-o-

A/N : Haaaiiiiiiiiiiii… apa kabar semuaaaaaa? Kali ini, author nista yang berusaha insaf, mau mulai meniadakan FF YAOI. Jadiiiiii… mulai FF ini dan seterusnya kalaupun genre ROMANCE pastilah STRAIGHT. Intinya, NO MORE YAOI or YURI. Say no more… yaoi… no more… yuri… say no more… baby… don’t cry… baby… *digamparbolakbalik.  Semoga fans-fansku terutama yang KRAY maupun HANHUN shipper nggak pada kabur. Hehehehe. Dan pastinyaaaa… cast cewek yang bakal aku pake adalah bias-biasku yang kece-kece dan asik. Tenang aja. Hehehehe

 

Cukup sekian kata pengantarnya. Silakan mengarungi isi otak dan hati Luhan tercintah.

-o-

Lagi enak-enaknya tidur, tiba-tiba kepalaku ditepuk. Sambil mengernyit kesal, aku mendongak dan langsung aku sentak orang nggak pengertian itu.

“Jo, apa-apaan, sih?” Orang itu cuma nyengir sambil acungin beberapa lembar amplop segala macam warna. “Apa itu?” aku mengangkat alisku tak acuh.

“Ini surat cinta, Luhan. Aku nemu setumpuk di dalam lokerku. Kayaknya mereka nekat selipin amplop-amplop ini dari sela pintu loker. Hehehe.” Dia melompat duduk di atas mejaku dan kipas-kipasin kertas itu dengan gaya tengil.

Okay, congrats. Finally you got yourself some secret admirers, Jo.” Balasku sinis dan siap-siap kembali tidur sebelum gurunya masuk.

“Eits! These are love letters for you, Dude.”

Aku intip sekilas surat-surat itu dan kibasin tanganku, “Throw them away!” dan kepalaku aku rebahkan lagi ke atas meja.

“Luhan! Kamu nggak bisa main buang begitu aja. Dibaca dulu apa salahnya, sih?” dia mengomel dan mendadak kelihatan bijaksana. “Siapa tahu ada cewek kecenganmu yang nekat nembak kamu. Ayo. Ayo, buka suratnya!”

Berhubung dia nggak bisa berhenti kalau keinginannya belum dituruti, akhirnya aku nyerah. “Kamu aja yang baca, siapa tahu ada yang cocok sama kamu, Jo.” Jawabku sambil nyengir usil.

Dia memutar bola matanya. “Sorry, ya. Aku masih normal.” Dengusnya seolah tersinggung. Lalu dia benahin posisi duduknya dan memilih satu amplop. “Oke, aku bacain, deh.”

Dibukanya amplop pertama. Warnanya pink dengan gambar hati imut-imut yang girly banget. Semilir angin dari jendela membuat aroma parfum di kertas itu tercium hidungku. Jangan-jangan penulis surat itu sengaja semprotin parfumnya, ya?

“Ini surat dari Suzy. You do know her, don’t you? Dia anak kelas sebelah yang cantik itu.”

Aku mengangguk sekilas.

Siapa, sih, yang nggak kenal Bae Suzy? Cewek bertubuh tinggi yang rambutnya bagus banget mirip model iklan sampo. Tapi dia bukan tipeku. “Dia bilang apa, Jo?” aku pura-pura penasaran.

“Dia suka sama kamu. Dia ngefans juga dan dia berharap kamu mau jadi cowoknya.” Jawabnya cepat sambil sodorin kertas itu ke tanganku yang terulur. Aku baca surat itu sambil lalu. Isinya tipikal. Sambil lipat surat dari Suzy itu, aku suruh dia baca surat lainnya.

“Yang ini dari Sulli. Si anggota cheerleader centil yang suka pakai rok mini.” Suaranya malas dan terkesan bosan. Memang dia kurang suka dengan Sulli. Mungkin karena si anggota cheerleader itu lebih populer dan dikecengin banyak cowok di sekolah ini. “Dia bilang kalau dia pengin bisa selalu jadi cheerleader di hatimu. So corny. Tsk.” Setengah melempar kertas itu ke arahku, dia mengomel sendiri.

“Ugh! Next!” aku mengerang dan bikin dia terkekeh. Ngerasa kalau dia punya sekutu.

Kekehannya memudar dan dia menarik sebuah amplop biru muda dengan hiasan bunga-bunga mungil yang cantik. Aku benar-benar nggak bisa menebak siapa pengirim surat-surat itu. Aku sendiri sama sekali nggak ngerasa sepopuler Shim Changmin si kapten basket atau sekeren Jung Yunho atau seimut Kim Myungsoo, dan yang jelas aku nggak punya suara merdu seperti Cho Kyuhyun. Aku cuma cowok krempeng yang suka main sepak bola. That’s it.

“Yang ini tulisannya rapi banget, pakai pulpen warna-warni pula,” dia endus-endus kertas itu. “disemprot parfum segala.” Bisiknya sambil mengernyit. Aku mendesaknya untuk cepat bacain isi surat ganjen itu.

