=0=

 A/N : Tiba-tiba aja muncul bayangan buat bikin cerita tentang keluarga member EXO setelah menikah nanti. Soal umur, itu terserah kalian mau dianggap mereka umur berapa. Yang jadi poin dari fic ini adalah banyaknya suka dan duka dalam berkeluarga. Meski ada yang galau atau bete, tapi bukan berarti menye-menye. Buat yang nggak suka biasnya dipair sama makhluk berjenis kelamin wanita, silakan jauh-jauh dari fic ini. Karena di sini semua cowok adalah STRAIGHT dan menikahi WANITA. Seriusan, nggak ada YAOI-nya sama sekali. Aku sudah pensiun dari dunia perYAOIan yang nista hehehehe. Ada beberapa POV di tiap sesi. Dan semua POV berasal dari member EXO. Aku nggak ngasih tahu itu POV siapa, tapi kalian silakan tebak sendiri. Hehehe.Silakan dibaca…

=0=

Sore hari yang mendung seharusnya jadi sore yang santai dan menyenangkan. Tapi kenyataannya, sore ini justru jadi sore yang bikin gue panik dan kesal. Suara gue nyaris serak gara-gara manggil istri tercinta. Tapi dia seperti kesurupan setan budeg atau setan keras kepala, deh. Nggak mau nurut sama omongan gue.

For God’s sake, Amber! Lo turun dari genteng sekarang juga!” perintah itu sudah gue ulang lebih dari dua puluh kali, tapi dia terus saja nangkring di atas genteng.

“Sebentar lagi bakal hujan gede, dan gue nggak mau rumah kita kebocoran lagi kaya semalam. Makanya gue betulin genteng ini biar nanti kita bisa tidur tenang. Nggak peka banget, sih, lo?” dengan pedenya dia teriak-teriak kaya gitu dari atap. Gue, kan, malu kalau dilihat tetangga, terutama tetangga depan rumah gue yang terkenal nyinyir banget mulutnya. Males, kan, kalau gue difitnah sebagai suami yang menganiaya istri. Dikira gue yang nyuruh istri gue betulin genteng bocor.

“Demi Tuhan. Amber, lo itu lagi hamil, jangan manjat-manjat gitu, dong. Gue teleponin tukang, deh. Lo turun sekarang sebelum nyungsep.”
Ya, istri gue lagi hamil lima bulan dan masih saja ngerasa kaya nggak hamil. Gue khawatir dia kenapa-kenapa, makanya gue panik waktu lihat dia di atas atap.

“Kalau pakai tukang ntar bayar, kan? Bukannya lo masih belum gajian?” Buset, deh, pakai jejeritan tentang keuangan gue lagi. Mau ditaruh di mana muka ganteng gue ini kalau orang-orang sekomplek pada dengar?

“Mendingan bayar tukang daripada bayar biaya rumah sakit!” sembur gue kesal. Itu perempuan, kok, nggak ada nalar-nalarnya.

“Apa hubungannya genteng bocor sama rumah sakit, Kris?”

“Berhubungan erat lah. Kalau lo nyungsep dari atas situ, lo pasti masuk rumah sakit, dan biayanya bisa tiga kali lipat dibanding biaya buat tukang. Makanya lo turun sekarang juga, atau…” gue mikirin ancaman yang bisa bikin dia nurut.

“Atau apa?” tantangnya.

“Atau gue buang semua koleksi topi keramat lo!” akhirnya nemu juga kelemahan dia.

“Oke. Gue turun sekarang. Berani sentuh topi gue, gue buang semua perhiasan norak lo ke laut!”

Okay, she knew my weakness, though.

Akhirnya, istri gue mendarat kembali di bumi. Gue peluk dia sekilas, terus gue jewer pelan kupingnya.
“Lain kali lo naik-naik ke genteng, gue tinggalin lo di atas sana tanpa tangga. Tidur saja sekalian di atas atap.” Desis gue di kupingnya. Dia malah terkekeh dan cium pipi gue.Mau nggak mau gue luluh juga, dan gue peluk dia lagi lebih erat.
“Gue sayang lo, Amber.” Bisik gue.

“Uhum, I know.” Dan senyuman dia bikin gue tenang.

Meski tadi jantung gue sudah jedag-jedug nggak karuan karena khawatirin dia.Gue pun segera telepon tukang buat betulin genteng rumah gue, sebelum Amber nekat manjat lagi.

