oOo

Annyeong….

Aku muncul lagi dengan suatu pembahasan tentang keegoisan.

Egois adalah memaksakan kehendak.

Dan pada bahasan kali ini, aku mau angkat tema yang berhubungan dengan otoritas orangtua dan kewajiban anak untuk mematuhi mereka.

Pasti banyak banget di antara kalian yang sering ngerasa kalau ortunya egois. Ya, kan?

Misal kalian pengin sesuatu, tapi ortu nggak setuju, dan justru ngasih apa yang nggak kalian suka. Berhubung kalian takut dibilang anak durhaka, akhirnya kalian pasrah dan nerima. Bener, nggak?

Nah, itu yang mau aku bahas. Tapi ini bukan masalah pengin beli hape keluaran terbaru, atau pengin pacaran sama si A atau si B, tapi ini lebih ke pemaksaan kehendak orangtua dalam menetukan jurusan kuliah anak-anaknya.

Banyak banget ortu yang nggak memahami keragaman kecerdasan, yang biasa dikenal dengan istilah MULTIPLE INTELLIGENCE atau Kecerdasan Majemuk.

 

Orangtua cenderung ngecap anak mereka bodoh kalau nilai matematikanya rendah. Padahal kecerdasan bukan hanya berkutat dengan ilmu hitung yang bikin bulu idung keriting. Masih banyak kecerdasan lain yang bisa dikembangkan.

Seperti yang terjadi pada adikku. Waktu SMA dia mau ngambil jurusan IPS, karena dia ngerasa nggak mampu kalau di IPA. Tapi karena keegoisan ortuku, akhirnya adikku terpaksa masuk IPA, dan hasilnya?

Nilainya amburadul. Pas-pasan. Sama sekali nggak bisa dibanggain.

Meski aku nggak yakin dia bakal jadi yang terbaik di kelas IPS, tapi setidaknya nggak sememalukan nilai-nilainya di IPA. Dia bukan bodoh, hanya bego aja. #moga adikku nggak baca.

Hehehe

Dia nggak bego kok, hanya males aja. Kenapa males?

Karena IPA bukanlah bidang yang dia minati. Entah dia minat apa di IPS, tapi setidaknya nggak serumpek pelajaran IPA. Aku sendiri males banget masuk IPA. Bukan bidangku, meski pas SMP aku pengin jadi ahli biologi, tapi pas SMA aku malah pengin jadi arkeolog, saking sukanya sama pelajaran sejarah.

Meski aku masuk IPS, tapi nilai akuntansiku jeblok melulu. Aku bahkan masih nyengir-nyengir santai waktu dapat nilai 0 sebanyak tiga kali. Hahahaha.

Aku nggak minat, dan nggak mau repot-repot belajar. Jadi aku fokusin ke yang aku suka aja.

Kembali ke adikku yang nyebelin, dia akhirnya lulus dengan nilai secukupnya.

Itu belum kelar lho.

Dia pengin banget sekolah fashion design, tapi kuliahnya di luar kota. Dan itu nggak dibolehin.

Ya sudah, dia pengin kursus menjahit. Eh, nggak dijinin. Katanya disuruh kuliah.

Akhirnya dia milih jurusan Tehnik Informatika. Tadinya dia mau ngambil Manajemen Informatika D3, tapi kata ortu mendingan yang S1 aja.

Kalau sudah bukan minat, memang ngejalaninnya jadi nggak ikhlas.

Beda lagi sama sepupuku. Dia juga nggak pinter-pinter amat. Ala kadarnya gitu. Tapi karena ada duit aja, jadi gampang.

Dia masuk SMA favorit, RSBI pula. Terus setelah lulus, dia disuruh masuk kedokteran. Sedangkan dia bukan tipe yang giat dan tekun belajar. Mana bisa kuliah kedokteran tapi main-main?

Akhirnya dia milih jurusan peternakan.

Setelah satu tahun dia kuliah, sekarang emaknya ngotot dan maksa dia daftar jurusan kedokteran. Mereka sampai berantem gara-gara keegoisan si emak.

