BOPB0lsCYAALDdD

 

 

 

^-^

A/N : As often, this story is inspired by a true story. Dibubuhi sedikit konflik dengan cast yang unyuh unyuh sangat, maka daku berharap jalan cerita dan makna dalam cerita ini bisa tersampaikan ke para pembaca.

^_^

No love is greater than that a father for his son.” –Dan Brown, Angels and Demons.

^_^

Ransel sudah tersampir di bahunya ketika tiga temannya berseru dari luar kelas, ia mendongak dan mendapati mereka melambaikan tangan mereka mengajaknya keluar.

“Luhan! Ikut kita nonton, yuk. Mumpung mau ditraktir Joonmyun, nih!” pekik seseorang yang bertubuh paling jangkung dengan kedua mata berbinar jahil.

Orang yang dipanggil Joonmyun itu protes dan memukul bahu temannya itu. Luhan yang melihat perilaku kekanakan kawannya itu terkekeh.

Sorry, guys. Aku nggak bisa ikut. Masih ada yang harus aku kerjain di rumah. Maybe next time, deh, yaaaaa?” balasnya dengan suara cukup keras.

“Ah, payah kamu, Luhan. Beneran nggak mau ikut, nih? Filmnya seru banget, lho!” celetuk pemuda bermata sipit, yang disetujui dua teman lainnya dengan anggukan antusias.

Luhan menggeleng pelan dan mengibaskan tangannya, “Kalian pergi aja. Aku benar-benar nggak bisa ninggalin urusan yang di rumah. I’m terribley sorry, Baekhyun.”

Setelah beberapa gerutuan penuh kecewa, tiga kawannya itu pun pergi meninggalkan Luhan di kelas.

Pemuda berparas bagai anak sekolah menengah itu menghela nafas berat. Sesungguhnya dirinya sangat ingin menghabiskan waktu bersama tiga sahabatnya itu lebih lama. Tetapi tanggung jawab yang ia pikul menghalanginya.

Ia mengetuk-ngetuk ujung sepatunya ke aspal, kedua tangannya melesak dalam saku celana jeans usang miliknya, kedua matanya menatap jalanan, menanti munculnya bus yang biasa ia tumpangi. Bisingnya lalu lintas membuatnya ingin segera menyumpal telinganya dengan earphone dan mendengarkan musik dengan suara keras. Luhan memaki pelan ketika melihat bus yang dinantinya seolah merayap bagai siput keberatan cangkangnya. Dan akhirnya ia menghembuskan nafas lega ketika bus berada tepat di depannya setelah sekian abad lamanya ia menanti.

Ia lemparkan senyum sekenanya pada sang sopir sebelum menghenyakkan tubuhnya di kursi paling dekat dengan pintu bus.

Bus melambatkan lajunya ketika sampai di dekat tempat tinggal Luhan. Pemuda itu mempercepat langkahnya demi bisa sampai di rumahnya lebih cepat.

“Aku pulang!” serunya setelah pintu rumah ia buka dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa.

Sepatu ia lepaskan dan ia ganti dengan sepasang sandal rumah yang sudah cukup dekil. Jaketnya ia sampirkan di gantungan topi dan mantel.

“Papa?” panggilnya sembari mencari sosok ayahnya.

Praaaang!

Luhan melompat beberapa senti ketika mendengar bunyi sesuatu pecah dari dalam dapur. Dengan perasaan was-was, ia menghambur ke sana. Dan serpihan beling sudah mengotori lantai.

“Papa baik-baik aja, kan?” wajahnya memucat. Ia merunduk dan memeriksa kaki ayahnya. “Kenapa Papa bikin teh sendiri? Kan, bisa suruh Sehun, Pa,”

“Mungkin Sehun masih belajar. Papa nggak mau ganggu dia,” ayahnya menggumam.

Luhan menghela nafas, “Sehun? Belajar? Luhan nggak yakin, Pa.” Ayahnya hanya tersenyum sendu sebagai tanggapannya.

Sedikit memaksa, Luhan mengajak ayahnya duduk di kursi kerajaannya di ruang keluarga. “Papa duduk di sini nonton tv. Biar Luhan yang bikin teh herbalnya. Oke?” ia mengacungkan ibu jarinya dan mengedipkan sebelah matanya.

Luhan tampak begitu cekatan, ia segera menjerang air serta meracik teh herbal kesukaan ayahnya. Beberapa menit kemudian, secangkir teh sudah terhidang di depan ayahnya. Mahasiswa ekonomi itu permisi sejenak untuk melongok Sehun di kamar.

Diketuknya pintu hingga tiga kali. Karena tidak ada tanggapan dari si Pemilik kamar, maka Luhan memutar kenopnya.

Tidak terkunci.

Dipanggilnya orang yang sedang memunggunginya itu. Tapi tidak ada tanggapan sedikitpun. Berjengit saja tidak.

“Demi semua koleksi rubikku, SEHUN! NGAPAIN KAMU DI KAMAR?” pekiknya histeris setelah menarik kasar earphone yang menyumpal telinga remaja berwajah tampan itu.

Remaja itu terlonjak dan menjerit kaget sebelum akhirnya mengumpat kesal.

“Luhan! Bisa nggak teriak-teriak, kan?” sungutnya seraya mengorek-ngorek telinganya yang berdengung.

“Kamu ngapain aja di kamar? Seharusnya kamu nemenin papa di luar.” Ia memelototi pemuda yang masih cemberut itu. “Dan kenapa kamu nggak bikinin papa teh herbalnya?” suara Luhan meninggi.

“Suka-suka aku mau ngapain di kamar. Lagian mana aku tahu papa mau minum teh.” Sehun mengangkat bahunya acuh.

Makin gemas saja Luhan dibuatnya, ia pun merenggut ponsel Sehun. “Gara-gara kelalaianmu, papa sampai bikin teh sendiri dan akhirnya cangkirnya jatuh dan pecah. Dan kamu nggak dengar itu karena sibuk sama ini!” ia acungkan ponsel itu di depan muka Sehun yang secara refleks memundurkan wajahnya. “Keluar!”

“Kamu ngusir aku dari kamarku?” Sehun mempertanyakan kewarasan Luhan.

“Ke-luar!” dan dengan penekanan tegas itu, Sehun (terpaksa) mengalah dan keluar dari cangkangnya. Namun, derita Sehun belum usai.

