*

A/N: Sebuah fiction yang terinspirasi satu ungkapan konyol King Julien dalam Pinguins Of Madagascar. Dari satu kalimat itulah muncullah ide untuk fic ini. Kenapa castnya SeKaiLu? Karena aku belum pernah membuat fiksi dengan cast yang berpusat pada mereka.

Selain itu aku pribadi suka dengan interaksi Sekai maupun Kailu dan HanHun, maka aku pakai aja mereka sebagai cast utama Fanfic ini.

Semoga kalian terhibur.

Oh, ya, di sini bakal ada tiga POV.

*

Jongin

 

Gelas minumanku sudah kosong dan aku masih haus. Mataku mencari-cari sosok kurus pucat yang memuakkan itu. Tapi sosok itu tidak tampak seujung rambutpun. Aku lirik temanku yang duduk termangu sambil menatap lemari penyimpanan semua koleksi miniatur pemain sepak bola favoritku. Aku tahu dia iri dengan kemampuanku membeli benda-benda limited edition itu. Dia hanya mampu membeli poster murahan dan menempelnya di dinding rumahnya yang reyot itu. Kasihan.

“Luhan. Aku haus.” Aku melempar tatapan tegas yang segera dia pahami maksudnya.

“Bukannya kamu barusan minum, Jongin?” kedua matanya beralih dari lemari itu ke wajahku.

Aku mendengus dan mengangkat bahu. Luhan paham maksudku dan dia beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju pintu ruang santaiku.

Ujung jemariku mengetuk permukaan keras meja kayu antik warisan ayahku. Bunyi pintu ditutup membuat mataku terangkat dan bersitatap dengan seorang remaja berwajah tirus dan pucat. Kedua matanya menyorot kosong bagai zombie kurang makan.

“Aku haus. Tuangin minuman.”

“Baik, Master.” Bocah itu mengangguk sopan sebelum melangkah ke kulkas kecil di sudut ruangan. Tangannya meraih botol air mineral dan dia membawanya ke mejaku. Dia tuang air itu ke dalam gelasku dan aku menatapnya remeh.

Aku sesap sedikit isinya dan meludahkannya.

“Siapa bilang aku mau minum air, Tolol?” makiku sambil menyiramkan air itu ke muka remaja itu.

“M-maaf, Master. Aku nggak tahu.” Gumamnya tertahan.

Aku belum puas.

“Aku mau minum teh hangat. Buruan bikin!” sentakku seraya melempar gelas itu. Bunyi gelas pecah mengisi ruanganku dan serpihan kaca pun berhamburan di lantai.

“Baik, Master.” Bocah itu pun membuat teh untukku.

Di atas nampan, sebuah cangkir berisi teh dia letakkan di depanku.

Cairan hangat itu menyentuh bibirku. Aku berdiri dan menyemburkan teh dalam mulutku ke wajah bocah itu.

“Kamu bego, ya? Aku minta teh hangat! Ini terlalu dingin untuk dibilang hangat. Dasar bodoh!” dan cairan itu pun mengguyur wajah yang kubenci itu.

Tanpa banyak bicara, dia mulai membereskan kekacauan yang aku buat.

“Mau aku buatin teh yang baru, Master?” tawarnya lirih.

Get out!”

“T-tapi Master belum minum…”

I said get the fuck out! Aku sudah nggak pengin minum. Get out before I throw up on your disgusting face!” semburku galak dan menunjuk ke arah pintu.

 

Akhirnya bocah memuakkan itu keluar dari ruanganku.

Luhan masih berdiri tegak di samping mejaku. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulutnya.

Lima menit berlalu dan aku merasa bosan. Aku butuh pelampiasan.

“Luhan, bring that ugly creature in!”

Luhan terbelalak dan menatapku heran. “But you just…”

Aku angkat tanganku, tanda untuk membuat Luhan diam. “Nggak usah protes. You still need me, Luhan. Just bring that boy in.”

Aku tahu kelemahan Luhan, jadi dia tidak akan pernah bisa menolak perintahku. Temanku itu kembali memanggil bocah itu lagi.

“Kamu tahu nggak kalau kamu itu nggak berharga? Di mataku, kamu itu cuma onggokan sampah busuk yang bikin aku mual dan pengin muntah. Kok, kamu bisa hidup dengan kondisi seperti itu, ya?”

