oOo

A/N : Udah lama author ‘daebak’ ini pengin bikin FF EXO yang genre setan-setan atau hantu gitu. Dari kemarin-kemarin author nulis FF Fluff sama Komedi terus, kan?

Berhubung my fluffy kray feels lagi hilang entah ke mana, jadilah author iseng-iseng bikin genre ini.

Semoga kalian suka… 🙂

oOo

oOo

“Akhirnya sampai juga. Huuuh… pantat gue sampai tepos begini, gara-gara kelamaan duduk.” Yifan si pemilik mobil hitam itu turun dari mobil dan mregangkan lengan-lengan panjangnya.

“Memang sudah tepos dari dulu, Yifan,” sahut Tao, sahabatnya, yang bertubuh jangkung itu. “kalau Minseok beda lagi, dia semok,” dan pria muda bertubuh paling pendek bernama Minseok itu memukul lengan Tao. Ia ikut tertawa bersama yang lain.

Tiga pemuda itu berdiri berjejer bersama ketiga teman mereka yang lainnya. Ke enam mahasiswa baru itu menatap bangunan villa di depan mereka. Sebuah villa yang agak terasing dari pemukiman penduduk. Di belakang rumah peristirahatan itu terdapat hutan yang agak menyeramkan. Tetapi kondisi villa itu masih bagus dan terlihat bersih dan terawat.

Villa milik teman ayah Yifan yang belum lama ini pindah ke luar negeri bersama keluarganya. Dan villa itu ia sewakan untuk siapa saja yang ingin menggunakannya untuk berlibur.

Dalam rangka menghabiskan masa liburan akhir semester, keenam pemuda itu memilih menginap di villa dan berlibur di sana.

Yifan mengajak sepupunya, Luhan, kakak beradik Kim Min Seok dan Kim Jongdae, serta dua sahabatnya Yixing dan Tao untuk menjalani hari-hari tanpa pengawasan orangtua yang sering melarang ini-itu.

Para pemuda itu melangkah melewati jalan setapak yang diapit taman berumput yang terawat.

Jalanan di depan villa itu tampak lengang dan sepi. Sesekali ada mobil yang lewat. Mungkin karena daerah itu jarang penduduknya.

Tao yang tak sabaran itu tiba-tiba merebut kunci dari tangan Kris dan tergesa-gesa membuka pintu. Yifan sempat mengomelinya dengan kesal. Namun, Tao pura-pura tak mendengarnya. Pemuda berambut hitam itu memasuki rumah. Satu persatu temannya mengikuti, Yixing yang terakhir melangahkan kakinya ke dalam, lalu ia menutup pintu dan menyusul teman-temannya yang sudah mulai menjelajahi villa itu.

Beberapa lukisan berukuran besar tertambat anggun di dinding, sofa-sofa antik yang elegan ditata rapi di ruang keluarga, menghadap sebuah perapian. Lampu-lampu kristal menggantung di atas kepala mereka, indah dan mewah. Di atas perapian terdapat sebuah cermin berbentuk oval dengan ukiran-ukiran rumit pada bingkainya. Mereka kemudian memasuki dapur yang praktis dan sesuai kebutuhan, tidak terlalu banyak perkakas. Mereka hanya perlu berbelanja bahan-bahan makanan untuk mengisi lemari es dua pintu berukuran besar itu. Tao yang paling ribut tentang apa saja yang harus dibeli untuk memuaskan hasrat makannya yang luar biasa itu. Yifan hanya meliriknya tajam, ia terlalu paham isi kepala Tao. Makan. Makan. Dan makan.

Terdapat tiga kamar tidur di villa itu. Satu kamar berukuran lebih luas dibanding dua kamar lainnya. Yifan segera mengklaim kamar itu adalah miliknya. Ia dan Jongdae akan tidur di kamar itu. Luhan mengajak Yixing tidur di kamar paling ujung. Ia memilih kamar itu karena menghadap ke taman belakang rumah, sehingga jika ia membuka jendela maka matanya akan disuguhi pemandangan yang indah.

