oOo

A/N : Akhirnya update juga, meski bukan KRAY tapi ini termasuk FF yang sulit buat aku ramu alurnya dan masukin feel ansgtnya. semoga ngena di hati, dan bisa jadi inspirasi.

Awas buat yang coba-coba plagiat atau repost ff-ffku dengan mengakui milik pribadi. Kalau mau share bilang aja. Jangan ngaku-ngaku milik sendiri. Seriusan, awas kalau sampai ada yang ketahuan curang.

oOo

Karena itu adalah hari minggu, maka tak seorangpun masuk ke kamar Sehun untuk membangunkannya. Mereka mengira bahwa Sehun masih tidur dan juga mungkin masih marah dengan kejadian semalam yang membuatnya enggan menemui keluarganya.

Masing-masing menjalankan kesibukannya sendiri. Ayah dan ibunya pergi entah ke mana, Jongin menghabiskan waktunya di gym dan berenang, Kris berlatih dengan tim basket kampusnya. Hanya dua orang pembantu rumah tangga dan seorang tukang kebun yang ada di rumah Sehun.

Dan mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang keberadaan Sehun. Dan tak ada yang berniat mencari tahu. Semua orang seolah tak peduli akan keberadaan atau ketidakberadaan Sehun.

Sehun ternyata sudah bangun dan sedang duduk termenung di tepi ranjang. Sayup-sayup ia mendengar suara gurunya yang sedang berbicara. Ia menghela nafas, lalu bangun dan berjalan mendekati jendela. Ia menyibak tirai berwarna hijau lembut itu dan membuka jendela. Ia menghirup dalam-dalam udara pagi dan merasakan radiasi panas matahari yang hangat menerpa wajah tirusnya. Sehun tersenyum dan mendongak ke langit, matanya menyipit saat ia menatap awan yang berarak menghiasi langit biru.

“Gimana rasanya terbang di atas sana, ya? Pasti bebas ke mana aja… andai aku bisa terbang seperti burung… mungkin aku bakal pergi dan selamanya nggak akan pulang…” gumamnya pada dirinya sendiri.

Ketukan di pintu menyentaknya dari lamunan pagi harinya itu.

“Sehunnie, sarapan sudah siap, kamu sudah bangun belum?”

“Sudah, Kak… sebentar!” sahut Sehun yang segera merapikan tempat tidurnya dan segera keluar kamar. Ia disuruh Amber agar memanggilnya ‘Kakak’ jika mereka berada di luar sekolah. Dan itu cukup membuat Sehun merasa canggung, tetapi ia yakin nanti akan terbiasa.

Di meja makan ia sudah disambut senyum teduh dan tulus guru sosiologinya. Sehun mengucapkan selamat pagi kepada gurunya sebelum menarik sebuah kursi dan mendudukinya. Perutnya berbunyi ketika matanya menangkap sarapan lezat di depannya. Joonmyun dan Amber terkekeh dan menyilakan Sehun menyantap sarapannya.

oOo

Amber kelihatannya sangat menyayangi Sehun. Dari caranya berbicara padanya dengan lembut, lalu tak jarang aku melihatnya membetulkan poni bocah itu, bahkan dia sekarang sedang mengajak Sehun ke toko untuk membeli beberapa potong pakaian.

Aku juga sayang Sehun. Kalau tidak, mana mungkin aku akan memperhatikannya seperti ini? Sehun memang sangat membutuhkan kasih sayang yang tulus dari orang-rang di sekitarnya, namun sayangnya dia belum bisa mendapatkan itu dari keluarganya.

Semalam sebelum kami tidur, Amber mengungkapkan betapa dia ingin membantu Sehun agar tidak lagi melukai dirinya. Dia ingin Sehun sembuh dan menjadi pribadi yang terbuka. Dia teringat bagaimana tersiksanya dirinya ketika mengalami perasaan depresi sehingga nekat menyakiti diri sendiri. Dan aku segenap hati akan mengeluarkan Sehun dari kubangan rasa terabaikan dan tak disayangi.

Aku memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan mengoreksi kertas ulangan siswa-siswaku. Dan aku benar-benar mengerang pasrah saat membaca tulisan Park Chanyeol dan Zhang Yi Xing yang bagai benang kusut. Pekerjaan berat… hhhh…

oOo

Sehun pulang ke rumahnya bersama Amber. Tangan remaja itu mencengkram lengan wanita muda itu, ia takut dimarahi orangtua karena dirinya menghilang tadi malam.

Pintu rumahnya terbuka dan seorang wanita dengan rambut beruban mengintip dari sela pintu. “Sehun? Bu-bukannya kamu masih tidur, Nak?”

“Ehm… aku dari rumah guruku, Bu,” sahut Sehun. Ia melirik Amber yang sedang tersenyum ramah kepada wanita paruh baya itu.

Pembantu itu sudah bekerja di rumah itu semenjak Sehun berusia dua tahun, dan ia sudah menganggap Sehun seperti anaknya sendiri. Karena kesibukan orangtuanya, Sehun lebih sering bersama pembantunya, dan bagi Sehun, hanya pembantunya itu yang benar-benar perhatian padanya.

“Untung papa sama mamamu nggak nyariin,” ucapnya lega sambil mengelus dadanya.

Alis Sehun mengernyit, “Memangnya mereka ke mana, Bu?”

“Mereka pergi ke luar kota tadi jam tujuh, Kris sama Jongin juga pergi,” sahutnya seraya memberi jalan bagi Sehun dan Amber untuk memasuki rumah.

Sehun lega, tetapi juga kecewa.

Seacuh itukah orangtuanya? Mereka sama sekali tidak ingin tahu keadaan anaknya.

Amber mengumpat dalam hati.

“Kak, ke kamarku, yuk,” Sehun tersenyum cerah, membuat Amber menyeringai senang. Ia mengangguk dan mengikuti Sehun ke kamarnya.

Sehun memasuki kamarnya, tak ada yang berubah. Semua masih tetap sama seperti waktu ia tinggalkan.

Mata Amber meneliti setiap sudut kamar Sehun. Cukup rapi untuk ukuran seorang remaja laki-laki.

“Hmm… kamu suka main sepak bola, ya?” tanya Amber saat ia melihat sebuah bola mengintip dari sela pintu lemari pakaian.

“Bola? Err… sebenarnya, sih, suka banget. Tapi… aku nggak boleh ikutan klub sepak bola di kompleks ini. Buang-buang waktu katanya. Padahal Jongin dari SMP itu sudah ikutan tim sepak bola kompleks ini, dan sekarang juga masih sering ikut pertandingan. Kris masuk tim basket dari jaman SMA sampai sekarang di universitas.” Ia mengeluh.

“Oh…” Amber mendekati meja belajar di sudut kamar dan kedua matanya menangkap sebuah buku bersampul hitam. “Black book?” tanyanya dengan tatapan ingin tahu.

Sehun mengangguk dari tempatnya berdiri.

Ia diam saja saat melihat Amber membuka-buka buku bersampul hitam itu. “Kamu tahu Sehun?” kekasih Joonmyun itu mengalihkan pandangannya dari buku itu dan menatap Sehun, “Ada banyak remaja yang permasalahannya lebih buruk daripada kamu.”

Remaja itu mendekati meja dan dengan santai ia duduk di atasnya. “Oh, ya? Masa, sih, ada yang lebih parah daripada aku?”

Amber mengangguk pelan, kemudian menceritakan tentang temannya yang nyari bunuh diri karena tak sanggup menanggung tekanan hidup yang merundungnya.

Seorang gadis yang hidup bersama ayahnya yang pemabuk dan suka memukulnya jika sedang emosi, hingga tak jarang gadis itu akan pergi ke sekolah dengan pipi lebam dan mata memar.

“Terus kenapa dia masih mau tinggal sama bapaknya?” Sehun menggumam. Mempertanyakan kewarasan gadis itu.

“Kenapa kamu masih mau tinggal sama keluargamu?” Amber balik bertanya dengan alis terangkat dan seringai mengejek.

Sehun terkekeh dan berdiri menjejak lantai, “Bukannya aku kabur ke rumah Pak Joonmyun semalam?”

