-o-

Prologue

Kurang lebih setahun yang lalu, sekelompok makhluk asing dikirim ke bumi karena dihukum oleh kerajaan yang berkuasa di planet mereka. Kedua belas alien berwujud menyerupai manusia bumi itu terpaksa menjalani hidup di dunia manusia. Mereka harus bisa menyembunyikan kekuatan supernatural mereka. Karena kalau sampai manusia tahu tentang mereka, maka habislah riwayat mereka. Entah mereka menjadi bahan penelitian di institusi-institusi ilmu pengetahuan atau bahkan dijadikan objek sirkus. Oleh karena itu, kedua belas makhluk luar angkasa itu menyamar dan baru bisa menggunakan kekuatan mereka jika mereka sedang berada di luar jangkauan manusia.

-o-

“Woy! Luhan, tendang bola itu ke gue!” teriak cowok berkulit sawo kematengan nyaris busuk itu.

‘Gue arahin ke lo, ya, Kai. Awas kalo lo teleport sebelum bolanya nyampe!’ balas Luhan pakai telepati ke otak Kai.

‘Sebelah kiri, Luhan! Biar Suho nggak bisa nangkep!’ Kai ngomong ke Luhan dalam hati. Dan Luhan langsung ngangguk. Bola itu menggelinding di tendang Luhan ke arah yang diperkirain Suho. Tapi dengan kekuatan telekinetiknya, Luhan ubah haluan bola itu dan dengan cekatan Kai ngilang dari tempatnya, dan muncul di tempat bola itu menggelinding, lalu dengan satu tendangan, bola itu ngelewatin Kris, si kiper dan… gol.

“Heh, kancut rimpel lo berdua! Lo bersekutu dalam kecurangan. Nggak bisa! Ini sebuah konspirasi! Gue nggak mau main sama orang-orang licik! Gue out!” Kris yang paling ganteng tapi paling jelek juga itu marah-marah dan dengan gemas dia lepas sarung tangan kipernya dan hempasin ke tanah berumput itu.

Luhan dan Kai bukannya ngerasa bersalah, mereka malah lari-lari keliling lapangan berumput itu sambil angkat kaosnya pamerin udel-udel kiyutnya.

Suho hanya bisa geleng-geleng pasrah. “Kris, lo jangan ngambek, dong. Gue nggak tega.” Katanya.

Kris noleh ke Suho, matanya berbinar haru. “Lo nggak tega liat gue dicurangin, kan, Suho?”

“Hmm… gue nggak tega liat muka jelek lo kalau lagi merengut.”

Seketika muka Kris berubah jadi merah marun. “Lo juga sama kayak mereka. Gue sembur, gosong lo!” amuknya penuh perasaan.

“Lo nyembur gue pake api, gue sembur lo pake air. Gue nggak takut.” Balas Suho dengan dagu terangkat tinggi. Bukan karena pede, tapi karena kurang tinggi.

Karena Kris ngambek, maka permainan sepak bola itu dihentikan. Semua orang mulai nyantai-nyantai sambil mikirin permainan apa lagi yang seru buat dimainin. Masing-masing duduk maupun berdiri dengan Kris dan Suho di tengah mereka.

“Kita lagi menjauh dari komunitas manusia. Makanya kita sementara tinggal di sini. Tapi karena nggak ada yang bisa dikerjain, maka kita lebih baik main aja. Tadi udah main sepak bola, yang gagal, karena si jerapah Kris lagi kumat manjanya.”

“Heh, gue nggak manja! Gue hanya menuntut keadilan! Si tonggos ama Si Item tadi curang. Gue nggak suka!” sentak Kris nggak terima dikatain manja.

“Kris, lo diam aja!” Suho balas menyentak.

Kris memang diam, tapi mulutnya komat kamit kayak baca mantra pesugihan.

“Nah, teman-teman, enaknya kita main apa, nih?” Suho lagi mau jadi pemimpin musyawarah untuk mufakat.

Seorang cowok dengan sangat polosnya ngangkat tangannya tinggi-tinggi demi pamer keteknya yang nggak polos.

“Iya, Tao. Lo mau main apaan?”

“Main Wushu di atas idung Kris?”

“Boleh, Tao. Boleh banget! Asal jangan mainin harga diri gue aja. Kampret lo!” maki Kris yang tersinggung.

“Nggak boleh, ya, Kris? Yaudah, nggak usah nyolot!” gerutu Tao sambil nyabutin bulu keteknya lima helai, dan diserahin ke Baekhyun yang lagi bikin bulu ketek tiruan buat dijual secara on-line.

“Usul yang lebih normal ada?” Suho ngeliatin tiap-tiap member kecuali Tao yang udah jelas aneh banget usulnya.

Sebuah telunjuk terangkat, “Main balap karung!”

“Karungnya dari mana, Lay? Jangan yang pakai alat, ah!” sergah Suho.

“Yaudah, gue ngusulin doang, juga. Pundung, nih, gue.” Ancamnya sambil manyun.

Suho nyuekin aksi manyun Lay, dia masih nunggu usulan lain.

“Petak umpet, aja! Nggak pakai alat, dan tempatnya cocok buat ngumpet-ngumpet.” Seseorang nyeletuk dengan suara ngebassnya.