=0=

Suara hoek-hoek istriku bikin aku ikutan mual. Aku pijat-pijat tengkuknya biar lebih enakan. Kasihan banget lihat istriku muntah-muntah terus seharian. Baru makan dua suap, langsung mual terus muntah, deh. Padahal dokter sudah ngasih obat pengurang mual, tapi kayanya nggak mempan. Aku takut bayi kami nggak dapat nutrisi yang semestinya karena nyaris nggak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh istriku. Aku bingung.

“Sudah mendingan, Sayang?” tanyaku waktu lihat istriku ngusap bibirnya pakai handuk.

“Lumayan.” Jawabnya penuh rasa bersalah. “Maafin aku, ya, Yixing.”

Aku ngangguk dan tersenyum manis. “Nggak apa-apa. Yang penting kamu sudah berusaha makan.”

Ini pengalaman pertama buatku dalam menghadapi wanita hamil. Baru tahu kalau perempuan itu kalau ngidam banyak maunya. Kalau ngidamnya siang-siang atau sore, sih, nggak masalah. Lha, kalau mintanya tengah malam atau dini hari? Pusing banget aku keliling-keliling buat nyari apa yang Victoria minta. Parahnya lagi, habis makan beberapa suap dari makanan itu, dia langsung muntah.

“Yixing…” suara lembutnya memanggil.

“Hmm?” gumamku sambil bantu dia tiduran. Aku selimutin dia. “Ada apa? Masih mau muntah lagi?”Dia gelengin kepalanya dan manyun dengan manjanya.

Celaka dua belas! Aku punya firasat buruk.

“Aku pengiiiiiiin banget makan Dim Sum yang langganan kita pas jaman kita pacaran itu, lho. Kamu ingat, kan?”

Oh, Dear God… Save me.

Kalau Victoria sudah bilang pengin dengan nada panjang, berarti dia harus ngedapetin keinginannya.

“T-tapi… sekarang jam setengah dua malam, Vic. Mana ada orang kurang kerjaan jualan Dim Sum tengah malam begini?” aku berusaha ngadem-ngademin dia dengan cara usap-usap rambut panjangnya. “Besok aku beliin, deh. Aku janji!”

Manyunnya makin parah sampai aku khawatir bibirnya copot dan jatuh.

“Tapi baby kita penginnya sekarang, Yixing. Kamu mau baby kita ngiler terus sampai gede? Hmm?” ternyata senjata manyunnya masih kurang, sekarang dia makin dramatis dengan mata yang berkaca-kaca.

“Victoria, kalau baby kita nanti ngiler, aku bakal bikinin penadah iler yang anti bocor, deh. Sekarang kamu bilang ke baby kita kalau penjual Dim Sumnya sudah tutup dan Papa terlalu lelah buat keluyuran kaya orang stres di jalanan demi nyari Dim Sum.” Aku sudahi ucapanku dengan kecupan di bibirnya dan aku masuk lagi ke balik selimut.

“Yixing jahat!” ngambeknya sambil terus manyun.

Aku cuekin saja gerutuan dia yang bakal reda begitu dia ketiduran.

=0=

“Joonmyeon, yang ini cocok nggak buat kamar anak kita?”

“Hmm… apa nggak terlalu ramai ornamennya buat bayi laki-laki?” jawabku lelah.

Sunny mengerling ke arah wallpaper pilihannya. “Tapi aku suka yang ini, Joonmyeonnie.”
Aku hanya bisa menghela nafas dan terpaksa setuju dengan keinginannya. Suara pekikan terdengar lagi. Agak malu juga, sih, dilihat penjaga toko perlengkapan bayi itu. Istriku memang agak bersemangat sama segala hal yang menurutnya menarik atau cute.

“Joonmyeon. Bajunya lucu banget, ya. Pasti anak kita kelihatan cakep banget kalau pakai ini.” Dia mengusap-usap baju mungil berwarna pink muda.

Honey, anak kita laki-laki, masa mau dikasih baju warna pink?” protesku nggak suka.

“Ah, kamu itu jangan kaku. Semua warna itu bagus. Pokoknya aku mau beli yang ini!” Selalu seperti itu.

