oOo

 

Materi yang akan aku ajarkan hari ini sudah kusiapkan sejak semalam. Berbekal buku tebal sosiologi, aku pun berangkat ke sekolah. Pagi ini cuacanya cukup cerah, meski baru pukul 6.30, tetapi hangatnya pancaran sinar matahari mengelus tubuhku.

 

Ku tersenyum tiap kali berpapasan dengan orang-orang yang kukenal. Ada penjual roti keliling langgananku, seorang ibu paruh baya yang menjajakan nasi kotak, remaja bertopi cokelat yang sedang bersepeda untuk mengantar koran, beberapa siswa sekolah dasar berjalan bersama-sama menuju sekolah mereka. sungguh pagi yang biasa, tetapi aku menikmatinya.

Sejak aku kecil, menjadi seorang guru adalah impian terbesarku. Aku ingin menjadi orang yang bisa mengajarkan berbagai hal tentang dunia ini. Aku sempat bertikai dengan orangtuaku yang memaksaku untuk menjadi seorang dokter. Dan alasan mereka adalah karena penghasilan dokter jauh lebih tinggi dibanding gaji seorang guru sekolah menengah atas.

Itu memang benar, suatu kenyataan yang miris, bukan? Dokter memang lebih kaya daripada guru. Dan lebih terpandang.

Namun, apakah seseorang bisa menjadi dokter tanpa adanya jasa seorang guru?

Bukankah para dokter itu pernah sekolah dan diajar oleh guru?

Hal penting itulah yang sering dilupakan banyak orang, sehingga tanpa sadar mereka menganggap rendah jasa seorang guru.

 

Tak terasa pintu gerbang sekolah yang kokoh sudah berada di depanku.

“Pagi, Pak Joonmyun,” sapaan selamat pagi yang ramah dari mulut satpam yang baik hati, Chen.

“Pagi, Chen. Ceria benar pagi ini?” tanyaku seraya mendekatinya.

“Anak pertama saya sudah lahir tadi malam, Pak,” tersirat jelas di wajahnya betapa bahagianya dia.

“Selamat, ya, Chen. Aku turut senang. Dan bagaimana keadaan istrimu?”

“Dia baik-baik saja, Pak.”

Syukurlah, aku turut merasakan kebahagiaannya.

 

Setelah mendengar cerita Chen tentang pengalaman pertamanya menunggui istrinya melahirkan dan betapa sempurna bayinya, aku pun berjalan memasuki kawasan sekolah. Langkahku melewati lapangan bola basket, lalu ke taman yang terawat dan rapi, kakiku menjejak undakan yang akan membawaku ke kantor guru yang terletak di ujung koridor.

Baru dua orang guru yang berangkat.

Aku menyapa Jonghyun, si guru sejarah yang oleh para siswa sering dijuluki Pak Artefak. Sungguh kurang ajar!

Hmm… tapi aku ingat, dulu di saat aku masih sekolah, aku juga sering menjuluki beberapa guru dengan nama-nama aneh. Hehehe.

Di meja paling pojok, seperti biasa Yoochun, guru bahasa Inggris, sedang menulis soal-soal kuis dadakan untuk para siswa.

Aku duduk di mejaku dan berkutat dengan lembar jawaban murid-muridku.

 

Pukul 7.15 bel masuk berbunyi. Aku, Jonghyun, Yoochun dan guru-guru lainnya berhamburan menuju kelas masing-masing.

Jadwalku dimulai dengan mengajar kelas XII IPS 3.

 

Sudah tipikal anak-anak kelas terakhir SMA yang akan seenaknya sendiri. Mengobrol, mengganggu para siswi, dan lain sebagainya. Hanya segelintir saja yang bersikap tenang.

Dengan sabar aku menyampaikan beberapa materi yang akan diujikan nanti. Kyungsoo dan Luhan termasuk dua siswa yang berprestasi di kelas ini. Dan mereka yang selalu mendapat predikat juara kelas.

Tetapi ada seorang siswa yang sikapnya agak aneh. Tidak berisik dan heboh seperti teman-teman lainnya. Dia sangat pendiam dan pemalu. Jarang sekali dia terlihat bersama teman-temannya.

Oh Sehun, siswa termuda di kelas ini, dan dia adalah anak seorang pengusaha sukses.

Prestasi belajarnya cukup baik, tidak seburuk nilai-nilai Chanyeol dan Yixing, dua murid yang selalu mengacau di kelas.

 

Hari ini Sehun tampak begitu murung. Mungkin sedang putus cinta atau berselisih paham dengan orangtuanya. Persoalan khas remaja.

Dua jam pelajaran sudah berlalu. Aku pun kembali ke kantor. Beristirahat sejenak, menyantap setangkup roti isi yang dibawa Yoochun.

 

Jam keempat hari ini tidak ada jadwal mengajar, jadi kuhabiskan waktu dengan berpatroli keliling sekolah, siapa tahu ada siswa bandel yang membolos dan berpacaran di tempat-tempat tersembunyi. Anak-anak jaman sekarang memang lebih nekat.

Kuperhatikan para siswa kelas XII IPS 3 mengikuti pelajaran atletik.

Minho, guru olahraga yang bertubuh tinggi (yang terkadang membuatku iri) itu berteriak-teriak mengarahkan siswa dan siswinya. Aku melihat seseorang duduk termangu di kursi panjang di pinggir lapangan.

Kuhempaskan tubuhku di sampingnya, “Hei, Sehun!” kutepuk pelan bahunya. Dia tersentak dan menoleh ke arahku.

“Eh, Pak Joonmyun!” sahutnya agak gugup.

Kuperhatikan raut wajahnya yang pucat dan sendu. Sangat disayangkan. Padahal menurutku dia itu termasuk tampan dan menarik, pasti banyak gadis yang mengharapkan perhatiannya. Apalagi dia dari kalangan keluarga terpandang.

