A/N : Lama banget baru bisa nulis lagi. Cerita ini sudah lama bersarang dalam benakku. Dan aku rasa kayaknya aku harus nulis ini daripada jadi beban di kepalaku. Semoga kalian suka. Again… NO YAOI CONTENT.

 

Seperti biasa, selama nyaris enam bulan ini, aku ke mana-mana bersama Luhan. Ya, tetangga pindahan dari Cina itu terpaksa harus keluyuran ke manapun bersamaku. Awalnya aku malas, tapi karena desakan dari ibuku –yang sudah berteman baik dengan ibu Luhan- aku tidak bisa menolak perintahnya untuk menemani Luhan, si anti sosial.

Aku menyikut lengannya dan dia menoleh padaku dengan tatapan kesal. Dia melepas headphone yang nyaris 24 jam menyekap telinganya.

“Apa?” semburnya galak.

“Kamu dilihatin dosen.” Bisikku kesal. Seketika Luhan menoleh ke arah dosen pengajar yang menatapnya tajam. Dengan enggan dia menggumam maaf dan memasukkan headphone ke dalam ranselnya.

Kami kembali tenggelam dalam celotehan dosen yang membosankan.

 

Jam kuliah terakhir sudah usai, dan kami semua berhamburan keluar kelas. Aku dan Luhan serta Baekhyun dan Minseok berjalan beriringan melewati meja dosen ketika Luhan terpaksa berhenti karena dipanggil.

Kami bertiga meninggalkan Luhan di dalam kelas bersama sang dosen. Aku yakin dia sedang diberi petuah untuk tidak menggunakan headphone di dalam kelas. Hal itu sudah menjadi isu rutin yang harus dihadapi Luhan.

Jujur, aku sendiri tidak tahu harus memberi solusi apa untuk masalah anehnya itu. Baekhyun dan Minseok menggerutu karena lapar dan lelah. Mereka ingin pulang.

“Kalian pulang aja, biar aku yang nunggu Luhan.” Ucapku sambil mengibaskan tanganku menyuruh mereka pergi.

Dan aku duduk di depan kelas. Apa, sih, yang mereka bicarakan? Lama sekali.

Pintu kelas terbuka dan Luhan muncul dengan wajah masam. Dia merenggut tanganku dan menarikku berdiri, lalu dengan langkah cepat dia menarikku bersamanya.

“Ada ap…”

“Diam!”

Oke, kalau Luhan bilang ‘diam’, artinya aku harus benar-benar diam.

“Yixing, kamu sudah makan belum?” suara lembut ibuku menyambangi telingaku. Aku beranjak dari meja belajarku dan membuka pintu kamar. Wajah teduhnya menyambutku.

“Yixing belum lapar, Ma. Nanti kalau lapar, Yixing ambil sendiri. Terima kasih Mama sudah tanya.” Dan aku tersenyum manis kepada wanita paling istimewa dalam hidupku.

Setelah pintu kututup kembali, aku pun mencoba berkutat lagi dengan laptop kesayanganku. Jemariku menari di atas keyboard dan mengetikkan beberapa kata kunci di kotak pencarian. Aku memasukkan beberapa ciri aneh yang kulihat dari diri Luhan.

benci suara mengunyah’  iseng-iseng aku masukkan kalimat itu dan ku-klik kata search.

Sedetik kemudian muncullah berbagai artikel mengenai gangguan itu. Aku meng-klik salah satu dan serentetan paragraf bermunculan.

Sebuah kata aneh yang baru kali ini kutahu…

MISOPHONIA.

Aku membaca keterangan tentang gangguan itu. Dan semua ciri-cirinya sama persis seperti yang dialami Luhan.

Benci suara mengunyah. Aku pernah nyaris dilempar mangkuk sup ketika aku mengunyah permen karet di depannya.

Lalu dia juga marah jika mendengar orang batuk atau berdehem berkali-kali. Pernah suatu saat, ketika baru beberapa hari berkuliah, dia merebut pulpen Baekhyun dan melemparnya jauh-jauh. Dan ketika kutanya apa alasannya, dia bilang kalau suara coretan ujung pulpen di atas kertas membuat kepalanya seperti dihantam palu berulang-ulang.

Parahnya lagi, aku dilarang bernafas!

Dia bilang suara hembusan nafasku membuatnya ingin mencekikku.

Benar-benar kelainan jiwa. Awalnya aku mengira dia memang seperti itu.