Sunny nggak pernah mau dengerin pendapatku. Semua yang menurut dia bagus, maka aku juga harus bilang bagus.
Kata ibuku, wanita hamil itu sensitif, jadi harus dijaga terus perasaan dan moodnya. Kalau stres, itu bisa ganggu perkembangan janin.
Tapi, apa para wanita nggak pernah mikir kalau tingkah manja dan keras kepala mereka itu bisa ganggu kejiwaan para pria?
Benar banget kata Minseok, wanita itu egois. Pintar banget pakai kedok perkembangan janin buat penuhin keinginan mereka.

“Joonmyeon, belanjanya sudah, nih.” Sunny berdiri dengan senyuman bagai anak kecil di samping tumpukan barang di sampingnya.
Buset! Aku harus habisin berapa juta buat semua itu?Bayinya belum lahir saja biayanya sudah sebanyak ini, gimana kalau sudah lahir?Aku keluarin kartu kreditku dan serahin ke petugas kasir yang kalem dan manis. Dan begitulah caranya hutangku terus bertambah tiap bulannya.Kayaknya, aku harus nyari kerja sampingan, deh, kalau begini caranya. Pengeluaran terlalu banyak.

Kapan istriku bisa lebih pengertian, ya?
Ah… entahlah, aku pusing.

=0=

Setelah hampir tiga tahun menikah, akhirnya Tuhan mengabulkan doa-doa kami. Terapi hormon yang dilakoni istri gue membuahkan hasil. Yang bikin gue dan istri gue bahagia adalah, kenyataan bahwa bayi yang dikandung istri gue adalah bayi kembar. Mungkin karena suntikan hormon atau apalah itu, makanya istri gue jadi terlalu subur kali, ya? Semua itu bermula dari ketakutan istri gue. Dia ngerasa kalau umurnya sudah terlalu tua untuk bisa gampang hamil. Memang usia kami terpaut beberapa tahun, tapi menurut gue, dia nggak terlalu tua, kok. Di usianya yang dua puluh delapan tahun, dia masih kelihatan muda banget, kok. Malah kelihatan tuaan gue yang sebenarnya lebih muda lima tahun dari dia. Tapi kata dia, fisik seorang wanita itu mulai menurun ketika memasuki usia tiga puluh. Makanya dia takut kalau nggak buru-buru hamil, bisa-bisa kebablasan sampai umur tiga puluhan. Gue, sebagai suami yang baik, akhirnya setuju buat dukung dia jalanin terapi hormon. Toh, gue juga pasti bahagia kalau punya anak dari wanita yang gue cintai.

Di usia kehamilannya yang memasuki bulan ke delapan, kondisi fisik Sandara bisa dibilang cukup fit, meski tubuhnya menggembung berkali-kali lipat, dia masih kuat beraktivitas seperti biasa. Gue bangga sama makhluk yang bernama wanita. Mereka itu sebenarnya makhluk yang kuat. Gue sendiri nggak bisa bayangin diri gue nenteng-nenteng perut gede yang di dalamnya ada makhluk yang nendang sana-sini, keluyuran ke mana-mana.

Pagi ini gue dan Sandara sudah duduk manis di ruang tunggu rumah sakit, nunggu giliran dipanggil untuk periksa kandungan. Di sekitar gue banyak banget suami-suami yang juga nganterin istri-istrinya periksa. Ekspresi wajah mereka juga beda-beda. Ada yang cerah ceria dan bahagia, kayaknya baru mau punya anak untuk pertama kali. Ada pula yang murung dan bete, kemungkinan besar itu sudah kehamilan yang kesekian kalinya. Gue ngerasa beruntung bisa menikah muda, meski awalnya sempat ditentang keluarga gue, terlebih karena calon istri gue lebih tua dari gue. Tapi, kegigihan cinta kami bisa meruntuhkan segala dinding penghalang.

“Park Sandara!” panggil seorang suster.Gue dan Sandara masuk ke ruang dokter.

“Ibu mulai merasakan kontraksi-kontraksi belum?” tanya dokter berkacamata itu.

“Sesekali, Dok. Tapi hanya sebentar-sebentar. Apa itu tanda-tanda mau melahirkan, Dok?”

