oOo

Pintu kantor guru diketuk pelan, sepertinya sang pengetuk itu ragu-ragu. Ketukannya mengambang dan kurang mantap. Sambil bertanya-tanya siapa orang di balik pintu itu, aku mempersilakannya masuk. Pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam ruang kantor guru yang cukup lengang. Hanya ada aku dan tiga orang guru yang sibuk sendiri-sendiri.

“Selamat… siang, Pak.” Sapanya sopan dengan tubuh membungkuk hormat.

“Siang, Sehun. Silakan duduk,” aku menawarinya duduk di kursi kosong di depan mejaku.

Remaja pucat itu terlihat agak kikuk, mungkin karena insiden kemarin siang.

“Ada perlu apa?”

“Hmm… Pak… mmm… anu… ehem… aku… anu… aduh, kenapa jadi gugup gini, ya? Hehehe.” Sungguh imut bocah ini. Dia malu-malu dan canggung.

Aku tersenyum, merapikan kertas-kertas yang berserakan di mejaku dan menjadikannya satu tumpukan kemudian memasukkannya ke dalam map. Lalu aku berdiri dan memutari meja, aku ulurkan tangan kananku ke arah Sehun.

“Kita bicara di tempat lain aja.” Ajakku.

Sehun menatapku ragu sebelum dia meraih tanganku yang terulur dan dia bangun dari duduknya.

Aku melewati beberapa gerombolan siswa dan siswi di koridor, bertemu beberapa orang guru yang hendak menuju ke kantor, kemudian aku berbelok ke kanan dan melangkah panjang ke sebuah pintu. Sehun tidak mengucapkan apapun, dia mengikutiku ke manapun aku melangkah.

Kami naiki undakan yang akan membawa kami ke atap sekolah.

“Nah, di sini kamu bisa lebih leluasa ngomong apapun yang mau kamu ungkapin.” Ujarku setelah ruang lapang tak beratap ada di depan kami.

Sehun menatapku heran tetapi sedetik kemudian dia tersenyum.

Bocah ini punya senyum menawan dan polos, tapi sayang, dia jarang tersenyum.

“Makasih, Pak. Hmm… maksudku nemuin Bapak itu sebenarnya cuma buat bikin perjanjian sama Bapak.”

“Perjanjian apa, Sehun?” aku mengernyitkan alis. Sehun bergerak gelisah, ujung kaki kirinya mengetuk-ngetuk lantai beton keras itu, kedua tangannya ia kaitkan di balik punggungnya, seolah menyembunyikan sesuatu. Berkali-kali ia menjilati bibirnya.

“Bapak harus janji nggak akan laporin semua yang aku bilang kemarin ke orangtuaku.”

“Oh, itu. Kamu nggak perlu kasih tahu aku, Sehun. Aku nggak akan laporin ke orangtuamu, kok.”

“Janji?”

“Janji.”

Sehun tersenyum lega dan berterima kasih padaku. Lalu kami hanya terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.

“Pak,”

“Ya, Sehun.”

“Aku pengin kabur dari rumah, Pak.”

Seharusnya aku terkejut dengan ucapannya itu, tetapi aku sudah memahami bagaimana perasaan bocah ini jika berada dalam rumah bersama orang-orang ‘yang menurutnya’ tidak mempedulikannya.

“Kamu punya bekal apa buat kabur? Jangan dikira kabur itu gampang, Sehun. Kamu harus tahu mau tinggal di mana. Jangan sampai kamu kabur terus terlunta-lunta dan akhirnya tidur di bawah kolong jembatan atau di lorong-lorong gelap yang banyak tikus dan anjing liarnya. Terus kamu harus punya uang. Kamu pasti bakal lapar dan haus, ya, kan?”

Bocah itu tampaknya sedang menimbang-nimbang ucapanku. Dia menggaruk tengkuknya dan menggumam.

“Numpang di rumah Bapak bisa nggak?”

Apa aku tidak salah dengar ini? Sehun minta tinggal di rumahku?

“Maaf, Sehun. Aku nggak berani. Nanti dikira aku nyuci otakmu dan bikin kamu ngelawan orangtuamu.”

“Tapi, Pak, aku bisa mati kalau di sana kelamaan.” Rengekan khas remaja mulai dia gencarkan.

“Kalau menurutku, lebih baik kamu ceritain unek-unekmu ke aku. Nanti kita cari solusinya bersama.”

Sehun mengerutkan keningnya dan terlihat kecewa dengan jawabanku itu.

“Hmm… Pak,” Sehun berjalan menuju tepian atap dan menoleh padaku. “Kalau jatuh dari atas sini bisa langsung mati nggak?” dia menunjuk ke bawah.

“Waduh, aku belum pernah nyoba, jadi nggak tahu, deh. Kamu coba aja, kalau nggak langsung mati berarti atap ini kurang tinggi.” Sahutku dengan wajah serius.

Bahagianya aku waktu mendengar tawa lepas dari mulut Sehun. Dia bahkan sampai menitikkan air mata dan memegangi perutnya.

“Bapak gokil!” serunya terengah-engah di sela tawanya. Aku ikut tertawa bersamanya. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu.

Seorang Oh Sehun, tertawa atas sebuah jawaban sarkastis dari gurunya. Sungguh selera humor yang aneh.

Setelah bermenit-menit berlalu dalam gelak tawa siswa kelas akhir itu, akhirnya dia mulai tenang dan perlahan tawanya memudar menjadi kekehan ringan.

“Sudah lama aku nggak ngakak kayak gini. Rasanya aneh, dada sama perutku jadi sakit dan kaku. Bapak mendingan jadi pelawak aja, deh, daripada jadi guru pelajaran yang ngebosenin. Hehehe.” Ledekannya kurang ajar banget. Tapi aku suka. Perlahan aku mulai bisa membuat Sehun merasa nyaman denganku. Dan dengan kenyamanan itulah lama-lama dia akan terbuka dan mengungkapkan segala kegundahannya padaku.