“Luhan! Kenapa kamarku dikunci? Hei! Ini kamarku! Balikin kuncinya!” tangannya berusaha merenggut kunci dari tangan Luhan.

“Kamu baru boleh masuk kamar kalau sudah waktunya tidur.” Dan kunci itu pasrah menelusup dalam saku celana Luhan. Sehun hanya bisa mendesiskan makian yang tidak terdengar oleh Luhan yang telah menjauh.

“Papa pengin makan malam apa?” tawar Luhan bagai pelayan restoran yang ingin mendapatkan tip lebih banyak.

“Sudah lama Papa nggak makan chikcen steak, Nak,” meski ucapannya tidak terlalu lantang dan jelas, tapi Luhan memahaminya.

“Siap, Bos! Chicken steak it is.” Ia berdiri tegap layaknya sersan menghadap jendral. Sang ayah terkekeh dan terbatuk. Luhan membantu meringankan batuknya dengan menepuk pelan punggung ayahnya.

Begitu Luhan melesat ke dapur, Sehun muncul dan duduk bersila di lantai. Di dekat kaki ayahnya.

“Pa…”

“Iya, Sehun?”

“Luhan, kok, nyebelin, ya? Galak pula.” Ujarnya bersungut-sungut sambil memilin-milin ujung celana panjang katun ayahnya.

Ayahnya tersenyum dan berkata, “Luhan galak karena ada alasannya. Pasti karena perbuatanmu sendiri, Sehunnie,”

“Tapi dia bawelnya nggak tanggung-tanggung, Pa. Sehun sebel kalau dia sudah mulai ngomel-ngomel seperti ibu-ibu judes di drama-drama.”

“Sehun. Sehun. Kamu bantu kakakmu masak sana.”

“Aaaah! Sehun di sini aja, ya. Sehun pijitin kaki papa, deh.”

“Papa belum butuh dipijat, Sehunnie. Sana, bantu kakakmu!”

“Ogah banget dekat-dekat Luhan, Pa. Ntar Sehun pasti diomelin lagi.” Rengeknya manja sambil memeluk kaki ayahnya.

“Luhan? Hmm? Apa itu yang Papa ajarin ke kamu cara memanggil kakakmu?”

Sehun mengerang pelan, “Kak Luhan.”

“Bantu dia biar kita bisa lebih awal makan malamnya, papa sudah mengantuk.”

Dengan berat hati Sehun bangun dari duduknya dan menyeret langkahnya ke dapur.

Ia melihat punggung kakaknya yang sedang sibuk memotong sesuatu. Dan ia hanya berdiri di dekat Luhan. Diam.

“Ngapain kamu berdiri kayak satpam?” tegurnya agak judes.

“Mana aku tahu apa yang harus dikerjain.” Lengannya terlipat rapi di dadanya.

“Kupas bawangnya!” perintahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari pisau yang sedang memisahkan daging ayam dari tulangnya.

“Ogah kalau ngupas bawang. Yang lain aja!”

Peel the onion! Now! Or I won’t return your key.”

Lagi-lagi Sehun mengerang kesal dan dengan amat terpaksa ia mulai mengupas bawang.

Luhan juga menyuruhnya menyincang bawang tersebut. Dan hasilnya Sehun berurai air mata.

Tiga buah piring sudah terisi irisan fillet dada ayam yang berlumur saus lezat buatan Luhan.

Dada Luhan berdesir haru saat melihat binar mata ayahnya, lalu pandangannya beralih ke adiknya yang dengan lahap mengunyah makanannya dan dari mulut penuhnya itu ia memuji masakan kakaknya.

Luhan tersenyum simpul sebelum menyantap hasil olahannya.

Kepala Luhan terangkat saat mendengar dentingan berulang dari arah tempat duduk ayahnya. Dalam sekejap, selera makan Luhan menguap. Ia rasakan sesak memilin dadanya, meremasnya hingga ia kesulitan menarik nafas.

Sehun juga berhenti memotong daging ayamnya, dan matanya menatap ayahnya dan Luhan bergantian.

Luhan berdiri dan memutari meja untuk berdiri di samping ayah kandungnya.

“Luhan suapin, ya, Pa?!” bisiknya sambil mengiris daging.

“Papa bisa sendiri, Luhan.” Harga dirinya terusik.

Luhan menjauhkan piring dari jangkauan tangan ayahnya. “Apa salahnya sekali-sekali Luhan suapin Papa? Bukannya dulu Papa juga suapin Luhan dan Sehun?” ia berkilah.

“Iya, Pa. Sehun juga pengin suapin Papa.” Remaja delapan belas tahun itu mendekati kakaknya yang sudah menusukkan garpu ke irisan daging ayam dan mendekatkannya ke mulut ayahnya.

Matanya berkaca-kaca ketika menerima suapan pertama dari anak sulungnya. Sehun bertepuk tangan dan mulai merecoki Luhan. Ia merebut piring dari Luhan dan mengiris daging lagi. Kali ini ia yang menyuapkannya ke mulut ayahnya.

Mereka bergantian menyuapi sang ayah yang tercekat disekap rasa haru.

Dua bersaudara itu bekerja sama membereskan bekas makan malam mereka, sementara ayah mereka duduk di depan televisi. Menonton berita.

Sehun sudah lebih dahulu masuk kamarnya setelah menerima kuncinya kembali. Ia pun tenggelam lagi di dalam cangkangnya.

Sang kakak duduk di lantai dengan hamparan beberapa kertas dan buku tebal di hadapannya. Dahinya berkerut tatkala ada soal yang memaksa otaknya bekerja lebih keras demi mengurai soal itu.

Sesekali ia melirik ayahnya yang lebih banyak diam itu. Lagi-lagi dadanya terasa sempit bagai dihimpit dan melesak ke dalam. Luhan menahan desakan air mata yang memberontak ingin memancar keluar. Tak ia pedulikan rasa perih di bibir bawahnya yang tertusuk gigi-giginya. Ia bahkan mengindahkan rasa asin darah yang tak enak di lidahnya.

Luhan mendekati ayahnya yang duduk dengan punggung agak membungkuk dan kepala tertunduk dalam dengan mulut terbuka yang membuat air liur menyelinap keluar dan membasahi sudut bibirnya.