Amber menanggapinya sambil lalu, karena ia mendadak menemukan sesuatu yang aneh di lantai. Ia merundukkan bagian atas tubuhnya dan menggapai benda yang tergeletak di bawah kakinya itu.

“Sehun, kenapa ujung pulpen ini ada merah-merahnya? Bukannya ini pulpen hitam?” ia mendekatkan pulpen itu ke hidungnya dan mengendusnya. “Darah?” tanyanya.

Wanita itu secara refleks melihat paha Sehun. Ia tahu betul tempat-tempat strategis yang menjadi sasaran para pelaku self-harm.

S-sorry…” Sehun menundukkan kepalanya.

Ia merasakan dua lengan memeluknya dan mengusap punggungnya. “Jangan lukain diri lagi, ya?” Amber merasakan lengan Sehun balas memeluknya.

“Ya… aku usahain…” bisiknya.

Di luar keinginanya, air mata menyelinap dari sudut matanya dan menuruni pipinya. Sehun terharu sekaligus bahagia, karena ternyata masih ada orang yang benar-benar sayang dan peduli padanya.

Dalam hati, Sehun bertekad untuk benar-benar berhenti melukai dirinya meskipun emosi berkecamuk dalam batinnya dan menggerogoti kesabarannya, ia tak akan menorehkan luka lagi di tubuhnya. Ia akan mencari pelampiasan yang lebih aman dan tidak merugikan dirinya maupun orang lain.

Di sela air matanya, Sehun tersenyum penuh syukur.

oOo

Luka di paha Sehun berangsur-angsur pulih, meski butuh waktu lebih lama dari biasanya, tetapi ia tak terlalu memikirkannya.

Ia habiskan waktunya di sekolah, terus berusaha berteman dengan rekan-rekan sekelasnya. Bahkan ia sudah berbaikan dengan Chanyeol, meski tidak terlalu akrab.

Orangtuanya sudah agak jarang memarahi atau memojokkannya, meski terkadang ayahnya masih suka membentaknya karena beberapa alasan. Tetapi Sehun sudah tidak melukai dirinya lagi.

Di sekolah ia sering memperhatikan adik kelas yang ia sukai itu. Namun akhir-akhir ini ia menyadari bahwa gadis itu sering terlihat bersama Luhan, teman sekelas Sehun.

Ketika di kantin pada waktu istirahat, Sehun melihat Luhan menyuapi gadis itu sepotong roti. Di perpustakaan, matanya menangkap pemandangan Luhan sedang duduk begitu dekat dengan gadis yang diincarnya itu, mereka membaca buku bersama hingga kepala mereka bersentuhan. Sehun yang geram, memilih untuk meninggalkan tempat itu.

Setelah bel pulang berdentang, Sehun melihat teman sekelasnya itu memboncengkan adik kelasnya yang imut dan manis itu.

Sehun segera mengambil kesimpulan bahwa gadis itu sudah menjadi kekasih Luhan, dan ia terlambat.

Buku hitamnya mulai penuh dengan curahan hatinya, kesedihannya, emosi-emosinya, kekecewaannya, dan perasaan-perasaan negatif lainnya.

Ia makin jarang menulis di buku bitu. Sehun lelah dengan semua badai emosi yang memporak-porandakan hatinya. Pikirannya kalut, jenuh dan tumpul.

Minimnya perhatian dari orangtuanya, lalu ditambah satu-satunya orang pemberi semangat bagi hidupnya sudah menjadi mili orang lain.

Sehun tidak tahu lagi bagaimana ia harus menjalani hidupnya.

Apakah artinya ia hidup?

Batinnya sambil menatap nanar ke luar jendela.

oOo

Sudah lewat lebih dari tiga minggu sejak Sehun menginap di rumahku. Kami masih sering menghabiskan waktu istirahat di atap gedung sekolah, terkadang Amber juga menemani kami jika ada penjaga perpustakaan yang menggantikannya. Sehun memang sudah tidak semurung yang dulu, tetapi akhir-akhir ini aku perhatikan ia sering melamun. Aku ingin bertanya, tetapi Amber memberiku isyarat dengan matanya agar aku tidak bertanya apapun kepada remaja itu.

Kuurungkan niatku untuk mencari tahu apa yang sedang berkecamuk dalam benaknya. Amber justru berusaha mengalihkan kekalutan yang membelit remaja tampan itu.

Sehun tergelak saat mendengar kisah-kisahku yang cukup memalukan semasa kuliah. Dan bocah itu terlihat sangat bahagia melihat bagaimana gurunya tampak konyol di depannya.

“Kupingmu merah, Joonmyun! Hahahaha… you’re embarrassed.” Celetuk Amber sambil menepuk pelan pipiku yang juga memerah.

Sialan. Aku dipermalukan di depan muridku. Dasar pacar tidak beres.

Bel berbunyi, dan kami melanjutkan tugas masing-masing.

Sehun sekarang jadi lebih akrab dengan Kyungsoo dan Baekhyun, terkadang mereka akan bermain sepak bola di lapangan bersama siswa-siswa lainnya.

Rona keceriaan menerpa wajah Sehun, dan aku merasa lega karena dia akhirnya mau membaur dan menikmati masa-masa terakhirnya sebagai siswa SMA.

Amber bercerita padaku tentang isi buku hitam milik Sehun. Dia bilang kalau Sehun tampaknya benar-benar tidak bahagia jika berada di dalam rumah mewah orangtuanya. Semua limpahan harta dan barang sama sekali tidak bisa membuat remaja itu merasa diterima dan diperhatikan. Orangtuanya bahkan terlalu sibuk hanya untuk mengecek apakah anak mereka berada di kamarnya atau sedang pergi. Mereka seolah lupa bahwa anak mereka juga butuh perhatian. Kata Amber, hanya pembantu yang sudah tua lah yang benar-benar peduli pada Sehun. Namun, tetap saja, pembantu itu tidak bisa berbuat apa-apa jika orangtua Sehun yang membuat keputusan akan diapakan anak mereka itu.

Miris juga memikirkan bagaimana kehidupannya di rumah. seharusnya keluarga merupakan tempat paling nyaman dan aman buat anak-anak. Tetapi ini justru sebaliknya.

Keluarga aneh.

“Pak Joonmyun! Itu cabang sosiologi nomor lima, psikologi sosial keterengannya apa, Pak? Dari sini kurang jelas,” suara gadis berkuncir itu membuyarkan lamunanku.

“Psikologi sosial mempelajari tingkah laku sosial yang dilakukan oleh individu dan hubungannya dengan individu lain dalam suatu masyarakat. Ada yang lain?” dan aku menerima gumaman ‘nggak’ dan gelengan kepala.

Aku kembali menjelaskan tentang cabang-cabang ilmu sosiologi hingga bel tanda pergantian pelajaran berdentang.

Seisi kelas melenguh dan menggerutu saat aku memberi mereka tugas untuk membuat essay tentang pengamatan mereka dalam bidang sosiologi di ruang lingkup tempat tinggal mereka, dan memberikan contoh-contoh yang berhubungan dengan cabang-cabang sosiologi. Aku hanya tersenyum dan melambaikan tanganku sebelum keluar kelas. Suara protes dari murid-muridku terdengar hingga ke luar kelas.

oOo

“Sehun! Kapan terakhir kamu ajak Ace jalan-jalan? Katanya mau ngurusin Ace sendiri. Mana buktinya?”

“Sehun sibuk, Kak. Kenapa nggak Kak Kris aja yang ajak Ace jalan-jalan? Bukannya Ace punya kakak juga?” ia berkutat dengan game di ponselnya.

“Ngelawan terus, sih, kamu? Buruan ajak Ace jalan-jalan atau ntar kakak laporin ke papa kalau nilai matematikamu kemarin jelek!” ancamnya setelah memukul bagian belakang kepala adiknya.

Sehun nyaris saja melempar kakak tertuanya itu dengan ponselnya, tetapi ia tak ingin permasalahan menjadi semakin besar dan ujung-ujungnya dirinya yang akan menjadi korban amukan ayahnya.

