@@@@

 

Previously….

Junhyung bertekad akan menemukan pembunuh itu dan membalaskan dendam sahabatnya. Namun, ia tak tahu siapa yang akan ia hadapi nanti. Bahkan ia tak tahu tentang kondisi Kevin yang kedua matanya di congkel dengan sadis.

Akankah ia bisa selamat dari kekejaman pembunuh itu? Baginya saat ini adalah segera menemukan Kiseop sebelum pembunuh itu menemukannya.

 

@@@@

 

Doojoon, masih nanar menatap jasad Kevin, ia mencoba berdiri namun tubuhnya limbung dan terjatuh lagi. Dengan merangkak perlahan, memaksa lututnya menyeret tubuhnya ke tubuh lunglai adiknya. Tangannya merasakan kasarnya aspal yang membuat telapak tangannya lecet, namun ia tak peduli, matanya tertancap pada wajah tanpa mata itu. pandangannya kabur, karena air mata terus saja mengalir deras.

Ia bersimpuh di samping Kevin yang tak bernyawa, ia mengangkat kepalanya dan mendekapnya di dadanya. Ia menangis pilu, siapapun yang mendengarnya pasti kan merasakan betapa hancur hatinya. Rasanya bagai dicabik-cabik.

 

Klontaaaang…..

 

Isak tangis Doojoon segera terhenti, ia mengedarkan pandangan, ia yakin baru saja mendengar suara kaleng jatuh. Jantungnya berdebar. Apakah itu pembunuhnya?, batinnya. Ia mengangkat tubuh Kevin dan menggendongnya. Kedua matanya terus meneliti tiap sudut jalan itu. Ia berani bersumpah ia telah melihat sekelebatan ujung hoodie di balik salah satu rumah reyot, persis seperti yang dilihatnya di etalase toko beberapa waktu lalu. Amarah dan dendam menyeruak di sekujur tubuhnya. Dengan gigi terkatup, ia berjalan menjauh dari jalan itu.

Doojoon berusaha menemukan teman-temannya, ia menyusuri jalanan kosong, sesekali ia menengok ke belakang tiap kali mendengar suara mencurigakan. Aroma anyir darah menggelitik hidungnya tiap kali angin berhembus ke arahnya. Ia ingin segera meletakkan jasad Kevin, namun ia bertekad akan menguburkannya secara layak.

Tak terasa senja telah menggelayut di ufuk senja, Doojoon masih belum menemukan kawan-kawannya, namun dari kejauhan ia dengar suara orang sedang beragumen. Ia percepat langkahnya dan menghampiri sumber suara itu.

 

“Junhyung?” gumamnya.

“Hei, Junhyung. Itu… Doojoon.” Gikwang menyikut rusuk Junhyung dan mengedikkan dagunya ke arah Doojoon.

“Doojoon? I-itu…” Junhyung menunjuk sosok yang digendongnya.

“Kevin…. Dia… Dibunuh.” Suara Doojoon terdengar aneh, seolah ada yang tersangkut di tenggorokannya.

“Bawa masuk! Ternyata bukan cuma Kevin. Alexander juga dibunuh. Pembunuh itu masih berkeliaran. Kita harus bisa temuin pembunuh itu.” geram Junhyung.

Doojoon mengangguk pelan dan membawa Kevin ke dalam, meletakkan tubuhnya di atas meja di samping jasad Alexander. Tiba-tiba Doojoon melupakan perseteruannya dengan Junhyung. Ia menghela nafas panjang, menatap dua jasad itu, lalu dengan langkah gontai ia menghampiri Junhyung.

 

“Junhyung. Kita harus cari pembunuh itu. sepertinya… Kita harus lupain permasalahan kita. Semua ini nggak akan terjadi kalau aku nggak sok jagoan dan nantangin kamu.” tukasnya dengan penuh penyesalan.

“Bukan! Ini semua bukan sepenuhnya kesalahanmu. Tapi aku juga bersalah. Aku yang usulin ke tempat sialan ini.” seru Dongwoon.

“Sudah, cukup! Masalah ini nggak akan selesai kalau saling nyalahin. Sekarang lebih baik kita cari pembunuh itu. Atau…. Kita pergi dari sini, begitu ada sinyal, kita langsung lapor polisi.” Kibum ikut menimpali.

Junhyung menanyakan keberadaan teman-teman Doojoon, lalu bersama mencari mereka. Junhyung khawatir akan menemukan jasad teman-teman Doojoon, namun ia hanya menyimpannya dalam hati. Ia tak ingin menimbulkan kepanikan.

