@@@@

 

A/N : Ini FF udah lama banget, di post di FB tanggal, 11 des 2011. Daripada membusuk di FB dan nggak ada yang baca lagi, jadi aku putusin buat post juga di sini. Disukai ya syukur alhamdulillah, gak disukai yaudah gak apa-apa. Hehehe. Bebas ini.

Cast U-Kiss dan B2ST. Thriller. Rada sadis. Absurd, mungkin alur atau plotnya nggak relevan, harap maklum, masih amatiran waktu nulis ini. Dan dialognya terlalu banyak. Hahaha. But enjoy aja, deh.

 

@@@@@

 

 

Kisah ini dimulai dari salah satu sekolah yang cukup menjadi sorotan media setempat. Sekolah yang hampir selalu bermasalah. Sebuah sekolah menengah atas yang terkenal akan kebengalan siswa-siswanya. Di sekolah itu terdapat beberapa geng, yang gemar menimbulkan kekacauan, baik di dalam maupun di luar sekolah.

Tak sedikit warga sekitar yang mengajukan protes dan keluhan terhadap sikap para siswa sekolah itu.

Para siswanya tak jarang ditangkap dan ditahan pihak kepolisian, namun mereka tak pernah jera. Masalah sepele bisa menjadi sangat besar, hingga terjadi perkelahian antar geng.

Ada dua geng paling terkenal di sekolah ini. Geng yang dipimpin oleh seorang siswa yang dikenal dengan sikap dingin dan kejam, dialah Junhyung. Yang oleh para temannya di panggil dengan julukan The Joker. Bukan karena dia suka melawak, tapi karena kesadisannya mengingatkan kita akan musuh Batman, yaitu

Joker.

 

Junhyung seorang pemuda ambisius, perfeksionis, dan sangat setia kawan. Namun, sekalinya ia bertindak kejam, maka ia tak segan-segan menyiksa seseorang hingga hampir mati. Para pengikutnya sangat segan padanya, tapi mereka menyayanginya.

 

Kawan-kawannya adalah Kibum, Gikwang, Dongwoon serta Kiseop dan Alexander. Mereka sangat loyal kepada Junhyung. Biasanya mereka ikut melakukan aksi penyerangan terhadap geng saingan mereka, yaitu geng yang dipimpin oleh Doojoon. Yang juga sama kejamnya dengan Junhyung.

 

Junhyung vs Doojoon

 

 

^V^V^V^V^V^V^V^

 

 

Hari ini, Doojoon dan teman-temannya –Yoseob, Kevin, Hyunseung, Soohyun- berkumpul di meja, di tengah kantin, yang sudah menjadi tempat kekuasaan mereka. Banyak gadis yang mengelilingi mereka, menebar pesona terbaik mereka agar dilirik ketua geng itu. Doojoon dengan senyum manisnya, menanggapi mereka. Ia merasa bak seorang selebriti yang dikejar-kejar penggemar. Hyunseung, mendengus, ia agak kesal dengan para gadis berisik itu. Ia pun segera memakai headphone-nya dan mendengarkan musik dari Ipod kesayangannya.

 

Dari arah pintu masuk kantin, segerombolan cowok sedang melangkah dengan angkuh, tak melirik kanan kiri, seolah di ruangan itu hanya ada mereka. Dengan kakinya, Junhyung menarik sebuah kursi dan mendudukinya, diikuti oleh kawan-kawannya. Setelah memesan makanan, mereka didekati oleh beberapa cowok yang sepertinya adalah pengikut geng itu.

Doojoon yang melihat gaya sok penting Junhyung, melengos dan mengumpat pelan. Lalu dengan kasar ia mendorong kursinya dan berdiri. Dengan langkah lebar ia keluar dari kantin. Ia menyusuri koridor, berbelok ke kanan dan hendak memasuki toilet. Namun, tangannya membeku di kenop pintu saat ia mendengar percakapan dari dalam toilet. Ia tempelkan telinganya ke pintu dan menyimak pembicaraan itu.

“Kamu nyadar nggak sekarang, kalo pamornya Doojoon udah menurun?” celetuk seorang cowok.

“Iya juga, sih. Dari kemarin, Junhyung selalu menangin tawuran ngelawan geng sekolah lain. Selain itu, pengikutnya makin banyak,” sahut cowok yang lainnya.

“Nah, itu yang bikin geng Doojoon agak melempem.”