Perlahan dan sangat lembut, Luhan mengusap air liur yang nyaris mencapai dagu itu dengan tisu.

“Pa, Luhan antar ke kamar, yuk,” ujarnya seraya menepuk pelan bahu ayahnya yang sudah tak sekekar dan setegap beberapa tahun silam.

Agak terkejut oleh tepukan Luhan, sang ayah mengangguk dan berdiri agak terhuyung-huyung. Luhan memegangi lengannya, menuntunnya hingga memasuki kamar.

Selimut tebal sudah membungkus tubuh pria enam puluh tahun itu. Luhan mengusap pelan bahu ayahnya sebelum beranjak menjauh.

“Luhan.”

“Iya, Pa?”

“Maafin… Papa…” gumamnya. Tenggorokan Luhan tercekat. Ia tahu maksud permintaan maaf ayahnya.

“Papa nggak salah apa-apa. Dan Papa nggak usah punya pikiran yang aneh-aneh, oke?” Luhan meyakinkan ayahnya dengan sebuah senyuman tulus, “Good night, Papa,”

Ketukan di pintu membuat Sehun beranjak dari ranjang nyamannya dan membuka pintu.

“Luhan?”

Kakaknya tak menyahut, ia hanya masuk melewatinya dan duduk di tepi ranjang.

Sehun tertegun melihat ekspresi wajah Luhan yang tidak seperti biasanya.

Sorot mata pemuda itu merapuh bagai kaca yang siap pecah.

Sehun baru saja hendak bertanya, tapi Luhan menyetopnya dengan desahan nafas berat yang menyisakan kekosongan di hatinya.

Tremor papa makin parah, Sehunnie…” suaranya bergetar mengirimkan sinyal-sinyal kekhawatiran.

Tremor? Maksudmu apa, Luhan?” Luhan dapat melihat tanda tanya berterbangan di sekeliling mereka.

“Kamu nggak perhatiin gimana tangan papa gemetar terus sampai memegang sendok dan menyuapkan makanan ke mulutnya aja kesulitan?” tangis tertahan mencekik lehernya. Sehun bisa merasakan kepedihan itu.

“Papa sakit apa, Luhan?” remaja itu bersuara lagi, mendekati kakaknya.

Beberapa detik, Luhan menarik dan mengembuskan nafas berat. Kedua mata sendunya menatap wajah adik satu-satunya. Tangannya terangkat dan mengusap pipi Sehun.

“Papa kena penyakit Parkinson, Sehun.”

Sehun terkesiap tak menyangka. “Kayak Mohammad Ali, yang petinju itu?” Luhan mengangguk sekilas. “Apa papa bisa sembuh?” kali ini kakaknya menggeleng lemah seraya menggigit bibir bawahnya yang makin bergetar.

“Kenapa? Bukannya semua penyakit pasti ada obatnya?”

Luhan meremas lembut bahu adiknya, “Ini lain lagi, Sehunnie. Ini kelainan yang menyerang sistem saraf gerak.” Ada kebimbangan di suaranya. Sesuatu yang belum pernah Sehun dengar. “Aku bingung… takut…” dan setetes air mata menuruni pipinya.

“Luhan… jangan nangis…” tangannya mengusap air mata kakaknya, sementara itu, ia tak mengindahkan air matanya yang mulai menggenangi kedua matanya. “aku jadi sedih…”

Luhan terisak dan menarik tubuh Sehun. Ia benamkan wajahnya di dada kurus adiknya.

Sehun menyadari bahwa sebenarnya Luhan sangat rapuh. Meski selama ini ia terlihat tegar, kuat dan galak, tapi kenyataannya bertolak belakang.

Dengan segenap perasaannya, Sehun memeluk tubuh kakaknya dan mengusap-usap rambut serta punggung kakaknya yang bergetar karena isakan pilunya.

Menit demi menit berlalu, isak tangis keduanya mereda. Sehun mengusap sisa-sisa air mata Luhan dan mengecup dahinya.

Senyum sendu menyambut Sehun, “Sehun aku minta tolong sama kamu buat bantu aku ngerawat papa. Aku nggak sanggup kalau jalanin semua ini sendiri. Papa butuh kita, Sehun. Dan aku butuh kamu.” Ia menarik nafas sebelum melanjutkan, “Kamu bisa janji buat berubah jadi lebih bertanggung jawab?”

Sehun tercenung dengan permohonan kakaknya. Dan ia melakukannya dengan lembut, tidak menyalak galak seperti biasanya.

“Aku janji.” Tegasnya. “Aku minta maaf karena selama ini aku nggak berguna.” Tampak kesungguhan dalam ucapan Sehun. Dan itu membuat Luhan bernafas lega.

Mata Sehun berkilat nakal, “Luhan!” jemarinya menarik ujung kaos Luhan.

“Apa lagi?” keluhnya.

“Aku tidur bareng kamu di kamar papa, ya.”

Luhan menghela nafas dan tanpa berkata apapun lagi ia menggenggam tangan adiknya dan menariknya hingga berdiri.

“Yeeeeey!” pekik Sehun senang. Luhan hanya tertawa mendengus sebelum merengkuh tengkuk adiknya dan merangkulnya.

Di kamar ayah mereka, Sehun menggelar kasur lipat di lantai, dan Luhan tidur di ranjang bersandingan dengan ayahnya yang sedang pulas.

Sehun tidur menghadap ayahnya, dan kedua matanya menyusuri tiap lekuk wajah ayah kandungnya. Ia mengingat semuanya kembali. Bayangan demi bayangan kenangan yang ingin dilupakannya itu datang silih berganti. Beberapa tahun lalu ketika dirinya berurai air mata, bersimpuh memeluk kaki ibunya dan Luhan berusaha menahan koper yang hendak dibawanya.

Sehun ingat betul ekspresi ayahnya tatkala itu. Terlihat tenang. Namun, gejolak emosi tampak menari-nari di mata kelamnya. Sehun melihatnya berdiri dengan lengan terlipat di dada.

Benar-benar diam tak bersuara.

           Sampai detik ini, Sehun tak pernah mengerti sikap ayahnya yang tidak menahan kepergian ibunya.

Mungkinkah papa sudah nggak mencintai mama lagi?

Hanya pertanyaan itu saja yang menurutnya paling masuk akal.