Dear Luhan, the winter is cold, the summer is warm.” Dia tercekat tawanya yang tertahan. “Only you I want to hold, and let myself drown inside your arms.” Dan semburan tawanya menampar wajahku. “Yes or no?” alisnya terangkat nakal.

Aku terbahak waktu melihat ekspresi mau muntah di wajahnya. “Who is she?”

She’s a he, Dude. It’s from Oh Sehun. The new kid.” aku tersedak tawaku waktu nama itu disebut.

Oh Sehun. Cowok kelas satu pindahan dari sekolah swasta, yang terkenal pendiam dan suka menyendiri itu nembak aku?

Mampus, deh. Aku ditaksir cowok.

“Jangan dibahas lagi! Ayo, baca yang lainnya. Yang ini bikin merinding.” Aku singkirin surat dari adik kelasku itu.

Jo menghela nafas, pura-pura simpatik.

Beberapa surat berikutnya isinya sama. Suka dan tertarik buat jadi pacarku. Dan semua dari cewek yang sama sekali bukan tipeku, bahkan ada yang sama sekali nggak aku kenal.

Dan surat terakhir dibukanya. Selembar kertas berwarna ungu muda polos terlipat rapi dalam amplop berwarna sama. Masih menebak siapa gerangan pengirim surat itu, mendadak Jo memekik heboh dan nyaris bikin aku terjungkal dari dudukku.

Oh, my God! Oh, my God! Oh, my God! Oh, My hmmppphh.” Aku sumpal mulutnya pakai gumpalan kertas surat yang sudah dibaca.

“Apaan, sih, Jo?” desisku gemas. Semua mata tertuju ke arah kami.

You got a love letter from Im Yoona, Luhan!” matanya membulat. “She is Im fucking Yoona, for God’s sake! Can you believe that?!” suaranya melengking dan mencicit, bikin kuping sakit. “I told you she was into you!” dia heboh sambil acak-acak rambutku yang sudah aku kasih gel dan kusisir rapi.

Calm down, Josephine! Siniin suratnya.” Aku renggut paksa surat ungu itu dari tangannya. “Nggak mungkin ini dari Im Yoo… OH, MY GOD! IT IS FROM HER! OH, MY GOD!” ya, dan aku jadi ikut-ikutan heboh seperti sahabatku itu.

Im Yoona, kakak kelasku yang terkenal cantik, semampai, ramah, humoris dan disukai banyak guru dan teman-temannya.

But wait! Bukannya Yoona jalan sama Changmin, ya?” tanyaku setelah kenyataan menonjokku telak.

“Changmin?” dengusnya. “Dia yang ngejar-ngejar Yoona. Tapi dia nggak terlalu ditanggepin. Wah, kamu beruntung Luhan. Seorang Im Yoona nembak kamu. Wow! Congrats, Dude.”

Aku tersenyum kecut. Siapa sih yang nggak mendambakan seorang Im Yoona sebagai pacar?

Tapi aku nggak terlalu bermimpi muluk buat jadi pacarnya.

Terlalu banyak saingan.

“Ah, palingan ada yang negrjain aku, Jo.” Sahutku pesimis sambil benahin rambutku yang berantakan.

“Nanti kita lihat sikapnya, deh, kalau dia ketemu kamu.” Dia menepuk pipiku pelan. Dan mata kami bertemu. Aku terperangkap dalam binar matanya selama beberapa detik sebelum buyar oleh suara berisik kursi digeser bersamaan.

Oh, shit! Miss Bawel is in the house.” Umpat Jo dan segera turun dari atas meja dan duduk di bangkunya yang letaknya tepat di samping kananku.

Aku terkekeh, berusaha menepis debaran di dadaku tadi, dan pura-pura sibuk beresin kertas-kertas yang berserakan di atas meja ke dalam laci.

Suara bisikan dari sebelah kananku bikin aku nengok, ternyata Jo ngoceh tentang rencana ngetes sikap Yoona nanti waktu istirahat. Aku cuma angkat bahu dan berusaha fokus pada pelajaran.

Miss Amber! Please pay attention to the subject, and stop disturbing Mr. Luhan!” teguran dari guru bahasa Inggris yang bawel itu bikin Jo langsung duduk tegak dan rapi.

She looks so cute.

-o-

Duduk dengan kaki saling menumpang, mataku nggak beranjak dari tengah lapangan basket. Bola mataku ngikutin tiap gerakan cewek pendek itu yang lagi ngotot ngerebut bola oranye dari tangan Choi Minho, anggota tim basket sekolah. Aku terkekeh ketika cewek itu dengan gemas nendang tulang kering Minho dan berhasil merenggut paksa bola dari genggaman tangan cowok tinggi itu. Makian Minho masih bisa aku dengar meski tersamar pekikan cewek berambut pendek itu.