 

Doojoon menggertakkan giginya, dengan tangan terkepal ia meninggalkan toilet itu. Ia keluarkan ponselnya dan menelepon Kevin, menyuruhnya berkumpul di belakang gedung sekolah.

 

Doojoon memandang mereka satu persatu, wajahnya serius, matanya menyorot tajam, “Kalian tahu nggak kenapa aku suruh kalian kumpul?”

 

“Nggak tahu. Emang kenapa?” tanya Hyunseung agak kurang berminat.

“Menurut kalian, apa bener geng kita kehilangan pamornya?”

“Hmm… Kalo hilang pamor, sih, aku nggak begitu ngerasa. Tapi kalo hilang kesangaran, iya banget, tuh.” Tukas Yoseob.

Komentar Yoseob membuat Doojoon kesal dan berang. Terbersit dalam benaknya untuk mengembalikan pamornya itu.

 

 

^V^V^V^V^V^V^V^V^

 

 

Malam itu, seperti biasa Junhyung dan kawan-kawannya pulang sangat larut setelah menghabiskan waktu mereka di sebuah night club. Mereka pun menginap di rumahnya.

Dongwoon segera menyalakan televisi begitu ia duduk di sofa super nyaman milik Junhyung, dengan santainya ia menaikkan kakinya di atas meja, dan mengganti channel berkali-kali, hingga perhatiannya tertuju pada sebuah gambar yang menayangkan kondisi kota yang tak berpenghuni.

Ia keraskan volume suara TV itu, dan menyuruh teman-temannya agar diam, hingga semua mata tertuju pada layar itu. Terlihat seorang pria separuh baya sedang diwawancarai seorang reporter. Ia berkata bahwa ia telah melihat penampakan di perbatasan kota itu. ketika ia ditanya apa tujuannya mendekati wilayah itu, ia berusaha berkilah. Pihak polisi dan ahli metafisika dikerahkan ke daerah itu. Terutama belum lama ini tersiar berita adanya seorang pembunuh sedang bersembunyi. Hingga polisi menyisir daerah itu.

 

“Dongwoon, ngapain kamu nonton acara itu? Ganti MTV, aja. Mendingan nonton acara musik,” tukas Kibum sambil merebut remote control dari tangan Dongwoon.

“Tapi aku penasaran,” sahutnya seraya berusaha merebut kembali remote itu.

“Aku nggak, tuh.” jawabnya cuek, lalu mengganti channel-nya. Dongwoon kesal dan pergi meninggalkan Kibum yang tengah serius dengan acara kesukaannya.

 

“SIAL!!” Junhyung menggebrak meja, membuat semua orang di ruangan itu terlonjak kaget.

“Ada apa, sih?” tanya Alexander dengan nada malasnya.

“Keterlaluan! Lihat ini!” ia menunjukkan serentetan kata-kata dalam layar ponselnya.

“Itu SMS dari siapa? Kebangetan banget dia!” seru Gikwang, cowok berparas kalem yang selalu mendengarkan musik di manapun ia berada.

“SMS apaan sih? Penting banget, ya?” Kiseop yang sedang mengunyah sepotong roti ikut melihat isi pesan singkat itu.

“Ini SMS dari Doojoon. Dia nantang kita adu nyali. Katanya, geng siapa yang paling berani dan nekat, maka dia yang akan jadi pimpinan geng teratas dan disegani di sekolah kita,”

 

Junhyung beralih ke Alexander, “Hmm… Xander, biasanya kamu suka hunting tempat-tempat yang menyeramkan. Nah, kira-kira kamu ada ide nggak?”

“Kita usulin menjelajahi bekas penjara kosong yang angker di pinggiran kota.” Usulnya sambil lalu, dan terus menatap layar televisi yang sedang menampilkan seorang gadis cantik berpakaian minim.

“Ah, kalo itu terlalu biasa. Aku butuh sesuatu yang lebih menguji nyalinya, yang bikin dia nggak bisa nolak,” ia mengibaskan tangannya menolak usul Alexander.

 

“Gimana kalo kita tantang dia buat pergi ke kota misterius itu?” tukas Dongwoon agak ragu.

“Waaah, akhirnya Dongwoon punya ide cemerlang. Hebat!” sindir Kiseop seraya bertepuk tangan secara berlebihan.

“Nggak, nggak. Menurutku ini ide yang keren banget. Thanks, Dongwoon.” puji Junhyung seraya menepuk bahu Dongwoon, yang lebih tinggi darinya.

