-*-

A/N : Hai… aku kembali dengan FF SUDO yang baru. Seperti biasa, ini FF Friendship. Nggak ada jalinan cinta YAOInya. Wkwkwkw. Dan ini hasil IMAJINASIku yang pintar mengambil hal-hal nyata dan meramunya dalam bumbu FIKSI yang NGGAK NYELENEH. Wkwkwkw. Imajinasi memang tanpa batas, tapi wajib diingat kalau penalaran juga tanpa batas. Dan penalaran itulah yang bisa melumpuhkan imajinasi tanpa nalar. Fufufufu. Oke, deh. Silakan dibaca. Kalau jelek, silakan banting perangkat komputer atau laptop atau hape anda. hehehehe. becandaaaaaaa.

Kutunggu komenannya yaaaa.

-*-

Sebuah kunci bernomor berada dalam genggaman Joonmyun.

“Itu kunci kamarmu. Dan kamu akan berbagi kamar dengan mahasiswa lain. Selamat datang di asrama kami dan semoga kamu betah.” Joonmyun mengangguk dan membalas senyum ramah wanita beparas keibuan itu.

“Terima kasih, Bu. Permisi.” Joonmyun membungkuk sekilas lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar yang akan dia tempati selama masa kuliah.

Sepanjang jalan yang dilaluinya, Joonmyun berpapasan dengan beberapa mahasiswa baru seperti dirinya yang tampak sibuk mencari kamar-kamar mereka. Pintu kamar bernomor 2212 dibuka, dan Joonmyun berharap tidak ada orang lain di dalam. Dirinya belum siap berbasa-basi dengan siapapun. Hembusan nafas lega mahasiswa baru itu menyatakan bahwa harapannya terwujud. Kamar itu sepi. Joonmyun melangkah ragu memasuki ruangan itu. Kedua matanya meneliti kondisi kamar. Dua buah ranjang berukuran single, dua lemari pakaian, dua meja belajar kecil, penghangat ruangan dan kipas angin di langit-langit kamar.

Satu sisi ruangan itu sudah terisi berbagai macam benda. Tumpukan buku, kertas, kotak sepatu, tas dan botol-botol serta kaleng kosong yang ditata rapi dalam kardus. Joonmyun menghampiri sisi yang satunya lagi yang masih kosong. Dia meletakkan kopernya di atas ranjang dan mulai memindahkan isinya ke dalam lemari yang tersedia. Ruangan itu cukup nyaman dengan ventilasi udara yang mengizinkan sinar matahari menyusup dan menyinari serta menghangatkan kamar.

Joonmyun meletakkan koper kosongnya di bawah ranjang dan dia merapikan ranjangnya. Beberapa bingkai foto berisi potret ayah, ibu dan adiknya dia letakkan di samping bingkai foto dirinya dan kekasihnya. Beberapa novel yang sedang dibacanya dia letakkan di atas meja belajar, sedangkan peralatan menulisnya dia masukkan ke dalam laci. Setelah merasa semua barang berada di tempatnya, Joonmyun berdiri dan melihat ke luar jendela. Bangunan kampus terletak tepat di samping asrama. Jantungnya berdebar lebih cepat ketika dia membayangkan betapa asiknya menuntut ilmu di universitas tersohor itu. Rasa bangga membuncah di dadanya karena pencapaian cita-citanya makin dekat.

Pintu kamar terbuka dan Joonmyun menoleh. Dia mendapati sesosok bertubuh putih bersih dengan sepasang mata yang memancarkan ketertarikan.

“Wah, kamu pastv roommate aku, ya?” celotehan cerianya membuat kecanggungan sedikit mencair.

“Halo. Aku Kyungsoo, Do Kyungsoo,” tangan kananannya terulur dan Joonmyun pun menjabatnya. “tapi aku lebih suka dipanggil D.O.” imbuhnya.

“Aku Kim Joonmyun. Nice to meet you, D.O.” keramahan Joonmyun membuat Kyungsoo tersenyum.