Sebanyak apapun yang aku ucapkan, bocah itu tidak akan menjawab atau membalas. Dia hanya akan diam, menatapku tanpa emosi, lalu mengangguk dan menggumam maaf kalau aku tegur dia.

“Setiap kali aku lihat mukamu itu, aku selalu jadi emosi dan pengin lempar mukamu pakai apapun yang ada di depanku. Kamu pernah bikin dosa apa, sih, di kehidupan yang lalu?”

Dia hanya diam.

Ah, bosan.

Just get your ass out of here. I think I’m going to throw up.” Aku mengusirnya lagi.

Hanya aku dan Luhan yang ada di ruanganku. Kami diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, dan aku yakin dia juga tidak tahu bahwa aku sedang memikirkan hinaan lain untuk aku semburkan ke wajah Sehun. Si remaja bermuka suram yang membuatku menggelegak.

*

Luhan

Rahangku sakit karena aku terlalu kuat menggertakkan gigiku. Aku tahan semua luapan emosiku yang nyaris hilang kendali. Telapak tanganku perih karena terlalu kuat menggenggam. Kurasakan ujung-ujung kukuku menancap dan menorehkan luka di kulit tanganku.

Aku harus kuat menahan keinginan untuk meninju wajah congkak Jongin ketika berulang kali melihatnya menyiksa Sehun dengan ucapan-ucapannya itu. Aku sama sekali nggak paham apa maksud Jongin bersikap seperti itu terhadap Sehun. Apa salahnya sehingga dia layak dapat hinaan seperti itu?

Hatiku hancur saat melihat Sehun disiram air dan teh. Belum lagi hujatan dan makian yang kasar itu yang pasti membuat perasaan Sehun berantakan.

“Umm… Jongin…” hati-hati aku bertanya pada teman sekolahku. Dia menoleh. “Kalau kamu muak sama Sehun, kenapa nggak kamu suruh dia pergi dari sini, jadi kamu nggak perlu lihat dia lagi.”

Kekehan Jongin membuatku merinding. “Because I need him, Luhan.”

Butuh?

But you have me, I can help you anytime.” Ujarku mempertanyakan kegunaanku di sini.

Yeah, I need him to hate him.” Dan dia tersenyum.

Demi Tuhan, dia tersenyum seolah ucapannya itu adalah hal yang wajar dan biasa.

Dia butuh Sehun hanya untuk dibenci?

“K-kenapa kamu benci dia? Apa dia pernah nyakitin kamu?” aku masih penasaran. Semua pertanyaanku tersimpan rapi dalam benakku sejak dua bulan lalu. Pada saat itu Jongin membawa seorang pemuda kurus dan pucat ke rumah ini. Rumah di mana aku terpaksa mengabdi pada si sombong Jongin.

Aku pikir Jongin butuh tenaga lain untuk mengurusi rumah yang luas ini. Ternyata sejak pertama dia sudah mencaci maki Sehun.

Nothing personal. Aku cuma nggak suka sama mukanya. Nggak tahu kenapa. Dari pertama ketemu dia di Club, aku langsung benci sama dia.” Dia mengangkat bahunya tanpa dosa. “Dan kamu tahu sendiri gimana aku butuh pelampiasan buat salurin rasa benciku ke orangtua yang sudah telantarin aku. Dan aku ketemu Sehun. Ternyata asik juga kita benci seseorang tanpa alasan spesifik.” Tawanya senang.

Mataku mengarah lurus ke  pintu kayu di depanku seolah hendak mengebornya dengan kekuatan tatapanku. Dan aku merasa seolah melihat Sehun yang berdiri tegak dengan punggung menempel pintu.

Menanti untuk dipanggil majikannya. Majikanku.

Hinaan Jongin kepada Sehun terus terucap dari mulutnya, membuat dadaku bergejolak.

Siapa yang tahan melihat adiknya diperlakukan lebih hina daripada binatang di hadapannya?

*

Jongin

 

Tadi pagi Mama telepon dari Sydney. Bukannya menanyakan kabarku, apa aku sehat atau sakit atau bahkan sekarat. Tapi dia justru menanyakan tentang masalah bisnis yang aku atur di sini.