Itulah alasan mengapa dia sering memakai headphone jika berada di luar rumah. Dan dia sangat enggan pergi dari rumah. Katanya, kamar tidurnya adalah tempat paling aman dan tenang.

Aku bertaruh ibunya tidak tahu sama sekali tentang apa yang diderita anaknya. Beliau mengira kalau Luhan itu pendiam, pemalu dan kurang percaya diri.

Itulah yang aku pikir ketika baru mengenalnya. Namun, seiring waktu berlalu, aku tahu siapa Luhan sebenarnya. Dia orang yang menyenangkan, berwawasan, dan gemar bercanda. Sayangnya dia menghindari tempat-tempat ramai. Sehingga banyak yang menganggapnya anti-sosial.

Aku terus membaca artikel itu dan aku tahu apa solusi yang bisa membantu Luhan.

Misophonia merupaka suatu penyakit yang menyerang saraf pendengaran. Menjadikannya lebih sensitif terhadap suara.

Suara-suara pelan yang cenderung tidak membuat kita terganggu, justru bagi para penderita Misophonia sangatlah menyiksa.

Kita sama sekali tidak terganggu dengan suara mengunyah, berdecak, batuk, langkah kaki, menelan, denting sendok dan garpu, bahkan suara nafas, tetapi semua itu bisa sangat menyakitkan bagi mereka.

Menurut artikel yang aku baca, gangguan pendengaran itu akan makin parah jika penderitanya dalam kondisi stres, kelaparan maupun kelelahan.

Nah, itu yang terjadi pada Luhan.

Keanehannya akan makin menjadi ketika kami sedang menghadapi ujian. Luhan akan menjadi pemarah dan penggerutu, sama sekali bukan tipe yang bisa diajak bersenang-senang. Emosinya mudah meletup-letup.

Jadi Luhan harus selalu dalam kondisi kenyang, santai dan bebas dari tekanan. Sangat disayangkan penyakit aneh ini tidak bisa diobati, bahkan dengan operasi sekalipun.

Dan aku sebagai sahabatnya, akan mencoba untuk membantunya menjalani hari-harinya yang dihantui suara-suara yang dibencinya.

Aku baru ingat. Playlist dalam pemutar musik Luhan berisi lagu-lagu rock cadas yang suaranya memekakkan telinga. Aneh.

Aku sangat terganggu dengan suara-suara keras, tapi Luhan justru menyukainya.

Pantas saja dia suka menonton di bioskop yang sound system-nya bisa menulikan itu.

Sambil mengangguk puas, aku mulai mencari artikel lain tentang cara mengurangi kesensitifitas pendengaran itu.

Tengah malam sudah menyapa dan aku masih menatap layar laptop. Setelah puas dengan hasil informasi yang kudapat, laptop pun aku matikan.

Bahu dan punggunggku terasa pegal, mataku pun terasa pedih karena terlalu lama terpapar cahaya dari layar laptop.

Sambil bergelung di salah satu sisi ranjang, aku mengulang kembali semua informasi yang berhasil aku kumpulkan dan menarik nafas dalam, meyakinkan diriku bahwa aku bisa membantu Luhan menemukan kembali arti hidup yang sesungguhnya, dan bersama hembusan nafasku, kupejamkan mata.

“Xing? Serius kamu ajak aku ke tempat ini?” pekik Luhan terkaget-kaget.

Aku mengangguk, “Ya. Aku temani, jangan takut. We’re in this together. Okay?”

Meski harus agak menyeretnya, aku berhasil membawa Luhan masuk ke tempat ini. Beberapa wanita menatap kami dan tersenyum penuh tanda tanya. Aku berusaha mengacuhkan mereka.

Mereka pasti mengira aku dan Luhan adalah sepasang… ah, forget it.

Kami berdiri canggung di depan seorang gadis, mungkin umur awal 20-an, rambutnya terpangkas pendek, sedikit lebih panjang dari rambutku. Senyumnya ramah dan sorot matanya jenaka.

“Kalian mau mendaftar sebagai member baru?” tanyanya sambil mengeluarkan dua lembar formulir pendaftaran.

“Nggak!”

“Ya!” Luhan dan aku menjawab bersamaan. Aku menginjak kaki Luhan dan mendesiskan kata-kata ancaman.

Gadis itu mengangkat alis, lalu terkekeh geli demi melihat Luhan mengumpat pelan.

“Jadi?” dia mencoba memastikan.

“Ya. Kami mau mendaftar sebagai member gym ini.” Tegasku sebelum Luhan berkata apa-apa.