Please… ortu memang yang ngeluarin uang, itu udah tugas mereka. Tapi yang pusing belajar, ngerjain tugas, ngerjain tes, dan lain-lainnya adalah si anak. Apa ortu mikir gimana pusingnya ngafalin nama-nama dan fungsi saraf? Apa itu laring, apa itu trachea? Apa ortu yang bakal ngebedah mayat dan mempelajari organ-organ dalamnya?

Yang pusing siapa coba?

Ya anak yang ngejalanin semua itu.

Berandai-andai yuk…

Case 1:

Luhan dari kecil pengiiiiin banget jadi dokter gigi. Dia ngerasa sedih waktu ngaca karena giginya tonggos. Akhirnya dia bermimpi jadi dokter gigi biar bisa masangin behel ke gigi anak-anak yang tonggos.

Akhirnya Luhan giat belajar demi ngedapetin nilai yang bagus. Begitu dia lulus SMA dengan nilai memuaskan. Dia pun bilang tentang jurusan yang pengin dia geluti. Ternyata ortunya nggak suka sama pilihannya.

Mereka maksa dia buat jadi dokter biasa. Untungnya, ortunya kaya raya. Punya perusahaan keset yang omsetnya bisa nyampe ribuan dolar perharinya. Jadi buat masukin Luhan ke universitas yang bagus pun bukanlah halangan bagi mereka.

Dengan amat sangat terpaksa, Luhan melepas mimpinya untuk menjadi dokter gigi penghalau ketonggosan. Dia pun berhasil lolos masuk universitas pilihan ortunya. Luhan mulai hari-harinya sebagai mahasiswa kedokteran.

Minat belajar Luhan menurun. Dia kecewa karena pilihannya nggak dihargai.

Meskipun dia lulus, tapi nilainya pas-pasan. Dia belajarnya nggak niat sih.

Kesimpulan : -Uang ada banyak.

                    -Minat nggak ada. Padahal dia termasuk giat dan tekun belajar kalau dia suka jurusan itu.

                    -Ortu nggak ngedukung impian mulia anaknya.

                    -Hasilnya nggak maksimal.

Tapi seenggaknya Luhan berhasil bertahan sampai lulus. Beda lagi sama kasusnya Kris.

Case 2:

Kris itu punya cita-cita jadi fashion designer. Dari SMP dia demen banget nongkrongin Fashion TV. Pas ditanya, ‘kenapa kamu demen banget nonton Fashion TV?’ dia bakal jawab kalau dia pengin banget bisa bikin pakaian kayak gitu. ‘jangan aneh-aneh kamu, Kris. Mau jadi banci, ya?’ sentak papanya. Padahal Kris punya tujuan mulia, lho. Dia pengin ngerancangin pakaian buat suku-suku primitive yang nggak berbaju. Tapi papanya nggak mau tahu.

‘kalau nggak jadi dokter, kamu mau jadi apaan, hah?’

‘kenapa harus dokter, Pa? Kris, kan, bego di IPA. Kalau sampai salah operasi gimana? Kalau salah diagnosa gimana?’ rengeknya.

Tapi papanya nggak mau dengar rengekan anaknya. Papanya bersikeras nyuruh Kris masuk fakultas kedokteran.

Keluarga Kris tajir, kok. Papanya punya bisnis kain sutra cina yang terkenal banget kualitasnya. Jadi ngeluarin uang puluhan sampai ratusan juta buat biaya masuk kuliah bukanlah suatu masalah.

Alhasil, Kris masuk fakultas kedokteran. Semester pertama bisa dia lalui. Karena mungkin masih gampang materinya. (soktau)

Begitu menginjak semester ke tiga, Kris nyerah dan keluar dari kuliah. Dia berhenti kuliah di tengah jalan. Bisa dibayangin kan, gimana marahnya papanya?

Tapi Kris beneran nggak minat dan otaknya nggak mampu juga, sih. Ditambah dia males banget belajar. Jadilah semua uang yang banyak itu terbuang percuma.

Kesimpulan: -Uang bejibun.