“Wah, Chanyeol akhirnya lo pintar juga. Makan apa tadi?” sahut Baekhyun yang udah kelar merangkai kompilasi bulu ketek kesebelas temannya.

“Makan buah naga!” nyolotnya lembut.

“Buseeeet! ‘buah’nya Kris lo makan, Yeol? Gilaaaaaaaaa!” kayaknya Xiumin yang bilang. Agak kurang jelas karena ketindihan suara-suara teman lainnya.

“Wah, Kris nggak ber’buah’ lagi. Kasihaaaaan.” Yang ini mungkin Chen, cengkoknya khas.

“Theriuthan, Krith? Yeol makan ‘buah’ lo? Mana, mana, gue mau liat!” dan yang ini udah jelas siapa yang ngomong.

“DIAM!” auman Kris bikin semuanya tutup mulut. “BUAH NAGA YA BUAH NAGA! BUKAN BUAH PUNYA NAGA! Bego!”

Dan nafas lega berbau macam-macam itu terhembus dari kesepuluh teman Kris. Chanyeol hanya garuk-garuk tengkuk yang tadi dicubitin Sehun yang nganggur karena nggak bisa cubitin tengkuk Luhan.

“Jadi gimana kalau kita main petak umpet aja? Tapi Luhan nggak boleh jaga!” Suho ngasih ultimatum.

“Iya, gue memang nggak boleh main apapun. Main bola dibilang curang, main gundu dibilang memanipulasi gerakan kelereng, dan lain lain. Intinya gue nggak boleh main apapun. Dasar egois semua!” Luhan merajuk dan merajut kaos kaki bau untuk Sehun.

“Ya wajar lah. Lo bisa baca pikiran orang.”

“Gue nggak bisa baca pikiran Chanyeol.” Bantahnya lantang.

“Kenapa? Dia bisa ngeblock pikirannya?” Suho penasaran.

“Dia nggak punya otak.”

Dan Chanyeol lempar Luhan pakai bola api. Karena Luhan tahu apa yang dipikirin Chanyeol, dia pun berhasil menghindar.

Semua setuju dengan usul yang dimuntahkan Chanyeol. Akhirnya mereka berhompimpah.

Yang tersisa adalah D.O.

Dia disuruh ngitung sampai seribu.

Satu persatu mulai ngumpet. Kris yang bisa terbang, langsung milih ngumpet di atas pohon. Bertiraikan dedaunan rimbun, jadi mirip sama simpanse. Ada yang ngumpet di balik batu besar, atau di balik semak-semak. Satu-satunya yang nggak ngumpet di sekitar tempat itu hanyalah Kai. Dia punya kekuatan berteleportasi, jadi dia bisa pergi ke manapun dia mau. Masalahnya dia salah masuk tempat.

Kai berteleport ke pedalaman hutan yang rimbun banget. Pohon-pohon besar menjulang tinggi di atasnya.

“Gue di mana ini?” tanyanya pada diri sendiri.

Dia jalan-jalan kayak orang ilang, memang orang ilang, sih.

Sampai akhirnya dia masuk ke balik pepohonan dan ngeliat ada rumah. Dia sempat memaki, karena dia takut kalau sampai ketahuan manusia.

Tapi dia lapar. Dia pengin makan.

Pelan-pelan, dia ngedeketin rumah itu.

“Heh! Siapa lo?” tanya seorang cowok bertelanjang dada.

Kai noleh dan langsung iri setengah mati sama badan bagus cowok itu.

“Wah, lo fitness di mana? Badan lo kece bener.” Puji Kai sekaligus basa-basi.

“Jawab pertanyaan gue, Item!”

“Eh, lo pengin kenal gue atau pengin kenal banget, nih?”

Cowok misterius tapi seksi itu mendengus dan meludah ke sebelah kirinya. “Gue pengin gigit lo!”

“Aaaah, lo bisa aja. Kita baru kenal. Jangan gitu, ah. Gue jadi malu,” Kai kedip-kedip sambil gigitin bibir bawahnya.

“Nggak usah genit! Gue mau gigit lo karena lo masuk wilayah gue. Dan lo itu siapa, kuntet?”

“Heh, temen gue ada yang beneran kuntet. Ntar gue kenalin, deh.”

“Buset, dah. Gue nggak butuh kenalan ama temen lo. Gue tanya lo ini siapa, dan lo ngapain ada di sini?” rupanya cowok itu udah kehabisan nafas eh kesabaran.

“Oh, kayaknya lo memang pengin banget tau nama gue. Oke, gue Kai. Dan gue hanya seorang makhluk tampan dan seksi. Dan lo siapa? Jangan bilang nama lo Hercules, ya. Abisan, bodi lo kayak Hercules gitu. Berbonggol-bonggol kece.” Cowok itu nyaris muntah dengar rayuan norak Kai.

“Gue Jacob. Dan saran gue, lo pergi dari sini sekarang atau lo bakal nyesel.”

“Diajak minum teh dulu, kek. Gue haus dan lapar. Dan gue nyasar.”

Cowok bernama Jacob itu menghela nafas panjang. Sepanjang kaki Kris kalau melangkah. Baru aja dia mau ajak Kai masuk ke rumah, tiba-tiba ada bunyi berisik dari arah semak-semak dan begitu Kai nengok ke sumber suara itu, dia mendadak terjungkal diterjang makhluk besar berbulu dan bau apek.