“Woy!” sebuah seruan dan rangkulan di pundakku bikin aku sedikit tersadar dari lamunanku. Tanpa nengok sedikitpun, aku balas sapaan orang itu.

“Hey, Minseok. Baru muncul?” mataku masih saja ngeliatin cewek itu mendribel bola dengan lincahnya dan membidik bola itu ke arah ring.

“Hmm… gimana? Udah bilang ke dia?” Minseok nyengir konyol sambil nyikut pinggangku.

“Bilang apaan?”

Dia mendengus dan sandarin punggungnya di kursi pinggir lapangan. “Bilang kalau kamu cinta banget sama dia.”

Aku menarik nafas dalam.

Sudah beberapa kali Minseok nanyain tentang itu.

“Kata siapa aku cinta dia?” aku mengelak.

“Luhan. Kamu nggak perlu nutupin perasaanmu dari aku. You do love her.” Dia bersikeras.

“Aku sayang dia. That’s all.” Jujur, aku paling malas kalau ada yang tanya-tanya tentang perasaanku.

Suka-suka aku lah, mau ngecengin siapa aja.

Aku tiba-tiba menahan nafas. Tanganku terkepal, dan mukaku terasa panas.

Easy, Bro. Jangan cemburu.” Ledek Minseok waktu lihat perubahan air mukaku.

I’m not jealous, Kim Minseok!” intonasi suaraku nggak bisa nutupin perasaanku yang sebenarnya.

I am jealous. Okay!

Minseok ketawa dan dorong pundakku.

Ya, Minseok terlalu kenal aku.

Memang aku cemburu waktu lihat dia dipeluk Minho. Tapi, aku nyoba untuk kelihatan… umm.. cool? Yeah, cool.

 

Aku tutup mataku dan nikmatin hembusan angin bulan juni yang hangat. Suara lembut Minseok yang nyanyiin lagu kesukaannya bikin hatiku lebih tenang.

Guys! Did you see that? I won over Minho! Hahahaha.” Suara macho itu ngagetin aku yang masih terbuai suara sahabatku yang imut-imut. Sebelum aku sempat jawab, cewek itu sudah duduk di antara aku dan Minseok, dan dia taruh bola di bawah kakinya, lalu kedua lengannya merangkul pundakku dan Minseok.

“Iya, aku lihat, kok. Kamu memang keren, Amber.” Komentar Minseok sambil rangkul balik pundak Amber.

Aku cukup gumamin ucapan selamat.

“Luhan. Gimana?” tanyanya sambil nengok ke arahku.

“Gimana apanya, Jo?”

“Kabar dari Yoona. Did she call you?”

Ugh, here we are again with the Yoona thing. Bukannya aku nggak suka Yoona atau gimana, tapi dia bukan yang aku cin… ehem… sayang.

Dan Jo nggak akan ngerti apa yang ada dalam pikiran dan hatiku. Dia terlalu cuek.

Minseok memang sahabat yang baik, dia tahu kalau suasana hatiku lagi kacau balau, maka dia alihin perhatian Jo dari urusan Yoona itu. Detik berikutnya, mereka sudah tenggelam dalam obrolan tentang Adam Lambert, penyanyi favorit Minseok. Mereka ngebahas lagu barunya.

Aku yang tiba-tiba nggak mood ini akhirnya milih buat ninggalin dua sahabatku yang heboh sendiri.

“Luhan! Mau ke mana?” suara lantang Jo bikin langkahku berhenti. I don’t know why, but her voice was like a spell to me. Aku selalu tersihir.

Somewhere I belong.” Jawabku sekenanya dan lanjutin langkahku.

-o-

“Dia kenapa?”

“Lagi PMS kayaknya. Hehehehe.” Candaan Minseok ditanggapi Amber dengan satu pukulan ringan di lengannya.

Seriously, Minseokkie. What’s wrong with him? Dia rada aneh akhir-akhir ini. Jarang telepon aku di tengah malam, bahkan SMS juga kadang-kadang.”

“Kalian yang aneh. Ada pula teleponan tengah malam. Kayak hantu aja, eksisnya tengah malam.” Ledek cowok berwajah anak-anak itu.

“Dia suka kelaparan tengah malam, terus sambil makan dia bakal telepon aku, dan kita jadi ngobrolin banyak hal sambil terkadang cekikikan geli sendiri. Hehehe.” Matanya menerawang. “I kinda miss those moments, Seokkie.”

Amber, atau yang lebih suka dipanggil Jo oleh Luhan itu terlihat agak sendu. Ia merasa seolah Luhan menjauhi dirinya. “Apa aku pernah salah omong, ya?” ia ungkapkan rasa penasarannya.

“Aku nggak tahu, Amber. Luhan sikapnya biasa-biasa aja sama aku.” Minseok mengangkat bahunya sekilas. “Hmm… Amber, ini udah tahun kedua kita di SMA, tapi aku belum pernah lihat atau bahkan dengar kalau kamu punya pacar atau naksir seseorang. Kenapa, sih?” rasa ingin tahunya mendesaknya untuk menanyakan hal itu.