“Silakan isi formulir ini selengkapnya.”

Dua lembar yang sudah terisi informasi tentang kami itu diperiksa oleh si gadis tomboy.

“Oke, semua sudah lengkap. Ini biaya pendaftaran, dan ini kunci loker kalian. Silakan. Sebentar lagi latihannya akan dimulai.” Ujarnya seraya menyerahkan dua kunci kepadaku. Setelah membayar uang pendaftaran.

“Awas, kamu, kalau sampai ada yang lihat kita di sini dan sebarin ke semua orang di kampus. I swear I’m going to kick your flat ass, Zhang Yixing!” geramnya kesal sambil menarik-narik celana spandex selutut yang melekat erat di tubuh bagian bawahnya itu. Aku hanya tergelak keras dan dengan sengaja menendang bokongnya yang datar itu.

Mataku dan Luhan segera menatap dengan rakus tubuh instruktur yoga yang ada di depan kami. Seorang wanita sangat cantik dengan tubuh sempurna. Sepertinya dia orang luar. Hidungnya mancung, rambutnya kecoklatan dan bergelombang. Aku harus berkali-kali mendorong dagu Luhan ke atas agar mulutnya menutup. Ya, wanita itu sungguh… menawan.

“Selamat sore semua. Bagi yang baru bergabung, kalian pasti belum mengenal saya. Perkenalkan nama saya Evangelina. But you can call me Eva. Kalian sudah siap untuk sesi yoga hari ini?” senyumannya yang bertahtakan deretan gigi putih bersih dan rapi itu tanpa ragu membuatku ingin memekik penuh semangat. YA AKU SIAP!!!!

Pemanasan dimulai. Aku dan Luhan beruntung dapat tempat di belakang Miss Evangelina.

Hmm… Bahkan namanya juga indah.

Alunan musik klasik dari India yang lembut dan menenangkan, beradu dengan gerakan lentur dan teratur dari sang instruktur yang cantik itu menjadi suatu kombinasi yang amat sangat meringankan segala beban pikiran dan batin yang selama ini menjajah otak dan hati kami.

Aku masih sempat melirik Luhan yang berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah. Jujur, meskipun gerakan yoga itu perlahan-lahan dan sangat lembut, tapi keringatku mengucur deras, dan nafasku juga ngos-ngosan. Semua otot dalam tubuhku seolah ditarik dan diregang sedemikian rupa di tiap gerakan. Menungging, mendongak, merentangkan kaki sejauh yang kita bisa, semua itu menyiksa otot-ototku. Tapi anehnya, meski tubuh terasa lelah, tapi pikiranku terasa ringan. Seolah semua beban yang sebelumnya bersarang itu telah mengepakkan sayap-sayapnya dan terbang menjauh.

Pendinginan adalah sesi yang paling aku suka. Di sini kami akan disuruh berbaring telentang, merilekskan kaki dan tangan, serta memejamkan mata. Seiring alunan musik lembut itu dan semilir angin yang menyusup melewati jendela dan pintu-pintu besar di sisi-sisi ruangan itu, kami disuruh menarik nafas perlahan dan mengembuskannya dengan pelan pula. Oksigen yang terhirup melaju bersama aliran darah menuju otak dan membuatnya segar kembali. Aku nyaris tertidur jika Miss Eva tidak bertepuk tangan menyatakan bahwa latihan yoga kali ini sudah selesai.

“Yixing… besok yoga lagi, yuk.” Ajak Luhan ceria, segera setelah selesai memakai baju lengkap kami.

“Besok ada tugas yang harus kita bereskan, Luhan. Dan, kita ikut program latihan yang dua hari sekali. Jadi lusa baru bisa latihan lagi.” Jelasku singkat.

Luhan sepertinya kecewa.

Bukankah dia yang awalnya menolak keras ajakanku berlatih yoga sebagai terapi untuk penyakit anehnya itu? Mengapa dia mendadak bersemangat?

Plin-plan.

“Yixing… badanku sakit semua seperti dipukulin orang satu kampus. I can’t even move my body from this cozy bed, Xing. I think I’ll stay home today.” Keluhnya di sela-sela erangannya melalui telepon.

Bukan hanya dia yang merasa seperti itu. Aku pun tidak bisa bangkit dari ranjangku. Tiap senti ototku seperti dipilin dan gulung-gulung. Nyeri di tiap tempat. Semalam tidurku nyenyak bagai bayi. Tapi begitu aku bangun pagi ini, aku ingin menangis.

