A/N : Sequel LOVE IS THE ANSWER (one)

=0=

“A great spouse loves you exactly the way you are. An extraordinary spouse helps you grow; inspires you to be, do and give your very best.”

 

=0=

Mumpung sekarang hari Minggu, gue punya rencana buat kasih kejutan untuk Luna. Pagi banget sebelum dia bangun, gue buru-buru ke dapur dan siapin sarapan. Jam 6 tepat, Luna bangun dan langsung mandi seperti biasa. Gue berdiri di depan kamar mandi nungguin dia keluar.

“Ngapain kamu berdiri di sini?” tanyanya heran.

Gue tersenyum dan rangkul bahunya. “Ayo, kita sarapan.” Dia kaget waktu lihat meja makan sudah terisi menu sarapan pagi ini.

“Ini kamu yang bikin?”

“Iya.” sahut gue bangga.

Dia nggak bilang apa-apa lagi, tapi dari wajahnya, kok, kaya nggak suka. Kami makan dalam diam. Rasanya canggung banget.

Gue lirik jam dinding berkali-kali, dan akhirnya ponsel Luna bunyi. Gue ambilin ponselnya dan serahin ke dia. Gue lanjutin makan sambil nguping pembicaraan dia.

“Siapa?” tanya gue setelah dia matiin teleponnya.

“Mama. Aku diminta tolong temenin dia beli kado buat papa.”

“Kapan perginya?”

“Sebentar lagi. Mama mau jemput aku.”

Yes! Terima kasih ibu mertua.

Setengah jam berikutnya, gue sudah sibuk misah-misahin baju putih dan berwarna. Setelah itu gue mulai masuk-masukin baju kotor ke dalam mesin cuci. Karena waktu jaman kuliah gue ngekos, maka gue paham betul cara nyuci baju sendiri. Ada untungnya juga pernah hidup jauh dari orangtua, gue jadi lebih mandiri dan nggak manja.

Sambil nunggu mesin cuci muter-muterin baju, gue pun ke garasi buat ambil perkakas berkebun, mumpung matahari belum terlalu tinggi, gue rasa sekaranglah saat yang tepat buat ngerapihin taman rumah gue.

Capek juga ngurusin taman. Gue kembali masuk ke dalam dan ngeluarin baju yang sudah siap dijemur. Gue masukin baju-baju berwarna ke dalam mesin, dan gue bawa keranjang berisi baju-baju yang sudah dicuci ke belakang rumah. Satu persatu gue jemur sampai kelar. Lalu gue balik lagi ke depan rumah buat kelarin nyapu dedaunan kering yang berguguran.

Selama dua jam ke depan, gue sibuk urusin cucian dan tanaman. Buset, capek banget. Kok, Luna bisa sanggup, ya? Wonder woman beneran.

Sepuluh menit istirahat kayanya sudah cukup. Gue ngambil sapu dan pengki, dan mulai nyapu tiap sudut rumah. Setelah rampung, gue pun nyiapin air dalam ember buat ngepel.

Cuci baju? Beres.

Rapihin dan bersihin taman? Selesai.

Nyapu dan ngepel? Rampung.

Tinggal nyiapin makan siang, deh. Siapa tahu mertua gue mampir.

Syukurlah, Luna selalu rajin isi kulkas dengan berbagai macam bahan makanan. Sehingga gue nggak kelimpungan belanja di supermarket. Setelah menimbang-nimbang, gue mutusin buat masak Beef Teriyaki. Kebetulan masih ada daging dan juga bumbu teriyaki. Sudah nyaris tengah hari, dan pekerjaan belum sepenuhnya selesai. Masih ada setumpuk baju bersih yang belum disetrika. Tepat jam 12, gue selesai nyetrika baju terakhir.

Baru saja gue kelar mandi, bel pun berbunyi. Pasti Luna dan mamanya.

“Wah, rapi sekali rumahnya.” puji mertua gue. “Luna, kamu memang istri teladan. Mama bangga sama kamu.”

Eh, Mama, ini gue yang kerjain semua.

“Terima kasih, Ma. Memang sudah tugas Luna sebagai ibu rumah tangga, kan?” senyuman Luna kentara banget kalau dipaksain. Dia lirik gue dengan tajam.

“Ma, sudah nemu kadonya?” gue mencoba mencairkan suasana.

“Sudah. Kalian ke rumah, ya, nanti malam. Mama adain pesta kejutan buat Papa.”