“HUAAAAA GUE KETIBAN KARPET!” pekik Kai melengking.

“Heh, kutu kupret! Gue serigala bukan karpet!” bentak serigala yang udah berubah jadi manusia.

“Abisan baunya apek kayak karpet nenek gue di kampung.” Cicitnya ngeri.

“Heh, Jacob, dia siapa? Dan apa?”

“Dia Kai, dia makhluk sok ngerasa seksi dan nggak penting banget. Enaknya diapain?”

“Makan aja.”

“Ogah! Dia item, pasti rasanya pahit. Lo, kan, tau kalau gue nggak suka yang pahit-pahit, bawaannya langsung mual gitu.”

Kai memaki dalam hati.

“Yaudah, kita tawan dia aja. Kalau kita lapar dan nggak ada stok makanan, kita makan dia.” Usul teman Jacob.

Kai makin ngeri. Ternyata dia nyasar masuk ke wilayah manusia serigala. Mana badan mereka besar-besar pula. Cowok berkulit coklat itu mulai mundur teratur, saking takutnya, dia sampai lupa caranya teleport. Dalam otaknya dia manggil-manggil Luhan. Siapa tahu masih bisa dengar.

“Oke. Kita jadiin dia tawanan.” Jacob setuju. Dan Kai buka baju. (?)

-o-

D.O berhasil nemuin semua temannya, kecuali Kai. Semua nyari teman mereka yang berkulit sedikit gelap bagai malam tak berbintang itu. Tapi nggak seorang pun yang berhasil nemuin dia.

“Jangan-jangan dia udah pulang ke rumah duluan, ya? Dasar!” Kris menggerutu. Dia bete karena dia orang pertama yang berhasil ketahuan tempat ngumpetnya. Tadi D.O senggol pohon tempat Kris  ngumpet dan pohon itu goyang. Akhirnya Kris nyungsep dengan sempurna.

“Luhan, coba lo hubungi Kai. Suruh dia ke sini.” Perintah Suho.

Luhan ngangguk dan nutup matanya. Dia berkonsentrasi nyari sinyal keberadaan Kai. Samar-samar Luhan dengar suara minta tolong. Dia mengernyit demi bisa mengerahkan segenap kekuatannya.

“GAWAT! KAI TERJEBAK DI SARANG MANUSIA SERIGALA GANAS!” pekik Luhan panik. Mukanya langsung pucat pasi.

“APAAAAAAAAA?” kesepuluh member lainnya ikutan syok dan nggak percaya.

“Iya! Barusan gue dengar suara Kai jejeritan minta tolong. Dia bilang kalau dia lagi ditawan sekawanan manusia serigala ber-six pack.”

Mereka langsung panik dan heboh, Sehun sudah nangis sesenggukan sambil pelukan sama Tao yang mukanya sudah basah oleh air mata dan ingus. Baekhyun yang nggak sabaran itu ngomelin dua magnae itu. Suho dan Kris mondar-mandir sambil tekan-tekan pelipis mereka yang berdenyut-denyut. Lay dan Xiumin berisik bukan main, mereka bikin asumsi-asumsi sendiri tentang di mana lokasi ditawannya Kai. Chen ajak Chanyeol buat latihan bela diri. Chen nyoba keluarin percikan listrik dari tangannya dan Chanyeol berhasil bikin salah satu semak terbakar hangus dengan lemparan bola apinya. D.O berdiri di dekat pohon tempat dia jaga tadi dan matanya melotot tanpa ekspresi. Kai itu adalah adik kesayangannya. Selain beda usia mereka hanya satu tahun, mereka juga sama-sama punya bibir yang setipe, alias tipe ban mobil sedan empat pintu. Tebal-tebal bikin keselek.

“Sekarang gimana caranya kita selametin Kai dari cengkraman werewolf-werewolf seksi itu?” celetuk Suho meminta solusi dari ke sepuluh temannya.

“Masalahnya kita nggak tahu tepatnya posisi Kai di mana. Apa di pedalaman hutan Amazon atau di Kalimantan.” Kris tiba-tiba jadi sok pemikir.

“Biar Luhan yang melacak posisi Kai.” Usul Lay, si penyembuh segala macam penyakit. Kecuali sakit hati, dan sakit jiwa pastinya.

Semua setuju dengan usul Lay. Tinggal Luhan yang memaki pelan, karena di saat gawat seperti ini, kekuatannya baru dibutuhin. Tapi, kalau waktunya main game, dia selalu didiskriminasikan.

“Oke, gue mau lacak Kai, tapi nanti gue harus boleh main game apapun.”  Dia bikin perjanjian sepihak.

“Di saat-saat gawat kayak gini lo masih aja mikirin game? Dasar monyong, lo!” sembur Kris jengkel, dari tangannya sudah muncul api.

“Nggak usah main kasar, deh, Kris. Lo mau lempar api itu ke muka gue juga percuma. Dengan pikiran dahsyat gue, api itu bisa gue bikin masuk ke dalam celana lo.” Balas Luhan sambil nyengir licik.

Kris nyerah dan pasrah. Daripada ‘bola’nya nanti berubah jadi bola api, hayo?