 

Langit semakin gelap, terdengar suara-suara binatang malam dari kejauhan. Namun mereka tak menemukan keberadaan teman-teman Doojoon. Meski lelah sudah menguasai tubuh dan pikiran mereka, Doojoon bersikeras hendak menemukan teman-temannya.

 

Mereka berjalan semakin jauh ke dalam kota itu. Penerangan mereka dibantu dengan terangnya sinar bulan purnama, dan senter yang mereka bawa dari rumah. ranting-ranting pepohonan membentuk bayangan-bayangan aneh dan mengerikan, belum lagi pikiran akan adanya pembunuh berdarah dingin yang sedang mengintai mereka dari suatu tempat.

 

@@@@

 

Dari balik jendela sebuah gedung tua, ia melihat Doojoon, Junhyung, dan yang lainnya sedang berjalan melewati tempat di mana ia disekap. Yoseob mendengus dan mencoba berteriak, namun suaranya teredam kain yang menyumpal mulutnya, pergelangan tangannya lecet karena gesekan tali yang mengikatnya. Matanya terasa panas saat air matanya menetes, melebur bersama darah yang mengucur dari pipinya yang terluka akibat sayatan pisau. Tubuhnya terikat erat pada kursi kayu yang dirapatkan ke dinding. Yoseob semakin panik saat melihat si pembunuh itu mendekatinya. Sebilah pisau di tangan kanannya berkilau tertimpa sinar bulan yang masuk melalui celah jendela. Ia terkekeh. Suaranya menimbulkan kengerian luar biasa pada diri Yoseob.

 

“Kamu mau ikut mereka, huh? Tenang saja, mereka tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini.” bisik pria bertubuh kekar itu kepada Yoseob.

Yoseob tak berhenti berusaha melepas ikatan dari pergelangan tangannya, namun pria itu mengikatnya terlalu kuat. Dengan sisa tenaganya, Yoseob menggeram, menggoyangkan tubuhnya hingga kursi itu terangkat beberapa inchi. Tapi semua itu sia-sia, saat ia melihat pisau itu mendekatinya, mengancamnya. Ia menggigil saat dinginnya pisau menyentuh pipi halusnya, goresan tajam menyayat pipi kirinya menimbulkan rasa perih. Ia rasakan cairan hangat merembes dari luka memanjang itu. Ia menggeram lagi hingga tenggorokannya nyeri.

Tapi semua reaksinya itu semakin membuat pria misterius itu bagai menemukan suatu permainan yang mengasyikkan. Ia torehkan luka lebih dalam lagi di pipi Yoseob. Suara jeritan tertahan membuatnya tersenyum lebar. Perlahan ia menjauh, menghilang dalam kegelapan. Yoseob bernafas lega. Rasa perih dan sakit di pipinya membuatnya agak bersyukur, setidaknya ia masih bisa merasakan sakit yang menandakan ia masih hidup.

Ia menengok lagi ke luar jendela, mereka sudah pergi. Tak menyadari bahwa ia terperangkap di sana. Kelegaannya hanya bertahan sejenak, karena pria kejam itu muncul lagi, namun kali ini ia tak membawa pisau, melainkan sebuah tang. Yoseob menelan ludah. Berbagai macam pikiran mengerikan berkecamuk dalam kepalanya. Apa yang akan dilakukan orang gila itu? batinnya dalam kepanikan.

Dengan seringai dingin di wajahnya, pria itu menghampiri Yoseob. Ia memainkan tang di depan muka Yoseob.

Yoseob terbelalak ngeri saat menyadari apa yang akan dilakukan orang itu. Ia meronta ketika dilihatnya tang itu mendekati jari kelingkingnya. Ia menggenggam tangannya, berusaha menyembunyikan kuku-kukunya. Pria itu justru memaksanya membuka tangannya, dan menahannya. Ia rasakan nyeri yang sangat menyiksa saat ujung tang menyapit ujung kuku kelingking kanannya, jarinya seolah ditusuk-tusuk dan dicabik-cabik, darah mengucur dari sela-sela kukunya yang sudah setengan terlepas. Ia menyentakkan kepalanya ke belakang dan ke depan berkali-kali, jeritannya membuat tenggorokannya kesakitan, namun tak suara yang terdengar keluar.

Pria itu terkekeh dan mengangkat ujung tangnya untuk menunjukkan kuku Yoseob yang tercabut. Rasa mual menyerang Yoseob saat ia melihat jari tanpa kukunya yang berlumuran darah.

 

“Ini baru satu kuku. Masih ada sembilan kuku lagi yang perlu dicabut.” Ujar pria itu.

Yoseob menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air mata berderai membasahi kedua pipinya, ia merasa bahwa ia akan mati malam ini. Tak akan ada yang menemukannya hingga jasadnya membusuk dan menjadi kerangka. Pikiran-pikran mengerikan itu membuatnya makin putus asa.