 

Guys, kalian lupa apa kata reporter tadi? Bukannya ada pembunuh yang masih buron? Gimana kalo memang orang itu ada di sana?” seru Gikwang yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan teman-temannya.

 

“Ya, itu kan baru rumor. Polisi saja belum bisa mastiin, apa benar si pembunuh itu ada di sana.” tukas Kibum penuh keyakinan.

“Kamu sepertinya semangat banget, ya? Nggak takut?” ujar Kiseop agak kesal.

“Emangnya aku itu kamu yang penakut? Sama kecoak aja takut. Huuuu,” ledek Kibum, yang membuatnya hampir menerima lemparan sepatu dari Kiseop.

“Sudah. Sudah. Sekarang aku mau telepon dia, mau ngasih tahu dia tentang lokasi tantangannya . Aku yakin dia nggak akan nolak, dia nggak mungkin mau dibilang pengecut.” kata Junhyung.

Setelah perencanaan yang matang, mereka pun siap menerima tantangan Doojoon. Tanpa mereka sadari, mereka telah menggali makam mereka sendiri.

 

 

^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^

 

 

 

Beberapa kompleks dari rumah Junhyung, Doojoon dan anak buahnya sedang berada di markas mereka -gudang perkakas di halaman belakang rumah Doojoon- telah di sulap menjadi ruangan yang cukup nyaman untuk ditempati anak-anak itu.

 

Ia berjalan mondar-mandir di depan anak buahnya, lalu ia menunjuk seorang temannya dan menyuruhnya pindah dari kursi kerajaannya.

 

“Yoseob, duduk di sana!” usirnya, sebelum ia duduk dan mulai berbicara.

Guys, kita ditantang balik sama gengnya Junhyung.”

“Ditantang apa, bos?” tanya Soohyun, si cowok berperasaan lembut dan penuh perhatian terhadap kawan-kawannya.

“Kita disuruh bermalam di kota misterius itu.” jawabnya dengan tegang.

 

“Kyaaaaa… Tempat itu terkutuk. Ogah, ah!” jerit Kevin, cowok cantik dengan senyum menawan.

“Pengecut! Cuma rumor saja ditakutin,” tukas Hyunseung, cowok dengan kepribadian aneh.

 

“Habis katanya banyak penampakan, terus beberapa kali ada orang yang masuk ke dalam sana, tapi nggak keluar lagi. Dicari ke mana-mana juga nggak ketemu. Ngeri kan?” sahutnya, meminta dukungan dari Yoseob dan Doojoon.

 

“Biasa saja. Itu cuma gosip. Pokoknya, kita buktikan kalau kita bukan pengecut. Kevin! Kamu jangan malu-maluin, ya, nggak usah jejeritan seperti cewek nginjek kecoa,” omel Doojoon kepada Kevin.

 

“Kok bisa, ya, Doojoon jadiin kamu anggota geng ini?” Hyunseung menyindir Kevin, hingga membuat cowok bermata sipit itu cemberut.

“Cukup, Hyunseung! Kamu siapkan keperluan kita buat besok pagi!” perintah Doojoon, yang segera dikerjakan oleh Hyunseung.

 

Doojoon menatap Kevin, yang terlihat panik dan menggigit-gigit kukunya. Matanya terlihat sangat khawatir. Doojoon merasa iba terhadap Kevin, adik angkatnya.

 

“Kev, kamu nanti jangan jauh-jauh dari aku, ya. Semua akan baik-baik saja, percaya sama aku. Oke?” ia merangkul pundak Kevin untuk menenangkannya.

“Tapi, firasatku nggak enak. Sepertinya akan terjadi sesuatu yang mengerikan. Nggak usah ke sana, ya. please!” mohon Kevin.

“Nggak bisa, Kev. Ini masalah harga diri. Kamu nggak mau kan, kita dicap pengecut? Tenang saja, nggak akan terjadi apa-apa.” ia tersenyum meyakinkan.

“Hmmm… Tapi perasaanku bener-bener nggak nyaman. Hhh,” desahnya lirih.

 

Setelah pembicaraan dengan Junhyung sebelumnya, Doojoon menyuruh menyiapkan kebutuhan mereka. Karena besok pagi mereka akan memulai tantangan yang nekat itu.

