oOo
Salam sayang dari aku…
Haaaaiiii, my faaaaaaaans… *dilempar ee’ naga
Maaf, belum bisa update FF. Karena masih mikirin endingnya. Hehehe.
Well, untuk pembahasan kali ini, aku mau mengangkat tema yang mungkin sebagian besar orang nggak terlalu nyadar akan implikasinya bagi kesehatan jiwa dan raga.
Kemarin aku bikin FF dengan judul *Need A Little Love* dengan main cast, Kim Joonmyun (Suho) dan Oh Sehun(piaraan gue).
Asal mula fanfiction itu adalah karena aku tiba-tiba dapat curhatan tentang melukai diri sendiri karena emosi yang nggak tersalurkan.
Jadi gini ceritanya…
Once upon a time… seorang yeoja (ini bukan gue yang nulis! Bukan gueeeeeh!) wanita muda (plis! Nyadar umur, bisa?).
Ulangi.
Once upon a time, seorang wanita nyaris tua (nelen rel kereta) sedang berleha-leha di peraduannya, sambil menimang-nimang hape kesayangannya demi membaca ff atau twitteran atau fesbukan atau… entahlah, aku lupa.

Intinya wanita itu udah siap-siap mau tidur ketika hapenya bergetar, persis kayak Kai lagi joget, bikin dada Kyungso bergetar saking terpananya.
Wanita nista itu ngecek sms yang masuk, dan ternyata dari seseorang yang masih belia, yaaaa sekitar 13-14 tahunan.
Cewek labil itu curhat bahwa dia abis dimarahin dan disuruh pergi dari rumah. wanita nggak nyadar status itu berusaha buat ringanin kebeteannya, akhirnya cewek itu bisa ketawa lagi, karena wanita itu mulai nggak jelas.
Awalnya dikira biasa aja, ya… marah, jengkel, nangis, terus udah. Eh ternyata dia ngaku kalau dia suka cakar-cakar pahanya sampai luka. Awalnya dia main cubit-cubitan oooy… (heh! Serius, monyong!/ iyaaa… nyante aja nape?)
Jadi awalnya dia nyubitin kulitnya sampai luka. Dan makin lama makin parah. Wanita itu mulai khawatir, karena dia cukup pintar buat tahu kalau hal seperti itu bisa berbahaya kalau nggak ditangani secepatnya.
Masalahnya, jarak yang memisahkanlah yang membuat wanita itu nggak bisa turun tangan langsung buat menangani remaja itu.
Intinya, dia itu kecewa sama cara orangtuanya memperlakukan dia.
Secara finansial mah jangan ditanya, deh. Dia dibeliin tiket VIP buat nonton konser B2ST (KAMPREEET! GUE JUGA PENGEN! GUE PENGEN KETEMU DONGWOON GUE! GIKWANG! YOSEOB! HUAAAAAA! Oke, cukup.), terus nonton SMTOWN juga (YANG INI GUE LEBIH MIRIS LAGI! GUE PENGEN NONTON SMTOWN YA ALLAH! MAU LIAT LUHAN! MANTENGIN KRAY MOMENT! LIATIN KAISOO! HANHUN! YA ALLAAAAAH! GUE PENGEN LIAT SHINEE! DONGHAE! DAN GUE PENGEN BANGET LIAT AMBEEEEEEERRRRRR! SAMA LIAT BULU KETEK YUNHOOOO!!! KENAPA OH KENAPA??? Cukup!!!!!). *maaf. Tiarap.
Dia sekolah di sekolah favorite RSBI pula. Sepatunya branded, bajunya juga, pokoknya mapan, deh. Tapi dia nggak ngerasain keadilan dalam perlakuan.
Kakak-kakaknya selalu dipuji. Secara, ada yang kuliah kedokteran, dan yang masih SMA selalu dapat peringkat tertinggi dalam satu angkatan. Gila, kan? (heh, orang pintar malah dibilang gila?/ lha terus dibilang apa?/ harusnya, orang pintar minum tolak angin/ iklan. Iklan. =_=)
Yang bikin dia jengkel ya karena dia selalu dibanding-bandingin sama kakaknya. Padahal dia nggak bodoh, kok. Nilainya bagus-bagus, tapi nggak sempurna.