“Nggak mau dicabut lagi kukunya? Mau mati lebih gampang dan cepat? Oke. Kan masih ada korban-korban lainnya yang nunggu untuk aku siksa. Hehe… Any last wish?” tanya pria kejam itu sebelum ia mengeluarkan pisau tajamnya dan menempelkannya ke kulit leher Yoseob.

Yoseob menggeleng. Ia bermaksud mengatakan agar ia dibebaskan, namun pria itu justru menggoreskan luka di lehernya. Yoseob memekik, meronta saat merasakan pisau tajam itu merobek kulit lehernya yang tipis, mengenai urat nadinya dan darah hangat menyembur dan mengenai wajah pria itu. Ia terbatuk-batuk sebelum akhirnya matanya menatap kosong pria di depannya.

Dengan tenang, pria itu mengusap darah yang terciprat di wajahnya dengan kain bekas menyumbat mulut remaja berwajah anak-anak itu.

 

@@@@@

 

“Junhyung. Aku mau buang air bentar, ntar aku nyusul.” Ujar Dongwoon seraya memisahkan diri dari rombongan.

Ia mencari semak-semak yang agak tertutup bayang-bayang pepohonan gersang di sekitarnya.

Setelah menuntaskan hajatnya, dengan perasaan lega ia mengancingkan kancing celana jeansnya. Baru saja ia membalik tubuh tingginya, tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan membekap mulutnya. Ia meronta. Namun ia tersandung akar pohon yang mencuat dari dalam tanah dan kehilangan keseimbangan. Dengan mudahnya pria asing itu menyeret tubuh Dongwoon dan menariknya berdiri dengan paksa.

Dongwoon berusaha melepaskan diri. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi suaranya bagai tertahan di tenggorokannya. Ketika ia dipaksa berdiri dan didorong ke dinding yang keras dan kasar itu, ia mendengar suara langkah kaki. Dan ia mendengar suara Junhyung yang sedang mencarinya. Namun, mulutnya dibekap dengan kuat. Matanya terbelalak dan kakinya menendang liar. Seketika ia merasakan perutnya dihantam kepalan tangan dengan sangat kuat hingga matanya berkunang-kunang.

Tak sampai sedetik berikutnya ia merasakan tangan pria itu mencekik lehernya dan memuntirnya hingga ia mendengar bunyi kemeretak dan nafas terakhirnya lolos begitu saja.

Tubuhnya roboh ke tanah. Pria itu terkekeh keji dan menyeret tubuh cowok tampan itu ke balik gedung dan meninggalkannya begitu saja.

 

@@@@@@

 

“Guys, Dongwoon, kok, lama banget, sih?” tanya Kiseop yang tiba-tiba muncul dari balik semak-semak.

“Aku nggak tau. Mungkin belum kelar, kali,” celetuk Kibum sekenanya.

Gikwang terlihat khawatir, dan ia pun meminta Junhyung untuk mencari Dongwoon. Akhirnya mereka berpencar dan mencari teman mereka yang tak kunjung muncul itu.

 

@@@@@@

 

“DONGWOON!!! JUNHYUNG. BURUAN KE SINI!!” jerit Gikwang saat melihat tubuh jangkung Dongwoon tergolek tak bernyawa. Ia tak mampu menangis. Ia terlalu terkejut dan ketakutan. Matanya nanar mencari keberadaan si pembunuh itu.

Tak lama ia melihat Junhyung muncul dari balik bayangan gedung yang hampir rubuh itu.

“Bangsat!!!! Apa sih maunya bajingan itu?” maki Junhyung dengan tangan terkepal. Lalu dengan bantuan Gikwang, ia mengangkat tubuh Dongwoon. Dan membawanya ke tempat yang lebih pantas, daripada tergeletak di tanah.

 

@@@@@@

 

Pria misterius itu terus saja menyiksa dan membunuh para cowok itu. Tinggallah Doojoon dan Junhyung. Mereka sudah sangat lemah. Perut lapar dan haus hingga mereka hampir pingsan saking lemasnya.

Tapi mereka sedang berhadapan dengan pembunuh itu. Mata mereka hampir lepas saking lebarnya mereka melotot.

“Ki-Kiseop?” desis Junhyung saat melihat Kiseop dengan sebilah pisau di tangan kanannya. Yang meneteskan darah segar.

“Ya. Kenapa? Nggak nyangka, ya?” seringainya dingin.

“Kenapa kamu bunuh temen-temenmu sendiri?” tanya Doojoon dengan suara bergetar penuh dendam.