Me too, Luhan. I can’t move a muscle. Let’s get some rest today. Kita harus yoga besok sore, remember?”

“Kalau saja instrukturnya nggak secantik dan semolek Miss Evangelina, aku nggak sudi ke sana lagi, Xing.”

Yeah, I agree. Rest in peace, Luhan.”

Shut up, Xing!”

Dan kami tertawa, kemudian mengaduh. Bahkan untuk tertawa pun semua ototku terasa sakit.

Setelah beberapa kali sesi yoga yang kami jalani, kondisi Luhan terlihat lebih baik. Dia jarang mengamuk kalau mendengar suara-suara pelan. Meski terkadang kambuh juga, tetapi sudah tidak separah dulu. Ibunya pun sudah aku beri tahu. Mereka pergi ke dokter dan apa yang sudah dilakukan Luhan akhir-akhir ini sudah benar. Tinggal bagaimana orang-orang di sekitarnya bisa memahami kondisinya dan mencoba mengurangi hal-hal yang memicu emosinya.

Musim panas sudah hadir, dan liburan semester pun dimulai. Aku, Luhan, Baekhyun, Minseok dan dua teman lainnya mengadakan perjalanan ke pantai. Kami menyewa dua kamar di penginapan dekat pantai selama dua malam.

Nuansa pantai itu begitu indah dan menenangkan. Debur ombak yang silih berganti tanpa henti itu terasa begitu menyenangkan.

Tapi semua itu justru membuat Luhan terganggu.

Suara pelan yang berulang itu membuatnya kesal dan uring-uringan.

“Sial! Headphone-ku ketinggalan! Semua gara-gara kamu, Xing, nyuruh aku buru-buru. Aku nggak tahan dengar suara ombak sialan itu seharian.” Makinya setelah menumpahkan isi ranselnya ke atas ranjang berseprai katun putih dengan hiasan bunga-bunga mungil.

“Luhan… relax, will you?”  aku memijat pelipisku yang mulai berdenyut. Urusan dengan gangguan telinga Luhan memang mengesalkan.

“Argh! Make that stupid wave to stop, Xing! My head hurts!” pekiknya sambil menututp telinganya.

Baekhyun, Minseok serta Jongin dan Kyungsoo menatap Luhan dengan iba. Mereka sudah tahu tentang penderitaan teman kami. Aku melambaikan tanganku menyuruh mereka meninggalkan aku dan Luhan.

Aku memasukkan kembali barang-barang Luhan yang berserakan itu ke dalam tas, meletakkannya di lemari yang tersedia di kamar dan duduk bersila di atas ranjang di hadapan Luhan yang masih menutup telinganya dengan mata terpejam.

Kedua tangan yang menutup telinganya itu, aku turunkan. Matanya terbuka dan menatapku.

Seuntai senyum kuberikan padanya. Kuangkat tanganku dan menutup telinganya.

“Jangan dengar apapun selain suaraku. Can you do it?”

Dia menatapku ragu, tapi perlahan dia mengangguk.

Thank’s.” bisikku pelan.

THE ITSY BITSY SPIDER CLIMBED UP THE WATER SPOUT. DOWN CAME THE RAIN AND WASHED THE SPIDER OUT. OUT CAME THE SUN AND DRIED UP ALL THE RAIN. AND THE ITSY BITSY SPIDER CLIMBED UP THE SPOUT AGAIN.” Aku bernyanyi sekeras yang aku bisa demi menyaingi suara debur ombak di luar penginapan.

“Hahaha… what was that? I didn’t see it coming. Hahaha.”

“Mau lagi?”

“Hmm… boleh.” Matanya seolah ditaburi bintang berkilauan. Berbinar-binar.

Aku mencari lagu yang lainnya. Dan Luhan menanti dengan senyum dikulum.

DOE A DEER, A FEMALE DEER. RAY, A DROP OF GOLDEN SUN. ME, A NAME I CALL MYSELF. FAR, A LONG, LONG WAY TO RUN. SAW, A NEEDLE PULLING THREAD. LA, A NOTE TO FOLLOW SAW. TEA, A DRINK WITH JAM AND BREAD, THAT WILL BRING UD BACK TO DO OH OH OH.” Aku bernyanyi di tengah gelak tawa Luhan. Tanganku masih menutup telinganya, tetapi dia bisa mendengar jelas suaraku yang keras dan fals itu.

One more children’s song, Xing. I miss those songs.”