 

“Kok, nggak ikutan olahraga?” tanyaku sambil menunjuk ke arah teman-teman sekelasnya yang sedang berlari keliling lapangan.

“Nunggu giliran dipanggil, Pak,” sahutnya setengah menggumam.

Aku merasa remaja itu canggung dengan keberadaanku di sampingnya. Kuputuskan untuk beranjak dari dudukku. Namun, mataku sempat melihat sekilas semacam goresan yang sudah mengering di lengan atas Sehun. Refleks tanganku menyingkap lengan kaos olahraganya yang agak pendek itu.

“Lenganmu kenapa, Sehun?”

Bukannya menjawab pertanyaanku, bocah ini malah menurunkan lengan bajunya dengan kasar, berdiri dan menatapku nanar, lalu ia berlari ke tengah lapangan.

 

Apa aku salah bicara?

Kenapa reaksinya seperti itu?

 

Bel pergantian jam pelajaran membuatku menunda pemikiranku akan luka mencurigakan di lengan Sehun.

 

oOo

 

Sehun baru saja meletakkan sepatunya di rak sepatu, ketika ibunya memanggilnya dengan suara melengking yang begitu dibencinya. Remaja itu tidak menyahur, tidak pula menghampiri ibunya yang sedang berkutat dengan masakan di dapur.

Wanita itu memanggil lagi dengan suara lebih keras dan Sehun terpaksa menemui ibunya.

Ia memasang wajah lesu dan lelah, dengan harapan ibunya tak menyuruhnya melakukan ini-itu.

 

“Sehun capek, Ma,” ujarnya ketika ibunya menyuruhnya membawa anjing peliharaannya ke salon hewan.

“Kamu selalu membantah mama! Tiru, dong, kakak-kakakmu. Kris sama Jongin. Selalu nurut sama orangtua, nggak kayak kamu. Ngelawan omongan mama terus. Heh! Sehun! Mama lagi ngomong sama kamu. Jangan masuk kamar dulu! Heh!” seru ibunya ketika anak bungsunya itu berlalu meninggalkannya yang masih mengomel itu.

 

Setelah yakin pintu kamarnya sudah terkunci rapat. Sehun melempar tasnya ke seberang ruangan dan ia melepas celana panjangnya.

Hanya mengenakan boxer, ia duduk di tepi ranjangnya, menggigit bibir bawahnya yang bergetar lalu ia mencakar-cakar pahanya hingga muncul goresan-gresan berwarna merah muda di kulit seputih susu itu.

 

“Mati aja semua! Mati aja!” desisnya di tiap cakaran yang ia torehkan pada pahanya.

 

oOo

 

Sudah satu minggu ini aku perhatikan kondisi Sehun yang makin aneh. Bocah itu makin murung. Sesekali aku melihatnya menyendiri di kantin, tidak membaur dengan yang lain, atau duduk sambil membaca buku di perpustakaan, terkadang dia akan jalan-jalan sendiri dengan earphone yang menempel di telinganya.

Ini terlalu aneh untuk anak remaja yang seharusnya ceria dan ramai. Dia berbeda. Tidak seperti Baekhyun atau Chanyeol yang selalu berisik di kelas, atau seperti Yixing yang hobi menjahili teman-temannya. Sehun begitu pendiam dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Dia jarang sekali terlihat berkumpul di saat istirahat atau saat pelajaran kosong. Dia hanya akan berkumpul jika ada tugas kelompok. Itu pun dia hanya akan melakukan tugasnya lalu pulang.

Orangtuanya juga nyaris tidak pernah muncul di sekolah. Di acara-acara seperti pesta seni atau perpisahan atau kegiatan-kegiatan lainnya, orangtua Sehun tidak pernah datang.

 

 

Pagi ini aku hendak mencari sebuah buku lama tentang psikologi, aku pun pergi ke perpustakaan sekolah. Yang aku herankan adalah, dengan sebegitu banyaknya siswa di sekolah ini, hanya beberapa saja yang gemar menghabiskan waktu di perpustakaan. Sungguh miris melihat minat baca para siswa yang sangat minim itu.

 

Aku menyapa Amber, seorang wanita muda yang cuek tapi berkarakter. Andai saja dia mau berdandan sedikit saja, maka dia akan terlihat sangat cantik. Namun, aku suka dengan gayanya yang apa adanya itu.

Salahkah jika seorang kekasih berharap melihat kekasihnya berpenampilan agak berbeda, yaaa… untuk sesekali?

 

“Hai, Amber…” sapaku sambil mengedipkan sebelah mataku. Perempuan itu mengangkat kepalanya dari sebuah buku tebal dan menyeringai senang saat melihatku.

“Hei, Joonie… tumben main ke sini? Kangen sama aku, ya?” candanya. Aku suka suaranya. Hmm… lebih macho dari suaraku. Haha

 

Ya, Amber adalah kekasihku. Kami memang sudah berpacaran sejak kuliah, lalu kami berdua mendaftar kerja bersama-sama. Dia menjadi penjaga perpustakaan. Cita-citanya sejak kecil. Ingin bekerja di tempat yang dipenuhi buku-buku. Dan aku menjadi seorang guru.

“Ya, nih. Aku mau nyari buku ini…” kusodorkan secarik kertas dengan nama pengarang dan judul buku yang tertera di atasnya.

Amber membaca nama itu dan dia mencari dalam berkas yang tersimpan di komputer.

“Di sebelah sini bukunya.” Ujarnya sambil menarik tanganku. Aku berjalan mengikutinya melewati beberapa rak tinggi di kanan kiriku. Lalu dia berhenti dan menoleh ke segala arah, dan belum sempat kusadari apa yang sedang dilakukannya, tiba-tiba dia mendekatiku dan memelukku.

 

Amber menyeringai bandel dan mengedipkan matanya sebelum menarik sebuah buku tebal dari rak dan menyerahkannya ke tanganku. “Nanti malam kita kencan, ya, love you!” bisiknya lirih sebelum mengecup pipiku.