Kris memang anak sempurna di mata orangtuanya, terutama ayahnya. Mereka menganggap Kris sebagai calon direktur utama perusahaan ayahnya, apapun yang dilakukan Kris adalah baik. Begitu pula dengan Jongin, pria muda berkulit gelap itu juga disanjung-sanjung ayahnya. Selalu dibangga-banggakan jika berbicara dengan rekan-rekan kerjanya.

Namun, dirinya?

Seorang Sehun?

Di mata mereka ia adalah kegagalan.

Apapun usahanya, selalu saja buruk di mata ayahnya.

Sehun tahu diri, dirinya memang bukan siapa-siapa. Maka ia lebih sering mengalah.

Seperti saat ini, ia bangun dan mengantongi ponselnya lalu berjalan mendekati kandang anjing golden retriever-nya, dan anjing itu menyalak sambil menggoyang-goyangkan ekornya. Ia tahu kalau Sehun akan mengajaknya keluar.

Dengan tali di tangannya, Sehun mempercepat langkahnya mengikuti langkah lincah anjingnya.

“Ace! Slow down!” Sehun terengah-engah saat berusaha menyamai langkah anjingnya. Anjing itu terlalu lama berada dalam rumah sehingga merasa jenuh, dan begitu ia berada di luar, ia menjadi bersemangat dan nyaris mengejar apapun yang melintas di depannya.

Bahkan ia melompat-lompat hendak menangkap seekor kupu-kupu yang terbang mengitari kepalanya.

Sehun terkekeh. Ia merasa terhibur dengan tingkah laku Ace, anjing setia yang sudah menemaninya sejak ia masih berusia sepuluh tahun. Meski anjing itu peliharaan keluarga, tetapi Sehun lah yang paling sering bermain dengannya. Bukankah ia kesepian? Hanya Ace yang bisa membuatnya tertawa dan senang.

Remaja itu melepaskan tali yang mengekang leher Ace, dan membiarkannya berlari sesukanya. Ia berjalan santai sambil menikmati udara sore yang hangat. Sementara Ace berkejaran dengan seekor anjing labrador.

Bahkan anjing pun senang kalau mempunyai teman…

Batin Sehun di sela senyum kecutnya.

“Aduh!” pekiknya tertahan ketika tanpa sengaja kakinya terantuk sebuah cekungan di jalan. Ia mengangkat kakinya dan melihat sebuah luka kecil di ujung ibu jarinya. Ia menyesal tidak memakai sepatu alih-alih memakai sandal jepit santainya. Namun, karena tidak terlalu menyakitkan, Sehun pun segera lupa akan luka kecilnya itu. Ia pun berlari mengejar Ace dan memaksanya pulang.

Dalam perjalanan pulang, Sehun membeli dua buah es krim cone. Tangan kanannya mendekatkan es krim ke mulutnya, sedangkan tangan kirinya menyodorkan es krim ke moncong Ace yang segera menjilatnya sekilas sebelum memakannya dalam sekali terkam. Sehun tertawa, dan mengatainya rakus dan tak sabaran. Ace hanya menyalak meminta es krim lagi, dan Sehun memberikan jatah es krimnya untuk anjingnya itu.

Come on, Ace!” ajaknya seraya memasang tali ke leher Ace. Anjing itu menurut dan berjalan bersisian dengan Sehun.

Sehun berlutut dan memeluk leher Ace, ia merasakan bulu lembut anjingnya menyentuh kulit wajahnya. “Thank you, Ace. I love you,” bisiknya.

Dengan penuh sayang, Ace menjilat pipi Sehun, membuat remaja itu memekik kegelian karena rasa hangat dan basah lidah Ace. Ia mengusap kepala Ace sebelum memasukkan anjing itu ke dalam kandangnya.

Sekali lagi, Sehun berpikir. Dirinya tak sepenuhnya sendiri dan tak disayang.

Ia ingat pembantunya yang sangat menyayanginya melebihi rasa sayang orangtuanya padanya. Lalu ada Ace, seekor anjing yang mencintainya tanpa syarat, dan Sehun yakin, Ace akan membelanya dan menolongnya jika ia berada dalam bahaya. Ia juga tak bisa melupakan dua orang yang ingin membantunya keluar dari rasa depresi yang membelenggunya, Kim Joonmyun dan kekasihnya, Amber.

Sehun tersenyum ketika ingatan akan ucapan Kyungsoo beberapa waktu lalu ketika mereka memenangkan lomba lari estafet. Teman sekelasnya itu mengatakan kalau Sehun sebenarnya istimewa dan sangatlah bodoh orang-orang yang meremehkannya, lalu Kyungsoo memeluknya sambil menepuk-nepuk punggungnya.

Ia masih dianggap ada. Masih dihargai dan pantas dicintai.

Sehun duduk di tepi ranjangnya, di tangannya ia membuka halaman-halaman buku bersampul hitam. Ia ingin menghapus semua memori buruk di masa lalunya. Ia menarik nafas dalam, lalu merobek semua kertas yang sudah tercoret oleh emosi dan amarahnya. Ia mencabik-cabik tiap lembarnya hingga menjadi serpihan-serpihan kecil mengotori karpet kamarnya. Sehun ingin memulai semuanya dari awal.

Biarkan keluarganya tak mempedulikannya, yang terpenting masih ada yang benar-benar bisa melihat siapa sesungguhnya Sehun itu. Bukan hanya asumsi-asumsi belaka.

Lalu, ia mengambil buku bersampul biru dan duduk di kursi depan meja belajarnya. Ia meraih pulpen dan mulai menuliskan isi hatinya.

Sehun menulis dan terus menulis. Entah sudah berapa lembar yang ia isi. Namun, apa yang ingin ia ungkapkan seolah tak pernah habis.

Satu menit sebelum jam 10 malam, Sehun selesai menulis. Ia membelalakkan matanya saat menyadari sudah lebih dari dua puluh lembar ia torehkan kata-kata yang berasal dari lubuk hatinya. Ia menyunggingkan seringai bodoh seraya menggaruk belakang kepalanya. Ia tak percaya telah menulis sebanyak itu.

Ia meregangkan punggungnya dan kedua lengannya, lalu ia bersiap tidur.

Mulai matahari terbit, Sehun akan menjadi orang yang lebih berpikiran positif dan terbuka serta lebih ramah dan bersahabat. Bahkan ia bertekad akan menjadi sahabat Park Chanyeol dan Zhang Yi Xing, duo pembuat onar di kelasnya.

“Aku butuh tantangan, hehehe…” gumamnya sebelum menarik selimut menutupi tubuh kurusnya, dan mematikan lampu di meja samping ranjangnya.

oOo

“Amber, Sehun sudah empat hari nggak masuk sekolah. Aku dapat surat dari orangtuanya, mereka bilang Sehun lagi nggak enak badan. Pulang sekolah kita tengok dia, ya?” tanyaku pada Amber yang sedang merapikan buku yang baru saja dikembalikan anak-anak.

Dia mendongak dan menatapku. Alisnya berkerut penuh tanda tanya, “Sakit apa dia?”

Aku hanya mengangkat bahu, karena aku sendiri juga sama sekali tidak tahu apa-apa.

Amber mengiyakan ajakanku, dan akupun kembali ke kantor guru.

Kami sedang duduk berhadap-hadapan dengan ayah Sehun, yang wajahnya memang terkesan kaku dan keras kepala, pantas saja Sehun sering kesal dengan ayahnya. Seorang pembantu muda meletakkan dua gelas sirup dingin di depan kami, dia membungkuk sekilas sebelum kembali masuk ke dapur.

Ayah Sehun mempersilakan aku dan Amber meminum sirup itu. Setelah kusesap, aku pun mulai menanyakan keadaan Sehun.

“Oh, dia memang suka manja begitu. Demam sedikit, langsung nggak mau berangkat sekolah. Hidungnya meler sedikit, minta ijin buat nggak masuk sekolah. Dia memang ringkih begitu, atau sengaja dibuat ringkih, mungkin?” jawabnya sambil terkekeh.

Apa-apaan ini?

Anaknya empat hari tidak masuk sekolah bukannya dibawa ke dokter dan diobati biar cepat sembuh, malah dibilang manja. Emang sudah korslet otaknya.