Minseok dan Tao terpaksa menempati kamar di lantai atas, yang merupakan atap yang disulap menjadi sebuah kamar. Terdapat sebuah jendela bundar di salah satu sisi kamar yang tak terlalu luas itu.

Setelah menurunkan tas mereka dan memasukkannya ke kamar masing-masing, Yifan mengajak Tao berbelanja di swalayan terdekat, yang sebenarnya cukup jauh dari lokasi villa yang mereka tempati.

Sementara itu, Luhan, Yixing, Minseok dan Jongdae duduk sambil bermain kartu. Mereka hanya bisa menunggu kedatangan Yifan dan Tao. Tak ada televisi, ponsel mereka pun tak bisa dimanfaatkan karena tidak ada sinyal.

Langit mulai gelap, Luhan menyalakan semua lampu yang terdapat di rumah itu. Suasana di luar villa sangat sepi, hanya desau angin yang sesekali menggerakkan ranting-ranting pepohonan di sekitar rumah. Suara binatang-binatang malam dari dalam hutan di belakang villa itu juga terdengar. Dan itu membuat keempat pemuda itu makin betah di dalam.

“Dingin banget, sih? Kamu ngerasa kedinginan nggak, Xing?” tanya Jongdae yang menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan meniup-niupnya demi mendapat kehangatan.

“Nyalain perapian aja, kali, ya?” ujar Yixing yang bangkit dari duduknya dan melangkah menuju perapian. Ia mengambil beberapa batang kayu yang sudah dipotong-potong itu dan meletakkannya di dalam perapian. Ia mencari korek api atau pemantik, dan ia menemukannya di rak di dekat perapian.

Beberapa menit kemudian perapian menyala, dan Yixing menyodok kayu-kayu itu dengan sebuah tongkat kecil dari besi yang berujung tajam.

Yixing tampak serius mengaduk dan membolak balik kayu bakar itu agar apinya cepat menyebar dan mampu memberi kehangatan di ruangan.

Ketika api mulai membesar, Yixing terkesiap dan sebuah pekikan meluncur melalui tenggorokannya. Sekelebat ia melihat sesuatu yang janggal dan menyeramkan.

Luhan menghampirinya, “Kenapa, Xing?”

Yixing menjatuhkan tongkat yang ia pegang, dan mundur beberapa langkah dengan mata terbelalak dan air muka yang memucat. “A-a-ada… le-lengan…”

Luhan mengernyit kemudian memungut tangkai besi dari lantai dan mendekati perapian. Ia menyodok-nyodok kayu yang sudah terbakar sebagian itu.

“Nggak ada apa-apa selain kayu, Xing. Kamu pasti salah lihat!” kata Luhan sambil mendengus.

“Sumpah, aku lihat ada potongan lengan yang kulitnya mengelupas karena kebakar.” Ujar Yixing dengan suara bergetar. Ia masih ngeri dengan pemandangan yang ia lihat beberapa menit lalu.

“Kamu kecapekan, Yixing. Makanya kebayang yang aneh-aneh.” Minseok menepuk bahu Yixing dan mengajaknya duduk.

Yixing mencoba berpikiran positif. Mungkin ia hanya berhalusinasi karena terlalu lelah dan mengantuk. Maka ia berusaha melupakan apa yang ia lihat tadi.

Perlahan ruangan menjadi hangat, dan mereka makin merasa bosan Yifan dan Tao belum juga kembali.

Yixing dan Minseok tertidur di sofa. Paha Minseok dijadikan bantal oleh Yixing. Luhan dna Jongdae hanya terkekeh melihat dua orang itu.

“Luhan, aku ke kamar mandi sebentar, ya,” ujar Jongdae dengan wajah mengernyit menahan keinginannya buang air kecil. Luhan mengangguk dan melanjutkan kegiatan bermain game membosankan melalui ponselnya.

Kamar mandi itu benar-benar bersih. Jongdae kagum dengan interior minimalis tempat itu, berbanding terbalik dengan interior di ruang keluarga yang bernuansa klasik. Sebuah cermin agak besar menempel di dinding. Begitu bening tanpa ada satu noda pun yang menempel. Jongdae segera menuju toilet yang juga bersih.