Dan dengan cara itu pula, aku bisa mencegahnya melukai dirinya lagi.

Jam istirahat itu kami gunakan untuk membicarakan hal-hal ringan semacam musik dan film kesukaan. Awalnya Sehun terkejut ketika tahu bahwa umurku baru dua puluh lima tahun dan Amber adalah kekasihku. Dia mengungkapkan bahwa dirinya merasa nyaman dengan Amber, karena wanita itu berbeda dari karyawan lain di sekolah. Amber itu keren, begitu katanya tentang kekasihku itu.

Ya, Amber memang keren.

Rupanya, Sehun hanya membutuhkan seorang pendengar yang mau mendengarkan ocehannya. Dan di rumahnya dia tak mendapatkan itu.

Orangtuanya tidak menyadari kekeliruan mereka.

Mungkin hak-hak anak mereka sudah terpenuhi, seperti hak bersekolah di sekolah yang baik, hak mendapat pengobatan jika mereka sakit, mendapat uang saku yang cukup banyak, dibelikan pakaian bermerk, alat-alat penunjang sekolah, bahkan kakak-kakak Sehun masing-masing dibelikan mobil sport mewah. Bagi orangtuanya, terpenuhinya kebutuhan seperti itulah adalah hak mutlak anak. Tetapi mereka melupakan hak anak untuk didengarkan, dihargai, dimengerti, diterima apa adanya dan dicintai.

Dan sekarang, Sehun nyaris mendominasi percakapan kami, dan aku mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali mengomentari dan menyetujui pemikirannya. Terkadang aku mengomelinya sedikit, dan dia akan terkekeh sebelum melanjutkan lagi kicauannya.

Aku makin yakin, bahwa aku bisa benar-benar merubah hidup Sehun.

Dan aku ingin orangtuanya juga segera menyadari betapa istimewanya anak bungsu mereka ini.

oOo

Sehun menahan nafasnya ketika kukunya menancap dalam lapisan kulitnya dan dengan penuh tekanan, ia menggoreskan ujung-ujung kukunya itu hingga terbentuk cakaran-cakaran memanjang. Air matanya nyaris tumpah, tetapi ia berusaha menyalurkan semua emosi dan amarahnya melalui jemarinya yang sedang melukai kulit pahanya itu.

Beberapa garis berwarna merah itu menghiasi pahanya masih kurang mewakili perasaan amarah di batinnya. Sehun menyentakkan kepalanya ke belakang hingga mengenai dinding kamar mandi di dalam kamarnya itu. Berkali-kali ia menghantamkan bagian belakang kepalanya itu ke dinding hingga berdenyut-denyut.

Tapi itu masih belum bisa mengurangi emosinya. Ia makin kuat menyentakkan kepalanya hingga ia merasa bahwa kepalanya nyaris pecah. Ia terengah-engah dan memaki dalam tiap hembusan nafasnya.

Secara naluriah, Sehun menyentuh bagian belakang kepalanya, dan ia merasakan sesuatu yang hangat dan agak lengket. Ia mendekatkan tangannya ke wajahnya dan sebercak darah segar mengotori ujung jemarinya.

“Sial!” umpatnya seraya terhuyung-huyung mendekati wastafel dan ia berusaha melihat seberapa parah lukanya.

Dengan sedikit obat antiseptik, ia mengobati luka kecil itu. Untung rambutnya agak panjang sehingga bisa menutupi lukanya.

Remaja itu menatap pantulan wajahnya di cermin.

“Sampai kapan aku hidup kayak gini terus?” ujarnya meminta jawaban dari pantulan wajahnya.

“Bisa gila aku lama-lama kalau kayak gini terus. Semua yang aku lakuin selalu salah di mata mereka.” Ia mengeluh dan mengumpat sambil memukul dinding dingin kamar mandi. Ia tak berhenti sebelum buku-buku jarinya mati rasa.

Sehun keluar dari kamar mandi dan segera merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.

Ia kesepian. Tak ada orang yang bisa diajak berbagi kesedihan. Tak ada teman yang bisa menghiburnya.

Ia lalu teringat guru sosiologinya. Kim Joonmyun. Ia melirik ponselnya dan menimbang-nimbang.

oOo

Malam ini aku terpaksa memasak makan malamku sendiri.

Tidak ada yang istimewa, hanya sayuran dan tahu yang aku tumis dengan bumbu seadanya. Dengan sepiring nasi, aku makan lauk buatanku itu. Cukup enak, tetapi yang terpenting aku tidak tidur dalam kondisi kelaparan.

Belum habis isi piringku, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan masuk. Aku menghabiskan makan malamku dulu sebelum membaca isi pesan itu.

Aku lukain diriku lagi, Pak. 😦 … maaf.’

Oh, ini SMS dari Sehun. Aku belum menyimpan nomornya. Aku telepon dia dan dia langsung mengangkatnya.

“Sehun. Kamu baik-baik saja?” tanyaku penuh perhatian. Aku dengar helaan nafas Sehun.

“Kepalaku luka, pahaku perih. Hatiku sakit, Pak. Aku capek.” Keluhnya pelan. Mungkin dia tidak ingin keluarganya ada yang mendengar.

“Kamu obatin lukamu dulu biar nggak infeksi, Sehun. Setelah itu kamu tidur. Besok kamu temui aku di atap sekolah. Nanti kita bicarain masalah ini, oke?”

“Iya, Pak. Makasih. Hmm… night.”

Goodnight, Sehun. Sampai besok,” dan aku mematikan ponselku.