Terus apapun yang dikerjain dia selalu salah di mata ortunya. Belum lagi neneknya yang bawelnya amit-amit.
Kasihannya, dia sama sekali nggak tahu harus curhat ke siapa. Teman-temannya mana mau ngurusin urusan dia? Dan mereka juga nggak akan bisa bantu dia.
Untungnya wanita semi waras itu bisa dia percaya sebagai tong sampah unek-unek. Ya, kalian bisa menyebut wanita pecinta Teh Gigi Luhan (di bahasa inggriskan, dan dibaca cepat, you’ll know what it means. XD) sebagai RECYCLE BIN.
Tapi wanita itu nggak bisa berbuat banyak, padahal dia pengin banget kasih tahu orangtua cewek itu, tapi dia takut dibilang ikut campur urusan orang.
Pusing, deh.
Dan wanita itu adalah aku…
Yang sedang merangkai kata demi kata agar menjadi kalimat yang bermakna dan bisa menjadi solusi buat siapapun yang membaca ini.
Sekarang, aku mau bicara tentang apa itu SELF ABUSE.
Self abuse berarti melukai diri sendiri.
Caranya macam-macam, dari mencubit, mencakar dengan kuku, menyayat dengan silet atau pisau, membakar diri, memukul tubuh, jedotin kepala ke benda keras, mogok makan. Hmmm… biar puas, kenapa nggak mogok nafas aja? =_=a
Self abuseatau self harm atau self injury adalah cara buat mengatasi permasalahan. Cara itu biasanya buat lampiasin emosi yang nggak bisa diungkapin lewat kata-kata, buat pengalihan dari kenyataan yang nggak enak, atau buat melepaskan emosi yang menyakitkan.
Memang nanti bakal ngerasa lega, tapi ingat! Itu hanya sementara. Dan suatu saat, emosi menyakitkan itu bakal kembali lagi, dan keinginan buat lukain diri muncul kembali.
Terkadang, mereka yang biasa milih metode self harm ngerasa bahwa mereka nggak punya pilihan lain buat lampiasin emosi mereka. Karena hanya cara itulah yang bisa bikin mereka lega dari serangan amarah, kebencian, dendam, kesedihan, rasa bersalah, dan emosi-emosi negatif lainnya. Padahal ada cara lain yang jauh lebih baik, dan bisa atasin masalah mereka.
Yang jadi masalah adalah rasa lega yang diperoleh setelah melukai diri nggak akan bertahan lama. Istilahnya, sebuah luka hanya ditutup pakai plester, padahal seharusnya mendapat jahitan. Meski darahnya berhenti, tapi luka di dalamnya masih terbuka, dan nantinya bakal bisa jadi infeksi.
Ada beberapa mitos dan fakta tentang self abuse, di antaranya ;
Mitos : Mereka yang lukain diri sendiri biasanya ngelakuin itu buat cari perhatian.
Fakta : Para pelaku self abuse justru ngelakuin itu secara sembunyi-sembunyi. Mereka lukain bagian tubuh mereka yang jarang diperlihatkan. Seperti lengan bagian atas, paha, betis, perut.
Mitos : Pelaku self abuse adalah orang sakit jiwa dan berbahaya.
Fakta : Memang para pelaku self abuse itu lukain diri sendiri karena stres, depresi dan tertekan. Tapi bukan dalam konteks gila yang nggak sadar apa yang dikerjain.
Mitos : Pelaku self abuse pengin mati.
Fakta : Mereka sama sekali nggak pengin mati. Mereka lukain diri hanya buat lampiasin emosi mereka. Tapi kalau dalam jangka waktu panjang, kemungkinan untuk bunuh diri memang besar, jadi sebaiknya sebelum kelamaan, lebih baik cari pertolongan.
Tanda-tanda dan gejala self abuse;
^. Menyayat atau mencakar kulit.
^. Membakar diri.
^. Memukul diri atau membenturkan kepala.
^. Meninju benda-benda hingga tangan terluka, atau menubrukkan tubuh ke dinding atau benda keras lainnya.
^. Menancapkan sesuatu ke dalam kulit.