Mereka mulai mengobrol tentang beberapa hal yang menjadi isu di universitas mereka dan bagaimana rumor-rumor itu bisa memengaruhi hari-hari para mahasiswa di tempat itu. Joonmyun kagum tentang betapa banyaknya informasi yang diperoleh Kyungsoo -yang belum lama menjadi penghuni asrama itu-. Pasti dia punya banyak teman, batin Joonmyun. Kyungsoo membeberkan jadwal dan struktur harian di kampus, dan itu membuat Joonmyun lebih siap menghadapi kehidupan barunya di kampus. Tidak perlu waktu yang lama bagi Joonmyun untuk merasa nyaman dengan Kyungsoo. Dan Joonmyun yakin dirinya akan menjalani masa-masa kuliah yang seru dan menyenangkan bersama Do Kyungsoo, teman barunya.

-*-

Demi membantu menjaga kebersihan dan kerapihan kamar mereka, Joonmyun pun menaruh perhatian lebih saat membereskan kamar. Semua sampah dia buang di tong sampah besar di samping asrama. Joonmyun berkacak pinggang dengan dada membusung mengagumi hasil kerjanya membersihkan kamar itu dari barang-barang bekas yang menumpuk.

“D.O pasti senang waktu lihat kamarnya yang bersih dan rapi.” ucapnya percaya diri. Namun, rasa percaya dirinya terkikis ketika dia melihat bagaimana reaksi tidak terduga Kyungsoo ketika mendapati kamarnya yang ‘terlalu’ bersih.

“Mana plastik besar yang isinya botol kosong yang aku taruh di sini, Joonmyun?” bentaknya sambil melotot.

“A-aku buang. Kan, itu sampah, D.O.” balasnya lirih.

“Sampah? Jangan sok tahu, Joonmyun. Aku sengaja nggak buang itu karena semuanya bisa aku pakai.” pekiknya marah. “Kamu buang ke mana barang-barangku?”

“Di tong sampah di luar…” belum selesai Joonmyun menyahut, Kyungsoo sudah berlari keluar.

Beberapa menit berselang, pemuda itu kembali dengan dua kantong plastik besar berisi botol-botol plastik kosong dan kotak-kotak tisu kosong. Dahi Joonmyun mengerut saat melihat barang-barang -yang menurutnya adalah sampah- itu diletakkan kembali di pojok kamar oleh Kyungsoo.

“Untung belum diambil dinas kebersihan.” gumamnya lega. “Jangan pernah sentuh barang-barangku! Paham, Kim Joonmyun?!” Kyungsoo menatap Joonmyun dengan tatapan yang belum pernah dia perlihatkan sebelumnya. Sebuah tatapan mengancam. Joonmyun mengangguk dan terpaksa berjanji untuk tidak mengurusi barang-barang Kyungsoo. Setelah meminta maaf, Joonmyun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri.

-*-

“Joonmyun! Kamu kusut banget, deh, kayaknya.” bisik seorang cowok di sampingnya.

“Lagi bete banget, Jongdae.” sahutnya pelan.

“Kenapa?”

“D.O makin nggak jelas.” ujarnya di tengah kegiatannya menyalin materi kuliah. “Nanti aku ceritain.”

Jongdae menggumam dan menyelesaikan catatannya. Joonmyun dan sahabatnya, Jongdae duduk di bangku taman, cukup terasing dari mahasiswa-mahasiswa lainnya yang lebih memadati lapangan dan kantin.

“Percaya atau nggak, kamarku sekarang seperti pasar loak. Tiap hari ada saja barang nggak guna yang nyempil di kamar.” Joonmyun terdengar begitu kesal.

“Ya kamu buang saja barang-barang itu.” usul Jongdae.

“Aku pernah buang seplastik besar botol kosong, tapi D.O ngamuk dan ngelarang aku nyentuh barang-barangnya lagi.” dia menarik nafas dalam untuk menahan emosinya. “Di tiap sudut kamar ada saja barang nggak jelas. Tiap kali aku tanya mau buat apa barang-barang itu disimpan, dia bakal bilang kalau suatu saat nanti dia bakal gunain benda-benda itu.”

Jongdae menyengir dan menggaruk kepalanya. “Memangnya apa saja yang dia simpan?”