“Kita pasti datang, Ma.” kata gue sambil rangkul bahu Luna. Mertua gue permisi pulang, dan Luna langsung melototin gue. Secantik-cantiknya perempuan, kalau sudah melotot, itu artinya marabahaya. Mereka jadi menyeramkan.

“Kenapa kamu ambil alih tugasku, Luhan?” aduh, mampus deh, gue.

“Bukan ambil alih, Sayang. Aku cuma mau bikin kejutan buat kamu.” gue berusaha nunjukin muka paling imut sebisa mungkin. “Aku tersinggung sama sikap lancangmu ini. Kamu lihat gimana Mama bangga karena aku bisa jadi istri teladan? Kamu nggak ngertiin perasaanku, Luhan. Seharusnya kamu bersyukur punya istri yang bisa ngurus suami dan rumah dengan baik. Semua keperluanmu aku yang siapin. Masih kurang apa, sih, aku?” Gawat. Kalau sudah begini, runyamlah gue.

“Dengar dulu, Luna. Aku mau bicara. Tolong kamu dengar baik-baik.” gue sentuh bibirnya pakai telunjuk dan nyuruh dia tutup mulut. “Aku bersyukur banget bisa menikahi kamu. Tapi, aku nggak berharap diperlakuin seperti anak kecil yang nggak bisa apa-apa.” matanya melotot lagi, dan mulutnya sudah hampir nyemprot gue dengan omelannya. “Dengar dulu!” desis gue. “Aku ini laki-laki dewasa, aku tahu tugas utamaku itu nyari nafkah. Tapi bukan berarti aku nggak boleh bantu-bantu buat ringanin pekerjaanmu. Apalagi sebentar lagi kamu bakal ngelahirin, dan ngurus anak itu nggak gampang.” gue remas-remas pelan bahunya.

“Aku pengin bisa jadi suami yang menghargai, dan bisa layanin istrinya juga. Sumpah, aku selama ini ngerasa sudah beban buat kamu. Kalau aku pulang kemalaman, dan kamu sudah tertidur, kamu terpaksa bangun dan siapin air hangat buat mandi, atau sekadar ambilin minum. Serius itu bikin aku ngerasa jahat sama kamu.” Tatapan Luna jadi sendu.

“Jadi kamu nggak suka kalau aku jadi istri sempurna? Aku, dari kecil selalu pengin jadi istri yang bisa perhatiin suami. Aku pengin jadiin suamiku sebagai pangeran hidupku.” dia menghela nafas dan kedua tangannya menangkup wajah gue. “Kamu lihat betapa bangganya Mama sama aku? Aku nggak mau kecewain dia.”

“Kamu memang perlakuin aku seperti pangeran. Tapi, kamu justru bikin dirimu kelihatan seperti seorang pelayan kerajaan. Bukannya istri sang pangeran adalah putri yang cantik? So, please, give me a chance to make you a princess.” gue usap pipinya. “My lovely Princess,” kecupan manis menyentuh bibirnya saat gue majuin wajah gue. “dan lagi, yang penting adalah gimana kamu ngerasa bangga pada dirimu sendiri karena sudah sukses bikin aku terus-terusan jatuh cinta sama kamu. Berbanggalah karena sudah jadi istri yang dicintai apa adanya daripada jadi istri sempurna tapi justru jadi beban.” tambah gue buat melengkapi curahan hati.

“T-tapi… aku…”

“Sudah, nggak usah protes. Mulai sekarang, kita bekerja sama sebagai partner yang saling membantu. Kalau misal aku ada kesulitan di kantor, maka kamu bertugas buat ngasih aku kepercayaan diri untuk bisa lalui semua masalah. Kita jalani hidup ini dengan team work. Tanpa team work, maka semua bakal berantakan. Kita besarin dan didik anak-anak kita dengan kerja sama. Kamu bisa, kan?” Mata Luna berkaca-kaca. Gue dekatin wajahnya dan kecup kedua kelopak matanya. “You are the best wife that a man could ever imagine. Aku beruntung bisa ketemu kamu. I love you, Princess.”

I love you, too. Terima kasih sudah jujur sama aku. Aku minta maaf kalau selama ini sikapku sudah bikin kamu terbebani.” dia senderin kepalanya di dada gue. “Luhan, ajari aku untuk jadi istri yang baik menurutmu,”

“Kamu juga kasih tahu aku gimana biar aku jadi suami terbaik versi kamu.” dia terkekeh dan peluk gue makin erat.