Rasa kesalku itu makin menjadi waktu pembantu-pembantu bego itu menyiapkan sarapan yang bahkan kucing pun tidak akan sudi mengendusnya. Perasaan suntuk ditambah perut lapar membuatku ingin memaki. Tapi apalah artinya memaki udara kosong?

Segera aku menghubungi Luhan dan menyuruhnya datang ke ruang kerjaku.

“Ada apa, Jongin?”

Bisa kulihat mata sayunya terlihat bosan.

“Mana si jelek itu?”

“Dia punya nama, Jongin. Se-hun.”

“Nggak penting. Dia di mana? Suruh dia ke sini!”

“Dia lagi makan.”

“Suruh dia ke sini sekarang! Aku butuh dia.”

“Tapi, dia…”

“Luhan!” kusentak dia yang terlalu cerewet dan banyak alasan itu.

“Siap, Bos!” dan dia pun pergi untuk memangil si makhluk yang kubutuhkan itu.

*

Luhan

“Heh, kamu! Bikinin aku sandwich daging asap tiga lapis yang banyak mayones dan mustardnya. Jangan lupa susu segar juga.”

“Baik, Master.” Jawab Sehun lirih.

Si brengsek itu semena-mena lagi. Dan Sehun menurut begitu saja.

“Luhan, kamu kenapa cemberut terus akhir-akhir ini? Mereka nagih kamu terus, ya?” tanyanya sok perhatian.

“Eng… ya, mereka sering telepon buat mastiin kalau aku nggak kabur dengan utangku dan nggak bayar mereka.”

Aku cemberut karena kelakuan brengsekmu, Jongin. Karena kamu, Sehun nggak bisa tersenyum lagi. Ingin rasanya mengumpat dan memakinya, tapi…

I still need him.

Pintu terbuka dan tubuh kurus ceking adikku muncul dengan membawa baki berisi sepiring sandwich tiga lapis dan segelas susu putih.

Nggak ada kata terima kasih atau sekedar senyuman dari Jongin kepada adikku.

Sehun dilarang beranjak dari depan Jongin dan rupanya Sehun sudah siap menerima makian dari si brengsek itu.

Aku tidak tega melihat jemari gemetar Sehun yang saling meremas. Jakunnya naik turun ketika menelan ludah berkali-kali. Pasti dia berdebar ketakutan.

“Apa ini?!” Jongin membanting roti yang baru digigit ujungnya. “Kamu suruh aku makan sampah ini? Hah!?” dan Jongin berdiri.

Dia meraup roti yang berantakan itu dan mendekati Sehun.

Tangan kirinya menekan tengkuk Sehun dan tangan kanannya menjejalkan roti secara paksa ke dalam mulut adikku.

“Sampah ini lebih pantas dimakan onggokan sampah kayak kamu!”

Sehun terbatuk-batuk.

Dia tersedak.

Tapi Jongin terus mendorong masuk roti itu ke dalam mulut Sehun.

Mataku terasa panas. Kepalaku serasa akan meledak. Sekujur tubuhku bergetar dan panas. Darahku seolah mendidih. Menggelegak.

Tapi… aku nggak bisa berbuat apapun.

Dan aku bersumpah jangan sampai Jongin tahu bahwa Sehun adalah adikku. Karena aku yakin, dia akan semakin kejam menyiksanya, demi mengetes kesabaranku.

Brengsek!

*

Sehun

 

Sakit.

Jangan ditanya gimana sakitnya perasaanku yang diinjak-injak si bangsat Jongin. Aku sudah nggak tahan, tapi aku harus bisa bertahan. Semua demi kakakku.

Setelah aku muntahin roti yang Jongin jejalkan ke dalam mulutku, aku duduk bersandar dinding kamar mandi.

Aku pejamkan mata dan bernafas pelan-pelan.

“Sehunnie… are you okay?” Luhan sudah jongkok di depanku dan tangkup wajahku. “Kamu habis muntah, ya?” ibu jarinya ngusap sudut bibirku.

I’m okay, Kak. Kakak jangan kelamaan di sini, nanti dicariin Jongin.” Balasku menenangkan.

Dia menggeleng. Tangannya masih di pipiku. “Aku nggak peduli lagi sama si monster itu. Kamu harus keluar dari sini, Sehun. Aku nggak kuat lihat kamu dijahatin seperti itu terus.”

“Kak! Aku masih kuat.”