Gadis berpenampilan cowok itu tersenyum simpul. “Aku bukannya nggak mau pacaran atau naksir seseorang. Tapi ini lebih pas dibilang prinsip.”

Dahinya mengernyit dan kedua matanya memicing penuh rasa ingin tahu. “Prinsip?” Minseok bertanya.

Amber mengangguk antusias. Dan binar matanya menimbulkan tanda tanya lebih besar bagi Minseok.

“Masa-masa SMA hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup. Dan aku pengin ngerasain tiap momen di masa-masa remajaku yang sebentar lagi bakal berakhir tepat ketika kita lulus dari sini.”

“Lalu apa hubungannya sama pacaran?”

“Hubungannya erat banget, Minseok sayang.” Ia menggeser duduknya dan menyandarkan kepalanya di bahu sahabat karibnya itu. “Pacaran itu bikin ruang lingkup kita terbatasi. Disekat-sekat oleh perjanjian semu yang terkadang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya. Pacaran itu bikin kebebasan diri kita terenggut paksa. Komitmen. Aku nggak mau berkomitmen apapun sekarang. Aku mau nikmatin masa remajaku semaksimal mungkin.”

“Kamu lihat gimana mereka yang pacaran?” lanjutnya. Minseok mengangguk. “Awalnya bahagia banget, tapi begitu mulai ngerasa terkekang, mereka mulai ngeluh dan lama-lama berantem sampai akhirnya putus. Dan kalau sudah putus, muncul masalah lain. Entah nggak terima lihat mantannya dekat sama orang lain, atau malah trauma buat menjalin hubungan yang baru.”

Minseok terdiam. Meresapi filosofi Amber tentang pacaran. Dan benar juga apa yang diungkapkan gadis cerdas itu.

Amber hendak melanjutkan pemikirannya, tetapi bunyi bel tanda pelajaran akan dimulai, memotongnya. Tapi Minseok sudah bisa menyimpulkan isi ucapan gadis itu.

Dan Minseok juga menyadari bahwa Luhan sedang berhadapan dengan cewek yang tak tertarik dengan dunia percintaan.

-o-

Entah sejak kapan aku punya perasaan lebih ke cewek tomboy itu. Dan aku sama sekali nggak ngerti kenapa aku bisa cin… eh, sayang sama dia. Padahal dia itu jauh dari kata anggun, elegan, dan feminin.

Sekarang aku duduk termangu di jendela kelas. Persis pungguk merindukan bulan. Mataku nyaris nggak kedip waktu merhatiin gimana Jo duduk dan main kartu remi sama Xiumin, Minho dan Henry di depan kelas. Meski pakai rok selutut, tapi dia duduknya bersila. Sudah aku kasih tahu ke dia kalau dia duduk dengan posisi seperti itu, kan underwearnya bisa kelihatan. Tapi memang Jo itu cueknya nggak ketulungan, maka dengan santainya dia duduk seperti itu. Akhirnya aku suruh dia pakai celana ketat pendek buat antisipasi. Untungnya dia mau nurut.

Xiumin dengan tanpa belas kasihan, langsung olesin muka Jo pakai lipstik yang dicolong dari Krystal, pacar Minho. Dia kalah dan harus dapat hukuman. Aku ketawa lihat muka Jo kayak badut. Anehnya, Jo bukannya marah, tapi malah nyuruh Henry buat foto dia. Ada-ada aja cewek itu.

Aku diajak main bareng mereka. Tapi aku nolak dengan dalih mau ngerjain PR Matematika yang belum selesai. Padahal aku sengaja nggak ikut demi bisa perhatiin Jo tanpa ngerasa diawasi teman-teman.

Gelak tawanya bikin jantungku berdebar makin kencang. Lengkungan matanya yang membentuk sepasang sabit bikin mukanya kelihatan imut dan menggemaskan. Bibirnya yang menyunggingkan senyum, selalu sukses bikin lututku lemas.

Sepertinya keempat orang itu selesai main kartu, dan satu persatu bangun dari duduknya dan menyebar ke tempat lain. Hanya Jo yang masih duduk di bangku panjang depan kelas yang dinaungi sebuah pohon. Tangannya sibuk bersihin wajahnya yang coreng moreng pakai beberapa helai tisu. Dengan gerakan pelan, dia rapihin kartu itu dan masukin ke dalam wadahnya. Lalu dia duduk bersandar dan pejamkan mata. Dada datarnya (ya, dia memang breastless. Dan dia bakal ngamuk kalau aku ledekin. Hahaha. Ehem.) naik dan turun waktu dia tarik dan hembusin nafas panjang. Wajahnya rileks, dan dia tersenyum.

Sial! Senyumannya itu pengin aku rekam terus dalam otakku. Bibir itu begitu… begitu… mmm… menanti untuk dikecup?