“Dengan kekuatan Luhaaaaaaaaaan, aku akan melacakmu.” Seru Luhan sambil bergaya centil ala Sailormoon. Dan dia mulai semedi di bawah pohon. Berusaha melacak jejak-jejak pikiran Kai yang tercecer.

Sementara Luhan nyari lokasi tempat Kai disekap, cowok-cowok lainnya sibuk melatih kekuatan mereka. Lay nyari serangga, lalu kakinya dipatahin, lalu disembuhin lagi sama dia. Dia lagi melatih kekuatan tabibnya.

“KETEMU!” teriak Luhan sambil meninju udara. Semua temannya ngerubungin dia. “Kai ditawan di tengah hutan, yang nggak terlalu jauh dari sini. Masalahnya, gimana kita bisa ke sana sebelum Kai jadi santapan makan malam para manusia serigala itu? Yang bisa teleport, kan, cuma Kai.” Imbuhnya sambil menggigit bibir bawahnya.

“Gue bisa terbang. Oh, ya, kenapa nggak suruh Sehun terbangin kalian pakai kekuatan anginnya? Ntar dia nebeng gue.” Kris nyumbang ide.

Setelah Sehun menaksir kekuatannya, akhirnya semua setuju.

Di balik wajah tampan dan badan krempeng, ternyata kekuatan Sehun dahsyat banget. Dengan sekali kibasan tangannya, Sehun berhasil nerbangin ke sembilan temannya ke arah yang sudah dikasih tahu Luhan. Lalu Sehun meluk badan Kris, dan berdua terbang membelah udara.

-o-

“Woy, lepasin gue!” jerit Kai sambil berusaha lepasin tali yang ngiket tangannya.

“Sorry, Tem. Tadi kan, udah gue peringatin lo buat pergi sebelum ketahuan komunitas gue. Jadi, lo cukup diam aja, dan tunggu nyawa lo melayang nanti.” Dan Jacob dengan santainya sit-up di depan Kai, pamerin otot-otot perutnya yang bisa dipakai buat nyuci baju. Mirip papan penggilesan.

Kai terus aja manggil Luhan lewat pikirannya.

‘Kai! Kita udah sampai. Gue bisa lihat lo dari sini. Seriusan, lo item banget, jadi kontras gitu.’ Kai terlonjak dan ngebuka matanya waktu dengar suara Luhan di dalam kepalanya.

‘Kalau gue nggak telalu lega karena kalian udah berhasil ke sini, pasti lo udah gue jambak, Luhan! Buruan tolongin gue!’ balas Kai melalui pikirannya.

‘Lo alihin perhatian cowok ganteng itu dulu. Lo ajak ngobrol tentang lo dulu waktu masih di EXO Kampung. Buruan! Kita mau nyusup pelan-pelan dan serang mereka dengan kekuatan hebat kami.’ Tegas Luhan. Dan Kai langsung turutin perintah Luhan.

“Cob, Cob!” panggilnya.

“Apa, Tem?” Jacob berhenti sit-up. “Kalau lapar, mending lo tahan aja, deh. Toh, lo bakal mati juga ujung-ujungnya. Bentar gue kelarin dua set lagi.” Dan dia sit-up lagi.

“Eh, Cob. Mau denger cerita tentang masa kanak-kanak gue, nggak?” tawarnya sambil senyum kecut.

“Boleh, deh. Gue penasaran ama kulit item lo, Tem. Terus kenapa idung lo pesek?”

Kai mengumpat dalam hati. “Bukan itu. Ini tentang gimana gue tinggal di planet yang jauuuuuh banget dari sini.”

“Lo alien?”

“Yoi. Keren, kan?”

“Bohong, ah. Alien tuh biasanya berlendir, jarinya cuman tiga biji, kulitnya ijo, nggak punya idung, yaaa tipikal alien-alien lah. Lo pikir gue bego, ya? Mentang-mentang tinggal di hutan terus gue jadi kudet gitu?” si manusia serigala yang gantengnya ngalahin Edward Cullen si vampir anemia itu tersinggung.

Kai gelagepan. Dia takut digigit cowok seksi itu. Kalau abis digigit terus bisa punya badan kayak gitu sih, Kai mau. Tapi kalau mati? No, thanks.

“Di planet gue, semua wujud penduduknya sama kayak manusia di bumi. Tapi ada sesuatu yang ngebedain kami dan makhluk bumi.” Jelasnya sambil sesekali manggil Luhan lewat pikirannya.

Jacob mulai tertarik dan mau dengerin cerita Kai, yang kadang sesuai kenyataan, tapi lebih banyak ngarangnya, sih. Intinya dia nurutin perintah Luhan.

Gerombolan alien kece itu mulai merangsek ke wilayah Jacob dan keluarganya. Kris, Chanyeol dan Tao disuruh merayap, karena mereka yang paling tinggi, dan bisa bikin keberadaan mereka diketahui pihak musuh. Luhan terus ngasih tahu Kai tentang posisi mereka yang makin mendekati tempat kejadian perkara.

“Ssst, D.O, lo siap-siap injek tanah dan bikin gempa dadakan, ya. Biar mereka panik, terus kita bisa lepasin Kai dari jeratan tali itu.” Perintah Suho si pemimpin koloni.

“Siap, Bos!” sahut D.O sambil pertahanin supaya matanya terbuka lebar.