^. Sengaja membiarkan luka tidak sembuh.
^. Menelan sesuatu beracun atau benda-benda berbahaya.
Bisa juga mengemudikan mobil dengan ceroboh, melakukan sex tidak aman (alias sama siapa aja, atau apa aja? Hmm… aku ama Luhan, aja, deh. Aman. Wkwkwk).
Perhatian buat orangtua atau teman atau saudara:
Kalian harus curiga dan waspada kalau melihat tanda-tanda sebagai berikut ;
^. Luka atau bekas luka aneh yang berasal dari sayatan, pukulan, atau bekas terbakar yang biasanya terdapat di lengan bagian atas, pergelangan tangan, paha, betis, atau dada.
^. Noda darah di pakaian, seprai, atau handuk bahkan tisu.
^. Ditemukan benda-benda tajam semacam silet, gunting, pisau, jarum, pecahan beling, atau tutup botol (minuman bersoda) di antara benda-benda miliknya.
^. Sering terjadi “kecelakaan” dengan dalih ceroboh, nggak sengaja, dll.
^. Mendadak pakaiannya tertutup, meski udara panas, tapi tetap pakai lengan panjang, celana panjang.
^. Lebih sering habisin waktu menyendiri dalam waktu yang lama, di kamar tidur atau kamar mandi.
^. Mengasingkan diri dan mudah tersinggung.
Bagaimana self harm itu bisa membantu?
^. Mengekspresikan emosi yang nggak bisa diungkapin dengan kata-kata.
^. Mentransfer rasa sakit dan tertekan dari dalam.
^. Membantu agar tetap memegang kendali.
^. Mengalihkan perhatian dari emosi berlebihan dan dari kenyataan pahit.
^. Sebagai ungkapan rasa bersalah dan menghukum diri sendiri.
^. Membuat merasa hidup, seenggaknya masih bisa merasakan sesuatu, daripada mati rasa.
 Setelah memahami penyebab self harm, diharapkan mereka bisa mencari solusi yang lebih baik untuk mengatasi permasalahan yang mereka alami.
Asal kalian tahu, self harm itu nyandu, lho.
Bagaimana menghentikan tindakan melukai diri?
Syaratnya cuma satu, sih sebenarnya. Yaitu mau terbuka buat bicarain perasaan ke orang yang bisa dipercaya.
Yang dimaksud dengan orang yang bisa dipercaya adalah orang yang bisa menjaga rahasia.
Karena bagi kebanyakan orang, self abuse itu aneh, nggak normal, sarap, alay, dll. Jadi harus bisa bicara sama orang yang benar-benar bisa memahami dan ngertiin kalau masalah self harm ini harus dirahasiain.
Sebaiknya pilih orang dewasa yang bisa bersikap objektif. Orang dewasa yang cukup dekat, misal guru, atau psikolog. Kalau bicara sama orangtua pasti susah, karena mereka pasti bakal marah-marah, ya, kan?
Bisa juga curhat sama sahabat, asalkan mereka bisa memahami dan bisa membantu ngurangin rasa tertekan dan kesepian itu.
Setelah nemuin orang yang bisa diajak bicara, maka bicarakan semua yang ada dalam hati dan pikiran. Keluarin semua unek-unek, keluhan, dan apapun yang bikin emosi.
Bicara jujur dan apa adanya, bukannya dari awal sudah percaya sama orang itu? Jadi harus total.
Setelah itu ditelaah lagi, apa, sih penyebab perilaku self abuse itu?
Apa karena masalah keluarga? Atau kare di bully di sekolah, atau permasalahan lainnya, misal kesepian, merasa bersalah atau berdosa, dll.
Kemudian dicari solusinya, enaknya buat salurin emosi itu ngapain, ya?
Pahami dulu emosi yang muncul dan sikap yang akan menyalurkan emosi itu. Misalkan, emosi itu memicu untuk menyayat kulit, maka sebagai gantinya lebih baik lakuin hal-hal berikut ini ;
@ Menyayat diri untuk mengungkapkan emosi yang menyakitkan;
^. Melukis, menggambar atau hanya mencoret-coret di kertas besar dengan tinta atau cat merah.