Aku kepikiran solusi yang dulu dikasih guru Amber itu. Tentang dua buku itu. Kira-kira mempan tidak kalau aku gunakan untuk membantu Sehun?

Aku berusaha optimis. Dan sepertinya Sehun sudah percaya padaku, makanya dia mulai terbuka.

Kim Joonmyun! You can do it!

Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa membantunya.

oOo

Sehun menatap dua buah buku, masing-masing berwarna hitam dan biru. Dia lalu mengangkat kepalanya dan menatapku bingung.

“Apa ini?”

“Itu buku harian.” Jawabku santai.

Bocah kurus itu mendengus dan terkekeh meremehkan, “Buku harian? Bapak pikir aku ini cewek menye-menye yang demen nulis kejadian sehari-hari di dalam diary? Apa aku kelihatan kayak cewek?” ujarnya sambil mengibaskan poninya dengan genit.

Aku tertawa sekilas sebelum berubah menjadi serius lagi.

“Itu buku yang bersampul hitam buat nulis segala perasaan maupun pikiran negatif yang nggak mungkin kamu ungkapin ke orang lain. Dan menurutku itu jauh lebih baik daripada kamu curhat dengan ngukir kulitmu pakai kuku-kukumu.”

“Bapak nyindir aku, ya?” Sehun cemberut. Dan dia tampak sangat lucu dengan ekspresi mengambeknya itu.

“Bolehlah kalau kamu tersindir, Sehun.” Remaja itu memutar bola matanya. Baru kali ini ada murid yang berani tidak sopan terhadap gurunya.

“Jadi fungsi buku ini buat tumpahin semua unek-unekmu, makian-makianmu, umpatan-umpatanmu, dan semua yang bikin kamu marah dan jengkel. Ini buku berisi segala hal negatif yang ngerusak mood kamu. Jadi ini sebagai wadah pelampiasan amarah dan kebencianmu, sehingga kamu nggak lagi salurin emosimu ke tubuhmu sendiri.” Jelasku sabar.

Sehun menatapku dengan ekspresi tak terbaca. Memang bocah ini seolah tidak punya ekspresi sama sekali. Si muka datar.

“Terus yang biru ini buat apa? Daftar hutang?” cemoohnya.

“Kayaknya kamu harus lebih banyak bergaul, Sehun. Omonganmu nggak ngenakin.” Tegurku agak galak. Bocah itu menggumam maaf.

“Buku biru itu buat kamu tulis semua perasaan positif yang hinggap di hati dan pikiranmu. Sekecil apapun itu, kamu langsung tulis.”

“Huh, aku nggak yakin bakal ngerasain perasaan postif kalau di sekitarku orang-orangnya brengsek semua, Pak.”

“Hei, ngomongnya jangan kasar! Mau sebrengsek apapun, mereka itu orangtuamu, kakak-kakakmu. Nggak ada mereka maka nggak ada kamu!” mulut bocah ini sudah keterlaluan. Aku paling benci jika ada orang yang memaki orangtuanya.

“Bapak mau bantuin aku atau ceramahin aku, sih?” tiba-tiba dia berdiri dan memelototiku.

Memang susah kalau bicara sama remaja labil, manja, kolokan kayak Sehun ini. Harus ekstra sabar.

Dengan kasar aku tarik pergelangan tangannya hingga dia menghadapku. “Kamu mau sembuh nggak?” sentakku gemas.

“Aku nggak sakit, Pak!” dia balas membentakku.

Sepertinya harus ada yang mengalah. Kali ini aku memutuskan untuk mundur selangkah.

“Sudahlah… kamu bawa buku-buku ini, terserah mau kamu apain. Aku mau ngajar dulu.” Ucapku sambil menepuk bahunya dan meninggalkannya sendirian di atap sekolah.

oOo

Tangan Sehun gemetar saat kukunya sudah menyentuh kulit pahanya yang masih meninggalkan bekas cakaran dua hari lalu. Begitu ia merasakan perih menyayat kulitnya, tanpa sengaja kedua matanya melirik dua buah buku yang tergeletak sembarangan di atas meja belajarnya. Ia menatap tangannya yang sudah siap mencabik kulit pahanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah buku bersampul hitam.

Ia bangun dan membetulkan celananya sebelum menyambar buku bersampul hitam. Matanya jelalatan mencari alat tulisnya dan begitu ia menemukan pulpen, segera saja ia menorehkan kata-kata di halaman pertama buku pemberian gurunya itu.

Tulisan tangannya berantakan, dan penuh dengan kata-kata kasar. Ia mencoretkan tiap hurufnya dengan penuh tekanan hingga nyaris membuat kertas itu robek. Ia mendesiskan makian dan umpatan.

Permasalahn yang dihadapi Sehun masih tetap sama, selalu dibanding-bandingkan dengan kedua kakaknya. Sehun membawa pulang hasil tes beberapa pelajarannya, namun nilainya masih dibawah harapan ayahnya yang selalu menuntutnya untuk mendapat nilai sempurna.

Padahal nilai Sehun mengalami peningkatan dibanding sebelumnya. Tetapi usahanya masih saja tidak dihargai. Lagi-lagi kata-kata ‘bodoh’, ‘pemalas’, ‘manja’ dan lainnya dialamatkan kepadanya.

Sehun ingin berteriak di depan muka ayahnya dan mengatakan betapa ia benci jika disudutkan dan direndahkan seperti itu. ia ingin meninju muka tampan kedua kakaknya yang tersenyum licik di balik punggung ayahnya. Ia ingin memaki semua orang di rumahnya.

Tangan Sehun tak berhenti menulis segala emosi yang bergejolak di hatinya. Ia bahkan tak merasa lelah.