Aku benar-benar geram. Dan aku bisa merasakan aura kemarahan Amber yang duduk cukup dekat denganku. Aku meliriknya dan melihat tangannya terkepal menahan emosi.

“Jadi Sehun belum dibawa ke dokter?” suara Amber terdengar kaku. Aku tahu pasti bahwa gadisku itu sedang berusaha menekan amarahnya.

Jelas saja kami merasa kesal, karena kami tahu apa yang selama ini Sehun rasakan. Dan semua sudah jelas sekarang. Ayah Sehun sepertinya memang tidak mencintai anak bungsunya itu. Mungkinkah Sehun itu bukan anak kandungnya?

Aaaaah! Kenapa aku berpikir sampai sejauh itu?!

Aku dan Amber tercengang ketika melihat ayah Sehun menggeleng dan duduk santai dengan kaki menyilang. “Nggak perlu ke dokter. Palingan flu saja. Penyakit langganannya. Silakan dimakan kuenya,” pria itu menyodorkan stopless berisi kue kering. Aku dan Amber menolak dengan sopan.

Perutku terlalu mual untuk menerima makanan apapun dari pria di depanku ini.

“Maaf, Pak. Apa kami bisa ketemu Sehun sebentar?”

“Boleh saja. Silakan,” dia berdiri dan mengantar kami ke kamar Sehun. Aku belum pernah ke rumah ini, tetapi Amber sudah beberapa kali mampir ke sini untuk mengajari Sehun pelajaran-pelajaran yang akan diujikan di ujian akhir. Dan tiap kali Amber bertandang ke rumah ini, dia tidak sekalipun pernah bertemu orangtua Sehun. Dia pernah bertemu Kris, yang menurut penuturannya, sangat tampan dan ‘tinggi’, satu kata yang membuatku merasa kerdil. Lalu Amber juga bertemu Jongin, yang katanya sangat eksotis dengan kulit kecoklatan dan tubuh atletis meski tidak setinggi Kris.

Jujur…

Aku cemburu! Amber selalu memujiku dan mengatakan betapa aku ini penyabar, baik hati, ramah, rajin dan giat. Sesekali apa salahnya memuji fisikku? Ataukah dia tidak menemukan sesuatu yang patut dipuji dari fisikku? Kulitku seputih susu, lho. Senyumku menawan dan mmm… hanya itu?

Ya Tuhan…

Amber oh Amber.

Ayah Sehun meninggalkan kami di kamar anak bungsunya yang terbaring di ranjangnya. Selimut ditarik hingga menyentuh dagunya. Kedua matanya terpejam.

Bunyi pintu menutup membuat Sehun membuka matanya. Dia melihat kami.

Aku dan Amber segera mendekati ranjangnya dan Amber menunduk untuk mengecup kening remaja itu.

Aku cemburu… aku tahu itu tanda sayang darinya sebagai seorang kakak, tetapi tetap saja aku kesal.

Kutepis rasa yang mengganggu itu dan duduk di samping tempat tidur yang terbuat dari kayu itu. “Kamu sakit apa, Sehun?” tanyaku sambil menatap wajah tirus dan pucatnya.

“Ngi-lu, p-pak…” ucapannya kurang jelas. Tapi aku masih bisa menangkap yang dikatakannya.

“Ngilu mananya, Sehun?”

“Tu-langk-ku…”

Aku menyentuh dahinya dan terasa agak demam. “Aku anter ke dokter, ya?”

Sehun menggeleng lemah, “J-jangan… nanti papa m-marah…”

Seorang ayah akan marah kalau anaknya ke dokter?

Kenapa?

Takut mengeluarkan banyak biaya? Bukankah dia termasuk pengusaha sukses? Bukankah seorang ayah mencari nafakah untuk kesejahteraan keluarganya?  Dan bukankah jaminan kesehatan adalah hak mutlak anak?

Aku makin yakin kalau Sehun bukan anak kandungnya.

“Kamu makin kurus, Sehun…” suara lirih Amber membuatku mendongak dan melihat tangannya mengelus lengan muridku. “Nggak nafsu makan? Aku masakin, ya? Kamu pengin makan apa? Nanti sore aku anterin.”

Dia menggeleng, “S-susah nelen, Kak…” ucapnya agak ngos-ngosan.

Jangan-jangan dia menderita asma?

Amber terlihat begitu khawatir, maka dia menyuruh Sehun jangan banyak bicara dan lebih banyak istirahat.

Kekasihku itu berjanji akan kembali lagi nanti sore untuk membawakannya bubur agar lebih gampang ditelan.

Kami pun berpamitan, dan lagi-lagi Amber mengecup dahi Sehun.

Sepertinya aku harus menguatkan hatiku dan membiasakan diri melihatnya melakukan itu.

Tepat sebelum kami memasuki mobil, ibu Sehun turun dari sedan silvernya dan kami saling mengucap salam.

Harus kuakui, ibu Sehun sangat cantik, dan aku nyaris tidak berkedip saat melihatnya. Sikutan keras di pinggangku menyadarkanku bahwa gadis tomboy berambut pendek itu sedang bersamaku.

I’m sorry, Amber. Hehehe.

oOo

Sehun ingin berteriak sekeras yang ia mampu, namun tenaganya seolah lenyap melebur bersama udara tak kasat mata. Ia ingin menyuruh Jongin mengecilkan volume televisi yang sedang menayangkan konser band kesukaannya.

Tiap senti tubuh Sehun terasa nyeri dan ngilut tiap mendengar suara bising. Kulitnya tersentuh pun sudah membuatnya mengerang kesakitan.

Belum lagi tenggorokannya semakin parah nyerinya, membuatnya menitikkan air mata tiap kali ia berusaha menelan buburnya, ataupun hanya sekedar air putih hangat yang dibawakan pembantunya.

Sudah satu minggu Sehun tidak bangun dari tempat tidurnya. Dan ia belum diperiksakan ke dokter, karena orangtuanya mendadak mendapat undangan dari relasi bisnis mereka di Singapura. Kris dan Jongin sibuk dengan dunianya masing-masing. Dan naasnya lagi, pembantu yang mengasuh Sehun diberhentikan karena sudah sering sakit-sakitan akibat usia lanjut. Hanya ada seorang pembantu muda yang cuek terhadap Sehun. Ia hanya melakukan tugas-tugasnya, termasuk menyiapkan makan untuk Sehun. Tapi hanya itu saja.

Menyuapi Sehun pun seolah terpaksa. Sehun tahu benar bahwa apa yang dilakukan pembantu itu hanyalah bagian pekerjaan yang sudah diatur ibunya.

Sehun ingin sekali tinggal bersama Joonmyun dan Amber. Ia bahkan ingin nekat meminta ayah dan ibunya menyerahkan hak asuhnya pada guru kesukaannya itu.

Tapi ia tahu bahwa itu mustahil.

Beberapa temannya datang menjenguknya kemarin, mereka membuatnya terharu dengan mengatakan bahwa mereka merindukan kehadirannya di kelas, bahkan Park Chanyeol ikut datang dan mengatakan kalau dirinya kesepian tanpa ada Sehun yang biasa ia jahili. Sehun ingin tertawa, tetapi rahangnya terasa kaku sehingga ia hanya menyunggingkan senyum.

Hubungannya dengan Chanyeol jauh lebih baik, dan mereka berteman. Semua yang berlalu biarlah berlalu. Itu prinsip Sehun sekarang.

Sehun yang pesimis, pemarah, penggerutu, pemalas dan egois adalah sejarah kelam hidupnya.

Sekarang hanya akan ada seorang Sehun yang optimis, ramah, terbuka, ceria, rajin dan berpikiran positis serta mencintai tubuhnya sehingga tidak akan sekalipun ia melukainya lagi.

Selamanya.

oOo

Amber pulang dengan tas belanjaan di tangan kirinya. Dia masuk rumah dengan wajah murung dan mata yang sendu. Aku menghampirinya dan mengambil tas belanjaan dan meletakkannya di atas meja. Aku menarik tangannya dan merengkuhnya dalam dekapanku. Kedua lengannya mengular di pinggangku. Wajahnya dibenamkan di dadaku.