Ia mencuci kedua tangannya dengan sabun cair yang tersedia (yang mungkin sudah disiapkan orang yang membersihkan villa). Kemudian untuk mengusir rasa kantuknya, Jongdae menyiram mukanya dengan air dingin dan segar.

Pintu kamar mandi sengaja dibiarkan terbuka oleh Jongdae, karena ia agak takut jika sendirian di tempat yang begitu baru baginya. Ketika ia mengeringkan wajahnya, tiba-tiba Tao masuk melewati pintu dan tanpa menoleh ia berdiri memunggungi Jongdae, menghadap toilet.

Jongdae merasa agak risih jika harus melihat Tao buang air, maka tanpa menoleh lagi ia segera keluar dari kamar mandi dan menutup pintu di belakangnya.

Lalu ia berjalan menuju ruang keluarga di mana Luhan sedang telungkup dan menggumamkan sebuah lagu yang terdengar aneh di telinga Jongdae.

“Yifan mana?” ia bertanya sambil mencari-cari sosok menjulang Yifan. Luhan baru saja membuka mulutnya untuk menjawab, tiba-tiba pintu depan terbuka.

“Kami pulang,” ujar pendatang itu.

Mata Jongdae membulat dan mulutnya menganga ketika melihat siapa yang datang.

Lututnya mendadak lemas dan tangannya gemetar.

“Tao? Kapan keluar dari kamar mandinya?” tanyanya masih dengan ekspresi kaget… dan ngeri.

“Kamar mandi? Aku baru masuk rumah, kok.” Sahutnya sambil meletakkan belanjaannya di atas meja. Jongdae segera berbalik dan berlari ke kamar mandi, ia menyentak pintunya hingga terbuka dan tempat itu kosong.

Yifan, Luhan dan Tao memandangnya bingung. Mereka menanti penjelasan darinya.

Dengan bibir gemetar dan tubuh yang tiba-tiba lemas itu, Jongdae terduduk di kursi dan menatap ketiga temannya dengan tatapan panik.

“Tadi Tao masuk kamar mandi waktu aku habis cuci muka, terus aku buru-buru keluar karena Tao mau kencing. Kalau kamu baru pulang sekarang dan ngga ke kamar mandi, lalu yang tadi masuk kamar mandi siapa, dong?”

Setelah pertanyaan Jongdae itu berakhir, Yifan, Luhan dan Tao merasakan bulu kuduk mereka meremang.

Luhan berusaha menghilangkan rasa mencekam yang baru saja melingkupi mereka.

“Ah, palingan kamu halusinasi kayak Yixing tadi. Jangan becanda, dong, Jongdae. Ahahaha… kamu mau ngelawak, ya?” Luhan memukul pelan bahu Jongdae yang masih pucat itu.

“Ngelawak gigimu minta dikawat, Luhan! Ngapain aku bikin-bikin cerita kayak gitu? Kurang kerjaan banget!” sembur Jongdae yang merasa tersinggung. Di saat ia sedang ketakutan, Luhan justru menganggapnya sedang bercanda.

Luhan meminta maaf, kemudian memeluk Jongdae sekilas.

Lalu ia membangunkan Yixing dan Minseok, mengajak mereka makan malam mie rebus dengan campuran telur dan sayuran. Tak ada yang membahas apa yang terjadi pada Jongdae beberapa saat yang lalu. Mereka tampak heboh merencanakan acara besok pagi.

Luhan mengusulkan untuk menjelajahi hutan di belakang villa. Siapa tahu mereka bisa menemukan hal-hal seru. Yifan yang tidak suka dengan hal-hal aneh itu sempat menolak usul Luhan. Tetapi karena yang lain setuju, maka Yifan terpaksa ikut suara terbanyak.

Waktu tidur sudah tiba, semua memasuki kamar masing-masing. Luhan dan Yixing sudah menaiki ranjang yang nyaman. Mereka terpaksa tidur bersebelahan karena hanya terdapat satu ranjang king size.

Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk mengobrol sebelum tidur. Karena di asrama, mereka memang teman sekamar. Entah apa yang ada di pikiran Luhan sehingga ia bercerita tentang apa yang Jongdae alami ketika Yixing dan Minseok sedang tidur.