Lima belas menit atau lebih, remaja itu akhirnya meletakkan pulpennya di samping buku. Lalu ia merasakan bahwa gemuruh di dadanya sudah reda, dan ia pun bernafas normal dan teratur.

Sehun heran dan takjub. Ternyata usul dari Joonmyun mempan juga untuk menyalurkan emosinya.

Sudut bibirnya tertarik ke atas ketika otot-otot wajahnya berusaha membuatnya tersenyum. Meski sekilas, tetapi senyum bangga sempat mampir di wajah tampannya.

oOo

Hari demi hari berlalu, dan sudah menjadi rutinitas Sehun untuk menghabiskan bekalnya di atap sekolah bersamaku. Aku mulai merasakan adanya keterbukaan dari diri Sehun. Rupanya dia sudah bisa menerimaku sebagai seorang teman yang mau mendengarkan cerita dan ide-idenya.

Bahkan beberapa teman sekelasnya merasakan perubahan Sehun yang mulai terlihat. Dia akan mulai menyapa mereka dan tersenyum ramah. Lalu di beberapa kesempatan, dia akan memulai suatu pembicaraan, ya meski berhubungan dengan pelajaran, tapi setidaknya Sehun mau berinteraksi dengan teman sekelasnya.

Di atap inilah aku akan mendengarkan segala macam ocehan Sehun. Terutama tentang ide-ide liarnya terhadap berbagai hal.

Aku salut.

Dia memang pendiam, tapi bukan berarti dia bodoh. Ide-ide Sehun keren dan kemungkinan besar bisa berhasil kalau diterapkan.

Dan yang aku herankan, kenapa orangtuanya tidak melihat potensi dalam diri Sehun?

Tidaklah perlu seseorang harus menjadi ahli Kimia atau Fisika atau Matematika untuk disebut manusia pintar atau cerdas.

Tiap-tiap orang punya potensi dan bakat yang berbeda. Dan Sehun memang berbeda dari kedua kakaknya.

Nah, yang jadi permasalahannya adalah, bagaimana caranya aku bilang sama orangtuanya tentang masalah ini? Aku takut kalau mereka menuduh aku mencampuri urusan keluarga orang lain, dan bla bla bla. Pasti urusannya makin panjang dan ruwet.

Kali ini Sehun bercerita agak tersendat-sendat dan pipi serta telinganya memerah. Berkali-kali dia menjilati bibir bawahnya.

Hmm… dia pasti gugup.

“Siapa dia, Sehun?” tanyaku tanpa basa-basi.

Sehun terbatuk karena tersedak ludahnya ketika hendak menelan, “’Siapa’ siapa, Pak?”

“Sekelasmu atau beda kelas?”

“Apaan, sih, Pak? Sok tahu, deh.” Sungutnya. Tetapi aku masih bisa menangkap binar matanya dan merah pipinya.

“Cantik, kan pastinya?” tebakku.

“Bapak buka stan ngeramal, gih. Pinter banget ngeramalnya.” Dengusnya bersama kekehanku.

Wajah Sehun benar-benar memerah dan itu bikin dia makin kelihatan imut dan lugu.

Sehun sambil malu-malu mulai bercerita tentang seorang gadis manis yang setahun lebih muda darinya. Aku tanya namanya, tapi dia bungkam.

Rahasia perusahaan, katanya.

Sok penting banget dia.

Ya sudah, toh tugasku di sini adalah jadi pendengar yang baik.

Aku duduk sambil nyeruput lemon tea yang sudah tinggal sedikit.

Sehun antusias menjabarkan tentang kecantikan cewek itu, betapa manis dan imut senyumannya, bagaimana matanya berkedip lucu, suara tawanya yang menggelitik pendengarannya, cara jalannya yang agak aneh tapi keren, jujur, aku tidak bisa membayangkan cara jalannya itu. Apa sambil berjingat-jingkat atau melompat-lompat? Entahlah, hanya Sehun yang tahu.

“Dan kalau pas pelajaran olahraga, dia bakal lari keliling lapangan buat pemanasan, dan saat itu dia kelihatan cantik banget, Pak. Rambutnya yang coklat kemaduan itu diikat ekor kuda pakai ikat rambut warna biru, yang bakal ikut bergerak tiap kali dia melangkah.”

“Sehun, mana ada warna coklat kemaduan?” aku memutar bola mataku.

“Bapak paham, kan, maksud warna itu?” aku mengangguk. “Ya sudah, nggak usah dipermasalahin. Terus setelah lari keliling lapangan, dia keringetan, kan, Pak. Terus aku lihat dia ngelap keringat di wajah sama lehernya pakai handuk kecil. Dan Bapak tahu apa yang aku pikirin?” matanya berbinar senang karena dia tahu kalau aku nggak mungkin tahu jawabannya. Hmm… padahal aku sudah bisa mengira-ngira jawabannya.

“Apa yang kamu pikirin, Sehun?”

“Aku pengin jadi ikat rambutnya,”

“Hah? Aneh! Biasanya itu pada pengin jadi handuknya, kenapa kamu malah pengin jadi ikat rambutnya?”

“Karena aku jadi bisa nyentuh rambut halusnya… bisa hirup wangi shamponya… aaahhh… jatuh cinta itu asik ya, Pak. Bikin deg-degan. Tapi… deg-degan yang seru,  bukan yang nyebelin kalau deg-degan dengar papa marah. Huft.”

Awalnya aku cengok dan melongo dengar penjelasan Sehun yang super absurd itu. Sedetik kemudian aku ketawa ngakak sampai Sehun bingung.

Setelah tawaku reda, Sehun melanjutkan ceritanya tentang gadis misterius itu. Seorang adik kelas berambut panjang dengan warna coklat kemaduan –menurut daftar warna dalam kamus Sehun- yang berkibar-kibar saat berlari, lalu jalannya yang aneh tapi keren, cantik, senyumnya manis dan imut.