                        -Minat nggak ada.

                        -Kapasitas otak nggak mencukupi.

                       -waktu dan uang terbuang percuma.

Jadi, uang bukanlah penentu keberhasilan anak di masa mendatang. Buat apa keluarin banyak uang demi sesuatu yang nggak diminati anak, dan berakhir begitu aja tanpa ada hasil?

Jadi, para ortu harus mempertimbangkan pilihan anaknya.

Kalau misal nggak suka anaknya di bidang itu, ya coba kasih alternatif lainnya. Siapa tahu ada yang menarik minat anak.

Kedokteran bukanlah satu-satunya profesi yang dibutuhin manusia.

Di atas adalah contoh dua kasus yang mungkin terjadi pada keluarga berada. Beda lagi, dong sama keluarga yang pas-pasan atau bahkan yang kekurangan.

Case 3:

Byun Baekhyun adalah anak tertua di keluarganya. Dia itu cerdas, dan rajin banget belajar sambil bantuin orangtuanya jualan gorengan. Dari hasil dagangnya itu, dia bisa nambah biaya sekolahnya. Baekhyun selalu masuk tiga peringkat teratas di kelasnya.

Cita-citanya pengin banget jadi dokter anak. Dia itu cinta banget sama anak-anak. Dari anak orang, sampai anak cicak juga disayang.

Orangtuanya bingung. Gimana mau biayain kuliahnya sedangkan buat bayar spp tiap bulan aja harus banting tulang dan otot tiap hari, dari subuh sampai tengah malam?

Tapi semangat Baekhyun nggak surut. Dia terus belajar demi ngejar beasiswa di universitas tertentu.

Setelah lulus dengan hasil yang bagus banget, orangtuanya menyesal karena nggak bisa biayain kuliahnya. Mereka mendukung banget. Gila apa, gimana nggak bangga punya anak seorang dokter?

Tapi apa daya, biaya nggak ada.

Akhirnya Baekhyun nyari kerja demi bisa biayain sekolah adik-adiknya biar mereka bisa menggapai cita-cita mereka kelak.

Baekhyun kerja jadi petugas pom bensin, yang nyambi jualan gorengan.

Kesimpulan : -Minat tinggi banget.

                        -Kapasitas otak bagus.

                        -Dukungan orangtua ada.

                        -Biaya nggak ada.

Hasilnya?

Baekhyun akhirnya melepas mimpinya menjadi seorang dokter anak.

Miris.

Nah, yang paling beruntung adalah Suho. Dia dari keluarga kaya raya. Otaknya encer banget. Rajin belajar dan menabung. Dengan minat yang tinggi banget buat masuk kedokteran, akhirnya Suho berhasil kuliah untuk jadi seorang dokter. Dan dia lulus dengan predikat lulusan terbaik di angkatannya.

Dan dia jadi dokter muda paling terkenal di kotanya. Semua janda-janda muda pada ngantri buat berobat. Dokter muda ganteng nan tajir gitu lhooooo. Hahahaha

Jadi kesimpulannya adalah, nggak semua yang punya uang itu berminat untuk jadi dokter, dan nggak semua yang berminat jadi dokter itu punya uang. Jangan memaksakan kehendak.

Mari kita bahas apa saja sih kecerdasan majemuk itu.

^^ Mathematic Logic atau kecerdasan logis matematis.

Maksudnya tuh, kecerdasan  dalam hal angka dan logika. Ini merupakan kecerdasan para ilmuwan, akuntan, dan pemrogram computer. Contohnya, Newton menggunakan kecerdasan ini waktu dia nemuin kalkulus. Einstein juga waktu dia nyusun teori relativitasnya. Ciri-cirinya orang dengan kecerdasan ini adalah; kemampuan dalam penalaran, mengurutkan, berpikir dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numeric dan pandangan hidupnya umumnya bersifat rasional.

^^ Kecerdasan Linguistik.

Yaitu kecerdasan dalam mengolah kata. Ini merupakan kecerdasan para jurnalis, juru cerita, penyair, dan pengacara.