“Tapi aku nggak kuat, Sehun! Kita kabur saja, yuk.” Kakakku itu mengguncang bahuku. Sorot matanya seperti binatang yang terluka, terancam dan ketakutan.

Kalau sudah seperti ini, sepertinya aku yang harus bersikap dewasa.

“Kak, ingat. Kamu masih punya hutang sama bajingan-bajingan itu. Kalau kita kabur dari sini, siapa yang mau ngasih kamu uang?”

Luhan memaki dan meninju dinding di belakangku. “Brengsek!” dia bergeser dan duduk di sampingku.

“Jujur, Kak. Dari pertama kali ketemu dua orang yang kamu sebut sahabat itu, aku sudah nggak suka. Maaf, Kak, tapi aku pikir, kamu itu mudah percaya sama orang.”

Aku dengar desahan berat nafasnya, “Aku nggak nyangka Tao dan Baekhyun bakal manfaatin kepercayaanku seperti ini.”

Kejadian sial itu terjadi beberapa bulan lalu ketika Luhan sangat butuh uang buat perawatan ibu dan terpaksa meminjam dari sahabatnya, Tao dan Baekhyun. Mereka memang dekat, dan Luhan mempercayai mereka.

Sedangkan aku justru nggak suka. Nggak tahu kenapa firasatku bilang seperti itu. Dua orang itu licik.

Ternyata kecurigaanku tepat. Luhan ditipu mereka.

Mereka meminjamkan uang hasil curian mereka dari mafia atau semacam itu lah. Dan sebagai gantinya, Luhan yang mereka uber-uber. Dan dua temannya justru kabur dan nggak pernah muncul lagi.

Kerjaan macam apapun yang sudah dijalaninya sama sekali nggak bisa nutup utang itu. Aku sendiri nggak tahu gimana ceritanya Luhan ketemu Jongin dan terperangkap di sini.

Karena Luhan yang jarang pulang, keuangan kami makin terpuruk. Akhirnya aku nekat mencari pekerjaan. Karena ingin cepat dapat uang, aku pun terpaksa bekerja di sebuah night club.

Mungkin hari itu adalah hari tersialku. Aku ketemu Kim Jongin.

Aku nggak tahu apa kesalahanku sampai dia menatap aku dengan tatapan jijik. Aku sampai bercermin berkali-kali, jangan-jangan ada belek atau upil atau apalah yang terkesan menjijikkan.

‘ikut aku, nanti aku kasih kamu uang.’ Itu kata-kata pertamanya yang paling sopan.

Aku pikir dia bakal kasih aku pekerjaan, ternyata dia gunain aku untuk pelampiasan emosi dan kebenciannya.

Kalau bukan karena butuh, mana sudi aku bertahan?

“Sehun… I promise, this hell will be over. Soon.”

Aku tersenyum, “Take your time, Brother.”

Luhan keluar dari kamar mandi ini dan sekali lagi, aku terkungkung dalam dinginnya tempat ini.

*

Jongin

 

Di depan ku berdirilah si makhluk bermuka datar itu dengan ekspresi suram. Di tanganku ada beberapa lembar uang. Uang gaji untuknya.

Jarang, kan, orang digaji karena bisa bikin emosi? Well, itulah yang aku buat sekarang.

Aku lempar uang itu ke lantai. Semua berhamburan.

Sehun… akh. Aku malas menyebut namanya. Dia menatap lembaran uang yang bertebaran di depan kakinya.

“Ambil!” perintahku.

Bocah itu menelan ludah dan perlahan berjongkok untuk mengambil uangnya.

Aku melirik Luhan, dan dia menunduk menatap ujung sepatunya.

“Hei, ini uangmu.” Aku sodorkan amplop berisi uang kepada Luhan untuk melunasi utangnya yang banyak itu.

“Terima kasih.” Gumamnya.

Aku melihat ke arah Se… cowok nggak berguna itu maksudku. “Tapi, tugasmu belum selesai.” Aku bisa melihat perubahan air muka makhluk di depanku itu. “Ya. Pacarku butuh penghibur, dan kayaknya kamu cukup cocok jadi penghiburnya.”

“M-maksudmu… apa?”

“Maksudku, kamu turutin apapun yang pacarku pengin. Paham?”