 

 

^v^v^v^v^v^v^v^v^v^v^

 

 

“Perhatian semuanya! Sekitar tiga jam dari sekarang, kita semua akan sampai ke sebuah kota yang telah tak berpenghuni selama puluhan tahun. Banyak rumor tak mengenakkan tentang kota itu. saya, Yong Junhyung, ingin menantang, Yoon Doojoon untuk menghabiskan satu malam saja di kota itu. Jika salah satu dari kita kabur sebelum matahari terbit, maka dia dinyatakan kalah, dan dia harus menuruti apapun keinginan si pemenang. Deal?” Junhyung benar-benar terlihat seperti seorang pemimpin yang karismatik. Perlahan, para pemuda itu mengangguk dan bersalaman sebagai tanda setuju atas peraturan Junhyung.

Namun, di balik anggukan setuju mereka, Alexander menirukan gaya bicara Junhyung dengan gesture yang berlebihan, yang membuatnya menerima tatapan tajam -bak predator yang siap menerkam- dari Junhyung.  Ia pun hanya tersenyum konyol dan berlagak seolah tak bersalah.

 

“Oke, karena kita semua sudah deal, lebih baik kita berangkat sekarang!” ucap Doojoon seraya memasuki mobil Land Rover miliknya dan disusul teman-temannya.

Let’s go. Let’s start an adventure. Yeaaahhh!” pekik Alexander girang. Ia makin menjadi saat mobil Jeep milik Junhyung melaju, angin menyibak rambut ikalnya hingga berantakan. Karena melihat ulah Alexander, kawan-kawannya pun ikut bersorak. Mereka melambai-lambaikan sapu tangan mereka, meneriaki beberapa mobil yang dikendarai gadis-gadis cantik, yang mendengus kesal dengan kelakuan para cowok itu.

 

Geng Doojoon melihat mereka dengan pandangan mencibir. Suasana di dalam mobil terasa tegang. Terutama Kevin, ia hanya diam, matanya memandang kosong ke depan, giginya menggigiti kukunya yang sudah pendek.

 

“Hei! Stop gigitin kukumu. Berdarah, tuh!” seru Soohyun dari belakang Doojoon.

Sorry, aku terlalu gugup. Firasatku bakal terjadi sesuatu nanti,” ia menoleh ke sebelah kirinya, “Doojoon, kita masih bisa pulang sekarang, mumpung belum terlambat. Aku rela dibilang pengecut daripada menyesal nantinya kalau sampai terjadi apa-apa. Please!”

“Kevin, kamu terlalu khawatir. Nggak akan terjadi apapun. Itu cuma kota tak berpenghuni. Pasti hanya puing-puing bangunan. Lihat mereka, sorak-sorak heboh seperti itu. Kenapa kita malah takut? Santai sajalah, oke?” Doojoon, sang pemimpin sedang  berusaha menenangkan si pemilik wajah imut itu.

Kevin hanya menghela nafas, perasaan khawatirnya tak kunjung berkurang. Ia akhirnya berdo’a dan berusaha santai.

 

Perjalanan selama tiga jam lebih, tak mampu menguras tenaga Alexander yang terlalu hyper itu. Teman-temannya hanya menatapnya lelah, ia masih bernyanyi dan bergerak-gerak liar.

 

“Xander. Tenagamu gak habis-habis, ya?” keluh Kiseop yang mengernyit kesal.

Hey, I’m just having fun with myself, dude!” balasnya dengan gaya  seorang rapper.

Kiseop hanya mengerling malas, dan kembali memejamkan matanya yang mengantuk.

 

Beberapa saat kemudian, laju mobil melambat, dan akhirnya berhenti. Junhyung mematikan mesin mobilnya dan melongokkan kepalanya dari jendela, ia melambai ke arah Doojoon, yang baru saja memarkir mobilnya.

Mereka turun dan berkumpul, Junhyung memberi instruksi kepada anggotanya untuk menyisir wilayah itu dan berkumpul kembali sebelum senja.

 

Mereka membuat beberapa kelompok yang masing-masing terdiri dari dua orang. Junhyung dan Kibum, Dongwoon dan Gikwang, Alexander dan Kiseop. Sedangkan kelompok lainnya hanya Doojoon yang bekerja sendiri, ia lebih leluasa mengeksplorasi kota itu. Kevin yang semula memaksa hendak ikut dengan Doojoon, tak mampu menolak perintah kakak angkatnya itu, yang menyuruhnya berpasangan dengan Soohyun.

 

Junhyung dan Doojoon membagi rute penyisiran kota itu, setelah sepakat, mereka pun mulai bergerak ke segala penjuru. Hari sudah semakin siang, sengatan mentari seolah melumerkan otak mereka.