Luhan pun sama.

Kakaknya itu tidak pernah tahu alasan kepergian ibunya dan mengapa ayahnya tidak melakukan apapun untuk mencegahnya.

Jejak-jejak roda koper yang tertinggal di depan rumah mereka tiba-tiba terhempas dan digantikan oleh memori lain.

Sehun mengingat awal  mula perubahan yang terjadi pada ayahnya beberapa waktu sebelum kepergian ibunya. Saat itu ia menyadari gerakan-gerakan motorik ayahnya mulai melambat. Sedikit gemetar saat mengangkat cangkir kopinya, ketika menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, ketika hendak mengancingkan baju, dan juga perubahan tulisan tangannya yang tak lagi sebagus biasanya.

Sehun yang saat itu masih berumur sebelas tahun, tidak terlalu memedulikan perubahan-perubahan itu. Ia hanya berpikir ayahnya sedang tidak enak badan dan lemas.

Semenjak kepergian ibunya, kondisi ayahnya makin buruk. Dan Sehun belum menyadari bahwa ayahnya menderita suatu penyakit yang tidak bisa seratus persen disembuhkan.

Ketika pengambilan hasil rapor, Sehun sempat malu ketika melihat tanda tangan ayahnya yang berantakan bagai tulisan anak kelas 1 SD. Berbicara pun semakin tidak jelas, seperti sedang berkumur. Sehun sering kesulitan memahami ucapan-ucapan ayahnya. Dan biasanya Luhan yang akan mengulang kembali perkataan ayahnya.

Sehun memaki dirinya yang begitu bodoh dan naif, juga cuek terhadap kondisi ayahnya.

Ia terus menatap otot-otot wajah ayahnya yang mengendur sehingga membuatnya tampak datar dan tanpa ekspresi. Bahkan ketika ia sedang bercanda.

Air matanya bergulir.

Ia teringat masa-masa ketika dirinya menjadi anak kesayangan ayahnya. Apapun yang dimintanya akan selalu dituruti, hingga tak jarang Luhan merasa kesal. Meski Luhan sudah sering memarahi atau bahkan terkadang bersikap agak kasar, tapi Sehun tahu kalau kakaknya itu menyayanginya.

Tidak akan pernah ia lupakan insiden pemukulan terhadap beberapa orang teman sekolahnya yang dilakukan Luhan. Ketika itu Sehun sebagai siswa baru, dan beberapa kakak kelasnya memojokkannya dan tak jarang mereka mengeroyoknya. Dan yang membuat Luhan sangat murka adalah ketika Sehun pulang dengan kondisi pelipis yang terluka dan mengeluarkan darah. Saat itu juga Luhan menarik tangan Sehun dan mengajaknya menemui orang-orang itu.

Meski wajah babak belur, Luhan berhasil melumpuhkan tiga orang cowok bertubuh lebih tinggi darinya itu. Sehun hanya bisa berdiri dengan tubuh gemetar karena takut kakaknya terluka parah.

Sehun secara refleks mengusap tengkuknya, tempat Luhan memukulnya gemas di kala itu. ‘bukannya bantuin malah nonton doang! Bego!’ ia mengumpat gemas. Sehun menyeringai sendu saat mengingat kejadian itu. Dan yang membuatnya heran, kesal sekaligus bahagia adalah ketika ia bertanya mengapa Luhan membelanya, dan kakaknya menjawab, ‘yang boleh ganggu dan bully kamu itu cuma aku, Sehunnie.’

Ya, Luhan menyayangi Sehun. Dengan cara yang aneh.

“Sehunnie?”

Suara setengah berbisik itu menyentaknya dari endapan memori masa lalunya. “Eh, Luhan,”

“Kamu nangis?” suara per berderak ringan saat tubuh Luhan beranjak dari ranjang. Cepat-cepat Sehun mengusap air matanya, “Ng… nggak.” Ia mendengar dengusan kakaknya.

Yeah, right.” Cemooh Luhan yang sudah bersiap merebahkan tubuhnya di samping adiknya. Sehun menggeser badannya, memberi Luhan cukup ruang untuk berada dalam satu kasur.

“Jangan sampai papa lihat kamu nangis, Sehun,” nafas hangat Luhan mengelus telinganya.

Ia rasakan lengan kakaknya memeluk pinggang kurusnya. “Boleh, kan, aku tidur sambil peluk kamu?”

“Ya…” dan Sehun menggenggam tangan Luhan yang menekan perutnya.

Thank’s, Sehunnie… good night.” Bisiknya lirih.

“Hmm… good night, Kakak.”

oOo

Seberkas sinar mentari yang menyusup melalui serat-serat tipis tirai membangunkan pria tua itu. Matanya berusaha menyesuaikan diri terhadap pencayahaan ruangan itu, melihat dua anak laki-lakinya tidur berdampingan dengan selimut yang sudah tak lagi menutupi tubuh keduanya. Perlahan sekali ia menahan tubuhnya dengan tangannya yang gemetar. Bangun dari posisi berbaring hingga duduk itu saja ia membutuhkan waktu lebih lama dan energi lebih besar. Ia menyadari bahwa penyakitnya tidak akan sembuh, melainkan akan bertambah parah. Namun, ia enggak membuat kedua anaknya merasa khawatir. Ia selalu mencoba menyembunyikan penyakit yang dideritanya.

Suara batuknya membangunkan Sehun. Remaja itu duduk dan menyapa ayahnya. Lalu ia membangunkan Luhan, yang membutuhkan waktu lebih dari lima menit untuk membuatnya terjaga dari tidur nyenyaknya.

“Aduuuuh! Kebelet pipis, nih. Papa lama banget, sih?” gerutu Sehun yang bergerak-gerak gelisah.

“Salahmu sendiri tadi nggak buru-buru ke kamar mandi. Kamu tahu sendiri, kan, kalau papa sekarang mandinya lama?” cetusnya seraya mengoleskan mentega ke atas roti.

Setelah nyaris satu jam, Sehun akhirnya bisa menggunakan kamar mandi.

Menu sarapan sudah terhidang di meja makan. Luhan sangat telaten meladeni ayahnya. Ia menyeduh kopi untuk ayahnya dan menyediakan koran pagi di meja. Luhan tahu betul bahwa itu sudah menjadi tanggung jawabnya semenjak ibunya pergi tanpa alasan yang jelas.