“Kris! Lo jangan benerin jambul lo mulu! Tugas lo adalah terbang ke atas pohon dan kasih tau ada berapa manusia serigala yang ngancem keselamatan kita.”

“Lo nggak tau bahwa penampilan kece itu selalu penting di setiap saat, Suho! Yaudah, gue ke atas pohon sekarang. Kita udah nyaris masuk wilayah mereka.” balas Kris sambil ngelirik judes Suho.

“Xiumin! Ntar pas gue siram air ke kaki para manusia serigala itu, lo langsung bekuin, ya. Lalu Chen, lo samber pake petir. Luhan, lo terus komunikasi sama Kai, kasih tau taktik serangan kita.” Suho ngangguk waktu dengar Xiumin, Chen dan Luhan mengiyakan. “Chanyeol, lo bakar rumah mereka! Sehun, kalau ada yang nyerang kita, langsung lo kentutin, eh bukan, maksud gue lo gampar mereka pakai kekuatan angin lo. Bikin mereka mental.”

“Thiap, Both Thuho!” jawab Sehun yang mulutnya kemasukan dedaunan.

“Tao! Huang ZI Tao!” si ketua berwajah kalem kayak penganten baru itu nyariin Tao. “Ada yang liat panda kesiangan itu, nggak?”

Luhan langsung nyoba nyari Tao, ternyata cowok itu lagi nyari buah-buahan buat makan. Setelah diomelin Luhan dan disuruh balik ke kelompok, barulah Tao muncul sambil salto-salto.

“Apa, Bos?” Tao udah duduk di depan Suho. Beberapa jenis buah udah nangkring indah di pelukan cowok bermata hansip itu. (kan, begadang terus)

“Lo nanti hentiin waktu pas kita keluar dari wilayah ini, jadi mereka nggak bisa kejar kita sebelum kita pergi jauh.”

“Iya, Suho. Gue bakal lakuin apa aja, asalkan sekarang gue makan dulu.” Dan dia mulai makan. Suho cuma elus-elus perut. Dia juga lapar tapi nggak napsu makan karena kepikiran Kai.

“Suho!” ada suara merdu yang manggil leader itu.

“Kenapa, Baek?”

“Tugas gue ngapain?”

Suho mikir agak lama. “Hmm… ntar kalau keburu gelap, lo terangin tempat ini, ya.”

Baekhyun kecewa, tapi dia nggak bisa nolak, karena kekuatannya memang dimanfaatinnya seperti itu.

“Lay! Lo daripada ngelamun kayak gitu, mendingan lo semedi biar kekuatan pemulih lo bisa maksimal. Nanti pasti bakal ada yang luka atau kesleo atau benjol. Dan tugas lo buat sembuhin mereka segera!” sentaknya galak.

“I-iya, Suho. Gue paham.” Dan Lay langsung semedi di bawah pohon.

Luhan sama sekali nggak mutusin komunikasi dengan Kai. Dan Kai terus ngasih informasi tentang keadaan di sekitarnya. Setelah yakin para manusia serigala itu lagi lengah, Kai ngasih tahu Luhan bahwa penyerangan bisa dilakuin sekarang.

“Kata Kai, situasi mendukung untuk menyerang. Let’s do it!” ajak Luhan.

Semua ngerasa tegang. Karena selama ini mereka belum pernah perang lawan makhluk apapun. Dan tiba-tiba mereka harus berhadapan sama sekumpulan manusia serigala berbadan kekar. Tapi Suho terus ngasih mereka semangat. Mereka harus bisa bebasin Kai dari cengkraman makhluk ganas itu.

Kris yang juga memantau keadaan di rumah Jacob itu ngasih kode untuk masuk ke wilayah itu dan melakukan penyerangan.

D.O yang pertama laksanain tugasnya. Dengan penuh kekuatan, dia injak tanah sampai bergetar hebat bahkan bikin beberapa pohon tumbang. Kris yang masih di atas pohon, jadi hampir jatuh lagi. Untungnya dia langsung terbang sebelum nyungsep lagi.

Semua manusia serigala itu panik dan keluar dari rumah mereka. Termasuk Jacob yang langsung ngejerit melengking dan mengaum. Kai nyaris terkencing-kencing waktu ngerasain dahsyatnya gempa bikinan D.O.

Lalu pasukan alien berhasil masuk dan alihin perhatian para manusia serigala itu. Luhan langsung lari ke tempat Kai dipasung kayak orang sakit jiwa di perkampungan itu.

“Kai!”

“Luhan!”

Luhan meluk Kai sekilas sebelum lepasin tali yang melilit pergelangan tangannya.

“Aduh, lecet.” Kai mengaduh waktu Luhan pegang pergelangan tangannya buat bantuin cowok itu berdiri.

“Ada Lay. Tenang aja. Yuk, kita harus pergi dari sini sebelum mereka ngalahin kita. Lo bisa teleport, kan?” tanya cowok bergigi rada maju itu khawatir.

“Gue masih takut, jadi nggak bisa konsentrasi buat teleport. Lo nggak mau, kan, kalau separuh badan gue udah nyampe rumah kita, tapi separonya ketinggalan di jalan?”

Luhan menggeleng ngeri ngebayangin Kai badannya separuh.