“Semuanya. Se-mu-a-nya. Botol air mineral, kotak tisu kosong, sweater butut, dasi kuno dan norak, sepatu jebol, tas robek, kaos kaki bolong, koran lama, buku-buku yang bahkan nggak sesuai sama jurusannya.” dia berhenti sejenak mengatus nafarnya. “D.O itu mahasiswa Art and Literature, tapi dia ngumpulin buku-buku materi kuliah punya jurusan teknik mesin, kimia, pemrograman software, kedokteran, manajemen dan lain-lain. Ada tiga atau empat tumpukan buku-buku itu. Waktu aku tanya kenapa dia menyimpan semua buku itu, dia bilang, bisa saja suatu hari nanti dia butuh informasi dari buku-buku itu. Demi Tuhan, ini era internet, dia bisa nyari apapun dalam hitungan detik.” pekiknya frustasi.

“Wah, sepertinya D.O suka nimbun barang, ya?” tebak Jongdae setelah mendengar keterangan Joonmyun.

“Bukan.” suara yang terdengar asing itu mengagetkan Joonmyun dan Jongdae. Mereka serentak menengok ke belakang dan bersitatap dengan seorang pemuda berwajah jenaka dengan sorot mata serius dan cerdas. “Teman kamu itu bukan hobi menimbun, tapi dia takut membuang barang-barangnya.” lanjutnya santai sambil melangkah dan berdiri di depan dua pemuda itu.

“Dan… Kamu siapa?” Joonmyun bersuara.

“Oh, maaf. Aku Byun Baekhyun. Asisten dosen.” ketiga pemuda itu bersalaman.

“Kamu kenal D.O?” celetuk Jongdae tiba-tiba.

“Aku nggak kenal D.O, tapi aku tahu siapa dia. Dia mahasiswa yang cerdas, perfeksionis dan punya obsesi untuk menjadi yang terbaik. Dia juga anggota club drama dan koor fakultasnya.” Baekhyun menatap dua orang yang sedang melongo di depannya itu. “Jadi… Kamu teman sekamarnya, ya?” Joonmyun mengiyakan. “Dia pasti rapi, kan?”

“Ya. Semua dia tata sesuai warna atau ukuran. Dia bisa tahu kalau ada satu barang yang bergeser atau hilang. Dia juga maniak kebersihan. Aku sampai stress dibuatnya.” keluhnya sebelum mengembuskae nafas berat.

“Ya, rata-rata orang dengan kecenderungan seperti D.O itu mengidap gangguan Obssessive Compulsive Disorder. Tapi dia bisa dibantu ngurangin kebiasaannya itu, kok.” Baekhyun meyakinkan Joonmyun.

“Kok, kamu sepertinya tahu betul tentang masalah itu?” alis Joonmyun terangkat. Dia penasaran.

“Karena… Ibuku juga seperti itu. Tapi sekarang dia sudah nggak begitu lagi.” Baekhyun tersenyum dan menepuk pundak Joonmyun. “Kapanpun kamu butuh bantuan, silakan cari aku di perpustakaan. Selain sebagai mahasiswa yang merangkap jadi asisten dosen, aku juga penjaga perpustakaan di waktu senggang. So, good luck, Joonmyun. Dan kamu, Jongdae. Dampingi temanmu, ya.” dan dia pun pergi menjauh.

Joonmyun dan Jongdae saling berpandangan. “Dia muncul dari mana, ya?”

“Iya, tiba-tiba nongol begitu saja.” Jongdae menimpali.

“Aneh…” mereka menggumam bersamaan.

-*-

Ruang perpustakaan kampus itu cukup lengang ketika Joonmyun memasukinya. Matanya mencari-cari sosok penjaga perpustakaan itu. Alih-alih menemukan Baekhyun, dia justru berhadapan dengan seorang pemuda bertubuh jauh lebih tinggi darinya dan ekspresi mukanya konyol dan kocak.

“Maaf, um… Apa Byun Baekhyun ada di sini?” tanya Joonmyun.

“Siapa? Kamu cari siapa?” pemuda bermata ekspresif itu balik tanya.

“Byun Baekhyun. Asisten dosen yang juga jadi penjaga perpustakaan ini.” Joonmyun mulai gugup. Jangan-jangan cowok bernama Byun Baekhyun itu mengerjainya.

“Kamu yakin d-dia yang kamu cari?” cowok itu masih meragukan Joonmyun.

“I-iya… Itu yang dia kasih tahu ke aku.”

“Kapan dia bilang begitu ke kamu?”

“Seminggu yang lalu.”