Kota itu benar-benar mati. Sebagian besar bangunannya tinggallah puing-puing, tanaman meranggas di mana-mana, hanya semak belukar yang tumbuh subur menutupi sisa-sisa rumah-rumah yang hancur. Mobil-mobil berkarat, plang rambu lalu lintas sudah oleng dan hampir lepas dari penyangganya. Junhyung merasa aneh, jika kota ini ditinggalkan hanya karena wabah penyakit, lalu mengapa kondisi kota ini bagai terkena bom? Hancur berantakan, sejauh matanya memandang, ia hanya menemukan beberapa bangunan yang masih kokoh berdiri, salah satunya sebuah kantor, entah kantor apa itu, ia tak tertarik untuk mencari tahu.

Ia lalu mulai mengedarkan pandangan, sesekali mendekati etalase toko dan berbicara dengan Kibum, yang sedang berusaha membuka pintu kaca toko itu. Suasananya begitu mencekam, terlalu sepi. Bahkan ia tak bisa mendengar suara teman-temannya yang lain dari tempatnya berdiri.

Ia pun menyeret paksa Kibum, yang masih saja berkutat dengan pintu itu, lalu melanjutkan penyusurannya.

 

Krosaaakkk

 

Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ada gerakan dari balik semak-semak di seberang toko itu. Junhyung menoleh dan mengamati. Tak terjadi apa-apa. Ia melirik Kibum sekilas, lalu hendak menghampiri semak-semak itu, namun tangannya ditahan oleh temannya itu.

 

“Palingan cuma kucing atau apa.” ujarnya pelan.

“Kucing? Dari tadi aku nggak lihat ada tanda-tanda kehidupan di kota ini.” balasnya dengan mata memicing. Ia mengibaskan tangannya hingga terbebas dari cengkraman Kibum, dan melangkah mantap menuju semak-semak mencurigakan itu. Ia longokkan kepalanya ke balik semak berduri itu dan hanya kekosongan yang ia temukan.

 

“Bener, kan, yang aku bilang? Tadi itu cuma kucing atau binatang lainnya. Ayo, kita ke tempat lain.” Kibum mencoba meyakinkan Junhyung, yang masih curiga dengan ‘sesuatu’ itu. Ia merasa seolah ada sepasang mata yang mengamatinya, berkali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan tak ada ‘sesuatu’ yang mengikuti mereka.

 

 

^v^v^v^v^v^v^v^v^v^v^

 

 

Beberapa ratus meter dari Junhyung, Doojoon sedang berkelana sendiri di kota tak berpenghuni itu, ia menatap sisa-sisa kota, yang menurutnya dulu merupakan kota yang cukup maju, yang bisa ia lihat dari bangunan-bangunannya yang cukup megah, ia menyesali mengapa kota ini harus terbengkalai dan ditinggalkan. Bukankah masih bisa diperbaiki dan dijadikan semacam tempat wisata? Doojoon menggelengkan kepalanya. Buat apa aku mikirin tentang kota ini? , pikirnya.

 

Ia berjalan dengan tangan terbenam dalam saku celananya, mulutnya bersiul lembut, sesekali ia menendang beberapa kerikil.

 

Srek…sreekk..srekkk

 

Doojoon berhenti dan segera menoleh, namun tak ada yang dilihatnya. Tak ada siapapun atau apapun. Ia mengedikkan bahunya dan melanjutkan langkahnya.

 

Srek…sreekk..srekkk

 

Kali ini ia tak lagi berhenti maupun menoleh, ia hanya mempercepat langkahnya, jantungnya berdegup kencang menghantam rusuknya, nafasnya tersengal. Bunyi langkah kaki yang diseret itu makin cepat dan makin dekat. Ia ingin menengok namun batinnya mencegahnya. Ia ingin tahu apa yang mengikutinya, namun ia juga takut akan apa yang ia lihat nanti.

 

Srek…sreekk..srekkk…srekk…srekk

 

Rasa takut segera menguasainya, ia hanya mengikuti instingnya dan berlari. Langkah terseret itu makin cepat, seolah sedang mengejarnya. Karena rasa penasaran luar biasa mengalahkan ketakutannya, ia pun menoleh.

Suara langkah itu segera berhenti. Doojoon hampir menjerit frustrasi saat ia tak  menemukan siapapun atau apapun di belakangnya. Ia terduduk lemas seraya mencengkram dadanya yang sakit. Matanya nanar melahap kehampaan di sekelilingnya.