Dan Yixing segera kesal dan memukuli Luhan dengan bantal. Ia menyuruh Luhan bertanggung jawab karena membuatnya takut untuk ke kamar mandi. Luhan menggumam maaf sambil menyeringai jahil.

Lampu kamar sudah dipadamkan, tetapi Luhan menyadari kekeliruannya ketika memilih kamar itu. Karena ternyata pemandangan di luar saat hari sudah gelap sangatlah tidak indah. Dan yang membuatnya kesal adalah, jendela kamar itu tidak bertirai. Bayang-bayang ranting pohon yang bergerak-gerak di dinding membuatnya tampak seperti cakar monster mengerikan yang siap mencabik-cabik tubuhnya. Menerkamnya dan mencakar-cakarnya. Ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Yixing dan membenamkan kepalanya di dada sahabatnya. Yixing yang merasa terganggu itu mendorong tubuh Luhan jauh-jauh hingga ke tepi tempat tidur.

Hhhhhhhhhhhhhhh… hhhhhhhhhhh….

Luhan berhenti menggelitik leher Yixing, “Kamu dengar suara barusan?”

Yixing menggeleng, “Suara angin palingan, Luhan,”

“Masa, sih? Kayak desahan gitu.” Luhan menajamkan pendengarannya. Tangannya menggengga erat baju Yixing.

“Desah angin itu, Luhan.” Yixing meyakinkan sahabatnya bahwa ia salah dengar.

“Itu desau angin, Xing! Beneran kayak desahan, gitu!”

Hhhhhhhhhh… hhhhhhhhhhhh…

Dan akhirnya Yixing dan Luhan melompat dari ranjang dan melesat keluar kamar.

“Nah, kamu percaya aku, kan, Xing? Apa kubilang!” kata Luhan yang sudah berdiri di depan kamar Yifan.

Ia mengetuk pintu, dan tidak mendengar jawaban. Yifan dan Jongdae pasti sudah tidur. Yifan pasti lelah karena ia yang menyetir.

Perlahan Luhan membuka pintu dan ia bersama Yixing masuk ke kamar paling luas itu. Yifan tidur sendiri di ranjang besar itu, sementara Jongdae tidur di sofa yang tidak terlalu panjang, sehingga Jongdae harus menekuk lututnya agar tubuhnya bisa muat di sofa itu.

“Ckckck… jahatnya, masa Jongdae dibiarin tidur di sofa?” gumam Yixing sambil menggelengkan kepalanya.

“Kita kerjain, yuk,” bisik Luhan di sela-sela kekehannya. Yixing setuju dan mereka menyeringai usil.

Luhan menghapiri Yifan dan meniup telinganya. Sedangkan Yixing mengambil selimut dan menutupi tubuhnya lalu berdiri di sudut ruangan.

Yifan menggeliat dan menggaruk telinganya yang terasa geli, lalu perlahan ia membuka matanya dan pekikan melengking menyeruak dari mulutnya.

“KYAAAAAAAAA SETAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNN!!!!!”

Suara jeritannya yang bagai wanita kecopetan itu membuat Jongdae terbangun sambil memaki, Luhan dan Yixing duduk bersimpuh dengan tawa berderai. Tao dan Minseok muncul tergopoh-gopoh ke dalam kamar. Dan mereka hanya menatap Yifan yang sedang bergulat dengan Luhan dan Yixing di lantai.

Childish semua…” dengus Tao yang termasuk paling muda di antara mereka. “Ayo, Minseok, kita ke kamar lagi. Daripada ngeliatin bayi-bayi tua pada heboh sendiri,” ajaknya seraya menggandeng tangan Minseok.

Minseok hanya menurut saja, karena dirinya memang sangat membutuhkan tidur. Ia merindukan bantal dan selimut. Namun, niat Tao segera berubah ketika ia melihat ada bayangan putih yang berdiri di anak tangga teratas. Tanpa berani menoleh lagi, Tao menarik tangan Minseok dan masuk lagi ke kamar Yifan.

