A/N: Ini lanjutan dari FF FAMILY MATTERS. 🙂

-0-

“We come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly.”

-0-

Ucapan Yixing masih membekas di benak gue. Tumben banget sobat gue itu punya pemikiran cukup kompleks seperti itu. Dia ngebuka hati dan pikiran gue. Mungkin gue terlalu pasrah dengan keadaan gue, dan yang memalukan itu gue hanya bisa ngeluh. Padahal gue harus bisa jadi pria yang berkarakter. Gue harus bicara dengan Sandara. Demi harga diri gue sebagai lelaki sejati.

Langkah gue menuju kamar tidur begitu mantap, lalu gue buka pintu kamar dan melihat istri gue lagi olesin krim di perut gendutnya. Gue samperin dia dan kecup dahinya. Perutnya gue usap-usap lembut.

Dia menatap gue sambil usap helai-helai rambut gue. “Chanyeol, aku sudah tentuin nama buat anak kita, sih.” ucapnya bangga.

“Oh, ya? Siapa saja namanya?” gue agak bete juga, sih. Dia sudah ngarang nama tanpa libatin gue.

Dia pegang tangan gue, “Yang cowok namanya Ji Yong, yang cewek namanya Chae Rin. Bagus, kan?” dia bahagia banget bisa nemu dua nama bagus itu. Tapi gue juga pengin kasih nama buat anak gue.

“Bagus, Sayang. Tapi bukankah seharusnya kita rundingin dulu? Mau bagaimanapun juga, mereka darah dagingku. Dan aku juga sudah siapin nama buat mereka, Sehun dan Taeyeon. Gimana? Bagus, kan?” gue berusaha percaya diri dengan pilihan gue.

Sandara kedip-kedipin matanya, berpikir, lalu bicara. “Aku lebih suka Ji Yong dan Chae Rin.” dia ngotot.

Gue mulai kesal. “Dara, kenapa kamu nggak pernah ngasih aku kesempatan buat berpendapat atau ngusulin sesuatu?” Sandara kelihatan kaget dengan pertanyaan gue itu.

“Karena kamu nggak dewasa, Yeol.” gue sudah tahu kalau dia bakal jawab seperti itu.

“Aku memang kurang pengalaman dan terkadang kekanakan. Tapi kapan aku bisa dewasa kalau kamu nggak pernah ngasih aku kesempatan untuk bersikap dan berpikiran dewasa?” gue diam untuk menarik nafas panjang sebelum ngelanjutin lagi. “Apa kamu pernah dengar usulku tentang merk cat tembok rumah kita? Dan apa kamu dengar pendapatku tentang nggak perlunya terapi hormon? Dan apa kamu minta persetujuanku sebelum mutusin tanggal buat jalanin operasimu?”

Tatapan Sandara tampak terluka, gue mulai panik, tapi nasi sudah menjadi kimbab, maka gue lanjutin saja. “Dara, kamu memang lebih tua dari aku. Kamu lebih dewasa, bijaksana dan berpengalaman. Tapi peran aku itu sebagai kepala rumah tangga, pemimpin, pencari nafkah dan pelindung bagi keluargaku. Sudah waktunya kamu percaya bahwa aku bisa jadi suami yang dewasa dan bertanggung jawab. Aku nggak pengin anak-anak kita jadi nggak respect sama aku. Aku janji nggak akan kecewain kamu, Dara. Please, give me a chance to be a responsible husband.” gue genggam tangannya dan gue tatap kedua matanya dalam-dalam.

“Anak-anak kita bakal lahir tiga hari lagi, dan pada saat itu aku sudah harus siap sebagai ayah yang dewasa dan suami yang bertanggung jawab.” raut wajahnya melunak dan berubah jadi sebuah senyuman.

“Kamu tahu nggak? Saat kamu ungkapin semuanya, kamu terlihat dewasa. Maafin aku, ya, kalau selama ini aku kurang hargain pendapatmu.” gue tersenyum dan usap pipinya.

“Sekarang kita mulai dari awal lagi, oke? I love you,”  Bibir indahnya gue kecup dengan lembut dan nggak lupa gue kecup juga perutnya. “Papa nungguin kalian. Sebentar lagi kita ketemu. Papa sayang kalian,” gue kecup lagi perut istri gue.