Ia menelan ludah dengan susah, dan berusaha berdiri. Lututnya masih gemetar. Keringat dingin membuat kaosnya menempel di kulitnya. Ia menyeka peluh dari pelipisnya dengan punggung tangannya.

Aah… Harusnya aku nggak pergi sendiri, sesalnya.

Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, dan mencoba menghubungi Kevin. Ia mengutuk dan memaki. Ternyata, tak ada sinyal sama sekali. Bahkan segaris pun tak ada.

 

Masih dengan jantung berdebar dan nafas yang sudah mulai tenang, Doojoon melanjutkan penyisirannya. Pandangannya menyapu bangunan roboh dan jalanan yang gersang, sesekali angin berdesir menerbangkan debu. Panas makin terik, membuat rambutnya menempel di dahinya yang berkeringat, ia menyesal tak  membawa topi dan kacamata hitamnya.

 

Rasa haus menyerangnya, kepalanya berdenyut, matanya berkunang-kunang. Ia segera mencari tempat untuk berteduh dari sengatan panasnya matahari. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat sebuah bangunan, yang sepertinya adalah bekas café atau restoran siap saji. Ia pun menyeret langkahnya ke bawah kanopi café –atau restoran siap saji- itu , iseng-iseng, ia dekatkan wajahnya ke dinding kaca tempat itu, ia meniup dan menghapus debu yang menempel. Dengan menempelkan tangannya di samping kedua pipinya, ia memicingkan matanya, meneliti kondisi di dalam ruangan. Ia melihat kursi dan meja yang jungkir balik tak karuan. Debu menumpuk setinggi beberapa sentimeter.   Ia bergidik jijik, dan menjauh dari dinding yang terbuat dari kaca tebal itu. Ketika ia hendak berpaling, tiba-tiba sesosok dengan tudung menutupi kepalanya terpantul dari kaca. Ia segera menoleh, dan melihat sekelebat bayangan berlari menuju ke belakang sebuah gedung yang dulunya mungkin sebuah bangunan bertingkat.

 

Doojoon ingin mengikuti sosok itu, tapi rasa ngeri muncul di hatinya. Ia teringat berita tentang pembunuh sadis yang diduga bersembunyi di tempat ini. Ia mengumpat dalam hati, ia kesal kenapa ia memutuskan pergi sendiri, dan kenapa pula tak ada sinyal di daerah ini.

 

Dengan sedikit keberanian, ia melanjutkan perjalanannya, ia akan mencari kawan-kawannya. Tapi, ia tak punya bayangan di mana keberadaan mereka sekarang. Sejauh matanya memandang, hanya puing-puing dan kekosongan yang membuatnya waswas. Ia merutuki idenya untuk menantang geng Junhyung. Sekarang ia harus berani menjalani tantangan konyol ini.

 

Ketika sedang berkutat dengan penyesalannya, ia mendengar jeritan melengking dari suatu tempat yang sepertinya tak begitu jauh dari tempatnya. Ia mengayuh kakinya secepat yang ia mampu, sambil berusaha mencari sumber suara itu. Ia berhenti sejenak saat mendengar jeritan lain yang berasal dari arah berlawanan. Ia berbalik hendak mengikuti arah suara itu, namun ia teringat akan jeritan sebelumnya. Rasa panik segera menguasainya, ia berlari ke salah satu tikungan menuju pusat kota. Langkahnya segera terhenti saat ia menemukan salah satu sepatu yang tergeletak di jalan. Ia mendekatinya dan mengenali sepatu itu.

 

 

Sepatu Kevin.

 

 

Tenggorokannya tercekat, jantungnya bergemuruh, nafasnya memburu. Ia berjalan cepat mengikuti instingnya, dan ketika ia sampai ke tikungan berikutnya, ia melihatnya. Bersimbah darah. Rambut pirang halusnya menutupi wajahnya. Tergeletak lemas, tak bergerak.

 

Apakah ia mati?, batin Doojoon yang tak sanggup berpikir lagi. Matanya hanya menatap jasad itu. Jasad yang seolah sudah tak bernyawa.