Masalahnya… aku nggak tahu apa dia sudah pernah ciuman atau belum. Karena selama ini aku nggak pernah dengar dia cerita tentang rasa sukanya sama seseorang ataupun pernah punya pacar.

Jo… kalau kamu lagi sendirian seperti itu… aku kah yang kamu pikirin?

Jo… siapa yang bikin kamu senyum seperti itu?

Apakah itu aku? Apa kamu mikirin aku?

Kenapa senyummu begitu penuh makna?

Siapa, sih, orangnya? Aku pengin banget tahu.

Aku pejamkan mata, dan muncul bayangan aku kecup lembut bibirnya.

Apakah itu yang kamu pikirin Josephine?

Mataku terbuka dan aku kehilangan cewek itu. Dia sudah nggak ada di sana.

“Luhan!” ah… suara machonya yang bikin aku merinding. Bukan karena seram, tapi karena terlalu indah buat telingaku. Dan juga bikin aku minder karena suaraku nggak semacho dia.

“Jo.” Panggilku. I love calling her name… Amber… Josephine… cantik, kan, namanya?

Dia tarik sebuah kursi dan duduk tepat di depanku. Kedua tangannya megangin kedua lututku. Dan dia dekatin mukanya ke mukaku. Aku deg-degan luar biasa sampai takut kalau dia dengar gimana liarnya jantungku. Aku mundur sedikit. Refleks.

Baru saja aku bayangin kecup bibirnya, kenapa sekarang dia sudah mau mulai duluan? Apa dia seagresif itu?

Menelan ludah rasanya seperti menelan bongkahan kerikil. Susah banget. Mataku yang nakal dan bandel ini malah menatap rakus bibirnya.

Dude, is there still any lipstick stain on my face?”

Sesaat otakku membeku.

Oh… bekas lipstik.

Yeah, sure… mana mungkin dia mau cium aku di kelas yang nyaris penuh ini.

Aku terlalu berdelusi.

Aku paksa kedua mata sialanku ini mengalihkan pandangan dari bibir itu. Dan aku perhatiin wajahnya, sekalian mengagumi keindahannya secara close-up high quality ini.

You got it here.” Dan dengan selembar tisu basah aku usap lembut bekas lipstik di dahi, dagu dan pipinya. “Done.” Buru-buru aku alihin pandanganku dari wajahnya.

Thanks, Luhan.” Bukannya kecupan di pipi yang aku dapat, tapi malah rambutku yang jadi korbannya. Like always.

Pelajaran Matematika dimulai, dan untuk sementara, rumus-rumus rumitnya berhasil gusur Jo dari otakku.

Dan Jo?

Dia malah baca komik di balik buku tebal pelajarannya.

Well… she’s Jo, by the way.

-o-

Di rumah, aku lebih sering habisin waktuku di kamar. Biasanya aku dengerin musik atau nonton film. Tapi beberapa hari ini, aku malas lakuin dua aktivitas itu.

Aku jadi lebih sering duduk di depan jendela dan ngelamun sambil menatap birunya langit yang dihiasi iringan awan bergumpal-gumpal seperti kapas. Ternyata awan itu bergerak, ya? Pelan-pelan, tapi secara konstan bergerak terus.

Begitulah kalau kita sedang jatuh cinta, hal-hal nggak penting diperhatiin.

Setelah bosan mengamati awan, aku menjauh dari jendela dan rebahin tubuhku di ranjang. Jo… dia lagi ngapain, ya?

Mendadak aku kepikiran sesuatu…

Haruskah aku tulis surat cinta buat dia? Terus aku selipin ke lokernya?

Tapi… aku harus bilang apa?

Gimana kalau dia jadi nggak mau berteman sama aku lagi?

Hmm… nggak ada salahnya aku tulis saja dulu. Nanti kalau waktunya tepat baru bisa aku kasih ke dia.

Ya. I will write my confession to her.

Aku melompat turun dari ranjangku dan nyaris jatuh karena kesandung sandal di lantai. Aku ambil selembar kertas dan pulpen. Aku rilekskan bahuku dan jari-jariku. Persiapan untuk suatu tugas berat. Writing a love confession letter for my bestfriend.

Sial! Tanganku gemetar.

Aku tarik nafas dalam dan hembusin perlahan. Lalu berusaha nafas dengan normal dan teratur.

Tinta hitam itu mulai merangkai huruf demi huruf. Dan kertas putih itu sudah penuh dengan coretan tanganku.

Aku baca hasilnya tiga kali sebelum meyakinkan diriku bahwa surat ini keren dan mungkin nggak terlalu cheesy maupun corny bagi Jo.

Aku masukin kertas itu dalam amplop dan aku taruh di laci meja.

Hari sudah siang dan aku harus mandi dan bersiap antar mamaku ke supermarket untuk belanja bulanan. Kebetulan Luna, kakakku yang cukup bawel itu lagi PMS jadi nggak bisa nemenin mamaku.