^. Ungkapin perasaan di buku harian (Diary).
^. Tulis segala perasaan negatif di sebuah kertas lalu robek-robek.
^. Buat sebuah puisi atau lirik lagu sesuai perasaan yang dirasain.
^. Dengerin lagu yang sesuai dengan perasaan saat itu.
@ Melukai untuk menenangkan diri;
^. Mandi dengan air hangat.
^. Memeluk atau berinteraksi dengan hewan peliharaan (kucing atau anjing. Jangan sama ikan atau burung, plis. Kalau burung Luhan, sih lain lagi. >///<)
^. Bungkus diri dalam selimut hangat.
^. Memijat tengkuk/leher, tangan dan kaki.
^. Dengerin musik tenang dan lembut.
@ Menyayat diri karena merasa sendirian dan mati rasa;
^. Telepon teman (nggak perlu bahas tentang self harm. Cukup ngobrol aja yang santai)
^. Mandi pakai air dingin.
^. Tahan sebongkah es batu di lekukan lengan atau di belakang lutut.
^. Kunyah sesuatu dengan rasa yang kuat, misal cabe, permen mint, dll.
^. Online ke jejaring sosial dan chatting.
@ Melukai untuk melepaskan kemarahan;
^. Berolahraga dengan kekuatan penuh, misal lari, lompat tali, atau memukul samsak. (pukul Kris aja, sodorin Kris.)
^. Pukul bantal, atau kasur atau  berteriak di bantal.
^. Remas bola karet atau lilin (play-doh, ex).
^. Robek sesuatu, misal, kertas, majalah atau robek baju Kris yang dipakai kemarin di airport itu juga boleh. (najis banget itu outfit)
^. Bikin suara bising, entah mainin alat musik seheboh-hebohnya, mukul-mukul panci atau apapun yang bikin berisik.
Kurang lebih cara-cara itu bisa mengurangi keinginan buat menyayat kulit. Kalau misal masih nggak mempan juga, ya mau nggak mau harus ketemu psikolog dan menjalani terapi.
Aku sekarang mau cerita tentang masa-masa labilku waktu masih remaja, which is a very very very long time ago. *sobs.
Aku dari kecil biasa dimarahin dan dipukul. Aku udah pernah ngerasain disabet pakai sabuk sampai ngebekas, terus pakai gagang sapu lidi juga pernah (gara-gara keluar malam sama sepupuku. =_=), pakai kabel juga pernah. Sumpah, paling sakit tuh disabet pakai kabel. Rasanya panas, perih dan nggak hilang-hilang sara sakitnya. Ngebekas pula. Huft.
Ayahku memang galak, kolot, keras kepala dan nggak sabaran. Jadi aku terbiasa diperlakuin kasar. Dan karena itulah, muncul jiwa pemberontak dalam diriku.
Di rumah aku lebih banyak habisin waktu di dalam kamar, baca komik, novel atau dengerin musik. Saking seringnya di kamar, kamarku sampai dibilang ada jinnya, dan jinnya itu kekepin aku, sampai aku betah di kamar. Lagian mendingan di kamar, karena kalau aku ngumpul sama keluarga, yang ada aku bakal dimarahin. Entah karena aku mau nonton acara kesukaanku (baca: MTV), atau karena alasan lain.
Tiap kali mau cerita tentang kejadian di sekolah, selalu aja dibilang, ‘Temenmu itu-itu doang, sih?’. Yaelah Mamaaaa, namanya juga sahabat, piye tho?
Boleh main, tapi sebelum magrib udah di rumah. Di dalam rumah nggak bisa bebas. Aku tertekan karena terlalu banyak larangan, akhirnya aku harus bohong.
Mereka nggak ngertiin jiwa remaja yang masih labil, di mata mereka semua salah. Aku belajar salah, aku nggak belajar makin salah. Aku suka lagu-lagu barat nggak boleh, aku suka nonton telenovela juga nggak boleh, suka nonton sitkom barat dilarang. Terus aku suruh gimana?
Boncengan sama cowok nggak boleh, ini nggak boleh, itu nggak boleh, bla bla bla.
Gimana mau betah di rumah?