“Ada apa? Kenapa nggak jadi ke kamar?” tanya Minseok yang heran dengan perubahan air muka Tao yang tampak pucat.

“Nggak ada apa-apa. Kayaknya seruan ngeliatin Yifan berantem sama Luhan dan Yixing.” Jelas Tao tanpa memandang Minseok.

Akhirnya ke enam pemuda itu berada dalam satu kamar. Selimut tebal digunakan Tao dan Minseok sebagai alas tidur mereka. Jongdae tetap di sofa, Yixing dan Luhan tidur di ranjang bersama Yifan. Mereka berdesak-desakan, tetapi Luhan merasa lebih aman, karena jika terjadi sesuatu lagi, ia cukup berbalik dan memeluk Yixing.

Karena tubuh mereka benar-benar sudah sangat lelah, para pemuda itu tertidur dengan cepat. Udara yang mendadak dingin mengisi atmosfir kamar tak membuat mereka terbangun. Bunyi bisikan-bisikan yang aneh pun tak menyadarkan mereka dari dunia mimpi.

Detak jarum jam antik di dinding menyatu dengan heningnya malam itu. Suara lolongan anjing liar di hutan tak juga membuat mereka terjaga.

Namun, ternyata rasa haus yang membuatnya agak susah menelan, mampu membangunkan seorang Minseok dari tidur lelapnya. Ia duduk dan mengucek matanya. Minseok memicingkan matanya demi bisa beradaptasi dengan gelapnya kamar itu. Ia menggoyang bahu Tao, berusaha membangunkannya untuk menemaninya ke dapur. Tetapi pemuda itu semakin bergelung memeluk bantalnya dan mendengkur pelan.

Bersama helaan berat nafasnya, Minseok bangun dan berjalan pelan keluar kamar.

Beberapa lampu sudah dimatikan oleh Yifan sebelum pemuda jangkung itu memasuki kamar. Dan suasana remang-remang itulah yang membuat Minseok ingin segera kembali ke dalam kamar bersama kelima temannya.

Tetapi rasa haus telah mengalahkan segalanya. Ia memaksa kakinya berjalan cepat ke dapur dan dengan tergesa-gesa Minseok menenggak air langsung dari botolnya.

Air dingin yang mengalir di kerongkongannya membuatnya lega. Rasa haus yang tadi mencakarnya sekarang telah hilang. Ia mengembalikan botol ke dalam kulkas dan berbalik hendak keluar dapur.

Minseok terkesiap dan kemudian ia terkekeh sendiri, menertawakan kebodohannya.

“Eh, Yifan. Kenapa? Nggak bisa tidur, ya?” tanyanya seraya mendekati meja makan, tempat Yifan duduk di salah satu kursinya.

Yifan mengangguk pelan. Kedua matanya menatap Minseok.

Kosong.

“Pasti Yixing sama Luhan ngabisin tempat, kan?” Minseok tersenyum dan menanti jawaban Yifan.

Namun, Yifan hanya mengangguk.

“Hmm… ya udah, deh. Aku ke kamar duluan, ya. Kamu juga diusahain tidur,” ujarnya sebelum meninggalkan Yifan.

Minseok membuka pintu kamar tidur dan menutupnya kembali setelah ia berada di dalam. Lalu entah mengapa firasatnya menyuruhnya melirik ke arah ranjang. Dan betapa mencelosnya hati Minseok saat melihat sosok jangkung Yifan sedang tidur miring memunggungi Yixing.

Rasa merinding merayapinya, Minseok menutup mulutnya, menahannya agar tak menjerit. Lalu secepat yang ia mampu, ia merapatkan tubuhnya pada tubuh Tao dan memejamkan matanya rapat-rapat, ia mengambil bantalnya dan menutup telinganya dengan benda empuk itu.

Jika Yifan benar-benar duduk di meja makan, apa mungkin ia bisa kembali secepat itu ke dalam kamar?

Jika Yifan sebenarnya tidur di kamar, lalu siapa yang duduk di meja makan?

Pertanyaan misterius itu terus berputar-putar di dalam kepala Minseok.

Pemuda berpipi tembam itu merasakan mual karena rasa takut yang begitu kuat.