Bertahun-tahun lamanya Luhan memendam tanda tanya besar tentang keputusan ibunya melepaskan dirinya dan adiknya, juga meninggalkan pria yang menjadi suaminya selama ini. Tiap kali ia ingin bertanya pada ayahnya, saat itu pula lah ia mengurungkan niatnya. Ia menelan kembali pertanyaan yang sudah menggantung di ujung lidahnya ketika dilihatnya betapa sendu paras ayahnya. Namun, pada pagi ini, Luhan merasa bahwa mungkin sudah waktunya ia memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa penasaran yang sudah lama mengungkungnya. Yang membuatnya terjaga hingga larut malam demi menemukan kepingan-kepingan jawaban yang berserakan. Tetapi ia belum berhasil. Karena hanya ayahnya yang bisa merampungkan teka-teki di benaknya itu.

Semilir angin yang mulai menghangat itu berdesir melewati jendela dan mengelus kain tirai yang sedikit usang. Luhan duduk di kursi yang terbuat dari anyaman. Di tangan kanannya ia memegang segelas susu coklat dingin, di lantai Sehun duduk dan berkutat dengan gunting kuku. Bunyi ‘klik klik’ terdengar tiap kali kuku kaki Sehun tergunting. Senandung samar terucap dari sela bibir merah muda remaja itu. Luhan dan ayahnya terdiam menatap Sehun yang larut dalam dunianya. Sesekali si sulung melirik ayahnya yang tersenyum tenang. Ada rona kebanggaan terpancar di mata pria tua itu, yang membuat Luhan makin ingin menuntaskan rasa ingin tahunya tentang ibunya.

“Ehem… Pa,” ia meletakkan gelas setengah kosongnya ke atas meja. Sehun berhenti meng-klik kukunya yang seolah tak habis-habis itu. Ia mendongak dengan mulut sedikit terbuka.

“Ya, Luhan…” suara paraunya menyapa telinga Luhan dan Sehun.

Tampak keraguan di mata Luhan, tetapi hatinya sudah bertekad untuk bertanya tentang kebenaran. “Maaf, Pa. Luhan mungkin lancang dengan pertanyaan ini, tapi Luhan sudah terlalu lama pengin tahu tentang ini, Pa…” suaranya mengabur seiring pandangannya yang teralih ke lantai.

“Sudah waktunya…” desah pria itu. Luhan dan Sehun mengernyit dan saling tatap. “ini tentang ibu kalian.” Sambungnya seraya mencoba menegakkan punggungnya. Luhan membantunya merapikan posisi duduknya sebelum ia duduk di samping Sehun.

Dengan suara agak bergetar dan suara yang terkadang samar, terkadang lantang, ayah Luhan dan Sehun mulai menceritakan semua tentang peristiwa yang melatarbelakangi kepergian ibu mereka.

“Papa kenal mama kalian itu sudah lama. Sekitar semester tiga di universitas. Kebetulan kami di jurusan yang sama. Awalnya kami hanya teman satu tim, tapi karena seringnya kerja kelompok, lama kelamaan muncul rasa suka di antara kami. Mama kalian berasal dari keluarga yang berada, meski nggak sekaya keluarga Papa, tapi untungnya keluarga merestui hubungan kami.” Ia berhenti sejenak untuk menelan ludah. Namun, ia terbatuk sehingga Luhan harus menepuk dan mengusap lembut punggungnya. “Maaf…” gumamnya seraya mengusap mulutnya. Luhan sedih melihat ayahnya seperti itu. Untuk menelan ludah pun mulai kesulitan. Ia akan batuk-batuk karena otot-otot tenggorokan dan kerongkongannya mulai mengendur dan itu membuat proses menelan sering terganggu.

Pria tua itu melanjutkan, lebih perlahan agar tak tersedak lagi, “Kami menikah. Cukup meriah. Yang jelas kami menghabiskan bulan madu di beberapa tempat. Papa nggak akan pernah bisa lupakan betapa mesranya kami waktu itu. Kami memang rencanakan buat punya anak setelah dua tahun menikah. Kami ingin merasakan indahnya pernikahan. Dan dalam waktu dua tahun itu Papa dan mama benar-benar puas memadu kasih. Meski agak sedikit sepi, tapi kami menikmatinya. Persis seperti orang pacaran. Ke mana-mana berdua, liburan ke luar negeri, dan hampir tiap minggu Papa belikan dia hadiah. Dari kalung berliontin mutiara, cincin permata, sampai hanya karangan bunga atau sekotak coklat kesukaannya.” Jeda itu ia isi dengan menarik nafas berat. Ia tersenyum pada dua anak lelakinya yang duduk dengan lutut dipeluk dan mata berkilat-kilat penuh rasa penasaran.

“Setelah masa dua tahun itu terlewati, kami pun mulai program punya anak. Kami benar-benar giat membuat anak…”

“Aaah, Papa! Nggak usah dibahas giat nggaknya. Sehun nggak mau dengar… lalalalalala.” Si manja Sehun menutup telinganya. Ayahnya dan Luhan tertawa.

“Akhirnya di bulan ke tiga setelah usaha intensif kami, mama kalian dinyatakan hamil. Kalian bisa bayangkan gimana kami bahagia luar biasa. Terlebih lagi waktu dokter ngasih tahu kalau anak pertama kami laki-laki. Papa sampai nangis bahagia. Mama kalian bilang kalau Papa… hmm… apa itu istilah anak mudanya berlebihan?” tanyanya jenaka.

“Lebaaaaaai.” Seru Luhan dan Sehun kompak.

“Ah, iya. Lebai. Hehehe. Tapi itu belum seberapa. Papa selalu usahakan jangan sampai mama kalian kecapekan. Papa sampai sewa tenaga pembantu buat urus semua kerjaan rumah tangga. Papa rajin beli vitamin, buah dan sayur, susu juga nggak pernah absen dari daftar belanja Papa. Tiap lihat produk buat bayi, Papa langsung beli. Sampai Papa diomelin mama. Katanya Papa boros. Lho, ini buat anakku, kenapa dibilang boros? Itu yang Papa pikir. Selama sembilan bulan itu Papa selalu ada di samping mama kalian. Cinta Papa ke mama kalian itu sudah luar biasa, tapi cinta Papa yang mulai tumbuh buat bayi yang masih dalam kandungan sudah hampir nyaingin rasa cinta Papa ke mama.”