Dan bocah tengik itu mengangguk. Aku memanggil pacarku, dan dia memasuki ruanganku. Seperti biasa, dia memakai gaun yang melekat di tubuh rampingnya, tidak lupa belahan dadanya mengundang semua mata meliriknya. Segala sesuatu yang aku punya, pastilah bagus dan bernilai. Semuanya. Bahkan dudukan toilet kamar mandi pribadiku terbuat dari bahan yang mahal dan harus diimpor dari luar negeri. Dan aku akan memanjakan dan merawat semua harta bendaku, termasuk pacarku.

“Hai, Sayang. Katanya kamu punya hadiah istimewa buatku?” pacarku yang molek itu menggelayuti lenganku. Bisa kurasakan lembut dadanya beradu dengan kekarnya otot lenganku.

“Iya, Cantik. Itu, di depanmu.” Kutunjuk sosok rendahan di depanku itu.

“Dia boleh aku suruh lakuin apapun?” suara manjanya menggeletik pendengaranku.

“Apapun, Cantik. Apapun.”

“Aaaaa, senangnya. Umm… namanya siapa?”

“Nggak perlu tahu nama. Dia nggak terlalu penting untuk diingat namanya.”

“Oh, begitu, ya? Oke.” Dan dia berjalan memutari tubuh jangkung cowok memuakkan itu. “Ah… strip for me!”

Ah, sial!

“A-apa?” si bocah itu melotot.

Strip for me. Kenapa? Nggak bisa? Kata Jongin, aku bisa suruh kamu lakuin apapun. Dan aku suruh kamu stripping di depanku. Se-ka-rang!” pacarku memang berkemauan kuat, sekalinya minta sesuatu, pasti harus dia dapatkan. Dan aku yakin, dia bisa membuat cowok kurang gizi itu melucuti pakaian busuknya dan meliuk seksi di depan pacarku.

Sambil duduk di pangkuanku, pacarku bersiap-siap menikmati aksi sensual cowok pucat itu.

“Luhan… enjoy the show!” aku masih ingat tentang keberadaan Luhan di ruangan ini, dan semoga dia menikmati pertunjukan eksotis ini.

*

Sehun

 

Fuck! Gimana bisa aku buka pakaianku satu per satu di depan cewek binal itu? Di depan Luhan, kakakku? Bukannya Jongin badannya lebih bagus daripada aku? Kenapa dia nggak nyuruh Jongin stripping di depannya? Kenapa harus mempermalukan aku seperti ini? Brengsek!

Aku nggak berani lihat ke arah Luhan, karena aku takut dia lihat kelemahanku. Kalau aku terlihat lemah di depannya, aku yakin Luhan bakal bertindak tanpa dipikir dulu. Aku sudah hafal watak kakakku itu.

“Ayo, dimulai. Luhan, nyalain musiknya.” Perintahnya. Muka Luhan terlihat tegang, dan agak merah. Dia benar-benar nahan amarah. Dia juga nggak ngelirik aku barang sedikitpun. Aku gertakkan gigiku dan mulai berlenggak lenggok ngikuti alunan lagu yang diputar Luhan. Jari-jariku gemetaran waktu aku mulai berusaha membuka kancing teratas kemejaku.

Satu per satu kancing sudah berhasil aku buka. Dan pelan-pelan aku tanggalkan kemeja itu dari badanku, aku putar-putar kemeja itu sebelum aku melemparnya asal-asalan ke lantai. Si cewek brengsek itu jejeritan heboh dengan suara melengkingnya yang bikin kuping beredengung.

More! More!” serunya sambil tepuk tangan.

Dasar cewek bangsat! Laki perempuan bangsat semua! Aku benci mereka. Aku pengin mereka mampus!

Aku terus bergoyang dan meliuk-liuk seseksi mungkin. Aku tahu Luhan yang berdiri di pojok ruangan itu bisa melihat aksiku dari sudut matanya. Dan dia marah luar biasa.

I can sense that.

 

I am sorry, Luhan. This is all I can do… because I still need Jongin’s money… I am so sorry, Brother.

*

Luhan

 

Jongin sudah keterlaluan! Dia memang bisa membayar Sehun sebanyak apapun, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya merendahkan adik kandungku seperti itu. Aku memang butuh uang Jongin, dan Sehun juga mengincar uang Jongin, tapi bukan seperti ini caranya. Aku sama sekali nggak terima lihat adikku diperlakukan seperti budak. Apa masih kurang dia maki-maki dan hina Sehun? Kenapa dia harus membuat Sehun jadi seperti orang-orang nggak bermoral?