“I-itu ng-nggak mungkin!” pemuda itu terbata-bata dan matanya menyorot ngeri. Perasaan Joonmyun makin tidak tenang.

“Tapi… Cowok yang namanya Baekhyun itu bilang sendiri kalau aku bisa ketemu dia di sini.” mulai ada keraguan dalam suara Joonmyun.

Pemuda itu tampak tegang dan menelan ludah beberapa kali.“Itu nggak mungkin. Kamu nggak mungkin ketemu Byun Baekhyun.” “K-kenapa?”

“Karena Byun Baekhyun…” pemuda itu mengisyaratkan kepada Joonmyun untuk mendekat. “sudah mati dua tahun yang lalu.” bisiknya hati-hati.

Tubuh Joonmyun bagai diguyur air es super dingin. Dia tercekat dan wajahnya memucat.

“Ja-jadi yang aku lihat itu h-hantu?”

“Chanyeol, stop freaking him out. Lihat, tuh, mukanya sampai pucat begitu.” muncul seseorang dari balik rak buku besar dan mendekati Joonmyun. “Maaf, Joonmyun. Chanyeol biasa ngerjain semua orang.”

“T-tapi… Dia meyakinkan banget.”

“Jangankan kamu, dosen saja bisa dia kibulin, kok. Kamu tadi benar-benar percaya bualan Chanyeol, ya? Mukamu pucat pasi.” Baekhyun terkekeh.

“Ya, aku sempat percaya, karena waktu itu kamu muncul tiba-tiba dan selama seminggu ini aku nggak pernah lihat kamu di manapun. Makanya aku jadi percaya omongan Chanyeol.” dan si tersangka justru terbahak senak.

“Maaf, Bro. Aku cuma becanda. Jangan marah, ya.” Chanyeol menepuk bahunya, kemudian menatap Baekhyun, “Oke, Baek. Tugasku sudah selesai, aku cabut dulu, ya.”

Thanks, Yeol.”

Baekhyun mengajak Joonmyun duduk di salah satu meja dan mereka memulai membicarakan masalah yang dihadapi Joonmyun.

-*-

Joonmyun berjalan mondar-mandir di kamarnya menunggu Kyungsoo dengan gelisah. Sudah seminggu lamanya dia berusaha bersabar menghadapi temannya itu. Namun kesabarannya menipis seiring berkurangnya jatah ruang miliknya karena terinvasi oleh barang-barang Kyungsoo. Sayup-sayup suara Kyungsoo menyusup dari luar kamar. Sepertinya dia sedang berbicara dengan temannya. Jantung Joonmyun berdegup cepat, keringat membasahi tangannya, dia menarik dan membuang nafas berulang-ulang dan kedua matanya terpaku pada kenop pintu yang berputar. Pintu pun terbuka perlahan.

“Oh, Joonmyun!” Kyungsoo tampak kaget melihat teman sekamarnya sudah berada di kamar. “Kirain masih di kampus.” lanjutnya seraya meletakkan bungkusan di atas meja.

“Apa itu?” tidak kuasa menahan keingintahuannya, Joonmyun pun bertanya.

“Ini sweater. Aku beli di bazar murah tadi.” Joonmyun menghela nafas berat. Pasti sweater itu akan menjadi barang rongsok berikutnya.

“Bukannya kamu sudah punya tiga sweater?”

“Mumpung murah, Joonmyun.”

“Yang tiga itu saja nggak pernah dipakai, kan?”

Kyungsoo mengangkat bahu, “Ya… Suatu hari nanti pasti aku pakai, kok.”

“Kamu nyadar nggak, sih. Kalau kamu cuma nyimpan barang rongsok?” Joonmyun segera menyesal telah mengucapkan kalimat itu. Ingin rasanya dia menenggelamkan diri dalam samudra dan dicabik-cabik hiu putih. Perubahan air muka Kyungsoo membuat Joonmyun mengutuk kelancangannya.

“Rongsok katamu? Lagi-lagi kamu sok tahu, Joonmyun!” dengan gemas dia mengeluarkan beberapa benda dari dalam kardus. “Sweater ini dulunya punya papaku dan diberikan ke aku. Ini sepatu hadiah dari kakekku. Ransel ini kado ulang tahun dari Jongin, sahabatku. Jam tangan ini dari mamaku pas aku masuk SMA. Semua benda ini penuh kenangan.” ucapnya gusar.