Pria itu meminta minum. Ia merasa tenggorokannya kering karena terlalu banyak bicara. Sehun yang kali ini sigap mengambilkan air minum untuk ayahnya.

Setelah berhenti beberapa menit, ayah dua pemuda itu melanjutkan, “Begitu bayi pertama kami lahir, Papa sampai nggak bisa bilang apa-apa. Rasa bahagia seolah merampok suara Papa. Bukan hanya suara yang hilang, tapi huruf-huruf pun jadi nggak terbaca. Yang Papa lihat hanya seorang bayi laki-laki tapi cantik. Mungil. Rapuh. Suci tak berdosa. Hati siapapun pasti langsung luluh dan tunduk pada pesona alamiah makhluk mungil tapi luar biasa itu.” Kedua mata kelamnya menyapu wajah Luhan yang mulai terlihat dewasa. Luhan tersipu dan tersenyum salah tingkah. Sehun meliriknya dan menyikutnya pelan.

“Iya, mungil, rapuh dan suci. Sekarang jadinya gagal tumbuh, sangar dan banyak dosa, Pa.” Ledek Sehun seraya mengibaskan poninya yang menutupi matanya. Yang diledek hanya menjitak belakang kepala Sehun dan mencoba mengacuhkan celotehan usil adiknya.

“Sehun. Yang sopan sama kakakmu.” Tegur ayahnya. Sehun menggumam maaf dan masih sempat menjulurkan lidah ke arah Luhan.

“Ayo, Pa. Lanjutin.” Pinta Luhan.

Pria itu menarik nafas dalam. “Karena kedua matanya yang besar, bikin Papa ingat sama Bambi. Tokoh dalam kartun Walt Disney. Akhirnya Papa kasih nama Lu Han. Untungnya mama kalian setuju dan nggak protes. Lalu kehidupan di rumah kami jadi ramai dan berisik dengan tangisan dan celotehan Luhan. Bayi tak berdosa itu jadi perampok. Dia rampok semua perhatian yang seharusnya Papa kasih ke mama kalian. Tiap Papa di kantor, selalu Papa sempatkan telepon ke rumah. Dan bukannya tanya kabar mama, Papa malah tanya kabar Luhan, dan apa saja yang dia kerjakan. Sebelum pulang ke rumah, Papa selalu mampir ke toko dan beli satu mainan buat Luhan. Boneka, bola, dan macam-macam. Papa sudah nggak beli hadiah lagi buat istri Papa. Hanya Luhan yang ada dalam pikiran Papa.” Ia merenung. Sorot matanya meredup, menerawang, seolah membelah partikel-partikel udara dan memaksa untuk menjelajahi masa lalunya. Luhan dan Sehun larut dalam keheningan itu. Hening yang menguras emosi. Perasaan yang mati-matian berusaha ia enyahkan. Namun, demi mengikis rasa keingintahuan anak-anaknya, ia pun bergumul lagi dengan masa lalunya.

“Di ulang tahun pertama Luhan, Papa bertengkar sama mama. Awalnya Papa nggak tahu maksudnya apa. Kenapa mama kalian marah? Dia bahkan bawa Luhan pergi ke rumah ibunya. Ke rumah nenek kalian. Papa sampai nangis berhari-hari karena nggak ketemu maupun dengar suara Luhan.”

“Mama cemburu sama Luhan, Pa.” Suara parau Luhan menyeruak jeda yang dibuat ayahnya.

Ayahnya mengangguk dan tersenyum lemah. “Iya. Mamamu cemburu sama kamu, Luhan. Awalnya Papa pikir itu hanya akal-akalan dia buat cari perhatian Papa. Tapi ternyata memang dia cemburu. Dia yang selama masa pacaran sampai nikah dua tahun selalu jadi pusat perhatian Papa, mendadak jadi diduakan setelah kehadiranmu, Nak. Papa memang salah. Tapi salahkah jika seorang ayah mencintai anaknya melebihi ia mencintai istri bahkan dirinya sendiri?” sebuah pertanyaan retoris ia lontarkan pada dua pria muda di hadapannya.

“Papa berusaha ngasih perhatian ke mama kalian. Biar adil. Syukurlah kehidupan kami jadi membaik. Mama kembali ke pelukan Papa, begitu pula Luhan. Setelah Luhan berumur tiga tahun, dan mulai merasa kesepian karena nggak ada teman bermain, maka kami putuskan untuk menambah satu anak lagi. Kami pun merencanakan semuanya secara matang. Akhirnya setelah proses yang nggak terlalu lama, mama kalian dinyatakan positif. Dan untuk kedua kalinya, dia mengandung bayi laki-laki. Dalam pikiran Papa, wah, Luhan dapat teman, nih. Teman main bola dan mobil-mobilan.”

“Ternyata malah suka mainan boneka barbie. Hahahaha.”  Luhan membalaskan dendamnya. Sehun cemberut dan melirik tajam kakaknya.

“Hahaha, Luhan. Jangan usilin adikmu.”

“Iya, Pa.”

“Pasti rumah makin ramai, ya, Pa, setelah Sehun lahir. Bayi yang cakep, cool dan kece.” Sehun memuji dirinya sendiri.

“Mana ada bayi cool? Ngawur.” Protes Luhan yang gemas dengan adiknya. Pria beruban itu terkekeh melihat kedua anaknya saling berdebat.

“Sudah. Sudah. Mau dengar lanjutannya, nggak?”

Dua pemuda itu menegakkan punggung dan bersiap menyimak lagi. “Siap, Pa.” Seru keduanya.

Bersama kekehannya, sang ayah melanjutkan riwayat masa lalunya. “Ketika Sehun hadir di dunia ini, Papa lihat jelmaan seorang malaikat mungil yang begitu putih bersih dan luar biasa sempurna. Luhan jangan usilin adikmu! Saat itu kebahagiaan Papa seolah sudah terpenuhi. Seorang istri yang cantik, dua anak yang begitu lucu menggemaskan. Apa lagi yang Papa perlukan?” ia bertanya tidak untuk dijawab. Luhan dan Sehun membisu. Mereka mulai merasakan konflik utama yang hendak dimuntahkan ayah mereka.