“Kalian nggak inget rupanya. Kamu. Junhyung, sudah bunuh adikku. Adik kesayanganku. Dan kamu. Doojoon. Kamu nge-bully adikku sampe dia depresi. Aku Cuma pengen ngasih pelajaran buat kalian. Terima kasih buat kakakku yang mau bantuin aku hukum kalian.” Jelasnya sambil mondar-mandir memainkan pisau di tangannya.

“Adikmu? Sejak kapan kamu punya adik? Bukannya kamu anak tunggal?” tanya Junhyung dengan dahi berkerut.

“Aku sengaja rahasiain semua itu. aku punya adik. Dia agak terbelakang mentalnya. Kalian inget ada anak SMP yang suka nunggu di depan sekolah kita? DIA ITU ADIKKU! Dia nungguin aku. Tapi sama kalian justru dikerjain. Hati kalian udah kayak batu.”

“Apa? Anak itu adikmu?” Doojoon meragukan penjelasan Kiseop.

“Ya. dia itu Dongho. Adikku.” Tegas Kiseop.

Tiba-tiba dari arah timur muncul seorang cowok dengan tubuh tinggi dan kekar. Ia mendekati Kiseop.

“Kenalin. Ini kakakku. Eli. Dia yang bantu aku selama ini.”

 

Junhyung dan Doojoon sudah terlalu lelah untuk menerima semua kenyataan yang tak masuk akal itu. pertama mereka tak menyangkan bahwa Kiseop adalah dalang di balik semua pembunuhan sadis itu. Kedua, pernyataan Kiseop tentang adik kandungnya yang mereka aniaya waktu itu. dan tiba-tiba muncul sesesosok yang ternyata adalah kakak Kiseop.

 

Tak terelakkan lagi, Doojoon dan Junhyung harus menyelamatkan hidup mereka dari dua pria itu. Namun, Eli dan Kiseop sudah maju dengan senjata masing-masing dan mulai menyerang Junhyung dan Doojooon.

Mereka bertarung demi nyawa mereka. Junhyung terluka. Perut bagian kirinya tersayat pisau tajam Kiseop. Doojoon tersungkur dan perut serta punggungnya dihujani tendangan Eli.

Junhyung mengambil sebuah batu dan berusaha menyerang kepala Kiseop saat pisau tajam itu menusuk perutnya. Ia berhasil memukul kepala Kiseop dan membuat cowok yang dikiranya teman baiknya itu berdarah dan terhuyung-huyung hingga akhirnya jatuh.

Eli dan Doojoon masih bertarung. Doojoon sepertinya mendadak mendapat kekuatan dan berhasil merobohkan Eli dan memukulinya hingga cowok kekar itu pingsan.

Dengan terengah-engah, Doojoon mendekati Junhyung yang terluka dan kehilangan banyak darah. Ia mencoba membantu cowok itu berdiri dan berdua berjalan tertatih-tatih menuju mobil mereka.

Sesampainya di sana, ternyata ban mobil mereka kempes. Sebuah sayatan panjang terdapat di ban mobil mereka. Dengan pasrah mereka masuk mobil dan duduk diam.

Darah terus merembes dari luka Junhyung. Doojoon hanya mampu menekan perut Junhyung dengan kemejanya, untuk mengurangi keluarnya darah.

 

@@@@@@

 

“Doojoon. Kita makan dulu, yuk.” Ajak Junhyung.

“Yuk. Makan di sini aja, ya?”

Berdua memasuki sebuah restoran.

“Kami pesen secangkir kopi, dan dua buah waffle.” Pesan Junhyung pada pelayan.

“Hello! Kami pesen sarapan.” Ulang Doojoon saat pelayan itu tak mengindahkan mereka.

“Junhyung, itu kenapa, sih? Kayak nggak liat kita aja.” Gerutu Doojoon.

 

Junhyung merasakan sesuatu yang aneh. Ia berjalan dan menghampiri seorang pelayan dengan rambut terikat tinggi. Namun, pelayan itu hanya melewatinya begitu saja. Seolah Junhyung tak ada di depannya.

 

“Doojoon! Sejak kapan kita ada di sini? Kita ke sini naik apa? Dan lukaku gimana?” ucapnya seraya mengangkat kaosnya dan melihat tak ada luka di perutnya.

“Ma-maksudmu apa, Junhyung?”

“Kita… Kita sudah matikah?”

 

“Nggak mungkin!” ia menyangkal tapi ia juga merasakan keganjilan. Sejak mereka masuk, tak seorang pun yang menyadari kehadiran mereka. Dan pelayan tadi tak melihat mereka. Benarkah mereka sudah mati dan menjadi hantu?

 

 

 

THE END

 

Advertisements