“Tapi semua itu sudah butut dan rusak, D.O. Nggak akan kamu pakai. Dan itu kardus isinya baju-baju kumal yang nggak sekalipun kamu sentuh. Lebih baik kamu kasih ke orang lain yang membutuhkan.” Joonmyun sudah kadung basah mengangkat topik itu dan dia akan menuntaskannya. Wajah Kyungsoo mengerut aneh dan memerah. Joonmyun sudah mengantisipasi ledakan amarah pemuda bermata bulat itu.

Stay. Away. From. My. Stuff!” tegasnya galak.

“Oh, I will. Tapi masalahnya barang-barangmu itu sudah memenuhi ruangku. Taruhan, deh, sebulan lagi pasti aku nggak bisa tidur di ranjangku gara-gara sudah terisi barang-barang timbunanmu itu.” meski emosi sudah mencapai ubun-ubun, Joonmyun masih berusaha menahannya.

“D.O, ini kamar kita, bukan cuma kamarmu. Setidaknya kamu hormati ruangku juga.” suara lembutnya mampu sedikit meluluhkan emosi Kyungsoo.

Pemuda itu terdiam dan melayangkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Dan benar kata Joonmyun, kamar itu nyaris penuh dengan benda-benda miliknya. Bahkan ranjang Joonmyun makin merapat ke dinding kamar. Hanya tersisa sedikit ruang bagi perlengkapan Joonmyun. Kyungsoo baru saja menyadarinya.

“D.O… Kebiasaanmu ini nggak sehat buat kamu, dan juga buat orang lain.” dia mendekati Kyungsoo dan memegang bahunya. “Yuk, kita sama-sama beresin semua ini.”

“Tapi aku…”

“D.O, biar aku bantu kamu memilah-milah mana yang benar-benar kamu butuhin dan mana yang nggak penting. Oke? Let’s start with this ripped shirt.” dia mengangkat sebuah baju yang robek di bagian ketiaknya.

I’ll keep it! Itu baju kesukaanku.”

“Tapi kamu nggak pernah pakai ini, dan ini juga robek.”

I’ll fix it then I’ll wear it!”

When?

Someday. Taruh lagi bajunya.” tegasnya.

Joonmyun menarik nafas dan mengembuskannya dengan cepat. “Ini sepatu sudah rusak. Should we throw this away?” dia menenteng sepasang sepatu lari yang sudah dekil dan rusak di bagian solnya.

I’ll keep that shoes. Itu kenang-kenangan. Aku harus ngumpulin uang buat beli itu, and you can’t make me throw that away just like that!” dengan kasar, Kyungsoo merenggut sepatu butut itu dan menjejalkannya ke dalam kardus.

“Do Kyungsoo! We’ll keep doing this forever if you don’t decide which one to let go!” dia mulai gemas dan nyaris kehilangan kesabarannya. Rupanya Kyungsoo cukup tertampar dengan ucapan Joonmyun yang sedang membongkar bermacam benda rusak yang dia kumpulkan.

You don’t need this broken clock!” Joonnmyun mengeluarkan sebuah jam dinding rusak dan memasukkannya ke dalam kardus. “Kamu nggak mungkin pakai sandal yang cuma satu ini!” sandal itu teronggok bersama jam tadi.

“Dan ini memalukan banget untuk dipakai.” Joonmyun melempar sweater dekil dengan motif amat norakitu ke dalam kardus.

“Apa sebuah kaos kaki bolong ini masih kamu pakai, Do Kyungsoo?” tanpa menunggu jawaban darinya, Joonmyun memasukkannya ke kardus.

Selama bermenit-menit selanjutnya, Joonmyun berhasil memilah sebagian kecil barang rongsok milik Kyungsoo menjadi dua kardus agak besar. Kyungsoo berdiri mematung dengan air mata menetesi pipinya. Joonmyun tidak tega melihat temannya tersiksa batinnya seperti itu, tapi kata Baekhyun dibutuhkan sikap yang tegas untuk menyembuhkan obsesi merugikan semacam itu.

“Sementara, kita buang yang ini dulu.” Joonmyun mengangkat satu kardus dan mendekati Kyungsoo. “Kamu buang ini!”