 

Dengan langkah lambat, sedikit berjingkat, Doojoon mendekati tubuh itu. Ia tak mampu mendengar apapun selain degup jantungnya yang liar. Semeter lagi…. Sepuluh langkah lagi…. Ia melambat. Ragu. Ia melangkah lagi. Sembilan langkah lagi…. Ia menelan ludah berkali-kali, tangannya mencengkram ujung kaosnya. Delapan langkah lagi…. Matanya tak berkedip menatap tubuh itu. Tujuh langkah lagi…. Ia ingin berhenti, ia terlalu takut untuk menerima kenyataan. Enam langkah lagi…. Tubuh itu makin jelas, dengan posisi kaki agak tertekuk ke luar, seolah terlepas dari sendinya. Lima langkah lagi…. Ia bisa mencium aroma amis darah yang dihembuskan angin ke arahnya. Empat langkah lagi…. Perutnya mual. Tiga langkah lagi…. Kengerian melandanya, membuatnya hampir lumpuh. Dua langkah lagi….

Dan ia melihatnya.

 

 

Darah merah kehitaman yang kental di sekitar kepala jasad itu. Ia menahan dorongan untuk muntah. Ia mendekatinya dan berlutut, tangannya terulur hendak menyibak rambutnya. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh helai-helai halus itu, dan menyibaknya perlahan.

 

Seketika lolongan mengerikan meluncur dari mulutnya. Ia jatuh terduduk, dengan segenap kekuatan yang masih tersisa, ia mundur dalam posisi duduknya itu. Ia memekik berkali-kali, ia sungguh tak mampu menahannya lagi. Tanpa beralih dari tempatnya bersimpuh, ia memuntahkan sarapannya.

 

Kevin, adik angkatnya sedang menatapnya kosong. Ya, kosong secara harfiah. Dengan dua lubang hitam menganga. Darah kental kehitaman menutupi wajah cantiknya.

 

Air mata penyesalan membanjiri wajah Doojoon. Inikah firasat buruknya? Firasat akan peristiwa mengerikan ini? Tak ada yang bisa dilakukanya saat ini, semua sudah terjadi. Kevin telah pergi secara mengenaskan. Dan ini semua karena ia terlalu angkuh untuk mendengarkannya.

 

 

^v^v^v^v^v^v^v^v^v^v^

 

 

Junhyung dan Kibum masih menjelajahi bagian kota misterius itu, beberapa kali mereka menemukan kejanggalan di sekitar mereka. Sepertinya terjadi sesuatu yang lebih dahsyat dari sekedar wabah penyakit mematikan. Pasti pernah terjadi kerusuhan atau huru hara di tempat itu.

 

Junhyung menepuk bahu Kibum yang sedang membungkuk membetulkan tali sepatunya yang terlepas.

“Ada apa?” tanyanya setelah berdiri, dan menoleh ke arah Junhyung.

“Perasaanku nggak enak. Rasanya seperti ada seseorang atau sesuatu yang ngawasin kita.” balasnya dengan membisiki Kibum.

Kibum mendengus dan mengibaskan tangannya, “Alaaah, itu cuma perasaanmu aja. Memang rasanya aneh kita berada di tempat yang sesepi ini.”

“Ya sudah, kita cari temen-temen aja sekarang.” usulnya.

 

Ia berjalan bersisian dengan Kibum, yang sesekali memungut batu kecil dan melemparnya ke badan mobil yang diparkir sembarangan. Junhyung hanya menggeleng melihat keisengan temannya itu. Terkadang ia berpikir bahwa anggota timnya cukup aneh. Seperti Kibum, misalnya, ia sensitif dan mudah tersulut emosinya, hingga teman-temannya selalu menjaga perkataan mereka di hadapan Kibum. Berbeda dengan Dongwoon, ia sangat sabar dan cenderung polos, tak jarang ia menjadi korban kejahilan teman-temannya.

Sedangkan si flamboyan Alexander, sifatnya sangat kekanakan, terlalu berlebihan dalam mengekspresikan perasaannya. Lain halnya dengan Kiseop dan Gikwang, mereka lebih kalem dan tak banyak bertingkah, walau kadang muncul sisi aneh mereka.

 

Namun di balik keanehan teman-temannya, ia bisa merasakan kesetiaan mereka terhadap dirinya. Mereka selalu membelanya dan akan melakukan apapun untuk mempertahankan keutuhan geng mereka.

 

Junhyung tiba-tiba menghentikan langkahnya, tangan kanannya meraih bagian belakang baju Kibum, membuat cowok itu menoleh. “Apa lagi, sih?”

Junhyung menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, menyuruh Kibum diam. Keningnya berkerut penuh konsentrasi, berusaha menangkap suara-suara yang ia dengar tadi.