“Yaudah, kita pergi sama-sama. Pokoknya kita semua bakal saling melindungi.” Ujar Luhan nenangin Kai yang mendadak putih karena pucat.

Luhan dan Kai terbelalak waktu liat betapa kacaunya pemandangan di depan mereka. Jacob dan kawan-kawannya sudah nggak berwujud cowok-cowok six-pack seksi, tapi mereka berubah jadi serigala besar berbulu lebat. Suara geraman dan auman mereka bikin nyali Kai dan Luhan menciut.

Kris terbang ngiter-ngiter di atas mereka, dan semburin api ke arah siluman serigala itu. Chanyeol sudah ngebakar rumah-rumah makhluk itu. Ada beberapa serigala yang membeku karena dibekuin Xiumin. Luhan memekik kaget waktu ada seekor serigala terbang dibawa angin puyuh bikinan Sehun.

Para serigala itu terlalu kuat, dan tenaga para alien itu mulai berkurang, sampai akhirnya Suho terjatuh karena dehidrasi. Sehun asmanya kambuh dan Chanyeol mulai keluar asapnya.

Lay yang masih aja sibuk bolak-balik buat nyembuhin luka-luka temannya. Tao yang ketakutan malah nangis, bukannya hentiin waktu buat selametin teman-temannya, malah sesenggukan nggak jelas sambil meluk batang pohon yang daunnya hangus dibakar Chanyeol.

“H-help…” suara rintihan didengar Lay yang lagi balikin tenaga Chen yang minta di-recharge.

Lay noleh dan lihat Jacob udah berubah jadi orang lagi dengan perutnya yang kena lemparan api dari Chanyeol. Melepuh sedemikian rupa.

“Sa-sakit…” rintihnya makin memelas.

Lay yang terkenal baik hati, nggak tegaan dan polos itu bimbang. Masa sih dia nolongin musuh yang mau makan Kai? Tapi kalau sampai nggak ditolongin, nanti dia mati dan menghantui Lay seumur hidup? Lay bingung banget.

Tapi hati baiknya yang menang.

Dia samperin Jacob dan mulai sembuhin luka bakar stadium 3 di perutnya. Pelan-pelan luka bakar itu menipis. Dan sebelum benar-benar hilang lukanya, Jacob menyeringai licik tapi sumpah seksi banget.

“Stupid alien.” Bisiknya.

“Apa?” belum hilang rasa bingungnya, tiba-tiba dari arah belakang ada serigala besar yang nubruk Lay dan gigit bahunya.

“AAAAAAAKKKKKKHHHHHHH!” jerit kesakitan Lay bikin semua temannya membeku. Mereka kaget.

Lay ngerasain gimana gigi-gigi tajam itu merobek kulit halusnya dan nembus dagingnya. Darahnya nyiprat ke leher dan lengannya. Dan serigala itu makin dalam hunjamin giginya ke dalam bahu tabib itu. Matanya mulai berkunang-kunang karena darahnya yang mulai berkurang dan rasa sakit luar biasa itu bikin dia hampir kehilangan kesadarannya.

Kris, Chanyeol dan Chen yang udah ngerasa lebih kuat itu langsung serang serigala itu tanpa mengenai Lay tentunya. Api dan petir berhasil bikin serigala itu gosong dan kehilangan semua bulu-bulunya.

“KAI! BAWA LAY DARI SINI SEKARANG!” perintah Suho. “TAO! HENTIIN WAKTUNYA DALAM HITUNGAN KE TIGA! KRIS BAWA YANG LEMAH PERGI DARI SINI SEKARANG! D.O HANCURIN TANAHNYA! LUHAN, BAEKHYUN KALIAN LARI DARI SINI! XIUMIN BANTUIN GUE BEKUIN MEREKA SEMUA!” Suho dengan tegas dan berani ngasih instruksi ke semuanya. Dan dalam hitungan ke tiga, para serigala itu membeku dan tanah di sekeliling rumah mereka mendadak terbelah dan jadi sebuah jurang curam yang lebar. D.O berhasil mengurung mereka dalam lingkarang tanpa jalan keluar. Dan semua berlari menyelamatkan diri. Tao pun hentiin waktu buat menghambat pengejaran para werewolf itu.

Kai rebahin tubuh lemah Lay ke ranjangnya. Darahnya nggak mau berhenti. Muka Lay makin pucat. Kai nangis dan ngutuk dirinya sendiri. Kalau dia nggak sok-sokan teleport ke tempat itu, pasti semua ini nggak akan terjadi.

Kris masuk kamar sambil gendong Sehun yang sesak nafas parah. Dia jadi panik waktu lihat darah dari bahu Lay. “Kai! Healer kita terluka. Lalu siapa yang bakal sembuhin dia?” dia meracau kebingungan.

Baekhyun dan Luhan masuk kamar itu dan segera berusaha hentiin darah Lay semampu mereka. Kris bantuin Sehun biar lebih tenang dan nggak sesak nafas lagi.

Satu per satu muncul dalam kondisi yang memprihatinkan. Tapi paling parah memang luka yang dialami Lay. Satu-satunya yang kontak langsung dengan serigala jadi-jadian itu.

Dan nggak ada yang tahu apa yang bakal terjadi nanti.