Tapi aku kalau jengkel, milih buat nulis di diary. Isinya macam-macam, pas aku seneng yang aku nulis, lagi bete juga nulis. Atau kalau udah nyesek banget, aku ke kamar mandi dan guyur badanku pakai air dingin masih sebaju-bajunya, lho. Dan nangis sambil jedotin belakang kepala ke dinding kamar mandi, tapi nggak berani keras-keras. Sakit, woy!
Kalau nggak, ya, aku naik ke genteng dan nangis di sana, diliatin ama jin yang tinggal di sana. Wkwkwkw. Ikutan nangis, nggak ya?
Untungnya aku orangnya gampang curhat sama siapa aja, jadi aku sering ngobrolin kebeteanku ama sahabatku. Walhasil aku terhindar dari melukai diri.
Sekarang pun aku masih suka nangis kalau udah beneran nyesek. Rasa jengkel, kecewa, sakit hati, dendam, amarah yang numpuk dan menggunung, bisa tiba-tiba bikin aku nyesek dan nggak tahu kenapa, akhirnya nangis aja gitu. Jadi dada kayak penuuuuh banget, dan aku nangis. Setelah itu tenang lagi, terus tidur, deh.
Lain lagi masalah yang aku hadapi dulu, dengan sahabatku yang terkadang lebay dan nggak penting banget. Sebetulnya dia minta namanya disebut di sini, tapi aku nggak mau. Dia mau numpang eksis doang di blogku. Enak aja! Bisa-bisa dia lebih terkenal dari aku. Ogah bangeeeet. Hahahaha
*aku mencintaimu, Nyet! Wkwkwkw.
Kisah si Nyet-nyet tercinta ini lebih parah. Dia ini punya bapak (ya, iyalah!=_=), tapi bapaknya ini nggak bertanggung jawab. Dia kasar, suka mukul, dan sering bawa parang dan ngancem mau bunuh ibunya. Bayangin gimana nggak traumatis banget buat anak kecil? Si Nyet-nyet ini pernah nyari dibakar sama bapaknya. Niat bapaknya sih mau bakar ibunya, tapi nyiram minyak tanahnya kena ke muka Nyet-nyet. Belum lagi bapaknya nggak ngasih nafkah sepeserpun buat sekolahin dia. Pokoknya hidupnya itu nggak tenang dan tiap saat dia mikir, ‘Besok aku masih hidup, nggak, ya?’. Tapi untungnya, yang namanya Nyet-nyet itu hebat banget. Dia masih bisa ceria dan seolah hidupnya fine-fine aja. Dia itu gampang curhat sama siapa aja, makanya langsung akrab sama aku. Hahaha. Dia itu salah satu penikmar Ffku sejak tahun 2011, lhooo. Dari jaman aku nulis FF SUJU sampai aku pindah haluan ke EXO. Intinya, temen nista aku yang alay banget kalau berhubungan dengan manas-manasin shipper lain (sumpah, lu nggak penting banget!) bisa move-on with her life tanpa perlu lukain diri sendiri.
Sekali lagi, buat siapapun yang ngerasa punya kebiasaan buat lukain diri, harap bicarain dengan orang lain. Jangan memendam emosi terlalu lama, cari pelampiasan yang lebih baik. Kalau perlu cekek aja orang yang bikin kesel itu. Whoaaa.. jangan. Itu kriminal. Hehehe.
Sekarang coba dipikir, deh, kita marah karena seseorang. Kita nggak bisa ngelawan. Terus kita sayat diri sendiri. Nah, apa implikasinya buat orang yang bikin kita marah itu? Dia adem ayem nggak ngerti kalau paha kita udah mirip ukiran bali.
Aku berharap, bisa memberi sedikit pencerahan dan solusi buat para pelaku self abuse ini.
Selalu ingat bahwa ada orang yang mau dengerin unek-unek kita di luar sana. Jangan putus asa. Jangan minder. Self abuse bukan sesuatu yang memalukan, tetapi juga bukan sesuatu yang bisa dibiarkan.
Good Luck, and have a safe life.
WE ARE ONE!!!
Cr: HELPDGUIDE.org
*for the informations about self-harm.
Advertisements