“LUHAN! KENAPA DAPURNYA BERANTAKAN?” pekikan Luna dari dapur bikin gue tepok jidat keras-keras.

Buset! Gue lupa beresin dapur setelah masak tadi. Alamat deh, bakal diomelin seharian.

“I-iya, aku bersihin sekarang.” Dan gue pun berkutat ngeberesin perkakas bekas masak itu dengan iringan nyanyian sumbang omelan Luna.

Gue memang sembrono.

=0=

Hari Minggu dalam kamusku adalah hari kerja. Di saat teman-temanku pada jalan-jalan sama istri masing-masing, aku malah duduk di depan komputer. Beberapa hari lalu aku dapat proyek bikin program baru buat perusahaan milik Joonmyun, dan deadline-nya adalah besok jam 9 pagi. Jadi, terpaksa aku kerja di hari Minggu. Sebagai seorang programer, aku memang lebih sering kerja di rumah. Saking sibuknya ngurus program baru ini, aku sampai nggak sempat beberes rumah. Dan istriku kerjaannya cuma santai-santai kaya turis di pantai. Bete kan, aku?

Aku mengerang pelan waktu dengar langkah sandal diseret. Sulli the sleeping pregnant beauty sudah bangkit dari hibernasinya. “Pagi, Minnie.” pagi katanya? Ini sudah jam sebelas!

“Pagi, Sulli sayang.” balasku diceria-ceriain. Kedua lengannya mendekap aku dari belakang.

“Kamu sudah sarapan?”

“Sudah, dong.”

“Aku lapar, Minnie.”

“Ya makan lah.”

“Di mana makanannya?”

“Di dapur.” Aku dengar langkahnya menjauh. Lalu…

“Minseok. Mana makanannya? Kok, nggak ada?”

“Di kulkas.”

“Di kulkas isinya makanan mentah, Minseok.” serunya dari dapur. Aku pura-pura nggak dengar.

“Kim Minseok! Ke sini, dong!”

Kalau sudah merengek seperti, artinya aku harus nyamperin dia.

Di dapur, Sulli berdiri sambil manyun. “Apa lagi, Sulli? Aku masih kerja.”

“Aku lapar, tapi nggak ada makanan.” Aku buka pintu kulkas dan tunjuk isinya.

“Mau makan? Bikin sendiri!” tegasku. Sulli syok dan mempertanyakan ucapanku.

“Aku nggak bisa masak. Jadi kamu yang masakin.” Sudah waktunya aku harus tegas.

Kemalasan Sulli sudah keterlaluan. Aku gamit tangannya, tuntun dia ke kursi meja makan dan suruh dia duduk. Aku tarik kursi lainnya dan duduk berhadapan dengan dia. Kedua tangannya aku genggam.

“Sulli, mulai sekarang kamu harus belajar ngerjain pekerjaan rumah tangga. Dulu jaman kamu masih di rumah orangtuamu, selalu dilayanin pembantu. Kamu sudah terbiasa nyuruh orang buat ladenin kamu. Tapi sekarang sudah beda. Kamu harus keluar dari comfort zone kamu dan belajar jadi ibu rumah tangga yang seharusnya.” dia menatapku tanpa ekspresi. “Sebentar lagi kita punya anak, dan gimana kamu bakal rawat anak kita kalau kamu nggak mau kerja?”

“Pakai babysitter saja.” dengusnya khas orang kaya.

“Tapi kamu ibunya. Dan aku nggak pengin anakku diasuh sama orang asing yang belum tentu bisa sayang sama anak kita. Sulli, menurut prinsipku, yang mengasuh anak adalah ibu. Kalau babysitter yang ngasuh anakku, berarti dia ibu anakku. Dan ibu anakku adalah istriku. Jadi…”

Sulli terkesiap. Dia menggeleng kuat-kuat. “Aku istrimu. Aku ibu anakmu.”

Aku tersenyum dalam hati. Hmm… Kena juga kamu.

“Kamu masih lapar?” dia ngangguk.”Aku bantuin kamu masak, deh. Kamu pengin makan sup apa?” ajakku sambil bantu dia berdiri. Aku peluk dia dari belakang sambil usap-usap perutnya dan kecup rahangnya. Kami berdua masuk dapur. Sulli pengin makan sup jagung.