Mata yang telah menua itu kembali mengabur. “Papa pikir… Papa sudah berbuat yang terbaik bagi keluarga ini. Cinta Papa nggak habis-habis Papa curahkan buat dua anak Papa. Justru itulah kesalahan fatal Papa. Cinta buta Papa pada kalianlah yang bikin mama kalian cemburu. Papa lebih sering tidur di kamar kalian daripada di kamar sendiri. Sering lupa hari ulang tahun mama kalian dan jarang beli hadiah untuknya. Oh, Papa sangat mencintai mama kalian. Sampai detik ini sekalipun. Tapi Papa kurang pintar mengelola rasa cinta Papa yang terbagi itu.” Kekosongan jeda mengurung tiga laki-laki itu dalam pikiran masing-masing.

Luhan menggeser duduknya dan menggenggam tangan ayahnya yang mengeriput. “Pa…” bisiknya tertahan ketika ia melihat setetes air mata menggulir jatuh menuruni pipi ayahnya.

Pria tua itu menggeleng pelan dan tersenyum. “Ini memang berat, Nak. Tapi kalian harus tahu semuanya.” Dengan tangan gemetar ia mengusap air matanya. “Papa nggak ingat kapan tepatnya kondisi Papa melemah. Awalnya mama kalian nggak perhatian. Tapi semakin lama, gerakan Papa semakin pelan dan gemetar. Mau angkat cangkir saja mulai kesulitan. Mama kalian mulai sadar ketika tulisan Papa berantakan dan Papa kancingin satu kancing saja butuh waktu lebih dari lima menit. Dari situ Papa baru berani periksa ke dokter, dan saat itulah Papa dinyatakan menderita Parkinson. Papa sembunyikan penyakit Papa dari keluarga. Tapi lama kelamaan mereka akhirnya tahu juga.”

Sehun beberapa kali mengusap air matanya yang membandel ingin menluncur bebas membasahi pipinya. Ia berusaha terlihat tegar dan kuat. Padahal hatinya sudah remuk redam mendengar betapa menderitanya batin ayah mereka yang ditinggal pergi istrinya. Luhan melirik adiknya, dan ia tersenyum bangga dalam hati. Sehun mulai mendewasakan diri, dan mencoba menjadi anak yang baik.

“Mama kalian bukan orang yang bodoh, Luhan, Sehun. Mama kalian nyari tahu tentang penyakit ini dan dia tahu kalau penyakit ini termasuk penyakit degeneratif, yang artinya penyakit yang semakin lama akan bertambah parah. Ada masanya nanti di mana Papa nggak bisa ngomong lagi. Sekarang saja sudah agak kesusahan. Apalagi nanti. Papa nanti nggak bisa jalan dan harus pakai kursi roda. Itupun kalau Papa belum dipanggil Yang Maha Kuasa.”

“Papa… j-jangan bilang gitu.” Suara Sehun tertahan dan tercekat, seperti ada yang menyumbat tenggorakannya.

“Nak, cepat atau lambat, kita semua pasti akan meninggal. Karena itu, Papa ceritain ini semua biar kalian nggak salah paham dan membenci mama kalian. Karena kalau terjadi sesuatu pada Papa, maka kalian akan ikut mama.”

“Iya, Pa. Luhan ngerti maksud baik Papa. Tapi Luhan dan Sehun berharap Papa panjang umur.” Ucapnya bijak seraya menatap adiknya yang pasrah membiarkan air matanya membanjiri wajah tampannya.

“I-iya, Pa.” Sehun menimpali.

“Papa sudah capek bicara… tapi Papa harus selesaikan cerita ini.” Ia menepuk pelan kepala Luhan dan Sehun. “Karena takut lihat kondisi Papa yang akan memburuk, mama kalian minta ijin untuk pergi. Papa nggak kaget. Karena mama kalian memang bukan tipe wanita yang sabar dalam menghadapi cobaan. Dan mengurusi pria tua penyakitan itu adalah hal terberat baginya.”

“Terus, Papa bilang apa?” Luhan bertanya.

“Papa bilang, ‘silakan pergi, tapi jangan bawa anak-anakku. Mereka adalah jiwaku, hidupku dan masa depanku. Mereka bagian dari tubuhku. Darah dagingku. Kamu hanya seorang wanita yang mencintaiku, tapi nggak mampu mencintaiku apa adanya. Dan aku relakan kamu pergi.’. Itu yang Papa bilang ke mama kalian. Dan kalian…”

“Nangis dan berusaha nahan mama biar nggak pergi.” Bisik Luhan parau, gumpalan isak tangis kekecewaan dan kesedihan menyumbat tenggorokannya.

“Tapi… mama tetap pergi.” Kesedihan terdengar jelas dalam suara Sehun.

“Iya… dia pergi tapi bukan berarti dia lupain kalian. Nyaris tiap hari dia telepon dan nanyain kabar kalian. Bahkan dia beberapa kali datang ke sekolah kalian demi bisa memantau kalian di sekolah. Tiap ulang tahun kalian, selalu dia kirim kado. Dan tanpa kalian sadari, mama kalian sering ngikutin kalian. Yaaa, semacam stalking gitu. Intinya permasalahan apapun yang menimpa kalian, dia tahu.” Seiring ucapan-ucapannya, ia memerhatikan perubahan air muka kedua anaknya yang takjub, tidak percaya sekaligus terkejut. Selama ini mereka mengira ibu mereka tidak mengetahui atau bahkan ingin tahu tentang anak-anaknya. Ternyata persepsi mereka salah. “Mama mencintai kalian, Luhan, Sehun. Jangan membencinya.”

“Jadi kado-kado itu semua dari mama, dan Papa bilangnya itu dari Papa?” Sehun berusaha menyangkal kenyataan itu. Tetapi ia harus menelan kekecewaannya, karena ayahnya mengangguk dan mengiyakan.

“Papa minta maaf, Nak. Tapi itu permintaan mama kalian. Dan Papa sudah berjanji.” Semburat penyesalan membayangi wajahnya.

Luhan mencoba menenangkan adiknya yang mulai terbawa emosi kekecewaannya. “Iya, Pa. Luhan ngerti, kok. Sehunnie… stop crying.”