Demi Tuhan, aku penasaran sama cewek ini.

Tetapi bel tanda istirahat sudah selesai, berdentang keras. Aku dan Sehun memunguti sampah bekas bekal kami dan membawanya turun dari atap lalu membuangnya ke tong sampah terdekat.

Sehun masuk ke kelasnya, dan aku harus mengajar kelas XI IPS 1.

Kugunakan kesempatan itu untuk mencari siapakah gadis yang disukai Sehun. Siapa tahu dia ada di kelas ini.

Poin pentingnya antara lain, rambut panjang coklat kemaduan *Oh Sehun, kamu sudah rusak daftar warna*, manis dan imut, ikat rambut biru, jalannya aneh tapi keren.

Kim Joonmyun akan memulai pengamatannya.

Semangat!

oOo

Perlahan Sehun mulai jarang menulis di buku bersampul hitam. Jemari lentiknya akan memeluk pulpen dan mengajaknya berdansa di atas lembar demi lembar buku bersampul biru, yang memang dikhususkan untuk menulis tentang segala perasaan dan pikiran positif yang ia rasakan atau pikirkan.

Semenjak ia akrab dan terbuka dengan guru sosiologinya, Sehun mulai melupakan cara melampiaskan amarahnya dengan melukai diri sendiri. Terkadang ia bahkan akan mengirim pesan singkat kepada gurunya itu.

Sudah tentu Joonmyun bahagia dengan perubahan ini.

Sudah lebih dari dua bulan Sehun tak menghunjamkan kuku-kuku tangannya di paha putihnya lagi. Meski terkadang ia marah luar biasa, tetapi justru buku hitamlah yang ia cari dan ia akan menumpahkan dan memuntahkan segala emosi membara yang melalap hatinya. Menjadikannya tulisan-tulisan tegas, kasar dan terkadang keji. Tetapi Sehun tak peduli.

Ia terus menulis dan menulis.

Sekarang, ia lebih sering bergumul dengan buku birunya.

Semuanya karena kehadiran Kim Joonmyun dan gadis incarannya itu dalam hidupnya.

Buku birunya mendadak penuh dengan berbagai pujian kepada gadis itu. Hingga ia membuat puisi untuknya.

Tapi Sehun masih ragu untuk menyatakan rasa sukanya pada adik kelasnya itu. Ia takut jika dirinya ditolak.

Rasa percaya diri Sehun telah terkikis semenjak ia didiskriminasikan dari kedua kakaknya. Ia merasa bahwa dirinya tak pantas mendapatkan sesuatu yang istimewa. Dan ia berpikir bahwa gadis itu adalah istimewa.

oOo

Malam minggu merupakan malam yang disukai Sehun. Kebetulan, setiap sabtu malam, sebuah channel televisi akan menayangkan film-film box office kesukaan Sehun. Maka ia akan menyiapkan segala sesuatunya sebelum film dimulai.

Semangkuk besar popcorn, dua kaleng soda, dua kantong keripik kentang dan terkadang ia menambahkan sebatang coklat dalam menu menonton filmnya.

Ia bebas dari kewajiban belajar, karena esok adalah hari libur. Dan Sehun ingin menikmatinya sendiri.

Film dimulai dan Sehun sudah duduk manis sambil mendekap bantal kecil..

Ia memekik senang ketika tahu bahwa film yang ia nanti-nanti akhirnya ditayangkan juga.

Seiring berjalannya alur dalam film itu, Sehun semakin tenggelam dalam film itu. Semua di sekelilingnya tak mampu mengalihkan konsentrasinya pada layar televisi.

“Heh, Sehun. Ganti channel nomor 5!”

“Nggak mau! Aku lagi nonton film, Kak!” sergahnya sambil menyembunyikan remote di belakang punggungnya.

“Kakak mau nonton pertandingan bola, nih. Cepat ganti!” paksanya.

Sehun makin mempertahankan egonya. “Di kamar Kakak, kan, ada tifinya! Nonton di sana aja. Aku mau nonton ini!”

“Kamu bisa beli dvdnya, terus kamu tonton sampai muntah-muntah! Sekarang Kakak mau nonton pertandingan Chelsea lawan MU! Buruan siniin remotenya!” kakak Sehun maju dan dengan kasar merebut remote dari tangan Sehun.

Sehun memekik menyuruhnya mengembalikan remotenya. Tetapi kakaknya justru mendorong bahu Sehun dan membuatnya terduduk di sofa dengan agak keras.

Dari kamar muncullah ayah Sehun. Wajahnya tampak begitu kesal.

“Jongin. Sehun. Ada apa ini?”

“Ini, Pa, Sehun. Jongin mau nonton pertandingan akbar Chelsea lawan MU, tapi dia nggak mau ganti channel, Pa.”

Sehun tak terima dia dijadikan tersangka, “Papa, Kak Jongin yang gangguin Sehun. Sehun lagi nonton film, tapi kakak malah rebut remote dari Sehun.” Ia menatap Jongin penuh rasa dendam.

“Jongin, bukannya di kamarmu ada tifinya?” ayahnya bertanya.

“Iya, Pa. Tapi nggak tahu kenapa channel yang nayangin sepak bola itu rusak dan nggak keluar gambarnya. Jadi Jongin mau nonton di sini. Tapi Sehun malah nggak mau berbagi, Pa.”

Ayah Sehun menatap anak bungsunya itu galak. “Film kayak gitu kamu besar-besarkan. Kamu bisa beli dvdnya, kan? Dan kamu kenapa bentak-bentak kakakmu? Mana sopan santunmu, Sehun? Seumur-umur Papa nggak pernah ngajarin kamu bersikap kampungan kayak gini. Siapa teman-temanmu? Sekumpulan babon?”