“Tenggorokanku sakit, Luhan.” Kataku sebelum berdehem.

Luhan hanya mengangkat bahu dan menunggu aku menyanyikan satu lagu lagi.

The last one, okay?” Luhan mengangguk, dan aku melanjutkan. “Ehem… I LOVE YOU, YOU LOVE ME. WE ARE HAPPY FAMILY, WITH A GREAT BIG HUG AND A KISS FROM ME TO YOU, WON’T YOU SAY LOVE ME TOO.”

“I LOVE YOU, YOU LOVE ME,  WE’RE BEST FRIENDS LIKE FRIENDS SHOULD BE. WITH A GREAT BIG HUG AND A KISS FROM ME TO YOU, WON’T YOU SAY YOU LOVE ME TOO.”

Tidak kusangka kalau Luhan ikut menyanyikan bagian terakhir dari lagu tema Barney si dinosaurus ungu yang agak melambai itu bersamaku. Dan aku bisa melihat sorot matanya yang seolah bilang terima kasih itu.

Your voice was a disaster, Xing. But I love it better than the sound of the waves out there.” Gumamnya sambil menurunkan tanganku dari telinganya. “Your sound is beautiful, Xing. Beautiful disaster, I might say.” Masih sempatnya dia menjulurkan lidahnya untuk meledekku.

Aku hanya terkekeh dan menepuk bahunya.

“Zhang Yixing, apa-apaan ini? Kamu isi playlistku dengan lagu anak-anak yang kamu nyanyiin?” serunya tidak percaya dengan ulahku itu.

“Daripada dengar lagu-lagu rock yang merusak gendang telinga, lebih baik kamu dengar suaraku yang cenderung lembut.”

Luhan hanya menghela nafas dan memasang earphone yang dipinjamkan Kyungsoo. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi  mobil SUV milik Jongin dan memejamkan matanya.

What a beautiful disaster, Xing. Tapi aku suka. Terima kasih, ya.” Gumamnya masih dengan mata terpejam.

Aku meliriknya sekilas dan tersenyum sebelum melanjutkan pembicaraanku dengan yang lain. Luhan sudah tenggelam dalam dunianya.

Mungkin yang aku perbuat kemarin dan hari ini tidak akan menyembuhkan penyakit Luhan. Namun, setidaknya aku bisa meringankan sedikit beban batin yang menderanya. Aku hanya bisa menjaganya agar tidak terlalu sering berinteraksi berlebihan dengan hal-hal yang bisa memicu emosinya.

I, Zhang Yixing, promise will bring more beautiful sounds to Luhan’s ears, even though it’s a beautiful disaster like he said.

Whatever, Luhan.

THE END

 

 

 

 

A/N: what a massive failure, eh? Kayaknya skill nulisku mulai menguap bersama aroma ketek Luhan yang terhapus deodoran mahal. *perumpaan gaje parah* abaikan*

Alur awalnya nggak seperti ini. Padahal aku punya ide ini semenjak sebelum bulan puasa kemarin, lho. Gara-gara aku lihat acara di tv yang ngebahas tentang gangguan telinga yang disebut MISOPHONIA. Nah, itu bikin aku punya plot FF dengan cast LAYHAN. Tanpa ada sosok Kris. Karena waktu itu aku sebel setengah mati ama Kris, jadi sengaja nggak aku masukin dalam cast FF ini.

Aku sebetulnya udah nulis beberapa pages FF ini, tapi flashdiskku rusak dan nggak ada back up. Dari situ aku down dan nggak napsu nulis. T_T

Tapi aku pengin nulis FF layhan dengan tema itu.

Kalau sesuai plot awal, ini FF bakal jadi panjang banget. Mungkin sampai 30 halaman. Dan aku nggak ada mood untuk nulis alur sepanjang itu. Alurnya harus full dan padat. Masalahnya aku beneran kehilangan minat buat nulis FF panjang-panjang.

Maka aku nulis inti dari FF yang sudah aku rancang itu.

Jadi harap maklum kalau hasilnya nggak maksimal. Dan aku nggak tahu kapan nulis lagi.

Lagi-lagi *meski ada yang sebel kalau aku bilang gini* aku minta maaf kalau hasilnya mengecewakan.

Sekali lagi, jangan marah sama aku, tapi marah ama Kris aja. Jangan tanya kenapa, pokoknya dia aja yang dimarahin.

Hahahahahha.

 

See you… I don’t know when.

Bye.

 

 

Advertisements