“Genit!” desisku di sela senyumanku, dan Amber terkekeh nakal.

 

Di usia kami yang ke-25, Amber masih bersikap layaknya gadis remaja berusia 19 tahun. Dia selalu bilang, ‘Joonie… kenapa kamu kesannya tua banget, sih?’ dan aku akan menjawab, ‘Karena kita nggak butuh dua remaja labil,’ dan dia akan terbahak dan kemudian mengacak rambutku.

Kami memang agak berbeda. Dia terlalu bebas dan santai. Menikmati semua yang dilakukannya. Sedangkan aku, si pendiam yang hmm…. Antik. Begitulah istilah Amber untukku.

Meski aku dibilang antik, tapi aku bisa melihat pancaran cinta di matanya.

 

Aku menatap buku di tanganku dan ku tersenyum puas karena memang itulah buku yang kucari.

Mumpung aku masih di perpustakaan, sekalian saja aku mencari beberapa buku lainnya sebagai pengayaan materi yang akan kuajarkan.

 

Mataku membaca tiap-tiap judul buku yang berderet rapi di rak. Satu persatu dan dengan teliti kupilih buku yang sesuai.

Langkahku terhenti. Tepat di balik rak tempatku berdiri, kudengar suara isakan tertahan.

Penasaran. Aku berjalan memutari rak, dan melongok ke sumber suara.

 

“Oh Sehun?” panggilku dengan suara agak tertahan karena rasa kaget yang muncul.

Bocah berkulit pucat itu terkesiap dan mendongak menatapku. Dia segera mengusap air matanya.

Lalu sebelum aku sempat menghampirinya, bocah itu berdiri dan berlari keluar, bahkan dia sempat menyenggol Amber yang hendak mengembalikan buku ke tempatnya.

“Oh Sehun! Tunggu!” teriakku percuma, karena remaja itu sudah menghilang.

 

Aku berjongkok dan membantu Amber mengambil buku-buku yang berserakan. Mata kami bertatapan.

“Dia muridmu, kan?” tanyanya lirih, seolah enggan terdengar orang lain.

Aku mengangguk dan berdiri.

Dia mengambil buku dari tanganku dan meletakkannya di rak.

“Dia sering ke sini, mojok di balik rak selama jam kosong atau istirahat. Dan nggak jarang aku dengar dia nangis.” Ujarnya sambil menarik tanganku dan mengajakku duduk di salah satu meja perpustakaan.

Mataku menatapnya serius, “Sudah berapa lama dia kayak gitu?”

Amber tampak berpikir, “Hmm… dua bulan terakhir ini kalau nggak salah.” Jawabnya kurang yakin.

“Terus kamu pernah tanya dia apa masalahnya?”

“Boro-boro nanya, tiap aku deketin dia malah ngacir. Ya sudah, aku cuekin aja. Nanti dikira aku ikut campur urusan orang.” jawabnya cuek sambil menggigit kuku jari telunjuknya.

 

Berbagai pikiran menyambangi otakku. Menurut perasaanku, terjadi suatu masalah pada bocah itu.

Ada beberapa anak yang memang pendiam, tetapi tidak separah Sehun. Bocah itu terlalu menutup diri dari sekitarnya. Dan itu sangat tidak wajar untuk anak seusianya. Ditambah lagi dia sering menyendiri di perpustakaan dan bahkan menangis.

 

“Hei! Don’t tell me you want to figure out what really happened to that kiddo?” suara machonya membuatku tersentak dari pusaran pertanyaan dalam benakku.

Aku menatapnya tajam, “I am interested in him,”

Don’t waste your time, honey. Just mind your own bussiness. Sudah bel masuk, tuh. Shoo… shoo… get out from my sanctuary…” usirnya sambil mengibaskan tangannya. Aku berdiri, mengacak rambut pendeknya.

See you tonight, Jossie,” dan aku dengar makian darinya. Dia benci disapa Jossie.

It’s Amber, Kim Joonmyun!!”

Aku hanya tergelak dan melanjutkan langkahku menuju kelas.

 

Muncul tekad baru dalam diriku. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada Oh Sehun.

Before it’s too late.

 

oOo

 

“Sehun…” panggilku pelan ketika melihat remaja itu sedang menunduk menyantap bekalnya. Ia mendongak dan hendak bangun meninggalkan aku. “Tunggu! Ada yang perlu kita bacarain,”

“Nggak ada yang perlu dibicarain, Pak Joonmyun.”

Aku tidak mempedulikan ucapannya, aku duduk di sampingnya. “Sehun, kenapa kamu nggak main sama yang lainnya?”

“Males,”

“Kenapa? Pasti ada alasannya, kan?” aku berusaha mengorek segala sesuatunya dari bocah ini.

“Memangnya males itu harus ada alasannya, ya, Pak?”

Hmm… judes juga mulutnya.

 

“Memangnya kamu nggak kesepian, ke mana-mana sendiri, nggak ada teman mengobrol. Ke kantin sendiri, ngumpet di perpustakaan, nangis di pojokan perpustakaan. Memangnya asik, ya?” sindirku agak tajam. Siapa suruh dia begitu keras kepala?

“Suka-suka aku, Pak.”

Meski kesal akan sikap kurang ajar anak ini, tetapi setidaknya dia mau bicara.

Aku menghela nafas, dan mendongak agar bisa bersitatap dengan mata tajamnya. “Kapanpun kamu butuh teman ngobrol, silakan ke kantorku.”

Bocah itu balas menatapku tapi tak mengucapkan apapun, dia hanya mengangkat bahu dan berpaling.

 

Kayaknya ini tugas susah buatku. Bocah itu susah didekati. Terlalu tebal dinding pelindungnya.

Tapi aku yakin, suatu hari dia pasti bakal minta bantuanku.