Aku cukup asik dengan kegiatan belanja, aku bisa bantu-bantu milihin barang-barang kebutuhan rumah tangga, bisa minta beli camilan buat ransum di kamarku. Intinya, kegiatan belanja itu cukup menghibur.

Yang nggak menghibur hanya satu. Bawain belanjaan.

Sekitar dua jam lebih, aku dan mamaku sampai ke rumah. Setelah bantu mama rapihin belanjaan, aku pun nenteng camilan-camilanku dan masuk kamar.

“Luna. Ngapain ada di sini?” alisku terangkat.

“Hmm… nggak ngapa-ngapain. Cuma mau ngecek sebersih apa kamarmu.” Dia angkat bahunya tak acuh.

Aku mengendus ada aroma mencurigakan. Kakakku ini pasti nyembunyiin sesuatu.

“Jujur aja, ngapain kamu di sini?” aku mengedarkan pandanganku ke segala arah. Siapa tahu ada barangku yang hilang.

I said, nothing.” Dia berdiri dan keluar kamar.

Firasatku bilang, kalau dia ngelakuin sesuatu yang mencurigakan. Tapi kakakku yang hanya beda satu tahun itu memang suka usil sama urusanku.

Kemarinnya dia tanya-tanya tentang Yoona. Kebetulan mereka satu angkatan tapi beda kelas. Dan aku harus yakinin dia kalau aku nggak ada hubungan apapun sama Yoona. Tapi ternyata dia nyamperin Yoona dan tanya tentang gosip yang beredar. Akhirnya Yoona jadi jutek kalau ketemu aku. Dikira mulutku yang ember. Ngeselin banget, kan?

Lalu aku tersentak waktu ingat tentang surat itu. Aku langsung buka laci mejaku dan aku bernafas lega. Surat itu masih ada dan tak tersentuh. Syukurlah.

-o-

Waktu sarapan adalah waktu paling berisik di rumahku. Luna pasti hebohin poninya yang nggak rapi, atau bajunya yang warnanya kurang pas sama warna matanya.

Dan tiap kali aku lihat cewek bersikap lebai seperti itu, aku bersyukur Amber nggak setipe itu.

Lalu papaku juga ikutan berisik, nyuruh aku nyariin kaos kakinya atau ngambilin dasinya. Padahal aku sendiri harus buru-buru ke sekolah karena aku bangunnya kesiangan.

Aku sering heran sekaligus kagum sama mamaku. Dia kok bisa sabar banget ngadepin keluarga berisik seperti keluarga ini?

My mom  is  wonderwoman.

Aku dan Luna memang ke sekolah bareng. Padahal aku sudah minta dibeliin mobil sendiri, tapi kata papa, umurku belum cukup buat nyetir mobil sendiri. Akhirnya aku terpaksa nebeng Luna.

Dan pagi ‘indah’ku jadi makin istimewa dengan mengalunnya lagu-lagu cengeng dan manja dari para boyband kesukaan Luna.

“Luna! Cari penyanyi lain kenapa, sih? Malah sukanya sama boyband manja kayak gitu? Ganti yang hip hop kek.” Sungutku kesal.

“Luhan, sayang. Lagu-lagu boyband ini cocok buat mereka yang lagi jatuh dan… hoping to be their girl’s last first kiss. Hahahahaha.” Dan pernyataan Luna itu bikin mukaku merah padam.

You roamed into my stuff? Luna!”

Luna ketawa ngakak sampai pukul-pukul kemudi. Aku makin jengkel. Aku yakin, Luna bakal ceritain semua ke gerombolannya. Dan nanti mereka bakal ledekin aku. Dan akhirnya seluruh orang di sekolah tahu, termasuk Jo.

“Siapa dia? Yoona? Hahaha. Jadi kamu pengin ciuman sama dia, ya? Ehem… let me be your last first kiss. Hahahahaha sooooo cheesy!” dan ledekannya nggak berhenti sampai di situ. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Luna ngorek-ngorek tentang cewek yang aku maksud dalam surat itu.

Daripada aku kelepasan ngomong, lebih baik aku tutup mulut rapat-rapat. Aku nggak mau momen berhargaku dirusak Luna.

Di tempat parkir aku minta Luna berjanji dan bersumpah nggak akan cerita apapun tentang suratku itu. Meski aku nggak yakin, tapi Luna berjanji. Semoga dia nggak berkhianat.

Aku langsung nyari Minseok. Aku harus minta pendapat dia tentang waktu yang tepat nyatain perasaanku terhadap Jo lewat surat.

“Luhan!” sebuah lengan merangkul pundakku. “Kenapa SMSku nggak dibalas?”

Sial! Kenapa pada saat-saat aku berusaha hindarin Jo, dia malah nongol. “Sorry, Jo. Belum isi pulsa.”

Dia mengangguk pengertian dan lepas rangkulannya. “Oh, nggak ada pulsa, ya? Tapi SMS dari Minseok bisa kamu balas.” Suaranya menuduh.