Apa yang terjadi? Tidak biasanya Amber seperti ini.

Aku mengecup puncak kepalanya dan menangkup pipinya dengan kedua tanganku dan menatap ke dalam matanya.

What’s going on?”

Bibir bawahnya bergetar, aku menyapukan bibirku padanya. “Tell me, Amber. What happens?”

“Sehun… he’s…” air matanya menetes.

Sehun kenapa?

Tenggorokanku tercekat.

“Dia kenapa?”

“Aku nggak tahu dia sakit apa, aku tadi ke sana dan aku lihat dia kejang-kejang. Bola matanya nggak kelihatan. Aku panik dan nggak tahu musti gimana. Aku suruh pembantu bego itu buat telepon ambulans, tapi malah bengong! Dasar udik bego! Nggak ada siapa-siapa di rumahnya. Orangtuanya ke luar negeri belum pada pulang. Kakak-kakaknya pada kuliah. I am so fucking scared, Joonie… so scared….”

Kepanikan menyerangku. Sehun sakit apa? Kenapa menjadi parah seperti itu?

Aku tanya di rumah sakit mana Sehun dibawa. Dan ternyata Sehun dibawa ke rumah sakit kota. Akhirnya aku dan Amber segera meluncur ke rumah sakit.

Amber sudah menyuruh pembantu itu menelepon orangtua dan kakak-kakak Sehun. Di rumah sakit aku bertemu Kris. Laki-laki tampan itu lebih muda dua atau tiga tahun dariku, sepertinya. Dia mondar-mandir dengan telepon menempel di telinganya. Mungkin dia sedang berbicara dengan orangtuanya.

Aku menyapa pemuda jangkung itu. Terus terang, leherku pegal karena harus mendongak ketika bercakap-cakap dengan Kris.

Nasib…

Amber sudah memberondong dokter dengan berbagai pertanyaan tentang keadaan dan penyakit Sehun.

Kris sebagai wali dari pasien segera mengikuti dokter itu ke kantornya. Sedangkan aku dan Amber menunggu dipersilakan masuk ke kamar perawatan.

Seorang suster berwajah manis menyilakan kami masuk dan bertemu Sehun.

Dadaku serasa dihimpit truk tronton, sesak dan nyeri.

Sehun terbaring lemah dengan beberapa selang dipasang di tubuhnya.

Sesekali tubuhnya mengejang dan bergetar, lalu hening. Suara nafasnya begitu berat dan lambat. Sehun susah bernafas. Matanya mengedip-ngedip pelan.

“Eeenngg…” Sehun bersuara. Di dalam mulutnya terdapat selang untuk melancarkan pernafasannya, kalau aku tidak salah.

“Hei…” sapaku sambil menahan agar air mata sialan ini tidak menetes.

Sehun mengedip.

Amber berusaha kuat meski matanya berkaca-kaca dan hidungnya mulai memerah. Ia mendekati muridku dan mencium dahinya. Sehun bersuara lagi. Mungkin mengucapkan salam. Aku tidak tahu.

Tidak lama, pintu kamar terbuka dan berdirilah Kris bersama Jongin di sana. Kami keluar dan menyilakan mereka masuk.

“Dokter… kalau boleh tahu, muridku ini sakit apa, ya?” tanyaku ketika berpapsan dengan dokter yang menangani Sehun.

“Oh, dia murid anda?” aku mengangguk, “Sebenarnya penyakitnya sudah parah. Dan saya berharap dia masih bisa bertahan. Seharusnya dia dibawa ke sini sejak sepuluh hari lalu. Sekarang sudah terlambat. Tetapi mukjizat Tuhan masih ada.” sokter itu mendesah berat.

“Murid anda menderita tetanus.” Akhirnya, dia kasih tahu juga tentang penyakit Sehun.

“Tetanus?” kudengar Amber menggumam. “Jangan-jangan karena luka-luka di pahanya?”

“Bukan. Sepertinya murid anda ini suka melukai tubuhnya dengan benda tajam. Tetapi yang menyebabkan dia terinveksi bakteri clostridium tetani adalah luka kecil di ujung ibu jari kaki kananya. Dan bakteri itu menghasilkan racun yang menyebabkan otot-otot dalam tubuh, terutama otot anggota gerak menjadi kaku dan kejang-kejang. Seharusnya dia dibawa ke sini ketika dia masih mengalami demam dan nyeri-nyeri ringan. Sekarang kondisi otot-ototnya sudah kaku, bahkan otot-otot pernafasannya pun kejang dan itu yang membuatnya sulit bernafas.” Jelasnya panjang lebar.

“Kalau boleh tahu, itu bakteri berasal dari mana? Apa karena terkena paku berkarat atau apa?” tanyaku penasaran. Aku adalah guru sosiologi, bukan guru biologi, jadi wajarlah kalau yang berhubungan dengan hal seperti ini aku tidak terlalu paham.

“Sebenarnya spora bakteri itu bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun dalam tanah maupun kotoran hewan. Apakah murid anda punya hewan peliharaan?”

Aku tidak tahu.

“Punya, Dok. Anjing golden retriever,” tukas Amber. Oh, iya, dia sudah berkali-kali ke sana.

“Kemungkinan bakteri itu berasal dari kotoran anjingnya, atau bisa jadi dari tempat lain. Kita tidak bisa memastikan. Yang jelas, Sehun membutuhkan perawatan intensif, kalau terla…”

“Dokter! Sehun kejang-kejang, Dok!” Jongin menyentak pintu dengan kasar. Wajahnya tampak sangat panik dan ketakutan.

Dokter memanggil suster dan segera masuk ke dalam kamar. Kris dan Jongin diusir paksa dari kamar, wajah keduanya tampak khawatir. Pintu kamar ditutup, dan kami hanya bisa melihat dari jendela bundar kecil yang ada di pintu. Dokter dan suster tampak sibuk menangani Sehun yang menggelepar bagai ikan keluar dari air. Isak tangis Amber menular padaku. Aku pun tanpa mampu membendungnya lagi, membiarkan air mataku membasahi pipiku. Aku menoleh ke sebelah kiriku dan melihat Kris menggigit bibir merah mudanya dengan leleran air mata mengaliri pipinya. Jongin juga menangis, ia bahkan mengangkat bagian bawah kaosnya untuk mengusap ingus yang hampir menetes.

Kepanikan dan rasa was-was melingkupi kami.

Akankah Sehun melaewatinya dan selamat?

Ataukah dia akan…

Aku enyahkan pikiran itu dari otakku. Sehun akan selamat! Harus selamat!

Aku tidak sanggup melihat lagi ketika dokter menekan-nekan dada Sehun. Amber sudah bersimpuh di lantai, bahunya berguncang hebat, air matanya bahkan menetes ke lantai putih rumah sakit. Aku sandarkan punggungku ke dinding yang dingin itu demi menopang tubuhku yang mendadak lemas tak bertenaga.

oOo

Mataku menatap puluhan karangan bunga yang berjejer rapi di depan rumah Sehun. Orang-orang berpakaian hitam berdatangan dan mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya. Amber berada dalam rangkulan lenganku, berkali-kali dia menghapus air matanya dengan sapu tanganku. Aku sudah lelah menangis semalam.

Sebanyak apapun air mata yang akan aku tumpahkan, itu tidak akan bisa mengembalikan Sehun ke dunia ini lagi.

Remaja yang sudah bertekad untuk berubah itu meninggalkan kami sebelum mimpinya tercapai.

Tiap kali melihat orangtuanya, rasa amarahku bergejolak. Aku ingin mengatakan pada mereka bahwa merekalah yang membunuh anak mereka.

Ayah Sehun mendadak menjadi pendiam dan tatapannya kosong. Bahkan dia sama sekali tidak mengenali siapa saja yang datang dan mengungkapkan rasa duka citanya. Dia tenggelam dalam lumpur penyesalan.

Huh, penyesalan selalu datang belakangan, kan?