Lengan kekar Tao memeluknya tanpa sadar, dan Minseok merasa aman. Tak lama kemudian ia pun tertidur.

Suara gemerisik yang janggal membuat Yifan membuka kedua matanya. Kamar itu tampak remang-remang karena bantuan sinar bulan purnama yang menelusup melalui kaca jendela.

Yifan mengerang pelan dan menopang tubuhnya dengan lengannya. Matanya menatap sudut kamar.

“Yixing, lo ngapain berdiri di pojokan? Kebelet, ya?” suaranya parau dan kering.

Tak ada jawaban.

“Xing, lo nggak bisa tidur karena kesempitan? Luhan dijorogin aja sampai nyungsep kalau memang menuh-menuhin tempat.” Ucapnya lagi. Tetapi yang ia ajak bicara tak bergerak sedikitpun. Hanya berdiri diam, menatapnya tanpa berkedip.

Yifan makin gemas, “Lo tidur lagi sini di sebelah gue, masih muat, kok, ini lho…?” tangan kanan Yifan menepuk tempat di sebelahnya, tapi ia merasakan sedang menepuk tubuh seseorang, kemudian secara refleks ia menengok ke sampingnya dan matanya segera menatap wajah damai Yixing dengan mata terpejam dan mulut sedikit terbuka.

“Hah?” dan Yifan menoleh ke sudut ruangan tempat ia melihat Yixing berdiri di sana, dan tempat itu kosong. Tak ada siapapun.

Jantung Yifan berdebar dan kedua tangannya menjadi dingin. Ia memekik dan membangunkan semua orang.

“Apaan, sih, Yifan? Aku lagi asik-asik mimpiin pacarku yang kuliah di Belanda, eh kamu malah heboh. Dasar, curut!” gerutu Jongdae sambil mengucek matanya yang masih merah.

“Bukannya pacarmu kuliah di Jepang?” sahut Luhan dengan suara sengau karena sedang menguap.

“Kenapa malah bahas pacar Jongdae, sih? Mau kuliah di belanda kek, Jepang kek, Zimbabwe kek, itu bukan urusan gue! Minseok! Nyalain lampu!” sentak Yifan yang geram dengan teman-temannya dan obrolan konyol mereka.

Minseok yang penurut itu menyalakan lampu. Pemuda bertubuh pendek itu berdiri terdiam di samping sakelar lampu, kepalanya tertunduk. Ia menahan rasa berat yang menggelayuti kedua mata sipitnya.

“Ada apaan, sih, Yifan?” tanya Yixing yang berusaha merapikan rambutnya yang berantakan.

Yifan mendekatkan tubuhnya ke arah Yixing dan merenggut sebuah bantal dan memeluknya erat-erat.

“Gue barusan lihat penampakan! Ada yang mirip Yixing berdiri anteng sambil ngeliatin gue dengan tatapan kosong di-di-di pojok situ, HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!” jeritnya seraya menutup wajahnya dengan bantal.

Kelima temannya menoleh ke arah yang ditunjuk Yifan, tentu saja mereka tak melihat apa-apa.

Udara dingin berhembus dan menerpa kulit para pemuda itu. “Dingin. Minseok tutup jende…” Yifan menelan ludah, “Kenapa barusan kayak ada angin dingin tapi jendelanya tertutup rapat gitu?” baru saja ia selesai bertanya, tiba-tiba Minseok merasakan ada yang meniup bagian belakang lehernya dan lampu pun padam.

Jeritan dan pekikan saling bersahutan, semua orang sudah berpelukan di atas ranjang yang untungnya berukuran besar itu.

“Barusan kayak ada yang niup-niup tengkukku sebelum lampu mati.” Bisik Minseok dengan tubuh gemetar.

Yifan menyuruh Minseok menyalakan lampu, tetapi pemuda itu menolak tegas, kemudian Yifan menyuruh yang lainnya.

“Kenapa nggak kamu sendiri aja yang nyalain, Yifan?” celetuk Yixing yang kesal dengan sikap Yifan yang semena-mena.

“Karena errr… mmm…” ia hanya menggumam tak jelas membuatnya menerima cubitan keras di pahanya.