“Ya. Apalagi ibu mengandung bayi kembar, sehingga kemungkinan terlahir prematur. Mari saya periksa.” Dan Sandara beranjak ke ranjang periksa. Gue bantu dia naik ke atas ranjang itu. Kasihan banget lihat kedua kakinya yang bengkak karena keberatan kandungan.
Dari layar USG gue bisa lihat kedua anak gue yang bergelung di dalam rahim Sandara. Gue kagum dengan kekuasaan Tuhan, kok, bisa ya dari setetes mani yang bertemu sel telur bisa jadi makhluk mengagumkan seperti ini?

“Ini kemungkinan besar harus di operasi caesar, karena posisi janin sungsang, Bu, Pak. Dan dari berat badan serta panjang tubuh janin, menurut saya, mereka sudah cukup besar.”

Dengar kata operasi bikin gue panik. Nggak tahu kenapa, gue takut banget sama yang namanya operasi. Kesannya horor banget.
“Memangnya kalau sudah cukup besar, mereka harus dipaksa lahir, ya, Dok?” celetukan bego itu bikin Sandara mukul pelan tangan gue.

“Rata-rata kelahiran bayi kembar itu prematur, kurang dari sembilan bulan. Karena kalau terlalu besar, maka ruang dalam rahim menjadi terlalu sempit bagi mereka. Jadi lebih baik mereka dilahirkan lebih cepat.”

“T-tapi, Dok…”

“Kapan bisa dioperasi, Dok?” Sandara motong ucapan gue. Dan tanpa rundingan sama gue, Sandara sudah janjian sama dokter itu buat ngejalanin operasi.

 It happened again. Biarpun gue punya pendapat, Sandara pasti mutusin segalanya sendiri. Karena dia ngerasa lebih pengalaman dan lebih tahu.Gue cinta dia, tapi kadang gue marah kalau keputusan gue nggak dianggap serius.
Dia memang lebih tua dari gue, tapi gue adalah kepala keluarga, pengambil keputusan dan penegak peraturan dalam keluarga. Ah, gimana nanti anak-anak bisa respect sama gue kalau istri gue yang lebih berkuasa?

=0=

Dari pertama nikah, gue ngerasa kalau gue ini beruntung banget bisa menikah dengan wanita yang keren banget, deh. Meski gue kenal baru beberapa bulan, tapi gue dapat keyakinan penuh kalau dia adalah teman hidup gue. Gue berterima kasih sama tante gue yang ngenalin cewek manis itu ke gue dua tahun lalu. Kata teman-teman cupu gue, gue ini dijodohin keluarga. Tapi gue yakin bahwa Tuhan yang jodohin gue sama istri gue.

Istri gue adalah istri idaman. Pinter masak, rajin, keibuan, ramah, cantik pula. Pokoknya dia paket lengkap, deh. Istri dan menantu idaman seluruh keluarga.

Seperti pagi ini, meski jalannya sudah pelan-pelan karena keberatan perut, Luna tetap saja masakin sarapan buat gue. Masih juga beberes rumah. Pakaian kerja gue sudah tergantung rapi siap pakai. Padahal dia lagi hamil tua. Gue paksa dia buat berhenti urusin rumah dan perbanyak istirahat. Gue sudah tawarin dia jasa pembantu buat ngerjain kerjaan rumah. Tapi dia nggak mau. Dia bilang kalau dia masih kuat dan bisa lakuin semuanya tanpa bantuan siapapun.

“Luna, kamu mau ke mana lagi? Sarapan dulu sini.” Gue tahan tangannya waktu dia mau ninggalin meja makan.

“Aku mau kelarin cucian dulu, Luhan. Mumpung cuacanya cukup panas, jadi biar cepat kering.”

“Sayang, kamu itu nggak boleh kecapekan. Biar aku yang cuci bajunya nanti sepulang kerja.”Luna hanya tersenyum, nunduk dan kecup lembut dahi gue.

“Nggak usah bawel, kamu sarapan yang kenyang terus berangkat ke kantor, everything is under control, okay, Darling?” Dia nggak pernah bolehin gue bantu dia. Sedikitpun nggak boleh.
Gue dilarang masuk dapur. Ngambil minum pun nggak boleh. Dia semua yang siapin dan ladenin gue.
Kata Luna, ‘suami itu cukup cari nafkah di luar, kalau di rumah itu mutlak kerjaan istri.’ Tapi gue nggak tega lihat istri gue yang hamil itu ngerjain semuanya seorang diri. Andai saja dia mau pakai jasa pembantu, pasti gue lebih tenang ninggalin dia ke kantor.