Jongin sudah mengganti channel dan duduk di sofa. “Yaaaah, sudah mulai, kan? Gara-gara kamu, sih, Sehun! Dasar kolokan!”

Sehun menggertakkan giginya, tangannya meremas celananya dengan kuat. Ia menahan keinginan untuk meninju wajah kakaknya. Tetapi Jongin rupanya belum puas jika Sehun belum benar-benar dihukum ayahnya.

“Bukannya belajar buat ngejar nilai, malah leha-leha nonton film.”

“Benar kata kakakmu. Lebih baik kamu belajar biar nilaimu nggak memalukan, dan akhirnya bikin Papa malu.” Sentaknya seraya mengibaskan tangannya menyuruh Sehun kembali ke kamarnya.

“Iya, Pa.” desis Sehun di sela gigi-giginya yang terkatup.

Ayahnya berbalik menuju kamarnya. Jongin menoleh ke arah Sehun, “Sukurin! Emang enak diomelin terus?!” ia menjulurkan lidahnya.

Kontrol diri pada Sehun menguap, dan yang ia ingat hanyalah kepalan tangan kanannya mendarat di pipi kiri kakaknya.

Ayahnya yang belum sempat menutup pintu kamarnya mendengar erangan kesakitan Jongin. Ia segera keluar lagi dan melihat Sehun memukul kakaknya.

Tanpa berpikir lagi, ayah Sehun merangsek penuh emosi ke arah Sehun dan dengan sekali tarik di bagian belakang kerah baju Sehun, ia membuat anak bungsunya itu berdiri dan ia memutar tubuh Sehun.

Tamparan keras mengenai pipi Sehun, dan remaja itu seolah melihat bintang-bintang menari di depan matanya. Kepalanya berdengung. Rasa panas dan menusuk di pipinya seolah permanen.

“Anak nggak tahu diri! Kurang ajar! Kampungan! Mau sampai kapan kamu bikin malu Papa, Sehun? Papa bingung, sebenarnya kamu ini anak siapa, sih? Hah?” raungnya sambil mencengkram kerah baju Sehun.

Sehun memejamkan matanya, menghindari cipratan air liur ayahnya yang mengenai wajahnya.

“Aku anak siapa? Mana aku tahu! Bukan aku yang tidur sama Mama!” dan Sehun berteriak di wajah ayahnya. Ia sudah tak tahu lagi apa yang sudah diperbuatnya.

Yang ia tahu hanyalah bahwa hidupnya tak lama lagi.

Ia akan mati saat itu juga di tangan ayahnya sendiri.

Tetapi bukanlah cekikan yang ia terima, melainkan tamparan bertubi-tubi di wajah tampannya.

“PAPA! CUKUP!” teriak ibu Sehun yang terlihat pucat dan panik saat menyaksikan bagaimana suaminya murka dan melimpahkannya ke anak termudanya. Ia memeluk suaminya dari belakang dan menariknya menjauhi Sehun. Ia bisa merasakan tubuh suaminya bergetar karena luapan emosi.

Sehun menatap ayahnya nanar, kemudian berlari menuju kamarnya dan menguncinya.

Rasa sakit di wajahnya tak ia rasakan, tetapi rasa sakit yang menguliti hatinyalah yang tak sanggup ia tampung.

Dengan gemetar ia membuka buku hitamnya dan menorehkan tinta di atasnya. Tetapi getaran di tangannya tak bisa berhenti. Bibirnya komat-kamit, ia tak tahu apa yang sedang diucapkannya. Ia hanya menggumam, mendesis dan menggeram penuh amarah.

Usahanya untuk menuliskan emosinya gagal. Ia terdiam sejenak.

Dan kurang dari sedetik kemudian, ia merasakan perih dan nyeri di pahanya. Ia tak berhenti, semakin sakit dan perih, semakin ia lega. Terus menerus ia menikmati rasa sakit itu, menanti hingga amarahnya terkuras habis.

Nafasnya sudah tenang…

Degup jantungnya mulai teratur…

Ia melongok ke bawah kakinya, dan ia mendapati beberapa tetes darah mengotori lantai.

Sehun mencoba bangun, tetapi sengatan perih di kulitnya memaksanya duduk lagi.

Ia rebahkan punggungnya di ranjang, dan tanpa ia sadari, air matanya merebak dan menetesi pelipisnya dan bersemayam di dalam serat-serat seprai biru lautnya.

“Maaf, Pak Joonmyun… aku gagal…”

Ia tidak terisak, hanya saja air matanya tak mampu ia hentikan. Mengalir terus hingga ia tertidur.

.

.

.

.

Sehun terbangun ketika merasakan betapa penuh kandung kemihnya, dan ia sangat butuh ke kamar kecil. Sambil mengerang pelan, ia duduk dan menatap ukiran barunya di paha. Ia meniup-niupnya sejenak sebelum ia berdiri dan agak terseok-seok melangkah. Ia menggigit bibir bawahnya demi menahan erangan kesakitannya setiap kali kakinya bergerak.

Ia melirik jam. 22:18. Ia tertidur nyaris tiga jam. Ia melangkah pelan dan melongok dari depan kamarnya. Lampu-lampu sudah dimatikan. Hanya beberapa yang dibiarkan menyala.

Sehun mengambil obat antiseptik dan kapas untuk mengobati luka di pahanya. Gesekan kain katun celananya menimbulkan rasa perih luar biasa. Ia bergerak sepelan mungkin, demi mengurangi sentuhan kain dengan lukanya.

Ia lapar, tapi mulutnya enggan menerima apapun. Akhirnya ia hanya membersihkan lukanya dan menunggu dalam diam di kamarnya.