Ibu Sehun lebih parah lagi, wanita cantik itu mendadak terlihat lebih tua sepuluh tahun. Wajah tanpa polesan apapun, rambut berantakan yang belum sempat disisir dan hanya diikat asal-asalan. Kedua matanya merah dan sembap. Ke manakah wanita cantik yang anggun itu?

Masih inginkah dia pergi ke pesta-pesta para pengusaha sukses dan meninggalkan anaknya terbaring sakit di kamarnya?

Masih nafsukah mereka bepergian ke luar negeri demi memperbesar jaringan bisnis mereka, sementara anak mereka kejang-kejang merasakan tiap senti ototnya menjadi kaku dan nyeri?

Aku ingin mereka menderita, jauh lebih menderita dibanding Sehun. Aku ingin mereka merasakan penyesalan seumur hidup yang akan selamanya menghantui mereka.

Lenganku tiba-tiba diremas oleh Amber, membuatku tergugah dari lamunanku. Aku melihat Kris mendekatiku.

“Pak, bisa bicara sebentar di dalam?”

Aku mengikutinya hingga ke depan kamar Sehun.

Untuk apa dia mengajakku ke sini?

“Pak, silakan masuk.” Kris membukakan pintu. Aku masuk dan dia menyusulku. Lalu pintu pun ditutup.

Aku duduk di sebuah kursi. Kris tetap berdiri, dan itu makin membuatku tampak seperti house-elf di Harry Potter.

Miris.

“Aku nggak sengaja nemu ini di bawah bantal Sehun, Pak,” sebuah buku bersampul biru teracung di depan hidungku yang tidak semancung hidung Kris. Miris lagi.

Aku mengenali buku itu. Buku pemberianku. Lalu ke manakah buku bersampul hitam?

Aku membuka halaman demi halaman. Awalnya tulisan-tulisannya singkat dan terkesan canggung. Semakin jauh aku membalik lembaran-lembaran itu, semakin luwes dan panjang isi tulisannya. Sehun sudah merasakan banyak perasaan positif sehingga dia mampu mengutarakannya dalam buku ini. Dan hampir di setiap halaman selalu ada namaku dan Amber disebut. Air mataku mulai menggenang.

Aku mengelus tulisan-tulisannya dengan ujung jemariku.

Sehun…

Kris duduk di tepi ranjang, aku nyaris melupakan kehadirannya. Aku terlalu larut dalam isi buku biru itu. Buku khusus perasaan dan pengalaman positif yang dialami Sehun.

Cerita-ceritanya tentang gadis pujaannya, tentang bagaimana rambutnya yang tergerai terkena hembusan angin dan bagaimana dia sangat ingin menyingkirkan helai rambut gadis itu dari wajahnya dengan lembut, bagaimana dia pernah bermimpi mengecup bibir gadis itu. Sehun bercerita tentang beberapa kejadian lucu yang terjadi di kelas, seperti ketika Chanyeol berulang tahun dan mereka membuat pesta kejutan untuknya, dan betapa lucunya wajah Chanyeol saat melihat apa yang dilakukan teman-temannya. Dan saat itulah Sehun melihat Chanyeol menitikkan air matanya. Dia juga menulis tentang sikap Chanyeol dan Yixing yang berubah dan menjadi lebih baik, meski masih agak bandel dan jahil, tetapi prestasi mereka mulai meningkat.

Sehun tidak lupa menuliskan saat-saat kami mengobrol di atas atap gedung, tentang bagaimana aku bisa memotivasinya untuk menjadi individu yang baik. Dia juga mengungkapkan betapa dia bahagia bisa mendapat seorang kakak seperti Amber, bagaimana dia tersipu malu saat Amber memeluk dan mengecup dahinya untuk pertama kali. Dan aku terkekeh saat membaca tulisannya yang mengungkapkan bahwa dia takut jika aku marah karena dirinya dicium Amber. Ternyata di balik sikap diamnya, Sehun tahu kalau aku sempat cemburu padanya.

Remaja itu benar-benar berusaha menyingkirkan segala macam emosi dan pikiran negatifnya. Dan aku merasa senang bahwa usahaku untuk membantunya berhasil juga. Meskipun akhirnya tidak seperti yang aku harapkan.

Manusia memang hanya bisa merencanakan banyak hal. Namun, Tuhan yang menentukan segalanya.

Takdir sama sekali tidak bisa kita ubah. Dan Takdir Sehun berakhir seperti ini.

Kulanjutkan lagi membaca coretan Sehun di buku ini, dan tulisannya kali ini benar-benar meruntuhkan pertahananku.

Aku bahkan terisak ketika membaca tiap kalimat yang dia torehkan.

Mungkin ini pesan terakhir Sehun… karena setelah tulisan ini dia tidak menambahkan apapun lagi.

“Pak? Kenapa?” tanya Kris yang terheran-heran melihatku terisak kuat.

Aku menggeleng sambil menutup buku, “Sebaiknya kamu baca sendiri, dan pastiin orangtuamu juga baca. Oh, ya, Kris. Nanti balikin buku ini ke saya. Karena saya butuh buku ini. Permisi, saya mau pulang dulu.” Kataku sambil menyerahkan buku bersampul biru.

Kris termangu dan membolak-balik buku itu, tapi aku sudah tidak tahan berada terlalu lama di kamar Sehun, kamar yang dinding-dindingnya menjadi saksi bagaimana remaja itu melukai dirinya dan menangis sendirian di tengah malam.

Aku mengajak Amber pulang. Aku bahkan sama sekali tidak menemui orangtua Sehun sebelum aku meninggalkan rumah mewah itu.

Rumah yang dari luar tampak sempurna, tetapi di dalamnya penuh borok dan penyakit.

oOo

Di ruang tengah, ayah dan ibu Sehun serta Jongin duduk berdampingan di sofa panjang. Kris berdiri dengan buku biru di tangannya.

Air mata berderai dari mata ibu dan adiknya. Ayahnya tampak bagai zombie, begitu kosong sorot matanya.

“… terkadang hidup tidak sesuai yang kita inginkan. Aku ingin mendapatkan perhatian dari mama dan papa, bisa bercanda dan bergurau dengan Kris dan Jongin. Tetapi ini kehidupan nyata, dan dunia imajinasi tidak selamanya bisa terwujud, bukan?

Jadi mengharapkan perhatian dan cinta dari keluarga buatku merupakan imajinasi.

Aku sempat putus asa. Aku bahkan percaya bahwa aku, Sehun, tidak berhak mendapatkan sesuatu yang bernama cinta. Sehun hanyalah sesosok yang bernafas tetapi tidak dianggap hidup dan punya perasaan. Aku meyakinkan diriku bahwa ada atau tidak adanya aku di dunia ini sama sekali tidak penting.

Hingga akhirnya seseorang yang keras kepala mengganggu ketenanganku, mengusik ketidakberadaanku. Kim Joonmyun. Guru pelajaran sosiologi yang membosankan itu tiba-tiba muncul dan dengan paksa mengeluarkan aku dari cangkangku. Wajah boleh kalem dan mudah dibohongi, tetapi tekadnya sekuat baja. Awalnya aku benci padanya.

Dia tidak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan. Apa yang aku lakukan untuk melampiaskan amarah dan kecewaku terhadap keluargaku. Tetapi, dia tidak putus asa.

Sikap keras kepalanya telah menolongku.

Lalu ada Amber. Dia itu kekasih pak Joonmyun, aku ingin melihat mereka segera menikah dan mempunyai anak. Karena aku pasti akan jadi paman yang baik. Hehehe.

Aku tidak menyangka kalau Amber ketika masih remaja juga sering melukai tubuhnya dengan benda tajam. Dan karena dialah, aku jadi yakin bahwa self-harm memang tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi justru akan menimbulkan masalah baru. Terima kasih, Kak Amber. you are my life saviour.

Kata pak Joonmyun, aku seharusnya mencari hal-hal positif dari keluargaku. Awalnya sulit sekali. Karena di mataku, mereka itu salah. Papa yang galak, egois, tidak mau mendengarkan ucapan anaknya, kasar, pemarah dan suka memukul. Mananya yang positif? Pikirku. Tapi, pak Joonmyun memaksaku untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatifku dulu sebelum bisa melihat sifat-sifat positif pada diri seseorang.