“Ah, Luhan, tunggu.” Luna muncul dari dalam dan nyamperin gue.
“Rambutmu kurang rapi, Sayang.” Dan dia sisirin rambut gue sampai serapi mungkin. Itu belum cukup, dia benahin dasi gue, kerah kemeja gue, dan singkirin beberapa helai rambut yang rontok dari bahu jas gue.
“Ah, kenapa sepatumu berdebu? Kan, jorok!” dan tanpa bisa gue cegah, istri gue sudah berlutut di lantai dan ngelap sepatu hitam gue.

“Luna, aku bisa lap sendiri. Nanti aku bersihin. Ayo, berdiri!” gue tarik kedua tangannya dan bantu dia berdiri.

“Luhan, aku nggak mau kamu kelihatan kucel di luar sana. Aku nggak mau dibilang istri yang nggak perhatian sama suami. Kamu nggak pengin, kan, aku diledekin teman-temanmu?” Gue nggak bisa apa-apa selain ngangguk.

“Iya, istriku tercinta. Terima kasih banyak sudah perhatian sama aku. I love you,” gue nunduk dan kecup bibirnya sekilas. Kecupan sayang sekaligus untuk bikin dia nggak ngoceh lagi. “Aku berangkat dulu, ya. Ingat, kalau ngerasa capek langsung tiduran saja, oke? Kamu nggak pengin bayi kita kenapa-kenapa, kan?”

“Iya, Luhan. Aku janji kalau ngerasa capek, aku bakal istirahat. Oh, ya, sebentar.” Dia masuk ke dalam dapur, dan nggak lama dia keluar lagi sambil nenteng sebuah tas jinjing bermotif kotak-kotak. “Ini bekalnya, jangan lupa dimakan, ya. Aku masak itu jam lima pagi, lho.” Dia sodorin tas berisi bekal itu ke gue. “Hati-hati di jalan, jangan ngebut, jangan ngelamun, jangan ngobrol di telepon juga.”

“Siap, Bos! Akan kupatuhi semua pesan-pesanmu.” Candaan norak gue bikin dia julurin lidahnya. Karena gemas, gue tarik tubuhnya mendekat dan gue kecup puncak kepalanya. “I’ll see you soon, Sweetheart.”Lambaian tangannya mengiringi gue keluar dari gerbang rumah menuju jalanan yang mulai memadat.

Jangan ditanya betapa dalamnya cinta gue ke dia, tapi obsesi dia sebagai istri teladan cukup mengganggu gue. Saking penginnya jadi istri hebat, dia sampai perlakuin gue kaya bayi yang nggak bisa ngelakuin apapun sendiri. Padahal gue pengin banget jadi suami yang ikut andil dalam urusan rumah tangga. Yang gue takutin adalah gimana kalau nanti setelah anak kami lahir, dia bakal kewalahan ngurusin dua orang bayi. Bayi dewasa dan bayi beneran. Luna, Luna…

=0=

Di saat aku mutusin buat nikah, di saat itulah aku sudah harus siap dengan segala konsekuensinya. Di antara semua sahabat-sahabatku, akulah yang paling terakhir nikah. Bukan karena nggak laku, lho. Tapi karena rata-rata cewek yang aku pacarin itu mukanya lebih tua dari aku, dan itu bikin mereka minder. Tiap kami jalan berdua, dikirain aku lagi jalan sama kakakku atau bahkan ibuku. Parah, kan?Karena problem itulah akhirnya aku putus sama pacar-pacarku yang terdahulu.

Sampai akhirnya aku ketemu seorang gadis yang imut banget.

Waktu itu aku datang ke acara nikahan Joonmyeon, sahabatku waktu kuliah, di sana aku kenalan sama cewek manis dan imut yang ketawanya lucu banget. Tipe aku pokoknya.Ternyata cewek itu adalah sepupu Joonmyeon.

Waktu itu dia masih kelas XII. Kami langsung akrab, karena pembawaan dia yang santai itu. Kami pacaran sampai dia lulus SMA. Berikutnya kami mutusin untuk nikah.
Kata orangtua dan keluargaku, aku mengambil keputusan terlalu cepat. Menurutku, sih, memang sudah waktunya aku nikah. Dan Sulli adalah calon istri yang paling pas buatku. Dia imut, jadi mukanya nggak lebih tua dari aku. Dan dia juga berjiwa muda…Terlalu muda malah.