Ia baru menyadari bahwa di luar sedang turun hujan.

Ia suka hujan.

Sehun berjingkat-jingkat keluar kamar dan menuju teras rumahnya. Ia menikmati hawa sejuk dan aroma tanah basah akibat hujan.

Seolah ada tangan-tangan transparan yang menariknya, Sehun melangkah maju.

Selangkah demi selangah hingga tetesan air itu mengenai kepalanya. Ia tak mundur. Ia hanya diam, mendongak menantang langit. Dan tetes-tetes hujan itu bagai ribuan jarum menusuk wajahnya yang masih lebam bekas tamparan ayahnya.

Tak ada yang bisa melihat air matanya yang melebur bersama air hujan.

Ia melangkah lagi. Berjalan tanpa tahu ke mana ia akan pergi.

Hatinya menuntunnya.

Sehun mengikutinya.

Mematuhinya.

Dan mempercayainya.

Ia percaya kalau hatinya akan membawanya ke tempat yang terbaik.

oOo

“Filmnya seru, ya, Amber?” tanyaku pada kekasihku yang kepalanya bersandar di bahuku.

“Lumayan. Aku lebih suka yang komedi.” Sahutnya sambil mengedikkan bahu.

“Kamu memang nggak bisa diajak serius.” Aku menghela nafas. Dan Amber tampak tak peduli dengan gerutuanku.

Ia berdiri. Lalu ia membungkuk dan mengangkat daguku. “Aku ngantuk, mau pulang dulu.”

“Oke, Sweetheart. Aku masih ada puluhan lembar kertas ulangan yang harus dikoreksi.”

“Besok minggu, sih. Libur libur!”

Aku hanya tersenyum dan menyuruhnya pulang.

Aku memang punya kecenderungan menyelesaikan semua urusan sekolah sebelum hari minggu. Jadi di hari minggu, aku bisa benar-benar menikmati kebebasan.

Baru saja aku mematikan televisi ketika bel berbunyi.

Amber muncul dari dapur sambil membawa segelas air minum, “Siapa yang mertamu jam segini? Hujan pula.”

Aku juga sama tidak tahunya seperti Amber.

Dia menaruh gelasnya di meja dan melangkah menuju pintu.

“OH MY GOD! SEHUN, ARE YOU OKAY?”

Aku kaget waktu dengar seruan Amber. Langsung saja aku ke sana, dan hanya Tuhan yang tahu gimana hatiku terpilin waktu lihat kondisi Sehun.

Basah kuyup, muka dengan beberapa luka lebam, dan tanpa alas kaki.

Sehun kaget waktu menatap Amber, mungkin dia menyangka kalau Amber tinggal bersamaku.

“Maaf, aku nggak tahu kenapa bisa sampai ke sini. Hmm… aku pergi dulu, Miss Amber. Pak Joonmyun. Permisi,” Sehun memutar tubuhnya.

“Tunggu!” Amber menggamit lengannya. “Masuk dulu. You’re wet and freezing!”

Dan dia menarik Sehun masuk ke dalam rumah. Segera saja aku ambil handuk bersih dari lemari dan membungkus tubuh menggigil Sehun dengannya.

Apa lagi yang terjadi?

Amber dengan telaten mengeringkan rambut Sehun, dan aku ke kamarku untuk mengambil baju dan celana untuk muridku itu.

“Kamu ganti pakai baju ini.” Aku sodorkan baju yang terlipat rapi itu ke tangannya.

“Tapi, Pak…”

“Nggak ada tapi-tapian. Ganti di kamar mandi sana.” Kataku sambil menunjukkan letak kamar mandi. Tanpa banyak bicara, Sehun mengangguk dan segera ke kamar mandi.

Amber di dapur membuat minuman hangat dan roti untuk Sehun.

“Dia kabur, ya?” bisikku.

“Kayaknya, sih, iya. Tapi kamu nanti bicara baik-baik sama dia. Dan kayaknya dia habis dipukuli. Mukanya lebam-lebam.”

“Apa enaknya kita laporin adanya tindak penganiayaan terhadap anak?” usulku.

Amber menepiskan tanganku dari pinggangnya, “Kita ngomong dulu sama orangtuanya. Jangan main lapor-lapor gitu.”

Ya, mungkin harus dibicarakan baik-baik. Kalau tidak ada perubahan, barulah aku lapor ke polisi.

Aku meninggalkan kekasihku di dapur, sementara itu aku masuk ke kamar tamu dan mulai merapikan tempat itu.

Sehun butuh tidur nyenyak.

Dan suasana baru.

oOo

Sehun menyalakan keran shower dan membuka bajunya yang basah. Ia membiarkannya menjadi gundukan di lantai dingin kamar mandi.

Pelan ia berjalan menghadap cermin.

Wajahnya…

Ia menyentuh lebam-lebam yang masih terasa nyeri.

“Begini caranya perlakuin anakmu, Pa? Apa aku beneran anakmu?” gumamnya sambil menelusuri rahangnya.

Matanya beralih ke dadanya yang kurus. Ada memar bekas pukulan Jongin sewaktu membalasnya tadi.

 “Begini caranya perlakuin adikmu, Jongin? Apa mungkin aku beneran bukan adikmu?” ucapnya di sela helaan nafas beratnya.

Agar tubuhnya bisa terlihat seutuhnya di cermin, Sehun mundur beberapa langkah hingga ia bisa melihat bagian bawah tubuhnya. Paha yang penuh goresan. Baik yang lama dan nyaris memudar maupun yang paling baru yang masih merah segar. Tiap goresan mengandung cerita.

Cerita yang penuh kemarahan.

Kekecewaan.

Kepedihan.

Dan keputusasaan.

Seuntai senyum sinis menyambangi wajah pucatnya.