Malam makin kelam dan udara makin dingin. Selimut tebal sudah membungkus tubuh kami, dan lengan-lengan gue merengkuh tubuh bengkak tapi seksi istri gue, Sandara tercinta.

=0=

Sepulang kerja, aku mampir ke apotik dan beli beberapa macam vitamin buat victoria. Dari pereda mual sampai suplemen asam folat yang penting buat perkembangan otak janin. Tanpa tambahan seperti itu, aku nggak yakin perkembangan janin dalam rahim victoria bakal sempurna, karena dia masih saja nggak bisa makan apapun. Minum susu hamil saja muntah.

Setelah itu aku mampir ke toko roti perancis buat sarapan esok hari. Selama masa kehamilan istriku, aku jarang banget makan masakan rumah, karena Victoria nggak sanggup masak. Padahal masakan dia lezat banget, tapi gara-gara ngidamnya itu, tiap tercium aroma bawang saja dia langsung mual. Akhirnya, dapur pun berhenti mengepulkan aroma masakan enak. Aku hanya bisa makan roti atau ramen. Intinya, Victoria nggak suka aroma masakan menguar dari dapur.

Mobil sudah masuk garasi, gerbang sudah digembok, sekarang aku melangkah masuk ke dalam rumah. Sepi nggak ada sosok Victoria di ruang keluarga. Aku dengar sayup-sayup suara televisi dari arah kamar kami. Pasti dia lagi nonton drama favoritnya, deh. Aku taruh belanjaanku di dapur, terus ambil segelas air minum dan balik lagi ke kamar.

Sebelum aku masuk, aku ulangi lagi apa saja yang bakal aku bicarain sama Victoria. Sudah beberapa hari sejak aku kumpul bareng teman-temanku malam sabtu lalu, dan sekarang waktunya aku cari solusi buat keluhanku.

“Hai, aku pulang.” sapaku penuh rindu. Siapa, sih, yang nggak rindu sama wanita manis dan kalem ini?

“Kok, telat? Bukannya biasanya pulang jam lima? Kenapa baru sampai rumah jam enam?” ah, manis dan kalemnya menguap begitu dia mulai bawel.

“Aku mampir ke apotik buat beli suplemen untuk kamu, dan beli roti buat perutku yang lapar,” aku acungin plastik berisi suplemen. “kamu mau makan roti?” dia menggeleng.

“Barusan aku coba makan pisang, tapi muntah lagi, Xing. Mulutku rasanya asam, nggak enak banget, deh.” wajahnya mengernyit jijik.

“Ya sudah, sekarang kamu minum suplemen-suplemen ini.” aku buka satu botol obat dan keluarin sebutir tablet berwarna putih. “Ini Kalsium.”

Lalu aku keluarin suplemen yang lain. Masing-masing sebutir.

“Ya, ampun, Xing! Banyak banget?” dia terpana waktu lihat ada beberapa macam bentuk dan warna obat di telapak tangannya.

“Yang merah ini zat besi, yang ini asam folat, ini vitamin A, yang ini… hmm… aku lupa. Pokoknya bagus buat nutrisi otak janin kata apotekernya. Sudah, sudah, kamu minum saja!” Akhirnya dia minum semua itu tanpa protes.

“Xing…” panggilnya manja sambil gelayutin lenganku. Aku rangkul bahunya dan senderin kepalanya di bahuku. “Aku dari tadi kepikiran pengin makan salad buah yang segar. Cariin, dong. Kemarin kamu nggak beliin aku sushi, masa sekarang nggak mau beliin juga? Aku nggak pengin baby kita kenapa-kenapa kalau nggak diturutin maunya.” rengeknya sambil pilin-pilin ujung kemeja kerjaku.

Oke, sudah waktunya aku ngomong.

Aku duduk di depannya, pegang kedua bahunya dan selami kedua matanya. “Maaf, Victoria. Aku nggak bisa nurutin semua keinginanmu.” Matanya mengerjap bingung.

“K-kamu sudah nggak sayang lagi sama aku?”

Aku menghela nafas, “Aku sayang dan cinta banget sama kamu, Vic. Tapi aku nggak bisa, dan kadang aku nggak mau nurutin kemauan-kemauanmu.”

Matanya berkaca-kaca, “Kenapa, Xing? Kenapa?”