Jenis pemikiran inilah yang menghasilkan King Lear karya Shakespeare, Odyssey karya Homerus, syair-syair Kahlil Gibran, cerita sastra Siti Nurbaya karya Marah Rusli, dan lain lain. Orang yang cerdas dalam bidang ini mampu berargumentasi, meyakinkan orang, menghibur atau mengajar dengan efektif. Mereka peka terhadap bunyi-bunyi bahasa, pengucapan, teka-teki kata dan lainnya.

^^ Visual Spacial alias kecerdasan visual spasial.

Adalah kecerdasan berpikir dalam gambar, serta kemampuan untuk melukis, merancang atau menjabarkan ruang. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan para arsitek, pelukis, fotografer, pilot, insinyur mesin.


Contoh tokoh-tokoh terkenal yang punya kecerdasan ini, diantaranya Thomas Alfa Edison, Pablo Picasso, Ansel Adams, Leonardo Da Vinci (yang juga penemu banyak alat-alat yang dipakai di jaman modern ini), juga Raden Saleh.

Mereka ini punya kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup, melukis atau bikin sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi.

^^Musical alias Kecerdasan Musikal

Kecerdasan ini punya tingkat kepekaan tinggi terhadap nada, not, bunyi, melodi, dan bisa merangkai nada-nada menjadi suatu komposisi yang enak didengar. Contohnya, Ludwig Van Beethoven, Bach, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Rudolf Wage Soedirman yang nyiptain lagu Indonesia Raya. Selain sebagai composer, penyanyi pun punya kecerdasan ini. Bisa memainkan alat music dengan baik dan akurat juga.

^^Kinestetik alias kecerdasan jasmani.

Kecerdasan ini melingkupi bakat dalam mengendalikan tubuh dan ketrampilan dalam menangani benda, misal, atlet, pengrajin, montir, bahkan ahli bedah mempunya kecerdasan ini.

Salah satu contohnya adalah Charlie Chaplin yang bisa menyampaikan isi cerita melalui gerakan dan ekspresi wajahnya. Meski film bisu, tapi kita bisa memahami maksud dan jalan ceritanya.

Penari juga memiliki kecerdasan ini.

Biasanya orang dengan kecerdasan ini nggak bisa diam anteng. Mereka cenderung suka banget aktivitas fisik seperti berenang, memanjat, berperahu, mendaki dan lain-lain.

^^Interpersonal Intelligence a.k.a kecerdasan Antarpribadi.

Kecerdasan ini membantu orang untuk memahami dan bekerja sama dengan orang lain. Empati termasuk salah satunya. Bisa menempatkan diri dengan tepat di tengah orang lain. Bisa menjadi pemimpin dalam sebuah kelompok. Kecerdasan antarpribadi bisa mempunyai rasa belas kasihan dan tanggung jawab social yang tinggi seperti Mahatma Gandhi dan Mother Theresa. Namun bisa juga suka memanipulasi dan licik seperti Machiavelli. Dan mereka juga bisa memahami pandangan orang lain terhadap diri mereka dan bisa melihat dunia dari sudut pandang orang yang bersangkutan. Kerjaan yang sesuai adalah Guru, perunding ulung, networker.

^^Intapersonal Intteligence atau Kecerdasan Intrapribadi.

Kecerdasan dalam diri sendiri maksudnya adalah orang yang bisa dengan mudahnya mengakses perasaannya sendiri, membedakan berbagai macam keadaan emosi dan menggunakan pemahamannya sendiri untuk memperkaya dan membimbing hidupnya. Contohnya, konselor, ahli teologi, wirausahawan.

Mereka cenderung disiplin, mandiri dan terfokus. Mereka juga lebih suka bekerja sendiri daripada bekerja dengan orang lain.

^^Naturalis atau kecerdasan Lingkungan.

Yaitu kemampuan seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik, memahami dan menikmati alam, menggunakan kemampuan itu secara produktif dalam berburu, bertani, dan mengembangkan pengetahuan akan alam.