Ia sinis terhadap hidupnya yang begitu ‘indah’.

Sebelum senyuman itu memudar, air mata mulai mengambang di pelupuk matanya dan luruh menuruni pipinya. Dadanya sesak dan nyeri. Ia ingin rasa sakit itu hilang, Sehun memukul-mukul dadanya dengan kepalan tangannya. Berharap siksaan itu segera sirna. Tetapi usahanya itu justru makin membuatnya tersiksa.

Ia pasrah.

Ia teronggok lemas di lantai dan menangis. Sehun tak lagi menahan tangisnya. Ia benar-benar melepaskan semua beban yang sudah membelenggunya.

Sedu sedannya terdengar hingga ke luar kamar mandi.

Ia tahu. Tetapi ia sudah lelah menahan semuanya.

Sehun lepas kendali.

Dan ia akan terus menangis hingga air matanya enggan mengalir lagi.

oOo

Aku menarik bahu Amber. Dia menangis karena mendengar lolongan Sehun yang begitu bikin hati seperti diiris-iris.

Tekanan batin yang dialami Sehun sepertinya sudah berlebihan.

Menurut informasi-informasi yang aku dapat dari internet, tekanan batin atau depresi berlebihan, bisa menyebabkan orang nekat melakukan bunuh diri.

Jadi aku harus bisa menyelamatkan Sehun.

“Sehun?” panggilku sambil mengetuk pintu.

“I-iya… P-pak… sebentar,” sahutnya dengan suara bergetar.

Bunyi kunci digeser terdengar dan pintu terbuka. Sehun memakai kaos oblong abu-abu, dan celana katun.

Dia berdiri kikuk dan salah tingkah. Pasti dia sadar kalau tadi suara tangisannya sampai keluar.

Amber mendengus menahan tawa, aku meliriknya tajam.

Aku tahu apa yang dia maksud.

Celana yang dipakai Sehun panjangnya di atas mata kaki remaja itu.

Dan aku makin kentara pendeknya.

Way to go, Amber!

 Sehun tersenyum kikuk dan menggaruk belakang kepalanya. Dia kelihatan begitu polos dan… lemah.

Amber mengaitkan lengannya di lengan Sehun dan mengajaknya ke meja makan.

Bertiga duduk mengitari meja makan bundar, Sehun makan dengan lahap.

Dia hanya diam, tetapi Amber berusaha menghidupkan suasana. Dia cerita tentang hal-hal konyol yang terjadi di perpustakaan. Salah satunya adalah saat dia memergoki dua murid sedang berciuman di balik rak buku. Dan bagaimana muka kedua murid itu waktu Amber bilang kalau dia akan melaporkan mereka kepada Miss. Jessica.

Sehun tertawa dan tampak lebih tenang. Syukurlah aku mempunyai seorang kekasih yang ceria dan berhati lembut.

Amber membereskan meja dan menyuruhku berbicara dengan Sehun.

Aku mengajak Sehun duduk di ruang keluarga. “Kamu capek, nggak?” tanyaku. Karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 12 lebih.

“Capek, tapi belum ngantuk. Tadi aku ketiduran hampir tiga jam.” Sahutnya pelan. Aku mengangguk dan tersenyum.

“Sehun, apa kamu kabur dari rumah?”

“Aku nggak ada niatan buat kabur, Pak. Tadi aku kayak dituntun sesuatu. Aku cuma ngikutin aja. Dan tahu tahu aku berhneti di depan rumah Bapak.”

Aku mengamati wajahnya, dan tampaknya dia berkata jujur. Lalu aku memintanya menceritakan tentang luka lemab di wajahnya.

Sehun awalnya ragu untuk menceritakannya, tetapi aku mencoba memancingnya sehingga akhirnya dia mengungkapkan semuanya.

Demi Tuhan, semua terjadi karena masalah sepele. Hanya berebut menonton tayangan televisi, dan berakhir dengan muka bonyok?

Apa-apaan ini?

“Jadi hanya karena masalah tifi saja kamu sampai dipukuli? Papamu memang keterlaluan, Sehun.” Geramku.

“Bukan karena itu papa pukulin aku, Pak. Tapi… karena omonganku.”

“Memangnya kamu bilang apa?” aku penasaran. Sedahsyat apakah ucapan Sehun sehingga dia diperlakukan seperti itu.

Dan aku syok waktu Sehun bilang bahwa ayahnya mempertanyakan tentang dia itu anak siapa. Mana ada orangtua meragukan hal itu? Itu secara tidak langsung menyatakan bahwa Sehun bukan anak yang mereka inginka.

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku bilang… hmm…”

“Apa?”

“Aku nggak tahu kenapa bisa bilang kayak gitu.”

“Iya, kamu bilang apaan, Oh Sehun?” gemas juga menunggu jawaban bocah ini.

“Aku bilang, mana aku tahu. Bukan aku yang tidur sama… mama…” kata terakhirnya diucapkan begitu lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya.

Dan aku menyesal kenapa harus mendengarnya.

“Kamu bilang begitu?” sentakku. Sehun berjengit dan menggeser duduknya menjauhiku. Dia merapal ucapan maaf berkali-kali, tapi aku sudah gemas. Aku mulai mengomelinya tentang betapa tidak sopannya dia. Suaraku makin meninggi dan itu membuat Amber muncul, menarik lenganku dan mendorong tubuhku ke dalam, menyuruhku masuk kamar dan tidur.

Go get some sleep, I’ll handle this.” Katanya sambil menepuk pelan pipiku yang memerah karena emosi.

Aku masuk kamar dan melemparkan tubuhku ke atas ranjang. Dan terngiang kembali semua yang sudah Sehun ceritakan padaku.

Aku harus menemui orangtuanya.

HARUS!

oOo

Advertisements