I can’t.” isajnya.

Of course you can, D.O! You just have to let it go.”

“T-tapi gimana kalau aku tiba-tiba butuh barang-barang itu?”

“Kalau memang kamu butuh benda-benda itu, aku sendiri yang bakal cariin yang sama persis.”

Kyungsoo berusaha mempertahankan barang-barangnya dengan memeluk erat kardus itu.

Joonmyun mendekat dan merangkul bahunya.“I’ll help you, D.O. Ayo!” mereka melangkah pelan menuju pintu keluar asrama.

Beberapa kali Kyungsoo berhenti dan hendak kembali ke asrama, tapi Joonmyun menyemangatinya untuk tetap melanjutkan langkahnya. Kardus itu mereka pilah lagi dan dimasukkan sesuai dengan tongnya masing-masing. Bahkan ada satu tong yang merupakan tempat membuang pakaian bekas. Dan di tempat itulah baju-baju lawas Kyungsoo tergeletak. Setelah kardus pertama sudah rampung mereka buang, mereka pun kembali lagi ke asrama untuk mengambil kardus yang satunya.

Tangisan Kyungsoo sedikit berkurang dan senyuman Joonmyun pun merekah.

How do you feel?”

I don’t know…” gumamnya sambil melihat adanya ruang kosong di kamarnya.

“Kamu bisa melaluinya, D.O. Kamu cuma takut membuang barang. Ya, kan?” Mereka duduk bersebelahan di tepi ranjang Joonmyun.

“Aku nggak tahu sejak kapan aku punya kebiasaan seperti ini.” sahutnya lirih.

Joonmyun mengingat ucapan Baekhyun tentang penyebab kebiasaan menimbun itu. Salah satunya adalah kehilangan sesuatu yang berharga dan tidak bisa diperoleh kembali, sehingga itu bisa menyebabkan trauma.

“D.O, apa kamu pernah kehilangan sesuatu yang penting buatmu?”

Kyungsoo tampak sedang mengingat apa saja yang pernah terjadi dan memengaruhi hidupnya. “Waktu aku kelas sembilan, aku kehilangan surat pernyataan cinta dari temanku. Dan waktu dia tanya di mana surat itu, aku bilang kalau surat itu hilang. Sepertinya dibuang mamaku waktu beresin kamarku. Dan sejak saat itu, cewek yang aku suka itu marah dan nggak bicara lagi sama aku. Sampai sekarang aku aku nggak ketemu dia lagi.” dia terdiam. “Aku jadi takut buang apapun lagi karena aku nggak mau kejadian itu terulang lagi. Aku nggak ngerasa aman.”

Tepat seperti ucapan Baekhyun tentang pemicu kebiasaan itu.

Joonmyun tersenyum dalam hati. “D.O, aku yakin kamu bisa ngurangin ketakutanmu dalam membuang barang. Today you did a great job. I’m so proud of you, Mate.” ucapannya itu menumbuhkan rasa percaya diri Kyungsoo.

Perlahan tapi pasti, Joonmyun terus membantu Kyungsoo menentukan benda mana yang perlu disimpan dan mana yang harus mendekam dalam tong sampah. Meski masih penuh keraguan, Kyungsoo mulai melihat ada secercah harapan pada dirinya, walaupun membuang satu benda saja itu begitu mencabik-cabik batinnya dan merobohkan fondasi rasa amannya, tapi Joonmyun terus menyemangatinya.

-*-

Hari ini Joonmyun berhasil meyakinkan Kyungsoo untuk membuang lima tumpuk koran, satu kardus kertas berisi coret-coretan materi kuliah, dan dua tumpuk karton bekas makanan. Sampah di kamar mereka mulai menyusut, meskipun terkadang Joonmyun harus memeluk Kyungsoo yang menangis pasrah.

“Aku sakit apa, Joonmyun?” bisik Kyungsoo yang berdiri di depan jendela menatap bintang-bintang di langit.

Obssessive Hoarding Disorder. Aku tahu tentang ini dari Baekhyun. Ibunya juga menderita OHD. Oh, ya, D.O. Kamu pasti belum dengar tentang seorang wanita berumur 62 tahun yang meninggal karena tertimbun gundukan pakaian yang tingginya 2 meter, kan?”