“Minnie… kok, lama banget masak supnya? Aku lapar, Minnie.” Rengekan Sulli berhasil buyarin lamunanku tentang pertemuanku dengan dia.

“Iya, Lilli, dua menit lagi matang. Sebentar, ya,” dan aku pun besarin apinya biar sup pesanan istriku cepat matang.

“Ugh, kenapa keasinan, sih, Minnie?” keluhnya waktu kuah sup menyentuh lidahnya.

“Nggak keasinan, ah.” Belaku setelah aku cicipi sup buatanku.

“Ya sudah, kamu saja yang makan sup itu.” Dan mulai lagi, deh, drama ala anak-anak khas Sulli.

Karena nggak pengin tantrumnya kumat, akhirnya aku milih untuk masak sup yang baru. Anehnya itu, Sulli hanya mau makan sup selama masa kehamilannya. Kalau makan yang lainnya, dia pasti mual dan muntah-muntah. Segala macam resep sup aku coba demi bikin dia mau makan. Mendadak aku jadi seorang ahli sup. Aku juga ahli laundry, ahli cleaning service dan juga ahli bercocok tanam.

Semua pekerjaan rumah yang seharusnya dikerjain Sulli, berakhir dengan aku yang ngerjain semuanya. Ada saja alasannya untuk nggak ngerjain tugasnya. ‘aku takut kecipratan minyak panas, Minnie.’ ‘aku nggak tahan sama debu kalau lagi nyapu, Minnie.’‘aku takut serangga, Minnie. Kamu saja, ya, yang siramin tanaman.
Intinya dia nggak mau atau nggak bisa ngerjain pekerjaan rumah tangga. Perbedaan usia memang terkadang bikin repot.

“Minnie, supnya enak. Terima kasih.” Dan akhirnya, senyuman indahnya kuperoleh kembali.

“Sama-sama, my Sulli bunny.” Dan kecupan mesra kami nggak terelakkan. Kami berciuman sejenak sebelum aku ngelanjutin berbenah.

Ada kalanya Sulli begitu menyenangkan, tapi nggak jarang perilaku manjanya amat sangat menyebalkan.
Tapi, setiap kali lihat kilau ceria matanya saat tersenyum, hatiku terjerat lebih dalam menyelami rasa cintanya padaku. Di balik semua tingkah kekanakannya, I still love her.

=0=

Malam sabtu adalah malam yang paling gue nanti-nantikan. Karena malam sabtu itu waktunya gue berkencan dengan kelima sahabat edan gue. Malam ini kami kumpul di salah satu café langganan kami sejak jaman kuliah. Ya, kami berenam adalah teman kuliah. Meski beda jurusan, tapi kami selalu bersama-sama. Dan kumpul-kumpul setiap akhir minggu adalah rutinitas kami sejak lama. Di saat para istri sibuk arisan, kami para pria juga butuh hiburan untuk jiwa liar kami.

Di meja kami sudah berjejer berbotol-botol minuman dan berpiring-piring camilan. Kami sudah duduk dengan nyamannya dan mulai meminum minuman kami. Gue lihat wajah lesu sahabat kental gue sejak SMA, Yixing. Matanya sayu dan ada kantung matanya. Dia kelihatan capek.

“Xing, lo lagi nggak enak badan, ya?” Dia menoleh ke arah gue dan tersenyum sendu.

“Nggak, Kris. Aku hanya kurang tidur saja, kok.”

“Lo pasti sibuk kerja, ya? Lembur?” Luhan tiba-tiba nyeletuk. Dia yang kelihatan paling segar dan rapi di antara kami semua. Jelas banget kalau dia dirawat dengan baik.

“Nggak. Aku jagain istriku yang lagi ngidam, Luhan.” Balasnya sebelum menenggak habis isi gelasnya.

“Eh, kalian nyadar nggak, kalau istri kita lagi pada hamil semua? Bisa- bisa anak kita umurannya sepantaran, ya?”

“Tapi kayaknya istri kamu duluan yang bakal ngelahirin, Yeol. Itu perutnya sudah kayak mau pecah saja saking besarnya. Kamu harus jagain dia baik-baik, lho.” Joonmyeon, yang lagi ngupas kacang kulit itu nimbrung.