Suara yang sebelumnya samar-samar itu menjadi semakin jelas. Junhyung segera menarik Kibum menepi dan bersembunyi di balik kotak pos penyok. Dari balik tikungan muncul beberapa orang, seseorang bertubuh jangkung dan satunya bertubuh lebih pendek dan berotot.

 

“Fiuuhhh… Ternyata Dongwoon sama Gikwang.” ucapnya lega. Ia pun menghampiri mereka.

Kibum hanya menggeleng pelan dan mendengus, “Kamu terlalu waswas. Katanya berani hadapin apapun, eh sekarang malah parno sendiri.”

Junhyung menatapnya dengan tatapan –kamu- sudah- bosan- hidup?- yang membuat Kibum terkekeh geli. Ia mendengarkan cerita Dongwoon dan Gikwang, yang sudah berkeliling dan tak menemukan apapun. Junhyung pun bertanya, di mana tempat mereka menginap malam ini. Dongwoon hanya mengedikkan bahunya. Tapi, Gikwang teringat sesuatu, ia mengatakan kepada Junhyung bahwa tadi ia sempat mendengar suara teriakan. Namun, ia tak tahu siapa yang berteriak. Junhyung berpikir keras, ia curiga ada sesuatu di tempat ini.

 

Keempat cowok itu terlonjak kaget saat terdengar teriakan yang cukup dekat dengan lokasi mereka. Mereka berpandangan sekilas, lalu Junhyung segera berlari ke sumber suara itu, teman-temannya mengekor di belakangnya.

Seketika langkahnya terhenti mendadak, hingga Dongwoon tak sempat melambat dan menghantam punggung Junhyung.

 

“Apa i-itu?”Gikwang menunjuk ke sesuatu yang tergantung di seutas kabel listrik yang menggelayut.

Junhyung menelan ludah, ia menahan nafas karena tegang, matanya melebar saat mengetahui benda apa itu. Ia dan yang lainnya berderap ke arah benda itu, mereka segera berusaha menurunkannya.

 

Nafas mereka tercekat begitu mereka melihat salah satu teman mereka sudah tak bernyawa. Mata bulat besarnya menatap mereka. Tak ada tanda kehidupan di dua bola matanya yang biasanya terlihat berbinar ekspresif. Di bagian depan bajunya terdapat noda darah, Junhyung memekik tertahan saat melihat luka sayatan yang memanjang dari diafragma hingga ke pusar. Rasa mual menguasainya, ia menyingkir dan memuntahkan isi lambungnya.

 

“Xandeeeeerrrrrr…..” jerit Kibum yang memang sangat dekat dengan Alexander.

 

Ketakutan menjalari tubuh mereka, Junhyung makin yakin dengan kecurigaannya. Pembunuh itu pasti masih berkeliaran di kota ini.

Nyawa mereka semua terancam. Mereka harus segera keluar dari kota ini sebelum ia membantai habis mereka.

Junhyung dan teman-temannya mengangkat tubuh lemas Alexander dan membawanya ke depan sebuah toko mainan yang pintunya sudah terlepas dari engselnya. Mereka masuk dan meletakkan tubuh Alexander di atas meja yang dulunya bekas meja kasir. Junhyung mencari sesuatu untuk menutup jasad Alexander, dan yang ia temukan hanya selembar kain usang yang cukup mampu untuk menutup bagian tubuh Alexander yang luka. Dengan perlahan ia menutup mata temannya yang ceria itu. Air mata kemarahan memenuhi pelupuk matanya. Ia memukulkan kepalan tangannya ke dinding toko. Dongwoon menghampirinya dan memeluknya. Ia sudah menangis sejak melihat kondisi Alexander.

 

Junhyung bertekad akan menemukan pembunuh itu dan membalaskan dendam sahabatnya. Namun, ia tak tahu siapa yang akan ia hadapi nanti. Bahkan ia tak tahu tentang kondisi Kevin yang kedua matanya di congkel dengan sadis.

 

Akankah ia bisa selamat dari kekejaman pembunuh itu? Baginya saat ini adalah segera menemukan Kiseop sebelum pembunuh itu menemukannya.

 

 

 

^V^V^V^V^V^V^V^

 

 

To Be Continued

 

 

 

Dongwoon, Doojoon, Gikwang, Yeoseob, Hyunseung, Junhyung

Atas : Alexander, Kiseop, Kevin. Bawah : Kibum, Eli, SooHyun, Dongho

 

 

Advertisements