Perlahan aku mencoba melihat hal-hal positif yang ada pada diri papa.

Aku menemukan kalau papa itu pekerja keras, papa mengorbankan banyak waktunya demi menyejahterakan keluarganya. Bukankah itu sikap yang bagus?

Aku berusaha meyakinkan diriku akan hal itu.

Lalu aku membuka album foto lama yang sudah berdebu karena tidak pernah kusentuh itu. Aku melihat bagaimana binar mata papa waktu menggendongku, sementara Kris dan Jongin bergelayutan di kakinya. Ada juga foto ketika aku duduk di atas punggung papa yang terpaksa jadi kuda. Tetapi sorot bahagia terpancar jelas dari mata papa. Senyuman lebarnya membuat dadaku berdesir.

Papa… papa pernah mencintaiku…

Foto-fotoku bersama mama juga banyak sekali. Dari mulai aku bayi yang masih terbungkus selimut dalam gendongannya, hingga aku berjalan dalam gandengan tangannya. Mama tampak bahagia dan bangga memiliki seorang anak laki-laki yang lucu dan menggemaskan.

Aku memang lucu. Wajarlah jika sekarang ini aku jadi tampan. Hahaha.

Ada foto aku duduk dengan wajah belepotan bubur bayi, dan mama tertawa sambil mengerling ke arah kamera. Tawanya tulus.

Mama… dia juga pernah mencintaiku…

Kami bertiga di dalam kolam kecil di kebun belakang rumah. Aku, Kak Kris dan Kak Jongin berendam dalam air yang berisi bola-bola warni-warni. Kalau tidak salah aku baru umur tiga tahun. Ada juga foto kami di kebun binatang, aku lihat lengan Kak Kris merangkul bahuku, bersikap melindungi ketika aku hendak memberi makan seekor kera. Lalu sebuah foto kami bertiga saling berpelukan, bahkan kak Jongin mencium pipiku.

Jujur, aku merindukan masa-masa itu.

Kenapa kalian berubah? Kenapa kalian seolah melupakan masa-masa bahagia itu?

Kemanakah kasih sayang kalian?

Apa aku berbuat salah?

Tidak bisakah kalian memaafkanku?

Papa, Mama, Kak Kris dan Kak Jongin, kalian sama sekali tidak tahu betapa aku sangat menyayangi kalian. Namun, rasa sayangku itu mulai terkikis sejak papa dan mama membanding-bandingkan aku dengan Kak Kris dan Kak Jongin. Sejak kalian menganggapku bodoh dan tidak berguna. Sejak kalian menganggapku memalukan. Sejak kalian berhenti mencintaiku…

Aduh, kenapa malah bahas emosi negatif, sih?

Maksudku itu aku mulai bisa melihat hal-hal positif pada diri keluargaku, meski mereka sama sekali tidak berusaha untuk mencari sisi-sisi positifku. Apakah mereka pernah memujiku jika nilaiku lebih baik dari sebelumnya?

Pernahkah mereka melihat betapa aku cukup mahir dalam bermain sepak bola?

Tahukah mereka bahwa aku ingin menjadi seorang penemu yang bisa mewujudkan perubahan pada dunia?

Aku punya sisi-sisi positif yang bisa membuat mereka bangga, tetapi mata dan hati mereka seolah tertutup kabut tebal.

Aku beruntung punya Ibu yang mengurusiku sejak kecil. Meski dia sama sekali tidak ada hubungan darah denganku, tapi cinta kasihnya melebihi mama yang melahirkanku.

Ibu yang tahu kapan aku sedih, kapan aku takut, kapan aku bahagia.

Ibu yang selalu ada saat aku membutuhkan seseorang.

Ibu yang tahu apa makanan yang aku suka dan mana yang aku benci.

Ibu… kenapa bukan Ibu saja yang menjadi ibu kandungku? Dia yang merawatku dengan tulus. Meski dia terkadang galak, tetapi dia melakukannya karena dia ingin yang terbaik untukku.

Berbeda dengan orangtuaku, mereka bersikap galak karena mereka TIDAK INGIN MALU! Mereka galak demi kepentingan mereka, bukan kepentinganku.

Tapi sayang, Ibu semakin tua dan kondisi kesehatannya mulai menurun. Dia sering tidak enak badan. Dan aku yang akan pergi ke apotek untuk membelikannya obat.

Ibu, terima kasih sudah mengasuhku. I love you, Ibu. Semoga Ibu jangan sering sakit-sakitan. Nanti aku ajak Ibu jalan-jalan, deh. Hehehe.

Salah satu keberhasilanku melihat segala sesuatunya dari segi positifnya adalah, aku bisa merelakan gadis yang aku suka berpacaran dengan pilihan hatinya, yaitu Luhan, teman sekelasku. Aku akui, Luhan itu anak yang baik. Dan dia juga berwajah tampan, meski kata Kak Amber aku lebih tampan darinya. Hehehe. Jadi sudah sewajarnya kalau dia menjadi incaran para gadis, di samping itu, Luhan juga termasuk ramah dan mudah akrab dengan siapapun. Berbeda dengan aku yang tertutup dan canggung jika harus bertemu dengan orang yang belum kukenal.

Aku anggap perasaan sukaku ke adik kelasku itu sebagai bumbu dalam masa remajaku. Tahun ini aku akan lulus, dan akan menyongsong dunia sebagai seorang pria dewasa. Bukan lagi anak SMA yang labil, seperti kata Pak Joonmyun.

Dan aku yakin, Tuhan sudah menyiapkan seorang gadis yang terbaik untukku. So, why so serious?

Nanti sebelum hari kelulusan, aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya dan bilang terima kasih karena sudah menceriakan hari-hariku di sekolah dengan keberadaannya, dengan senyumannya, dengan gelak tawa riangnya. Semoga dia mau menerima ucapan terima kasihku itu.

Merelakannya jauh lebih membuatku tenang daripada bersikeras mendapatkannya dengan cara curang sekalipun. Ya,kan?

Banyak hal positif yang kudapatkan semenjak aku berubah menjadi sosok Sehun yang baru. Teman-teman sekelas sudah bisa menerimaku. Dan aku juga membaur dengan mereka. Membuka diriku dengan teman-temanku. Aku bukanlah Sehun si sombong. Atau Sehun si poker face. Bahkan ada yang menjulukiku Sehun the misterious. Hahaha. Misterius dari mananya?

Kerja kelompok jadi lebih menyenangkan. Bermain dalam tim sepak bola maupun voli juga jadi sesuatu yang asyik. Kebersamaan bersama teman-teman memang lebih berharga daripada bersungut-sungut sambil menyayat-nyayat kulit pahaku.

Aku benci diriku yang dulu setiap kali mataku melihat luka goresan di pahaku. Kenapa aku begitu bodoh hingga nekat melukai diriku sendiri? Di saat orang yang membuatku marah itu sedang duduk santai sambil menyesap kopinya?

Kusesali sikap khilafku itu. Dan benar kata Kak Amber, setiap masalah ada penyelesaian rasionalnya. Memang melukai diri itu bisa melepas stress yang membelenggu. Tapi itu hanya sementara. Besoknya aku akan dimarahi lagi, dan aku akan marah lalu melukai kulitku.

Seperti itu terus-terusan, dan apa mereka tahu apa implikasinya membuatku marah?

Tidak. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa anak bungsu mereka tersiksa batinnya dan berusaha mentransfer rasa sakitnya melalui goresan-goresan di pahanya. Setiap titik darah yang merembes melalui goresan itu membuatku merasa lega dan tenang. Semakin dalam sayatannya maka semakin cepat aku lega.

Aku tolol, kan?

Tapi itu semua sudah tidak lagi kulakukan.

Aku mencintai diriku dan tubuhku.

Aku berjanji akan menjaga tubuh ini sebaik mungkin.

Aku berjanji pada diriku sendiri dan juga pada pak Joonmyun dan Kak Amber.

Black book sudah aku hancurkan. Aku hanya akan menuliskan semua perasaan dan pengalaman positifku. Kalau aku marah atau sedih, akan aku lampiaskan dengan cara lain.