“I-itu beneran?” Kyungsoo terkejut.

“Ya, wanita itu pengidap OHD yang suka nimbun pakaian sampai rumahnya nggak layak ditinggali karena isinya pakaian usang dan barang-barang nggak penting lainnya.” dia meneliti raut muka temannya itu. “Itulah kenapa hoarding disorder bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain, terutama keluarga.”

Kyungsoo merenungkan ucapan Joonmyun, dan dia menyadari betapa berbahayanya menimbun barang seperti itu. “Aku nggak mau berakhir seperti ibu itu. Bantu aku, Joonmyun.” pintanya seraya menggenggam tangan Joonmyun.

“Bukannya aku sudah bantu kamu dari awal, Kyungsoo?” balasnya di sela senyuman leganya.

-*-

“Chanyeol, Baekhyun di mana?” Joonmyun berdiri di depan meja penjaga perpustakaan.

“Baekhyun lagi ngajar. Tunggu saja sebentar lagi.” balasnya sambil memeriksa ulang buku apa saja yang dipinjam para mahasiswa.

Tidak lama Joonmyun menunggu, Baekhyun pun muncul di perpustakaan.

“Baekhyun, thanks, ya. Berkat kamu, aku bisa bantu D.O.”

“Kamu nggak perlu berterima kasih, Joonmyun. Kamu sendiri yang memang niat bantu temanmu. Aku cuma ngasih sedikit pencerahan.” dia terkekeh.

“Dia ngeri waktu aku kasih tahu tentang ibu yang meninggal gara-gara kejatuhan barang-barang timbunannya. Dan D.O mulai bisa buang barang-barang nggak penting tanpa berurai air mata lagi. Apa menurutmu aku sudah berhasil sembuhin dia?” ada sedikit ketidakpercayaan diri pada batin Joonmyun. Tapi Baekhyun tersenyum simpul dan menimpali.

“Dia nggak akan sembuh total, karena OHD itu sama seperti Obssessive Copulsive Disorder. Sudah mendarah daging. Tapi kita bisa membimbing mereka biar nggak kambuh dan makin parah. Kamu harus konsisten dan sabar, Joonmyun. You can do it!”

“Thank you, Baekhyun. Sekarang aku jadi lebih percaya diri dan semakin yakin bisa bikin D.O nggak nimbun sampah lagi.” dia berdiri dan membungkuk salut ke arah Baekhyun, seniornya.

“D.O beruntung ketemu roommate seperti kamu, Joonmyun. Aku nggak bisa bayangin gimana kalau Chanyeol yang jadi roommatenya, bisa-bisa D.O dilempar keluar jendela, tuh.” Baekhyun tertawa dam Joonmyun terkekeh geli membayangkan temannya melayang dari jendela.

satu semester belum terlewati, tapi Joonmyun sudah membantu temannya dan belajar hal baru tentang bagaimana menghadapi keunikan orang lain. Joonmyun juga belajar bahwa persahabatan bukan hanya menerima saja, tetapi juga memberi. Semakin ikhlas kau memberi, maka kau akan menerima banyak kebaikan. Itulah yang Joonmyun selalu tanamkan dalam hati.

THE END

A/N : Kali ini nggak menggantung banget, kan ceritanya? Hehehe. untuk kasus HOARDING DISORDER itu beneran nyata, dan tentang ibu yang ketiban tumpukan pakaian itu juga benar. OHD disebabkan oleh rasa takut akan kehilangan sesuatu, entah itu takut kehilangan suatu kenangan dari suatu benda, atau takut kalau tiba-tiba butuh benda itu dan benda itu nggak ada. Biar lebih jelasnya, silakan liat foto di bawah. Bahkan ada juga orang yang nimbun peliharaan lho. Ada orang yang rumahnya diisi oleh 400 lebih ekor kucing. Wuiiiizzzz… ekornya doang yang dikumpulin ya? XD intinya, nimbun apapun secara berlebihan itu buruk. Ini bukan koleksi, lho. Kalau koleksi kan ngumpulin item tertentu, misal perangko, koin, miniatur, dan ada harganya. Alias bisa dijual belikan. Nah, kalau OHD tisu bekas ingus aja kagak dibuang kayaknya. -_- amit-amit deh.

ini contoh :

Advertisements