Dan cewek setan itu malah girang waktu lihat adikku yang sekarang hanya memakai celana dalamnya?

Ini nggak bisa dibiarkan.

Sebelum Sehun benar-benar telanjang bulat, aku harus hentikan semua kebejatan ini.

Aku berjalan cepat ke arah gantungan mantel dan jaket, aku ambil sebuah mantel panjang punya Jongin dan segera mendekati Sehun. Tubuh kurusnya aku tutupi dengan mantel itu.

“Apa-apaan kamu, Luhan? Jangan ganggu acara cewekku! Buka mantelnya dan biarin dia lanjutin tariannya!” Jongin membentakku.

“Nggak! Sekarang kamu suruh cewek kamu keluar dari sini, atau aku yang seret dia keluar!” aku sudah nggak memikirkan tentang utang-utangku atau apapun juga. Aku hanya ingin Sehun segera terbebas dari cengkeraman si gila Jongin.

Jongin membisiki pacarnya, dan cewek berwajah cantik hasil operasi plastik itu mengomel dan sempat memukulku dengan tasnya sebelum keluar dari ruangan itu.

Bosku itu berdiri dan memicingkan matanya. Hidungnya kembang kempis, persis seperti banteng yang siap mengamuk.

“Kamu sudah bikin kesalahan besar, Luhan. Kamu tahu, kan? Siapapun yang berani menentang aku, maka dia bakal aku hancurkan hingga berkeping-keping.”

Aku nggak peduli. Aku lelah dengan semua ini.

“Kamu pikir aku takut? Heh?”

“Kamu harus takut, Luhan sayang. Kamu masih butuh aku buat lunasin utangmu itu. Kalau kamu telat bayar mereka, maka kamu akan mati.”

“Oh, ya? Tapi pasti lain lagi ceritanya kalau kamu yang duluan mati, Kim Jongin.”

Entah aku dapat keberanian dari mana waktu tangan kananku membentuk kepalan dan meninju leher Jongin.

Cowok berkulit lebih gelap itu terbatu-batuk dan nggak lupa bersumpah serapah dengan kasarnya.

Sebelum dia benar-benar berdiri tegak, aku tendang tulang keringnya sekuat-kuatnya.

Teriakan Sehun yang menyuruhku berhenti itu nggak aku gubris. Aku sudah terlalu lama menahan semua dendam ini. Jongin harus aku beri pelajaran.

Mumpung dia masih tergeletak di lantai, aku tendang punggungnya berkali-kali, aku menjambak rambut halusnya dan membenturkan kepalanya kuat-kuat di lantai. Raungan kesakitan Jongin sama sekali nggak melunakkan hatiku. Sehun berlari dan menahanku, tapi aku dorong dia sampai jatuh, dan aku terus saja memukuli dan meninju wajah Jongin.

Hidungnya berdarah, bibirnya robek dan mengelurakan darah, pipinya luka karena pukulan bertubi-tubi.

Dia meminta tolong, tapi suaranya nggak jelas karena teredam darah yang mengisi mulutnya. Dia memuntahkan darah, dan mengerang kesakitan. Dia minta ampun, tapi apa dia mau mengampuni Sehun saat dia berbuat kesalahan?

Nggak sama sekali.

Dan sekarang aku nggak akan mengampuni dia.

“Kak! Cukup!” jerit Sehun.

Dia menarik bajuku dari belakang, dan berjuang keras untuk menarikku dari tubuh Jongin. Aku berbalik dan menamparnya sekeras yang aku mampu.

Aku tahu aku menyakitinya, tapi itu biar dia nggak menghalangiku menyiksa Jongin.

Sehun terduduk dan menangis.

Dia marah dan kecewa padaku. Aku tahu itu.

Tapi dia akan berterima kasih padaku nanti. Ya, aku yakin.

“Sehun! Kamu nggak pengin balas semua perbuatan Jongin ke kamu? Ayo, kamu balas dia. Kamu maki dia. Ludahi dia. Hina dia. Ayo, Sehun!”

“Kak… kalau aku balas dia seperti itu, lalu apa bedanya aku dan dia, Kak?”