Aku akan mengikuti tips-tips yang Kak Amber berikan padaku.

Intinya, Sehun sudah berubah.

Meski aku masih mengharapkan sedikit cinta dari papa, mama, kak Kris dan kak Jongin… just a little love…

Tapi aku sudah mendapatkan bigger love dari guru, teman, bahkan Ace juga memberikan cinta tulusnya padaku.

Silakan kalau papa, mama dan kakak-kakakku terlalu sibuk untuk sekedar memberikan sedikit cinta mereka padaku, karena aku sudah tidak butuh dan juga tidak mengharapkannya lagi.

Aku sudah punya orang-orang lain yang lebih mencintaiku karena aku adalah Sehun. Sehun yang apa adanya. Bukan Sehun yang mereka harapkan dan inginkan

Ya ampun, nggak kerasa aku sudah nulis sepanjang ini?

Well… semoga aku dapat banyak pengalaman asyik dan seru, jadi bisa aku tulis di sini….”

Kris menutup buku itu… wajahnya sudah bersimbah air mata.

Jongin dan ibunya berpelukan sambil menangis pilu.

“Pa…” panggil Kris ketika ayahnya berdiri dan berbalik.

Pria itu berjalan gontai ke kamar Sehun.

Kedua lututnya lemas, ia harus meraba dinding untuk menyokong tubuhnya. Ayah Sehun berhasil menuju ranjang anaknya dan mendadak semua menjadi buram. Air mata tumpah tak terbendung. Tangannya yang mulai keriput mengusap bantal Sehun, ada beberapa helai rambut halus anaknya yang tertinggal. Ia merangkak naik ke atas ranjang dan memeluk bantal itu, menciuminya, menghirup sisa-sisa aroma rambut anaknya.

“Sehun… anakku…” ratapnya dengan wajah terbenam dalam bantal. Ia meraba seprai dan selimut Sehun. Aroma tubuh anaknya masih tercium. Ia merebahkan tubuhnya dan menyelimuti dirinya. Tubunya bergetar hebat saat isakannya tak bisa ia tahan lagi.

Bertubi-tubi ingatan akan bagaimana dirinya memperlakukan anaknya dengan kasar, menamparnya, menghardiknya, menghinanya dan memukulnya, makin membuatnya tersiksa secara batin. Ia menyadari kekeliruannya. Ia ingin mengubahnya. Tapi ia tahu bahwa semua sudah terlambat. Sehun sudah pergi meninggalkannya.

Pria itu menyesal, dan penyesalannya tak akan pernah berakhir. Derita Sehun terjadi karena kelalaiannya, kecerobohannya sebagai orangtua.

Yang paling ia sesali adalah, dirinya tidak pernah ada jika Sehun membutuhkannya. Ke manakah dirinya saat itu?

Di Tokyo mengurus cabang barunya. Bulan berikutnya sudah berada di Macau untuk memenuhi undangan koleganya. Dua minggu kemudian dirinya terbang ke Bangkok untuk menandatangani kesepakatan bisnis. Seluruh hidupnya ia habiskan untuk bekerja. Untuk bisnis. Selama ini ia berpikir, kebahagiaan anaknya terletak pada berapa banyak yang bisa ia keluarkan untuk anak-anaknya.

Ia tak ingin anak-anaknya merasakan hidup kekurangan seperti yang dirinya alami ketika masih kecil. Ia mencegah anak-anaknya merasakan sulitnya hidup dalam keterbatasan materi. Bagaimana susahnya membeli makanan, tidak mampu membeli baju yang baru, karena dulu ia terpaksa membeli baju bekas yang harganya jauh lebih murah. Pernah putus sekolah karena minimnya biaya. Ayah Sehun bertekad untuk menjadi kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Dan ia memang berhasil, tetapi ia melupakan bahwa tiap orang membutuhkan cinta dan kasih sayang.

Itu yang ia lupakan karena terlalu dibutakan oleh harta.

Dan sebanyak apapun hartanya, ia tak akan mampu mengembalikan Sehun ke dalam pelukannya. Tidak akan pernah bisa.

“Sehun… papa yang seharusnya mati… papa pantas mati, Sehuuuun…” raungnya sambil mendekap dan menciumi bantal Sehun.

Kris yang mengintip dari sela pintu tak tega melihat ayahnya seperti itu. Baru kali ini sepanjang hidupnya ia melihat ayahnya menangis dan tampak lemah seperti itu.

Kris terduduk dengan punggung bersandarkan dinding dan membiarkan air matanya membanjiri wajah tampannya.

Ia merasa bersalah dengan kepergian Sehun, karena secara tidak langsung ia juga terlibat.

Dirinya seharusnya membawa adiknya ke rumah sakit alih-alih bermain basket dan berkencan dengan kekasihnya. Jongin juga lebih mementingkan urusannya bersama teman-temannya daripada memperhatikan Sehun.

Pria bertubuh jangkung itu memukuli dadanya yang terasa sesak. Ia berteriak sekeras yang ia mampu, tak peduli jika ayahnya akan memukulnya atau bahkan menendangnya.

Ia teringat Sehun. Teringat senyum manisnya yang membuat matanya membentuk bulan sabit yang cantik. Kris terkenang kembali bagaimana dirinya sangat suka meledek ucapan Sehun yang terdengar cadel. Ia akan merindukannya.

Tangisan Kris dan keluarganya makin menjadi-jadi ketika mereka mendengar Ace melolong.

Lolongannya begitu memilukan, lolongan kesedihan dan kehilangan.

Meski dia hanya seekor anjing, tetapi Ace bisa merasakan ketiadaan Sehun…

oOo

Setangkai bunga mawar tergeletak bersama secarik kartu di atas pusara Sehun. Sebuah mobil tampak meninggalkan areal pemakaman yang asri itu.

Aku berjalan mendekati pusara murid kesayanganku, dan mengambil kartu itu.

Sebuah kartu sederhana dengan gambar hati mungil di bagian sudutnya.

Sehun… atau aku harus manggil kamu Kak Sehun?

Kak, mungkin ini sudah terlambat, tapi aku tetap mau bilang kalau selama ini aku kagum sama kak Sehun. Dan rasa kagumku itu berubah jadi rasa suka. Mungkin semua itu karena aku setiap hari dicekoki Kakakku yang juga teman sekelasmu, Luhan. Dia selalu cerita tentang kamu, Kak. Aku jadi makin sering perhatiin kamu. Tapi aku nggak berani ajak kakak bicara. Jadi aku cukup lihat kakak dari jauh. Kak, kenapa kamu pergi terlalu cepat? Di saat aku berharap bisa jadi orang yang dekat denganmu?

Mungkin semua ini sudah takdir. Apa dayaku?

Semoga kak Sehun damai di alam sana.

I Love You, Sehun…

From the girl who fall in love with you.

Aku tersenyum getir.

Sehun coba kalau kamu waktu itu nurut kataku, pasti kamu sudah jadian sama dia.

Tapi lagi-lagi, takdir berkata lain.

Aku mengembalikan kartu itu lagi dan mengatupkan kedua tanganku dan berdoa untuk kedamaian Sehun.

Mungkin di alam sana dia akan lebih bahagia.

Amin.

Aku berjalan pulang, menikmati sisa-sisa hangatnya sinar matahari sore yang menerpa punggungku. Dan aku menemukan tekad baru…

Menikahi Amber dan segera mempunyai momongan. Dan jika terlahir laki-laki, maka namanya adalah Sehun.

Yup, that will do.

Amber, lets get married!

Seruku sambil berlari pulang menyongsong calon istriku tercinta.

THE END

A/N : HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA NANGIS BOMBAY AKU PAS NULIS TENTANG PAPANYA SEHUN YANG NANGIS ITU!!!!

Akhirnya selesai juga ff yang sudah lamaaaaa bgt q bikin ini, tapi tersendat2 karena mood yg nggak jelas.

Semoga dari ff ini ada pesan moral buat siapapun yang baca.

Terutama buat para pelaku self-harm. Cobalah cari bantuan.

Call 911. Hehehe

Thank you

See ya

Advertisements