 

oOo

 

“Ini rumusnya dipahami dulu, Sehun. Terus kamu kerjain soal ini. Kakak contohin, nih.” Kris mencoret-coretkan sebuah rumus pada kertas. Ia berusaha dengan telaten menjelaskan tiap tahap mengerjakan soal rumit itu. Tetapi Sehun sama sekali tak memerhatikan dengan seksama. Ia cemberut dan menggerutu bahwa ia membenci matematika. Kris yang memang agak kurang sabaran itu menjadi kesal dan gemas. Ia pun membentak adik bungsunya itu hingga suaranya terdengar sampai ke ruang kerja ayahnya.

 

“Ada apa ini?” bentaknya galak seraya menatap Kris dan Sehun bergantian.

“Ini, Pa. Aku serius ngajarin Sehun, tapi dia malah ngomel dan nggak mau dengerin penjelasanku,” adunya sambil melirik kesal ke arah adiknya.

Ayah Sehun murka dan menghampiri Sehun, merenggut lengannya dan memaksanya berdiri lalu ia mengangkat tangannya dan menampar pipi anaknya. “Kamu selalu bikin jengkel orang serumah. Maumu apa, Sehun? Papa nggak sudi punya anak pemalas dan bodoh! Keluar dari rumah! Jangan bikin malu keluarga, ya?! Kamu pikir sekolahmu itu murah, hah? Kalau nggak mau belajar yang benar, silakan pergi dari sini dan jadi gelandangan!” sentaknya dengan penuh amarah. Ibu Sehun menyentuh bahu suaminya, membisikinya agar jangan terlalu kasar pada Sehun.

Jongin yang kebetulan sedang berada di ruangan yang sama dengan Sehun dan Kris itu hanya mengernyit kesal karena kegiatan mengerjakan tugas kuliahnya terganggu.

 

Setelah ayahnya masuk ke ruang kerjanya lagi, Kris masih sempat mengomeli Sehun dan bersumpah tak akan mengajarinya apapun lagi.

Sehun tak bisa membalas, ataupun melawan kakak tertuanya itu. Ia hanya merasakan betapa panas pipinya bekas tamparan ayahnya, yang memang sangat keras dan kolot itu.

 

Ia masuk kamar dan mengunci pintunya. Air matanya sudah nyaris tumpah, tetapi ia menggigit bibirnya dan menurunkan celana panjangnya. Sehun duduk di tepi ranjangnya dan mulai menancapkan kuku-kukunya di kulit pahanya. Gejolak amarah dan benci menguasai tiap tarikan dan hembusan nafasnya, melebur dalam tiap desir darahnya.

Sehun ingin menjerit, memaki, mengumpat dan mengutuk semua orang, terutama keluarganya. Ia membenci kenyataan dirinya dilahirkan dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang tak mencintainya, yang tak peduli akan perasaannya, yang sama sekali tak menghargainya sebagai seorang manusia dengan hati dan pikiran. Mereka seolah menganggapnya makhluk bodoh yang hanya akan menurut pada apapun keinginan mereka.

Sehun, belajar! Sehun, beresin kamarmu! Sehun, tiru kakak-kakakmu! Sehun, taruh sepatumu di tempatnya! Sehun, kamu tolol, ya?

Tak pernah ia mendengar ucapan-ucapan lembut penuh kasih sayang dari mereka. Sehun ingin mendengar pujian atas keberhasilannya memperoleh nilai bagus, meskipun tidak sempurna. Ia ingin dihargai usahanya dalam merapikan kamarnya. Dan yang paling ia inginkan adalah pelukan dan ciuman penuh kehangatan dan kasih sayang.

Telinganya haus akan ucapan, ‘Mama bangga sama kamu, Sehun,’, ‘Papa sayang kamu, Nak.’, ‘Kakak senang punya adik kayak kamu, Sehun.’ Dan sebangsanya.

 

Hampir tiap hari goresan di paha putihnya bertambah. Luka yang sebelumnya belum sepenuhnya mengering, dan ia akan menambahkan lagi dengan yang baru. Begitu seterusnya hingga pahanya yang sebelumnya begitu putih dan mulus menjadi penuh luka bekas hunjaman kuku-kukunya.

 

Setelah emosinya mereda, Sehun barulah merasa kulitnya perih. Ia menunduk dan meniup luka-luka barunya. Ia tahu dan sangat sadar bahwa apa yang ia lakukan tidak akan menyelesaikan masalahnya. Orangtuanya tetap tidak akan mengerti apapun tentang perasaannya.

Tetapi ia tak punya pilihan lain untuk melampiaskan kemarahan dan kekesalannya. Sangatlah mustahil baginya untuk melawan orangtuanya, atau membentak kedua kakaknya yang begitu sempurna di pandangan orangtuanya. Ia sadar bahwa ia hanya anak bungsu yang selamanya akan dianggap bayi. Selama Kris dan Jongin masih bersamanya di rumah itu, maka selamanya pula ia akan dianggap anak kecil yang bodoh dan tak tahu apa-apa.

Semakin sempurna kedua kakaknya itu, semakin bertambah pula rasa bencinya pada mereka.

 

Sehun memakai kembali celananya dan mengambil laptopnya, lalu ia mulai menulis di blog pribadinya tentang perasaannya dan curahan hatinya. Ia menggunakan nama samaran agar tak ada yang mengetahui siapa dirinya.

Ia merasa cukup lega jika ia mengungkapkan isi hati dan pikirannya di blog itu, meski ia tahu tak seorang pun bisa mengeluarkannya dari situasi itu, setidaknya ada orang-orang di luar sana yang memberinya dukungan. Sehun merasa bisa menjadi dirinya sendiri jika berselancar di dunia maya. Ia bertemu banyak orang dengan kisah yang mirip dirinya, mereka akan saling memberi dukungan dan semangat. Ia bisa menemukan teman yang benar-benar bisa memahaminya.