“Kenapa Papa nggak tahan mama? Bujuk dia biar nggak ninggalin Papa?” Sehun yang kala itu memang dekat sekali dengan ibunya itu menuntut jawab dari ayahnya.

Lelaki berumur itu terpekur meresapi pertanyaan lugas anaknya.

Mengapa ia tak menghentikan istrinya?

Mengapa ia tak memohon agar istrinya tetap tinggal?

Mengapa ia tak membujuknya semaksimal yang ia mampu?

“Pa?” Sehun mengira ayahnya tertidur dalam kondisi mata terbuka.

“Hmm? Oh, ya… maaf, Nak. Karena… Papa terlalu mencintainya…”

“Ah, Papa aneh. Kalau papa cinta mama, harusnya papa pertahankan mama, dong. Masa dilepas begitu aja?” protes Sehun tak terima dengan alasan ayahnya.

“Sehunnie… bagi Papa mencintai itu bukan untuk mengekang atau mengikat. Mencintai adalah kemampuan untuk membebaskan. Melepaskan dan merelakan.”

“Tapi, Pa…”

“Kamu belum bisa mengerti makna mencintai secara hakiki, Sehun. Suatu saat nanti kamu bakal tahu. Dan Papa mencintai mamamu. Papa nggak mau lihat mama merasa terkekang. Papa juga tahu kalau mama mencintai Papa, tapi pergolakan batinnya terlalu kuat, akhirnya mama menyerah dan meninggalkan Papa.”

Luhan dan Sehun mulai mengerti maksud ayah mereka, meski belum sepenuhnya memahami ketegaran ayah mereka dalam mengalami semuanya.

“Hanya satu yang nggak bisa Papa relakan adalah, kalian direnggut dari hidup Papa. Kalian sudah seperti udara yang Papa hirup. Seperti aliran darah yang mengisi nadi Papa. Kalian itu alasan Papa ingin tetap hidup.” Air matanya merebak lagi. Luhan dan Sehun sudah tak henti-hentinya mengusap pipi dan hidung mereka. “Cinta Papa ke kalian berbeda dengan cinta Papa terhadap mama kalian. Papa bisa melepas istri Papa, tapi nggak mungkin bisa melepaskan kalian. Kita seolah terikat seutas tali transparan. Ah, Papa jadi makin ngelantur ngomongnya.” Ia menghela nafas berat. Terdiam sejenak untuk menelan ludah dan menarik nafas panjang berkali-kali.

Dua pemuda itu duduk tenang, menunggu kelanjutan cerita ayah mereka. Sesekali mereka saling melirik dan tersenyum samar. Ruangan itu terasa sedikit suram karena atmosfer yang menyelubungi mereka. Rasa rindu berdetak lembut dalam nadi tiga laki-laki itu. Mereka merindukan wanita yang terlalu takut menghadapi masa depan itu.

“Luhan, Sehun… apa kalian tahu hal apa yang paling membahagiakan, Papa?” ia menangkupkan kedua tangannya dan menatap kedua anaknya bergantian.

Dua anak laki-lakinya menggeleng pelan.

“Papa paling bahagia kalau lihat anak-anak Papa akur dan rukun. Saling menyayangi, saling menolong, saling menghargai.” Suaranya mengambang.

“Luhan,”

“Iya, Pa,”

“Kamu sebagai anak tertua, sebagai kakak, harus bisa jadi teladan yang baik buat adikmu. Setelah Papa nggak ada, kamu yang jadi kepala keluarga, Nak. Jangan galak dan kasar sama adikmu. Dia bukan anak kecil lagi. Ajak bicara layaknya orang dewasa. Komunikasi, Nak.” Ia menasehatinya. Menggiringnya agar menjadi kakak yang lebih baik bagi adiknya.

“Iya, Pa. Tapi Sehun yang suka keras kepala, Pa.” Luhan menyanggah. Ayahnya mengangguk. Dan mengalihkan pandangannya ke arah anak bungsunya.

“Sehunnie… kamu harus yang sopan dan hormat sama kakakmu. Ikuti apa yang dia suruh, selama itu bukan perbuatan buruk. Jangan membantah. Kalau kurang setuju, ya dibicarakan baik-baik. Kalian orang berpendidikan, jadi bersikaplah layaknya orang berpendidikan. Mulai detik ini, kalian harus berjanji nggak akan berantem lagi.” Tegasnya seraya menatap kedua anaknya bergantian. “Luhan, kamu hanya memiliki Sehun. Dan Sehun, kamu hanya memiliki Luhan. Kalian saling memiliki. Papa sudah tua, umur Papa nggak lama lagi. Kalian memang masih mempunyai ibu, tapi kalian berdua saling membutuhkan. Jadi, jangan sampai kalian nggak rukun dan saling membenci. Jangan sampai itu terjadi.” Lanjutnya.

Luhan dan Sehun bertatapan. Lalu bersama menoleh ke ayah mereka dan mengangguk mantap. “Kita janji, Pa. Kita nggak akan berantem lagi.” Mereka bersumpah untuk selamanya rukun dan saling menyayangi.

Sudut matanya berkerut ketika pria tua itu tersenyum sepenuh hati. “Papa bangga pada kalian.”

Seketika Luhan dan Sehun memeluk ayah mereka. “Kita bahagia punya ayah seperti Papa.” Bisik Luhan dan Sehun mengiyakan.

Tanpa anak-anaknya sadari, ia melirik ke arah jendela, tersenyum dan mengangguk sekilas. Wanita di luar itu balas tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya ke arahnya.

Semua baik-baik saja, istriku…

Ungkapnya dalam hati.

Wanita itu pergi meninggalkan halaman rumah penuh kenangan itu dengan senyum merekah manis di wajah cantiknya.

THE END

 

 

A/N : What do you think, readers? Is it good? Bad? Or wierd?

Again, tentang penyakit Parkinson, aku tahu betul seperti apa. Cuz my father has it. :’(. Aku nggak tega liat kondisinya yang makin menurun. Meski karakternya nggak seperti ayah Luhan dan Sehun di FF ini, tapi he is still my father. Well, aku sebenarnya nggak akur sama adik-adikku. Jadi FF ini bisa jadi suatu impianku. Hehehe. Thanks for reading. Semoga cerita kali ini bisa menginspirasi atau merubah nasib seseorang.

 

I Love you all.

 

Advertisements