“Vic, kita bakal jadi orangtua sebentar lagi, kan?” dia mengangguk pelan. “Menurutmu, bukankah kita seharusnya lebih dewasa?” di mengangguk lagi. “Hal pertama yang bisa kita lakuin untuk menjadi dewasa adalah… membatasi keinginan-keinginan pribadi kita dan lebih mentingin orang lain.” jelasku pelan banget, takut dia tersinggung terus manyun, deh, sampai bibirnya ngegelundung.

“Tapi yang minta makanan itu bukan aku, Xing, tapi baby kita.” suaranya naik setengah oktaf.

“Vic, aku tahu kamu lagi ngalamin masa-masa yang nggak mudah, tapi bukan berarti kamu nggak bisa bedain mana yang nyata dan mana yang bukan.” aku mulai gemas.

“Kehamilanku ini nyata, Yixing. Jadi rasa pengin makan ini itu juga nyata.” “Tapi kamu pasti muntah setelah makan satu atau dua suap, kan? Vic, bukannya aku nggak mau nurutin kamu karena jahat atau pelit atau apalah, aku cuma nggak tahan sama rengekanmu, permintaan-permintaanmu yang kadang nggak masuk akal.”

“Tapi aku kaya gitu karena lagi hamil, ngidam.” suaranya meninggi.

Aku usap-usap tangannya. “Tapi kamu sudah seperti ini sejak awal kita pacaran, dan sekarang kamu pakai modus kehamilanmu. Dengar, Sayang. Sebentar lagi anak kita lahir, lalu menurutmu gimana cara kamu ngadepin seorang bayi yan butuh perhatian penuh dari kamu? Gimana kalau kamu lebih utamain keinginanmu dibanding kepentingan baby kita? Bisa-bisa aku khawatir dan nggak bisa bekerja dengan tenang.”

Sumpah aku takut. Baru kali ini aku bicara setegas dan segamblang itu sama Victoria. Selama ini aku selalu berusaha memaklumi, tapi ya nggak tahbn juga lama-lama.

Dia diam. Matanya balas menatap aku, tapi ekspresinya kaya lagi bimbang.

“Vic, kamu marah?” Dia nggak jawab.

“Vic, please, say something.”

“Aku manja, ya?” Aduh! Kenapa malah tanya kaya gitu?

“Kamu sering manja, pengin diperhatiin terus. Aku juga pengin dimanjain, Vic. Pengin diperhatiin juga.” Aku majuin mukaku dan gesekin ujung hidungku ke hidungnya. “Aku pengin ngerasain dimanjain istri itu seperti apa.” Aku kecup bibirnya sekilas sebelum kembali ke posisi duduk sebelumnya.

“Xing…”

“Hmm?”

“Apa aku bisa jadi ibu yang baik? Yang bisa ngurus anaknya?” ada sedikit keraguan yang bercampur ketakutan dalam suaranya.

Aku peluk dia, “Aku yakin kamu bisa jadi ibu terbaik bagi anak kita. Aku percaya kamu mampu, Vic. Yang pasti, aku yakin anak kita bakal sehat karena kamu pasti bakal ngasih mereka makanan yang bergizi. Ya, kan?” aku cium lekuk leher mulusnya, membuatnya menggeliat karena geli.

“Yixing, kamu pengin apa sekarang?” tiba-tiba dia tanya.

“Umm… pengin tiduran di pahamu sambil dengerin kamu nyanyi.”

“Ya, ampun! Manja banget.” dia tertawa renyah sebelum nyuruh aku tiduran di pahanya. Jemari tangannya ngusap-ngusap rambutku dengan gemulainya seiring suara merdunya yang mengelus telingaku.

Tuh, kan, dimanjain itu enak. Pantesan Victoria manja.

“Yixing, nanti kita manjain baby kita sama-sama, ya.”

“Hmm, boleh, sih. Tapi jangan kebangetan manjainnya, ntar bakal ada Victoria jilid dua.”

“Ah, Yixing!” serunya sambil jambak pelan rambutku.

Kami tertawa lepas. Akhirnya, satu ganjalan sudah disingkirin, tinggal gimana kami menghadapi kehidupan kami setelah hadirnya seorang anak.

=0=

To Be Continued

A/N : Maaf baru bisa update segini. yang sabar yah. hehehehe. Moga cukup oke ceritanya. ^^

Advertisements