Jleb!

Ucapan Sehun tepat sasaran.

Apa bedanya Jongin si brengsek dengan Sehun kalau Sehun juga melakukan hal yang sama dengan Jongin?

Lalu… apa bedanya aku dengan Jongin?

Kenapa dendam membuatku jadi buta?

Bukannya aku yang pertama menyerahkan diri pada Jongin? Hanya karena dia mau membayarkan utangku makanya aku ikut dia, menjadi pesuruhnya, budaknya?

Bukankah semua ini akibat perbuatanku?

“KAKAK, AWAS!!” pekikan Sehun membuatku menoleh, dan aku lihat Jongin mengangkat sebuah vas bunga dari marmer dan hampir memukulku dengan benda berat itu. Refleks aku memutar tubuhku dan mendorong Jongin hingga keseimbangannya hilang dan dia tersungkur.

Bunyi ‘krak’ terdengar waktu kepala Jongin membentur ujung meja kerjanya.

Tubuh Jongin terkapar di lantai, dan aku bisa melihat rembesan darah yang keluar dari belakang kepalanya.

Aku mendekati dan memeriksanya.

Dia… mati.

Tanganku gemetar. Tubuhku terasa begitu dingin seperti disiram air es.

Aku panik.

“Sehun! Bantu aku umpetin badan Jongin, lalu kita kabur yang jauh dari sini. Hapus semua yang terkena sidik jari kita. Ayo, Sehunnie. Sebelum ada pembantu atau siapapun masuk ke sini! Cepat, Sehun!” aku benar-benar panik. Aku nggak mau dipenjara. Aku nggak mau masa depan Sehun berantakan gara-gara kejadian ini.

“Sebentar, Kak. Aku ambil lap dulu.”

Sehun berlari ke luar ruang kerja. Aku berusaha sendiri menggeser tubuh berat Jongin ke arah sebuah lemari. Dengan segenap kekuatanku, aku drong tubuh tak bernyawa itu masuk ke dalam lemari yang cukup sempit itu. Aku jejalkan kaki-kaki panjangnya, aku tekuk paksa. Aku mendengar bunyi tulang retak. Tapi aku nggak peduli, toh dia sudah mampus.

Sehun kenapa lama sekali?

Sambil menunggu Sehun, aku mulai membereskan benda-benda yang berserakan.

*

Sehun

 

 

Aku tarik nafas dalam sebelum membuka kenop pintu ruang kerja (dan juga ruang kematian) Jongin. Aku melihat Luhan yang menatapku lega.

Lega karena aku kembali lagi.

 Lega karena kami akan mengatasi semua ini bersama.

Lega bahwa akhirnya kami terbebas dari Jongin.

“Aku sudah masukin Jongin ke dalam lemari itu. Sekarang kamu pel darah yang berceceran itu, aku lap semua benda yang tersentuh oleh kita buat hilangkan sidik jari kita. Ayo, kerja cepat, Sehun.”

Aku mengangguk pelan.

Aku ulur-ulur waktuku. Pura-pura memeras kain lap untuk membersihkan darah.

Berkali-kali aku melirik jam. Sungguh, aku gugup banget. Aku nggak yakin apa yang aku lakuin itu benar atau keliru.

“Sehunnie, setelah ini, kita langsung pulang ke rumah, ambil barang-barang kita dan secepatnya pergi dari kota ini.”

“Gimana dengan utangmu?”

“Aku bisa ambil uang Jongin yang ada di dmpetnya, dan di laci itu ada jam tangan mahal, dan beberapa perhiasan yang kalau dijual, pasti kita dapat banyak uang. Lagian, kita mau pergi selamanya dari tempat ini, Sehun.”

Aku hanya menggumam dan berpura-pura sibuk mengusap darah yang berbau anyir itu.

Tiba-tiba aku dengar derap langkah kaki menuju ke arah ruangan ini. Aku berdiri dan segera mendekati pintu.

Luhan terdiam dan berdiri tegak.

“S-siapa?” bisiknya parau.

Aku menelan ludah, “Maafin aku, Kak. Maaf.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

“Maaf? Kenapa?” sorot matanya bertanya-tanya. Ada sedikit kecurigaan di dalamnya.

Belum sempat aku jawab, pintu sudah terbentang terbuka dan beberapa pria berseragam mengacungkan pistol dan berteriak-teriak lantang.