“Kalau kecipratan minyak gimana?”

“Sup ini nggak digoreng, Sayangku.” dia cuma bilang ‘oh’ dan berdiri tanpa ngelakuin apapun.

Aku kasih dia sekaleng jagung manis dan kusuruh dia buka kaleng itu. Untunglah dia bisa pakai alat pembuka kaleng. Terus aku mulai siapin bumbu-bumbunya. Yang jelas aku cuma pura-pura sibuk masak padahal dia yang ngerjain semuanya. Dari mulai buka tutup kaleng, ngupas bawang dan iris-iris semena-mena.

“Minnie, pedas banget! Aduh, jariku hampir keiris.” berisiknya ampun-ampun. Tiap kali mau iris, dia pasti berisik. Aku berdiri di belakang Sulli dan genggam tangannya. Aku bantu dia iris-iris bumbu.

“Minseok! Garamnya seberapa?” aku kasih tahu takarannya.

“Minnie, ini krimnya kapan dimasukin?”

“Seokie, kok, meletup-meletup? Aduh, kecipratan. Minseok, bantuin, dong!”

Ya, Tuhan. Ini baru masak sup jagung, hebohnya ampun-ampun.

Dengan telaten aku kasih instruksi ini-itu sampai akhirnya masakan itu matang. Wajah Sulli belepotan,  rambutnya berantakan, bajunya basah oleh keringat.

“Wah, matang juga. Dan ini adalah masakan pertama yang berhasil kamu masak sendiri. Kamu harus bangga sama dirimu, Sayang.” aku nggak tahan untuk nggak memeluk dia.

“Minseok, aku beneran masak? Aku berhasil masak?” dia masih nggak percaya. Aku ngangguk dan ambil sesendok sup dari panci, lalu aku suapin Sulli. Matanya membulat.

“Enak!” serunya bahagia.

Beberapa menit berikutnya aku dan Sulli sudah duduk berdua menyantap sup buatannya.

Malam harinya, sebelum Sulli tidur, aku bakal ngobrol-ngobrol ringan sampai dia terlelap. Malam ini dia sudah bergelung manja dalam pelukanku. Tanganku mengusap lembut perut buncitnya, sesekali si bayi menendang. Kami terkekeh.

“Sulli, kamu hebat banget hari ini. Aku bahagia.” aku kecup dahinya. “Kamu punya bakat jadi chef, nih.” candaku. “Minseokie, jangan ngledek, deh. Tapi aku sendiri nggak nyangka kalau masak itu nggak seseram yang aku bayangin. Ternyata nyiram tanaman juga seru, bisa siram-siram kamu. Oh, ya, Minnie, besok ajari aku nyuci baju, ya. Meski capek, tapi seru juga ngerjain pekerjaan rumah tangga. Kenapa kamu nggak tegas dari dulu dulu, Minnie?” ujarnya bertanya-tanya.

Aku usap rambutnya, dan kecup pipinya, “Karena aku nggak mau bikin kamu capek. Tapi kamu malah keenakan dan akhirnya aku yang capek.” aku tertawa ringan waktu Sulli nyubit aku.

“Aku mau jadi istri dan ibu yang serba bisa. Mulai detik ini, Sulli bakal jadi ibu rumah tangga sejati. Eh, tapi kamu tetap bantuin aku, lho.”

“Iya, Sayangku, itu sudah pasti. Kita bekerja bareng-bareng biar nggak terlalu berat. Nah, sekarang kamu buruan tidur, aku masih harus ngerjain program buat perusahaan sepupumu itu. Ayo, merem!”

aku paksa matanya untuk terpejam, dan dia hanya terbahak-bahak dengan indahnya. Siapa yang nggak gemas sama sosok imut Sulli?

Bibirku pun dengan rakusnya menciumi bibirnya dan melumatnya lembut.

I love you, Sulli.” bisikku setelah menyudahi ciumanku.

Sulli tersipu dan membenamkan wajahnya dalam pelukanku, “I love you too, Minseok.”

Nggak butuh waktu lebih untuk membuatnya terlelap, dan aku bangkit dari ranjang nyamanku menuju ruang kerjaku di mana pekerjaan menunggu untuk dicumbui.

What a weekend, Minseok. Thanks to Joonmyun.

To Be Continued

A/N : I hope you guys liked the story so far, even though it wasn’t my best, but still, i hope you enjoyed it. See, ya.

Advertisements