dia minta tolong sama gue, meskipun gue bakal nolong dia, tapi dia selalu berusaha sendiri, kalau sudah mentok, baru, deh minta tolong. Dia mandiri banget, dan gue yakin dia bakal jadi ibu yang tegas tapi penyayang, seorang ibu yang bisa ajarin anak-anaknya bersikap mandiri dan nggak manja.

Dan Amber itu begitu bertanggung jawab atas segala yang dia lakuin. Dan karena itulah, gue akhirnya terlalu mengandalkan dia. And I was thinking that she can handle everything. What a selfish thought.

Pada suapan kue terakhir, pikiran gue terbuka lebar, gue selama ini mengharapkan Amber untuk jadi orang lain, ya, sebut saja Victoria yang kalem atau Luna yang benar-benar perhatian sama suaminya, ternyata gue yang sama sekali nggak bisa menguak betapa indahnya istri gue, betapa istimewanya dia.

Oh, Kris, where have you been all these years?

Gue juga harus bisa ubah pola pikir gue tentang menunda-nunda pekerjaan. Gue nggak mau keilangan cinta Amber gara-gara kelakuan menyebalkan gue.

Karena desakan perasaan bersalah yang begitu kuat, gue pun buru-buru ke kamar tamu dan buka pintu. Untung nggak dikunci.

Gue guncang tubuh kekasih hidup gue sampai dia bangun.

“Apaan, sih?” gusarnya sambil kucek-kucek matanya.

Gue nggak jawab pertanyaannya, tapi bibir gue sudah ciumin wajahnya.

“Kris, apa-apaan, sih? Geli, ih!” dia berusaha jauhin gue dari wajahnya. Tapi tenaga gue lebih kuat. Gue tahan kedua bahunya dan tatap matanya.

I am really sorry, Amber. I mean it. Gue selama ini sudah bersikap egois dan seenaknya, tapi gue malah mojokin lo. Gue memang bego, Amber. Gue nggak nyadar kalau Tuhan kirim lo untuk gue adalah salah satu keajaibannya. Lo bikin hidup gue lebih berwarna, lebih menyenangkan dan lebih unik. Gue seharusnya bersyukur punya pendamping hidup seperti lo yang tahan banting dalam kondisi apapun. Lo nggak rewel kaya istri Yixing, nggak bossy kaya istri Chanyeol, atau manjanya amit-amit kaya istri Minseok, dan juga nggak boros kaya istri Joonmyeon. Intinya, Tuhan kasih yang terbaik untuk gue. Dan tololnya gue, sama sekali nggak bersyukur. Gue malah minta yang lainnya.” Gue lihat wajah Amber yang bersemu merah. Kedua matanya berkaca-kaca. “Gue juga terlalu malas kalau di rumah. Seharusnya gue bantuin lo dalam kerjaan di rumah, selalu siap benerin genteng bocor atau memangkas rumput di halaman. Seharusnya gue lebih sering di rumah dan nemenin lo bikin kue lalu nonton film berdua. Seharusnya gue…” penyesalan gue belum kelar ketika bibir gue dikecupnya. Dan kecupan itu berubah menjadi lumatan lembut. Gue rengkuh pinggangnya dan membalas ciumannya. Kedua lengannya memeluk leher gue dan ciumannya makin memanas.

I am sorry, Amber…” bisik gue setelah ciuman kami berakhir.

“Hmm… I forgive you, Kris. But promise me you won’t do the same mistakes ever again,”

“I promise.”

“Do you love me, Kris?”

“No, I don’t.”

“Yeah, me too.”

Dan gue gigit pelan pipinya yang agak tembem karena berat badannya yang mulai naik. Dia terkekeh dan peluk gue. Kami berbaring dalam balutan selimut. Sebelum tidur, gue bisikin di telinganya betapa gue cinta dan sayang banget sama dia.

“I love you too, Kris.” Bisiknya sebelum benar-benar terlelap.

Mumpung belum terlambat, gue harus benar-benar berubah. Jangan sampai kebiasaan buruk gue dijadiin contoh sama anak-anak gue kelak.

Gue, Kris Wu berjanji nggak akan malas lagi, dan akan selalu membantu istri gue, si tomboy Amber yang sebentar lagi bakal jadi ibu.

THE END

A/N : Finally, selesai juga seri LOVE IS THE ANSWER ini. Semoga nggak mengecewakan yaaaaa.

Untuk kelanjutan dari seri ini, aku nggak bisa janjiin apapun. Kalau nanti ada lanjutannya ya syukur, kalau nggak ada ya sudah. No problem, toh inti ceritanya sudah terjabarkan di sini.

So, see you. Or, bye bye. I don’t know, deh. Hehehe

Advertisements