Berbeda dengan di sekolah, ia tak pernah benar-benar berteman dengan siapapun. Ia hanya berinteraksi jika memang dibutuhkan, seperti kerja kelompok atau kegiatan olahraga.

 

“Sehun! Makan malam dulu!” teriak Jongin dari luar kamarnya. Sehun pura-pura tak mendengar. “Sehun! Kalau dalam lima menit nggak ke meja makan, kamu nggak boleh makan malam sama Papa!”

Sehun memang lapar, tapi ia sedang tak ingin bersitatap dengan penghuni rumahnya yang menyebalkan itu. Ia mematikan laptopnya kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menutup kepalanya dengan bantal.

Jongin menggedor pintunya sekali lagi sebelum kakak keduanya itu pergi.

 

“Biarin aku mati kelaparan sekalian, toh, mereka nggak akan peduli. Dasar brengsek semua!” geramnya sambil memaki.

Perutnya melilit, ia lapar. Tetapi ia bertekad akan tetap di kamarnya hingga pagi.

Ia bergelung seraya menekan perut kurusnya dengan tangannya, berusaha menahan rasa laparnya.

“Eh, kayaknya ada wafer sisa tadi siang,” gumamnya. Ia bangun dari ranjangnya dan merenggut ranselnya lalu mencari kudapan yang ia maksud.

“Nah, masih sisa dua. Nggak apa-apa, deh, daripada nggak ada yang bisa dimakan,” bisiknya senang sebelum menjejalkan wafer itu ke dalam mulutnya.

Setelah melahap sisa wafernya, Sehun naik ke ranjangnya dan membungkus tubuh kurusnya dengan selimut dan berdoa sebelum tidur.

Berdoa agar besok ia bisa bertemu orang yang benar-benar bisa memahaminya.

 

Sebelum ia benar-benar terlelap, terngiang ucapan guru Sosiologinya, Joonmyun.

 

Haruskan ia bicara padanya?

Bagaimana jika gurunya justru melaporkannya pada orangtuanya?

 

Sehun menggeleng pelan untuk menepis pikiran konyolnya itu, dan memejamkan matanya lagi, bersiap ditarik ke alam mimpi.

 

oOo

 

Pagi ini aku terbangun dan menemukan Amber di dapur sedang membuat kopi.

“Hmmm…” gumamku.

“Hmmm.”

“Hmmm?” tanyaku dalam gumaman.

“Hmmm.” Balasnya.

Aku mengecup hidungnya dan duduk.

“Jadi kamu mau sarapan sandwich isi peanut butter. Kamu mandi, aku siapin makan. Terus kita ke sekolah bareng-bareng. Oke, Joonie?” ucapnya ceria, seperti biasa.

“Iya, tapi sebelum bikin sarapan, cuci tangan dulu, kelihatannya kotor.”

“Sialan!” umpatnya. Aku ketawa dan berdiri untuk mengejarnya dan merengkuhnya dalam pelukanku, aku mengangkat tubuhnya beberapa senti dari lantai dan memutarnya. Dia memekik sambil memukul lenganku yang melingkari pinggangnya.

I love teasing you, Jossie,” kataku di sela tawaku.

Don’t call me jossie, you old grandpa!” begitulah Amber, kalau jengkel, pasti aku dipanggil grandpa.

“Siapa suruh namamu Amber Josephine Liu?”

“Bawel, ih! Udah ah, aku mau cuci tangan dulu.” Sambil bersungut-sungut, dia mecuci tangannya..

 

Sambil nunggu cewekku, aku rapihin tempat tidur.

 

Sarapan sudah siap, meskipun tomboy dan cuek, Amber bisa masak. Aku memeluknya dari belakang dan mengecup lekuk lehernya. “Makasih buat sarapannya. Sekarang kamu buruan mandi, nanti kita telat, lho.”

“Oke, grandpa,” dan dia lari sebelum bisa aku jitak jidatnya.

 

Aku duduk dan melahap sandwich dan menyesap teh hangat buatan Amber.

Tak lama Amber sudah siap dengan pakaiannya yang santai tapi terkesan lebih formal. Dia mencomot roti dan mengunyahnya tanpa kesan anggun sama sekali.

Kadang aku bingung, Amber ini sebenarnya cewek atau cowok, sih?

 

Kami pun berangkat ke sekolah.

 

Tugas mengoreksi pekerjaan rumah anak-anak didikku sudah menanti, suatu pekerjaan yang membosankan karena aku harus bisa membaca tulisan-tulisan yang sebagian besar mirip cakar ayam.

 

Jam pertama aku mengajar di kelas XII IPS 2, murid-murid kelas ini jauh lebih anteng ketimbang kelas yang dihuni Park Chanyeol dan Zhang Yi Xing. Pagi ini aku mengadakan kuis dadakan, berhubung kelas ini siswanya rajin belajar, maka mereka tidak kaget atau panik. Berbeda dengan kelas XII IPS 3, mereka akan heboh dan memohon agar kuis dibatalkan.

 

Ketika aku duduk tenang sambil mengawasi murid-muridku, seseorang mengetuk… hmm… menggedor pintu lebih tepatnya.

 

“Pak Joonmyun! Sehun sama Chanyeol berantem!” seru Kyungsoo dengan wajah panik. Tapi dia selalu terlihat panik, sih. Melotot-melotot  begitu.

Tanpa peduli dengan murid-muridku yang sibuk mengerjakan soal, aku mengikuti Kyungsoo ke tempat kejadian perkara.

 

Aku melihat tubuh bongsor Chanyeol sedang memojokkan Sehun yang kurus bagai lidi itu ke batang sebuah pohon besar di dekat lapangan. Sehun tampak tak ingin kalah, dia mendorong dada Chanyeol dan memukul bagian samping pinggangnya sehingga membuat Chanyeol mengaduh dan mengumpat kasar. Aku tergopoh-gopoh menghampiri mereka dan menengahi sebelum ada yang terluka.