-o-

Suhu badannya tinggi banget sampai kejang-kejang. Semua ototnya sakit luar biasa. Baru kali ini Lay ngerasa sakit seperti itu. Dia mau manggil temannya, tapi nggak ada suara yang keluar. Hanya sejenis geraman yang bikin tenggorokannya sakit.

Lay berusaha bangun dari tidurnya, tapi kepalanya pusing banget. Dia lirik ranjang di sebelahnya. Dia lihat adiknya yang paling muda, Sehun lagi tidur tenang. Semburat cahaya bulan ngintip dari jendela dan menimpa wajah ganteng cowok pengendali udara itu.

Tiba-tiba perut Lay bunyi.

Lapar.

Dan aroma wangi yang enak banget bikin cuping hidungnya kembang kempis menghirup aroma itu.

Perutnya makin berisik.

Lay turun dari ranjangnya. Dia jatuh.

Dia berusaha berdiri. Tapi nggak bisa.

Nggak tahu kenapa, tiba-tiba Lay ngerasa mukanya gatal banget. Waktu dia mau garuk mukanya, dia baru nyadar kalau tangannya berbulu dan kukunya panjang.

Dia raba-raba mukanya, dan ternyata dia bermoncong dan bertaring.

Lay pengin teriak, tapi lagi-lagi dia menggeram. Dan perutnya ikut menggeram.

Ngikutin insting hewaniahnya, Lay maju dan ngedektin Sehun. Dia lapar dan nggak ada yang bisa dimakan kecuali sosok yang tidur itu.

Dia endus-endus muka Sehun.

‘Hmm… baunya enak’ batin Lay.

Lalu pelan-pelan dia jilat kulit adiknya itu.

‘Beneran enak banget…’

“Aaaaggghhh.” Pekik Sehun waktu lehernya dihunjam gigi tajam Lay.  Dan Sehun pingsan.

Lay nggak tega makan sehun. Jadi dia cuma mau hilangin rasa hausnya.

Cowok nggak berbentuk manusia itu jalan dengan keempat kakinya menuju kamar sebelah. Dia buka pintunya dengan cakarnya. Dan dari dalam menguar aroma darah dua macam. Yang satu manis, yang satunya rada-rada asem. Hidung serigala Lay mengernyit waktu nyium bau asem itu.

‘Pasti itu darah Kris.’ Batinnya sambil nyamperin bau darah yang manis. ‘Hmm… Suho… dari mukanya aja udah kelihatan mana yang manis mana yang asem.’ Dia lirik Kris yang tidur telungkup.

Tanpa permisi lagi, gigi Lay nancep di leher mulus Suho dan nyicipin darah manisnya.

Lalu dia nyamperin Kris. ‘Perlu gue cicipin nggak, ya?’ pikirnya bimbang.

Perutnya berbunyi lagi.

Nggak pake mikir lagi, Lay gigit leher Kris dan minum darahnya.

‘Asem rada sepet,’ ia mengernyit dan julurin lidahnya.

Setelah kelar dengan Kris dan Suho, Lay masuk kamar Luhan dan Kai. Dengan penuh kelembutan dia gigit dua teman dekatnya itu.

Nggak ketinggalan juga, dia gigit Chanyeol, Baekhyun, Xiumin, Tao dan D.O dan Chen.

Setelah ngerasa cukup kenyang, Lay masuk kamarnya lagi dan tidur. Berharap besok pagi dia udah jadi manusia lagi. Mungkin dia lagi mimpi aneh aja.

-o-

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.”

“Kris, lo ngejerit kayak tante-tante, sih?” sembur Suho yang kaget.

“KENAPA ADA DARAH DI BANTAL GUE?” raungnya sambil nunjuk-nunjuk bantalnya.

“Mana gue ta… YA AMPUN BANTAL GUE JUGA ADA DARAHNYA!” Suho ikutan panik dan acung-acungin bantalnya.

“SUHO! LEHER LO!”

“KRIS! ADA BEKAS GIGITAN DI LEHER LO!”

“KYAAAAAAAAAAA! KITA DIGIGIT APAAA?” keduanya teriak bersamaan.

Di kamar-kamar yang lain juga kejadiannya sama. Jeritan dan pekikan panik mengisi pagi hari itu.

Lay yang jaid tersangka malah enak-enakan tidur. Sehun bangun dan ngerasa sakit di lehernya. Pas dia periksa, ternyata ada bekas gigitan.

“Lay. Ini ada bekath gigitan. Lo tau nggak thiapa yang gigit gue?” dia goyang-goyangin badan Lay.

“Apa, sehun?”

“Kenapa baju lo compang camping?” tanyanya keheranan waktu lihat pakaian Lay robek di sana sini.

Lay duduk sambil bengong. Ternyata beneran bajunya awut-awutan.

“Kenapa di mulut lo ada coklat-coklatnya? Themalem abith ngondek, ya? Hayoooo?” tebaknya ngasal.

Lagi-lagi si tertuduh itu malah bingung dan pegang-pegang mulutnya. Lalu dia endus-endus jarinya. “Bau darah…” bisiknya lirih.

Semua orang ngumpul di ruang tengah dan ngebahas tentang gigitan aneh di leher mereka.

Dan semua kecurigaan mereka lenyap waktu Baekhyun berhasil nyadar kalau hanya leher Lay yang nggak ada bekas gigitannya.