Mereka mampu hidup di luar rumah, berkawan dan berhubungan baik dengan alam. Mudah membuat identifikasi tanaman dan binatang, mereka juga bisa dengan mudah memahami sifat dan tingkah laku binatang. Mereka mencintai lingkungan.

^^Kecerdasan Eksistensial

Ini menyangkut kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan terdalam dalam eksistensi atau keberadaan manusia. Orang tidak puas hanya menerima keadaannya, keberadaannya secara otomatis.

Biasanya mereka mempertanyakan, kenapa aku hidup, kenapa aku mati, apa makna hidup ini, bagaimana aku bisa sampai ke tujuan hidup. Kecerdasan ini terdapat pada para filsuf-filsuf seperti Socrates, Plato, Al-Farabi, Ibnu SIna, Al-Kindi, Starte, dan lain-lain.

Untuk anak dengan kecerdasan ini, dia bakal kritis tentang keberadaannya. Untuk apa dia hidup? Kenapa dia harus ke sekolah? Apa semua orang akan mati? Lalu mereka akan kemana? Dan pertanyaan yang biasanya bikin ortu kelimpungan ngasih jawabannya.

Nah itulah kecerdasan-kecerdasan yang ada pada diri tiap-tiap manusia.

Semua orang punya kecerdasan itu, hanya saja porsinya beda-beda.

Misal, Kai punya kecerdasan kinestetik, tapi dia kurang maksimal kecerdasan Intrapersonalnnya.

Luhan punya kecerdasan logis matematis, musikal, dan interpersonal, tapi mungkin dia kurang di kecerdasan naturalis atau eksistensial.

Kurang lebih begitu contohnya.

Jadi nggak mungkin tiap orang punya tingkat kecerdasan yang sama.

Dan inilah yang perlu dipelajari orangtua dan guru. Karena tes yang dikasih ke murid-murid yang udah belajar beberapa tahun itu sama sekali nggak mewakili semua kecerdasan itu.

Jadi kalau yang nggak pinter matematika, ya siap-siap nilainya jeblok dan akhirnya nggak lulus. Padahal anak itu pinter banget ngelukis atau bikin miniature sekolah tiga dimensi.

Bisa jadi anak lainnya kurang banget di bahasa, dan nilainya ancur, dia nggak lulus, tapi, dia hebat banget dalam mengurai soal-soal matematika yang njelimet nauzubillah.

Masih banyak contohnya, tapi aku ngasih segitu aja.

Mungkin banyak diantara kalian yang ngerasa punya kecerdasan di bidang lain, tapi ortu nggak dukung sama sekali, dengan alasan, kecerdasan itu nggak bisa dipakai buat kerja nantinya.

Itulah jeleknya sistem pendidikan di Indonesia. Semua dipukul rata.

Entah dari kalian ada yang pernah baca novel biografi, Toto Chan?

Itu sumpah bikin mupeng banget sekolahnya.

Kalau belum pernah baca, aku saranin kalian buat baca. Daripada buang waktu buat baca FF yang kadang nggak jelas makna dan hikmahnya. #oops

Tapi seriusan, itu novel bagus. Benar-benar bikin semua kecerdasan itu makin menonjol pada tiap anak.

Dan itulah yang bikin semua siswa di sekolah itu berhasil dan jadi orang yang berguna.

Nggak ada salahnya orangtua iseng-iseng baca ini meski bahasanya nggak baku dan nyeleneh hehehe yang penting intinya yang diambil.

Tugas orangtua adalah mendidik anak-anak dengan akhlak mulia, menyekolahkan mereka, lalu memberi mereka kebebasan untuk menentukan masa depan mereka. Pastinya dengan bimbingan mereka. Bukan dengan larangan atau paksaan.

Orangtua wajib menyediakan sarana untuk mengembangkan kecerdasan anak yang sudah terbentuk sejak lahir.

Sekian dulu, ya.

See ya next time.

WE ARE ONE!

PS: aku ambil konten tentang kecerdasan itu dari blog PSYCHOLOGYMANIA. Silakan mampir ke sana biar lebih jelas.

Advertisements