 

“Park Chanyeol! Ke ruang BK sekarang! Biar Miss Jessica ngurus kamu!” sentakku galak pada cowok bandel itu.

“Pak! Jangan suruh aku ketemu medusa itu, Pak!” mohonnya sambil menangkupkan kedua tangannya.

“Nggak sopan nyapa gurumu seperti itu! Itu bukan urusan saya, sekarang kamu temuin Miss Jessica atau saya suruh kamu ketemu Pak kepala sekolah langsung?” ancamanku membuat Chanyeol mencicit ngeri dan segera lari ke ruang BK.

“Dan kamu, Yixing! Ngapain senyum-senyum sementara teman-teman sekelasmu berantem? Mulai nggak waras, ya? Masuk kelas sekarang atau kamu saya kirim ke ruang Miss Jessica bareng Chanyeol, hah?” dan Yixing segera melesat ke kelasnya. Kerumunan murid akhirnya bubar, dan tinggallah Sehun berdiri sambil mengerang kesakitan waktu tangannya menyentuh lebam di rahang dan pipi kirinya. Dia berbalik dan memunggungiku.

 

“Sehun!” panggilku. Dia berhenti tapi tidak menoleh. “Mau ke mana, kamu?”

“Ke kelas, Pak. Bukannya Bapak nyuruh kami masuk kelas?” jawabnya lancang.

“Ikut aku!” kataku tanpa menunggu tanggapan darinya, aku tarik pergelangan tangannya dan menyeretnya paksa.

“Kita mau ke mana, Pak?” tanyanya terengah-engah saat kami menaiki deretan anak tangga.

Aku diam dan terus mendaki undakan demi undakan.

 

Di anak tangga teratas terdapat sebuah pintu dari besi yang catnya sudah mengelupas di sana-sini dan berkarat. Aku membuka pintu itu dan mendorong Sehun melewati pintu itu.

Matanya mengerjap dan melihat sekelilingnya. “Kenapa Bapak bawa aku ke sini?”

 

“Sepertinya kamu sudah bosan hidup, Sehun. Makanya aku bawa kamu ke sini. Yaaa, siapa tahu kamu pengin loncat indah dari sini.” Sahutku sarkastik.

Sehun terkejut akan ucapanku itu, tetapi ia mengembalikan ekspresi datarnya lagi di wajahnya.

“Apa yang kamu ributin sama Chanyeol tadi?”

“Bukan sesuatu yang penting, Pak. Cuma masalah anak muda.”

“Kamu tahu, kan, aturan di sekolah ini? Kalau berantem di lingkungan sekolah maka kamu bakal diskorsing.”

Sehun mengangguk sekenanya dan mengalihkan pandangan.

“Sehun, sebenarnya apa yang bikin kamu jadi seperti ini?”

“Maksud Bapak apa? Perasaan, aku biasa aja, kok. Nggak ada masalah apa-apa. Bapak nggak usah sok tahu, deh,”

Aku menarik nafas dalam, berusaha sabar menghadapi mulut kurang ajar bocah ini.

“Pendiam, menarik diri dari pergaulan, bermasalah dalam mengontrol emosi, menyendiri, tertutup, apa semua itu normal untuk anak umur 17 tahun seperti kamu, Oh Sehun?”

Sehun terdiam, aku bisa lihat dia menelan ludah dengan gugup, matanya tidak fokus, seolah berusaha menghindari tatapan tajamku. Ya, meski mataku sipit tetapi aku bisa memancarkan kewibawaan melalui tatapan mataku yang terkadang tajam dan tegas. Tapi itu tak mempan terhadap Amber, dia malah akan ketawa geli. =_=

 

“Kenapa diam?” tanyaku dengan mata memicing karena menghalau teriknya sinar matahari.

“Karena apapun yang bakal aku omongin nggak akan Bapak ngertiin!” sentaknya tiba-tiba, bikin aku mundur setengah langkah.

Sehun melihat ekspresi terkejutku, dan dia melanjutkan, “Apa Bapak peduli sama apa yang udah aku alamin selama ini, hah? Toh, Bapak nggak akan paham. Nggak orangtua, nggak kakak, nggak guru, nggak teman, nggak ada seorang pun yang bisa ngertiin aku! Nggak ada yang care sama aku! Apa Bapak peduli gimana aku dipojokin terus di rumah? Dibanding-bandingin sama kedua kakak brengsek yang dibanggain orangtuaku? Apa Bapak tahu gimana aku dikatain bodoh, bego, kolokan, memalukan? Hah?”

Tiap ucapannya itu membuatku sesak nafas. Jadi ini masalahnya. Tentang keinginan mendapat pengakuan keberadaan dan jati dirinya.

“Sehun, kamu jangan salah pa…”

“Diam! Bapak nggak usah sok perhatian sama aku! Bapak itu sama kayak yang lainnya. Orang dewasa yang egois, sok benar dan sok tahu! Aku benci semua orang! Kenapa nggak mati aja semua, hah? Kenapa?!”

Oh, Tuhan… Sehun benar-benar sudah hancur. Dia hilang kendali. Semua yang selama ini dipendamnya memancar tak terkontrol. Segala beban yang memberatkan jiwanya dia muntahkan sekarang.

Wajahnya merah padam dan air mata mulai menetesi pipinya. Air mata kemarahan dan kebencian, hmm… mungkin sedikit keputusasaan.

Aku tercekat waktu dia terisak. Sehun tampak sangat rapuh dan tak berdaya. Bocah itu sudah dikuasai rasa benci terhadap orang-orang di sekitarnya, terutama keluarganya.

“Sehun…” aku mendekatinya yang sibuk menyedot ingus dan menghapus air matanya dengan kasar.

“Pak, aku tahu setelah ini Bapak bakal telepon orangtuaku dan nyuruh mereka ke sini, kan?” tuduhnya tanpa berpikir.