Shit!

“Semalam Minseok ke rumahku. Dan waktu aku SMS kamu, aku suruh Minseok SMS juga. Ternyata SMSku sengaja nggak kamu balas. If there’s something wrong, then tell me, Luhan. Don’t ignore me.”

I fucking love you, Amber! That’s wrong, isn’t it?

Geramku dalam hati.

Nothing’s wrong, Jo.” Aku terus saja jalan sambil pura-pura sibuk benerin tali selempang ranselku.

“Luhan. Don’t lie to me.” dia cegat langkahku dengan menggamit lenganku. “Is it about Yoona?” aku menggeleng. “Everything will be alright, Dude. Trust me.” mau nggak mau aku nunduk dan bertemu senyuman manisnya.

Tangannya yang mungil merambat turun dari lenganku dan menggenggam tanganku. “Kalau kamu pengin curhat, bilang aja. I’ll be a good listener.” Dia kedipin sebelah matanya.

Cowok itu boleh nangis nggak, sih?

Serius, aku pengin nangis. Dia nggak tahu gimana perasaanku.

I will. Thank you… Amber.” Dan aku senyum.

Call me Jo!”

Thank you, Jo. There. Happy?”

Dan dia terkekeh dan genggamannya makin erat.

Hari baru dimulai, dan bakal berlalu begitu saja tanpa aku berani ungkapin perasaanku kepada Amber Josephine Liu.

-o-

Sambil menyesap segelas iced cappucino, aku dengerin cerita Minseok tentang ucapan Amber waktu itu. Jadi ternyata Amber nggak mau terikat. It’s okay.

Is it okay?

No, it’s not.

“Minseok. Aku harus ungkapin perasaanku sebelum semua terlambat. Aku harus dapetin dia.” Entah kenapa aku jadi terobsesi untuk dapetin cewek itu.

“Itu hak kamu, Luhan. Tapi ingat, Amber juga punya hak buat nolak kamu. Jadi kamu nggak boleh marah.” Tegasnya sebelum minum bubble tea-nya.

Aku makin bingung. Kalau aku simpan perasaanku ini, aku bisa gila. Tapi kalau aku ungkapin rasa cintaku, bisa jadi dia marah atau malah ngejauhin aku.

I need to think about this clearly.

Thank’s, Minseok. See you.” Aku berdiri dan taruh beberapa lembar uang di atas meja, dan pergi. Minseok masih duduk dan sepertinya mau habisin minumanku. Dia nggak suka buang-buang makanan atau minuman.

-o-

Amber tergesa-gesa membuka lokernya untuk mengambil bukunya, ia sudah terlambat sepuluh menit. Namun, sebuah amplop menyembul dari sela pintu loker. Karena waktu yang memburunya, akhirnya amplop itu ia masukkan ke dalam bukunya dan setengah membanting pintu besi itu dan menguncinya, ia berlari menuju kelasnya.

Setelah serentetan omelan dari gurunya, Amber pun bisa duduk di bangkunya. Ia menoleh dan melihat sahabatnya sedang menunduk menggoreskan sesuatu dalam buku tulisnya. Cowok itu sama sekali tak mengangkat kepala atau sekedar memiringkan kepalanya dan meliriknya.

Dengan perasaan kesal dan jengkel, Amber mengeluarkan bukunya dan teringat amplop itu. Sambil sesekali melirik gurunya yang sedang menjelaskan materi pagi itu, ia membuka surat itu.

Tanpa nama.

Tulisannya cukup rapi. Dan ia mulai membaca isinya.

Four letter word, but I don’t have the guts to say it. Let’s not make it complicated, we’ve got a story, and I’m about to change the ending. You’re perfect to me, and more than just a friend. So we can stop pretending now, I gotta let you know somehow.

Girl, what would you do?

Would you wanna stay, if I were to say, I wanna be your last first kiss?

Tell me what to change, I’m afraid you’ll run away if I tell you. Maybe I just got to wait. Maybe this is a mistake.

I am just a fool.

I am sorry… Amber.’

Amber mengernyit. Isi surat yang aneh. Tapi ia penasaran siapa pengirim surat itu. Matanya mencoba meneliti teman-teman sekelasnya. Siapa tahu ada yang sedang mengawasinya. Ia menoleh lagi ke arah Luhan. Namun, cowok itu sama sekali tidak menggubrisnya.

Ia menghela nafas dan melipat kertas itu dan menyelipkannya di sela lembaran bukunya.

-o-

Kesalahan fatalku adalah…

Aku lupa nulis namaku di surat itu. Dan Amber jadi nggak tahu siapa pengirimnya. Gimana kalau Amber ngira itu cowok lain? Dan dia jadi suka sama cowok itu, lalu dia pacaran sama cowok itu?

Rasanya aku pengin jedotin kepalaku ke tembok. Dan Minseok benar. Aku memang bego.