“Iya, munggu depan mau dioperasi. Jadi kalian siapin kadonya mulai sekarang, Guys.” Canda Chanyeol. Kami hanya ber-huuu saja nanggepinnya.

“Semoga operasinya lancar, ya, Chanyeol.”

“Amin. Terima kasih, Minseok.” Chanyeol nepuk tangan Minseok yang duduk di sampingnya.

“Tapi lo hebat banget, Yeol. Langsung dapat dua. Pasti tenaga lo hebat, ya?” celetukan gue bikin yang lain ketawa dan mulai ngerjain Chanyeol.

Kami mulai mengenang masa-masa kuliah kami yang seru itu. Dari jaman kenalan sampai mulai sibuk sama pacar masing-masing. Sekarang kami sibuk dengan keluarga kecil kami masing-masing.

Tiba-tiba Yixing colek lengan gue. “Kris, aku boleh jujur, kan?”

Gue terkekeh. “Memangnya lo selama ini suka bohong, ya?”

Yixing tersenyum, “Aku takut kalau kamu marah. Hmm… sejujurnya, aku iri sama kamu.”

“Iri kenapa?” gue bingung.

“Kamu punya istri yang mandiri.” Dia ngomong gitu tanpa berani lihat mata gue.

“Ya, ampun, Yixing. Gue yang malah iri sama lo. Istri lo kalem, anggun, wanita banget pokoknya. Nah, istri gue terlalu mandiri. Bayangin saja, lagi hamil malah nekat manjat genteng buat benerin genteng bocor. Gue sampai kadang ngerasanya kaya nikah sama cowok, deh. Gue sampai pengin lihat dia pakai gaun yang cantik. Baru sekali doang gue lihat dia pakai gaun, yaitu pas pakai gaun pengantin.” Gue nggak tahu kenapa gue nyerocos nggak jelas kaya gitu.

“Ah, aku malah bosan ngadepin istriku yang terlalu kalem dan anggun, belum lagi manjanya itu, lho. Kalau nggak diturutin maunya, langsung deh manyun.” Yixing ikut mengeluh.

“Yixing, lo harusnya bersyukur. Istri lo masih ngasih kesempatan buat lo untuk bantuin dia, kan?” Yixing mengangguk. “Nah, istri gue ngelarang gue buat bantuin dia. Bahkan mau ngambil minum sendiri juga nggak boleh. Semuanya dia yang ngeladenin. Tahu nggak rasanya gimana?” Yixing menggeleng. “Gue ngerasa kaya bayi. Gue ngerasa kaya orang bego yang nggak bisa ngerjain apa-apa. Makanya kadang gue berlama-lama di kantor biar ada yang bisa gue kerjain. Karena kalau di rumah, gue benar-benar kaya orang lumpuh. Semuanya serba dilayanin.”

Gue dan yang lain cengok juga dengerin curhatan Luhan. Gue malah berharap istri gue kaya Luna, serba rapi dan teratur, manis, anggun, penuh perhatian dan benar-benar istri teladan, lah. Nggak kaya Amber yang pecicilan meskipun perutnya sudah makin membesar.

“Wah, kayanya aku yang harusnya iri sama kamu, Luhan. Istriku malah nggak pernah ngapa-ngapain selain duduk di ruang tengah, nonton film atau drama, baca majalah fashion dan gosip, dan chatting sama teman-teman sekolahnya. Aku yang harus masak, beberes rumah, nyuci, nyiram tanaman dan semuanya, deh.” Minseok ikut curhat.

Ya, kalau dilihat dari umur istri Minseok, buat gue itu, sih, wajar saja, secara Sulli itu umurnya baru 19 tahun. Jadi masih agak kekanakan lah.

“Nah, kalau lo, Joonmyeon?” gue usil nanya kondisi keluarga Joonmyeon.

“Bagi gue, biar deh istri gue pecicilan kaya Amber, atau manja kaya Victoria, atau yang pemalas kaya Sulli, atau yang lebih tua kaya Sandara atau bahkan wonder woman macam Luna, yang penting dia nggak boros dan shopaholic seperti istriku, Sunny.”

“Wah, masalah keuangan, nih, kayanya. Tapi, bukannya lo banyak duit, Myeon?” Chanyeol nanggepin.