“Nggak, Oh Sehun. Aku nggak akan kasih tahu orangtuamu.” Balasku pelan sambil tersenyum meyakinkan.

“Bapak sama sekali nggak tahu gimana rasanya selalu diabaikan. Kalau aku bikin salah, baru, deh, mereka perhatian dan marah-marahin aku. Mereka sama sekali nggak hargain jerih payahku. Aku bukan Kris atau Jongin yang otaknya encer kayak air kencing kuda. Aku Sehun! Aku memang nggak sepintar mereka, tapi aku bukan anak idiot, Pak! Aku marah. Tapi aku nggak bisa ngelawan. Aku bisa mati dipukulin papaku kalau berani ngelawan. Aku muak sama keluargaku! Aku nggak butuh keluarga brengsek kayak gini, Pak! Buat apa mereka lahirin aku kalau cuman buat disia-siakan kayak gini? Mendingan mereka cekek aku sampai mati waktu masih bayi dulu! Buat apa aku dilahirin di dunia sialan ini? Kenapa?!” Sehun memekik sekuat tenaga. Tiap kata yang terucap mengandung beragam emosi yang membuat hatiku perih. Aku tidak menyangka dia akan semenderita itu.

Amarah yang tidak disalurkan dengan tepat justru akan menimbulkan dampak negatif. Aku bertanya-tanya, apa yang dilakukan bocah ini jika dia mau menyalurkan emosinya?

 

“Sehun… kalau boleh aku tahu, kamu kalau marah disalurinnya gimana?” pertanyaanku itu membuat Sehun terkejut. Wajahnya tampak gugup dan dia berusaha mengalihkan pandangannya. “Oh Sehun! Jawab!” tegasku.

 

Dia masih diam, tapi tiba-tiba Sehun meraih ikat pinggangnya dan melepas kaitannya lalu dia membuka kancing dan risleting celana panjangnya.

Apa-apaan ini?! Mau stripping di depan guru?

Tapi belum selesai aku menjejali otakku dengan pertanyaan-pertanyaan aneh, mataku menangkap goresan-goresan di paha putih Sehun.

“Ini korban kemarahanku! Bapak puas, kan, sekarang? Puas punya murid aneh dan memalukan kayak aku, kan?” desisnya dengan mata berapi-api sebelum memakai lagi celananya. “Silakan Bapak lapor orangtuaku, toh, ujung-ujungnya aku bakal dipukulin dan dikurung dalam kamar tanpa makanan. Permisi, Pak. Aku sudah bolos satu jam pelajaran.”

 

Sehun menghilang di balik pintu atap dan berlari menuruni tangga. Sedangkan aku mematung tanpa bisa berpikir apapun selain mengingat luka-luka di paha Sehun.

 

Aku harus membantu bocah ini.

Aku harus menyelamatkan Sehun sebelum terlambat.

 

oOo

 

Aku bergelung di lantai sambil menekuk lututku hingga nyaris menyentuh perutku, tangan lembutnya mengelus-elus rambutku. Aku kalut dengan pikiranku sendiri, dan Amber dengan sabar menunggu aku bicara.

Is it about him, Sweetheart?” ucapnya pelan.

Aku mengangguk lemah. “Yes.”

What did you find out about him?”

Pretty much,”

Just Talk, you old man!” desisnya sambil menarik pelan poniku.

 

Kepalaku berada di pangkuan Amber, aku ubah posisi kepalaku hingga bisa mendongak dan melihat wajahnya.

Aku ceritakan semua yang Sehun ungkapkan tadi siang di atap sekolah. Tiap kata dan kalimatnya aku ulangi lagi. Sesekali Amber terkesiap dan mengumpat.

 

So he abused himself… seharusnya orangtuanya lebih peka. Masa, sih, mereka nggak pernah ngerasain jadi ABG labil yang haus perhatian dan pengertian?” semburnya gemas.

“Amber! Gemas, sih, boleh aja, tapi nggak remas-remas pipiku juga, dong,”

Amber menggumam maaf dan terkekeh.

“Menurutmu kita bisa bantu dia?” tanyaku pesimis. Dia menjitak kepalaku dan memarahi sikap tidak yakinku ini.

“Joonmyun, aku kenal kamu bukan sehari atau dua hari, aku tahu banget kamu itu siapa. Dan Joonmyun yang aku kenal adalah cowok paling optimis yang pernah aku cium.”

What?!”

Easy, Man. I was just kidding. Aku yakin kamu bisa bantu Sehun biar dia nggak siksa dirinya sendiri lagi.”

 

Yang aku suka dari Amber adalah sikap mendukungnya yang begitu kuat, tanpa dukungan atau dorongan dari dia, mungkin aku nggak akan pernah bisa menggapai cita-citaku ini.

I thank her for everything.

“Aku nggak habis pikir, kenapa dia pilih buat self abuse dibanding bicara baik-baik, dari hati ke hati sama orangtuanya?”

Aku dengar Amber menghela nafas, lalu kedua tangannya memegang bahuku dan mendorongku hingga aku duduk tegak. Aku memutar tubuhku dan duduk bersila menghadapinya.

 

“Karena dia tahu bahwa mereka nggak akan dengerin dia. Apapun yang bakal dia ungkapin, pasti nggak dianggap dan diabaikan. Bagi Sehun, satu-satunya cara buat hilangin rasa sakit di batinnya adalah dengan memindahkannya ke fisiknya. Bagi Sehun, sakit secara fisik jauh lebih cepat hilang dibanding sakit dalam hati.” Ucapannya begitu lembut dan halus, sorot matanya redup dan menerawang menembusku. Amber seolah berbicara pada dirinya sendiri.

 

“Wow, kamu belajar psikologi juga, ya?”

Amber menggeleng, dan tersenyum. “I’ve been in that condition years ago, Joonmyun,”

 

Apa?

Amber yang ceria dan tukang nyablak ini dulunya punya masalah seperti Sehun?