-o-

Nggak terasa hari penerimaan raport sudah di depan mata. Kami semua baru selesai ujian semester, dan dua hari lagi penerimaan raport.

Aku habisin waktu tiga minggu ini dengan berpikir tentang Amber. Haruskah aku ngaku kalau itu surat buatanku, atau aku diam saja sampai dia menyadarinya?

Dan semalam setelah ngobrol panjang bareng Amber lewat telepon, akhirnya aku berhasil bikin satu keputusan yang bijak. Dan semoga aku bisa ngejalaninnya.

Seperti kebiasaanku selama ini, aku berdiri dan bersandar pada kusen jendela kelas, dengan mata memandang teman-teman yang main di lapangan maupun sekedar duduk-duduk dan ngerumpi. Dan aku lihat Amber kejar-kejaran sama Henry. Rupanya Henry iseng ngambil topinya.

Aku ketawa melihat kekonyolan mereka. Dan entah kenapa hatiku jauh lebih lega dibanding beberapa minggu lalu. Aku seperti nemu suatu pencerahan.

“Luhan, kamu serius dengan keputusanmu? Nanti menyesal di kemudian hari, lho.” Aku rasain bahunya menyenggol bahuku.

“Minseok. Setelah aku renungin semua yang kamu bilang waktu itu, aku yakin ini adalah sikap terbaik.” Aku menikmati terpaan angin di wajahku, dan juga melihat gimana angin itu menyibak rambut Amber yang mulai memanjang. “Melepasnya itu adalah keputusan terbaik, Minseok. Jo itu seperti burung yang nggak mau dipenjara dalam sangkar emas. Jo itu bukan tipe cewek yang mau dibatasi. Dia pengin nikmatin kebebasannya selagi dia bisa. Karena kalau kita sudah dewasa, kita bakal dikekang oleh banyak batasan-batasan.”

“Jadi… kamu nggak jadi nyatain perasaanmu?”

Aku mendengus dalam tawa, “I already did, Minseok.”

When?” matanya terbelalak nggak percaya.

“Umm… everyday.” Aku kedipin sebelah mataku.

“Kalau dia pacaran sama orang lain gimana?” Minseok masih saja ngotot.

“Kan, masih ada kamu, Minseokkie..” aku lendotin bahunya.

“Jijik!” erangnya sambil tonjok bahuku pelan.

Aku terbahak dan merangkulnya. “Biarpun dia pacaran sama berapa cowok sekalipun, I swear I will be her last first kiss. Dan setelah aku, dia nggak akan bisa jadi milik orang lain. And I will wait until she come to me, Minseok. Sekarang, kita nikmatin persahabatan kita dengan Amber. Oke?”

Minseok menimbang-nimbang, sebelum akhirnya mengangguk. “Jodoh nggak akan ke mana, kan, Luhan? Kalau dia jodohmu, mungkin sepuluh tahun lagi dia bakal jatuh dalam pelukanmu. Hehehe. Yuk, kita kerjain Amber!”

Seringai jahil membayang di wajah Minseok, dan menular ke wajahku. “Ayo!”

Kami berdua bergabung dengan Henry dan bersama-sama ngerjain Amber.

Amber Josephine… I will wait to be your last first kiss. Even if I have to wait for another ten years.

Benar kata Jo, masa remaja itu sayang kalau dipakai untuk cinta-cintaan yang bisa membatasi pergaulan karena pasti saling cemburu. Lebih enak berteman sebanyak-banyaknya. Dan Jo adalah sahabat terbaik yang pernah aku kenal. Selain Minseok tentunya.

Senyum tulus dan lega memancar jelas dari wajahku. Dan Jo membalasnya dengan sama tulusnya.

THE END

A/N : Isi surat cinta Luhan untuk Amber merupakan cukilan lirik lagu BOYS LIKE GIRLS – Be Your Everything dan ONE DIRECTION – Last First Kiss. All credits goes to them.

Aku cinta AMBER. Aku cinta LUHAN. Aku cinta READERku. Baik yang aku kenal secara personal atau yang belum aku kenal. Terima kasih sudah sempetin baca FF non-YAOI ini,

Semoga bahasanya nggak terlalu aneh. Biasanya aku pakai Lo Gue buat sosok Amber. Aku tahu pasti kalian gemes, kenapa Luhan nggak jadian sama Amber. Karena aku juga ngerasain seperti yang dirasain Luhan, kok. Dan aku akhirnya hanya bisa bersahabat dengannya. Sampai aku nikah, dia nggak tahu tentang perasaanku ke dia. Sakit sih, tapi selama aku masih bisa lihat dia senyum, aku seneng. Hehehehe

#malah curhat.

 

Masa-masa sekolah mendingan dipakai buat berteman sebanyak-banyaknya. Daripada mojok mulu ama pacar. Rugiiiiiiiiiiiiii. Karena masa-masa SMA adalah yang terseru kalau kataku. Hahaha

 

Ciaaaao~

Advertisements