Lay lupa apa yang udah terjadi semalam. Tapi dari segala bukti yang berhasil ditemuin, maka Lay adalah tersangka utama.

Malam ini bulan bersinar terang. Malam bulan purnama.

Tanpa bisa mereka cegah lagi, masing-masing ngalamin transformasi dari tubuh manusia menjadi tubuh makhluk berbulu berkaki empat.

Kai jadi serigala hitam legam. Kris jadi serigala dengan highlight coklat terang di bagian kepalanya. Luhan berbulu kemerahan, dan Sehun jadi serigala bernuansa lolipop. Colorful layaknya kemoceng rafia. Semua punya ciri khas masing-masing.

Dan semua mengaum menghadap bulan.

Lalu pada nyanyi Ambilkan Bulan Bu.

Karena mereka kehabisan baju yang robek waktu mereka berubah itu, maka beberapa orang ngusulin buat turun ke wilayah manusia dan beli baju baru. Karena pengin ngirit waktu dan tenaga. Maka Suho nyuruh si ahli teleportasi buat bantu mereka. Masing-masing saling bergandengan tangan dan pegangan Kai. Lalu Kai ngilang dan muncul di dalam toko pakaian.

“Wah, keren banget bajunya. Gue ambil yang ini!” seru Tao yang gila fashion.

“Gue yang itu! Sesuai ama warna mata gue!” Baekhyun nyerobot ke bagian yang diincarnya.

“Gue mah pakai apa aja tetap kece.” Kris melenggang santai sambil liat-liat model bajunya.

Semua nyari pakaian sesuai selera mereka. Dan setelah dua jam penuh, akhirnya mereka kelar belanja.

“Siapa yang bayar?” tanya Kris nyantai tanpa beban.

“Nggak sok nanya, deh. Udah jelas banget kalau selalu gue yang bayar.” Suho ngeluarin dompetnya dan bayar sejumlah uang sesuai belanjaan mereka. Kebetulan hari udah larut malam, jadi toko itu udah tutup.

Setelah itu mereka pakai baju mereka dan keluar dari toko itu, dengan berteleport bareng Kai.

-o-

“Guys! Barusan gue dapat telepon. SMEnt butuh entertainer generasi baru yang unik. Gimana kalau kita ke sana?” ungkap Suho setelah simpen ponselnya ke dalam saku celananya.

“Gimana kalau pakai konsep manusia serigala aja?” usul Luhan.

“Boleh. Kayaknya keren.” Sahut Suho, yang diiyakan sama yang lain.

Lalu mereka menuju gedung SMEnt dengan cara lebih manusiawi.

-o-

Epilogue

“OH MY GOD!!!!! EXO KEREN BANGET!!!! GUE RELA DIGIGIT SERIGALA GANTENG KAYAK MEREKA!”

“Heh, tunggu-tunggu! Kayaknya gue taunya EXO itu konsepnya alien deh. Kenapa turun derajat jadi serigala yang ngais-ngais tanah buat pup?” balas seorang cewek berkawat gigi.

“ITU KAN SETAHUN LALU, TOKEK! LO KE MANA AJA, SIH?” sembur temannya yang mukanya jerawatan.

“Gue main ke grup sebelah.” Sahutnya santai. “Siapa suruh kelamaan comeback tuh alien. Dari yang manggil-manggil emaknya sampe berubah jadi serigala.”

“Ya udah, sih. Intinya mereka kembali lagi. Gue kira mereka beneran alien terus mudik ke planet mereka. Hehehe.”

“Ternyata mereka malah lupa diri dan jadi serigala.” Sindirnya. “Oh, ya… gue baru tahu kalau manusia serigala demen nyalon, ya?”

“Mereka serigala gaul. Jadi lo diem aja. Udah urusin idola lo aja.” Dan itu menutup pembicaraan dua gadis itu.

-o-

Beberapa hari sebelumnya…

“Ya ampun, Kai! Itu rambut lo apaiiiin?” D.O cengok.

“Oh, ini… gue tadi teleport ke Bali terus liat ada bule yang dikepang-kepang lembut gini, kok jadinya keren gitu. Akhirnya gue jadi kepengin deh. Hehehe. Keren, kan?”

“Keren apaan! Gue berasa lagi jumpa fans ama Bob Marley.” Celetuk Chanyeol.

“Gue kira malah barusan si Whoopi Goldberg yang mampir. Hahahaha.” Imbuh Baekhyun sambil tos sama Chanyeol.

“Gue mau tampil beda eh diledekin. Sehun lebih norak lagi. Saking labilnya tuh orang, milih warna cat rambut juga ikutan labil, akhirnya diolesin semuanya. Udah, ah. Gue mau pergi lagi.”

“Mau ke mana, Kaaaai?” seru Sehun.

“Ke Jamaika! Mau reunian ama Bob Marley!” dan Kai pun menghilang.

Kris dan yang lain hanya senyum-senyum geli lihat rambut Kai yang aneh. Dan Suho berharap, SMEnt ngasih mereka baju-baju yang lebih layak buat manusia serigala dibanding baju atlit baseball atau basketball atau boxing yang mereka beli dari toko baju olahraga.

THE END

 

 

 

 

 

 

A/N: Hehehehe…. moga gak aneh, yaaaa. Ciaaao~

Advertisements