Nggak mungkin, ah!

 

“Kamu jangan kaget, Sayang. Aku dulu malah jauh lebih parah dari Sehun. Dia baru lukain diri pakai kuku. Aku sayat-sayat kulit pahaku pakai cutter. Bekas-bekas samarnya masih ada,” Dia tersenyum. Begitu santai tanpa beban.

“Kenapa… kamu sampai begitu?”

“Aku beda, dan orangtuaku nggak bisa nerima aku apa adanya. Waktu masih anak-anak, aku nggak begitu punya banyak keinginan. Yang penting mainan apapun yang aku minta, pasti bakal dibeliin. Begitu mulai umur tiga belasan, aku mulai ngerasa kalau aku terlalu diatur sampai aku nggak punya pendapat sendiri. Dari mulai model rambut, baju, sepatu dan bahkan cat kamar tidurku semua mereka yang atur, padahal aku nggak suka sama pilihan mereka. Akhirnya aku mulai protes, tapi aku malah dianggap anak kurang ajar, nggak berbakti sama orangtua dan lainnya. Aku cuma bisa diam. Rasa marah yang aku rasain berubah jadi benci sama semua orang. Aku pengin maki-maki mereka, ngamuk-ngamuk sambil pecahin barang, tapi mana mungkin, kan? Akhirnya, aku mulai cubitin kulit tanganku sampai luka. Ternyata bikin lega juga. Lama-lama aku makin nekat dan cakarin kulit lenganku. Tapi karena takut ketahuan bekas-bekas lukanya, aku pun pindah sasaran ke paha. Lama-lama, cakaran di kulit udah nggak sakit lagi, dan aku mulai pakai alat. Aku pilih cutter karena bisa hasilin luka lebih dalam dan rasa sakitnya lebih kerasa.”

Aku bisa melihat kilatan kepedihan di masa lalunya yang tidak seindah bayanganku.

Siapa sangka seorang Amber yang cuek dan percaya diri itu pernah terpuruk dan bahkan melukai dirinya sendiri sebagai pelampiasan kemarahan.

 

“Terus gimana kamu bisa selamat dari gangguan itu?” aku raih tangannya dan menggenggamnya.

“Kasusnya mirip Sehun. Ada guru yang perhatian dan bantu aku. Akhirnya sebelum aku lulus SMP, aku sudah bisa lebih ungkapin perasaan-perasaanku dan nggak lukain diri lagi. Guruku ngajarin aku buat tulis semua perasaan dan emosiku dalam dua buah buku. Bad Book dan Good Book. Aku disuruh tulis hal-hal buruk yang aku rasain atau pikirin di dalam Bad Book. Dan perasaan-perasaan baik aku tulis di Good Book. Dan percaya atau nggak, I still have those books, and… sometimes I write down my feelings in those books.”

 

Setelah dengar cerita Amber itu, aku makin yakin kalau aku bisa membantu muridku, Oh Sehun. Mumpung dia masih dalam tahap mencakar diri pakai kuku, belum menyayat diri pakai cutter.

Aku merangkak ke arah Amber dan memeluknya erat. Menghirup harum parfumnya dan merasakan hangat tubuhnya. Aku kecup lekuk lehernya dan rahangnya. Lalu aku tatap kedua matanya, mengusap lembut pipi halusnya dan mengecup bibirnya sekilas.

Thank you, Amber.”

Pacarku itu terkekeh dan mencubit kedua pipiku.

 

Lalu aku rebahkan kepalaku di pangkuannya lagi. “Kamu mau bantu aku, kan?”

“Ya, aku pasti bantu kamu, Joonmyun.” Amber bermain dengan rambutku, “I’m sure you’re going to be a great father.”

Really?” dia mengangguk yakin, aku buru-buru bangun dan duduk menghadapnya, “So… Amber Josephine Liu, will you marry me?” lamarku. Tapi anehnya dia malah ketawa.

Maybe next time, Kim Joonmyun. Kelarin dulu urusan Sehun itu. Hahaha. Tidur, yuk.” Ajaknya setelah melompat berdiri dari duduknya dan melenggang ke kamarnya.

“Beneran, yaaa?! Setelah urusan Sehun beres, kamu harus bilang ‘ye’s atas lamaranku.” Seruku karena Amber sudah di dalam kamarnya.

“Iya.” Balasnya tak kalah keras.

 

Aku memutuskan untuk browsing di internet tentang kasus-kasus self abuse dan mencari solusinya demi menyelamatkan Sehun.

 

oOo

 

Sehun makan dalam diam, kepalanya tertunduk begitu dalam hingga nyaris saja poninya menyentuh makanan dalam piringnya. Bentakan galak ayahnya membuat remaja itu mengangkat kepalanya kemudian menyendokkan makan malamnya ke dalam mulut, dan tanpa mengunyahnya terlebih dahulu, ia menelannya. Ia menelan makanannya begitu cepat, ia ingin segera beranjak dari meja makan.

Setelah menghabiskan isi piringnya, Sehun permisi ke kamarnya dengan alasan hendak menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

Pintu kamar ia kunci agar salah satu kakaknya tak dapat masuk dan mulai mengganggunya.

 

Remaja itu merebahkan tubuh jangkungnya ke atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya.

“Gimana kalau Pak Joonmyun lapor sama mama dan papa? Bisa dipukulin sampai mati, nih, aku. Ah, kenapa aku bego banget, sih, sampai curhat sama dia? Mendingan aku loncat dari atap gedung aja, ya? Tapi… kayaknya Pak Joonmyun bukan tipe guru ember kayak Pak Jonghyun si Artefak itu. Hmm… besok aku harus ketemu dia lagi dan bikin dia berjanji nggak akan ngadu ke mama dan papa.” Ucapnya pada dirinya sendiri sebelum menyambar ponselnya dan menyalakan musik favoritnya sebagai teman pengantar tidur.

Advertisements