“Pada pengecut semuanya! Biar aku yang nyalain.” Dan Tao dengan gagahnya turun dari ranjang dan berjalan menuju sakelar.

“Tao, hati-hati!”

“Cepat kembali ke sini lagi,”

“Tao, fighting!” teman-temannya memberinya semangat yang justru membuat Tao ingin menyentak mereka agar semua diam.

Ia menekan tombol itu, tetapi lampu tak menyala. Ia menekannya berulang-ulang tetapi hasilnya nihil.

“Kayaknya ada korslet,” ucapnya seraya berjalan kembali ke ranjang dan bergabung bersama teman-temannya.

Mereka sudah melepas pelukan masing-masing, hanya Yifan yang masih memeluk lengan Yixing, yang tampak pasrah.

Mendadak lampu berkedip-kedip lalu menyala terang. Membuat para pemuda itu memekik lega.

Luhan menangkap suatu gerakan di cermin dan ia meliriknya lalu…

“SETAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNN!!!!!!” dan semua mata memandang ke cermin itu dan mereka tak berpikir lagi selain segera angkat kaki dari villa itu!

Dari cermin yang menempel di pintu depan lemari pakaian itu tampak sebuah bayangan gadis memakai gaun putih panjang.

Suara cekikikan mengerikan terdengar di setiap sudut villa itu. Mereka tak sempat mengambil barang-barang mereka. Keenam mahasiswa itu lari terbirit-birit, berlomba-lomba mencapai pintu dan segera keluar dari rumah berhantu itu.

“Kunci mobilnya mana? Kuncinya mana, Goddamit!” Yifan meraung-raung sambil merogoh kantong celananya. Ternyata ia lupa kalau ia sudah berganti celana. Tao ingat di mana kunci mobil itu, dan ia segera merenggutnya dari rak di samping perapian. Ia segera melempar kunci itu ke arah Yifan dan kemudian menghambur ke luar bersama yang lain.

Suara tawa menyeramkan masih terdengar ketika Yifan dengan tangan gemetar membuka pintu mobilnya, semua masuk ke dalam mobil dan Yifan segera menyalakan mesinnya.

Suara mesin berderu-deru memecah keheningan malam. Dengan sekali injakan pada pedal gas, Yifan meluncurkan mobilnya dan menabrak pagar pendek villa itu.

Mobilnya melaju dengan kecepatan melebihi rata-rata. Sekitar beberapa ratus meter dari lokasi rumah itu, tiba-tiba ada sosok yang muncul di depan mobil yang mengebut itu, dan karena panik serta gugup, Yifan membanting setirnya terlalu ke kanan hingga membuat mobil itu kehilangan keseimbangan dan tergelincir dari jalan beraspal kemudian menabrak sebuah batang pohon besar.

Kap mobil rusak parah, bahkan dari mesinnya mengeluarkan asap.

Kepala Yifan terasa nyeri dan matanya berkunang-kunang. Tetapi ia harus memastikan semua temannya baik-baik saja.

Ia merangkak keluar dari mobil dan membuka pintu bagian penumpang. Ia menggoyang bahu Yixing, Luhan, Minseok, Tao dan Jongdae. Meski masing-masing mendapat luka entah di kepala, bahu atau lengan, tapi mereka masih hidup. Satu persatu mengerjapkan matanya. Terdengar erangan di sana-sini. Rasa nyeri pada luka mereka membuat para pemuda itu agak kesulitan keluar dari mobil.

Yifan membantu mereka turun dari mobil.

Luhan mengalami benturan keras di dahinya ketika mobil menabrak batang pohon dengan begitu kerasnya. Ia berdarah. Tetapi ia masih bisa berjalan.

Luhan membantu Yixing yang pipinya terkena pecahan kaca dan mengeluarkan darah itu. Yifan memapah Jongdae yang mengalami patah tulang di bagian lengannya yang terhimpit dashboard, Tao merasakan sakit di bagian dadanya, dan setelah bajunya disingkat, dadanya mengalami memar. Minseok juga mendapat luka di bagian kepala dan dadanya.