“Sebanyak-banyak duitku, kalau tiap bulan pengeluaran buat belanja saja lebih dari dua juta won, ya tekor juga lah. Makanya aku ngerasa perlu nyari pekerjaan tambahan. Bisnis apa gitu. Mana nggak lama lagi aku bakal punya anak. Dan aku yakin Sunny bakal makin parah hasrat shoppingnya.”

Nggak nyangka gue kalau orang setajir Joonmyeon masih juga ngeluh tentang masalah keuangannya. Untung banget Amber bukan tipe cewek yang hobi belanja ini itu. Buat dia beli topi sama sepatu itu sudah membahagiakan, dan dia lebih suka beli di toko-toko yang ngejual dengan harga murah.

“Jujur saja, gue sempat mikir kenapa gue nggak nikah sama cewek yang lebih muda dari gue, karena nikah sama yang lebih tua itu makan ati banget, Guys.” Chanyeol tergerak buat curhat.

“Bukannya lebih enak punya istri yang pemikirannya dewasa daripada yang kekanakan?” Minseok yang lelah ngadepin istri kekanakan itu bicara.

“Dia memang dewasa, Minseok. Tapi saking dewasanya, dia sampai nganggep pemikiran gue kaya anak kecil. Jadi dia jarang dengerin pendapat gue. Menurut dia, gue kurang pengalaman, makanya dia yang sering ngambil keputusan dalam rumah tangga. Tapi, setelah dengar cerita Minseok, kayanya lebih repot ngadepin istri yang kekanakan, deh.”

Guys…”Suara lelah Yixing bikin kami semua noleh ke arahnya.

“Apa, Xing?”

“Kadang aku lelah sama pernikahanku. Kadang kalau lagi capek dan stres, aku mikir buat pisah saja dari Victoria. Tapi… aku ingat lagi tujuanku menikahi dia untuk apa. Aku menikahi dia bukan hanya untuk bikin diriku bahagia, tapi juga buat bahagiain dia. Bukankah itu yang kita janjiin pada mereka di waktu kita pacaran? Dan waktu aku dengar cerita kalian tentang istri-istri kalian, aku makin sadar, bahwa tiap orang punya permasalahannya sendiri. Nggak ada masalah yang lebih besar atau lebih kecil. Semua tergantung gimana kita menyikapi konflik-konflik dalam rumah tangga kita.”
“Aku juga sadar bahwa istri-istri kita mungkin ngerasa nggak puas sama perlakuan kita terhadap mereka. Bisa jadi di saat kita ngumpul di sini, istri-istri kita juga saling curhat dan Amber ngeluhin gimana malasnya Kris kalau disuruh benerin genteng yang bocor, makanya dia harus naik sendiri ke atap buat benerin genteng, atau mungkin Sunny ngeluhin betapa perhitungannya Joonmyeon, dan Luna bisa saja ngeluhin betapa sembrononya Luhan, Sandara mungkin capek ngadepin Chanyeol yang susah diajak diskusi layaknya orang dewasa, dan Sulli sebenarnya pengin banget lihat Minseok bersikap tegas padanya, dan mungkin Victoria sedang ngeluhin kesabaranku yang kurang. Guys, bukan hanya kita yang mengharapkan istri yang sempurna, tapi mereka juga mengharapkan suami yang sempurna. Tapi masalahnya, nggak ada manusia yang sempurna. Manusia diciptakan penuh kekurangan, dan pasangan masing-masinglah yang bisa melengkapi dan menutup kekurangan-kekurangan itu.”

Sumpah baru kali ini gue dengar Yixing bicara sepanjang itu. Dan ucapannya benar-benar bukan omong kosong. Gue paham maksud Yixing.

“Yixing, terima kasih. Lo sudah nyadarin gue. Kita nggak bisa ngarepin yang terbaik dari pasangan kita, kalau kita belum menjadi yang terbaik bagi mereka.” Gue peluk Yixing, dan teman-teman yang lain juga mendekat dan masing-masing peluk sahabt kami yang polos tapi jujur ini.

Malam itu kami sudahi acara kumpul-kumpul kami, dan pulang ke rumah masing-masing.

Kami bertekad buat selesain konflik-konflik batin kecil ini sebelum semua jadi bom waktu yang bisa hancurin masa depan pernikahan kami. Dan juga, kami pengin segalanya jadi lebih indah di saat bayi-bayi kami terlahir ke dunia.

THE END

Advertisements