“Angkat tangan!” seru salah satu di antara mereka.

Seumur hidupku, sampai aku mati pun, nggak pernah bisa aku lupain wajah Luhan saat ini.

Kekagetannya, kekecewaannya, kemarahannya, semua itu terekam jelas dalam otakku.

Dia merasa dikhianati adiknya sendiri.

Dia membunuh (tidak sengaja membunuh, walaupun memang ingin membunuh) Jongin demi aku. Demi membebaskan aku dari kekejian Jongin.

Tapi aku membalasnya seperti ini?

Dua polisi dengan kasar meringkus Luhan dan memborgol tangannya. Mereka mengucapkan beberapa kalimat sesuai prosedur penangkapan, dan menggeretnya pergi.

Why, Sehun? Why?” tanyanya saat berpapasan denganku.

“Aku nggak pengin kita terus lari dari kesalahan kita, Kak. Aku nggak mau kamu dikejar-kejar rasa bersalah dan ketakutan. Kita tahu kalau apa yang sudah kamu perbuat itu salah. Kita tahu itu, Kak. Tapi aku nggak mau lanjutin hidupku dalam bayang-bayang kesalahan dan perasaan berdosa. Dan lagi… aku nggak rela kalau kakakku jadi seorang pembunuh.”

“AKU BUNUH DIA DEMI KAMU, SEHUN! KENAPA KAMU NGGAK BERTERIMA KASIH! DASAR BRENGSEK!”

“Karena aku sayang kamu, Kak Luhan. Dan aku pengin kakak menebus semua dosa kakak.”

FUCK YOU, SEHUN!” makinya di tengah derai air mata kemarahannya.

I love you, Kak. Dan aku bakal dampingin kakak selamanya.”

JUST GO TO HELL YOU FUCKING BETRAYER!”

Aku hanya menunduk menerima semua umpatan dan sumpah serapahnya itu. Tapi aku nggak marah. Luhan hanya emosi.

Dan kecewa.

Makian Luhan terus menggema dalam rumah ini. Aku tahu aku sudah melakukan yang seharusnya.

Dia memang sudah punya rencana buat membunuh Jongin.

Dan dia harus menebus dosanya itu.

Ah, Luhan. Kamu kelamaan tinggal sama Jongin, akhirnya kamu berubah jadi seperti dia.

Kamu hampir jadi monster, Kakakku.

*

Epilog

 

Luhan dijatuhi hukuman penjara selama beberapa tahun. Dan Sehun selalu mendampinginya. Menjenguknya. Dan tetap mendoakan agar Luhan bisa menyadari kesalahannya dan berubah menjadi manusia yang lebih baik.

Bagi Sehun, Luhan adalah segalanya. Dia membutuhkan Luhan lebih dari apapun. Namun, dia tidak pernah melupakan, bahwa Luhan juga sangat membutuhkannya.

 

Mereka saling membutuhkan.

Itulah manusia…

 

Sehun belajar satu hal…

Jangan pernah menyerahkan harga dirimu demi uang, jabatan maupun cinta.

Karena sekalinya kamu menyerahkan harga dirimu, maka dirimu tak lebih dari seonggok benda yang pasti akan dibuang jika sudah tidak dibutuhkan lagi.

THE END

a/n: KYAAAAAAA MY FIRST SEKAILU FIC.

Ottaeyo?

Jelek yah? Aneh ya? Payah ya?

Well, nggak tahu kenapa mendadak jadi berbaku ria begini. Dimaapin yeeee, hehehehe.

 

Aku nggak yakin sama feelnya, alurnya, plotnya, diksinya, pendalamn castnya, intinya, aku nggak yakin ini FF oke.

 

Mohon komenan yang membangun yaaaaah

 

Thx for reading

:*****

Nb: quote King Julien yang bikin aku terinspirasi itu adalah waktu dia kehilangan Mort yang asli. Dia bilang kalau dia butuh Mort karena “aku butuh dia untuk dibenci”

Begitulah. Dari satu kalimat pendek itu, jadilah fic yang cukup alay ini. Hehehehe.

 

I LOVE KING JULIEN!!!!

Bias paling top deh. Wkwkwkwkwkwkw

Nistanya ngalahin Kris, lhoooo.

Advertisements