“Kalian bisa jalan sampai ke villa, nggak?” tanya Yifan dengan Jongdae dalam rengkuhan lengannya.

“Kita nggak mau balik ke villa brengsek itu, Yifan!” ucapan Luhan itu disetujui teman-temannya.

“Iya gue tahu itu villa sialan banget, tapi senggaknya masih ada air buat bersihin luka kalian. Dan gue mau coba cari bantuan. Mobil gue rusak parah nggak bisa dipakai lagi. Mumpung jarak ke villa nggak begitu jauh.” Jelas Yifan yang juga menunjuk kondisi Jongdae yang paling parah itu.

Akhirnya mereka terpaksa menuruti ucapan Yifan, yaitu kembali ke villa angker itu.

.

.

.

.

.

“Anak muda jaman sekarang memang bandel-bandel. Sukanya kebut-kebutan. Untung anak kita nggak kayak gitu, ya?” seorang pria paruh baya sedang mengomentari suatu berita yang ditayangkan di televisi. Istrinya hanya mengangguk tak minat dan melanjutkan kegiatannya menyulam sarung tangan berwarna biru. Warna kesukaan anaknya.

‘Terjadi sebuah kecelakaan mobil di kawasan villa musim panas The Oaky Road. Enam pemuda tewas mengenaskan dan kondisi mobil rusak parah karena menghantam sebuah batang pohon besar di tepi jalan. Diduga kecelakaan terjadi akibat mengemudi dengan kecepatan tinggi dan rem yang blong,’

Pria itu mematikan televisi sebelum menyimak berita itu hingga selesai.

.

.

.

.

Dua orang gadis sedang mengobrol di kantin ketika seseorang menyodorkan surat kabar di depan mereka.

“Apa ini?” tanya gadis berrambut pendek.

“Gue nantangin lo berdua nginep semalam di villa ini!” kata gadis berambut ikal tak alami itu dengan wajah congkak dan licik.

“Untungnya buat kamu apaan?” tantang gadis satunya yang berponi.

“Gue pengin lihat lo berdua terencing-kencing karena ketakutan,” dan gadis berwajah congkak itu tertawa. Sebelum menyingkir dari dua gadis itu.

Kedua gadis itu membaca isi berita dalam surat kabar itu.

“Jadi villa itu berhantu?” tanya si gadis berponi.

“Iya, katanya hantunya enam cowok ganteng yang mati kecelakaan di dekat villa itu,” balas gadis berambut pendek.

“Kalau hantunya ganteng-ganteng, sih, aku mau aja. Hehehe,”

“Dasar ganjen, kamu pikir hantunya mau nongol di depanmu? Gimana kalau yang muncul malah hantu yang serem-serem, hayo?”

Dan temannya pun merasa ngeri dan enggan menginjakkan kakinya ke tempat angker itu.

“Kata orang yang biasa bersihin villa itu, dia sering dengar suara-suara cowok lagi ngomong atau ketawa.”

Dua gadis itu bergidik ngeri.

.

.

.

.

“Yifan, liburan kita sebentar lagi selesai, kan?” tanya Yixing yang dengan santai duduk di teras villa yang asri itu.

“Hmm… iya. Malasnyaaaa masuk kuliah lagi.” Balas Yifan.

Tao dan Luhan sedang bermain kartu di depan mereka, dan Jongdae serta Minseok duduk menatap teman-temannya.

Tanpa mereka sadari, pria yang sedang mencabuti rumput liar di taman itu bergidik merinding mendengar suara-suara tanpa wujud itu. Ia tahu bahwa para arwah itu tak menyadari bahwa mereka telah mati. Mereka hanya terperangkap dalam villa itu selamanya, sama seperti anak perempuan pemilik villa itu yang mati karena tenggelam di sungai yang berada di sisi lain hutan di belakang villa.

THE END

A/N : Maaf seribu maaf kalau horornya gagaaaal…. Hueeee padahal ngebayanginnya bikin aku merinding. Hueeeeee malunyaaaa #ngumpetdigrahamluhan

Silakan kritik habis-habisan ff ini deh. Terserah deh, aku pasrah hehehe

Advertisements